Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Intan ikhlas


__ADS_3

setelah tertunda 2 hari, akhirnya Tomi dan Intan bisa menemui Dr Evan,untuk menghilangkan trauma mereka, kondisi Tika.dan Boston sudah mulai membaik, mereka berdua diwajibkan untuk berjalan jalan ringan


Rizal dan Elisa selalu setiap menemani keluarga Handoko dan Boston, sedangkan Lio, Bobi dan Jovan sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga kadang mereka juga tidur di perusahaan


"sayang,kamu jam berapa ketemu Dokter nya" Jovan yang 2 hari tidak ketemu Intan melakukan VC


"nunggu 1 jam lagi sayang, Aa udah makan belum,jangan kerja terus Aa" Intan sungguh tidak tega melihat Jovan yang rela tidak tidur asalkan semua pekerjaan ny selesai karena dia mau membawa semua keluarga nya jalan jalan


"iya nanti kalau kerja Aa selesai, Aa langsung ke rumah sakit ya, Aa rindu kamu" Jovan melihat wajah Intan seperti memendam sesuatu


"iya, intan juga rindu sama Aa" Intan tersenyum manis pada Jovan


"kamu hidup ku sayang" Jovan tersenyum juga pada Intan dan merekapun menyudahi vc nya


Boston melihat Intan,dia merasa ada sesuatu yang ditakutkan Intan,dan mendekati nya untuk menenangkan Intan


"Intan,kamu kenapa nak" Boston duduk di samping Intan


"nggak ada apa apa om" Intan tersenyum menutupi kegelisahan nya


"kenapa panggil om" Boston memasang wajah sedihnya


"maaf papa, Intan keceplosan" Intan sengaja tertawa karena dia masih sangat gusar


akhirnya 1 jam berlalu, Dr Evan sengaja mengosongkan waktu nya sesuai permintaan Dr Arlan


"Intan, Tomi, Dr Evan sudah datang,kita ke ruangannya sekarang ya dek" Arlan menjemput Intan dan Tomi, sedangkan Jovan tidak datang juga


Rizal, Elisa dan Desi pergi menemui Dr Evan bersama Arlan, Tomi dan Intan sedangkan Handoko harus menjaga Tika


"Dr Evan Pramana" Rizal membaca papan nama di depan pintunya

__ADS_1


"sini dek, tenang saja akan mas temani kalian berdua,jangan takut ya" Arlan membawa mereka kedalam sedangkan yang lain menunggu di luar


"wah,si cantik dan si tampan" Dr Evan tersenyum ramah dan seketika Intan dan Tomi merasakan nyaman dan mereka berdua menyalam tangan Dr Evan,dan merekapun mulai berkenalan dan Evan memutuskan Tomi yang akan pertama dan Intan pun menunggu diluar


"Tomi,lihat Dokter ya,ini kan ada gambar kamu bisa bayangkan kalau ada rasa damai di sini dan Tomi ada didalamnya" Evan mencoba membawaTomi kebawah alam sadarnya dan Tomi menumpahkan semua kekesalan, ketakutan dan trauma nya pada Evan dan Arlan sangat setia menemani nya


tak lama Jovan datang ditemani Bobi dan Lio, Jovan segera menyusul Intan ke ruang Dr Evan dan memang Intan akan mulai bercerita dengan Dr Evan sama seperti cara yang digunakan pada Tomi


"Intan, kamu kuliah atau sudah menikah" Evan membaca biodata Intan dan dia kaget jika di umur semuda ini Intan sudah menikah, Jovan dipersilahkan masuk tapi Intan dibuat seolah-olah hanya ada dia dan Evan yang ada di ruangan itu, sehingga dia tidak akan terganggu menceritakan yang terjadi padanya


"saya sudah menikah Dr" Intan tersenyum malu


"itu bagus Intan tidak usah malu, daripada pacaran membawa kalian ke dalam dosa perzinahan" Evan memulai untuk membuat Intan melepas semua beban pikiran dan hatinya dan tentunya dengan persetujuan Jovan


"dokter tau nggak, Intan dulu pernah diculik orang gila dan didekap dalam ruko tua, Intan dan Tomi diperlakukan seperti binatang,kalau Intan bicara selalu diberikan air got, perut Intan ditendang terus kadang di injak-injak sakit dokter" Intan memang sambil memegang perutnya serasa dia mengalami lagi kejadian itu, Jovan hanya melihat Dr Evan tak percaya sedangkan Dr Evan terus membuat Intan meluapkan semua trauma nya


"tapi semua sudah berlalu Intan,kamu sudah dewasa lihat kamu dan Tomi masih hidup dan sekarang kalian tumbuh menjadi anak yang sangat-sangat sempurna di mata Dokter" Evan menenangkan Intan yang kelihatan mulai emosi sesekali Arlan menepuk bahu Intan


"Intan, memiliki anak bisa kita lakukan dengan berbagai cara,kita bisa coba bayi tabung nanti,Dr Benni akan membantu kamu,jangan takut apapun,kamu hanya percaya pada Tuhan," Evan meyakinkan Intan lagi


"Dr Evan tau kan, Jovan William pengusaha sukses dari perusahaan William Groups, Intan sebenarnya sudah sayang sama Aa dari kecil, habis Intan dan Tomi lepas dari orang gila itu kami berdua tinggal dirumah kakek Polan majikan nya ibu dan juga kakek nya Jovan, intan melihat bunda Elisa dulu takut, karena rambutnya warna coklat sama kayak yang culik kami, Intan nangis dan sembunyi didalam lemari nya bunda Elisa, Intan nangis di dalam lemari, kemudahan Aa Jovan masuk kedalam kamar dia dengar suara Intan dan masuk kedalam lemari juga, Intan nggak mau bicara karena takut dikasih air got lagi, tapi Aa Jovan dengan lembut mengajak Intan keluar dan Aa selalu membelikan ice cream,dia selalu temani Intan, kalau Intan ketakutan dia datang membawa damai bagi Intan,dan dari situ Intan selalu tenang dan mulai bicara lagi,kalau Aa Jovan ngambek Intan nyanyi buat Aa,dan dia nggak ngambek lagi" Intan tersenyum mengingat masa kecil nya dan Jovan tersenyum dengan jodoh kecilnya.


"hahahahah, ternyata kalian sudah ditakdirkan untuk bersama Intan,kamu harus bahagian ya" Evan mulai melihat Intan tenang tapi masih ada beban yang terlihat dari mata indahnya dan Evan pelan pelan mencoba membawa Intan dalam keadaan tenang


"Dr, jika nanti Intan tidak bisa mempunyai keturunan dari Aa Jovan, Intan ikhlas cerai dengan Aa, karena tidak mungkin William Groups tidak punya pewaris, sekarang umur Intan 17 tahun Aa Jovan 25 tahun, disaat nanti umur Intan 20 tahun jika tidak memiliki anak dari Aa, Intan yang akan menceraikannya, Intan tidak mau di poligami, biarkan Aa Jovan bahagia dengan wanita yang akan menggantikan Intan, mungkin Intan akan mulai ikut audisi bernyanyi supaya Intan bisa melupakan Aa Jovan, Intan nggak marah pada siapapun tapi Intan hanya marah pada diri Intan yang tidak bisa memberikan seorang anak" Intan bercerita dengan air mata yang tiada berhenti nya, Jovan sama sekali tidak menyangka pikiran Intan sudah sejauh itu


"intan,banyak cara untuk memiliki anak,jangan menyerah,kamu masih muda nak" Evan menggenggam erat tangan Intan dan menitikkan air matanya


"kalau dipaksakan, Intan tidak akan punya rahim lagi dan anak Intan tidak akan bertahan,jadi lebih baik Intan yang mengalah,cepat atau lambat juga Aa pasti akan cepat melupakan Intan,karena Aa Jovan tu sebenarnya nggak sayang sama Intan, mungkin karena dipaksa bunda makanya mau nikah sama Intan" Intan meluapkannya semua,dan itu di dengar Jovan langsung, Evan menatap mata Jovan dan Jovan hanya terdiam dengan penilaian Intan terhadap nya


"Intan, kamu tidak bisa menilai suami kamu hanya karena itu, sekarang dia sudah suami kamu, pasti dia sayang sama kamu" Evan tak ingin Jovan marah setelah Intan selesai dengannya.

__ADS_1


"dia gampang marah, bentak Intan, pernah Intan temanin Aa lembur kerja, Intan kasihan sama Aa, jadi Intan bantu Aa untuk nyusun semua dokumen nya, Intan buatin kopi untuk Aa karena Intan pusing lagi deman kopinya tumpah ke celana Aa, Intan udah minta maaf tapi Aa dorong Intan dan bilang gini "kamu tau nggak aku udah nggak tidur 2 hari 2 malam cuma untuk selesaikan semua ini,kamu bukannya bantuin malah nambah kerjaan aku aja"! Intan dibentak lagi sama suami Intan, tapi Intan ngerti mungkin Aa kurang tidur aja tapi Intan jangan dibentak terus, bapak masih hidup kok Aa pulangkan saja Intan baik baik, pasti bapak nggak akan marah kok" Intan berbicara seolah-olah Jovan ada di bawah alam sadarnya


"Intan, dengar Dokter ya, Jovan sangat sayang kamu, dan Dr Benni akan membantu program hamil buat kamu dan Jovan,tetap jaga rumah tangga kamu dan Jovan, terbukalah dengan masalah yang ada dalam diri kalian, sehingga kalian berdua tidak akan terpisah oleh apapun,dan massa kecil kamu yang diculik orang gila itu lupakan semua,hanya ada kenangan manis di dalam pikiran kamu" Evan membawa pikiran Intan kembali seperti biasa


Intan membersihkan air matanya dan melihat hanya Arlan dan Evan yang ada didalam, sedangkan Jovan sudah keluar karena Evan ingin mereka berdua bicara untuk memperbaiki rumah tangganya tanpa Intan tau kalau Jovan sudah tau semua isi hati Intan


Jovan keluar dan memasang wajah biasa saja agar tidak banyak pertanyaan yang diberikan kepadanya dan dia melihat Tomi yang sedang bermain rubik yang diberikan Dr Evan


"Tomi,gimana mainnya" tanya Jovan, dia baru tau trauma Tomi dan Intan sama sama dalam


"susah euy mas" Tomi masih main dan sesekali berhenti karena capek tidak berhasil


"kamu harus sabar Tom" Jovan mengusap lembut rambut Tomi dan Tomi menyimpan rubik nya


"mas,ajak jalan jalan atuh naik helikopter mas" hanya Tomi yang belum pernah naik itu


"kita mau ke mana dulu, nanti biar mas bisa atur waktu kita secepat nya" Jovan tidak akan menolak permintaan Tomi


"mau ke bali mas" jawab Tomi semangat


"siap bos kecil,nanti kita berangkat sama sama dengan mas Lio dan mas Bobi ya,kita berempat aja" Jovan menaikkan alisnya


"ele ele, nanti teh kalian pada capek mas jagain ketampanan Tomi dari Wanita wanita genit" Tomi juga menaikkan alisnya pada Jovan


"hahahha,mas tantang kamu kalau bisa buat Wanita kejar kejar kamu di bali,mas belikan iPhone terbaru,deal" Jovan memberikan kelingkingnya


"mas,uangnya teh berapa iPhone terbaru" Tomi bertanya pada Jovan


"sekitar 23 juta Tom" jawab Jovan santai


"sayang atuh duit segitu buat beli hp, Tomi mau uangnya saja mas, Tomi mau beli perhiasan untuk ibu, teteh sama Tika,duit mas Jovan 23 juta,duit dari hasil lomba olimpiade Tomi 15 juta di dalam tabungan,wah cukup Aa" Tomi tersenyum dan memberikan kelingkingnya

__ADS_1


"kamu memang anak yang hebat, ingin bahagiakan wanita yang kamu sayangi, kamu tinggal minta saja sebenernya Tom,tapi kamu lebih suka berjuang,kamu akan menjadi orang hebat nanti" kata Jovan dalam hatinya dan Intan pun keluar dengan senang


__ADS_2