
2 Minggu berlalu keluarga Handoko sudah kembali ke Bandung, Intan kembali kesepian lagi sekarang, semua sudah sibuk bekerja,hanya Tomi yang tinggal karena olimpiade nya masih berlangsung di Jakarta
"Intan mau ngapain ya di rumah" Intan bosan hanya di rumah saja,dia memanggil Ninuk
"kenapa teteh" Ninuk datang dengan wajah semangat nya
"kita ke mall Nuk,ganti bajunya" Intan mengajak Ninuk ke mall untuk membuang rasa bosannya dan Pokas masih setia menjaga Intan dan mengantar mereka ke mall
"teteh mau beli apa" Ninuk senang sekali di ajak Intan keluar rumah
"kita beli baju,alat makeup, sepatu,kita nyalon" Intan berbicara dengan sangat senang dan Ninuk hanya mengikutinya
Pokas menyebarkan 5 anak buahnya mengawasi Intan karena dia tidak boleh lengan seperti pesan Boston.
sementara Meyza dan Lio sedang di rumah Boston,
"pak Boston,saya di sini mau ada perlu apa" Meyza melihat Lio yang mengandalkan Boston untuk mendekati dirinya
"Meyza,kamu ajarkan Lio menembak ya nak" selain akan mendekatkan mereka berdua, Boston juga mau Lio bisa melindungi dirinya kelak.
"nanti Meyza panggil orang yang biasa ajarkan anak buah bapak" Meyza menolak dengan halus sedangkan Lio tersenyum sangat licik
"Meyza,jangan melawan orang tua" Lio menggelengkan kepala dan memeluk bahu Boston
"Meyza, kamu semakin melawan sekarang, apa perlu saya Telfon tempat kerja kamu" Boston menaikkan suaranya dan Lio terkejut
"papa,udah nggak usah marah, Lio tadi cuma bercanda mau belajar nembak" Lio tidak enak dengan Meyza yang tertunduk diam
"baik pak" Meyza menurut pada Boston, bagaimanapun polwan adalah impiannya dan dia tidak akan melepaskan itu semua
"ikuti dia nak,kamu belajar yang benar,dan jangan bercanda ya" Boston menepuk bahu Lio dan mengusap kepala Meyza sambil tersenyum dan Boston masuk kedalam kamar nya
"jangan main main saat latihan nanti,atau saya akan menembak anda tanpa ampun" Meyza meletakkan pistol nya di kepala Lio
"papa, Meyza mau,........" Lio berteriak keras dan membuat Boston keluar dari kamarnya dengan cepat Meyza mencium bibir Lio agar diam.
"dasar kalian berdua" Boston tertawa dan masuk kedalam kamarnya
Lio menahan leher Meyza dengan tangannya dan memaksa Meyza mencium nya lagi
"aaaawwww" Lio berteriak sangat keras dan Boston tidak keluar lagi karena dia berpikir mereka sedang bercanda, sepatu Meyza melayang ke lutut Lio
"ikuti saya sekarang dan jangan bertingkah yang membuat pak Boston marah" Meyza menarik baju Lio dan Lio mengikuti nya dengan tersenyum senang
sesampai nya di lapangan tembak milik Boston, Lio sudah mengenakan pengaman dan Meyza membawa nya langsung ke lapangan yang sudah di siapkan pekerja Boston
"fokus kan mata anda pada patung yang ada di sana, dan lihat,angkat pistol ini setelah anda memastikan peluru nya sudah siap,dan tembak begini" Meyza menembak tepat di mata kanan patung
"baik lah, bagaimana kamu bisa tepat sasaran seperti itu" Lio sangat salut pada Meyza
"saya membayangkan itu mata anda" Meyza memberikan pistolnya dan Lio hanya tersenyum
Lio menembak berulang-ulang tapi semua meleset,dan dia sangat kesal, Meyza tidak mau menegurnya dulu, paling tidak Lio sudah benar memegang pistol dan sudah tau mengganti peluru yang habis
__ADS_1
"jangan terlalu emosi, lihat saya" Meyza memang seorang polwan sejati tampak dari suara nya yang sangat tegas
Meyza berdiri tepat di depan Lio dan Lio memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Meyza dan Meyza tidak berkutik sedikit pun karena ada Boston yang baru datang
"ini aku sudah lihat kamu,kamu mau apa" Lio memeluk perut Meyza semakin erat dan Boston menggelengkan kepalanya
"dasar Lio" Boston tertawa dan tetap di situ untuk mengawasi Lio dan Meyza
"kenapa harus ada pak Boston sih" Meyza sangat kesal dan menembak patung dihadapan nya
"Meyza, tadi kamu cium bibir ku sembarangan,kamu pikir aku laki laki murahan" Lio berbisik di telinga Meyza dan Meyza sudah sangat malu dengan sikap bodohnya tadi
"lepaskan aku Lio" Meyza sangat marah dan melihat Boston sedang menerima telfon,dan dengan cepat dia mengambil tangan Lio dan membalikan tubuh Lio dan dia berada dibelakang Lio
"paaaaaaapppppaaaa" teriak Lio kesakitan dan Meyza memeluk Lio dari belakang sambil mengunci erat badan Lio supaya tidak bisa bergerak
"iya papa lihat nak" Boston tidak tau Lio butuh pertolongan nya, dia melihat Meyza seperti yang dilakukan Lio pada nya
"anda teriak lagi,lihat leher ini bisa patah" Meyza mengancam Lio dan tersenyum pada Boston
"ampun Meyza, lepaskan aku,sakit" Lio meminta ampunan pada Meyza
" tembak kening,jantung,leher,perut,dan kaki sekarang juga, itu titik rawan,anda paham,jika meleset lihat leher ini akan patah bagaimana" Meyza meletakkan dagunya di lehernya Lio dan menekan nya sangat kuat
"Meyza, kamu terlalu agresif" Boston masih menikmati drama percintaan yang diciptakan Lio dan Meyza, padahal yang sebenarnya Lio sedang dalam maut
"tembak sekarang juga"!!! perintah Meyza seperti bom atom bagi Lio
"door door doooor doooor dooor" suara tembakan Lio sangat terdengar di telinga Boston dan semua tepat sasaran
"lawan dong kayak tadi, Lio menggerakkan badan Meyza ke kiri dan kanan
"tadi kamu menolak Meyza,dari tadi bapak lihat kamu agresif sama Lio" Boston sangat senang Lio sudah mau dekat dengannya dan untung ada Meyza
"bukan pak,ini adduuuhhhh" Meyza sangat kesal sekali pada Lio tapi dia tak berdaya sedikit pun
"pa,kita mutar mutar ya, Lio penasaran dengan tempat ini" Lio tidak akan melepaskan Meyza segampang itu
"Dengan Meyza saja ya nak,papa lelah kalau jalan jauh" Boston sudah terasa gampang lelah jika berjalan jauh
"maaf pa,kita pulang ya" Lio segera melepaskan Meyza dan menggendong Boston di punggung belakang nya
"terimakasih nak" Boston mengalungkan tangannya di leher Lio dan Meyza tersenyum senang, Boston sudah bisa dekat dengan Lio bahkan sangat dekat
"dulu papa sering gendong Lio gini,kalau Lio capek main bola kan pa" Lio mengingat semua kenangannya dengan Boston
"iya nak,kamu masih ingat ya, bodohnya papa melewatkan semua nya,masa kecil kamu dam Tika nak" Boston menitikkan air matanya
"pa, Lio dan Tika sudah kembali,papa hanya perlu bahagia bersama Lio sekarang, lupakan semua nya pa,jika masa kecil Lio dan Tika papa lewatkan begitu saja, sekarang pa, nikmatilah masa dewasa kami" Lio merasakan air mata Boston jatuh di baju nya
"papa hanya ingin kamu menikah dan papa punya cucu nak,agar papa bisa membahagiakan cucu papa, sebagai ganti masa kecil kamu" Boston melihat Meyza dan berharap Meyza yang akan menjadi istri Lio
"sabar pa, Jovan dan Intan kan juga anak papa,jadi anak mereka kan cucu papa juga" Lio menghibur Boston agar tidak sedih lagi
__ADS_1
"tentu saja Lio, mereka anak papa, cucu papa akan banyak,anak Jovan,anak Bobi,dan anak kamu dengan Meyza" Boston berharap sekali pada Meyza
"Meyza,mau nggak pa" Lio berhenti di depan rumah Boston dan melihat Meyza
"ya" Meyza sangat kaget mendengar pertanyaan Lio karena dari tadi dia melamun
"kata Lio,kamu masih mau ajarkan dia nembak" Boston melihat Meyza yang bingung
"mau pak" Meyza tersenyum melihat Lio yang ketakutan
"nggak mau pa, sakit dan takut" Lio membawa Boston ke kamarnya dan meletakan nya pelan diatas ranjang Boston
"pak, Meyza akan ada dinas luar 3 hari,bisa bapak andalkan anak bapak ini sekarang saat saya tidak ada" Meyza menunjuk Lio dengan mulutnya
"nggak boleh, mau 3 hari pergi enak aja" Lio kesal sekali jika Meyza pergi
"maaf" Meyza geram sekali dengan Lio
"Lio,jangan nak" Boston tau Meyza sangat mencintai pekerjaan nya dan dia akan pergi kemana saja untuk cita cita nya itu
"iya pak,ada pelatihan kenaikan pangkat pak,dan jika Meyza berhasil di pelatihan ini, Meyza akan pindah tugas ke Medan" Meyza menceritakan semuanya pada Boston
"kejar semua impian kamu nak, bapak akan mengantar kamu langsung besok ke bandara" Boston tau Lio akan kesal tapi semua akan sangat susah jika Meyza di kekang
"terserah kamu lah" Lio merebahkan badannya di ranjang dan menutup matanya
Meyza pamit pulang dan bersiap siap untuk berangkat besok, Boston mengantar Meyza ke pintu rumahnya dan Lio tertidur
di kantor Jovan
"sayang,ke kantor Aa ya, Aa rindu kamu" Jovan menelfon istri nya karena tau tadi keluar rumah
"iya,ini Intan mau ke atas udah di bawah ni" Intan mau memberikan kejutan tapi tidak jadi
"i love You" Jovan tersenyum senang dan turun kebawah menjemput istrinya
saat lift terbuka ada Fahrul yang keluar dengan Bobi
"kamu teh ngapain di sini" Intan sangat terkejut dan memeluk Fahrul sahabat terbaik nya saat SMA,dan dia rada gemulai ya nggak usah baper
"saya teh,mau kerja di Bandung tapi interview nya di kantor pusat,makanya saya teh kesini" Fahrul memeluk Intan dengan senangnya
"adek,ingat pesan mas kan" Bobi melepaskan tangan Intan dan dia takut Jovan akan melihat nya "BISA PERANG CUY"
"Maaf mas, Intan senang ketemu teman Intan" Intan lupa dengan suami nya,dan berbicara serta tertawa seperti di pasar
"kamu teh geulis pesan sekarang" Fahrul mencubit pipi Intan dengan sesuka hatinya
"Intan Viola William" suara besar Jovan bergema di depan lift
"mampus,tu kan singa keluar" Bobi berdiri disamping Fahrul dan melepaskan tangan Fahrul dari Intan
"eta teh siapa(itu siapa) kasep pisan euy" Fahrul bergosip ria dengan Intan
__ADS_1
"Aa, ini teh Fahrul atuh Aa" Intan menarik tangan Jovan dan Jovan memasang wajah bringas nya