
di Jakarta Devina sedang duduk sendirian di taman rumah sakit dia sangat menyesali hidupnya
suara hati Devina
"semua hidup ku hancur karena amnesia 5 tahun yang lalu,karir,cinta dan kehidupan ku berantakan,aku lelah dan ingin semua nya berakhir secepat nya,aku tidak memiliki siapapun sekarang,kak Joice dan Jovan pun meninggalkan ku dalam keadaan menyedihkan seperti ini"
Natasya yang melihat Devina termenung datang menemuinya
" Hay Devina, kenapa keluar sendiri tidak minta ditemani suster"
"ya Dokter kebetulan saya bisa sendiri,cuma mau cari udara segar aja, suntuk dikamar terus" Devina sudah tau Dr Natasya yang menanganinya.
"kamu panggil Tasya aja ya,umur kita sama kok,aku boleh tanya sesuatu sama kamu Devina" Natasya peduli dengan Devina karna dia tau tidak mudah melewati penyakit mematikan ini seorang diri.
"baiklah Tasya kalau kamu mau panggil aku Vina aja ya,kamu mau tanya apa" Devina senang ada yang peduli kepadanya
"Jovan William yang menanggung semua biaya rumah sakit kenapa tidak kelihatan sejak kamu masuk rumah sakit,maaf itu siapa kamu saudara,pacar atau apa" Tasya ingin memberitahukan keadaan Devina tapi tidak ada yang menunggui nya saat dirawat.
Devina tertegun mendengar ucapan Tasya, Jovan membayar semua uang rumah sakit nya, dia merasa sesak di dadanya,mengingat Jovan memutuskan nya.
"kamu tau darimana dia yang bayar semua pengobatan ku Tasya" Devina tak percaya dengan ucapan Tasya
"dari suster yang mindahin kamu ke ruangan VIP dan itu dapat persetujuan dari Dr Arlan" Tasya menerangkan pada Devina
"kenapa dia melakukan itu,dia semakin melukai perasaan ku" Devina menangis saat dia ingin melupakan Jovan tapi Jovan datang lagi dengan menanggung uang rumah sakit
"hey kamu kenapa,kamu harus cerita jika ada beban pikiran, itu sangat mempengaruhi kondisi kamu Vina,aku siap mendengar kamu" Tasya memeluk Devina dia merasa
sangat terluka melihat keadaan Devina yang sendirian menghadapi penyakit nya
"Jovan itu mantan pacar aku,dia memutuskan ku 2 hari yang lalu,dia dijodohkan dengan wanita lain,dan dia setuju karena ada hutang budi antara orang tua nya dengan orang tua wanita itu" Devina menceritakan semuanya pada Tasya
"Vina kenapa kamu harus menahan ini sendirian sih,aku nggak sanggup jika diposisi kamu Vina" Tasya menangis mendengar semuanya
"ini semua jalan hidupku Tasya,aku harus kuat,aku tidak mau dikasihani oleh siapapun" Devina meyakinkan dirinya untuk semangat
"bagus Vina,aku akan ada disamping mu untuk menemani kamu melewati ini semua" Tasya menyemangati Devina
"kamu sangat baik Tasya, terimakasih" Devina menggenggam tangan Natasya dan Natasya mengangguk.
di Bandung dirumah Vivian sedang di decor untuk ulangtahun Intan, Elisa sedang sibuk untuk merancang pakaian untuk keluarga Intan besok di butik nya yang ada di Bandung
"wah dekorasi nya indah sekali" Tika yang baru pulang sekolah berputar putar melihat banyak hiasan bunga di langit langit tenda yang dipasang.
"Tika kamu udah pulang,kita makan yuk mas Lio bawa makanan buat kita" Fani langsung menarik tangan Tika dan Tika pun mengikuti Fani.
"Tika kamu udah pulang ya dek,sini mas bawa makanan buat kalian" Lio memeluk Tika yang baru pulang sekolah
"ini pasti enak ya mas" Tika duduk disampingnya Lio
"ini Tika sendok kamu" Fani membukakan makanan buat Fani dan mereka berdua makan ditemani Lio yang sibuk dengan hp nya
"mas Jovan sama teteh Intan mana mas" Tika tidak melihat mereka berdua, Rizal dan Bobi sedang sibuk dengan ikan arwana
" tadi mas duluan pulang,mas nggak tau kemana mereka" Lio memang tadi dengan Bobi untuk membeli hadiah buat Intan dan Tika.
"pacaran kali ya" sambung Tika polosnya
__ADS_1
"pada makan apa ni,untuk Tomi ada nggak mas" Tomi baru pulang dan langsung masuk ke rumah Vivian karena ibu dan bapak nya sibuk mengurus ulang tahun Intan"
"eh kamu dah pulang dek,ini buat kamu dek,gimana disekolah tadi ada masalah" Lio menarik kursi buat Tomi dan mengambilkan sendok buat Tomi
"terima kasih mas, disekolah aman mas, Tomi sekarang senang karena sekolah nggak mikirin uang sekolah dah beres dibayar nenek Vivian" Tomi sangat menikmati makanan yang dibawa Lio
"Tika ini teh enak pisan euy,kita baru sekali ini makan kayak gini" Tomi senang sekali
" iya Aa,enak pisan" Tika hanya menjawab singkat karena sedang menikmati makanannya
"iya ya enak makanan nya, nanti kalau kalian ke Jakarta kita kuliner ya" Fani sudah biasa dengan makanan kayak gitu
"kapan liburan lagi kalian mas jemput ya,kita liburan di Jakarta" Lio sedih melihat adik adiknya tidak bisa menikmati banyak makanan sepeti Fani tapi dia bersyukur adik adiknya di didik dengan benar.
"naik helikopter seperti mas Jovan dan mas Bobi,mereka teh keren pisan mas turun dari helikopter kayak aktor di TV mas" Tomi melihat gaya keren Bobi dan Jovan saat sampai di halaman kemarin.
"iya Tomi mas bawa nanti kalian naik helikopter ya,tenang saja ya dek" Lio membereskan piring bekas makanan ke 3 adiknya.
Fani dan Tika melanjutkan aktivitasnya dengan berenang ya mereka berdua sangat menyukai air.
Tomi, Lio sedang membantu dekorasi luar halaman untuk ulang tahun dan rumah Handoko untuk lamaran.
"saya teh senang pisan mas, teteh sudah pasti terjamin masa depannya dengan mas Jovan" Tomi melihat mewahnya dekorasi yang disediakan keluarga William untuk teteh nya.
"kamu juga harus bisa seperti mas,bekerja keras terus Tom,jangan pernah menyerah jika jatuh berdiri lagi,jadikan kegagalan mu cambuk untuk semakin kuat" Lio ingin Tomi menjadi sukses suatu saat nanti.
"bimbing Tomi ya mas" Tomi memeluk Lio,dia sangat senang memiliki seorang abang sekarang.
"kalian akan selalu mas dukung,kamu dan Tika akan mas berikan masing-masing 1 unit rumah,1 mobil dan biaya pendidikan sampai kuliah nanti" Lio sudah menyiapkan masa depan adik nya
"nggak mas,kami nggak mau itu,tabungan pendidikan saja mas yang lain nggak usah,kami takut lupa diri mas,biarkan kami berusaha mas" Tomi tidak mau dan Tika jadi malas
Jovan dan Intan bari pulang karena Elisa menelfon mereka untuk fitting baju ulang tahun dan lamaran.
"kalian darimana, kenapa lama sekali pulangnya" Vivian keluar untuk memberikan cemilan pekerja decor
"wah ini indah sekali nek, Intan nggak mimpi kan ini" Intan menarik pipinya seakan tak percaya dia melihat kagum semua decoration yang sangat indah itu
"kami habis dari butik bunda nek, fitting baju untuk Intan dan juga lamaran" Jovan mengambil cemilan dari tangan neneknya dan memberikan pada Ujang
"syukur lah nak jika Intan sudah mau untuk kamu lamar" Vivian membelai kepala Intan
"mang Ujang photo saya dan Intan disini Mang" Jovan menarik tangan Intan memegang pundaknya Intan dan Intan membalas memeluk pinggang Jovan sesuai arahan Vivian
"nek Intan kedalam dulu ya,mau cari ibu dulu" Intan masuk dan meninggalkan Jovan dengan wajah cemberut
"kamu apakan Intan" Vivian melotot pada Jovan
Jovan menceritakan semuanya penyebab Intan marah
"kamu kenapa kayak bocah yang baru puber" Vivian menarik telinga Jovan sampai merah
"nek sakit adduuuhhhh" Jovan meringis kesakitan
"nek cukup jangan lagi nanti putus ganti telinga satu lagi nek" Lio memanasi Vivian
"diam lo" Jovan melempar botol air minum kosong pada Lio
__ADS_1
"aaaaaaaaaaaaaww tidak kena" Lio mengangkat kaki kanannya menghindari lemparan Jovan dan masuk kedalam rumah
Vivian tertawa melihat Lio yang menghindari lemparan Jovan dan melepaskan telinga Jovan
"nenek sehat terus ya, Jovan sayang nenek" Jovan memeluk Vivian
"kalian semua harta nenek nak" Vivian mengusap lembut badan Jovan
Lio melihat Bobi dan Rizal yang masih sibuk dengan ikan arwana
"kenapa sih yah ikan nya lepas ya" Lio melihat Rizal sedang memancing arwana dengan makanan karena tidak mau makan.
"nggak ikan nya stres ni Lio makanya nggak mau makan" Rizal tau Lio bercanda
"telfon Arlan aja yah,biar dia bawa psikolog untuk tangani arwana ayah" Lio menggoda Bobi yang serius membersihkan aquarium besar Rizal
"stres karena lo kemarin sok jago, jadi ikannya geli liat tingkah lo jadi dia mogok makan" Bobi membalas dengan kesal
Lio berdiri mendekati Bobi dan bicara dengan seriusnya "gara gara ini Bob ikannya stress coba lo bersihkan" Lio menunjuk dengan jaring kecil ada yang kotor di dalam aquarium
"ini ya Lio,kok gua nggak lihat dari tadi" Bobi agak memasukan kepalanya kedalam aquarium
"byyyarrrrr" Lio mendorong kepala Bobi masuk dalam aquarium dan lari keatas
"makan tu bekas ikan arwana" Lio berteriak dari atas
"Lio mau mau nya gua ditipu ama lo" Bobi berteriak sekuat mungkin
"hahahahaha kalian berdua tidak pernah berubah dari SMP" Rizal tertawa terbahak bahak
"kenapa lagi kalian berdua,nggak bisa diam 1 hari saja" Vivian dan Jovan masuk setelah mendengar teriakkan Bobi
"nenek Lio jahat, Bobi nggak suka nek" Bobi duduk dilantai sambil menggoyang goyangkan kakinya
"turun kamu Lio" Vivian memarahi Lio
"kerjaan Lio numpuk nek" Lio tertawa melihat Bobi yang seperti anak kecil
Jovan menggelengkan kepalanya frustasi melihat kelakuan 2 saudara nya "kenapa nggak lo balas lagi"
"kamu malah buat tambah riweh aja" Rizal mencubit perut Jovan
"Jovan lo harus bersatu dengan gua membalas Lio" Bobi mengompori Jovan.
"ya udah kita ambil make up bunda kita buat dia jadi badut" Jovan dan Bobi masuk ke kamar Elisa mengambil makeup Elisa
"jangan mas kalian akan diamuk bunda" Fani melarang kedua mas nya tapi tidak dihiraukan karena semua make up bunda mahal
"tenang dek nanti mas ke Singapore mas belikan 1lusin" Bobi menenangkan Fani
"mang Ujang, Tomi bantu kami" Jovan dan Bobi naik ke atas untuk menangkap Lio
Rizal dan Vivian hanya geleng-geleng kepala
"mas kenapa mas Lio" tanya Tomi
"dia kesambet penghuni kebun" jawab Bobi sembarangan
__ADS_1
"harus kita bantu atuh Tom" Ujang pun masuk membawa air ditangan nya.