Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
operasi Tika dan Boston


__ADS_3

Arlan menyarankan agar Tika dan Boston untuk puasa selama 12 jam,dan kamar rawat Boston dan Tika digabungkan menjadi 1 agar Arlan lebih intens menjaga nya


"adek dokter yang cantik, kamu teh kuat puasa kan sayang" Arlan mencubit pipi Tika pelan,di kamar rawat Tika hanya ada mereka bertiga


"harus kuat, supaya bisa sehat lagi pak Dokter" jawab Boston yang istirahat do kasur yang beda dengan Tika


"iya Dokter" Tika tersenyum sedih melihat Boston


"papa, Tika nggak dapat ginjal papa nggak apa apa atuh, papa lanjutin hidup papa ya" Tika mendekati Boston dibantu Arlan


"sayang, papa nggak butuh ini semua lagi,papa hanya ingin menebus semua dosa papa nak,kamu harus mau ya" Boston memeluk erat Tika dan melihat gambar api ditangan Tika


"tapi papa kan dimarahi terus sama mas Lio, Tika nggak suka pa, lebih baik Tika gini saja, biarin mas Lio nyesal" Tika marah sekali pada Lio


"dek, dengar dokter bicara ya,kalau kamu teh bilang gitu berarti mas Arlan nggak usah jadi dokter lagi ya" Arlan kecewa sekali jika harus gagal menangani Tika


"kenapa atuh mas dokter" tanya Tika


"kalau adik Dokter aja nggak mau di tangani sama mas nya sendiri,apa gunanya tangan ini,untuk menyelamatkan orang lain aja mas bisa,masak adik sendiri nggak mau" Arlan memasang wajah sedih nya dihadapan Tika


"jangan sedih atuh mas Dokter, nanti teh wajah mas dokter jelek pisan" Tika menggoyangkan telapak tangannya


"makanya harus mau atuh" jawab Arlan tersenyum pada Tika


"om percaya sama kamu nak" Boston menepuk bahu Arlan,dan Arlan pamit keluar


"gini ya semua,jangan ramai banget disini ya, cukup yang bisa jaga 24 jam saja,dan tolong yang benar-benar bisa buat mereka senang saja" Arlan melihat sangat ramai di luar kamar Intan


"oh kalau gitu Tomi dan Bobi saja atuh mas" Tomi merangkul bahu Bobi erat


"Tom,kamu sama mas gantengan siapa" tanya Bobi melihat gaya dewasa Tomi


"gantengan ayah Rizal mas" Tomi menundukkan kepalanya seperti segan kepada Rizal


Rizal tertawa dengan nyaring nya ,dan Lio tersenyum mendengar ocehan adik nya


" ya udah kalau gitu,bunda,buk Desi,pak Handoko,ayah pulang ya,disini juga pasti kita nggak muat semua gimana" Elisa akan beristirahat dirumahnya saja dan pagi segera datang


"ok siapa lagi yang pulang" tanya Arlan


"maaf saya akan menjaga pak Boston,karena saya di sini orang terdekatnya" jawab Meyza dingin karena mengingat kelakuan Lio tadi


"semua cewek pulang dan orang tua pulang,kami bertiga saja disini" jawab Lio lagi menatap Meyza


"oh, kalau gitu pisahkan kamar pak Boston,saya sendiri yang akan menjaga nya" Meyza semakin kesal pada Lio


"kamu nggak dengar" Lio mendekati Meyza


"atas hukum apa saya mendengarkan kamu" Meyza menantang Lio dengan muka sangarnya


"semua perempuan pulang termasuk kamu" Lio menenangkan jantung nya yang berdetak kencang


"kalau pak Boston perlu apa apa kamu bisa bantu dia ha" Meyza menaikkan alisnya didepan Lio


"nggak mungkin saya biarin dia celaka sementara operasi nya besok,bisa gagal Tika dapat ginjalnya" jawaban Lio membuat Meyza sangat marah


"saya tidak akan segan segan menembak anda Lio,jadi jangan berbuat semau anda dengan pak Boston,anda tidak menganggap nya papa terserah tapi dia papa angkat Meyza Liandza" Meyza menepuk nepuk pelan pipi Lio dan masuk kedalam kamar rawat Boston


"jodoh udah ni, gua yakin banget Jo,bunda selesai semua ini langsung lamar Meyza buat Lio" Bobi berbicara pada Elisa dan Jovan


"Tomi juga yakin atuh mas,liat saja mbak Meyza teh elus pipi mas Lio" Tomi membesarkan matanya senang sekali


"Bobi,kamu jangan ngaur dulu ya nak, Bunda lagi nggak mau ribet,ayo kita pulang semua" Elisa meninggalkan Bobi di ikuti Handoko, Desi dan Rizal, sedangkan Jovan sudah menculik Intan agar tidak pulang


"Aa,mau kemana sih" Intan berlari kecil mengikuti suaminya


"nanti kamu pulang, Aa nggak mau sayang" Jovan memegang erat tangan Intan


Intan langsung menarik tangan Jovan masuk kedalam toilet wanita dan menguncinya,dan menciumi bibir suaminya


"sayang, cari hotel bentar ya, Aa nggak kuat" Jovan menciumi leher mulus istrinya yang sedang melingkarkan tangannya di leher Jovan


"ngapain ke hotel Aa" Intan berbisik manja ditelinga Jovan


"terus kita mau menuntaskan semuanya disini sayang" Jovan mengisap lembut leher istrinya dan Intan mendesah nggak kuat


"Aa, Intan kebelet buang air kecil, makanya bawa Aa kesini" Intan mendorong suaminya dan langsung berlari masuk kedalam toilet kecil, karena sudah tidak tahan tapi dia membuka pintunya


"sayang, kamu aduhhhh" Jovan kesal sekali karena sudah ada yang terpancing untuk dituntaskan


"leganya,dari tadi Intan sudah nahan sayang, tapi Intan takut sendirian,nah Aa tarik tangan Intan dan melewati toilet ya udah Intan tarik tangan Aa,biar nggak marah Intan cium dulu" Intan keluar dan membilas tangannya dengan air dan mengeringkan nya

__ADS_1


"terus kamu lega, tapi ini Aa tersiksa sayang" Jovan memeluk dari belakang dan mencium leher Intan


"Aa" Intan bergeliat di pelukan Jovan,


"apa" mata sayu Jovan menggoda Intan,


"keluar yuk Aa" Intan menarik tangan Jovan dan mereka keluar dari toilet


Jovan cemberut sepanjang jalan menuju kamar Tika,


"Intan masuk ya sayang" Intan mencium pipi Jovan


"terserah" Jovan duduk disampingnya Tomi


"mas, Tomi teh lapar euy" Tomi memegangi perutnya


"astaga gua lupa,lo pada makan gih,bawa adek gua,kasih makanan yang bergizi" Lio memberikan perintah pada Bobi dan Jovan


"iya lapar gua,buruan yuk" akhirnya Jovan, Tomi dan Bobi keluar untuk mencari makanan


Lio pergi ke ruangan Arlan untuk menanyakan operasi Tika besok, rapi Arlan terlihat menangis dari kaca pintunya


"Napa Ar" tanya Lio panik


"astaga gua lupa,lo pada disini,main masuk aja,aduh rusak udah reputasi gua" Arlan membersihkan wajahnya dengan tisu


"ya udah kali, gengsi banget nangis dekat gua" Lio menepuk bahu Arlan.


"gua malas nangis dekat lo pada" jawab Arlan kembali dingin


"Ar,besok Tika akan baik baik saja kan" Lio ingin memastikan Arlan


"gua malah berharap keduanya pasti akan baik baik saja, apapun yang terjadi" Arlan menekankan kata katanya


"utamakan Tika,gua mohon Ar" Lio memasang muka ibanya


"keluar Lio" Arlan emosi mendengar perkataan Lio


Lio tidak mau berpanjang debat dengan Arlan,dia keluar dari ruangan Arlan,dan masuk ke kamar Tika, Intan sudah tertidur di sofa panjang


"dek, besok harus kuat ya" Lio mengelus lembut kepala Tika


Boston sedih sekali mendengar ucapan Tika, tapi dia memilih memejamkan matanya


"Tika sayang,lihat kak Meyza jangan bicara seperti itu,pak Boston dan kamu akan sehat sehat saja sayang" Meyza memeluk Tika erat dan mengelus pipinya


"kamu akan baik baik saja dek" Lio mendekatkan dirinya pada Tika


"papa bangun,jangan pura pura tidur" Tika berteriak sambil menangis dan Boston akhirnya bangun dan memeluk Tika, Meyza dan Lio hanya melihat kesedihan Boston pada Tika


"kalau mas Lio harap Tika saja yang selamat,jadi jangan harap Tika akan bangun besok" Tika hanya ingin semuanya kembali baik baik saja, jangan ada dendam lagi


Lio duduk di sofa dan menyelimuti badan Intan yang kedinginan dan dia membaringkan badannya di bawah sofa yang beralaskan karpet


"sudah kalian berdua istirahat ya dek" Meyza membawa Tika ke tempat tidur nya


"kak, bisa dekatkan tempat tidur Tika dekat papa" Tika menarik tangan Meyza,dan Meyza tersenyum mengiyakan Tika


Meyza mendorong tempat tidur Tika,tapi Lio langsung berdiri dan membantu Meyza, Tika pun memegang tangan Boston dan tertidur nyenyak


"Meyza kamu istirahat nak,nanti kamu sakit" Boston melihat Meyza yang tetap duduk di kursinya


"nggak pak, bapak saja ya, Meyza akan tungguin bapak" Boston tersenyum mendengar ucapan Meyza


"kamu tidur,saya yang akan duduk disini" Lio berdiri di samping Meyza


Meyza tidak menjawab Lio,dia malah asyik main hp


"Meyza,kamu melawan bapak" Boston tidak tega melihat wajah Lio yang seperti sedih


"tapi pak" Meyza melihat Lio sudah menunjuk 1 sofa panjang di samping Intan


"tidur di situ" Lio menarik tangan Meyza dan Meyza tidak berani melawan Lio di hadapan Boston, dan Meyza pun merebahkan badan letih nya di sofa


"Lio,kamu sudah makan nak" Boston menatap wajah tampan anaknya


"sudah sama ayah" jawab Lio sambil melihat Meyza


"nanti papa lamar dia untuk kamu" Boston menggoda anaknya


"dia nggak mau sama Lio" jawab Lio santai

__ADS_1


"kan ada papa nak,dia sayang sama kamu" Boston tersenyum melihat Lio yang tersenyum menatap Meyza


"masih sakit kepalanya" tanya Lio lagi


"nggak nak, tenanglah papa akan menyelamatkan Tika" Boston melihat Tika anak kesayangan nya


"jangan jadi orang jahat lagi, berubah lah,biar Tika bisa banggakan papa nya" Lio mulai sadar sikap kurang ajarnya pada Boston karena Tomi


"iya Lio, papa boleh minta sesuatu sama kamu nak" Boston bicara serius dengan Lio


"apa" Lio masih tidak mau melihat wajah Boston


"semua harta yang di buat mama atas nama kalian,tolong terima nak,dan juga semua harta papa juga kamu olah,semuanya atas nama kamu dan Tika" Boston akhirnya jujur pada Lio


"harta mama iya,harta yang bukan punya mama, Lio dan Tika tidak mau,buat anak yang dari istri kedua aja" Lio sudah tau Boston punya anak dari istri keduanya


"dia sudah meninggal nak, ibunya mengalami gangguan jiwa dan membunuh Kino (nama anak dari istri ke dua Boston) kemudian tak lama ibunya lompat dari atap dan meninggal" jawab Boston


"dibunuh atau terbunuh" akhirnya Lio melihat wajah Boston


"dibunuh nak, sejahat jahatnya papa,belum pernah papa membunuh siapapun dengan tangan ini,papa hanya melakukan kekerasan" Boston tau tidak mudah Lio percaya padanya


"istirahat lah,besok operasi nya lagi" Lio membuka hp nya da membaca email perusahaan nya


"Tomi, Bobi dan Jovan mana nak" dia tidak melihat 3 laki laki tampan yang sudah dekat dengannya


"makan keluar" jawab Lio singkat


"Tolong pesankan buat Meyza dan gadis cantik yang seperti boneka itu nak" Boston tau Meyza dan Intan belum makan


"iya,nanti Lio pesankan" Lio pun melanjutkan pekerjaannya melalui hp nya


Jovan, Bobi dan Tomi sudah sampai di cafe dekat rumah sakit,


"pesan apa jagoan mas Bobi" Bobi membuka menu makanan dan menyodorkan nya pada Tomi


"ini mas,pakai nasi ya" Tomi menunjuk gambar steak yang sangat menggiurkan


"emang enak ya pakai nasi" tanya Bobi yang juga melihat gambar yang ditunjuk Tomi


"enak atuh mas, nanti nasi nya teh di campur dengan ini kuah kuah nya" Tomi sudah ngiler dengan pesanan nya


"ya sudah kita pesan 3 dengan nasi 3 ya, sekarang minum nya apa Aa Tomi" Jovan sangat sayang pada Tomi karena dia punya adik laki laki sekarang


"ini saja atuh mas,teh es" jawab Tomi


"kenapa nggak es teh saja Tom" Bobi bercanda pada Tomi,dan memanggil waiters nya


"kan sama atuh mas,beda na teh didie (bedanya tu dimana) ini kan teh nya dimasukin dulu baru di buat es nya atuh" jawab Tomi menjabarkan proses pembuatan nya


"iya kalau es teh sama gitu juga prosesnya Aa kecil" Jovan tersenyum melihat muka polos Tomi


"jadi kalau sama, kenapa mas Bobi harus membuatnya terdengar berbeda atuh" Tomi menuntut jawaban Bobi


"karena yang terdengar berbeda lebih indah Tom" Bobi tertawa melihat muka Tomi bingung


"buruan atuh mas, lapar pisan euy" Tomi pun menulis pesanan mereka bertiga dan memberikannya pada waiters


"tapi maaf mas, di sini nasi putih nya udah habis" waiters itu bicara dengan lembutnya dan malu melihat Tomi


"bisa di masakan sedikit ya mbak" Tomi tersenyum ganteng pada waiters nya,dan waiters itu mengiyakan tanpa bisa menolaknya nya


"kamu lebih laku dibandingkan mas Bobi" Jovan tak percaya Tomi sangat pandai membuat Wanita salah tingkah


"makanya atuh mas,kalau ada wanita yang di sukai,sosor terus mas" Tomi menepuk punggung Bobi


"kamu nggak jual mahal Tom" Bobi pun bicara serius sama Tomi


"nggak mas" jawab Tomi


"kenapa" tanya Bobi lagi dan Jovan juga menantikan jawaban Tomi


"karena semua wanita teh bicaranya hanya manis dibibir,kalau jual mahal di bilang nggak tau diri,jual murah malah dimanfaatin" Tomi menjawab nya dengan tegas


"manis dibibir, memutar kata,malah kau tuduh akulah segalanya penyebab nya" Bobi bernyanyi sedikit lagu karena kata kata Tomi


"hahahahha,itu lagu pernah booming lo, waktu si Lio ngejar Dahlia anak pak kepala sekolah" Jovan teringat Lio mengejar Dahlia


"iya Jo, Dahlia suka bermanis mulut di depan pak kepala sekolah,agar Lio tak dimarahi" jawab Bobi lagi


"kalau di tolak teh cari yang lain atuh, tampang ganteng sayang atuh kalau terlena sama 1 wanita" jawab Tomi bangga

__ADS_1


__ADS_2