
"Sekarang kita makan dulu yuk?" kasian anak-anak kita nanti kalau mama nya gak mau makan," ajak caisar.
"Tapi janji ya,Mas akan jelaskan semua nanti," sahut Nada.
Caisar hanya menjawab hanya dengan anggukan kepala.
Kini mereka berada di ruang makan ,kamu duduk di sini,biar Mas yang panasin sayurnya," Ucap caisar.
"Gak usah Mas,itu tugas aku," Sahut Nada yang langsung ke dapur untuk memanaskan sayuran.
"Aku harus mencari cara agar Nada tak lagi menanyakan kejadian tadi? Aku belum siap jika dia tau siapa suaminya ini?" batin caisar ia memandangi istrinya yang sibuk di dapur dari belakang.
Tak lama kemudian Nada datang,Mas kamu juga makan ya," Ucapnya yang meletakan sayur dan lauk di atas meja.
"Iya sayang," sahutnya.
"Ma mau makan pakai apa?" rendang atau ayam? tawar Nada yang mengambilkan nasi.
"Apa saja boleh sayang,oh iya,nasi nya di banyakin aja,kita makan satu piring berdua," sahutnya.
"Sini biar Mas yang suapin," Caisar mengambil alih piring dari tangan sang istri,ia berusaha untuk mengalihkan pikiran dari istri nya.
Mereka pun makan dengan lahapnya dengan caisar yang menyuapi Nada.
"Mas sebenarnya orang-orang yang tadi siapa ," Tanya Nada di tengah acara makannya.
''Jangan bahas itu dulu sayang ,kita masih makan," sahut caisar..
"Baiklah kita bahas setelah ini," timpal Nada.
Setelah makan mereka kembali ke kamar ,setibanya di kamar ,caisar membuka bajunya.
"Ya ampun Mas,kenapa ini bisa seperti ini," Caisar sengaja memperlihatkan badannya yang luka berat akibat dari dirinya yang melompat keuar mobil.
'Mungkin ini akibat jatuh tadi ,tolong kasih salep atau obat apa gitu biar gak perih," sahut caisar yang beralasan.
"Iya-iya tunggu sebentar aku ambilkan dulu salepnya ," Ucap Nada menuju ke kotak obat yang ada di pojok kamarnya.
Dengan cekatan nya Nada mengoleskan salep itu ke punggung suami,sesaaat terlintas bayangan dirinya yang waktu itu menolong suaminya yang sedang terluka parah.
"Pelan-pelan sayang," Ucap caisar yang berpura-pura menahan perih ,padahal sebelum pulang ia sudah meminum obat anti nyerih.
" Ini juga udah sangat pelan Mas," sahut Nada.
__ADS_1
''Siapa orang-orang tadi Mas," tanya Nada lagi yang masih penasaran.
"Kita bahas ini besok saja ya! ini sudah lewat tengah malam.kamu harus istirahat,wanita hamil itu tidak baik jika begadang," Ucap caisar yang langsung menghentikan aktifitas istrinya..
"Mas janji akan menjelaskan setelah makan,sekarang mas bilang besok saja,terus besok mas bilang nanti saja,ujung-ujung nya mas gak akan perna jelasin apapun ke aku," Nada berhenti mengoleskan salepnya ,ia tutup salep itu dan meletakannya dengan kasar.
"Bukan begitu sayang.
"Alah alasan saja," sahut Nada yang membaringkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal.
'Apa salah jika aku pengen tau apa yang terjadi dengan suamiku? hmmm.
"Tidak ada yang salah sayang,Hanya saja waktu nya belum tepat jika sudah saatnya ,Mas pasti akan memberi tau kamu," sahut caisar yang berusaha membuka selimut istrinya.
"Jangan ganggu aku,aku mau tidur," Ucapnya yang kecewa.
"Iya ,tapi jangan begini juga dong? nanti kamu gak bisa nafas sayang," bujuknya supaya mau membuka selimutnya.
" Biarin?" sahutnya ,di dalam selimut itu,Nada menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis ,hatinya terasa sakit saat suaminya tak mau jujur dengannya.
" Apa aku tidak penting lagi bagimu?
Apa aku tak berhak tau tentang kehidupan mu selain menjadi suamiku.
Apa serahasia itu kehidupan mu dan bisnis mu", batin Nada yang bertanya tanya.
Tak ingin membuat istrinya semakin kecewa dan kesal ,Caisar memilih untuk mendiamkan.dirinhs ikut berbaring di samping sang istri,matanya tertuju ke langit- langit kamar dengan kedua tangannya yang ia gunakan sebagai bantal,sesekali ia menoleh ke arah istrinya.
Hingga waktu hampir pagi ,Caisar belum juga memejamkan matanya.
Caisar baru terlelap saat pagi datang,suara adzan masjid yang berada di komplek perumahan itu membangunkan tidur Nada.ia menguap dan menggeliat ,sesaat menoleh,pandangan pertama yang ia lihat adalah suaminya yang tidur tanpa menggunakan selimut.
Walaupun hatinya masih kesel dan kecewa,tapi ada rasa perhatian dengan suaminya ,ia selimuti tubuh suaminya sebelum ia beranjak ke kamar mandi.
Setelah mandi Nada bergegas turun kebawa ,ia abaikan suaminya yang masih tertidur pulas.
"Nada mau kemana?" tanya bik Santi.
"Eh bibik,ini bik Nada mau nemuin bang farel," jawabnya.
"Memangnya dia sudah datang", tanya bik Santi.
" Sepertinya sudah bik,semalem mas tama sudah pulang kok," jawabnya.
__ADS_1
Bik Santi pun hanya mengangguk.
Nada tinggal sebentar ya bik," pamitnya yang melangkah keluar rumah.
Bang farel?Sapa Nada yang membuat farel terkejut.
"Nona," sahutnya.
"Aku ingin bicara sama kamu," Ucapnya.
Bicara apa Nona," jawabnya.
" Tolong beri penjelasan tentang kejadian kemaren itu?" tanya Nada yang serius.
" Emmmm....itu hanya rekan bisnis bos Caisar yang kalah tender nyonya," jawabnya yang tak jujur.
" Kamu juga ingin membohongiku," tanyanya dengan kedua tangannya yang bersedekap.
" Saya tidak berbohong,kalau tidak percaya nona tanya saja langsung sama bos Caisar.
" Saya sudah tanya sama mas Tama semalem,tapi saya tidak mendapatkan jawaban apapun darinya,dan saya mau kamu berikan jawaban yang jujur ke saya," sahut Nada.
Farel melihat lurus kedepan setelah itu ia menunduk dan mengucapkan," maafkan saya nona.
Nada semakin di buat kecewa lantaran tak mendapat jawaban seperti yang ia mau.
" Sayang kok kamu gak bangunin Mas sih," tanya Caisar saat Nada membalikan badan.
"Aku sengaja gak bangunin Mas,supaya Mas bisa beristirahat?" jawabnya sambil melewati sang suami.
" Sayang," seruh Caisar yang mengikuti langkah istrinya.
" Sayang kamu masih marah sama mas," tanya Caisar yang berhasil memeluk isterinya dari belakang.
" Aduh Mas,lepas dong? malu di lihat orang rumah?" Ucapnya yang berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
" Aku gak marah sama Mas,tapi kecewa?" lanjutnya,Nada berhasil melepakan diri dari dekapann sang suami.
" Sayang,jangan gitu dong",Caisar kembali menahan tangan istrinya.
" Mas mau kopi apa tidak," tanya dengan Nada yang datar.
" Iya mau?" sahutnya dengan mengangguk.
__ADS_1
''Ya..sudah lepas dulu ini," pintanya.
Walapun di buat kecewa sama suaminya ,tapi sebagai seorang istri Nada tak bisa mengabaikan tugasnya sebagai istri ,dirinya berusaha melayani suaminya ,sudah rutinitas setiap paginya Nada membuatkan kopi untuk suaminya.