
Udin melihat tempat ia berada sangat asing baginya.
"Nangdi maneh iki..... (Dimana lagi ini )
Udin celingak celinguk.
Ketika Udin melihat bangunan berupa gazebo,Udin melihat seorang kakek - kakek duduk di kursi sambil merokok menatap meja di depannya.
"Ndang Rene ..... Ojo turu wae...." ucap Kakek tersebut. Tapi tak melihat ke arah Udin. (Cepat kesini... Jangan tidur saja)
Udin kemudian bangun.
Rupanya Kakek itu bermain catur tapi seorang diri.
"Sini temenin Mbah dolanan catur.." ucap Kakek.
"Iya mbah... " ucap Udin.
Udin berjalan ke arah kakek tersebut.
"Monggo pinarak..." ucap Kakek. (Silahkan duduk )
Udin bersalaman pada kakek tersebut tak lupa mencium tangan.
"Inggih mbah..." ucap Udin. Udin lalu duduk di kursi didepannya.
"Ini kopimu dan Rokokmu.." ucap Kakek sambil menunjukkan segelas kopi yang masih nampak uapnya dan sebungkus Rokok Surya.
Udin meminum kopi itu perlahan lalu mengambil sebatang Rokok,kemudian di taruh di bibir.
Kakek itu menyalakan Korek Zippo kemudian mengarahkan ke rokok Udin. Udin dengan sigap menghisapnya.
Wuuusssshh... Asap keluar dari mulut.
Pikiran Udin nampak blank karena baru bangun tidur lalu Ia menuruti kemauan Kakek tersebut.
"Ayo temenin mbah maen catur.." seru Kakek.
" Injih mbah.. " ucap Udin.
Udin kemudian memainkan catur tersebut. Nampak catur Udin bewarna putih sisa sedikit,sedangkan milik kakek warna hitam masih banyak.
"Asem... Aku dikasih yang sedikit.." ucap Udin dalam hati.
"Peraturannya mudah, seperti bermain catur biasanya,hanya saja jika alat itu berbunyi maka kesempatan dirimu untuk jalan hilang,dan yang menang akan jalan duluan meskipun caturnya bewarna hitam." ucap Kakek.
Perlahan pikiran Udin kembali seperti semula
"Anakmu wes piro..." ucap Kakek.
"Yugo kulo wonten tigo Mbah.." ucap Udin. ( Anak saya ada tiga mbah.) sambil menggerakkan biji caturnya.
" Ora nambah maneh.. " ucap Kakek. sambil memainkan caturnya.
"Duko enggeh mbah.. Jika tuhan berkehendak ya bisa nambah lagi.." ucap Udin sambil berpikir.(Tidak tahu mbah)
"Diamput... Dolanan catur sambil ngobrol.. Ya fokusku berkuranglah.." ucap Udin dalam hati.
Udin kemudian menjalankan kuda untuk memakan benteng kakek.
" Aku arep ngejak kowe dolan adooh.... Gelem opo ora.?." ucap Kakek. (Aku mau ngajak kamu jalan jauhhh.... Mau apa gak ? )
Udin nampak berpikir.
"Kulo mboten purun mbah... Yen tasek bujang yo mboten nopo - nopo." ucap Udin. ( Saya tidak mau mbah.. Kalau masih bujangan ya tidak apa - apa ).
"Skak..... " ucap Kakek.
"Juancoookkkk...." ucap Udin kesal. Sebab dirinya kurang fokus.
"Ayo Ulang lagi..." ucap Kakek.
Biji catur tiba - tiba kembali seperti semula sebelum Udin maenkan.
"Diampuut......" ucap Udin dalam hati.
Udin mencoba kekuatan Elemen Ruang dan waktu.
"Yes berhasil..." ucap Udin dalam hati.
"Kowe nak di beri pilihan, antara kekuatan apa keluarga,Awakmu pilih seng endi?" ucap Kakek memainkan biji caturnya.( dirimu pilih yang mana ?)
Nampak Udin berpikir pertanyaan kakek tersebut. Di sebelah Udin ada alat untuk mengukur batas waktu berpikir,jika berbunyi maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menjalankan biji caturnya.
"Sial... Tadi aku lihat masa depan gak seperti ini" ucap Udin dalam hati. Sebab kejadiannya berbeda saat Udin menggunakan elemen tersebut.
Teeeet...... Suara alat itu berbunyi. Karena Udin terlalu lama berpikirnya.
Udin kehilangan Haknya untuk menjalankan biji catur.
" Kulo pilih kekuatan Mbah.."ucap Udin.
Sang kakek menjalankan biji caturnya.
Udin kemudian menjalankan biji caturnya.
"Skak...." ucap Kakek.
"Diamputtt..." ucap Udin dalam hati melihat Rajanya tak bisa bergerak,karena jika digerakkan juga percuma, maju di makan Pion,mundur dimakan benteng. Samping di makan peluncur.
Papan catur kembali seperti semula lagi.
Udin meminum kopi lalu menghisap rokoknya.
Sang kakek menjalankan biji caturnya duluan meskipun ia memegang biji catur warna hitam,karena ia menang.
"Awakmu gak sayang keluargamu to?." ucap Kakek.
"Ya sayang Mbah..." ucap Udin menjalankan biji catur sambil berpikir.
"Kalau sayang.. Kenapa pilih kekuatan?" ucap Kakek lalu menjalankan biji caturnya.
" Jika aku tak punya kekuatan,maka aku tak bisa melindungi keluargaku mbah..." ucap Udin menjalankan biji caturnya.
"ngene Le... Bojomu posisine di pegang oleh musuh,musuhmu itu menempelkan pedangnya dileher istrimu,lalu Didepanmu ada batu yang mengandung kekuatan yang bisa melawan musuhmu. Kamu pilih yang mana? kehilangan istrimu apa kekuatanmu?" ucap Kakek. Kakek itu sengaja mengajak ngobrol,agar fokusnya Udin berkurang serta melatih kefokusan Udin.
Nampak Udin berpikir...
"Asem... Kenapa pula kekuatan. Coba ganti harta gitu,pasti aku pilih istrikulah. " ucap Udin dalam hati sambil berpikir.
Teeeettt.... Alat itu berbunyi lagi.
Sang kakek menjalankan biji caturnya.
"Skak.... " ucap Kakek.
"Djaaancooook...." ucap Udin kesal. Sebab biasanya Udin bisa memainkan catur tersebut dengan hasil menang,tapi dalam keadaan tak diajak ngobrol,jadi dirinya bisa fokus. Tapi begitu dirinya di ajak mengobrol terus jadi fokusnya kurang.
Papan catur kembali seperti semula.
Sang Kakek kembali jalan duluan menggerakkan biji caturnya.
"Piye Le.... Iso jawab opo ora?" ucap Kakek. ( Gimana Nak... Bisa jawab apa enggak?)
Udin menjalankan biji caturnya.
"Kulo pilih mati aja mbah.. Jadi gak kepikiran untuk menjaga keluargaku dan juga kekuatan." ucap Udin,
Udin tak menggunakan Elemen ruang dan waktunya lagi,sebab hasilnya berbeda dengan yang ia lihat.
"Pinter .......tapi kamu bodoh...... "ucap Kakek.
"Heh......!!!??Kok bodoh mbah..?"ucap Udin heran.
"Lah iya... Kan awakmu punya teman - teman. Buat apa punya teman tapi gak minta bantuan." ucap Kakek.
"Mbah gak bilang kalau aku punya teman" ucap Udin.
"Skak.....
"Aku takon...,awakmu duwe konco opo ora?" ucap Kakek.(aku tanya... Dirimu punya teman apa enggak?)
Papan catur kembali seperti semula.
"Ya punya lah mbah..." ucap Udin
"Kenapa gak minta bantuan?" ucap kakek.
"Asem..... Kulo yo jaluk tulung kaleh rencang - rencang kulo mbah... yen kulo mboten saget." ucap Udin. ( aku ya minta tolong kepada teman - temanku mbah.... jika aku tidak sanggup.)
"Pertanyaan selanjutnya.. Seumpomo kowe balek maneh dadi manungso biasa,Umam,...Rissa..,Paijo...sopo seng mbok pilih dadi gurumu" ucap Kakek itu sambil menjalankan biji caturnya.( Seumpama kamu kembali lagi menjadi manusia biasa. Umam....Rissa.... Paijo....Siapa yang akan kamu pilih jadi gurumu)
"Umam mbah..." ucap Udin.
" Kenapa pilih Umam? kenapa gak pilih bojomu Rissa..?" ucap kakek sambil menjalankan biji caturnya.
"Diampuut.... Jika terus - terusan begini aku yo kalah"ucap Udin dalam hati.Lalu Udin mencoba membagi fokusnya.
"Kulo pengen Rissa menjaga yugo kulo yen kulo balek songko awal maneh." ucap Udin. sambil menjalankan biji caturnya. (Saya ingin Rissa menjaga anak saya jika saya kembali ke awal lagi).
Sebab Udin kepikiran Rudi dan Bella yang kekuatanya masih lemah dan Udin berpikir bahwa antara Umam dan Paijo, kekuatannya masih kuat Umam. Sebab Umam Berada di atas Paijo.
"Dari sekian banyak Elemen. Elemen mana yang akan kamu pilih Le?" ucap Kakek sambil menjalankan caturnya.
"Kulo pasrah mawon mbah... ,Yen di westani Elemen syukur alhamdulilah, Yen mboten yo mboten nopo - nopo mbah.." ucap Udin mengikuti gaya ucapan temannya waktu ia mancing bersama sambil menjalankan biji caturnya. (Saya pasrah saja mbah.... Kalau di Beri Elemen syukur alhamdulilah, Jika tidak ya tidak apa - apa).
"Pilihan bijak..." ucap Kakek sambil menjalankan biji caturnya.
"Skak...." ucap Udin saat menjalankan biji caturnya.
"Kowe ngerti opo ora opo seng tak takoni maeng? " ucap Kakek. (kamu ngerti apa enggak apa yang aku tanyakan tadi)
"Ngerti mbah..." ucap Udin sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Ngerti opo?" ucap Kakek menghembuskan asap rokok.
"Ngerti Yen mbah kiyambak 'an teng meriki." ucap Udin. (Ngerti jika mbah sendirian di sini).
Sebab Udin mengedarkan kesadarannya. Hanya mereka berdua saja ada di tempat itu.
"Waasssuuu....." umpat Kakek.
"Hehehehehe.... Udin cengengesan ketika kakek itu kesal.
"Gak lanjut maen lagi mbah...??" ucap Udin heran mengapa papan caturnya tidak kembali seperti semula ketika dirinya menang.
"Sudah cukup Le...Pantesan anak buahmu slengek'an, Ketuanya saja seperti ini kok." ucap Kakek.
Udin menyusun biji catur tersebut. Ia menempatkan semua biji catur yang ada.
"Ayo mbah.. Maen lagi..." ucap Udin.
"Emmooh.... " ucap kakek.
Udin mencoba membaca pikiran kakek.
"Kamu gak akan bisa baca pikiranku Le..." ucap Kakek.
"EH... !!!?? Udin terkejut. Sebab yang di katakannya emang benar,Udin tak bisa membaca pikiran kakek itu.Bahkan tingkat kultivasinya saja tidak bisa.
"Ilmumu dan pengalamanmu masih seujung kuku ku ini.." ucap Kakek sombong sambil menunjukkan kukunya pada Udin.
"Asemmm....... Gelut yok mbah..." ucap Udin jengkel.(Berantem yok mbah)
"Awakmu wani karo wong tuwo to? Kowe gak wedi kualat?" ucap Kakek. ( Dirimu berani sama orang tua to? Kamu gak takut kualat? )
"Enggak mbah..." ucap Udin.
"Mosookk...kowe ora ngapusi?" ucap Kakek. (Kamu tidak bohong?)
"Maksud Kulo Gelut nipun iku maen catur lagi.. Sanes Bertarung.Habisnya mbah gak mau maen lagi seh...." ucap Udin ngeles. ( Maksud saya Berkelahi itu maen catur lagi... Bukan bertarung)
"Awakmu balek wae... Nesakke Umam mbok segel kekuatanne.." ucap Kakek. (Dirimu balik saja... Kasihan Umam kamu segel kekuatannya).
"Hehehehe... Sengaja mbah. Takut Umam berbuat yang tidak - tidak..." ucap Udin sambil menggaruk - garuk kepalanya meskipun tak gatal.
__ADS_1
Sang kakek kemudian berdiri lalu jari tanganya menuju kening Udin lalu mendorongnya.
"Aaaaa........" Teriak Udin. Karena dirinya terjatuh dari kursi kebelakang lalu pandanganya gelap.
----***---
Dunia Cincin.
Tubuh Udin terbaring di kasur di temani Rissa di sampingnya.
Tiba - tiba Udin berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa.........." Teriak Udin.
Rissa terkejut ketika Udin berteriak.
"Kang Mas....." ucap Rissa memegang pundak Udin.
Teriakan Udin berhenti lalu membuka matanya perlahan.
"Adek......!!!!" ucap Udin terkejut,lalu bangun,Rissa juga ikut bangun.
Udin celingak celinguk mencari keberadaan kakek tersebut.
"Kang Mas mencari siapa?" ucap Rissa.
"Umam dimana dek?" ucap Udin berbohong.
"Umam bersama Mingxia Kang Mas..." ucap Rissa.
"Ooo.... Begitu...
"Eh...!!! Aku berapa lama pingsan Dek ?" ucap Udin.
"4 Tahun Kang mas..." ucap Rissa.
"Busseeeett... Lama banget dek....
"Kenapa gak nyadarkan aku Dek?." ucap Udin.
"Adek gak bisa memulihkan tenaga dalam Kang Mas,kalau Energi Qi Adek bisa,jika tenaga dalam Adek angkat tangan,Adek Sengaja gak nyadarkan Kang Mas agar kekuatan tenaga dalam Kang Mas kembali pulih sendirinya." ucap Rissa.
Udin nampak memeriksa tenaga dalamnya.
"Hem....Sudah penuh kembali" ucap Udin dalam hati.
"Ayo Dek kita samperin Umam..." ucap Udin.
"Ayo kang Mas..." ucap Rissa.
Udin dan Rissa kemudian beteleportasi ke tempat Umam berada
****
Taman istana.
Nampak Umam bermain mobil remot control bersama David. David sudah tumbuh besar begitu pula Umam.
"Aku menang...... " teriak David.
"Kamu curang nyenggol Mobilku..." ucap Umam ketika melihat mobilnya di senggol oleh mobil David.
Umam kemudian berjalan mengambil mobilnya yang menabrak batu.
"Bukan curang.. Tapi strategi..." ucap David.
Sampai saat ini Umam tak bisa mengeluarkan kekuatannya dan Umam bertingkah seperti anak kecil pada umumnya Jika ada David . Bila tidak ada maka Umam bersikap Biasa.
Mingxia kemudian datang sambil membawa makanan.
"Robin makan dulu Nak..." teriak Mingxia.
"Iya Bu..." ucap Umam.
Umam berjalan menghampiri Mingxia.
Umam sengaja menyuruh Mingxia memanggil dirinya Robin dan menganggap dirinya itu anaknya. Jadi Umam memanggil Mingxia dengan sebutan Ibu. Agar david tak tahu bila dirinya itu Umam. Umam memilih nama Robin karena pernah melihat Film Batman.
Mingxia mengangkat Umam di kursi, kemudian menyuapi Umam.
"Kapan ya Bos Udin kembali... Masa iya aku terus seperti ini seh... Asemm....." ucap Umam dalam hati.
Nampak Umam memakan dengan lahap.
Tak lama kemudian Udin dan Rissa muncul di depan Umam.
"Uhuk...Uhuuk....Uhuukk..... " Umam kesedakan karena terkejut melihat Udin dan Rissa muncul di depannya.
"Wuuiihhh... Adiknya David dah gede." ucap Udin ketika melihat Umam.
Mingxia memberikan air putih pada Umam.
Glek...Glek...Glek.... Aaahh....
"Waasssuuuuu......." umpat Umam
"Namanya siapa Bi....." ucap Udin.
"Namanya Robin Bos...." ucap Mingxia.
"Ooo... Robin.. Robin nakal apa enggak Bi...." ucap Udin.
Nampak David bermain dengan kembaran Rissa dan posisinya agak jauh.
"Nakal Bos... Masa tidur minta di kelonin." ucap Mingxia.
"Jewer saja Bi kalau nakal...." ucap Udin.
"Diampuutttt..... " ucap Umam.
"Aku kan masih anak kecil Bos... Jadi wajarlah kalau tidur minta di keloniin." ucap Umam membela diri.
"Mosook... Udin gak percaya... 5 kali 50 berapa?" ucap Udin.
"250 Bos..." ucap Umam.
"Eh....!!!??? Umam terkejut,lalu sadar...
"Juaaancoookkkk....
"Bos.... Balikkan lagi nah diriku ke seperti semula." ucap Umam.
"Habisin dulu makannya . Baru Udin kembalikan seperti semula,dan kalau lagi makan tidak boleh bicara....
"Katanya Robin mau jadi prajurit TNU,jadi kalau makan gak boleh di sisakan,harus di habiskan..." ucap Udin. Sebab Udin melihat makanan Umam masih 3 suap lagi.
"Iya Bos.." ucap Umam.
Mingxia kemudian menyuapi Umam lagi.
"Sepertinya aku ada yang lupa,tapi apa ya..." ucap Udin.
Nampak Udin berpikir keras.
"Anak buah Ranny masih di dunia jiwa kang Mas..." ucap Rissa telepati.
"Ooooh... Iya..... "ucap Udin.
Udin kemudian membagi dirinya,kemudian Kembarannya masuk dalam dunia jiwa Udin.
Nampak Umam sedang minum setelah makanannya habis..
"Glek... Glek... Glek.... Aaahhhhh....
"Boss... Aku dah selesai makan..." ucap Umam.
"Enggak jadi anak kecil saja Om Jin....?
"Kan enak tuh dapat banyak angpau ketika lebaran" ucap Udin.
"Enggak Bos...Aku gak mau jadi anak kecil." ucap Umam.
Udin mengarahkan jari telunjuk ke arah Umam.
Nampak badan Umam bercahaya, Tak lama kemudian cahaya itu redup.
Kini badan Umam kembali seperti yang dulu lagi beserta kekuatannya.
"Akhirnya..... Aku kembali seperti yang dulu lagi..." ucap Umam lalu bersujud.
Selama Udin tak sadarkan diri,Rissa mengganti darah Udin dengan darah Peri. Agar Udin terlihat muda.
Umam kemudian berdiri.
" Ayo Om Jin... Kita samperin Imam dulu,sebab aku belum ada memberi Elemen cahaya." ucap Udin.
"Siap Bos...." ucap Umam.
"Bibi... Aku tinggal dulu ya.." ucap Udin lalu mencium tangan Mingxia.
"Iya Bos..." ucap Mingxia.
Udin, Umam dan Rissa kemudian menghilang.
.
----***----
Rumah Sakit
Ruang rawat inap.
Nampak Imam Samudra sedang menyusuu. Lalu Udin dan Umam muncul di depan pintu kamar inap.
Udin membuka pintu tersebut.
Ckelek..... Kriiiieeet..... Suara pintu.
Sri melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"EH....!!!??? Umam terkejut saat melihat Imam masih bayi,ia pikir Imam sudah berusia 4 tahun sama seperti dirinya sewakti di dunia cincin.
" Kok masih bayi ya...." ucap Umam dalam hati heran.
Udin dan Umam berjalan mendekati Sri,setelah sampai Udin mencium tangan Sri.
"Maaf Bi... Udin agak lama sedikit membawa Paman Umam. " ucap Udin.
"Gak apa - apa Bos.... Seminggu juga gak apa - apa. "ucap Sri.
"Bi... Tolong Tutup mata Bibi..." ucap Udin.
"Siap Bos.... " ucap Sri kemudian memutup matanya tanpa bertanya.
Udin kemudian memberikan elemen cahaya pada Imam Samudra.
Nampak cahaya putih menyelimuti tubuh Imam.
Tak lama kemudian cahaya itu perlahan Redup.
Kini Imam Samudra memiliki elemen Cahaya.
Lebih mudah memberikan kekuatan elemen dari pada mengeluarkan Elemen. Sebab memberi kekuatan elemen tak membutuhkan Array khusus.
"Buka mata Bibi.... Udin tadi memberikan Elemen cahaya pada Imam Bi....." ucap Udin.
Sri membuka matanya.. Lalu melihat ke arah Imam. Nampak wajah Imam bercahaya setelah diberi kekuatan elemen cahaya.
"Terima kasih Boss..." ucap Sri.
"Sama - sama Bi..." ucap Udin.
"Dek.... Berapa lama aku tinggalkan Imam?" ucap Udin telepati.
"2 hari saja Kang Mas...." ucap Rissa telepati.
__ADS_1
"Dewi Bulan masih di rawat apa enggak dek?" ucap Udin telepati.
"Mereka sudah di apartemen Kang Mas..." ucap Rissa telepati.
Tiba - tiba ada Dokter masuk.
Ceklek... Kreeiiit... Suara pintu.
"EH.....!!!??? Dokter itu terkejut saat melihat Udin dan Rissa.
"Masuk saja Dok..." ucap Udin.
"Iya yang Mulia....
"Permisi....." ucap Dokter tersebut agak kikuk karena melihat langsung Udin,sebab selama ini dirinya tak pernah melihat Udin.
"Monggo....." ucap Udin.
"Dok... Apakah saya hari ini pulangnya...?" ucap Sri.
"Iya Nyonya Umam. " ucap Dokter sambil memeriksa Imam.
"Ini ada daftar Medical Check up. Jadi Nyonya Umam harus datang ya untuk memeriksa Putra nyonya." ucap Dokter.
"Baik Dok..." ucap Sri.
"Bila Putra anda mengalami gangguan kesehatan segera bawa kerumah sakit.." ucap Dokter.
"Terima kasih Dok.." ucap Sri
Tak lama kemudian datanglah Meng Tian bersama Anak buah Udin kecuali Paijo.
"Eh....!!!??? " Mereka terkejut saat melihat Udin. Sebab mereka tak merasakan aura keberadaan Udin.
"Boss....." ucap mereka agak nyaring serempak.
"Sssttt..... Jangan berisik...." ucap Sri.
"Maaf...Maaf..." ucap mereka.
"Kalian sudah ketempat Paijo?" ucap Udin.
"Sudah Bos..." ucap Mereka pelan serempak.
"Aaiiishhh... Aku sendiri yang belum. Ya udah kalau gitu.. Aku ketempat Paijo dulu ya man teman..." ucap Udin.
"Iya Bos...." ucap mereka serempak.
Rissa mengait tangannya ke lengan Udin kemudian menghilang.
----***----
Apartemen Paijo.
Udin dan Rissa muncul di depan pintu.
Udin memencet Bel...
***
Paijo sedang mencuci pakaian di kamar mandi.
"Kulon nuwun....." suara Bel.
Paijo mencuci tangannya yang penuh sabun lalu berjalan ke arah Pintu.
Paijo melihat ke layar siapa yang datang sebelum membuka pintu.
"Ooo... Si Bos ta... Kirain siapa." ucap Paijo.
Paijo lalu menekan tombol untuk membuka pintu tersebut.
Tak lama kemudian pintu bergeser.
"Pakde....Maaf Udin baru jenguk..." ucap Udin sambil mencium tangan Paijo.
"Ya gakpapa Bos...Mari masuk Bos..." ucap Paijo.
Mereka pun masuk kedalam.
Nampak Dewi bulan memyusui anaknya sambil menonton TV.
"Bu de.... " ucap Udin sambil berjalan ke arah Dewi Bulan kemudian mencium tangannya.
"Wuiihh... Ada penerus cacing kremi...." ucap Udin.
Udin melihat anaknya paijo memiliki tanduk kecil di kepalanya.Baru tumbuh setengah senti.
"Diampuutt... Masih ngatain aku cacing kremi" ucap Paijo dalam hati.
"Namanya siapa Bu de....." ucap Udin.
"Namanya Shen Ariel .Panggilannya Ariel.." ucap Dewi bulan.
"Wuiiih... Seperti nama vokalis Noah ..." ucap Udin.
"Iya Bos.... Emang sengaja kuberi nama itu,agar tampannya sama dengan Ariel Noah. " ucap Dewi Bulan.
"Terus kalau Ariel sudah besar mau jadi apa?" ucap Udin.
"Jadi penyanyi Bos..." ucap Paijo.
"Lah.... Penerusnya Pakde siapa kalau Ariel jadi penyanyi?" ucap Udin.
"Kan si Bos jadi penerusku..." ucap Paijo dengan entengnya.
"Diammpuuut...." ucap Udin.
Udin kemudian menciptakan pakaian untuk Ariel,tak lupa mengeluarkan perlengkapan bayi lainnya.
"Ini untuk Ariel Bu de..." ucap Udin.
"Makasih Bos...." ucap Dewi Bulan.
Udin melihat Ariel,ia ingin memgetahui elemen apa saja didalam tubuhnya.
"Hem... Api, Besi,Udara,tanah,petir. Bisa neh aku tambahin satu lagi" ucap Udin dalam hati.
"Bu de... Tolong tutup mata Bu de..." ucap Udin,karena Udin gak mau dewi Bulan silau melihat cahaya ditubuh Ariel.
"Mau ngapain Bos..." ucap Dewi Bulan.
"Tutup saja Sayang.." ucap Paijo.
Dewi Bulan kemudian menutup matanya. Lalu Udin memberikan Elemen Cahaya pada Ariel.
Nampak Tubuh Ariel bercahaya akibat di beri Elemen oleh Udin.
"Asem.... Pantesan istriku disuruh tutup mata,ternyata si Bos memberi Elemen pada anakku" ucap Paijo dalam hati menutup matanya.
Tak lama kemudian cahaya itu meredup.
"Nah....Buka mata Bu De...Tadi Udin memberikan elemen Cahaya,karena tubuh Ariel masih bisa menampung 1 elemen lagi." ucap Udin.
Dewi bulan kemudian membuka matanya.
"Ooo...Begitu...Matur suwun Bos..." ucap Dewi Bulan.
"Sami - sami Bu De..." ucap Udin.
"Bos sudah jenguk Umam?" ucap Paijo.
"Sudah... Tadi Udin habis dari sana Pakde. Lalu kesini.." ucap Udin.
"Putraku mempunyai elemen apa saja Bos..?" ucap Paijo telepati. Sebab Paijo tak bisa melihat elemen kekuatan anaknya.
" Putra Pak De itu mempunyai elemen Api,Besi,Udara,Tanah,petir dan cahaya" ucap Udin telepati.
"Clara...." ucap Udin memakai alat komunikasi. Sebab Udin teringat galaksi yang ia kunjungi.
"Clara itu siapa Bos.." ucap Paijo.
"Iya Bos..." Suara Clara.
"Pasukan penjaga Pakde..." ucap Udin.
"Status..." ucap Udin.
"Status aman Bos.. Belum ada musuh terlihat oleh Radar..." suara Clara.
"Bagus... Jika menemukan musuh segera beritahu aku.." ucap Udin.
"Siap Bos...." Suara Clara.
"Pak De... Bu de... Udin pamit dulu,sebab masih ada perlu.." ucap Udin.
Udin kemudian mencium tangan Paijo dan Dewi Bulan kemudian menghilang.
----***----
Luar Angkasa.
Udin muncul di luar angkasa.Kemudian mengeluarkan Rakyat Ranny.
Wuusshh.... Jutaan orang keluar.
"EH..... !!!???" Mereka terkejut. Di kira mereka akan di keluarkan di tempat biasa,gak tahunya di tempat yang baru pertama kali mereka lihat.
"Maaf, saya mengeluarkan kalian di sini. Sebab kalian akan menerima petir kesengsaraan dari dua Naga..." ucap Udin telepati.
Tak lama kemudian muncullah 2 naga tersebut.
"Salam hormar yang mulia..." ucap mereka serempak.
"Iya... Silahkan lakukan tugasmu seperti biasa," ucap Udin.
"Siap yang Mulia..." ucap mereka serempak.
Para rakyat Ranny terpesona melihat 2 Naga itu. Sebab mereka belum pernah melihatnya,hanya awan dan petir saja setiap naik tahap.
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jutaan orang menerima petir tersebut,setiap orang hanya 1 petir saja. Kemudian Naga Azhura memberikan Petir. Sebab Mereka semua berada di Ranah Dewa Absolut tingkat 2.
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
Jeddeerr...... Jeddeerr..... Jeeddddeeeerrr.......
"Sudah yang Mulia... Kami Pamit undur diri.." ucap Naga Azhura.
"Iya... Terima kasih...." ucap Udin.
Ke dua naga itu menghilang.
"Kalian akan tinggal bersama yang lainnya,dan kalian sudah sudah saya siapkan tempat timggal.." ucap Udin telepati kemudian meneleportasikan Bumi.
"Beres.... Sekarang saatnya membebaskan dia." ucap Udin dalam hati.
"Siapa yang mau Kang Mas bebaskan?" ucap Rissa telepati.
__ADS_1
"Ada... Mereka kakak adik yang di tawan musuh dek." ucap Udin telepati.
Udin kemudian mengedarkan kesadaraan mencari ke dua orang itu.