Petualangan Udin

Petualangan Udin
Bab 3


__ADS_3

"Istri gusti prabu selamat dan putra Gusti prabu sehat,ayo masuk dulu Gusti prabu" ucap Dukun beranak.


Lalu Raja Prabu Aji Awalludin masuk kedalam di ikuti Dukun beranak.


Setelah sampai,Nampak Bayi itu sedang tidur pulas di samping Sekar Ayu Diningrum.


"Kandaa....." ucap Sekar lirih menahan rasa sakit yang ia derita.


"Iya Dinda..." ucap Prabu Prabu Aji Awalludin


Nampak bayi itu di selimuti kain agar tetap hangat.


Raja Prabu Aji Awalludin menggendong Bayi tersebut lalu duduk di samping istrinya.


"Berikan nama pada putra kita.." ucap Sekar.


Luciefer mengendalikan mulut Raja Prabu Aji Awalludin.


"Putra kita bernama SYAIFUDIN* (bibir dan lidahnya di gerakkan oleh sesuatu saat menyebut nama putranya)...." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.


"Nama yang bagus Kanda...


"Sayangilah Syaifudin seperti Kanda menyanyangi diriku.." ucap Sekar.


Tak lama kemudian Sekar Ayu Diningrum menghembuskan nafas terakhirnya.


Raja Prabu Aji Awalludin tak mengetahui bahwa istrinya telah tiada,ia hanya melihat Syaifudin.


"Tentu dinda... Aku akan selalu menyayanginya selalu.." ucap Raja Prabu Aji Awalludin


"Gusti prabu,..." ucap Dukun beranak.


" Iya Mbok Nah... Ada apa?" ucap Raja Prabu Aji Awalludin lalu menoleh ke arah Dukun beranak.


"Sebelum putra Gusti prabu lahir,ada sebuah cahaya masuk ke dalam mengenai putra gusti prabu,dan putra gusti nampak berbeda dari bayi - bayi lainnya" ucap Dukun beranak lirih.


"Berbeda gimana maksudmu Mbok Nah..." ucap Raja Prabu Aji Awalludin penasaran.


Dukun beranak lantas mendekat lalu membisikkan ke kuping Raja Prabu Aji Awalludin.


"Raden Syaifudin bola matanya memutih,rambutnya juga putih..." ucap Dukun beranak.


"EH.....!!!??? Raja Prabu Aji Awalludin terkejut,lalu membuka penutup rambut Syaifudin.


Nampak rambut Syaifudin bewarna putih.


Lalu Raja Prabu Aji Awalludin membuka mata Syaifudin ke dua - duanya.

__ADS_1


Nampak bola mata Udin memutih semua.


"Dinda......." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.


Tak ada jawaban dari Sekar Ayu Diningrum.


Raja Prabu Aji Awalludin lantas menoleh ke istrinya. Nampak Sekar matanya terpejam.


Lalu Dukun beranak mengecek kondisi Sekar Ayu Diningrum. Ia menempelkan jari telunjuk ke hidung lalu mengecek dunyut nadi Sekar.


"Gusti Prabu... Kanjeng Ratu sudah tiada...." ucap Dukun beranak tersebut.


"Apaaa....!!!?? Jangan becanda kamu Mbok Nah..." ucap Raja Prabu Aji Awalludin terkejut dan emosi.


"Kulo mboten wani guyon gusti Prabu..." ucap Dukun beranak. (Saya tidak berani bercanda).


"TIDAAAAAAKKKK............" teriak Raja Prabu Aji Awalludin.


Pecahlah tangisan Raja Prabu Aji Awalludin.


"Dindaa.... Jangan tinggalkan aku... " ucap Raja Prabu Aji Awalludin sambil menangis.


Barusan ia bahagia dengan kehadiran buah hatinya yang mereka tunggu selama 9 tahun.


Kini kebahagiaan itu berubah menjadi duka yang mendalam.


Seluruh rakyat Padjajaran berduka atas meninggalnya Ratu mereka yang terkenal ramah,sopan, dan suka membantu orang lain.


Raja Prabu Aji Awalludin lantas memerintahkan pada bawahannya untuk mencarikan seorang wanita yang sedang menyusui,untuk Syaifudin.


Beberapa jam kemudian muncullah bawahan Raja Prabu Aji Awalludin.


"Senopati Anggara... Apakah kamu sudah dapat apa yang aku perintahkan?" ucap Raja Prabu Aji Awalludin.


"Sampun Gusti Prabu... Saya membawa wanita yang sedang menyusui,Namanya Sumarni." ucap Senopati Anggara.


Nampak Raja Prabu Aji Awalludin melihat ke arah Sumarni, Ia memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala.


"Apakah masih ada suaminya dan anaknya di rumah..?" ucap Raja Prabu Aji Awalludin.


"Masih ada Gusti Prabu..." ucap senopati Anggara.


"Baiklah... Kirim mereka makanan di rumah mereka selama Sumarni menyusui putraku, aku bebaskan mereka pajak selamanya. Dan bawalah Sumarni ketempat putraku" ucap Raja Prabu Aji Awalludin.


"Daulat Gusti Prabu...Kulo pamit undur diri.."ucap Senopati Anggara.


Senopati Anggara dan Sumarni lantas berjalan ke arah tempat di mana Syaifudin berada.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sampai di depan pintu.


"Penjaga.... Dia adalah Sumarni yang di tugaskan untuk menyusui Raden Syaifudin" ucap senopati Anggara.


Penjaga lantas membuka pintu kamar.


Krriiiieeeettt........ suara pintu terbuka.


Senopati Anggara dan Sumarni masuk ke dalam.


Nampak Udin sedang di ganti pakaiannya oleh dukun beranak.


"Mbok Nah...." ucap senopati Anggara setelah dekat dengan dukun beranak.


Dukun beranak lantas menoleh ke Senooati Anggara lalu ke arah Sumarni.


" Senopati Anggara...Siapa wanita di sampingmu itu" ucap dukun beranak.


"Dia adalah Sumarni dari desa Losari. yang di tugaskan oleh Gusti Prabu untuk menyusui Raden Syaifudin." ucap senopati Anggara..


"Ooo.... Begitu... Ini... Susuinlah Raden Syaifudin,sebab ia sudah lapar karena belum di beri Asi." ucap dukun beranak sambil menyerahkan Udin ke Sumarni.


Sumarni menerima Udin lalu menggendongnya,Sumarni duduk di tepi ranjang lalu mengeluarkan 1 gunungnya,kemudian meletakkan ujung gunung itu di mulut Udin.


Nampak Udin menyedot meminum air Asi tersebut.


Jasad Sekar Ayu Diningrum akan di semayamkan esok pagi,sebab saat ini sudah sore hari.


Nampak para warga berdatangan silih berganti untuk melihat Jasad Sekar Ayu Diningrum.


Sang Raja mempunyai seorang selir. Selir itu bernama Widya Astuti,dan mempunyai seorang putra bernama Raden Alji Mahendra . Selir itu mempunyai perangai yang buruk,begitu pula putranya. Begitu ia mendengar Sekar Ayu meninggal, Ia sangat senang sekali,sebab ia ingin menguasai kerajaan tersebut bersama putranya. Alji Mahendra yang masih berumur 5 tahun.


"Aku akan menyingkirkan Syaifudin dari kerajaan ini. Agar Alji Mahendra menjadi putra mahkota." ucap Widya Astuti dalam hati tersenyum licik.


---***---


Pagi harinya. Acara pemakaman Ratu Sekar dilaksanakan.


Sekar Ayu Diningrum di kebumikan di kuburan keluarga kerajaan,yang letaknya 2 Kilometer dari kerajaan Padjajaran.


Jasad Sekar Ayu Diningrum di letakkan di dalam peti lalu di taruh dalam kereta kuda.


Kemudian Raja Prabu Aji Awalludin menaiki Kuda,ia berada di depan bersama para mahapatih dan senopatinya.Lalu di belakangnya kereta yang membawa jasad Sekar Ayu Diningrum setelah itu prajurit kerajaan.


Para warga berdiri di pinggir jalan untuk melihat pengantaran jenasah Ratu mereka,ketika kereta itu hendak melewatinya,orang - orang melempar bunga ke jalan sambil menangis.


"Selamat jalan kanjeng ratu....ucap para warga sambil menabur bunga di jalan.

__ADS_1


----***----


__ADS_2