Petualangan Udin

Petualangan Udin
Bab 4.


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian kelahiran Udin


Di suatu tempat tak jauh dari kerajaan Padjajaran,terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Awan.


Kerajaan Awan di pimpin oleh Raja yang tamak akan kekuasaan,ia menyerang dan menduduki setiap desa yang akan di kuasainya. Raja itu bernama Permadi Sujiwo.


Nampak Raja Permadi sedang mengumpulkan para bawahannya.


"Tumenggung Subroto... Apakah kamu tahu peristiwa yang kemarin itu.." ucap Raja Permadi.


"Ampun Gusti Prabu... Hamba tidak tahu apa - apa mengenai peristiwa kemarin." ucap Tumenggung Subroto.


"Mahapatih Mahendra... Apakah kamu tahu?" ucap Raja Permadi.


"Kulo mboten sumerep gusti Prabu..." ucap Mahapatih Mahendra.(Saya tidak tahu)


"Siapa diantara kalian yang tahu mengenai peristiwa kemarin? Sebab peristiwa itu tak pernah terjadi." ucap Raja Permadi.


"Maaf Gusti prabu...." ucap salah satu bawahan Raja Permadi.


"Ya Tumenggung Kuncoro.. Apakah kamu tahu sesuatu?" ucap Raja Permadi.


"Aku pernah membaca buku kuno,dalam buku tersebut menyebutkan bahwa ada sesorang yang naik menjadi dewa,akan tetapi waktunya tidak selama yang kemarin itu. Jika seseorang menjadi dewa,maka kejadian itu hanya berlangsung 1 dupa* saja( * 1 Dupa 15 menit), Sedangkan kejadian kemarin 3 Dupa ." ucap Tumenggung Kuncoro.


"Mungkin ada seseorang yang lahir di dunia ini kelak menjadi seorang pendekar yang hebat." ucap salah satu bawahan Raja Permadi.


Nampak Raja Permadi memikirkan perkataan anak buahnya itu.


"Anak yang baru lahir menjadi pendekar sakti,jika itu terjadi maka akan menjadi batu sandunganku,aku harus membunuh semua bayi yang ada.." ucap Raja Permadi dalam hati.


Raja Permadi tidak mau ada seseorang yang bisa meruntuhkan kerajaannya.


"Jika ada bayi yang baru lahir kemarin,segera bunuh...." ucap Raja Permadi.


"Siap Gusti Prabu....." ucap para bawahan Raja Permadi serempak.


"EH.....!!!??? Salah satu penjaga yang berdiri depan pintu terkejut.


Sebab,kemarin istrinya baru saja melahirkan.


"Siall.... Aku harus menyelamatkan istri dan anakku.." ucap Penjaga A dalam hati.

__ADS_1


"Wan.... Aku kebelakang dulu ya... Tiba - tiba perutku mules neh..." ucap Penjaga A sambil memegang perutnya berpura - pura sakit.


"Iya... Jangan lama - lama ya..."ucap Wanto.


"Siapp.... " ucap Penjaga A.


Lantas penjaga A Berlari ke belakang. Ketika sudah sampai di belakang,ia menggunakan jurus peringan tubuhnya.


Penjaga A melompat ke pohon,lalu melompat lagi ke pohon satunya.


"Sial.... Mengapa Gusti Prabu bicara seperti itu,Anakku pasti juga akan di bunuhnya." ucap Penjaga A sambil melompat - lompat. Baru beberapa puluh meter ia sudah ngos - ngossan.


"Sial... Tenaga dalamku habis" ucap Penjaga A.


Lantas Penjaga A berlari ke arah rumahnya.


Tak lama kemudian ia sampai di rumahnya.


Kriiieeettt.... Pintu terbuka.


Lalu Penjaga A berlari ke kamar.


Nampak istrinya sedang menyusui anaknya.


"Sayang... Gawaat.... Gawaaat..." ucap Penjaga A.


"Gawat kenapa?" ucap Istri penjaga A.


"Gusti Prabu Permadi memberi perintah untuk membunuh bayi yang baru lahir kemarin. Ayo sayang... Kita pergi dari sini..." ucap Penjaga A panik.


"Se..Se..Serius Kang Mas.!!!??" ucap istri penjaga A terkejut.


"Iya aku serius,sebab aku mendengarnya langsung ketika aku berjaga di depan pintu.Ayoo pergi dari sini..." ucap Penjaga A.


Penjaga A lantas menyimpuni barang - barang yang penting untuk di bawa.


Kemudian penjaga A merubah penampilannya agar tak di ketahui penjaga perbatasan.


"Sayang... Pakailah penutup kepala ini serta cadar ini. Jangan sampai orang lain tahu..." ucap Penjaga A.


"Iya Kang Mas.." ucap Istri penjaga A.

__ADS_1


Kemudian penjaga A berjalan kebelakang menuju kandang kuda. lalu mengeluarkan kuda.


"Untung saja aku punya 2 kuda." ucap Penjaga A.


Penjaga A lantas memasang gerobak di kuda tersebut, setelah selesai ia memasukkan bekal dan anaknya ke dalam gerobak itu,lalu di tutupi papan dan kain lalu di beri tumpukan jerami. Setelah mereka berjalan ke arah gerbang perbatasan.


mereka berjalan ke arah gerbang menghabiskan 2 dupa sampai di gerbang.


Untungnya perintah Raja Permadi belum sampai ke gerbang perbatasan.


Prajurit yang melihat Penjaga A dan istrinya mengehentikan kereta tersebut . Lalu memeriksa barang bawaan.


"Cuman Jerami saja... Cepat sana pergi..." ucap penjaga gerbang.


"Terima kasih tuan...." ucap Penjaga A.


Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.


Baru 100 meter dari gerbang,anaknya menangis.


Penjaga gerbang mendengar tangisan bayi,lalu mencari sumber suara tersebut.


Di depan gerbang ada seorang ibu - ibu yang sedang menggendong bayi.


"Ooo... Suara bayi itu.." ucap Penjaga gerbang.


"Kang Mas...Anak kita menangis. Berhenti dulu" ucap Istri penjaga A.


Penjaga A lantas berhenti lalu membongkar Jerami yang menutupi Anaknya tersebut.


Untungnya mereka ketutupan pepohonan,sehingga mereka tak terlihat oleh penjaga gerbang.


---***---


Di suatu tempat pesisir pantai yang sangat jauh dari desa, tinggallah sepasang suami istri. Umur mereka tidaklah muda lagi. Mereka adalah sepasang pendekar sakti yang sedang mengasingkan diri.


Ketika kelahiran Udin berlangsung,mereka terkejut.


"Rukmana... Apakah kamu tahu petir apakah itu?" ucap pria tua tersebut bertanya pada istrinya.


"Itu hanya badai petir biasa Kang Badrun.." ucap Rukmana.

__ADS_1


"Tidak....Itu bukan badai petir biasa. Bagaimana kita mencari tahu..." ucap Badrun.


"Hem.... Ide yang bagus Kang... Ayoo kalau begitu..." ucap Rukmana.


__ADS_2