
Di jalan setapak,Nampak 4 wanita sedang berjalan,salah satu wanita itu menggendong anak kecil yang sedang tidur.
Mereka adalah rombongannya Udin.
Umam mengikuti mereka dari atas sambil terbang tanpa terlihat oleh mereka.
"Masa cuman satu...Om Jin peliit...." ucap Udin mengigau.
Umam mendengar ucapan Udin barusan.
"EH....!!!??? Umam terkejut.
"Sepertinya aku pernah dengar ucapan itu...Tapi di mana ya...." ucap Umam sambil berpikir dan mengingat - ingat.
"Siapa Omjin itu Jaka..." ucap Cempaka.
Sari yang ada di belakang Cempaka,lalu melihat muka Udin.
"Ngelindur Jakanya Guru..." ucap Sari.(Mengigau).
"Ooo...Ngelindur to... Kirain melek.." ucap Cempaka.
"Aiisshh...Kenapa aku bisa lupa begini ya...Tapi aku emang pernah dengar ucapannya itu,sama persis yang di ucapkan Jaka barusan...Tapi siapa yang ngucapinnya ya..." ucap Umam dalam hati.
Tiba - tiba Umam di telepati oleh istrinya.
"Kang....Cucian sudah menumpuk..." ucap Sri telepati.
"Tapi aku lagi jagain Jaka Beb..." ucap Umam telepati.
Sri muncul di samping Umam.
"Akang di mana?" ucap Sri.
"EH....!!!??? Ke empat wanita itu terkejut saat mendengar suara Sri.
Mereka celingukan kesana kemari.
"SIAPA DI SANA ....TUNJUKKAN DIRIMU..." teriak Wulan.
Sri muncul di depan ke empat wanita tersebut.
"EH....!!!??? Cempaka terkejut.
Wati dan Sari pingsan.
"Ha...Ha...Hantuuuuu......." ucap Wulan berlari.
Sri berlari di tempat karena di tahan oleh Sri dengan kekuatannya.
"Namaku Dwi Sri Rahayu Handayani...Panggil saja Sri.." ucap Sri.
Cempaka melihat murid berlari di tempat menjadi ketakutan.
"Aku tidak akan melukai kalian,aku hanya ingin menanyakan keberadaan suamiku. Apakah kalian melihatnya?" ucap Sri.
"Na...Na...Nama suami Nyonya siapa?" ucap Cempaka.
Udin hendak jatuh dari gendongan Cempaka,dengan sigap Sri menahan dengan kekuatannya.
"Beb...Aku ada diatas,tak terlihat oleh mereka " ucap Umam telepati.
"Ooo... Akang gak kelihatan ta...Ayoo Akang pulang..Jaka juga lagi tidur.." ucap Sri.
"Iya Beb..." ucap Umam telepati.
Wulan nampak keletihan gara - gara berlari di tempat,lalu berhenti berlari dan terduduk di tanah.
Umam dan Sri menghilang .
Cempaka terduduk sambil menahan Udin. Lututnya terasa lemas.
Sebab ia baru kali ini melihat Orang muncul secara tiba - tiba ,dan hilang begitu saja.
"Siapa wanita itu tadi? Apakah penunggu hutan yang tadi malam..?..
"Tapi...Kenapa dia kenal dengan Jaka?
"Apakah tadi malam Jaka bertemu dengan penghuni hutan untuk melaporkan kejadian tadi malam?"ucap cempaka dalam hati heran dan penasaran.
Selang 2 dupa kemudian. Wati dan Sari sudah siuman.
"Ayoo Kita harus cepat meninggalkan tempat ini" ucap Cempaka.
"Baik guru..." ucap Ke tiga murid Cempaka secara serempak.
Mereka kemudian melanjutkan lagi perjalanannya. Mereka hanya istirahat sebentar lalu melanjutkan kembali. Mereka takut di datangin oleh Penunggu hutan tersebut.
----***---
Pedepokan Bintang Laut.
Sore hari.
Udin yang tertidur di kasur lalu membuka matanya Kemudian meraba - raba.
"EH.....!!!??Aku ada di mana?" ucap Udin terkejut dan penasaran.Lalu mengingat - ingat sebelum ia tak sadar.
__ADS_1
"Aku ada di hutan,Terus jagain Sari dan Wati ,lalu aku gak sadar.." gumam Udin.
Udin kemudian bangun lalu mencari tongkatnya.
"Di mana Tongkatku.." ucap Udin sambil meraba - raba tak menemukan tongkatnya.
Udin mendengar suara aktifitas di pedepokan Bintang Laut.
"Kok banyak suara Wanita di luaran ,apakah aku sudah sampai?" ucap Udin dalam hati.
---***---
Di halaman pedepokan.
Nampak seorang gadis sedang memegang tongkat,tongkat itu milik Udin. Ia menggunakannya untuk memukul kasur yang di jemur.
---***---
"Diampuutt....Kemana tongkatku....." ucap Udin gelisah tak menemukan tongkatnya.
Udin kemudian berdiri lalu berjalan pelan sambil kedua tangannya meraba kedepan.
Duuukk.... Kaki Udin menyandung kursi.
"Waasssuuuuu...." umpat Udin.
"Tongkat Bos di pakai buat memukul kasur,Mau saya ambilkan Bos?"ucap Luciefer telepati.
"Ooo... Di pakai buat mukul kasur. Paman jangan keluar dan jangan diambil tongkatku. Nanti mereka curiga" ucap Udin telepati.
"Yo Wes....Kalau begitu" ucap Luciefer telepati
Udin berjalan secara pelan untuk mencari pintu keluar.
" Sebelah Kiri Bos... Kalau Bos mau cari pintu keluar " ucap Luciefer telepati memberi tahu letak pintu keluar.
Udin mengikuti arahan dari Luciefer.
Tak lama kemudian Udin berada di depan pintu. Udin memegang pintu tersebut,Namun di luar ada yang mendorong pintu itu.
Duuuk...Bruuukk.....Muka Udin terkena pintu lalu terjatuh kebelakang.
"Jakaaa...Ma...Ma...Maaf Jaka... Bibi Gak tahu.." ucap Cempaka.
Rupanya yang membuka pintu adalah Cempaka.
"Auuuu....Sssh.... Sakit Bii..." ucap Udin.
"Maaaaaf...Bibi gak sengaja.. Bibi pikir Jaka masih tidur..." ucap Cempaka.
Cempaka menggendong Udin,Lalu meletakkan Udin di kasur.
"Geger , bookong, dan Muka Bi... Yang sakit" ucap Udin.( Punggung,pantat,).
Cempaka memeriksa tubuh Udin.
"Bi.....Tongkatku mana?" ucap Udin.
"Bibi taruh di si...
"Loh mana...Tadi Bibi taruh sini Jaka..." ucap Cempaka celingukan mencari tongkat Udin.
Tak Lama kemudian datanglah dua orang masuk dalam kamar yang Udin tempati.
"Kalian siapa?" ucap Udin Waspada.
"Tenang Jaka...Kita bukan penjahat"ucap Pria tua.
"Kalau bukan penjahat,mengapa kalian mengambil tongkatku ?" ucap Udin
"Cempaka... Kemana Tongkatnya Jaka.." ucap Pria tua.
"Tadi saya taruh di sampingnya ketua... Setelah saya meletakkan Jaka di kasur." ucap Cempaka.
"Apakah dia Syaifudin Cucuku Cempaka?"ucap Seorang wanita Tua.
"Cucu....Apakah mereka Kakek dan nenekku?" ucap Udin dalam hati.
"Menurut dari ciri - ciri yang ketua sebutkan,Jaka ini adalah Cucu ketua..." ucap Cempaka.
Wanita Tua yang berada di samping Pria tua mendekati Udin.Setelah dekat,Wanita tua itu mengusap rambut Udin. Ia melihat ke leher Udin.
"Kok dia tidak pakai kalung yang aku berikan pada putriku. Tapi ciri - cirinya sama dengan cucuku yang hilang itu." ucap Wanita tua itu dalam hati.
"Di mana Tongkatku..." ucap Udin.
"Cempaka...Carilah tongkatnya Jaka..." ucap Pria tua.
"Siap Ketua..." ucap Cempaka.
Cempaka kemudian mencari tongkat Udin.
"Jaka....." ucap Wanita tua.
"Tongkatku mana...." ucap Udin.
"Sabaaaar ya Jaka...Cempaka sedang mencari tongkatmu.." ucap Wanita tua itu berkata lembut.
__ADS_1
"Baiklah...Jaka akan menunggu 1 dupa.Jika tidak segera mengembalikan tongkatnya,Jaka akan memghilang." ucap Udin.
Pria tua dan wanita tua itu ikut membantu Cempaka mencari tongkat Udin.
Tiba - tiba ia teringat dengan alat musik yang sering ia dengar.
"Alat musikku ada di mana?" ucap Udin.
"Alat musik...?" ucap Mereka bertiga.
"Iya alat musik... Betuknya kotak,lalu ada dua tali..." ucap Udin sambil memperagakannya.
Cempaka lalu teringat benda yang di bawa oleh Wulan.
"Di bawa sama oleh Wulan Jak,soalnya alat musikmu terjatuh saat Bibi gendong dirimu" ucap Cempaka.
"Bibi...Tolong ambilkan alat musik Jakaa.." ucap Udin.
"Cempaka...Ambil cepat barang milik Jaka.." ucap Pria tua.
"Siap Ketua..." ucap Cempaka.
Cempaka lantas berjalan ke arah pintu,Tiba - tiba ada seseorang hendak masuk dalam kamar sambil membawa tongkat.
Bruuk..... Keduanya bertabrakan.
Tongkat yang di pegang oleh wanita itu terlepas.
"Aaauww....".Kedua - duanya mengaduh.
Cempaka lantas melihat siapa yang ia tabrak.
"Sintaa......" ucap Cempaka.
"Guruu..." ucap Sinta.
"Mau apa kamu kemari..." ucap Cempaka.
"Maaf Guru... Tadi aku pinjam kayu buat mukul kasur yang aku jemur.." ucap Sinta.
"Kayu...Kayu apaaa...?" ucap Cempaka.
Sinta lantas mencari tongkat yang tadi ia pegang,Sinta melihat tongkat itu berada 2 meter darinya,lalu Sinta berjalan untuk mengambil tongkat tersebut.
"Ini kayunya guru..." ucap Sinta sambil menunjukkan tongkat ke cempaka.
"EH....!!!?? Cempaka terkejut. Lalu ia mengambil tongkat itu dari tangan Sinta.
"Ini tongkatnya Jaka... Kenapa kamu ambil..." ucap Cempaka.
"Tadi aku cari kayu yang biasa buat pukul kasur guru,lalu aku masuk dalam kamar ini,terus aku lihat ada tongkat di samping anak kecil itu. Lalu aku ambil" ucap Sinta.
"Jaka marah tuh tongkatnya kamu ambil.." ucap Cempaka.
"Sudah.....Sudah....Berikan tongkat itu pada Jaka..
"Dan kamu Sinta...Minta maaf pada Jaka..." ucap Pria tua.
"Baik ketua.." ucap mereka berdua.
Kedua wanita itu berjalan ke arah Udin.
"Ini Jak tongkatmu..." ucap Cempaka.
"Terima kasih Bi... Jaka tinggal menunggu alat musikku kembali.." ucap Udin.
"Iya...Ini Bibi ambilkan..." ucap Cempaka.
"Jaka....Aku minta maaf ya..." ucap Sinta.
"Jangan langsung di maafkan Boss...Minta ganti rugi... " ucap Luciefer telepati.
"Ganti rugi?" ucap Udin telepati.
"Iya...Suruh dia pijatin Bos...Kan Bos lagi sakit terkena pintu tadi.." ucap Luciefer telepati.
"Jaka mau maafin mbak,bila Mbak pijatin Jaka..." ucap Udin.
"Sialan ne bocah....Aku hanya pinjam kayu jeleknya saja aku di suruh pijatin dia" ucap Sinta dalam hati.
"Sinta... Lakukan apa yang di minta oleh Jaka.." ucap Pria tua.
"Baik ketua..." ucap Sinta.
"Awas ya kau bocah sialan...." ucap Sinta dalam hati.
Sinta kemudian memijati tangan Udin.
"Pundakku yang sakit Mbak.." ucap Udin.
Sinta kemudian merubah posisinya.
Kini Sinta memijati Udin dengan kasar.
"Aauuu.... Pelan - pelan Mbak...." ucap Udin merasa kesakitan.
"Sintaaa.... Jangan kasar - kasar mijatinnya." ucap wanita tua.
__ADS_1
"Iya nyonya ketua.." ucap Sinta.
"Awas saja...Besok aku akan balas perbuatanmu..." ucap Sinta dalam hati.