
Kerajaan Padjajaran.
Nampak Prajurit kerajaan sedang bersiap - siap untuk berangkat ke medan pertempuran.
Di sebuah Balai pertemuaan,Nampak Raja Padjajaran, para Senopati dan Mahapatih duduk di kursinya masing - masing.
"Mahapatih Jagapati... Apakah semua pasukan sudah berkumpul..." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.
"Sudah Gusti Prabu.... "ucap Mahapatih Jagapati.
"Ampun Gusti Prabu....." ucap salah satu senopati.
"Ada apa senopati Dawala..." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.
"Hamba ingin memberi usul...." ucap Senopati Dawala.
"Usul apakah itu..." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.
"Sebagian prajurit kita tinggalkan di sini,untuk menjaga kerajaan...
"Hamba khawatir jika musuh membagi pasukannya,maka otomatis kita akan cepat kalah" ucap senopati Dawala.
Nampak Raja Prabu Aji Awalludin berpikir...
****
Di gerbang kerajaan nampak 2 orang mengendarai kuda,meraka datang dari arah yang berbeda.Mereka ada warga biasa yang hendak pergi ke desa yang akan di tuju,Lalu belum sempat mereka masuk desa mendengar keributan ,teriakan dan jeritan minta tolong,Lalu mereka mengintip untuk apa yang terjadi.Untungnya mereka tidak ketahuan oleh pihak prajurit kerajaan Awan.
Kedua orang itu turun dari kuda setelah sampai di gerbang.
"Beri tahu Gusti Prabu....
"Bahwa Desa Wetan sudah diduduki oleh pasukan kerajaan Awan." ucap Penunggang kuda A.
"Desa Gili Manuk juga sudah di duduki oleh pasukan kerajaan Awan..." ucap penunggang kuda B.
"Baik... Aku akan melaporkannya pada Gusti Prabu.." ucap Penjaga gerbang.
Penjaga gerbang kemudian masuk kedalam lalu mengambil kudanya. Setelah itu memacu kuda tersebut dengan cepat.
"Hiyaaaa....Hiyaaaaa.......
"Minggiiirrrrrr semuaaanyaaaa...... ucap Penjaga gerbang sambil memukul kudanya agar berlari kencang. Para prajurit yang nampak bersiap untuk berangkat memberi jalan.
Tak sampai setengah dupa,prajurit penjaga gerbang sudah sampai di depan balai pertemuan. Lalu turun dari kudanya.
Setelah itu ia berjalan ke arah di mana Raja Prabu Aji Awalludin berada.
****
"Jika kita kesana hanya separuh pasukan,yang ada kita di bantai. " ucap Senopati Anggara.
"Kita belum tahu jumlah yang mereka bawa" ucap Mahapatih Jagapati.
Tak lama kemudian datanglah seorang prajurit.
"Ampun Gusti Prabu ... Hamba datang kemari membawa berita penting..." ucap penjaga Gerbang.
Raja prabu Aji Awalludin lantas melihat ke arah prajurit tersebut.
"Iya... Berita penting apakah itu?" ucap Raja Prabu Aji Awalludin penasaran.
"Desa Wetan dan Desa Gili Manuk telah di duduki oleh pasukan kerajaan Awan..."ucap Penjaga gerbang.
"APAAAAAA......!!!???."ucap semua orang yang hadir di situ terkejut.
"Siapkan pasukan... Kita bertahan di sini saja....
Raja Prabu Aji Awalludin lalu menoleh ke senopati Anggara.
"Senopati Anggara,bawalah keluargaku ke kerajaan Bulan...Ambil 100 Prajurit untuk menjaga mereka.." ucap Raja Prabu Aji Awalludin.
"Daulat Gusti Prabu..." ucap para bawahan serempak..
Mereka pun keluar dari balai pertemuan,kemudian menyiapkan pasukannya.
Senopati Anggara melesat ke Rumah Raja untuk membawa Selir,dan kedua putra Raja.
----***---
Kamar selir Widya Astuti.
Tokk...Tokk...Took... Tokk.... Suara pintu di ketuk oleh Senopati Anggara.
Krrieeeeet..... suara pintu terbuka.
Selir Widya Astuti yang membuka pintu tersebut.
"Ada perlu apa kamu kemari Anggara..." ucap Widya Astuti.
"Ampun Kanjeng Raden Ayu... Hamba di suruh Gusti Prabu untuk membawa Kanjeng Nyai dan Raden Mas Alji untuk pergi dari sini. Karena pasukan kerajaan Awan sudah mulai bergerak masuk ke wilayah kita." ucap senopati Anggara.
"APAAAAA.......!!!!???? ucap Widya Astuti terkejut.
"Cepat Kanjeng Raden Ayu..... Kita tidak ada waktu..." ucap Senopati Anggara.
"Iya.... " ucap Widya Astuti.
"Hamba tunggu di belakang halaman pedepokan." ucap Senopati Anggara.
Widya Astuti lantas memanggil para Dayang untuk membereskan barang - barang akan di bawa.
Senopati Anggara kemudian berlari ke kamar Syaifudin. Tak lama kemudian ia sampai.
" Buka pintunya..." ucap Senopati Anggara pada prajurit jaga.
Krrieeet.... Pintu terbuka.
Nampak Sumarni menggendong Anaknya,sedangkan Syaifudin tertidur di ranjang tempat tidur.
"Bantu Bu Sumarni untuk mengemasi barang - barang" ucap Senopati Anggara pada kedua prajurit jaga.
__ADS_1
"Baik.... " ucap Prajurit jaga serempak.
Senopati Anggara kemudian masuk lalu di ikuti 2 prajurit jaga.
" Kemasi barang - barang,Sebab pasukan dari kerajaan Awan sudah masuk ke wilayah Padjajaran. Aku akan membawa Raden Mas Syaifudin....(Senopati menggendong Syaifudin)
"Aku tunggu di halaman pedepokan belakang"ucap Senopati Anggara.
Senopati Anggara keluar kamar kemudian berjalan ke arah prajurit di dekatnya.
"Siapkan kereta kuda dan Kumpulkan 98 teman - temanmu, Kita akan membawa Keluarga Gusti Prabu untuk pergi dari sini.Aku tunggu di halaman pedepokan belakang.." ucap Senopati Anggara.
"Baik Senopati...."ucap Prajurit tersebut.
Prajurit itu langsung berlari menuju teman - temannya.
Senopati Anggara kemudian berjalan ke arah pedepokan belakang. Tak Lama Kemudian ia sampai,Nampak kereta kuda sudah di persiapkan oleh prajurit.
Senopati Anggara menunggu Selir Widya Astuti dan putranya datang.
"Lama banget mereka " ucap senopati Anggara dalam hati.
Butuh 1 dupa Senopati Anggara menunggu baru mereka datang.
---***---
Dunia kegelapan.
Nampak luciefer sedang mondar mandir di ruangannya sambil berpikir.
"Kesana lagi apa enggak ya... Nanti kalau kesana... Ketemu lagi sama si kutu kupret itu..." ucap Luciefer.
Tak lama kemudian.
"Kesana sajalah...Jika ada kutu kupret itu lagi maka aku akan kabur lagi." ucap Luciefer.
Luciefer lantas keluar dari dunia kegelapan.
----***---
Kerajaan Padjajaran.
Nampak gerbang halaman belakang di buka oleh prajurit jaga,Lalu rombongan senopati Anggara keluar dari kerajaan Padjajaran.
Senopati duduk di depan kereta,ia mengendalikan Kuda tersebut.
Senopati membawa Syaifudin ,Sumarni dan Kumala Sari.Lalu di belakangnya ada kereta lagi,yang di dalamnya Selir Widya Astuti bersama putranya .Di belakangnya lagi ada pasukan berkuda.
Jarak 20 Km dari rombongan Senopati Anggara terdapat sekelompok aliran hitam yang di tugaskan mencegat siapapun yang keluar dari wilayah Padjajaran. Kelompok itu di sewa oleh Raja Awan.
3 pasang mata memperhatikan rombongan senopati Anggara dari kejauhan.Mereka adalah Badrun,Rukmana dan Luciefer.
Tak sampai 2 dupa,Kelompok Aliran hitam yang jumlahnya 120 orang mendengar suara kuda,lalu mereka besiap di posisinya untuk menyergap siapa saja yang lewat. Ada yang di atas pohon sambil membawa panah,ada pula yang memakai sumpit beracun.
Begitu rombongan Senopati lewat,pasukan pemanah dan sumpit melepaskan serangannya.
Wuuusshhhhh..... Wuuuussshhh.... Puluhan anak panah dan sumpit melesat ke arah Rombongan itu.
Senopati yang melihat anak panah melesat ke arahnya lalu mengeluarkan pedang.
Taakk....Tiiinggg...Taakk...Taak..Tiiing... Suara pedang mengenai panah dan ujung panah,namun nahas,jarum sumpit melesat tepat di lehernya.
Jleb.....
"Aaaaarrrrgghhh..... " Senopati Anggar merintih kesakitan lalu di cabutlah jarum sumpit tersebut.
"Seraaaaaaannngggg... " ucap salah satu pria yang menjadi ketua kelompok tersebut.
Pasukan yang bersembunyi lantas keluar dari persembunyiannya sambi membawa senjata.
"Siaaalll.... " ucap Senopati Anggara. Begitu hendak melompat dari kereta,tiba - tiba pandangannya gelap.
Bruuuuukkk..... Senopati Anggara tewas.
Prajurit Padjajaran yang tersisa lantas melindungi kereta yang di tumpangi oleh syaifudin.
2 pasang mata yang mengawasi dari kejauhan kemudian melesat ke arah kereta tersebut. Mereka adalah Badrun dan Rukmana,mereka memakai penutup wajah.Sedangkan Luciefer hanya diam di tempatnya sambil mengawasi dan menjaga Syaifudin.
Sumarni yang ada di dalam kereta menjaga anaknya dan juga putra Raja nampak ketakutan.
Ia hendak berteriak namun ada jarum sumpit melesat ke arahnya melewati kain jendela yang terbuka.
Jlebb...... Jarum sumpit menancap tepat di pita suaranya. Tak lama kemudian Sumarni tewas.
Badrun dan Rukmana Menyerang kelompok tersebut.
Badrun tak memgeluarkan senjatanya jika tidak menghadapi lawan yang imbang dengan dirinya.
Buugghh....Buuugg....Buugghh...Buugghh...
Badrun memukul memakai tenaga dalamnya.
Musuh yang mendapat pukulan dari Badrun langsung tewas seketika.
Saat Badrun hendak memukul musuh di depanya,ia merasakan ada serangan yang mengarah ke dirinya,lalu ia menangkap serangan itu. Kemudian mengembalikan jarum sumpit ke penyerang.
Wuuusshh...
Jlebbb....Jleebb...Jlebbb....
Baru saja Badrun mengembalikan serangan jarum sumpit,dirinya mendapat serangan lagi dari musuh yang memakai panah.
Badrun menghindar lalu mengambil Dedaunan yang ada di dekatnya lalu melempar ke arah musuh yang menyerang menggunakan panah.
Wuussssshhhh.... Puluhan daun melesat ke arah musuh.
Jleb...Jlebb...Jlebb....Jlebb...Jlebb...Jlebb....
Daun - daun itu menancap tepat di leher musuh.
Rukmana menghajar musuh menggunakan senjatanya yang terbungkus kain.
__ADS_1
Di dalam kereta yang di tumpangi Widya Astuti dan putranya. Nampak Widya Astuti melindungi putranya dari serangan Panah. Salah satu panah mengenai dirinya.
"Aaakkhh...." Widya Astuti menahan rasa sakit tersebut.
"Anakku... Janganlah kamu berbicara.... Diamlah di sini.." ucap Widya Astuti sambil melindungi putranya. Tak lama kemudian ia tewas.
"Iya Bunda...." ucap Alji Mahendra.
Traang...Buggghh...Traang...Traangg..Buughh...
Nampak ketua kelompok itu geram melihat anak buahnya dengan mudah di habisi oleh 2 pendekar tersebut.
"Buaajingaaaaaann......" ucap Ketua kelompok itu marah,lalu ia melesat ke Badrun sambil memegang tombak besinya.
Badrun mengelak kesamping sambil memukul punggung ketua kelompok itu memakai sarung pedangnya.
BUUUGGGHHH..... Ketua kelompok itu terkena pukulan oleh Badrun.
"Ternyata kelompoknya Sudiro.." ucap Badrun dalam hati mengenal ketua kelompok itu.
Kemudian Sudiro berbalik badan.
"Kamu Siapa.....?" ucap Sudiro
"Hanya orang lewat saja..." ucap Badrun.
" jangan ikut campur urusanku..." ucap Sudiro,lalu ia melesat sambil mengarahkan ujung tombaknya ke Badrun.
Badrun melompati Sudiro,Lalu menendang punggung Sudiro.
Buuggghh.....
"Sialaaan..... " ucap Sudiro.
Sudiro lantas mengeluarkan jurus pamungkasnya."Jurus Tombak penghancur gelombang badai....
"Hiyaaattt.....
Badrun bergerak kesana kemari menghindari serangan Sudiro.
Ujung tombak mengenai batang pohon jambu bini.
Booommm..... Batang pohong itu meledak.
Lalu Badrun memegang gagang tombak kemudian mendorongnya ke arah Sudiro.
Buuuggghhh.... Sudiro terkena gagang bawah tombak. Lalu tombaknya terlepas dari tangannya.
Badrun membalikkan ujung tombak itu lalu melemparkannya ke arah Sudiro yang sedang terpental ke belakang.
Wuuusshhh.....
Jlebbb...... Tombak itu mengenai Sudiro,ujung tombaknya tembus hingga di punggungnya.
Tak lama kemudian Sudiro tewas.
Di sisi Rukmana.
Rukmana menghadapi Anak buah Sudiro di dekat kereta Syaifudin.
Salah satu musuh menendang Rukmana,Rukmana mengelak,tendangannya mengenai pintu kereta.
Braakkkk...... Pintu kereta terbuka.
Nampak isi dalam kereta kelihatan.
Ada 3 orang musuh melesatkan jarum sumpit ke arah Rukmana. Rukmana hendak menangkis jarum tersebut,Namun salah satu musuh menebaskan goloknya.Rukmana menendang musuh yang mengayunkan golok tersebut,
Buuughhhh.......
Lalu memukul jarum sumpit.
Taakk... Hanya 1 saja terkena,sisanya melesat ke dalam kereta.
Luciefer melihat ada jarum sumpit mengarah ke Udin lalu mengerakkan jasad tangan Sumarni menggunakan kekuatannya untuk menahan jarum tersebut.
Jlebbb.... Jarum itu menancap di tangan jasad Sumarni.
Jarum satunya melesat mengenai Kumala sari
Jleebb...
Badrun yang melihat ada yang menyerang pakai sumpit,ia mengambil batu kerikil di dekatnya lalu melemparkan ke arah musuh yang memakai sumpit.
Wuuusshhh.....Wuuussshh...Wuuusshh...
Jleeb....Jleeb...Jleebb.... Batu kerikil itu mengenai kepala musuh hingga masuk kedalam.
Tiga musuh tadi yang menyerang pakai sumpit langsung roboh terkena batu kerikil.
Brruuukk.... Bruuk... Bruukkk...
Tak sampai 1 Dupa,semua pasukan Sudiro tewas semuanya. Lalu Rukmana dan Badrun menengok ke kedalam kereta yang di tumpangi Syaifudin.
"EH.....!!!??? Badrun dan Rukmana terkejut saat mengetahui kondisi di dalam kereta itu.
"Kang.... Kita gagal menyelamatkan yang satunya..." ucap Rukmana.
"Gak apa... Yang penting Udin selamat.." ucap Badrun.
"Syaifudin Kang namanya..." ucap Rukmana.
"Kepanjangan....Mending Udin saja...
"Lebih mudah..." ucap Badrun.
Rukmana lantas mengambil Syaifudin. Setelah itu mereka melesat pergi.
Nampak dari kejauhan,Luciefer mengamati ke dua pendekar itu.
"Jagalah dia...Sebab aku gak bisa menjaga dan merawat seorang bayi." ucap Luciefer. Lalu Luciefer menghilang.
__ADS_1