Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan

Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan
Episode 100


__ADS_3

Eciyee... udah 100 episod aja nih novel


pelan-pelan aja ye bacanya


soalnya panjang bet...


HAPPY READING GUYS ^^


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


KIM HYE JIN POV


"Aku tahu kau sudah berusaha mencariku dan berani menampakkan wajahmu di hadapanku  setelah apa yang kau perbuat padaku..."


"Tapi...aku menolak semua tawaran yang kau berikan padaku" ucapku pada seo jin


"Jika kau berpikir aku akan menerima tawaranmu setelah kau datang menemuiku dan menjelaskan tentang kesalahpahaman ini, kau salah"


"Aku yang memutuskan sendiri bagaimana kehidupan yang akan ku jalani"


"Tanggung jawabmu sudah selesai untuk menjagaku, tidak ada lagi ikatan atau kontrak yang menghubungkan antara diriku dan dirimu" ucapku


"Mungkin kau melihat keadaan hidupku sekarang menyedihkan, tapi kau salah seo jin"


"Aku senang kembali ke pulau hangan, berkumpul dengan keluargaku dan yahh...ku rasa pekerjaan serabutan yang tersedia di pulau hangan juga lumayan bagiku"


"Membersihkan cumi, membantu restoran kedua orang tuaku dan tertawa bersama mereka"


"Selama kedua orang tuaku dalam keadaan baik-baik saja dan sehat, itu adalah suatu hal yang menyenangkan bagiku"


"Jadi...berhentilah untuk terus menghantuiku dan urus kehidupanmu sendiri" ucapku pada seo jin


Seo jin terdiam memandangku dengan lama


"Apakah aku sudah boleh pergi sekarang?" Tanyaku pada seo jin yang sedang mematung


".....kau boleh pergi setelah kau habiskan makananmu, aku tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini" ucap seo jin


"Jika kau tidak memakannya, terpaksa aku harus membuang makanan ini..." ucap seo jin lagi dan tanpa menunggu ia selesai bicara, aku segera mengangkat garpuku


Satu hal yang paling ku benci adalah menyia-nyiakan makanan. Oleh karena itu, aku langsung memakan daging steak yang sudah dipotong-potong oleh seo jin tadi


Entah seo jin sengaja mengatakan hal itu padaku karena ia sudah tahu watakku yang benci membuang-buang makanan atau karena memang ia berniat melakukannya untuk membuang makanan ini jika aku tidak memakannya?


Sejenak aku memikirkan hal itu, namun aku segera melupakannya ketika aku menyumpalkan daging steak yang ada di hadapanku ke dalam mulutku hingga penuh


Seo jin memerhatikan caraku makan yang terburu-buru dan tidak ada adab sama sekali


Aku sengaja melakukannya agar aku bisa segera pergi dari hadapan seo jin untuk menghentikkan debaran jantungku yang tidak karuan


Sesekali aku merasa daging steaknya menyangkut di tenggorokanku


Dengan cepat aku mengambil gelas berisi anggur wine dan meneguknya tanpa merasakan rasa pahit melewati lidahku


"Kim hye jin, makanlah perlahan"


"Tidak ada orang yang akan merebut makananmu" ucap seo jin memperingatkanku


"Pelayan!" Panggil seo jin yang melihat gelasku sudah kosong


Aku mengangkat tanganku pertanda untuk menghentikkan pelayan yang hendak menuangkan anggur wine lagi ke dalam gelasku


"Nyam...bisakah..aku meminta air putih saja? Nyam...nyam" ucapku pada pelayan sambil mengunyah dengan mulut penuh


Mendengar permintaan itu, pelayan kembali dan menuangkan air putih ke dalam gelasku


"Nyam...letakkan saja tekonya di dekat sini...nyam" pintaku pada pelayan dan pelayan itu menurutinya


Sesekali aku mengunyah sambil mengusap dadaku agar tidak tersedak dan minyak dari daging steak yang aku makan, menetes melewati sudut bibirku


Seo jin yang melihat hal itu dengan sigap mengambil serbet makan dan membersihkan minyak daging yang berada di sudut bibirku


Aku reflek yang melihat hal itu, seketika kepalaku mundur dan menepis tangannya menggunakan pergelangan tangan kiriku serta tatapan sinis


Seo jin membiarkanku makan dengan cara seperti ini


Dan tibalah suapan terakhirku, setelah memasukkan potongan daging terakhir, aku mendorong daging itu dengan air putih dan mengusap bibirku menggunakan serbet


"Aku sudah menyelesaikan makanku, bisakah aku pergi sekarang?" Tanyaku


Seo jin menghembuskan nafas dan menjawab dengan berat. Aku tidak memperhatikan seo jin sudah makan berapa suap karena aku tidak peduli dan ingin cepat-cepat pergi dari sini


"Ya hye jin, kau bisa pergi sekarang" ucap seo jin datar


Aku membereskan tasku dan segera beranjak dari kursi


"Apakah kau mau ku antar?" Ucap seo jin


"Aku bisa jalan sendiri dan berhentilah untuk mencari alasan agar kau bisa mengikutiku terus" ucapku kesal


"Baiklah..." ucap seo jin menuruti kemauanku


"Kim hye jin!" panggil seo jin saat aku mulai beberapa langkah berjalan


Aku yang mendengar panggilan seo jin membalikkan tubuhku sambil menatap malas pada seo jin


"Apa lagi?" Tanyaku acuh


"Jika kau tidak ingin menerima bantuan dariku, ku rasa sebaiknya kau menghubungi hajung"


"Ia adalah pria yang bisa dipercaya dan ku rasa ia tidak akan merasa terbebani jika kau meminta bantuan darinya" ucap seo jin


"Pergilah ke sisinya, hye jin" ucap seo jin lagi


"Terima kasih atas sarannya, tapi aku akan berdiri sendiri di bawah kakiku atas kehidupan yang akan ku jalani" ucapku dan pergi meninggalkan seo jin


Aku pergi meninggalkan restoran hotel sky dan pergi ke sauna menggunakan bus malam


Selama di perjalanan bus, aku menyalakan handphone dan melihat panggilan tidak terjawab dari cha young


Aku mencoba menelponnya kembali namun, aku tidak bisa tersambung ke panggilannnya karena handphone cha young berada di luar jangkauan


Aku memberi pesan suara padanya untuk memberitahu keadaanku saat ini dan tujuanku malam ini bermalam di sauna


'silahkan tinggalkan pesan anda setelah bunyi tanda berikut' ucap sang operator


"Cha young-aa mian*(maaf) aku mematikan handphoneku karena seharian bekerja, ada apa kau menelponku? Aku saat ini sedang berada di bus dan akan menuju ke tempat sauna dan berencana akan bermalam di sana" ucapku dan setelah itu meletakkan handphoneku ke dalam tas


Aku menyandarkan kepalaku sambil menghembuskan nafas setelah pertemuanku dengan seo jin hari ini


Aku memperlihatkan keadaan payahku setelah kembalinya diriku ke pulau hangan di hadapan seo jin


Hati kecilku saat ini terus memperdebatkan dan menyayangkan pilihanku untuk tidak memilih tawaran pria itu


Terlintas dalam pikiranku apakah hidupku akan seperti ini terus jika aku tidak menerima tawaran seo jin


Ucapan seo jin tentang kehidupanku yang suram ada benarnya juga dan..


Ucapan terakhirnya mengingatkanku pada hajung


Haruskah aku menghubungi hajung dan bersandar padanya?


Tapi....aku tidak boleh mempermainkan  perasaannya yang tulus terhadapku


Aku tidak bisa membalas perasaan hajung. Terlebih ia adalah seorang CEO muda di sebuah perusahaan saat ini


Ia pasti sangat sibuk, kehadiranku hanya akan menambah beban pikiranya saja


Aku yakin hajung dengan mudah bisa melupakanku karena ia memiliki banyak kenalan gadis yang jauh lebih baik dibandingkan aku yang tidak memiliki apapun yang patut ditonjolkan


Setelah lelah memikirkan kehidupanku, tak terasa aku sudah sampai ke tempat tujuan sauna yang ku inginkan


Aku memilih ke sauna tempat pertama kali aku bermalam di seoul, karena ku rasa sauna ini paling dekat dengan halte bus


Aku mandi dan seperti biasa masuk ke dalam sauna dengan suhu ruangan 40° dan berdiam diri beberapa menit di dalamnya


Setelah itu, aku keluar dari ruangan pemanas sauna dan mengeringkan rambutku yang masih basah menggunakan handuk


Aku duduk di atas alas tikar yang terbuat dari rotan sambil menggosok-gosokkan rambutku beberapa kali menggunakan handuk.


Hingga tibalah seorang pria dengan mulut penuh telur rebus berjalan ke arahku lalu berhenti tepat di hadapanku


"Eeh...hye jin-aa nyam nyam" sapa pria itu sambil makan


"Wahh...ternyata kau ke sini juga rupanya?"  Ucap lagi pria itu yang sok akrab denganku dan duduk di sampingku


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini" ucap seo jin dengan santai


Aku menghembuskan nafasku dan memandangnya dengan tatapan sinis


"Kau mau?" Tanya seo jin sambil menawarkan telur rebus dan minuman sikye satu lagi yang ia bawa-bawa


"Sampai kapan kau akan terus mengikutiku hhuh?" Tanyaku sewot


"Bisakah kau memenuhi janjimu untuk tidak mengikutiku terus?" Tanyaku lagi dengan nada yang sedikit tinggi


"Hei-hei...kau salah paham nona" ucap seo jin


"Aku tidak sedang mengikutimu, aku hanya ingin bermalam saja di sauna ini" ucap seo jin lagi dengan santainya


"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu yang bodoh itu?" Tanyaku


"Dengan uangmu, kau bisa bermalam di hotel bintang 5 dengan sangat nyaman" ucapku


"Aku bosan tidur di kamar hotel seluas itu sendirian. Aku lebih suka berada di sini" ucap seo jin


"Lihatlah di sini terlihat ramai, lumayan banyak orang yang bermalam di sini, aku tidak perlu menatap kosong ruangan yang luas tanpa di temani oleh siapapun"


"Terlebih lagi dan tanpa di duga, aku bisa bertemu dengan seseorang yang ku kenal. Hahaha.....sungguh suatu pertemuan yang tidak di sangka ya" ucap seo jin cengengesan


"Bagaimana? Apakah malam ini kita sebaiknya bermain kartu atau mengobrol sepanjang malam hingga fajar sambil meminum sikye yang manis ini dan telur rebus?" Tanya seo jin


"Makan dan minum saja sendiri atau kau bisa memberikan sikye dan telur rebus itu ke orang lain dengan  bermodus memenangkan undian yang diadakan oleh sauna ini" sindiriku pada seo jin atas perbuatannya yang pernah membelikanku sikye dan telur rebus namun menyuruh pegawai sauna memberikanku dengan motif menang undian


"Baiklah jika kau tidak mau sikye dan telur rebus, kau bisa memilih makanan apapun yang tersedia di food counter, tenang saja..aku akan mentraktirmu" ucap seo jin


Aku tidak menggubris ucapan seo jin dam memilih membaringkan tubuhku dan membelakanginya


"Eee?! Apa kau sudah ingin tidur hye jin?" Tanya seo jin


"Aahh...pasti kau merasa lelah karena seharian bekerja"


"Baiklah...jika kau enggan bermain kartu atau mengobrol denganku, ku rasa tidur adalah pilihan terbaik"


"Jika kau tertidur dan mengalami mimpi buruk..."


"Tenang saja...aku akan berada di sini dan menenangkanmu seperti pada waktu malam itu" ucap seo jin dan membuatku berpikir


Malam itu?


Jadi maksudmu aku pernah tidur dan mengalami mimpi buruk di hadapanmu?


Sebenarnya aku penasaran kapan ia melihatku tidur dan bermimpi buruk?


Tapi aku menepis rasa penasaranku agar aku tidak berbicara dengannya


Saat aku mulai menutup kedua mataku dan ingin beristirahat


Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku dengan keras


"Kim hye jin!"


"Kim hye jin dimana kau?!" Teriak suara seorang wanita yang ku kenal


"Agassi*(nona muda) berhentilah berteriak di sini" seru seorang pria yang sepertinya merupakan salah satu pegawai di sauna ini


"Aku sedang mencari seseorang!"


"Beri aku waktu 5-10 menit untuk mencarinya, setelah itu aku akan pergi dengan tenang dari sini" ucap wanita itu


"...KIM HYE..."


"aigooo agassi!!*(aduh..nona) kau membuat kaget pelanggan di sini"


"Jika kau tetap membuat keributan di sini, dengan terpaksa aku akan menyeretmu keluar dari sini"ucap tegas pegawai yang bekerja di sauna ini


Aku yang mendengar keributan ini segera bangun dan melihat wanita yang telah membuat keributan di sini


Saat aku melihat wanita tersebut, tampak familiar bagiku, dan benar saja gadis itu ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah hong cha young


Sontak aku berdiri dan memanggil cha young


"Oh.. cha young-aa, kenapa kau berada di sini?" Panggilku sambil melambaikan tangan ke arahnya


Gadis itu seketika mendorong pegawai yang bekerja di sauna ini karena telah menghalangi pandangannya untuk memastikan diriku, setelah yakin orang yang dicari adalah diriku, ia menghampiriku dengan jalan yang cepat


"Kemari kau kim hye jin" ucap cha young dan menarik telingaku


Reflek aku meraung kesakitan dan berusaha melepaskannya


"Aaa...aahh..cha young-aa lepaskan aku" ucapku


"Yaa!!*(hei!!) Apakah hobimu gemar membuat orang lain khawatir?!" Seru cha young sambil menarik telingaku layaknya seorang ibu yang sedang menghukum anaknya yang nakal


"Bagaimana mungkin setelah kau keluar dari rumah sakit kini kau berniat untuk berada di sini" ucap cha young


"A-agassi*(no-nona muda) tenanglah" ucap seo jin ikut campur saat cha young menarik telingaku dan aku mengeluh kesakitan


"Dugusseyo?*(siapa kau?)" Tanya cha young lantang ke seo jin


"A-aku..." ucap seo jin sambil melirik ke arahku


Saat kedua mataku dan seo jin bertemu, aku mengerutkan keningku ke arah seo jin dan menggelengkan kepalaku beberapa kali berharap ia mengerti kodeku untuk berpura-pura tidak saling mengenal di hadapan cha young


"...Hanyalah seorang pelanggan di sini" ucap seo jin seolah ia mengerti apa yang ku maksud


"Kalau begitu kenapa kau ikut campur? Minggir!" Perintah cha young


Seo jin menuruti perintah cha young dan kembali menarik telingaku, menyuruhku untuk segera keluar dari dalam sauna


"Aku tidak akan membiarkanmu bermalam di sini lagi" ucap cha young


"Kau pikir dirimu gadis gembel hhuh?!"


"Kau memiliki teman di sini, tapi kau justru menginap di sini seolah menganggapku tidak ada"


"Apakah kau ingin aku menjadi teman yang buruk?" Oceh cha young


"Cepat ganti pakaianmu dan segera pergi dari sini" perintah cha young padaku


"Ahh..A-araseo*(aku mengerti) cha young-a, ku mohon lepaskan tanganmu dari telingaku" ucapku


"Nne*(ya) ia sudah memohon padamu, tolong lepaslah" ucap seo jin yang terus mengikuti kami hingga berada di lobby sauna


"Ahjussi*(paman) sebenarnya siapa dirimu? Kenapa kau terus mengikuti kami?!" Seru cha young


"Kim hye jin apa kau mengenal pria ini?" Tanya cha young dan melepaskan kupingku


Sejenak aku melirik ke seo jin lalu ke cha young lagi


"Anio*(tidak) aku tidak mengenalnya" ucapku berbohong


"Baiklah jika kau tidak ingin mengakui bahwa kau mengenalku" ucap seo jin sambil menghembuskan nafas


"Ajussi*(paman) kenapa kau bicara dengan nada kecewa?"


"Dan hye jin, apa kau benar-benar tidak mengenalinya?" Tanya cha young penasaran


"Sudahlah! Dari pada kau membicarakan hal itu, apa sebenarnya yang membuatmu kemari dan berteriak di dalam sauna seperti gadis gila?" Tanyaku pada cha young untuk mengalihkan topik pembicaraan


"Bagaimana mungkin aku tidak menggila begitu aku tahu bahwa pasien hari ini yang menjadi topik pembicaraan di sekitar rumah sakit tempatku bekerja adalah sahabatku sendiri" ucap cha young


"Mmm?? Kenapa aku menjadi bahan gunjingan kalian?" Tanyaku penasaran


"Bagaimana mungkin kau tidak menjadi bahan gunjingan teman-temanku, ketika orang yang menolongmu saat kau pingsan di jalan adalah mantan pacar yang telah mencampakkanmu" ucap cha young


"MWWO??!!*(APA?!)" seruku


"Kenapa mereka menuduhku seperti itu?!" Seruku


"Kau tahu perawat eun seuk? Ia adalah perawat nomor satu dalam urusan pergibahan" seru cha young


"Dan hari ini ia sedang berjaga di IGD dan mengatakan bahwa gangguan kecemasan berlebihmu kambuh karena melihat mantan pacarmu yang tidak bisa kau lupakan itu"


"Dan kau mengatakan pada dokter jaga masih memiliki keluhan yaitu mengalami halusinasi melihat seseorang yang ingin kau hindari dalam hidupmu. padahal nyatanya itu bukanlah halusinasi, melainkan kenyataan, kau bertemu dengan mantan pacarmu yang selama ini terus menghantuimu" ucap cha young menjelaskan padaku


"Apakah itu masuk akal?!" Seruku


"Bagaimana mungkin mereka bisa memutuskan bahwa pria yang membuatku tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan adalah mantan pacarku?"


"Lagi pula, ku rasa selama ini aku tidak mengalami halusinasi, melainkan memang ada seseorang yang terus mengikutiku selama satu bulan" ucapku sambil melirik seo jin yang sedang menunduk mendengarkan cerita cha young


"Mengikutimu? Satu bulan?!" Seru cha young


"Wah..apakah dia adalah seorang penguntit profesional ataukah ia adalah penggemarmu?!" Seru cha young


"Lalu bagaimana? Apakah kau sudah menangkap penguntitmu?" Tanya cha young lagi


"Hemm...tidak bisa. Aku tidak bisa melaporkannya" ucapku sambil berkacak pinggang dan melihat seo jin


"Wae?*(kenapa?) Apakah kau kurang memiliki bukti sehingga polisi enggan menangkap penguntit itu?" Tanya cha young dengan polos


"Tidak! Aku memiliki bukti yang kuat, tapi sayangnya karena situasiku sekarang, aku tidak bisa melaporkannya pada polisi" ucapku pada cha young


"Apakah mereka memintamu sejumlah uang hye jin, untuk memproses kasusmu?" Tanya cha young


"Tidak cha young, justru aku yang berhutang padanya karena ia memberikan sejumlah uang jaminan kepada polisi setelah aku membuat keributan di club malam" ucapku pada cha young dan seo jin masih berdiri di dekat kami


"Bukankah itu lebih terdengar seperti dewa pelindungmu? Jika aku menjadi dirimu, aku akan menghampiri penguntit itu dan menjadikannya seorang teman atau...bahkan seorang kekasih" ucap cha young mengucapkan idenya


"Penguntit tetap saja penguntit, mereka tidak cocok dijadikan seorang teman atau  bahkan seorang kekasih, keberadaannya saja sudah membuatku merasa terganggu" ucapku sambil melirik ke arah seo jin


"Ahh...kau benar juga hye jin, tenanglah selama aku bersamamu, penguntit itu tidak akan berani mendekatimu"


"Jika ia berani mendekatimu dalam radius kurang dari 1 meter, aku akan memberi pelajaran padanya" ucap cha young sambil mengepalkan tangannya dan meninju telapak tangan satunya lagi


Seo jin perlahan mundur ke belakang setelah mendengar ucapan cha young.


Melihat sikap seo jin seperti itu, aku sedikit tersenyum dan segera masuk ke dalam untuk mengganti pakaianku


Setelah beberapa saat cha young menungguku, aku segera keluar dari sauna dan menghampiri dirinya


Cha young melihat takjub karena pakaian yang ku kenakan


"Kim hye jin..dari mana kau mendapat pakaian secantik ini?" Tanya cha young padaku tentang pakaian yang diberikan seo jin padaku


"Mmm.....itu" ucapku ragu


"Oh iya, aku penasaran siapa pria yang menolongmu dan membawamu ke rumah sakit" tanya cha young


"Entahlah aku tidak mengenalinya, yang jelas ia adalah seorang penguntit yang sudah ku ceritakan padamu tadi" ucapku berbohong ke cha young


"Tapi...kenapa perawat eun seuk mengatakan pria yang menolongmu adalah mantan pacarmu?" Tanya cha young


"Perawat eun seuk mengatakan pada semua orang bahwa sorot matamu saat memandang pria yang telah menolongmu itu seolah kau memiliki luka yang sangat mendalam hingga kau tidak sanggup memandanginya dan memilih kabur dari pada harus berhadapan dengannya" ucap cha young dan menceritakannya padaku tentang gosip yang beredar


"Apakah kau akan percaya 100% mengenai gosip yang beredar di sekitarmu? Gosip tetaplah gosip. Tentu saja ada ekstra bumbu yang harus ditaburkan agar ceritanya semakin menarik" ucapku


"Hem...kau benar juga hye jin. Tidak seharusnya aku percaya 100% gosip yang disebar oleh perawat eun seuk" ucap cha young mengerti


"Oh iya kau belum menjawab pertanyaanku tentang dari mana kau mendapat pakaian sebagus ini?" Ucap cha young yang mulai membahasnya lagi


Tak lama seo jin juga ikut keluar dengan memakai coats dan syal hangatnya


Aku melirik seo jin dan mata kami saling bertemu satu sama lain


"Hei...jawab pertanyaanku!" Seru cha young


"Dari mana kau mendapat pakaian sebagus ini?" Tanya cha young lagi


"Pakaian ini diberikan oleh seseorang" ucapku jujur


"Seseorang? Apakah ia adalah seorang pria?" Tanya cha young lagi yang penasaran


"Atau jangan-jangan...penguntit itu yang memberikan pakaian ini padamu?" Ucap cha young menebak


"Waah...daebak*(luar biasa) hye jin. Ku rasa ia bukan seorang penguntit melainkan fans berat dirimu" ucap cha young kagum


"Aku akan menceritakannya setelah berada di rumahmu" ucapku sambil menarik lengan cha young dan menghindari kontak mata dengan seo jin


Tak lama seorang pegawai sauna memanggil seo jin


"Tuan park seo jin!"


"Ini pesanan anda ketinggalan tuan" ucap pegawai sauna itu setelah aku dan cha young melangkahkan satu kakinya meninggalkan sauna


Seketika cha young berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya


Ia melepaskan tanganku dan justru menghampiri seo jin


"Siapa namamu tadi? Park seo jin?" Tanya cha young pada seo jin tiba-tiba setelah mendengar pegawai sauna itu memanggil namanya


"N-ne..*(i-iya)" ucap seo jin pada cha young


Seketika cha young mendorong park seo jin sambil membentaknya


"Yyya!!!*(heii!!!)" Teriak cha young pada seo jin


Aku segera menghampiri cha young yang mulai terlihat emosi


"Jadi kau adalah pria yang dibicarakan oleh rumah sakit tempat aku bekerja hari ini ya?!" Ucap cha young


"I-iya" ucap seo jin mengaku


"Tunggu dulu..." ucap cha young


"Sepertinya aku pernah mendengar namamu yang tidak begitu asing di telingaku"


"Park seo jin.."


"Park seo jin.."


"Aaaahh....aku ingat siapa itu park seo jin"


"Yya!!*(hei) kim hye jin! Apakah dia orang yang sama dengan pria breng*ek yang telah menghancurkan masa depanmu saat kau di chicago?" Tanya cha young


"Bu-bukan..." ucapku berbohong pada cha young


"Iya benar itu aku" ucap seo jin yang tiba-tiba memotong ucapanku saat bicara pada cha young


Aisshh....


Bodoh! Kenapa kau mengaku di hadapan cha young huhh?!


Tamat sudah riwayatmu park seo jin, kau akan dihajar oleh cha young karena telah berani memunculkan wajahmu kembali


"Berani sekali kau ke sini setelah apa yang telah kau perbuat pada sahabatku" ucap cha young sambil melintingkan pakaian di bagian lengannya


"Aku ke sini karena ingin memperbaiki hubunganku dengan hye jin dan menebus kesalahanku padanya" ucap seo jin menjelaskan pada cha young


"Menebus kesalahan katamu?"


"Bagaimana cara kau menebus kesalahanmu pada sahabatku?"


"Kau sudah mengganggu kuliahnya hingga membuat beasiswanya dicabut dan putus kuliah,  kau juga yang telah mengirimnya ke dalam penjara hingga ia mengalami gangguan mental seperti ini"


"Dan...kau juga yang telah merampas keperawanan sahabatku yang dijaga selama ini dengan alasan salah meniduri seseorang?" Ucap cha young pada seo jin


"Hong cha young!!" Ucapku untuk menghentikkan dirinya yang mulai mengungkit masa lalu


"Apa kau bodoh? Bagaimana mungkin kau salah meniduri seseorang dan tidak bisa membedakan ia istrimu atau bukan?"


"Apa kau sungguh tidak bisa membedakan respon tubuh antara seorang wanita  yang terbiasa disentuh oleh pria dengan respon tubuh gadis yang belum pernah disentuh oleh pria sama sekali?"


"Ku tebak kau tidak bisa membedakan hal itu karena pikiranmu dipenuhi oleh nafsu kan?" ucap cha young dan seo jin hanya terdiam saja mendengar ocehan cha young


"Kau adalah pria breng*ek yang telah hadir di kehidupan temanku, kenapa ia harus mengalami kesialan karena bertemu denganmu?"


"Dan sekarang kau berani ke sini lalu mengatakan ingin menebus kesalahanmu padanya?"


"Jika kau ingin menebus kesalahanmu, sebaiknya kau pergi saja ke neraka" ucap ketus cha young


"Tidak ada kesempatan kedua atau ketiga untuk orang sepertimu, kau sudah membuang kesempatan itu berkali-kali dan justru menggantikannya dengan luka yang baru lagi"


"Apa kau perlu ku hajar sampai koma dan masuk ke ICU agar kau tidak bisa menginjakkan kakimu lagi ke sini hhuh?! Wahai tuan pembawa sial?" Seru cha young


Seo jin hanya terdiam saat cha young mulai mengepalkan tangannya


"Kau benar, kesalahanku pada hye jin begitu banyak dan sudah tidak bisa di maafkan lagi"


"Pantas saja saat bertemu denganku kembali, ia memintaku untuk terjun dari atas gedung pencakar langit dari pada harus memukulku hingga babak belur" ucap seo jin mulai meracau


"Apa kau belum menghajar atau memukul dirinya walau hanya sekali selama seharian ini setelah apa yang telah ia perbuat padamu, hye jin?" Tanya cha young


"Cha young-aa kau tidak perlu menghajarnya, aku sudah memperingatkan dirinya untuk tidak menemui diriku lagi" ucapku pada cha young


"Dan kau juga hye jin! Kenapa masih membela pria ini setelah apa yang ia perbuat padamu dan menganggapnya hanya seorang penguntit?" Ucap cha young menyalahkanku


"Sikap buruknya melebihi dari seorang penguntit. Bodohnya aku yang tidak menyangka pria yang digosipkan hari ini di rumah sakitku adalah dia"


"Lagi pula apa kau pikir ia adalah tipe orang yang mendengarkan dirimu, hye jin?" Tanya cha young


"Sekali di lihat juga tau, ia adalah tipe orang yang akan terus menempel seperti permen karet jika keinginannya belum terpenuhi" ucap cha young


"Oleh karena itu aku akan memberikannya pelajaran agar ia sadar" ucap cha young yang siap-siap mengangkat tangan kanannya dan terlihat ingin menampar seo jin


Tapi...kelihatannya seo jin terlihat pasrah dan tidak ada tanda-tanda menghindari pukulan cha young


Hingga terdengar suara keras di telingaku


'Plak!!'


"Kim hye jin!!" Teriak cha young


Pipi kiriku terasa sangat panas setelah menerima tamparan dari cha young


Yahh...


Detik-detik saat cha young mengayunkan tangannya, aku mendorong seo jin dan menerima tamparan keras dari sahabatku


"K-kim hye jin, kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapanku?!" Seru seo jin dari belakangku


"Apa kau berniat menerima dihajar olehnya hhuh?! Kenapa kau tidak menghindarinya bodoh?" Tanyaku pada seo jin dan berbalik badan


"Minggir kim hye jin" perintah cha young


"Anio*(tidak) hentikkan cha young, ku mohon jangan buat keributan di sini" pintaku pada cha young


"Apa kau masih membela pria itu setelah apa yang ia perbuat padamu?!" Seru cha young


"Sudah ku bilang, aku sudah menyelesaikan masalahku dengannya, ia akan pergi dari hadapanku selamanya" ucapku pada cha young


"Kenapa ia masih di sini dan bertemu denganmu?" Seru cha young


"Sauna adalah tempat umum, bagaimana mungkin aku melarang seseorang berpergian ke tempat umum?!" Teriakku pada cha young


"Astaga kim hye jin, apakah kau salah makan atau kepalamu terbentur?"


"Besok!" Teriakku


"Besok ia akan pergi dari sini dan kembali ke chicago" ucapku pada cha young


"Kau akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa harus menghajar wajahnya yang menjengkelkan itu?" Tanya cha young


"Untuk apa menghajarnya? Itu hanya akan membuang-buang tenagamu saja" ucapku pada cha young


"Jika kau tidak tega untuk menghajarnya, biarkan aku yang menggantikanmu, kim hye jin"


"Biarkan aku menghajar pria  breng*ek ini" teriak cha young dan mulai menarikku agar menjauh dari seo jin


Usaha cha young berhasil, ia menarik tubuhku untuk menjauhi seo jin dan hampir saja aku terjatuh


"Kemari kau" ucap cha young yang sudah menggila dan menarik kerah seo jin


"A-agassi*(nona) ku rasa kita bisa bicara dulu" ucap seo jin


"Aku tidak perlu bicara denganmu, simpan saja tenagamu untuk bicara dengan dewa karena telah menyakiti sahabatku" ucap cha young dan mulai mengepalkan tangannya


Seketika aku berdiri dan menghampiri mereka, kepalan tinju cha young mendarat tepat di hidungku dan kini membuat pandanganku kabur


Aku kehilangan kestabilan tubuhku dan menjatuhkan tubuhku ke belakang


"Kim hye jin!" Teriak seo jin dan menangkap tubuhku yang akan ambruk ke bawah


"Kyaaa!! Kim hye jin" teriak cha young ketika sadar pukulannya mengenai wajahku


Aku merasakan nyeri pada hidungku dan merasakan ada yang mengalir dibagian area hidungku


"P-phi*(d-darah)!" Seru cha young ketika melihat darah keluar dari hidungku


"Dongakkan kepalamu hye jin" ucap cha young dan membantuku mengangkat kepala


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit" ucap seo jin


"Aahh....tidak perlu! Ini hanya luka kecil. Aku bisa mengatasinya, lagi pula aku benci ke rumah sakit" ucapku pada seo jin


Untungnya cha young tidak bar-bar lagi seperti tadi pada seo jin


Haah...cha young masih tidak berubah


Sikap premanismenya saat ia masih duduk dibangku sekolah SMA sangat menempel di tubuhnya


Ia masih menganggap jalur kekerasan adalah jalan keluar bagi setiap masalah


Padahal pekerjaannya adalah seorang perawat


Aku berusaha beranjak bangun, dibantu oleh seo jin dan cha young.


Sesaat aku bisa berdiri dan mulai melepaskan tangan seo jin dariku


Namun baru aku melangkahkan kakiku, pandangan mataku kabur lagi dan seketika aku kembali terjatuh dan tidak sadarkan diri


******


Keesokan paginya aku kembali sadar dan sudah berada di rumah cha young


Aku melihat cha young sedang tertidur dengan posisi duduk di atas karpet dan kepala di atas meja beserta pemanas ruangan yang berada di sebrang meja


Aku mengambil tisu yang sudah mengering berada di lubang hidungku untuk menyeka darah yang keluar akibat pukulan cha young semalam


Aku menghampiri cha young yang sedang tertidur


Ku rasa ia tertidur di sini semalaman karena tempat tidurnya tidak cukup untuk dua orang


Aku yakin tidur dengan posisi seperti itu sangat tidak nyaman


Perlahan aku memanggil cha young dan menyentuh bahunya


"Cha young-aa" panggilku pelan


"Bangun dan tidurlah di sana" ucapku perlahan


"Mm...kau sudah sadar hye jin?" Tanya cha young yang masih dalam keadaan setengah sadar


"Kau tidak apa-apa?" Tanya cha young


"Mianhae...*(maafkan aku)" ucap cha young sambil menangis


"Apakah kau berniat menjadi perawat pembunuh?" Tanyaku


"Berhentilah melakukan kekerasan pada seseorang"


"Lagi pula kau tidak berhak menghajar pria itu, jika aku mau, aku sendiri yang akan menghajarnya habis-habisan dengan tanganku sendiri"  ucapku pada cha young


"Tapi....kau tidak akan tega melakukan hal itu padanya"


"Kau...masih memiliki perasaan pada pria itu" ucap cha young

__ADS_1


"Naega??!*(aku?!)" Seruku


"Aku tidak...." ucapku pada cha young


"Kim hye jin..." panggil cha young memotong ucapanku


"Kembalilah pada pria itu dan katakan padanya unttuk menerima tawaran yang ia sampaikan padamu kemarin malam" ucap cha young tiba-tiba


"Kesehatan mentalmu jauh lebih penting dibandingkan dengan gengsimu" ucap cha young


"Alasanmu tidak bisa menjalani therapi karena tidak memiliki uang hye jin, begitu juga dengan diriku yang tidak bisa membantu dirimu karena aku adalah orang miskin"


"Maafkan aku hye jin karena aku terlahir sebagai orang miskin dan tidak bisa membantumu huhuhu...."


"Ughh....cha young-aa berapa banyak botol yang kau minum hhuh?! Jika kau tidak punya uang berhentilah membeli soju dan mabuk seperti ini" ucapku pada cha young


"Huwaa...kim hye jin! Hiburanku hanya  soju ini setelah aku lelah bekerja, kau tidak tahu bagaimana penatnya pikiranku setelah apa yang selama ini aku hadapi"


"Ayahku seorang penjudi, ibuku menjual dirinya pada lintah darat itu untuk melindungi diriku dan sekarang aku tidak mampu menolong sahabatku sendiri yang hampir menjadi gila karena gangguan kecemasannya" ucap cha young meracau


"Iya iya...aku mengerti hidupmu sangat sulit, sekarang berbaringlah ke tempat tidurmu dan beristirahat" ucapku sambil menyeret tubuh cha young ke tempat tidurnya


"Hye jin-aa pergi ke pria itu sekarang dan minta pertanggungjawabannya"


"Apa kau tidak bisa melihat ketulusan hatinya yang rela jauh-jauh datang dari benua yang berbeda hanya ingin melihat kehidupanmu?"


"Hidupmu sangat kacau hye jin, ia bisa melihatnya hanya dari raut wajahmu, harusnya kau meminta seluruh harta kekayaan milik pria itu jatuh ke tanganmu, dengan begitu kau bisa hidup bahagia"


"Bukannya menyuruh dirinya terjun dari atas gedung pencakar langit" ucap cha young yang terus meracau


"Haah....jika aku menanggapi ocehan orang yang sedang mabuk, itu artinya sama saja aku seperti orang gila" gerutuku


"Istirahatlah..aku akan kembali ke pulau hangan, setelah kau sadar hubungi aku" ucapku pada cha young dan segera pergi dari rumahnya yang semi basemant


Aku tidak bisa mendapatkan sinar matahari sebelum keluar dari rumah cha young


Ku kira sekarang masih subuh ternyata di luar, matahari sudah mulai bersinar dan mulai naik ke atas


Aku harus buru-buru pergi ke pelabuhan agar tidak terlambat menaiki kapal feri


Baru beberapa langkah aku berlari, suara klakson mobil berbunyi dan sebuah mobil melaju menghampiriku


"Kim hye jin, masuklah" ucap seorang pria yang menurunkan kaca mobilnya untuk bicara denganku


Tentu saja pria itu adalah seo jin


Ia benar-benar seperti permen karet yang sulit dihilangkan dari alas sepatu


"Berapa kali harus ku katakan padamu berhentilah untuk mengikutiku" ucapku pada seo jin


"Apa kau tidak takut pada cha young ia akan menghampirimu dan berniat menghajarmu lagi hhuh?!" Seruku pada seo jin


"Apakah hidungmu baik-baik saja?" Tanya seo jin tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan


"Bukan urusanmu" ucapku ketus dan hendak pergi dari seo jin


Namun seo jin justru turun dari mobilnya dan mencegahku pergi


"Kim hye jin tunggu" ucap seo jin sambil memegang tanganku


Dengan cepat aku menarik tanganku untuk melepaskan genggaman tangan seo jin


"Ahh...maaf aku hanya ingin mengajakmu pergi ke pelabuhan bersama-sama" ucap seo jin


"Aku tidak akan pergi bersamamu, aku lebih nyaman pergi naik bis" ucapku ketus


"Seo jin-ssi jika kau terus berada di sini, cha young akan benar-benar menghajarmu, apa kau tidak takut padanya?" Ucapku pada seo jin memperingatkannya lagi


"Soal itu...aku sudah menyelesaikan kesalahpahaman cha young padaku kemarin malam" ucap seo jin


"Maksudmu?" Tanyaku


"Saat kau jatuh pingsan karena pukulan cha young, aku menggendongmu hingga sampai di rumah sewaannya" ucap seo jin


"Disitulah aku menjelaskan pada cha young maksud tujuanku kembali ke sini dan mencarimu" ucap seo jin


"Ku rasa ia mengetahui semua tentang kehidupanmu yang tidak ku ketahui selama kau kembali ke sini, hye jin" ucap seo jin


"Hye jin-aa aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan padamu agar kau mau menerima tawaranku yang kemarin malam" ucap seo jin


"Harusnya aku lebih cepat menemukanmu agar kau tidak jauh menderita menjalani kehidupan seperti ini"


"Harusnya aku menyadari lebih awal bahwa kau tidak berada di sisi hajung..." ucap seo jin dan aku segera mengangkat tanganku pertanda untuk menyuruhnya berhenti mengoceh lagi


"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu seo jin" ucapku ketus


"Setelah kau mendengar kehidupanku selama di sini dari mulut cha young, ku harap kau tidak perlu mengasihaniku"


"Aku tidak ingin dikasihani olehmu"


"Ku rasa ucapanku kemarin malam sudah jelas, orang tuaku saja tidak terlalu memusingkan kehidupanku yang malang dan hidup seperti biasa saja tanpa ada masalah apapun"


"Tapi kau?..."


"Kenapa kau merasa sangat terganggu oleh kehidupan yang ku jalani?" Tanyaku pada seo jin


"Berhentilah untuk memikirkanku dan kembalilah ke chicago, kehidupanmu bukan di sini seo jin atau..."


"Kau bisa mengunjungi kedua orang tuamu selama kau berada di seoul dibandingkan harus bertemu denganku" ucapku pada seo jin


"Ku harap ini terakhir kalinya kita bertemu di sini seo jin, jika kau terus menemuiku, aku akan menganggapmu sebagai orang asing yang tidak ku kenal" ucapku pada seo jin dan pergi meninggalkan dirinya yang masih mematung


Aku berjalan menuju halte bus dan menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala


Aku mendengar handphoneku berbunyi beberapa kali dan segera mengangkatnya panggilan telepon dari ayahku sambil berjalan kaki melewati zebra cross


awalnya ku kira ayahku hanya ingin menanyakan keberadaanku hari ini, apakah aku pulang ke rumah atau masih menetap di seoul. namun nyatanya ayahku ingin memberitahu kabar buruk tentang ibuku  yang tidak akan pernah ku sangka hal ini bisa terjadi


"Nne*(iya) ayah, hari ini aku akan pulang..."


"Hye jin-aa...ibumu" ucap ayahku tiba-tiba dari telepon sambil menangis


"Eomma?*(ibu?) Ada apa dengan ibu, ayah?" Tanyaku


"Ibumu...tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri saat memasak di dapur" ucap ayahku dan seketika aku kehilangan pikiranku


Aku termenung saat mendengar ayahku memberitahu kabar buruk dari ibuku


Seperti berada di dunia lain, arwahku seolah keluar dari dalam tubuhku hingga seseorang menarik tanganku dan jatuh di atas tubuhnya


"Haah....haah"


"Kim hye jin kau baik-baik saja?" Tanya seorang pria yang  sedang bernafas tersengal-sengal


Seketika pikiranku kembali dan mulai berpikir jernih


Aku melihat sekelilingku dan terlihat handphoneku hancur berkeping-keping terlindas oleh mobil yang melewati jalan raya


Kerumunan orang memandang ke arahku dan seo jin


Aku berada di atas tubuh seo jin yang sedang memelukku dan tubuhnya terbaring di atas aspal karena telah menyelamatkanku dari truk yang melaju dengan cepat


"Agassi neo gwaencahana?*(nona muda apa kau baik-baik saja?)" Tanya seorang ahjumma*(bibi) melihat keadaanku


"Yya!*(hei) apakah kekasihmu gila?" Tanya seorang pria muda pada seo jin


"Sebaiknya ia dibawa ke rumah sakit, ia terlihat seperti orang linglung" ucap lagi seorang pria asing


Aku menghiraukan ucapan orang-orang yang memandang aneh diriku, seketika aku bangun dari tubuh seo jin saat mengingat kabar tentang ibuku


Aku berusaha melambaikan tanganku saat melihat taxi sedang melaju mendekat, namun tidak ada satupun yang berhenti untuk menerima tumpangan


"Taxi..."


"Taxi!!" Teriakku


"Masuklah ke mobilku kita harus bergegas" ucap seo jin yang ternyata masih berada di dekatku


"Bisakah kau tidak ikut campur dalam urusanku?!" Seruku pada seo jin


"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur dalam masalahmu jika ini meyangkut orang yang paling berharga dalam hidupmu?!" Teriak seo jin balik


Aku terdiam menatap seo jin penasaran


"Aku tahu apa yang terjadi pada ibumu, hye jin" ucap seo jin lirih


"Supir ohh memberitahuku melalui panggilan telepon sesaat kau hampir tertabrak oleh truk yang melaju kencang"


"Bagaimana mungkin kau bisa berhenti di tengah-tengah zebra cross saat lampu hijau untuk pejalan kaki sudah hampir habis?"


"Jika aku terlambat sedikit saja berlari untuk menyelamatkanmu dengan menyeretmu ke pinggir jalan, mungkin saja saat ini kau..."


"Kau..." ucap seo jin terputus dan tidak bisa menyelesaikan kalimat selanjutnya


"...Akui saja hye jin jika pikiranmu saat ini sedang kacau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi jika aku tidak mengawasimu dalam jarak dekat"


"Masuklah ke dalam mobilku kita akan pulang bersama ke pulau hangan dan melihat kondisi ibumu di rumah sakit, ok?"


"Aku yakin saat ini ambulance sedang dalam perjalanan ke rumahmu, karena supir ohh sudah menghubungi ambulance" ucap seo jin dan tidak bisa ku sanggah lagi


Ucapannya benar-benar tepat menggambarkan keadaanku saat ini


Tanpa berkomentar apapun lagi, aku segera berlari menghampiri mobil seo jin dan membuka pintu mobilnya


Seo jin mengejarku dan ikut masuk ke dalam mobil lalu bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat


Berkali-kali aku menarik napasku dan menghembuskannya untuk tetap bisa mengatur emosiku agar tidak mendapatkan serangan gangguan kecemasan


Untungnya aku bisa meng-handle emosiku saat ini hingga tiba di pelabuhan


Aku segera bergegas keluar dari mobil seo jin dan masuk ke dalam kapal feri


Saat ini terlihat beberapa penumpang kapal feri yang mulai ramai dan berniat liburan di pulau hangan


Aku terus menggiggit kuku jariku untuk menghilangkan perasaan cemas sambil menunggu waktu keberangkatan kapal tiba


Waktu menunjukkan pukul 08.45. 15 menit sudah lewat dari jadwal keberangkatan. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dengan emosi yang meluap, aku segera menghampiri ahjussi*( paman) yang mengendarai kapal feri ini


"Ahjussi*(paman) kenapa kau tidak segera memberangkatkan kapalmu hhuh?!" Seruku


"Apa kau tidak lihat? Masih ada penumpang yang ingin ikut ke kapal ini, aku tidak ingin meninggalkan para penumpang itu" ucap pria separuh baya itu


"Tapi kau sudah lewat 15 menit dari jam keberangkatanmu yang seharusnya. Kau tidak bisa mengabaikan waktu dari penumpang kapal ini. Mereka juga memiliki kepentingan yang lain kan?"


"Lagi pula kapalmu bisa melebihi kapasitas beban jika kau terus memasukkan penumpang dalam jumlah banyak" protesku


"Yya!! Agassi*(hei nona!) Ini kapalku jika kau protes silahkan cari kapal feri yang lain!"


"Lagi pula kapal ini adalah kapal terakhir yang menuju ke pulau hangan pagi ini"


"Jika kau keberatan dengan peraturan yang ku buat, kau bisa menunggu jadwal keberangkatan sore ini atau..."


"Aku bisa memberangkatkan kapal ini segera jika kau membayar 10 kali lipat dari tarif biasa untuk menggantikan ongkos yang ku dapat dari penumpang lain yang tidak bisa menaiki kapal ini" ucap pria itu yang mulai bernegosiasi tidak masuk akal


Aku menatap tajam paman itu ketika ia selesai mengucapkan kalimatnya


Ingin sekali rasanya ku buat lubang hidungnya yang besar berdarah menggunakan kedua jariku


Meskipun menjijikan tapi setidaknya aku puas melihatnya menderita


"Berhenti menatapku seperti itu nona muda, dimana sikap sopan santunmu terhadap orang yang lebih tua hhuh?!" Teriak paman itu tepat di wajahku hingga aroma busuk yang keluar dari mulutnya tercium oleh hidungku dan hampir membuatku ingin muntah


"Baiklah.... jadi berapa total dari biaya keseluruhan agar kau segera memberangkatkan kapal ini" ucap seo jin tiba-tiba dan mulai mengeluarkan dompetnya


Aku melihat ekspresi menjijikan dari paman yang haus akan uang itu saat ia melihat lembaran uang yang banyak terdapat di dalam dompet seo jin


"Mm...karena kau berdua bersama kekasihmu maka biayanya menjadi 20 kali lipat dan itu sekitar..."


"Yya!!*(hei!) Apa kau ingin merampok kami?" Tanyaku ketus ke paman pemilik kapal feri itu dan memotong ucapannya


"Dan kau..." ucapku sewot melirik seo jin


"Apa kau ingin memamerkan kekayaanmu di depan orang yang menjijikan ini hhuh?!"


"Apa kau bodoh? Ia ingin memerasmu, bukan untuk bertransaksi" ucapku lagi


"Apa kau bilang? menjijikan?!" Ucap paman itu


"Yya!*(hei!) Bicaramu sangat tidak sopan terhadapku nona muda. Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuamu?!" Teriak paman itu sambil menunjukku dengan jarinya


Ingin sekali aku mematahkan jarinya yang kotor itu agar berhenti menyentuh pakaianku


"Untuk apa aku harus bersikap sopan pada pria tua busuk yang haus akan uang hingga rela mengorbankan kepentingan orang lain?"


"Jika kau ingin dihormati, bersikaplah sesuai aturan dan tidak bersikap seenaknya seperti ini" ucapku sewot lagi


"Kau benar-benar..." ucap paman itu dan mendorong tubuhku yang nyaris terjatuh


"Hei!! Jaga sikapmu, jika kau berani menyentuhnya lagi, aku tidak akan ragu untuk menghajarmu" ucap seo jin sambil menarik kerah baju paman yang gila uang itu


"Ka..kalian adalah pasangan yang tidak waras, aku akan memanggil penjaga untuk mengusir kalian"


"Penjaga!!" Teriak paman itu dan muncul beberapa orang pria yang terlihat seperti preman menghampiri diriku dan seo jin


"Usir mereka dari sini, mereka telah mengancamku dan membuat keributan di sini, jika dibiarkan penumpang yang lain akan menjadi tidak nyaman dan pergi meninggalkan kapalku"  ucap paman yang menjengkelkan itu pada pria-pria yang terlihat seperti tukang pukul bayaran


Sesaat salah satu pria yang mengenakan kemeja naga berwarna merah mulai menghampiriku, seo jin segera muncul di hadapanku


"Jika kau berani menyentuhnya, aku akan mematahkan tanganmu" ancam seo jin


"Cuih..."


"Hahaha..."


"Pergilah dari sini dengan tenang jika kau ingin terlihat jantan di hadapan pacarmu" ucap pria dengan kemeja naga itu


Seo jin berjalan di depanku dan aku mulai mengikutinya, para pria yang menyeramkan itu mengiringi kami berjalan


Seo jin sudah lebih dulu berada di dermaga dan disaat aku ingin melangkahkan kakiku dari perbatasan kapal dan dermaga, pria itu mendorong tubuhku dari belakang hingga membuat kakiku tersandung dan nyaris membuat wajahku membentur kayu


Seo jin dengan sigap menangkapku dan membuatku reflek memeluknya


Ironinya mereka justru tertawa saat melihatku tersandung dan hampir terjatuh


Seo jin mulai tersulut emosinya saat melihatku mendapatkan perlakuan kasar dan nyaris menghampiri pria itu untuk membuat perhitungan


"Hentikkan! Sudah cukup seo jin" ucapku berusaha menenangkan seo jin dan masih memeluknya


Aku bisa mendengar suara nafas seo jin yang memburu dan perlahan mulai menghilang saat emosinya sudah mulai mereda


Aku melepas pelukanku dari tubuh seo jin dan menatap wajahnya


"What next?" Gerutuku dan pergi berjalan meninggalkan seo jin


"Apakah di sini tidak ada patroli polisi laut?" Tanya seo jin padaku


"Bagaimana mungkin jalan utama menuju pulau hangan dikuasai oleh para bandit seperti mereka?" Tanyanya lagi


"Pulau hangan tidak seperti pulau jeju yang terkenal, ia hanya pulau kecil yang jarang orang mengetahui keberadaannya"


"Baru-baru ini saja muncul seorang vloger yang membahas keindahan pulau hangan dan menjadi ramai seperti ini untuk destinasi wisata saat akhir pekan" ucapku menjawab pertanyaan seo jin


"Aku tidak akan menyangka paman itu memanfaatkan situasi sekarang dan mengabaikan kepentingan orang lain" ucapku lagi sambil memijit kepalaku menggunakan jari-jemariku


"Hye jin-aa!" Seru seo jin


"Apakah speed boat itu bisa dipakai?" Tanya seo jin tiba-tiba sambil menunjuk ke arah kapal speed boat yang sedang parkir berjejer


"Apa kau berniat pergi ke pulau hangan menggunakan speed boat itu?" Tanyaku penasaran


"Lupakan! Aku yakin harganya sungguh tidak masuk akal" gerutuku


"Lalu kau ingin pulang dengan apa, hye jin? Berenang?" Sindir seo jin


"Kim hye jin apa kau masih menganggapku orang asing?" Tanya seo jin


"Memang kau orang asing bagiku" ucapku ketus


"Bisakah kau singkirkan sifat keras kepalamu itu?" sindir seo jin


"Apa kau akan bersikap seperti ini terus padaku meskipun situasinya sedang genting?"


"Kau membutuhkan bantuan hye jin, maka itu aku berada di sampingmu sekarang.."


"Aku tidak butuh bantuanmu, seo jin" ucapku memotong


"Wae?*(kenapa?) Kenapa kau tidak ingin mendapatkan bantuan dariku hye jin? Katakan padaku apa alasannya..."


"KARENA AKU TIDAK INGIN BERSANDAR LAGI PADAMU!" teriakku pada seo jin


"Aku tidak ingin bergantung padamu lagi seo jin. Setiap kali aku menaruh harapan padamu, kau akan mengecewakanku"


"Dan sialnya setiap kali aku mengalami hal buruk seperti ini,  kau justru muncul di hadapanku dan menempel padaku"


"Berkali-kali aku katakan pada diriku bahwa aku tidak boleh meminta bantuan darimu karena itu akan membuat diriku manja dan akan terus bergantung padamu"


"Sejak awal, kau bukanlah siapa-siapa bagiku seo jin, dan terakhir kali kita bertemu di chicago, hanya ada luka yang terus membayangiku"


"Semakin kita terus bersama, hanya ada kesialan yang terus menanti kedepannya"


"Oleh karena itu...bisakah kita menganggap satu sama lain sebagai orang asing saja?" Pintaku pada seo jin


"Kau bisa mengabaikanku layaknya orang asing yang tidak kau kenal saat aku dalam keadaan sulit seperti ini"


Seo jin terdiam memandangiku, tidak ada tanggapan yang keluar dari mulutnya setelah aku mengatakan isi hatiku padanya


"Selama ini aku selalu memiliki keraguan dalam melakukan tindakan apapun, aku selalu memikirkan efek jangka panjang dan menghiraukan perasaanmu hingga pada akhirnya justru membuatmu kecewa"


"Yang menurutku baik, belum tentu untukmu baik, hye jin"


"Sedangkan kau adalah kebalikan dari diriku, kau selalu saja bersikap spontan tanpa memikirkan efek jangka panjang"


" tapi cara pikirmu tanpa disadari membuat keadaan menjadi lebih baik"


"Aku banyak belajar dari dirimu, hye jin. Oleh sebab itu...aku memutuskan kesini dan membantumu menjalani kehidupan yang lebih baik akibat dari kecerobohanku"


"Aku sudah menduga hal ini, bahkan aku telah memikirkannya berkali-kali. kedatanganku kembali ke dalam kehidupanmu tidak akan disambut baik olehmu, tapi aku tetap nekat melakukannya. mengikuti sikapmu yang tidak takut dalam mengambil resiko"


"Karena aku ingin mengubah sikap berlebihanku dalam berhati-hati mengambil keputusan"


"Dengan kata lain..aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu hingga hatimu luluh kembali meski kau menolak bantuanku ratusan kali" ucap seo jin


Hembusan angin laut membuat rambutku berantakan  dan membuatku berterima kasih padanya karena aku bisa menyembunyikan kedua mataku yang mulai berkaca-kaca


"Benar apa yang dikatakan cha young..."


"Kau seperti permen karet yang menempel di sepatu, sangat sulit untuk dilepaskan" ucapku sambil memalingkan wajahku


"Tunggulah di sini hye jin, aku akan mencari kapal agar kita bisa kembali ke pulau hangan bersama-sama" ucap seo jin dan pergi meninggalkanku mencari pemilik speed boat


Beberapa menit berlalu, aku menatap kapal feri yang tidak jadi ku naiki tadi kini semakin banyak jumlah penumpangnya


Paman pemilik kapal feri yang gila uang itu benar-benar tidak mempedulikan keselamatan penumpangnya


Ku harap tidak ada kejadian buruk yang menimpa para penumpang di dalam sana


"Kim hye jin!" Teriak seo jin memanggil namaku


"Aku sudah mendapatkan kapal, kita bisa segera bergegas ke pulau hangan" ucap seo jin setelah ia menghampiriku


"Apa kau menawar harga dengan pemiliknya masih dalam batas normal?" Tanyaku


"Ku rasa masih sepadan dengan apa yang kita dapat nanti" ucap seo jin


********


30 menit berlalu untuk sampai ke pulau hangan menggunakan speed boat


Seo jin berterima kasih pada pemilik kapal speed boat dan memberi sejumlah uang pecahan 50.000 ₩ sebanyak 10 lembar dan masih ingin memberikan tips lagi pada pemilik kapal speed boat ini karena telah berjasa mengendarai speed boat hingga sampai ditempat tujuan


"Yya!!*(hei) park seo jin! Apa kau pikir pecahan uang 50.000 ₩ itu adalah daun bagimu?!" Seruku sambil memegang tangan seo jin pertanda menyuruhnya untuk berhenti memberikan uang


"Aku sedang melunasi transaksi yang separuhnya tadi di dermaga" ucap seo jin polos


"Eehhh?!! Sebelumnya kau sudah memberikan mereka uang juga sebanyak ini?!" Seruku dengan mata melotot yang hampir keluar


"Ahjussi!*(paman) apa kau sedang memerasnya?" Tanyaku


"Ania*(tidak) kekasihmu sudah tahu dan menyetujui penyewaan kapal speed boat ini seharga 1 juta won dibayar dengan uang tunai" ucap paman pemilik speed boat


"Apa katamu?! Sa...satu juta won?!" Seruku


"Mmm....satu juta won, karena kekasihmu menyewanya mendadak tidak membuat janji terlebih dahulu"


"Ahjussi*(paman) dia bukan kekasihku, tapi...meskipun menyewanya secara dadakan, tidak seharusnya kau menaruh harga sebanyak itu" protesku pada paman pemilik speed boat


"Aigooo...agassi*(aduh...nona) kapal ini sudah memiliki jadwal lain untuk disewa, tapi...karena kekasihmu yang terus memaksaku untuk menyewakannya dan mengantar kalian ke pulau ini dengan pembayaran 2 kali lipat dari harga normal, aku rela melakukannya meskipun aku harus memundurkan jadwal pelayaran hari ini"


"Sudah ku bilang ia bukan kekasihku, ahjussi*(paman). berhentilah menyebut dia kekasihku" protesku


"Aneh....untuk apa kalian rela menyewa kapal speed boat ini dan membayarnya 2 kali lipat jika kalian bukanlah pasangan kekasih, kalian bisa menaiki kapal feri yang sudah dijadwalkan"


"Ku kira...kalian adalah pasangan anak muda dari kota yang bersemangat sekali karena ingin segera bercumbu bersama di pulau ini mengingat pemandangan di pulau ini sedang ramai diperbincangkan orang-orang" ucap paman pemilik kapal speed boat dengan sangat tidak sopan


"Ahjussi!!*(paman) berhentilah berpikiran mesum seperti itu! Aishh...sial!" Ucapku dan segera pergi meninggalkan seo jin dan paman pemilik speed boat ini


Seo jin masih melakukan transaksi dengan paman itu, namun aku belum tahu di rumah sakit mana ibuku di rawat. Mengingat di pulau ini terdapat 2 rumah sakit yang lumayan cukup lengkap fasilitasnya berdiri di sini


"Park seo jin! Cepat beritahu aku, rumah sakit mana ibuku berada" teriakku pada seo jin yang tersenyum sendiri saat ia bicara dengan paman pemilik speed boat itu


Aku yang tidak sabar menunggu, menghampiri seo jin lagi dan menarik kerah coatsnya menyeret dirinya untuk segera jalan


"K-kim hye jin tunggu sebentar" ucap seo jin menyuruhku berhenti untuk menarik kerah coatsnya


"bisakah kau bergerak cepat? aku tidak tahu bagaimana kabar ibuku saat ini karena handphoneku sudah hancur berkeping-keping saat aku nyaris tertabrak oleh truk di seoul pagi ini" protesku


"ah.....maafkan aku hye jin telah lama membuatmu menunggu, hanya saja aku merasa lucu karena ucapan paman itu"ucap seo jin yang membuatku bingung


"lucu? apa yang membuatmu merasa lucu? apakah ucapannya yang mengatakan bahwa kita adalah pasangan kekasih yang akan liburan di pulau ini lalu rela menyewa kapal speed boat dengan harga yang fantastis karena ingin segera bercumbu? itu lucu bagimu?"sindirku


"tidak sampai di situ hye jin, itu terlalu berlebihan. hanya saja aku merasa lucu pada pandangan setiap orang asing yang kita temui dan mengatakan bahwa kita adalah pasangan kekasih tapi pada nyatanya kau menganggapku hanyalah  seekor serangga yang sangat mengusik kehidupanmu" ucap seo jin padaku


aku terdiam sesaat berusaha memahami apa maksud ucapan seo jin apakah ia sedang menyindirku atau memang bicara jujur padaku


"apakah ini efek samping dari mabuk laut seo jin? apakah kepalamu tidak bisa berpikir jernih dan masih sempat bergurau seperti ini?"sindirku lagi


"tidak ada yang lucu bagiku. memang benar apa yang kau ucapkan tadi, kau seperti seekor serangga yang mengusik kehidupanku. rasanya ingin sekali tubuhnya ku hancurkan hingga berkeping-keping  menggunakan tanganku" ucapku dengan tatapan sinis


aku bisa melihat tenggorokan seo jin yang sedang menelan ludah setelah mendengar ucapanku


"jika kau sudah bisa berpikir jernih, sebaiknya segera gunakan kepalamu dan beritahu aku dimana rumah sakit tempat ibuku berada"ucapku pada seo jin


"aah...mm tunggu sebentar. supir ohh mengirimiku pesan bahwa ibumu dibawa ke rumah sakit Gachon. menurut supir ohh sekitar 15 blok dari dermaga...."ucap seo jin dan aku langsung berlari meninggalkan seo jin menuju ke rumah sakit yang di sebut seo jin tadi


"yya!*(hei) kim hye jin tunggu aku!!"teriak seo jin yang baru sadar bahwa aku sudah pergi meninggalkannya


aku berlari secepat mungkin agar bisa sampai di rumah sakit dan mengetahui keadaan ibuku. sesampainya di rumah sakit, aku segera menuju IGD dan menanyakan ke nurse station pasien atas nama lee tae hae yang merupakan nama dari ibuku


setelah perawat menunjukkan tempat tidur ibuku di rawat, aku segera membuka tirai yang menutupi tempat tidur pasien dan melihat ibuku sedang terbaring dengan memejamkan mata dan ayahku sedang duduk di samping tempat tidur


"kim hye jin"panggil ayahku saat aku tiba di rumah sakit


"ayah, bagaimana keadaan ibu?"tanyaku pada ayah


 ayahku tidak langsung menjawab pertanyaanku, ia terlihat sedang mengambil nafas lalu menghembuskannya lagi membuatku merasa tidak nyaman


"ayah tidak tahu apa yang harus ayah lakukan saat menemukan ibumu tergeletak di dapur karena panik. untung saja teman dari pria  yang pernah kau temui di chicago dan pernah menginap di rumah kita, tiba-tiba muncul di hadapan ayah. Lalu segera menelpon ambulance"


"jika bukan karena teman pria itu, mungkin saja kita bisa kehilangan ibumu, nak"ucap ayahku dengan raut wajah yang hampir menangis, sedangkan diriku hanya berdiri terdiam dengan wajah yang datar


"kim hye jin..."


"ah....maafkan aku, aku sedang mencari seseorang"ucap seorang pria tepat di tempat tidur sebelah ibuku sedang berbaring


aku sudah tahu suara orang itu siapa meskipun aku tidak melihatnya karena tertutup oleh tirai


aku segera membuka tirai dan melihat sumber suara yang memanggilku tadi


seo jin menemukan diriku saat aku membuka tirai. aku sengaja memunculkan wajahku ke seo jin  berharap agar ia  menyudahi suara gaduhnya yang sedang mencariku. aku tidak ingin seo jin membuka satu persatu tirai yang ada di sini hanya untuk mencariku dan membuat pasien lain tidak nyaman. seo  jin menghampiriku  saat ia sudah mengetahui dimana diriku berada


ayahku menatap seo jin saat ia tiba di tempat tidur ibuku. seo jin memberi salam kepada ayahku dan tentu saja ayahku menyambut seo jin dengan hangat


" bagaimana kabar bibi, paman?" tanya seo jin pada ayahku


" apakah bibi baik-baik saja?" tanya seo jin lagi


saat ayahku ingin menjawab pertanyaan seo jin, tiba- tiba ibuku membuka kedua matanya dan membuat perhatian kami teralihkan


" ibu! apa kau baik-baik saja?" tanyaku dan langsung menghampirinya


ibuku hanya menatap wajahku dengan ekspresi sedih. tangannya mencoba untuk menggapai wajahku. aku menggenggam tangan ibuku dan membantunya untuk meraih wajahku. 


" putriku.." panggil ibu


"nne eomma*( iya ibu) aku di sini" sahutku


"aku akan memanggil dokter yang berjaga dan memberitahunya bahwa bibi sudah sadarkan diri" ucap seo jin dan pergi keluar


"apakah itu pria yang pernah menginap di rumah kita hye jin, sayang?" tanya ibuku


aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan ibuku


"apakah kedatangan dia ke sini untuk mengajakmu kembali lagi ke chicago?" tanya ibuku


"haah....eomma*(ibu) bisakah kita tidak membicarakan dirinya? aku lebih mengkhawatirkan keadaanmu saat ini" ucapku


"benar sayang apa yang dikatakan oleh putri kita. sebaiknya kau khawatirkan keadaanmu saat ini dan beristirahatlah" ucap ayahku


"ehem...bagaimana nyonya keadaan anda saat ini? apakah ada keluhan yang anda rasakan lagi setelah diberikan therapi cairan infus?" tanya dokter tiba-tiba yang datang untuk meilihat keadaan ibuku yang sudah sadar


"aku sudah merasa baikan dokter. hanya saja aku masih merasa lemas" ucap ibuku


"tentu saja anda merasakan lemas nyonya tae hae. karena anda telah kehilangan banyak cairan tubuh dan asam lambung yang tinggi"


"jika tidak segera ditangani, kemungkinan nyawa anda tidak akan tertolong lagi"


"Untuk saat ini, cobalah untuk mengurangi stres anda dan coba makan serta minum  secara teratur" ucap dokter


"Sebaiknya anda di rawat dan beristirahat di rumah sakit ini kurang lebih selama 3 hari, setelah anda mengalami perbaikan, anda boleh pulang, nyonya" ucap dokter jaga memberitahu informasi pada keluargaku


"Apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?" Tanya dokter jaga


"Jika tidak, silahkan perwakilan keluarga untuk segera ke bagian administrasi untuk menyelesaikan proses rawat inap. Saya permisi dulu" ucap dokter jaga lalu pergi meninggalkan kami


"Ibu, ayah, aku akan pergi ke bagian administrasi" ucapku


"Aku akan menemanimu" ucap seo jin reflek saat aku bergegas ingin ke bagian administrasi


"Tunggu anak muda" ucap ibuku memanggil seo jin


"Bisakah aku bicara sebentar denganmu?" Tanya ibuku


Aku dan seo jin saling bertatap agak lama hingga akhirnya seo jin bersedia bicara dengan ibuku didampingi dengan ayahku


"Ya...aku bisa, bi" ucap seo jin


"Baiklah bu, kalau begitu aku akan pergi ke bagian administrasi" ucapku meninggalkan mereka


Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan ibu ke seo jin


Namun aku mencoba untuk menghiraukan pikiranku dan segera pergi ke bagian administrasi


Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyelesaikan proses administrasi rawat inap ibuku, aku hanya perlu menyerahkan kartu jaminan kesehatan milik ibuku ke bagian administrasi dan ruangan untuk pasien inap pun selesai


Saat aku ingin kembali ke ibuku, aku bertemu supir ohh di lorong rumah sakit sambil membawa tas jinjing warna kuning yang tidak asing bagiku


Supir ohh sangat terkejut saat bertemu denganku, ia berlari menghampiriku dan tersenyun sumringah


"Nona hye jin!" Seru supir ohh


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu bertatap muka seperti ini" ucap supir ohh


"Aku sangat merindukan anda" ucap supir ohh lagi


"Oh iya?! Bukankah kau sudah melihatku selama sebulan terakhir ini?" Sindirku sambil cengengesan


"Jadi anda sudah mengetahuinya dari tuan seo jin" ucap supir ohh dengan ekspresi canggung


"Kenapa kau tidak langsung menyapaku supir ohh? Dan ikut seperti seorang stalker bersama tuanmu" ucapku


"Maafkan aku, nona hye jin. aku hanya mengikuti tuan park dan ingin melihat keadaan kehidupanmu semenjak kembali dari chicago" ucap supir ohh


"Lalu...bagaimana menurutmu keadaan hidupku? Apakah sangat menyedihkan?" Sindirku sambil cengengesan


"Itu..." ucap supir ohh ragu


"Nona kim...ku mohon kembalilah ke chicago dan tuntaskan apa yang belum kau selesaikan"


"Kau tidak boleh lari seperti ini" ucap supir ohh sambil menggenggam kedua tanganku dan mengayun-ayunkannya


"Memangnya apa lagi yang belum ku selesaikan supir ohh?" 


"Keadaanku memburuk setelah keluar dari penjara. Ku rasa kau tahu apa yang ku alami setelah kau melihat kehidupanku secara langsung selama satu bulan ini" ucapku pada supir ohh


"Aku yakin nona, tuan park akan membantumu keluar dari kehidupanmu yang terpuruk ini. Ku mohon percayalah pada tuan seo jin, nona" pinta supir ohh


"Apa kau lupa siapa orang yang membuat kehidupanku terpuruk seperti ini?" Tanyaku


"Ku rasa sudah cukup bagiku untuk terlibat dalan kehidupan majikanmu, supir ohh. Tidak ada lagi yang bisa ku percaya dari seo jin"


"Aku tidak ingin bergantung pada siapapun lagi" ucapku sambil berusaha melepas genggaman tangan supir ohh


"Aku hanya ingin berada di sini bersama kedua orang tuaku dan hidup bersama mereka"


"Saat ini mereka berdualah sumber kebahagiaanku. Aku bisa bekerja sambil melihat mereka dan makan bersama mereka di pulau kecil ini"


"Yah...meskipun tingkat ekonomiku tidak terlalu bagus tapi aku bisa mengatasinya" ucapku pada supir ohh yang terlihat sedih


"Oh iya...apa yang kau bawa? Sepertinya tas jinjing itu milik ayahku" ucapku mencoba mengalihkan topik pembicaraan


"Aahhh....ini. aku tadi kembali ke rumahmu dan mengambil beberapa pakaian ganti untuk ibu anda, nona. aku yakin ibu anda pasti akan di rawat di sini mengingat aku melihat kondisi langsung ibumu saat tidak sadarkan diri" ucap supir ohh sambil menyerahkan tas jinjing berwarna kuning itu kepadaku


"Syukurlah kau berada di sekitar sini, supir ohh. Aku sangat berterima kasih padamu. Jika bukan karenamu, mungkin aku tidak bisa lagi menyentuh tangan ibuku" ucapku pada supir ohh sambil menerima tas jinjing yang dibawa supir ohh


"Sudah sepatutnya aku menjalankan tugasku untuk memantau orang tua anda, nona. Selama tuan park mengawasimu saat berada di seoul mencari pekerjaan"


"Ku rasa sebaiknya anda mengucapkan  terima kasih pada tuan park, jika bukan karena intruksi dari tuan park, mungkin aku tidak bisa membawa ibu anda ke rumah sakit dan mengikuti tuan park ke seoul mengawasimu" ucap supir ohh menyindirku


Aku terdiam beberapa detik saat supir ohh menyindirku seperti itu


"Baiklah...aku akan mencobanya jika moodku sedang baik. Sejujurnya hingga saat ini ingin sekali aku menghajar wajah tuanmu yang menyebalkan itu karena mengingatkanku tentang kejadian buruk saat aku berada di chicago"  ucapku pada supir oh namun reaksinya justru membuat supir ohh tercengang


"Bercanda hahaha...."


"Oh iya apa kau ingin melihat keadaan ibuku? Ia sudah sadar" ucapku mencairkan suasana


"Ahh...Syukurlah jika ibumu sudah sadarkan diri, nona kim"


" Mmm...ku rasa aku ingin mampir membeli kopi ke cafetaria rumah sakit" ucap supir ohh canggung


"Apa kau ingin menitip sesuatu?" Tanya supir ohh


"Aahh...tidak supir ohh, terima kasih." ucapku sungkan


"Baiklah kalau begitu sampai ketemu di tempat ibu anda, nona" ucap supir ohh sambil melambaikan tangannya dan meninggalkanku yang sedang berdiri sambil tersenyum


Setelah bertemu dengan supir ohh dan menerima tas berisi pakaian ibuku, aku kembali meneruskan jalan menelusuri lorong rumah sakit agar tiba di tempat tidur ibu


Pertemuanku dengan supir ohh melupakan rasa penasaranku dan kejadian bahwa saat ini ibu dan ayahku sedang berbincang dengan seo jin hingga tidak sadar saat aku sudah sampai di IGD dan berada dekat dengan tempat tidur ibu, tidak sengaja mendengar suara tangis ibuku yang telah sekian lama tidak pernah ku dengar


Ku rasa saat terakhir ibuku menangis meraung seperti ini ketika ia melihat kondisi cha young yang hidup mengenaskan saat aku dan cha young masih kecil


Ibuku menangis karena kebaikanku yang begitu menyayangi cha young layaknya saudara kandungku sendiri. Ibuku tidak tega melihatku menangis dan memohon padanya terus menerus untuk membantu cha young. Hingga akhirnya ibuku luluh dan memutuskan untuk menganggap cha young seperti putri kandungnya sendiri


Dan kini aku mendengar suara ibuku yang sedang menangis dengan tersedu-sedu di hadapan ayah dan juga seo jin dari balik tirai


"....bagaimana mungkin kehidupan putriku menjadi mengenaskan seperti ini?"

__ADS_1


"Apa kesalahan putriku padamu hingga kau sangat tega memperlakukannya seperti itu, anak muda?" Tanya ibu yang sepertinya ditujukan pada seo jin


"maafkan aku, aku hanya melakukan yang terbaik untuk hye jin"ucap seo jin membela diri


"Terbaik katamu?? Jika kau berusaha memperlakukan baik pada putriku, harusnya kau tidak membuat kesalahan fatal lainnya setelah kejadian buruk di hotel yang salah mengira bahwa putriku adalah istrimu dan menjebloskannya ke dalam penjara" ucap ibuku


Aku yang mendengar hal itu hanya bisa menarik nafasku sedalam-dalamnya dan memejamkan mata


Sebenarnya apa yang telah kau katakan pada kedua orang tuaku, seo jin? Apakah kau ingin membuat ibuku mati di hadapanmu karena mendengar kejadian yang sesungguhnya pada awal pertemuan buruk kita?


"Kau beruntung anak muda, jika bukan karena alasan wajah putriku dan istrimu mirip, dengan senang hati aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri karena sudah menyentuh putriku dengan seenaknya"  ucap ayahku


"Aku tahu kejadian ini juga merupakan ikut campur  dari tangan dewa, putriku dan istrimu dipertemukan di waktu yang salah. Oleh karena itu aku akan berusaha untuk memaafkanmu" ucap ayahku lagi


"Ini semua salahku! Jika...jika seandainya aku tidak mengijinkan putri kita mengambil beasiswa dan kuliah di sana, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dan masa depan anak kita tidak akan menyedihkan seperti ini huhuhu...." ucap ibuku


"Tidak sayang, ini semua bukan salahmu. Penyakit gangguan kecemasan putri kita juga bukan kesalahanmu"


"Kita hanya menunggunya untuk bercerita pada kita, namun putri kita berusaha untuk menutupinya karena tidak ingin kita merasa sedih. Itu sudah merupakan keputusannya" ucap ayahku


"Harusnya..kita jangan menunggunya untuk bercerita, tapi kita harus memaksanya untuk bercerita pada kita orang tuanya, hingga ia tidak semakin parah seperti ini" balas ibuku


"Ini juga kesalahanmu, kau yang selalu menghalangiku saat aku ingin memaksa putri kita untuk bercerita tentang kejadian buruknya saat berada di negeri orang" ucap ibuku menyalahkan ayah


"Aku hanya berpikir bahwa tidak seharusnya kejadian buruk diceritakan ulang, sayang. Sudah sewajarnya kejadian buruk bahkan kejadian kelam sekalipun tidak perlu diingat-ingat lagi karena akan menyakitkan" ucap ayah membela diri


"Tapi aku tidak menyangka bahwa semakin disimpan kenangan buruk itu, justru makin memperparah keadaan putri kita" ucap ayah lagi


"Hye jin hanya mengira kalian baik-baik saja selama ini karena kalian tidak membahas atau menanyakan perasaannya selama ia tinggal di chicago. Ku rasa jika hye jin tahu kalian saling menyalahkan satu sama lain, ia akan merasa sangat sedih"


"Karena kalianlah, orang tuanya yang membuatnya bisa hidup hingga sekarang" ucap seo jin


"Jadi...izinkan saya untuk membujuk hye jin sekali lagi. Jika saya gagal sekali lagi untuk membujuknya melakukan pengobatan, saya meminta tolong pada kalian untuk membantu saya bicara dengannya"


"Mungkin bujukan kalian akan berpengaruh terhadap keputusan hye jin" ucap seo jin lagi


"Baiklah anak muda, kami akan membantumu untuk membujuk putriku jika kau kesulitan untuk membujuknya melakukan therapi untuk kesehatan mentalnya" ucap ayahku pada seo jin


"Omong-omong sayang, bukankah kita berbicara sudah terlalu lama, aku takut apa yang kita bicarakan akan membuat putri kita merasa sedih" ucap ibuku


"Kita harus terlihat baik-baik saja di hadapannya" ucap ibuku lagi


Kedua mataku berkaca-kaca saat  mengetahui keadaan orang tuaku yang sebenarnya hanyalah berpura-pura terlihat baik-baik saja di hadapanku


Begitu aku mendengar ucapan ibuku yang sedang mengkhawatirkan keberadaanku saat ini, aku segera melangkahkan kakiku dan beranjak pergi dari sini secepatnya


Aku tidak ingin menganggu perbincangan mereka bertiga dan berpura-pura seolah aku tidak tahu isi perbincangan mereka


Aku memutuskan keluar dari rumah sakit untuk mencari angin segar dan menenangkan perasaanku yang sangat bergejolak ingin menumpahkan semuanya


Aku hanya merasa jika saat ini aku meluapkan semua perasaanku, aku akan berubah menjadi wanita gila yang tidak terkendali


Suara burung-burung dan desiran suara ombak mulai perlahan meredamkan perasaanku


"Kim hye jin!" Panggil seseorang tiba-tiba saat aku sedang menenangkan diri


"Kenapa kau tidak masuk setelah menyelesaikan administrasi?" Tanya pria itu


"Aku ingin mencari udara segar" ucapku singkat dan membelakanginya


"Kenapa kau tidak langsung masuk dan ikut bicara ketika kau tahu bahwa aku sedang bicara mengenai masalahmu kepada orang tuamu" Tanya seo jin


"Apa kau takut mereka akan semakin sedih?" Tanya seo jin lagi yang mulai memancingku


"Kenapa kau memberitahu pada mereka semuanya?" Tanyaku


"Karena ku pikir sebaiknya kau tidak perlu menutupinya lagi pada mereka" ucap seo jin


"Jika kau tidak sanggup menceritakannya pada mereka, maka aku sendiri yang akan menceritakan kejadianmu pada orang tuamu selama kau tinggal di chicago dari awal pertemuan kita hingga sampai detik ini" ucap seo jin serius


"Waaah....lancang sekali kau, tuan" ucapku sambil berkacak pinggang


"Memangnya kau pikir...siapa dirimu hingga kau berhak menceritakan semuanya pada orang tuaku?" Tanyaku lagi


"Karena mereka adalah orang tuamu, orang yang mengurusmu sejak kau lahir ke dunia ini. Dan mereka berhak tahu kejadian yang kau alami dan kondisimu saat ini, hye jin"


"Begitu juga dengan dirimu hye jin, kau berhak tahu tentang kejadianku pada malam itu"


"Malam sebelum acara pemilihan direktur real estate rose di adakan besok"


"Mungkin kau bertanya-tanya kenapa diriku hilang secara mendadak dan tidak menemuimu hingga kau masuk ke dalam penjara dan bertemu denganmu lagi saat hari persidanganmu tiba" ucap seo jin


"Kau sudah membuangku seo jin pada hari itu..." ucapku memotong


"Aku tidak pernah membuangmu!..." sahut seo jin


"Ya! Kau membuangku!.." ucapku yang mulai bernada agak tinggi


"Sungguh tidak, hye jin!" sanggah seo jin


"Kau membuangku!" Ucapku lagi


"KAU MENGUSIRKU DAN MENYURUHKU MENGEMAS BARANG-BARANGKU PADA HARI ITU!!" Teriakku pada seo jin hingga membuatnya terdiam


"Kau membuangku seperti sampah dan menyuruhku pergi dari rumahmu layaknya seekor anj*ng yang sudah tidak menuruti ucapan tuannya lagi" ucapku


"Kau jelas-jelas memberitahu identitasku yang sebenarnya ke para pegawai rumahmu dan mempermalukanku seperti badut"


"Aku masih mengingat jelas bagaimana tatapan aneh para pelayanmu terhadapku saat kau mengatakan bahwa aku adalah nyonya palsu yang hidup di rumahmu"


"Kau bahkan tega membiarkanku pergi dengan pakaian tipis yang menempel di tubuhku dan aku tidak tahu akan pergi kemana"


"Sedangkan kau??..."


"Menikmati sarapanmu dan segelas kopi hangat di hari pertama turunnya salju pada saat itu" ucapku yang mengungkit masa lalu


"Aku tidak benar-benar mengusirmu pada saat itu, hye jin" ucap seo jin


"Aku hanya marah padamu karena kau diam-diam berhubungan dengan hajung dan mencoba mencari bukti kejahatan yang dilakukan oleh ayah mertuaku selama ini, yang jelas-jelas justru membuat nyawamu terancam" ucap seo jin


"Padahal aku dan dong il sudah sepakat untuk membuatmu terlepas dari jeratan yang membuatmu terbelenggu oleh masalah keluargaku"


"Jika kau tidak berhubungan dengan hajung, hidupmu mungkin baik-baik saja dan ayah mertuaku akan menepati janjinya untuk melepasmu saat acara pemilihan direktur real estate selesai"


"Dan kau bisa kembali ke dalam kehidupanmu seperti semula..."


"Apakah itu rencanamu?" Tanyaku memotong


"Iya...itu rencanaku. membuatmu terlepas dari jeratan ayah mertuaku..."


"Apakah itu sungguh rencanamu, park seo jin?" Tanyaku ulang


"Berapa kali aku harus mengatakannya.."


"Apakah kau pikir rencanamu itu adalah jalan keluar yang adil untuk semua pihak?.." tanyaku


"Aku hanya perlu menyelamatkanmu, aku tidak perlu mencari jalan keluar untuk semua pihak..."


"Your's plan is really **** mother f*cker!!" Teriakku lagi mengucapkan kalimat kasar sambil menunjuk jariku ke arah seo jin


Lagi-lagi seo jin terdiam saat kami sedang beradu mulut dan aku selalu mengakhirinya dengan teriakan atau kalimat kasar


Karena aku pikir seo jin layak mendapatkan kalimat itu


"Apakah kau pikir dengan rencanamu itu, aku akan hidup bahagia dan kembali menjalani hidupku dengan damai?" Tanyaku pada seo jin


"Hell no!" Ucapku menjawab sendiri ucapanku


"Harusnya kau tahu siapa musuhmu yang sebenarnya, park seo jin"


"Musuh yang seharusnya kau berantas hingga ke akarnya agar tidak ada lagi kejadian buruk yang merugikan orang lain" ucapku pada seo jin


"Apa kau sadar bahwa kau sudah bersikap keterlaluan pada sung hajung?"


"Harusnya sejak awal kau tidak perlu memusuhinya dan memperlakukan sepupu istrimu layaknya sampah pada saat dong il masih berjaya dengan kesuksesan semunya"


"Justru ayah mertuamulah yang perlu diperlakukan seperti sampah karena perbuatannya yang melebihi sampah busuk di tempat pembuangan akhir" ucapku pada seo jin


"Kau tahu, jika bukan karena hajung, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini dan kau...."


"Hanyalah pembawa sial yang mengantarku untuk menemui ajal" ucapku


Seo jin terlihat kacau di hadapanku, mau tidak mau ia harus menerima   ucapanku barusan adalah kenyataan yang sebenarnya


"Kau benar hye jin, aku hanyalah pembawa sial bagimu" ucap seo jin dengan lirih


"Aku adalah seorang pengecut yang tidak berani menghadapi ayah mertuaku"


"Aku hanyalah pria bren*sek, pengecut, egois yang tidak memikirkan kepentingan orang lain"


"Ahh...satu lagi, aku adalah pria bodoh yang mudah tertipu oleh ayah mertuaku"


"Tapi...ketahuilah, hye jin. Aku sungguh tidak berniat mengusirmu dari rumahku" ucap seo jin yang mulai menangis


"Jika aku benar-benar membuangmu, pada hari itu, aku tidak akan  melacak dan menjemputmu serta menyeretmu secara paksa dari apartement hajung"


"Pada hari itu, setelah aku memastikan bahwa demammu sudah mulai turun, aku berniat untuk pergi ke kantor hajung untuk memperingatkan dirinya agar tidak menempel padamu dan memohon pada ayah mertuaku untuk mengampunimu lalu memberikanmu kesempatan terakhir"


"Tapi...saat aku hendak pergi untuk melaksanakan semua kegiatanku, sebuah nomor yang tidak dikenal menghubungiku beberapa kali"


"Dan setelah aku mengangkat panggilan telepon itu, aku tidak akan pernah menyangka bahwa aku menerima panggilan dari seseorang yang terbaring koma dan memintaku untuk menemuinya detik itu juga"


"....aku langsung menemui deok mi ke rumah sakit hawai pada malam itu, hye jin" ucap seo jin menceritakan hal yang belum aku ketahui


"Ia sudah siuman dari komanya dan sengaja menutupinya dari siapapun kecuali desaigner pribadi deok mi yang memang sudah loyal padanya sedari dulu"


"Bisa dibilang hanya itu satu-satunya orang kepercayaan deok mi pada saat itu"


"Deok mi tidak mempercayai keluarganya atau bahkan suaminya sendiri dan takut kehidupannya terancam jika salah satu dari kami tahu deok mi siuman"


"Awalnya aku tidak percaya pada deok mi saat ia menceritakan bahwa ayahnya berusaha untuk membunuhnya dan mengatakan hal itu hanyalah prasangka buruk yang berlebihan saja"


"Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa ayah deok mi adalah orang baik sepenuhnya, ia terkadang melakukan hal jahat di luar orang normal pada umumnya jika keadaannya mendesak atau terpaksa demi untuk memprioritaskan sesuatu yang sangat penting di hidupnya"


"Aku tahu selama ini ayah mertuaku melakukan bisnis tidak sepenuhnya dengan cara yang benar, tapi waktu itu aku hanya berpikir, ia sengaja melakukan itu pada orang-orang yang memang pantas mendapatkannya"


"Seperti tuan tanah yang menjual tanahnya dengan harga selangit, atau terhadap tuan tanah yang mengingkari perjanjian awal lalu meminta tambahan biaya lagi hingga menghambat proses pembangunan properti di atas tanah tersebut"


"Aku tidak akan menyangka bahwa selama ini tindakan yang tidak benarnya justru ia lakukan sama rata ke orang-orang. Hingga harusnya para tuan tanah yang harusnya mendapatkan haknya dalam proses penjualan tanah, kini tidak mendapatkannya"


"Dan kenyataan bahwa ayah mertuaku lebih mencintai perusahaannya dibandingkan putrinya sendiri ketika deok mi memberikanku sebuah fakta yang membuatku terkejut dan pada akhirnya aku sadar, bahwa ayah mertuaku sudah melewati garis batas berlebihan hingga menjadi seorang kriminal dan sosok yang berbahaya jika dibiarkan berkeliaran bebas di dunia ini"


"Aku tidak tahu bahwa kejahatan ayah mertuaku sekelas dengan level kejahatan para mafia yang menghalalkan segala cara" ucap seo jin


"Setelah ayah mertuaku tahu bahwa putrinya memiliki kembarannya di dunia ini, ia memiliki rencana jahat untuk membuang putrinya sendiri karena sudah tidak berguna lagi untuk perusahaan dan berencana menjadikanmu pengganti putrinya lalu memanfaatkan kepolosanmu" ucap seo ji bercerita panjang lebar


Kali ini aku tidak menyuruhnya untuk berhenti menceritakan kejadian yang belum aku dengar versi seo jin sendiri karena aku memilih untuk melarikan diri ke korea


"Dong il berencana menyingkirkan putrinya sendiri dengan cara membunuhnya lalu dibuat seolah-olah itu hanya kecelakaan lalu lintas"


"Dong il sudah memprediksi bahwa kemungkinan deok mi dan pria yang bersamanya akan meminum minuman alkohol di club malam itu dan dianggap sebagai kelalaian pengemudi jika pun harus kehilangan nyawa karena mengendarai mobil dibawah pengaruh alkohol"


"Dan tentunya hukuman untuk pengemudi truk akan dikurangi dan tidak akan terlalu lama mendekam di penjara karena penyebab kecelakaan itu tidak hanya melibatkan pengemudi truk saja melainkan dari faktor korban juga"


"Deok mi mengatakan semuanya padaku di malam sebelum acara pemilihan direktur real estate rose di rumah sakit hawai"


"Pada malam itu aku tidak pulang ke rumah dan melupakanmu yang sedang menungguku di rumah sendirian" ucap seo jin


Sebenarnya aku tidak menunggumu di rumah sendirian, seo jin. Aku pergi ke apartement hajung dan bermalam di sana karena rumahmu yang besar itu seperti rumah hantu bagiku


"Aku mendengarkan cerita deok mi semalaman dan alasan ia hidup seperti itu selama ini"


"Dan aku baru tahu, deok mi tidak pernah memiliki perasaanku sama sekali dan ia mau menikah denganku karena desakkan dari ayahnya"


"Deok mi sudah memiliki laki-laki yang ia cintai tapi hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua mereka meskipun sudah berusaha untuk mendapat restu. Tapi tetap saja orang tua deok mi tidak menyetujui hubungannya dengan pria itu dan justru menentangnya"


"Hingga datanglah aku di sebuah acara pertemuan para keluarga konglomerat yang diadakan tiap tahun sekali. Di sanalah aku bertemu dengan sung dong il dan bertemu dengan deok mi"


"Aku...."


"....jatuh cinta dengan deok mi pada pandangan pertama dan dong il menyadari hal itu"


"Hingga beberapa minggu kemudian, dong il mengundangku dan keluargaku untuk menghadiri perjamuan makan malam di rumah deok mi"


"Lalu merencakan pernikahan kami"


"Ku kira deok mi juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, menyukai diriku pada pandangan pertama, tapi nyatanya ia sudah memiliki pria yang ia cintai"


"Hari-hari terakhirku sebelum menikah dengan deok mi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk menghentikkan sikap burukku yaitu bermain dengan wanita lain  dan melepas masa lajangku untuk setia hanya pada satu orang yaitu deok mi"


"Tapi...tak berapa lama saat aku menikah dengan deok mi, ia mulai selingkuh dariku dan memadu kasih dengan kekasihnya yang dulu"


"Bodohnya aku tidak mengamuk dan berteriak padanya, aku hanya berpikir, apakah ini adalah karmaku karena aku telah mempermainkan banyak wanita?"


"Aku terus berpikir seperti itu tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa deok mi sudah memiliki pujaan hati lainnya sebelum bertemu denganku"


"Deok mi rela membuang kehidupannya dan memenuhi keinginan ayahnya tapi suatu hari deok mi menemukan bukti bahwa ayahnya hanya memanfaatkan dirinya dan berencana menjadikannya kambing hitam jika ketahuan perusahaan telah menajalani praktek bisnis yang curang"


"Deok mi yang mengetahui hal itu, perlahan-lahan mulai tidak menampakkan dirinya di kantor dan cenderung menikmati hidupnya dengan cara ia sendiri"


"Ia terus menghilang dan menjauh dari keluarganya, beberapa kali ia diikuti oleh anak buah sung dong il dan berhasil menangkapnya"


"Anak buah dong il juga tidak ragu untuk melukai kekasih deok mi, namun kekasihnya tetap bertahan dan mencintai deok mi dengan tulus"


"Ia hanya bersikap baik pada kekasihnya saja, selain itu, ia bersikap sangat egois dan menyebalkan serta hidup dengan seenaknya sendiri"


"Hingga ia tidak menyadari bahwa sikapnya yang selalu seenaknya itu, justru merugikan orang lain"


"Lalu ia bertemu denganmu dan berharap kau adalah penyelamat hidupnya yang bagaikan neraka"


"Deok mi dibesarkan dan di didik untuk menjadi seseorang yang diktator dan superior."


" Ia tidak tahu bagimana cara menghargai orang lain dan menurutnya, hanya uang lah yang  bisa menyelesaikan semua masalah"


"Oleh karena itu saat deok mi bertemu denganmu, pikirnya kau bisa dibayar dengan uang dalam jumlah besar dan semua masalah di hidupnya juga bisa selesai"


"Deok mi tidak tahu bahwa dirimu bukanlah orang yang sangat mencintai uang dan memprioritaskan uang adalah segala-galanya"


"Kau adalah orang yang berbeda hye jin dan itulah pesona yang ada di dirimu" ucap seo jin


Aku hanya diam tidak menggubris ucapan seo jin, aku hanya menjadi pendengarnya saja


"Deok mi memintaku untuk tidak muncul saat acara pemilihan direktur real estate rose agar bisa melihat kekejaman apa lagi yang akan dilakukan dong il" lanjut seo jin setelah mengambil nafas


"Tentu saja aku menolaknya, karena aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian saat acara pemilihan direktur berlangsung"


"Aku harus mendampingimu dan segera bergegas untuk kembali ke chicago"


"Saat aku hendak pergi dari kamar perawatan deok mi, ia memanggilku lagi dan meminta tolong padaku untuk memberikannya air minum yang ada di  sebrang tempat tidurnya"


"Tidak ada hal mencurigakan dari deok mi, hingga ia menyemprotkan sesuatu padaku tepat di depan wajahku dan aku seketika menghirup cairan dari semprotan itu"


"Sesaat sebelum aku jatuh pingsan, deok mi mengatakan padaku bahwa ia meminta maaf karena telah bertindak sejauh ini guna ingin memberitahuku bahwa dong il mampu bertindak lebih jauh dari yang ku kira"


"Deok mi bilang, aku terlalu mengkhawtirkan dirimu hingga aku lupa dan tidak sadar siapa lawanku sebenarnya" ucap seo jin


"Keesokan siangnya, aku terbangun dan terbebas dari pengaruh obat bius yang disemprotkan oleh deok mi"


"Aku geram padanya lalu deok mi memperlihatkanku dari televisi sebuah berita penembakan yang terjadi di aula perusahaan real estate rose"


"Dan pelakunya adalah seorang mahasiswi imigran yang sedang kuliah di chicago"


"Melihat hal itu, tentu saja membuatku terkejut bukan main"


"Dengan santai deok mi mengatakan padaku, bahwa ayahnya mampu melakukan tindakan hingga sejauh ini saat kau mencoba membeberkan kerja kotor bisnis dong il selama ini ke media"


"Deok mi memberitahuku bahwa ia memiliki rencana untuk bisa membebaskanmu, tapi tidak bisa secepat yang aku bayangkan"


"Aku harus menunggu hari persidanganmu, dengan kata lain aku harus membiarkanmu menjalani hari-hari di dalam penjara"


"Mendengar hal itu tentunya membuatku semakin khawatir dengan keadaanmu, tapi..."


"Deok mi memberitahuku, jika aku melakukan tindakan diluar rencana, justru akan memancing dong il untuk selalu waspada hingga kesempatan untuk membebaskanmu akan sulit di lakukan"


"Jika aku salah langkah, kau bisa berakhir di penjara untuk selamanya"


"jika dong il tahu putri kandungnya sudah siuman, tentu saja ia akan membuangmu dan membiarkanmu berada di penjara untuk selamanya"


"Oleh sebab itu, deok mi memintaku untuk menyembunyikan kabar bahwa dirinya telah siuman dari siapapun, ia memintaku untuk mengatakan pada ayahnya bahwa harapan deok mi untuk hidup sangatlah tipis"


"Deok mi pernah mengatakan padaku, jika dong il adalah tipe orang yang hati-hati dan cenderung menyalahkan orang lain dengan cara menjebaknya"


"Oleh karena itu deok mi juga akan memakai cara yang sama, yaitu membiarkan dong il membuat rencana untuk menjebak seseorang tapi justru hal itu akan membuat dirinya jatuh ke dalam perangkapnya sendiri"


"Deok mi bisa memprediksi tindakan apa yang dilakukan ayahnya jika putri kandungnya tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk keuntungan perusahaannya"


"Ia akan mencarimu dan memanfaatkan dirimu secara maksimal mungkin agar bisa melindungi perusahaannya dan menjadikanmu kambing hitam lainnya serta tameng jika suatu hari cara kerja kotor perusahaan yang dilakukan dong il ketahuan oleh para pemegang saham"


"Deok mi menghubungi pengacara terpercayanya dan sengaja mendekati dong il untuk memakai jasanya agar bisa meletakkan peyadap dan mencari barang bukti baru bahwa ia telah memaksamu untuk menjadi putri kandungnya dengan cara mengancammu"


"Sesuai rencana deok mi, akhirnya dong il terperangkap oleh jebakannya sendiri dan mendapatkan senjata makan tuan"


"Aku juga beruntung karena dong il ternyata masih percaya dengan ucapanku bahwa kondisi deok mi tidak bisa di selamatkan"


"Hingga ia bergerak ke arahmu dan pengacara jamie mendapatkan bukti kejahatan dong il lalu kau pada akhirnya bisa keluar dari penjara setelah melalui persidangan"


"Aku minta maaf padamu karena telah membuatmu terlalu lama menungguku untuk menyelamatkanmu dan..."


" sempat membuat kampung halamanmu mengalami kerugian akibat kebakaran yang dilakukan dong il, meskipun aku tahu mengganti rugi saja tidak akan cukup, aku yakin ingatan warga tentang kebakaran itu, akan mengakibatkan trauma di dirinya"


"Begitu juga dengan dirimu, meskipun kau sudah keluar dari dalam penjara, tapi ingatan kelam selama kau hidup di sana akan terus membekas selama kau hidup"


"Untuk itulah aku ke sini untuk menjelaskan padamu tentang semua yang terjadi selama kau berada di dalam penjara" ucap seo jin


"Aku bukannya mencari alasan untuk tidak menyelamatkanmu secepatnya, kim hye jin"


"Hanya saja aku harus terpaksa melakukan hal itu agar rencana deok mi untuk bisa menyelamatkanmu berjalan dengan baik"


"Ku harap setelah mendengarkan ini kau bisa merubah keputusanmu, hye jin" ucap seo jin yang sepertinya sudah mulai menyelesaikan ceritanya


"Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan kehidupanmu dengan cara seperti ini,  bersembunyi dan terlarut dalam masa lalumu yang buruk"


"Jika kau terus hidup seperti ini, tidak akan ada bedanya hidup didalam penjara yang dibuat oleh dong il dan penjara yang dibuat oleh dirimu sendiri"


"Kau masih muda hye jin, hidupmu masih panjang. Kau berhak hidup bahagia..."


"Bekerja di tempat yang layak, mendapatkan prestasi, memiliki pasangan yang baik untukmu dan menikah dengannya serta memiliki keluarga kecil yang bahagia" ucap seo jin meberitahuku


"Maafkan aku jika aku harus menggurui, tapi...sebagai orang yang pernah tinggal satu atap denganmu.."


"Aku hanya ingin kau hidup bahagia" ucap seo jin


"Kim hye jin, maukah kau kembali lagi ke chicago bersamaku?" Tanya seo jin padaku sambil mengulurkan tangannya ke arahku


Aku memandang seo jin dan melihat tangannya yang sedang menunggu tanganku untuk menerima uluran tangan darinya


Bukannya menerima uluran tangan dari seo jin, aku justru mengepalkan tangan kananku dan memukul wajahnya yang menyebalkan itu tepat mengenai hidungnya


'BUK!'


Seo jin sempat terhuyung akibat terkena pukulan bogem mentahku


Seo jin berusaha kembali berdiri dengan seimbang setelah mendapat pukulan dariku


"Yang tadi itu adalah hukuman untuk dirimu karena telah menjadi seorang pria yang pengecut" ucapku


"Baiklah hye jin, aku akan menerima pukulan...." ucap seo jin terpotong


'BUKK!!'


Aku kembali lagi memukul seo jin dan mengenai pipi kanannya


Tidak seperti tadi, seo jin sepertinya sudah siap menerima pukulan dariku, ia tetap berdiri dengan seimbang


"Itu hukuman untukmu karena kau selalu mengecewakanku" ucapku lagi


"Baik kim hye jin. Lakukanlah apapun yang kau mau" ucap seo jin


"Aku akan berusaha menahan..." ucap seo jin terpotong lagi


'BUK!!'


Kini aku memukul seo jin di bagian pipi kirinya


"Haah...lalu itu hukumanmu karena sengaja membiarkanku mendekam di dalam penjara dan hampir membuatku gila" ucapku pada seo jin


"Kim hye jin, ku rasa kau sudah tau apa alasanku tidak segera membiarkanmu keluar dari dalam penjara" protes seo jin


"Ohh....aku tidak peduli apapun alasanmu, yang jelas kau sudah melanggar janjimu yang mengatakan tidak akan membuatku mendekam di dalam penjara" ucapku


"Hemm....bisa juga kau menganggapnya pukulan yang tadi adalah hukuman untukmu karena telah melanggar janji padaku" ucapku lagi


Seo jin menatap heran padaku sambil meringis kesakitan


"Kenapa? Apa kau mau protes?" Tanyaku pada seo jin


"Ania*(tidak). Aku tidak akan protes apapun lagi terhadapmu" ucap seo jin pasrah


"Hem....baiklah" ucapku sambil tersenyum simpul


'BUK!!'


Aku kembali memukul hidung seo jin untuk kedua kalinya


"Itu pukulan untukmu karena kau gagal melindungiku dari mara bahaya" ucapku


"Kim hye jin,maafkan aku jika aku melakukan interupsi ditengah-tengah hukuman"


"Bisakah kau memukul di area tubuhku yang lain? Tidak hanya di wajahku saja tapi di bagian...."


"Ukkhh...."


"Uhuk...uhuk..." seo jin terbatuk-batuk ketika aku memukul bagian perutnya


Entah karena aku memukul di area yang tepat atau pukulanku terlalu keras untuknya karena belum siap, seo jin tidak bisa berdiri dengan seimbang dan jatuh di tumpukan pasir pantai


Seo jin masih terlihat meringis kesakitan namun ia tidak berteriak meraung-raung karena ku rasa ia malu padaku


"Bangun park seo jin! Masih banyak kesalahanmu yang harus ku sampaikan padamu" ucapku pada seo jin


"Ukhh...baiklah kim hye jin, beri aku waktu sedikit..." ucap seo jin terpotong


Aku yang tidak sabar langsung menarik kerah coats seo jin dan memukul pipi kirinya lagi dan mengenai sudut bibirnya hingga berdarah


Sejenak aku memandang wajah seo jin yang mulai kacau. Saat itu hati kecilku perlahan mulai memiliki rasa sedih dan aku mulai menitikkan air mata untuk pertama kalinya selama setahun dalam keadaan sadar


Seolah aku seperti dirasuki oleh jiwa lain, aku tidak merasa kesakitan saat memukul seo jin, namun justru sebaliknya. Seo jin sudah mulai kewalahan untuk menerima pukulan beberapa kali dariku hingga ia mulai kesulitan untuk berdiri dengan seimbang


"Nona kim!!" Teriak seseorang memanggilku dari kejauhan


Aku sedikit kesulitan untuk memukul wajah seo jin saat ia mulai sulit untuk berdiri


Aku memutuskan memukul perut seo jin menggunakan lutut kaki kananku dengan keras dan mencengkram kerah coats seo jin menggunakan kedua tanganku


"Ini hukumanmu karena telah lancang memberitahu ke orang tuaku tentang semua kehidupan kelamku saat berada di chicago" ucapku


Seketika seseorang merangkul kedua tanganku dan berusaha menjauhkanku dari seo jin


Aku melihat seo jin yang mulai terjatuh lagi di pasir namun justru hal itu membuatku hilang kendali


Aku merasa masih belum selesai untuk menghajar seo jin dengan kedua tanganku sendiri


"Lepaskan!!" Teriakku pada pria yang mencoba menghentikkanku menghajar seo jin


"Nona kim hentikan!" Teriak supir ohh yang berusaha menghentikkanku


"Lepaskan aku supir ohh! Aku masih belum selesai menghajarnya" teriakku sambil berontak


Ku rasa supir ohh berusaha mencegahku dengan mengerahkan tenaganya


Aku yang mulai menggila terus berontak dan menendang-nendang udara ke arah seo jin, berharap aku bisa melepas lenganku yang terangkul oleh lengan supir ohh yang sudah mengunciku


Bak anak kecil yang sedang tantrum ketika tidak mendapatkan mainan yang diinginkan


Aku terus berteriak sambil menangis berusaha berontak agar supir ohh melepasku


"Ohh min suk lepaskan aku!!" Teriakku


"Tidak nona kim! Hentikkan semua ini"


"Ku mohon nona kim berhentilah" pinta supir ohh


"Tidak apa supir ohh lepaskan saja hye jin, biarkan dia melepaskan emosinya yang tertahan selama ini" ucap seo jin yang sudah dalam keadaan terhuyung-huyung


"Tapi tuan..." ucap supir ohh dan membuatku mendapat kesempatan untuk terlepas dari supir ohh


Begitu datang kesempatan aku segera berlari ke arah seo jin dan menendang tulang keringnya dengan keras hingga membuat dirinya terjatuh


Aku langsung menduduki tubuh seo jin dan mengepalkan tanganku lalu mulai memukulinya secara membabi buta


"Apa kau pernah dipukuli hingga babak belur oleh sekumpulan orang asing padahal kau merasa tidak bersalah, park seo jin?" Tanyaku


"Jika belum pernah, aku akan memberikanmu sensasi rasanya dikeroyok hingga babak belur" teriakku sambil menangis


Seketika aku mengingat kejadian saat aku dikeroyok oleh penghuni satu sel denganku


Semua teringat jelas di dalam pikiranku, suara cekikikan tawa mereka, suara caci makian mereka terhadapku, kini rasa sakit yang pernah ku dapat dari mereka, aku lampiaskan ke seo jin


Karena seo jin lah aku mengalami penderitaan dalam hidupku


Aku terus memukuli seo jin hingga punggung jemariku mulai berdarah karena terus-terusan memukuli wajah seo jin


Wajah seo jin kini sudah babak belur karena ulahku


Perlahan aku mendengar suara seo jin yang meminta maaf padaku


"Mianhae*(maafkan aku) kim hye jin" ucap seo jin


Saat aku mendengar suara pelan seo jin, aku mulai menghentikkan pukulanku


Masih dalam keadaan tangan mengepal, seo jin berusaha menggapai bekas luka  yang tidak bisa menghilang  dari keningku dengan tangan kanannya


Luka yang di dapat saat aku berada di dalam penjara, bertengkar dengan seorang narapida yang lain demi menjaga agar aku tetap hidup dan bernafas di dunia ini


Hembusan angin laut terus berhembus hingga dengan mudahnya membuat rambutku berkibar ke belakang


"Congmal mianhae*(aku benar-benar minta maaf) kim hye jin" ucap seo jin lagi sambil menangis


Air mataku telah beberapa kali jatuh ke atas wajah seo jin yang mulai babak belur


Sedangkan supir ohh terus memohon padaku untuk menghentikkan perbuatanku yang terus menghajar majikannya


Masih dalam keadaan menangis terisak-isak, perlahan aku mulai menurunkan kepalan tanganku, mencoba untuk memaafkan perbuatan seo jin padaku


Sekilas terlintas ingatanku saat seo jin mencoba menyelamatkanku dari pria pembunuh berantai yang nyaris menghilangkan nyawaku


Harusnya aku berutang nyawa padanya, tapi kesalahan seo jin membuatku ingin membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri


Pada akhirnya cengkraman tanganku mulai melemah dan menurunkan kepalan tanganku


Aku memukul dada seo jin sambil menangis sesenggukan. Supir ohh menepuk perlahan punggungku mencoba untuk menenangkanku


Hari ini aku akan mengingat dan mulai berdamai pada diriku sendiri, tidak masalah jika harus menangis. Bukan berarti tubuhku lemah dan tidak sanggup melawan segala masalah yang ku hadapi


Menangis tidak akan membuat diriku menjadi lembek, justru dengan menangis akan membuat diriku mampu memaafkan kesalahan orang lain dan memaafkan kesalahan pada diri sendiri


Aku meminta maaf pada tubuhku atas apa yang ku lakukan selama ini dan berterima kasih padanya karena terus menjadi kim hye jin yang kuat dan membuatnya terus bernafas dengan baik di dunia ini


Beberapa menit berlalu, memberikanku waktu untuk menenangkan diriku sebelum aku masuk ke dalam dan berhadapan dengan kedua orang tuaku


Seo jin dan supir ohh tetap berada di sampingku tanpa berkomentar apapun


Setelah aku yakin, diriku mampu menghadapi kedua orang tuaku, aku segera beranjak dari posisi dudukku dan menghiraukan pakaianku yang kotor karena pasir pantai


Aku berjalan masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui kedua orang tuaku, bermkasud ingin mengatakan perasaanku selama ini dan keputusan yang telah ku buat


Seo jin dibantu oleh supir ohh berdiri dan berjalan mengiringiku.


Beberapa orang melihat kami dengan tatapan aneh namun sebagiannya lagi menghiraukan kami


Sesampainya di tempat tidur ibuku, aku menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka tirai dan bicara dengan mereka


Aku melihat ayahku sedang memijiti kedua kaki ibuku yang sedang dalam keadaan posisi berbaring


Sontak kedua orang tuaku menatapku dan terkejut ketika melihat seo jin dalam kondisi babak belur akibat ulahku


"Astaga!! Apa yang terjadi padamu?" Seru ayahku


"Ayah ibu...ada sesuatu hal yang harus ku bicarakan pada kalian" ucapku dalam satu hembusan nafas


"Ini menyangkut masalah yang sedang ku hadapi saat ini" ucapku berusaha untuk menahan tangis


Ibu mendengarkanku dengan serius, terbukti saat ia mengganti posisi yang semula tiduran menjadi posisi duduk


Aku mendekatkan diri pada mereka berdua dengan duduk di atas tempat tidur dekat dengan kaki ibuku


"Eomma, appa*(ayah ibu)...naega*(aku)..memiliki masalah kesehatan mental sejak aku kembali dari chicago"


"Aku..."


"Aku mengalami ketakutan akut sejak aku keluar dari dalam penjara"


"Kehidupan di dalam sana benar-benar membuat kehidupanku berubah 180⁰ dan merubah sikapku" ucapku yang mulai menangis


"Selama ini aku selalu mengonsumsi obat penenang agar aku bisa tidur dengan nyenyak dan menghindari mimpi buruk yang terus membayangiku selama aku tinggal di dalam penjara"


"Dan maafkan aku, ibu, ayah karena hampir membuat kalian dalam bahaya akibat kebakaran yang terjadi di pulau ini setahun yang lalu"


"Ini semua salahku, karena seseorang mengancamku dan aku tidak ingin menurutinya, aku...hiks" ucapku terputus


ibuku segera memelukku saat aku mulai tidak sanggup untuk menceritakan semua kejadian buruk yang ku alami selama ini hingga membuat tangisku pecah kembali


"Eomma...*(ibu..) huwaa"


"Mianhae*(maafkan aku) telah membohongimu bahwa aku baik-baik saja, tapi nyatanya aku sangat kesakitan waaa...."


Ibuku terus mengusap kepalaku dengan lembut dan mendengar suara isak tangis dari ibuku. Begitu juga dengan ayahku yang mulai menangis melihat putrinya yang menangis meraung-raung


"Ibu tahu sayang, kau sangat kesakitan. Maafkan ibu dan ayahmu juga yang sejak awal kedatanganmu kembali ke pulau ini tidak menanyakan keadaanmu" ucap ibu


"Harusnya hal pertama yang ibu dan ayahmu tanyakan adalah 'bagaimana keadaanmu, nak? Apakah kau baik-baik saja?' Tapi ibu tidak pernah menanyakan hal itu padamu dan berpura-pura menganggapmu baik-baik saja meskipun ada hal yang mengganjal dari tingkah lakumu" ucap ibuku menjelaskan


"Jalam hidupmu sangat berat meskipun usiamu masih belia"


"Kami selalu menuntutmu bersikap dewasa padahal kau masih membutuhkan kami"


"Maafkan ibu, sayang karena memberikanmu beban hidup yang berat untuk kau tanggung selama ini" ucap ibuku


"Ania eomma, ania*(tidak ibu..tidak) justru karena kalian lah aku masih hidup hingga sekarang" ucapku pada ibu


"Jika tidak ada kalian, aku tidak akan tahu apakah aku masih hidup di dunia ini atau tidak huwaa...."


"Aku kira ibu dan ayah akan baik-baik saja jika aku tidak mengeluh tentang masalahku pada kalian, tapi nyatanya aku salah ibu"


"Aku justru membuatnya nyaris kehilanganmu karena kau terus memikirkanku yang tidak pernah bicara tentang masalahku" ucapku


"Setiap ibu memiliki insting keadaan anggota keluarganya, termasuk dirimu nak yang merupakan putri semata wayangku"


"Aku sangat menyanyangimu melebihi apapun yang ku punya di dunia ini, aku bahkan rela mempertaruhkan nyawaku untukmu, nak" ucap ibu


"Oleh karena itu, aku harap kau hidup bahagia dan ibu ingin melihatmu tersenyum secara tulus dari dalam lubuk hatimu"


"Apapun keputusanmu, ibu akan terus mendukungmu dan melindungimu. Karena kau tetaplah putri kecilku, sayang" ucap ibu yang semakin membuat tangisku pecah


____________________________________


malming pada kemana aja dahh?


di rumah bae apa jalan-jalan?


jangan lupa pada teken tombol like donk


jangan dibaca doank lalu hempas gitu aja


wkwkwk..becandaa zeyeng 😜😜✌


panjang ya episodenya, maklum kejar target biar ga begitu banyak episodenya plus sekalian puas gitu bacanya

__ADS_1


kan hyung jarang update ehhe


__ADS_2