
Happy reading bestie 🥰😍🤩🤗
Kim hye jin pov
Hembusan angin menusuk di pagi hari, membuatku semakin mengencangkan syal yang mengikat di leherku agar semakin hangat sebelum aku berkendara menaiki sepeda
Sebelum fajar mulai menampakkan dirinya, aku sudah mulai sibuk berurusan dengan area dapur membuat bubur untuk ibuku tercinta
Setelah tragedi yang penuh drama terjadi kemarin, pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke chicago bersama dengan seo jin untuk kedua kalinya
Aku merasa mengalami de javu, sepertinya aku pernah mengalami kejadian dimana supir ohh dan seo jin menjemputku ke pulau hangan lalu mengajakku kembali ke chicago. Dan sekarang terulang lagi
Namun yang berbeda, kekesalanku terhadap seo jin ku lampiaskan semua kepada dirinya dan mengakibatkan ia babak belur serta mencederai tanganku.
Aku tidak bisa mengatur rasa emosiku seperti hye jin yang dulu.
Aku yang dulu hanya mampu menangis dan melakukan kekerasan melalui imajinasiku saja
Tapi sekarang??
Berkebalikan dari diriku yang dulu.
Yah....ku rasa dampak positifnya saat ini, aku bisa merasa lega. karena tidak ada lagi yang perlu ku sembunyikan lagi dari kedua orang tuaku
Aku sempat khawatir pada mereka berdua jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku
Meskipun berat tapi ku akui, kedatangan seo jin ke pulau ini, bisa membuatku menghirup sedikit udara segar dari jeruji penjara didalam diriku yang ku buat sendiri
Tatapan ibuku terlihat tenang saat aku membantunya untuk memakan bubur buatan ku sendiri, ibu sama sepertiku tidak cocok dengan makanan yang dibuat rumah sakit. baginya, makanan di rumah sakit seperti makanan orang yang akan dieksekusi mati keesokan harinya. Terasa sangat tidak nikmat
Ibu hanya berpesan padaku untuk selalu menjaga diriku dimanapun aku berada dan selalu ingat untuk berusaha bahagia
Ibuku mengatakan bahwa aku beruntung karena di kelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku apa adanya
Aku hanya tersenyum sambil bertanya pada hati kecilku. Benarkah apa yang diucapkan oleh ibu bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku apa adanya? Tapi kenapa hatiku saat ini masih berada di dalam penjara yang ku buat khusus untukku sendiri?
Hatiku bahkan enggan bergerak dari dalam sana dan terus mengingat masa lalunya. menyimpan rasa dendamnya pada orang yang telah menyakiti dirinya hingga membuat semua harapannya pupus
Aku masih berharap pada dewa untuk bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri hukum karma apa yang akan dibalaskan atas kesalahan orang yang sangat egois hingga tega menyakitiku
Aku memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang berada di luar rumah sakit, menikmati suara desiran ombak yang mengalir melalui indera pendengarku hingga membuatku termenung
Entah sudah berapa lama aku duduk termenung sambil menatap laut hingga seseorang menyadarkan lamunanku
"Bolehkah aku duduk di sampingmu?" Ucap seorang pria
Aku menengok ke arah suara pria itu dan melihat seo jin dengan wajah lebamnya mencoba tersenyum padaku sambil menahan nyeri pada wajahnya
Aku yang melihatnya merasa lucu dan tersenyum lebar, merasa puas bisa melihat seseorang yang menyebalkan menderita karena diriku
"Silahkan jika kau tidak takut pada tempramentku yang bisa saja tiba-tiba muncul dan menghajarmu lagi" ucapku pada seo jin
Ada sedikit keraguan pada dirinya saat aku selesai mengatakan kalimat itu
Ragu apakah sebaiknya ia duduk di sampingku atau tidak
Setelah beberapa detik muncul rasa keraguan itu, seo jin akhirnya memutuskan untuk tetap duduk di sampingku
Ku akui, ia cukup bernyali meskipun sudah ku ancam seperti itu. Ku rasa seo jin sudah mengalami sedikit perubahan terhadap dirinya
Ia berubah menjadi seseorang yang nekat meskipun sikap menyebalkannya masih melekat di dirinya
Sesaat kami duduk bersama, hanya suara desiran ombak yang menenami kami. Tidak ada perbincangan antara aku dan seo jin
"Bagaimana kabarmu pagi ini, hye jin? Apa kau baik-baik saja?" Tanya seo jin
Entah ini hanya ucapan basa-basinya saja untuk memulai suatu percakapan ataukah memang ia benar-benar penasaran dengan kabarku dan perasaanku pagi ini setelah kejadian yang penuh drama kemarin?
Aku terdiam beberapa saat, tidak langsung menjawab pertanyaan seo jin
"Apakah kau berharap aku menanyakan kalimat itu padamu makanya kau menanyakanku pertanyaan itu lebih dulu?" Tanyaku pada seo jin yang masih memiliki perasaan curiga padanya
"Ahhh....tidak hye jin. sungguh! Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu saat ini" ucap seo jin panik
"Aku mengatakan ini tidak ada niat untuk membuatmu senang seo jin, tapi ku akui, untuk pertama kalinya aku merasa sedikit lega hari ini setelah aku keluar dari penjara satu tahun yang lalu" ucapku jujur pada seo jin
Aku melirikkan mataku ke arah seo jin dan melihat ia tersenyum sendiri saat aku mengatakan kalimat itu
Seo jin terlihat bahagia meskipun wajahnya lebam seperti itu. Ku rasa kemarin aku sedikit keterlaluan memukulnya
Yah....
Anggap saja aku terlalu bersemangat melakukannya karena memori kelam diingatanku masih terekam sangat jelas seolah perbuatan seo jin baru saja terjadi dua hari yang lalu
"Park seo jin, aku ingin bertanya padamu karena aku penasaran" ucapku yang membuatnya fokus pada diriku
"Tanyakanlah hye jin, apapun itu" ucap seo jin ramah
"Wae....*(kenapa..)" ucapku sambil menarik nafas
" kau mampu melindungi dan menyelamatkan banyak orang tapi kau tidak becus melindungi dan menyelamatkan satu orang saja" Tanyaku
Seo jin terdiam saat mendengar pertanyaanku, mencoba menela'ahnya
"Apa maksudmu, hye jin?" Tanya seo jin
"pagi ini aku melihat sebuah berita kecelakaan laut yang hampir menenggelamkan sebuah kapal feri karena kelebihan bobot muatan"
"setelah aku perhatikan kembali, ku rasa kapal feri itu adalah kapal yang kemarin tidak jadi kita tumpangi, untungnya tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu karena beberapa kapal polisi laut sedang berpatroli di sekitar perairan pulau hangan"
"Kau tahu apa yang membuatku merasa ganjal? polisi laut sedang berpatroli di sekitar perairan pulau hangan? ku rasa itu adalah sebuah kebetulan yang sangat jarang terjadi"
"terlebih kepolisian laut itu ada ketika kapal feri itu tengah mengalami kecelakaan dan orang-orang di dalamnya sedang panik"
"ku rasa ini ada hubungannya denganmu, park seo jin"
"percaya atau tidak meskipun pikiranku sedang kacau karena memikirkan kondisi ibuku, aku diam-diam memerhatikanmu saat kita berada di speed boat, kau terlihat berjalan mondar-mandir tampak gelisah sambil terpaku pada handphonemu"
"dan pada saat kau bicara di telepon, aku mendengarmu yang berteriak pada seseorang untuk meminta bantuan menghubungi polisi laut agar segera mengecek perairan yang menuju pulau hangan" ucapku panjang lebar bicara dengan seo jin
"apa kau mendengar semuanya?" tanya seo jin
Aku kembali terdiam saat seo jin melontarkan pertanyaan padaku
Sebenarnya aku masih memiliki beberapa pertanyaan untuk seo jin, hanya untuk sekedar memastikan kebenarannya
Ucapan seo jin saat berada di speed boat dan percakapannya dengan supir ohh yang tidak sengaja ku dengar saat seo jin selesai mengobati luka di wajahnya
Sebenarnya...sudah seberapa jauh usaha seo jin untuk menyelesaikan semua masalah orang-orang terdekatku
Apakah ia benar-benar sudah gila?
Ataukah ia berusaha keras agar terlihat baik bagaikan seorang pahlawan di mataku?
Haah...
Mola-mola*(ga tau-ga tau) pokoknya aku akan menanyakan hal ini kepadanya
"Ku rasa semuanya" ucapku singkat berusaha tetap bersikap sinis
"Baguslah jika kau sudah tahu semuanya" balas seo jin singkat mengikuti nada ucapanku
Namun aku justru tidak menyukai gaya bicaranya yang terdengar acuh seperti itu
Aku menengok ke arah seo jin dengan wajah cemberut dan seo jin yang menyadarinya, ikut menengok ke arah wajahku dan mulai menatapku
"Wae?*(kenapa?) Bukankah itu hal bagus untukku jika kau tahu semuanya? Aku tidak perlu menjelaskannya padamu" ucap seo jin
"Tapi kenapa kau harus ikut campur dalam masalah hidup cha young?!" Seruku
"Apakah salah membantu permasalahan pelik sahabatmu yang sejak dulu terus menerus membuatnya menderita?" Tanya seo jin balik
"Tanpa kau sadari, kehidupan keluargamu juga ikut menderita karena masalah sahabatmu" ucap seo jin dengan lantang
"Park seo jin" ucapku memperingatkannya
"Wae?*(kenapa?) Apa kau tidak suka dengan bicaraku yang terang-terangan seperti ini?" Tanya seo jin balik
"Sungguh aku tidak mengerti hingga detik ini, hye jin..." ucap seo jin terputus
"Kau...."
"Terlalu ikut campur dalam masalah orang lain"
"Bisakah kau mengabaikannya?" Tanya seo jin
"Itu bukan urusanmu, seo jin. Aku bisa mengatasi...." ucapku
"Ani*(tidak)!" Potong seo jin
"Kau bahkan tidak tahu bisa mengatasinya atau tidak" ucap seo jin serius
"Kau hanya bermodal nekat untuk membantu orang lain dan memaksakan dirimu sendiri"
"Kau harus mengakuinya hye jin. Itu adalah sikap burukmu yang harus kau ubah jika kau tidak ingin hidup menderita seumur hidupmu" ucap seo jin menyindir
"Yyyaa!!!*(hei!!)" Teriakku
"Siapa dirimu yang berhak mengkritik diriku?!" Seruku pada seo jin
Seo jin diam sesaat. Ia hanya menatap wajahku yang mulai terlihat emosi
"Aku...."
"Aku adalah orang yang sangat mengenal sifatmu..."
"...dan aku juga adalah orang yang membuatmu menderita hingga seperti ini" ucap seo jin pelan
"Aku tahu hye jin, kau tanpa ragu menolong orang lain yang ada di hadapanmu meskipun kau tahu akan mempersulit dirimu sendiri"
"Harusnya sejak awal aku tidak memintamu untuk masuk ke dalam permasalahan hidupku dan menyelesaikan masalah orang-orang yang ada di sekitarku"
"Tapi....jika bukan karena dirimu, mungkin selamanya aku tidak akan pernah tahu tentang kebenaran yang ada sesungguhnya"
"Jika bukan karena sifatmu, tidak mungkin aku bisa mengungkap semua kejahatan sung dong il selama ini"
"Jika bukan karena sifatmu yang terus ikut campur dalam masalah orang lain, hajung tidak mungkin bisa memimpin perusahaan seperti saat ini"
"Jika bukan karena sifatmu...."
"Selamanya aku akan menjadi park seo jin yang pengecut dan mudah dimanipulasi" ucap seo jin padaku
"kau adalah seorang baik hati yang pernah ku temui dalam hidupku. Kau bahkan tidak layak mendapatkan kehidupan menderita seperti ini"
"Apa kau sudah selesai bicara omong kosong seperti itu?" Sindirku
"Jika kau memang sangat menyesal atas perbuatanmu padaku seperti yang kau ucapkan tadi, kenapa kau datang terlambat park seo jin?" Tanyaku
"Maafkan aku hye jin. Aku....." ucap seo jin
"Aahhh.....aku lupa, kau tidak menyadari bahwa ternyata selama ini aku tidak berada di sisi hajung" potongku
"Kau mengira aku tinggal di sisi hajung dan melupakan semua kesalahanmu terhadapku"
"Tidak seo jin, kau bukannya terlambat karena tidak sadar dengan hal itu, tapi kau telah mengabaikanku"
"Kau memutuskan untuk mengabaikanku setelah aku keluar dari dalam penjara dan melemparkan semua tanggung jawabmu kepada hajung" ucapku
"Namun aku tahu diri, hajung telah hidup menderita selama ini, dan aku tidak ingin menambah penderitaan itu lagi dengan hadirnya diriku ke dalam kehidupan hajung dengan segudang permasalahan"
"Aku lebih memilih untuk kabur dan bersembunyi hingga akhir hayatku. Aku berusaha untuk tidak menyeret orang lain ke dalam permasalahanku termasuk keluargaku, tapi aku gagal melakukannya"
"Aku gagal melakukannya dan justru semakin membuat ibu dan ayahku menderita"
"Hahaha....aku memang benar-benar seorang pecundang sejati" ucapku sambil tertawa lirih
"Tidak hye jin, kau bukanlah seorang pecundang...."
"Yes I am!" Seruku memotong ucapan seo jin
"Aku memang seorang pecundang sejati. Aku bahkan membuat seseorang yang membuangku dan mengabaikanku kini beralih padaku lagi karena merasa kasihan dan tidak tega dengan kehidupan buruk yang ku jalani" ucapku
"Kim hye jin, ku mohon percayalah...aku tidak pernah membuangmu atau mengabaikanmu..."
"Oh iya?!" Ucapku ragu
"Lalu bisa jelaskan padaku apa alasanmu yang tidak segera menemuiku setelah aku keluar dari dalam penjara setelah pertemuan terakhir kita di restoran bersama deok mi dan hajung?" Tanyaku
"Aku yakin seo jin, alasanmu tidak hanya mengira aku tinggal di sisi hajung saja selama ini" ucapku memancing seo jin
Seo jin terlihat menundukkan kepalanya, seolah ragu untuk berkata jujur padaku
"Baiklah aku akan mengakuinya padamu, aku...."
"Terlalu malu untuk menemuimu, hye jin" ucap seo jin
"Aku sangat bersalah terhadapmu dan juga hajung"
"Semua yang ku lakukan padamu adalah kejahatan bagiku"
"Mengusirmu dari rumahku, mempermalukanmu di hadapan para maidku"
"Menyeretmu dengan paksa dari apartement hajung dan berkata kasar serta memakimu di tempat umum"
"Semua yang ku lakukan adalah kesalahan. Aku terlalu percaya terhadap ayah mertuaku dan menutup mata tentang kebenaran yang ada"
"Aku bahkan tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskannya padaku dan justru menghujanimu dengan luapan emosiku"
"Aku menyadari kesalahanku sangat fatal setelah mengetahui dirimu masuk ke dalam penjara dan aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkanmu, kim hye jin"
"Aku adalah orang terbodoh yang tidak bisa melihat situasi dan kebenaran di depan mataku"
"Oleh sebab itu aku tidak memiliki wajah lagi untuk meminta maaf padamu dan juga hajung atas segala perbuatan salahku"
"Kau tahu hye jin, kau bukanlah seorang pecundang, melainkan dirikulah yang merupakan seorang pecundang sejati"
"Aku terlalu pengecut untuk segera memperbaiki semua kesalahanku"
"Jika bukan karena supir ohh yang meyakinkanku pergi ke sini untuk melihat keadaanmu, mungkin selamanya aku akan hidup seperti seorang pecundang hingga akhir hayatku"
"Aku tidak ingin hidup menyedihkan seperti itu"
"Aku selalu hidup dalam keraguan, terlalu banyak sesuatu hal yang ku pertimbangkan, namun pada akhirnya aku akan menyakiti orang lain karena kebodohan yang ku buat sendiri"
"Mianhae*(maafkan aku) kim hye jin atas kesalahan yang ku lakukan padamu dan kali ini aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang telah ke perbuat padamu" ucap seo jin menyesal
Aku terdiam melihat seo jin yang meminta maaf padaku dengan perasaan yang menyesal
"Jika kau merasa menyesal atas segala perbuatanmu, ku harap kau bisa mengabulkan permintaanku, seo jin" ucapku
"Apapun hye jin, aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu" ucap seo jin padaku
"Park seo jin, ku harap setelah kita tiba di chicago, aku tidak ingin kita bertemu lagi" ucapku sambil menatap seo jin
Seo jin terdiam menatapku
"Baiklah..." ucap seo jin setelah lama terdiam
"Aku hanya akan melaksanakan kewajibanku untuk mengembalikkan kehidupanmu seperti sedia kala sebelum kau bertemu denganku" ucap seo jin
"Ini handphone barumu, kim hye jin"
"Aku telah memasukkan nomor kontakku dan juga kontak supir ohh di dalam handphone ini" ucap seo jin sambil memberikan handphone baru padaku
"Kau berhak memakainya sekarang, menggantikan handphone lamamu yang sudah rusak karena terlindas truk" ucap seo jin
"Jika suatu hari nanti kau berubah pikiran dan ingin bertemu denganku, kau bisa menghubungiku dengan handphone ini"
Aku menerima handphone baru pemberian seo jin dan langsung menghapus nomor kontak seo jin
"Dengan senang hati aku akan menerima semua pemberianmu untukku sebagai balas budi atas perbuatanku yang membuat hidupmu jauh lebih tenang, tuan" ucapku pada seo jin dengan ketus
"Dan sekarang, aku akan menghapus kontakmu dari handphone ini agar aku bisa hidup tenang tanpa dirimu"
"Kau....adalah sumber ketidakbahagiaanku, park seo jin. Kau harus tahu itu"
"Suatu hari yang kau maksud itu, tidak akan pernah terjadi saat aku menginjakkan kakiku di chicago"
"Ku harap diriku bisa menjalani kehidupan yang tenang tanpa tahu bagaimana kehidupanmu dan aku tidak akan peduli bagaimana kau menjalani kehidupanmu saat ini maupun di masa depan nanti"
"Ku harap aku tidak bertemu denganmu lagi apapun yang terjadi"
"Jika kau merasa dirimu masih memiliki tanggung jawab atas kehidupanku, lakukanlah seperti selama ini yang kau lakukan saat aku berada di seoul"
"Membantuku diam-diam bagaikan hantu yang tidak terlihat oleh siapapun, karena aku tidak akan sudi untuk menatap wajahmu lagi" ucapku sinis
"Aku mengerti kim hye jin. Aku akan menuruti semua permintaanmu yang ingin menjauh dariku" ucap seo jin
"Ku harap kau tidak menolak semua tindakan yang ku lakukan untukmu dan orang-orang terdekatmu" ucap seo jin
"Jika keadaan mengharuskan untuk terilbat denganku, aku akan menyuruh seseorang atau sekertaris pribadiku untuk menemuimu" ucap seo jin
"Aku berjanji tidak akan muncul di hadapanmu lagi kim hye jin apapun yang terjadi" ucap seo jin menyanggupinya
"Aku akan memberi kesempatan sekali lagi untuk memegang ucapanmu park seo jin. Ku harap kau tidak mengingkarinya seperti dulu" ucapku
"Terima kasih karena kau memberikanku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku"
"Aku tidak akan mengecewakanmu, kim hye jin. Tidak akan" ucap seo jin dengan senyum
**********
*8 BULAN KEMUDIAN*
CHICAGO
Hari itu...
Adalah hari terakhir diriku bicara dengan park seo jin
ia benar-benar menyelesaikan semua masalah yang ada diriku dan juga orang-orang terdekatku termasuk permasalahan cha young yang sangat mengakar
Seo jin benar-benar melunasi semua hutang hong cha young yang menumpuk seperti gunung pada lintah darat itu
Seo jin juga mengancam lintah darat itu jika berani mengganggu cha young dan keluargaku, seo jin akan menghubungi pengacaranya yang ada di seoul untuk memenjarakan mereka
Bukan hanya diriku yang terkejut, hong cha young juga sangat terkejut dengan kekuatan uang yang ada di dunia ini
Kekuatan konglomerat benar-benar sangat mengerikan, seolah mampu menggenggam seluruh dunia
masalah lama yang sulit diselesaikan, kini hilang sekejab karena uang yang dimiliki park seo jin
Semula cha young membencinya, tapi kini, ia justru mendewakan park seo jin karena menurut cha young, seo jin memiliki kekuatan super yang tidak semua orang bisa memilikinya yaitu uang
Cha young berhenti bekerja di rumah sakit seoul dan pindah bekerja di rumah sakit yang ada di sekitar pulau hangan agar impiannya bisa terwujud, yaitu berkumpul dengan ibu kandungnya dan menjaga keluargaku
Sedangkan aku?
Perlahan mulai kembali menjadi kim hye jin yang ceria setelah menjalani beberapa therapi oleh psikiater profesional yang ada di chicago
Tentu saja terdapat perbedaan kim hye jin yang dulu dengan kim hye jin yang sekarang
Kim hye jin yang dulu berusaha mati-matian untuk bekerja sambilan dan belajar dengan keras agar beasiswanya tidak dicabut, serta tinggal di asrama tua yang bahkan seekor tikus saja sudah seperti anggota keluarga tambahan
Kim hye jin yang sekarang sudah tidak perlu bersusah payah seperti itu lagi. tugasku hanyalah melanjutkan kuliahku yang tertunda dan menjalani therapi agar kesehatan mentalku berangsur-angsur pulih
Tentu saja tempat tinggalku jauh lebih nyaman dari pada asrama tua itu
Aku tinggal di sebuah kamar apartement pemberian seo jin dan aku bebas memakainya sampai kapanpun
Setiap bulannya akan ada sejumlah uang yang masuk ke dalam rekeningku dengan jumlah yang melebihi dari kata cukup, namun anehnya aku terbiasa hidup dengan irit sehingga memiliki sisa uang yang banyak di tabunganku
Sesekali uang yang lebih itu ku donasikan ke panti asuhan dan yayasan sosial lainnya
Seo jin benar-benar melakukannya sesuai yang ia janjikan padaku
__ADS_1
Aku kembali mengingat saat aku naik pesawat pribadi milik seo jin untuk kembali ke chicago
Aku tidak bicara dengannya sepatah kata apapun, bahkan ia memisahkan diri denganku di bagian badan pesawat yang lain, ia berusaha agar tidak menampakkan punggungnya di hadapanku
Saat sampai di bandara, aku diantar oleh supir lain selain supir ohh menuju apartement ini
Setelah itu aku mendapatkan notif dari rumah sakit untuk jadwal therapiku melalui pesan di handphone pemberian seo jin
Begitu juga dengan urusan kampus, aku mendapat telepon dari kampusku dan menyuruhku untuk datang ke kampus agar bisa memulai melanjutkan kuliahku
Layaknya mahasiswi lainnya, aku berkontribusi dengan kegiatan kampus, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan membeli pakaian yang ku suka, mencoba lipstik baru dan membeli make up, hang out di cafe bersama teman satu kelompok dan kegiatan lainnya yang tidak pernah aku lakukan selama aku bekerja part time untuk mencari uang tambahan
Aku berbaur dengan teman-teman satu tingkat dibawahku yang kini menjadi teman seangkatanku karena aku sempat putus kuliah setahun yang lalu
Mereka menyambutku dengan ramah dan tidak ku sangka mereka masih mengingat kejadian yang menggemparkan itu
Dimana saat orang-orang berdemo untuk kebebasanku dari penjara.
Kejadian yang berakhir membuatku memiliki luka membekas yang tidak akan pernah hilang seumur hidupku di bagian kening
Hampir seluruh penghuni kampus tempatku kuliah mengenalku dengan baik dan menjulukiku dengan gadis dopplanger
mereka beranggapan bahwa ucapan legenda yang mengatakan "jika bertemu dengan dopplanger di suatu tempat, kesialan akan menunggu di depan mata" bukanlah mitos belaka melainkan realita dan benar-benar terjadi
Awalnya aku merasa risih dengan panggilan itu karena beberapa mahasiswa yang berasal dari klub berita, selalu mengejarku dan memintaku meluangkan waktunya untuk melakukan sesi wawancara
Aku selalu mengabaikan mereka karena menurutku itu adalah hal konyol, ditambah aku adalah mahasiswi tingkat akhir yang harus mengejar materi kuliah yang tertinggal dan menyelesaikan tugas agar bisa lulus tepat waktu tanpa harus menundanya lagi
Itu adalah hal yang tidak mudah untukku. Di saat semua tugas kuliah membebaniku, aku harus melakukan therapi ke psikiater untuk memulihkan kesehatan mentalku
Hal itu tentu saja memperlambat proses penyembuhanku
Terkadang aku menangis di malam hari dengan keras seorang diri ketika aku ketiduran karena pengaruh konsumsi obat kejiwaanku yang memberikanku efek mengantuk tak tertahankan namun deadline tugas kuliahku harus dikumpulkan di pagi harinya
Anehnya, dokter spesialist jiwaku mengatakan bahwa aku mengalami kemajuan dalam proses penyembuhan mentalku
Ia mengatakan padaku menangis dengan keras adalah proses untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan yang terperangkap di dalam diriku
Dengan begitu tidak hanya amarah saja yang muncul untuk mengekspresikan perasaanku tetapi semua ekspresi bermain sesuai tempatnya
Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti maksud ucapan psikiaterku, aku hanya menuruti sarannya dan mengonsumsi obat sesuai jadwal
Sedikit demi sedikit, dokter mulai mengurangi dosis obat kejiwaanku dan tentu saja pengaruh efek samping dari obat itu mulai menghilang
Aku tidak mudah mengantuk lagi dan tidur sembarangan di suatu tempat atau tidur dengan mata terbuka hingga orang-orang merasa ketakutan terhadapku ketika aku menaiki angkutan umum seperti bus dan kereta bawah tanah
Pernah suatu hari saat aku menunggu bus yang mengarah ke apartementku di halte, aku ketiduran hingga malam hari dan terbangun dengan sebuah jaket asing yang tidak ku kenal menyelimutiku
Aku dibangunkan oleh petugas polisi yang bertugas pada malam itu karena ada seseorang yang menelepon kantor polisi dan melaporkan keadaanku yang sedang tertidur di halte bus pada malam hari dan khawatir dengan keamananku
Untungnya tidak ada satupun dari barang-barangku yang hilang selama aku tertidur lebih dari 4 jam di halte bus tersebut
Kecuali jika ada seseorang yang menjagaku selama aku tertidur di halte
Aku berasumsi sendiri bahwa orang yang memiliki jaket itulah yang telah menjagaku selama aku tertidur di halte dan menelpon polisi untuk membangunkanku
Anehnya, kenapa bukan ia saja yang membangunkanku? Atau.....
Apakah aku yang tidur terlalu lelap hingga ia menyerah untuk membangunkanku dan memilih untuk menghubungi polisi?
Ini masih menjadi sebuah misteri bagiku
Hingga detik ini aku masih menyimpan jaket yang menyelimuti tubuhku saat aku tertidur di halte bus dan menggantungnya di samping meja belajarku agar mengingatkanku bahwa di dunia ini masih ada orang asing baik yang membantu orang lain, serta mengingatkanku untuk tidak bersikap ceroboh seperti itu
Tertidur di tempat umum sangat tidak bisa ku duga akan ku alami, ini semua karena aku berada dibawah pengaruh obat kejiwaan yang aku konsumsi
Oleh sebab itu, dokter selalu mengingatkanku untuk di dampingi oleh orang lain selama aku mengonsumsi obat untuk kejiwaanku
Aku berbohong pada dokter jika aku memiliki pendamping di rumah yang akan selalu menjagaku namun nyatanya aku tinggal seorang diri di apartement itu
Aku terpaksa melakukannya, berbohong pada psikiaterku. jika tidak, aku akan di rawat di rumah sakit dan semakin membuatku seperti pasien jiwa yang tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik.
Justru hal itu akan membuatku semakin takut dan akan berpengaruh buruk pada kesehatan mentalku
Haah....
Jika aku mengingat masa buruk- buruk itu, kini aku merasa bangga terhadap diriku sendiri karena mampu melewati semua masa sulit itu dan menjadi kim hye jin yang lebih kuat
Terima kasih tubuhku, kau tetap berusaha sehat meskipun separuh jiwaku tidak bisa diajak untuk bekerja sama
Ucapku dalam hati sambil memeluk diriku dengan menyilangkan kedua tanganku sambil memegang bahuku masing-masing. Aku memejamkan kedua mataku dan tersenyum sendiri sambil menghayati tiap-tiap kejadian yang terasa sulit bagiku
Hingga seseorang menyenggol bahuku dan membuatku tersadar
"Hei...dasar gadis gila! Apa kau tidak malu melakukannya di tempat ramai seperti ini?" Tanya emma yang tiba-tiba datang lalu merusak penghayatanku
Hari ini aku memiliki janji bertemu dengan emma, saat aku baru tiba di chicago, aku sengaja tidak menghubunginya
Aku benar-benar memilih untuk menyendiri, tidak ada satu orangpun yang tau keberadaanku di chicago selain park seo jin dan supir ohh
Setelah kesehatan mentalku mulai berangsur pulih, aku mulai menghubungi emma yang ku dapatkan nomor kontaknya dari buku tahunan mahasiswa dan mengatakan padanya bahwa aku sudah berada di chicago
Tentu saja hal itu membuatnya terkejut dan membatalkan kencan butanya pada saat itu, karena tidak sabar ingin bertemu denganku
Saat pertama kalinya aku berjumpa lagi dengan emma setelah sekian lama tidak bertemu, emma memelukku dengan erat dan menangis keras di tempat umum hingga orang lain menatap heran ke arah kami
Aku tertawa sambil menangis saat melihat sikap emma yang sangat merindukanku
Dan kini hampir setiap akhir pekan, aku bertemu dengan emma dan menghabiskan waktu bersama dengan dirinya
"Apa salahnya? Aku hanya sedang mencintai tubuhku yang kuat ini dan berterima kasih padanya karena membuatku bernafas hingga detik ini" jawabku pada emma yang sudah menunggunya sejak 20 menit yang lalu
"Wahh....kau berubah menjadi seseorang yang dramatisir sekali sekarang" sindir emma
"Yya!!*(hei!!) Ini semua karenamu yang telat dari jam pertemuan"
"Kau bilang kita janjian di depan mall big city pukul 4 sore, tapi lihatlah! jam berapa sekarang?!" Seruku
"Aigo-aigo gadis ini sekarang menjadi mudah marah" ucap emma berusaha mendikte ucapanku ketika kesal
"Lihatlah!! Aku belum telat 30 menit tapi kau sudah marah-marah seperti ini, apa yang akan terjadi jika aku telat satu jam? Apakah kau akan berubah menjadi goblin?" Sindir emma
"Hell no! Aku akan berubah menjadi siluman macan dan akan melahapmu hidup-hidup! Rooarr!" Seruku
"Aww....takut! Bagaimana mungkin ada macan seimut ini?" ledek emma meladeni candaanku
"Hahaha..."
Tawa kami pecah seketika hingga membuat orang lain sekilas memerhatikan kami
Aku dan emma tidak menggubris orang lain yang memerhatikan kami. Aku dan emma berjalan kaki masuk ke dalam pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan bbq dan beberapa pakaian baru serta make up layaknya wanita-wanita normal yang hidup berkecukupan di kota besar
Setelah selesai berbelanja dengan emma, aku memutuskan untuk pergi ke apartement yang ku tempati dan makan malam bersamanya
Seperti biasa emma menjadikan lemari es ku sebagai gudang penyimpanan minuman alkoholnya agar ia tidak perlu repot membelinya saat berkunjung ke apartementku
Emma tahu bahwa aku tidak mungkin menyentuh minuman alkohol miliknya karena aku tidak menyukai minuman seperti itu
"Yuhuu....aku akan menitipkan wine ini di tempatmu" ucap emma saat melahap daging panggang pertamanya yang sudah matang
"Apa kau sungguh akan membuat kamarku menjadi toko minuman alkohol?" Tanyaku heran pada emma
"Apa kau tidak melihatnya? Lemari es ku menjadi penuh karena minumanmu!"
"Apa kau tidak bisa menghabiskannya terlebih dahulu baru kau membelinya lagi?" Ocehku
"Kim hye jin, satu-satunya di dirimu yang tidak berubah adalah cara bicaramu yang cerewet seperti atasanku" sindir emma
"Aku tidak cerewet, aku hanya mengatakan hal sebenarnya, karena minumanmu, aku jadi tidak bisa menyimpan botol youghurtku" protesku
"Kau bisa menyimpan youghurtmu diwadah bawahnya"
"Itu juga sudah mulai penuh!" Seruku
"Really?!" Balas emma
"Hahaha....i am sorry my friend, i am not realize" ucap emma cengengesan
"Baiklah...aku akan menyimpan wine ini dan akan mengonsumsi bir kaleng yang sudah mulai penuh di lemari es mu"
"Dan berhentilah mengoceh" ucap emma sambil jalan menuju lemari es
Emma mengambil 3 kaleng bir kalengannya dan saat menutup lemari es, ia terpaku pada jaket yang aku gantungkan di meja belajarku
"Kim hye jin, apakah jaket itu milikmu?" Tanya emma padaku
"Bukan" ucapku singkat
"Aku tidak tahu itu milik siapa" ucapku lagi
"Eee? That's weird*(itu aneh) jika kau tidak tahu itu jaket siapa, tapi kenapa ada di dalam apartementmu?" Tanya emma penasaran
"Aku pernah tertidur di halte bus, saat aku membuka mata, jaket itu sudah menyelimutiku dan dua orang polisi berada di hadapanku untuk membangunkanku" ucapku menjelaskan pada emma sambil memanggang daging sapi dan bawang putih
"Hidupmu benar-benar kacau hye jin, kenapa kau tidak menghubungiku pada saat kau dalam keadaan sulit?" Tanya emma
"Aku menjadi ragu jika aku benar-benar sahabatmu" ucap emma kecewa
"Percayalah...pada saat itu aku tidak sempat memikirkan siapapun" ucapku
"Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak seperti mayat hidup yang berkelana tanpa jiwa" ucapku
"Setelah jiwaku kembali, aku baru mengingatmu emma" ucapku
"Hhaah...ucapanmu sungguh konsisten hye jin" ucap emma
"Berkali-kali aku menanyakan hal yang sama tapi jawabanmu tetap sama. Ku kira itu hanya alasanmu saja yang tidak ingin menghubungiku" duga emma
"Itu bukan alasanku, lagi pula tidak begitu banyak orang yang dekat denganku di kota ini" ucapku
"Sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di kota ini, kau adalah teman pertamaku emma"
"Hanya kau yang menyambut teman sekamarmu dengan sambutan aneh" ucapku yang mulai membahas masa lalu
"Hahaha...aku masih ingat jelas bagaimana wajah bodohmu ketika aku melemparkan kue tepat di wajahmu" ucap emma cengengesan
"Saat itu aku kelaparan dan uang bulanan beasiswaku belum masuk ke dalam rekeningku, aku hanya mengantongi lembaran uang korea bukan dollar" balasku
"Hhaah....itu adalah masa-masa sulit hye jin" ucap emma menunduk
"Tapi sekarang...."
"Lihatlah dirimu!!" Seru emma
"Perlahan kau mulai terlihat seperti manusia normal yang hidup di kota" ucap emma sambil menggelitiki pinggangku
"Ahhh....hentikan emma, itu terasa geli!" Seruku sambil tertawa
"Tapi bestie..aku masih penasaran dengan ini"
"Apa kau sungguh-sungguh tidak bertemu lagi dengan pemilik perusahaan tempatku bekerja?" Tanya emma yang bisa aku mengerti
"Ohh...ayolah emma, kita sudah berjanji untuk tidak membahas ini, dan ku harap kau tidak perlu menceritakan padaku tentang kehidupannya selama ini karena kau bekerja di perusahaannya" ucapku mengeluh
"Aku tahu hye jin kau tidak ingin membahas tentang dirinya" balas emma
"Tapi...aku tiba-tiba ingin membicarakan dirinya setelah melihat jaket yang kau pajang di meja belajarmu" ucap emma memberi alasan
"Maksudmu?" Tanyaku penasaran
"Hemm....jaket itu, terasa sangat tidak asing bagiku" ucap emma
"Kau tahu apa yang membuatku terasa tidak asing?" Tanya emma
Aku hanya menggelengkan kepalaku padanya karena aku tidak tahu apa yang membuat emma terasa tidak asing
"Jaket itu adalah keluaran produk dari desaigner ternama di negara ini dan limited edition" ucap emma bergairah ketika membicarakan soal fashion
"Dan kau tahu desaigner itu mengeluarkan rancangan pakaiannya hanya untuk sebagian member vvip nya" ucap emma
"Salah satu member vvip nya adalah pemilik perusahaanku dan jaket yang kau pajang itu, adalah hasil rancangan dari desaigner yang terkenal di negara ini" ucap emma yang mulai memberi kode padaku
Aku paham apa maksud ucapan emma. dengan kata lain, jaket itu kemungkinan adalah milik seo jin
"Ku kira kau dan pemilik perusahaanku sudah berdamai dan bertemu tatap muka serta bicara dengannya" ucap emma
"Baguslah...ia tetap menepati janjinya" celetukku
"Ia tetap menolongku secara diam-diam seperti hantu yang tidak terlihat" ocehku sambil melahap nasi dan daging secara bersamaan
"Janji? Memang janji apa yang ia katakan padamu?" Tanya emma memancing
"Aku pernah mengatakan padanya untuk berusaha menjauh dariku karena aku tidak sudi bertemu dengannya"
"Meskipun di saat kondisi dan situasi darurat apapun yang mengharuskan untuk menolongku, tetaplah untuk tidak memunculkan wajahnya lagi di hadapanku" ucapku sambil tersenyum masam
"Wahh....kim hye jin kau benar-benar sangat membencinya" ucap emma
"Kau tahu...selama hampir satu tahun terakhir, wajah CEO perusahaanku terlihat murung dan banyak melamun...."
" saat rapat penting saja, ia bahkan sempat melamun, padahal selama ini ia tidak pernah melakukan hal itu, ia adalah CEO yang paling fokus dan optimis"
"Tentu saja hampir seluruh pegawai membicarakan...."
"Emma-aa!!!" Teriakku sambil meletakkan gelas dengan keras
"Haaah.....berhenti"
"Berhentilah untuk membicarakannya" ucapku memperingatkan
"Jika kau membicarakan dirinya lagi, ku harap kau pergi dari sini, karena aku tidak ingin mendengarnya" ucapku tegas
Emma menatapku dengan wajah bersalah
"I am sorry, hye jin" ucap emma dan membuat suasana makan malam kami menjadi canggung akibat membicarakan seo jin
******
Keesokan paginya aku melakukan aktivitas seperti biasa, hingga sore harinya aku berencana untuk menyelesaikan tugas kuliahku di sebuah cafe untuk meminum kopi hangat di saat cuaca dingin yang mulai memasuki musim dingin
Saat aku hendak membuka pintu cafe, seseorang tiba-tiba menarik lenganku.
Aku yang sedang memeluk laptopku, terpaksa membalikkan tubuhku agar laptopku tidak terjatuh dengan ekspresi wajah terkejut
"Kim hye jin!!" Seru pria itu memanggil namaku
Aku melihat wajah seorang pria yang terlihat familiar berdiri di hadapanku dengan nafas tersengal-sengal seolah habis berlari untuk mengejarku
"Benarkah kau kim hye jin?!" Tanya pria itu untuk memastikan ia tidak salah orang
"Ha..jung-ssi...." ucapku pelan
Saat aku menyebut namanya, dengan cepat ia memeluk tubuhku dengan sangat erat dan ku rasa ia menangis
"Kim hye jin....dari mana saja kau??" Tanya hajung
"Aku..."
"Aku tidak bisa menghubungimu dan kau tiba-tiba menghilang" ucap hajung lirih
"Hajung-ssi mianhae...*(maafkan aku)" ucapku menyesal
"Wae*?(kenapa?)" Tanya hajung setelah selesai memelukku dan menatap wajahku
Aku melihat ekspresi hajung yang terlihat sedih, seolah rasa yang ia pendam selama ini, meluap saat melihat diriku
"Bisakah kita mencari tempat untuk bicara?" Pintaku
Seketika hajung melihat sekeliling dan menyadari bahwa aku dan hajung menghalangi pintu masuk cafe
Aku tersenyum pada hajung dan menggenggam tangan kanannya agar ia terasa lebih tenang
Hajung membalas genggaman tanganku dengan erat, aku menuntunnya untuk masuk ke dalam cafe dan memesan minuman hangat untuk dirinya dan diriku
Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut hajung maupun diriku
Hanya tatapan saja yang seolah berusaha untuk bicara denganku
Hajung terus menggenggam kedua tanganku dengan erat, seolah tidak ingin melepasnya
Bahkan saat pesanan minuman kami tiba diantar oleh seorang pelayan pria, ia menatap hajung dengan tatapan yang sedikit aneh
Pelayan pria itu lalu melirikku saat selesai menatap hajung
Aku hanya tersenyum pada pelayan cafe pria itu dan segera pergi dari meja kami setelah tugasnya selesai
"Apakah ini benar sungguh dirimu, hye jin?" Tanya hajung yang masih tidak percaya dengan diriku yang sedang berada di hadapannya
"Apakah menurutmu aku hantu?" Tanyaku kembali
"Terlalu hangat untuk ukuran suhu tangan hantu yang ku genggam" ucap hajung
Aku melepas genggaman hajung dan mengarahkan kedua tangannya untuk menggenggam cangkir minuman hangat dan kembali menggenggam tangannya lagi
"Hangatkan tanganmu, tanganmu terlalu dingin untuk ukuran suhu manusia" balasku
Aku menuntun tangan hajung untuk mengangkat cangkir berisi kopi hangat ke arah mulutnya
Hajung mulai menyeruput kopi hangat dan memejamkan kedua matanya sebentar pertanda ia menikmati kopi hangatnya
"Sudah mulai terasa hangat?" Tanyaku pada hajung sambil tersenyum
Seketika hajung meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan menggenggam kedua tanganku lalu mencium dengan bibirnya
Aku sedikit terkejut dengan perlakuan hajung terhadapku
Bak sepasang kekasih yang menjalin hubungan cinta long distance relationship
begitu bertemu, mereka langsung meluapkan rasa rindunya masing-masing
Tapi kami bukanlah pasangan kekasih yang menjalin hubungan cinta LDR, melainkan melebihi dari hubungan itu
Begitu berat untuk dijelaskan
Terlebih saat mengingat kembali bagaimana terakhir kali kami berpisah
Tentunya bukan hye jin yang hajung kenal selama ini, melainkan hye jin yang mulai kehilangan separuh jiwanya akibat kejadian kelam yang dialaminya
Tidak ada senyum yang menyeringai di wajahku saat pertemuan terakhir hampir dua tahun yang lalu
Kini saat tiba-tiba aku bertemu dengannya, aku bisa tersenyum di hadapannya, tentu saja ia menganggapku seperti hantu
"Apa yang terjadi padamu, hye jin?" Tanya hajung
"Kau menghilang begitu saja bak ditelan bumi dan membuatku begitu khawatir" ucap hajung mencoba tegar
"Aku berusaha mencarimu di korea dengan bantuan detektif swasta namun aku tidak mendapatkan apa-apa, seolah seseorang dengan sengaja menyembunyikan semua tentang kehidupanmu" ucap hajung lagi
"Maafkan aku hajung, itu memang salah satu permintaanku, karena aku ingin fokus dengan diriku sendiri dan kesembuhan mentalku" ucapku
"Aku tahu aku sangat keterlaluan dan egois"
"aku sangat pengecut dan tidak ingin dunia tahu bagaimana kehidupan yang aku jalani" ucapku
"Aku hanya ingin melupakan masa laluku dan berusaha untuk tidak mengingatnya"
"Karena kau tahu sendiri hajung, itu adalah hal terberat bagiku" ucapku
"Apa kau juga ingin melupakanku, kim hye jin?" Tanya hajung sedih
"Anio*(tidak) jangan salah paham dulu denganku" ucapku membela diri
"8 bulan yang lalu aku kembali ke sini untuk menjalani therapi kesehatan mentalku dan melanjutkan kuliahku dengan bantuan dari seseorang yang seharusnya bertanggung jawab padaku" ucapku pada hajung
"Aku memintanya untuk memenuhi semua permintaanku termasuk menyembunyikan kehidupanku dan merahasiakan kedatanganku ke chicago dari siapapun"
__ADS_1
"Aku akan kembali ke dunia, setelah aku yakin bahwa kesehatan mental diriku sudah pulih kembali dan bisa kembali berbaur dengan orang-orang"
"Ku rasa satu bulan yang lalu, psikiaterku sudah mulai mengurangi dosis obatku dan aku mulai menghubungi orang-orang yang pernah berhubungan baik denganku"
"Teman-teman kampusku, sahabatku emma dan juga termasuk dirimu" ucapku
"Tapi....." ucapku terputus
"Aku lupa bahwa salah satu orang yang berhubungan baik denganku adalah orang hebat yang sulit ku temui" ucapku tersenyum
"Berkali-kali aku mengunjungi perusahaanmu untuk memintamu bertemu janji denganku" ucapku menjelaskan
"Ku rasa kim hye jin bukanlah seseorang yang penting bagi perusahaanmu, jadi ku rasa mereka...."
"Para pegawaimu pasti memprioritaskan urusan penting perusahaan" ucapku
"Saat aku tiba di perusahaanmu tepat di hari H, mereka tiba-tiba mengatakan padaku bahwa kau memiliki rapat penting yang tidak bisa di batalkan" ucapku
"Dan kau tahu mahasiswi tingkat akhir bukanlah pengangguran yang hanya menunggu rapatmu selesai"
"Masih banyak tugas yang sedang menungguku dan aku harus menyelesaikannya agar aku bisa lulus tepat waktu" ucapku menjelaskan
Hajung memejamkan kedua matanya dan menunduk, ku rasa ia kesal dengan pegawainya yang tidak memberitahu kepada dirinya bahwa ada seseorang yang mencari dirinya bernama kim hye jin
"Hajung-ssi ku harap kau tidak kesal dengan pegawaimu, mereka hanya bekerja sesuai dengan tupoksinya"
"Aku sangat yakin kau sangat sibuk dan memiliki jadwal padat, sekertarismu pasti bekerja keras untuk memilah jadwalmu sesuai prioritas" ucapku menenangkan hajung
"Dan...saat aku mengunjungi apartementmu yang dulu, kau sudah tidak menempatinya lagi, apa kau sudah pindah ke apartement yang lebih mewah lagi?" Tanyaku penasaran
"Aku kembali ke rumah dan berkumpul bersama kedua orang tuaku setelah pamanku divonis hukuman penjara seumur hidup" ucap hajung
"Ahh....begitu rupanya" balasku
"Baguslah jika kau sudah berkumpul kembali bersama keluargamu dan tidak memiliki kesalah pahaman lagi" ucapku tersenyum
Tiba-tiba hajung menggeser kursinya saat menatapku yang tersenyum agar lebih dekat denganku dan tidak ada meja yang menghalangi antara aku dan hajung
Hajung dengan agresif meletakkan kedua tangannya di kedua pipiku dan mendekatkan wajahnya di hadapanku
Jarak wajah kami mulai sangat dekat hingga aku bisa merasakan nafas hajung
"Hajung-ssi" panggilku dengan ekspresi wajah terkejut saat ia tiba-tiba bertindak agresif seperti ini
"Apakah aku boleh mencium bibirmu, kim hye jin?" Tanya hajung yang meminta ijin dariku
Aku menatap wajahnya untuk beberapa detik dan ku lihat dari mata hajung, ada kerinduan yang sangat mendalam pada diriku setelah sekian lama tidak bertemu
"Anio*( tidak)" ucapku tegas
"Pipimu?" Tanya hajung lagi
"Anio*(tidak)" ucapku tegas lagi
Hajung memejamkan kedua matanya saat aku mengatakan "tidak" pertanda ia kecewa dengan jawabanku
"Tapi kau boleh memelukku" ucapku sambil tersenyum
Saat hajung mendengar ucapanku, ia segera memelukku dengan erat
Ia bahkan mengusap perlahan kepalaku dengan tangannya dan ku rasa hajung mencuri-curi untuk mencium rambutku sebagai pengganti karena aku tidak mengijinkan dirinya untuk mencium bibirku maupun pipiku
"Apa malam ini kau ada acara?" Tanya hajung
"Aku harus menyelesaikan tugasku" ucapku
"Lupakan tugasmu untuk sementara waktu, kim hye jin" ucap hajung yang menahan kesal padaku
"Hemmm....akan kupikirkan, tapi ku rasa tidak bisa, deadlinenya besok" ucapku menggoda hajung
"Kau tetap tidak berubah, hye jin" sindir hajung
"Kau tetap dingin padaku" lanjut hajung
"Dan kau juga tidak berubah sung hajung" balasku
"Kau masih saja tetap mudah terpancing emosi" ucapku
Hajung mulai terdengar menarik nafas pertanda untuk menahan rasa kesalnya padaku
"Hahaha...Aku hanya bercanda" ucapku cengengesan
"Baiklah....karena kau tidak jauh beda denganku kesibukannya, malam ini aku akan meluangkan waktuku untukmu" ucapku pada hajung
"Syukurlah kau bisa mengerti, kim hye jin" ucap hajung
"Oh iya ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengejarku hingga di depan pintu cafe itu?" Tanyaku pada hajung
Seolah hajung sedang melupakan sesuatu saat aku menanyakan pertanyaan tadi untuknya
"Ohh...****! I forgot it" ucap hajung memaki
"Kim hye jin, rapikan barang-barangmu dan ikut aku" pinta hajung
Aku yang kebingungan melihat sikap hajung segera merapikan barang-barangku, sedangkan hajung membantuku membawa laptopku dan tas jinjing berisi buku-buku tebal dari perpustakaan untuk referensi tugasku
"Sebenarnya apa yang kau bawa hye jin? Apa kau menambahkan batu-batu di tasmu ini?" Protes hajung
"I am sorry, i need more references for my paper" ucapku
Hajung menggenggam tanganku dan menuntunku untuk pergi dengannya.
Sesaat hajung pergi ke meja kasir untuk membayar tagihan kopi yang kami pesan, namun aku menghentikannya dan mengeluarkan kartu memberku dan memotongnya dari saldo kartu member cafe ini
"Apa kau bekerja sambilan di cafe ini, hye jin?" Tanya hajung
"Maksudmu?" Tanyaku heran
"Harusnya kau tak usah membayar tagihan kopi itu, biar aku saja yang...."
"Ehem...maaf tuan, hye jin yang kau kenal sekarang tidak semiskin yang kau kenal dahulu" ucapku protes memotong ucapan hajung
Hajung mengkerutkan keningnya seolah bertanya dari mana aku mendapatkan uang
"Tentu saja dari seseorang yang bertanggung jawab padaku, aku mendapatkan uang saku tiap bulan darinya dengan jumlah yang melebihi kata cukup" ucapku menjelaskan pada hajung
"Apa kau masih berhubungan dengannya?" Tanya hajung penasaran
"Actually no" ucapku singkat
"Dia hanya memenuhi janjinya saat ia menemuiku di kampung halamanku, aku memintanya untuk mendanai semua kebutuhanku hingga aku lulus kuliah"
"Setelah itu, ia akan berhenti mengirimiku uang tiap bulan dan aku akan pergi dari apartement tempat tinggalku yang sekarang lalu mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupanku sendiri" ucapku menjelaskan ke hajung
"Ohhh... kim hye jin sebenarnya perjanjian apa yang kau buat dengan dirinya?" Tanya hajung
"Hemm....lumayan banyak ku rasa, yang jelas aku tidak ingin bertatap muka dengannya lagi" ucapku menjelaskan pada hajung
"Kau bisa ceritakan padaku nanti, tapi maaf bisakah kau berjalan dengan cepat hye jin?" Pinta hajung
"Maaf merepotkanmu" ucap hajung lagi
"Bisa kau jelaskan kenapa kau tergesa-gesa seperti ini hajung?" Tanyaku penasaran
"aku meninggalkan kepala pelayan rumahku sekaligus supir pribadiku di dalam mobil dengan kondisi lalu lintas yang padat"ucap hajung
"aku yakin, ia pasti kebakaran jenggot karena panik seperti tempo hari"ucap hajung
"what?!"seruku
"kenapa kau membuatnya khawatir seperti itu? berhentilah untuk membuat orang sekitarmu khawatir"ucapku memperingatkan hajung
"Haah...ini terjadi karena akhir-akhir ini aku sering melihat sosokmu di sekitar jalan ini"
"Beberapa kali aku mengejar sosok yang mirip denganmu tapi aku selalu kehilangan jejakmu"
"Ku kira aku mengalami halusinasi karena terlalu lelah bekerja dan aku sangat merindukanmu, sehingga alam bawah sadarku selalu melihatmu dari dalam mobil" ucap hajung bicara jujur
"Aku selalu membuka pintu mobil dengan tiba-tiba setiap melihat sosok dirimu"
"untungnya saat aku membuka mobil secara tiba-tiba, jalanan sedang dalam keadaan macet sehingga tidak membahayakan diriku"
"Tapi supir pribadiku tentu mati-matian mencariku hingga menghubungi kepala keamanan keluargaku untuk meminta bantuan mencari keberadaanku" ucap hajung menjelaskan
"Oh ya ampun sung hajung, bagaimana mungkin kau bisa senekat itu?" Tanyaku heran
"Karena aku yakin melihat dirimu, hye jin" seru hajung
"Oleh karena itu aku mengejar seseorang yang mirip denganmu untuk memastikan bahwa itu adalah benar dirimu"
"Dan ternyata dugaanku benar, seseorang yang ku lihat memang benar adalah dirimu" ucap hajung
"Lagi pula, kenapa jalanmu cepat sekali untuk ukuran seorang wanita, hye jin?" Protes hajung
"Maaf itu kebiasaanku yang mengharuskan segala sesuatu dengan kecepatan" ucapku
"Kau bukan super hero 'flash' yang bisa berjalan secepat kilat itu" ucap hajung yang hobi membahas tentang super hero yang ada di film
"Berjalanlah layaknya seorang wanita, hye jin. Lagi pula kau sedang tidak bekerja di restoran siap saji yang menuntutmu melakukan aktivitas dengan cepat" protes hajung
"Baiklah tuan, aku akan berusaha" ucapku menggoda hajung
Aku dan hajung memasuki jalanan raya yang terlihat padat merayap
Beberapa mobil mengklakson kami berdua yang seenaknya berjalan tanpa melewati zebra cross
Hingga sampai di sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam, hajung mengetuk mobil itu dan membuka pintu mobil serta memintaku untuk masuk ke dalamnya
Aku melihat seorang pria paruh baya yang sedang berada di kursi pengemudi
"tuan muda, kenapa kau mulai melakukan hal seperti itu lagi padaku? kau tahu jika anda sering melakukan hal nekat membuka pintu mobil tiba-tiba, jantungku akan berhenti berdetak karena khawatir"ucap supir pribadi hajung
"lihatlah kepala pelayan bruce, aku tidak gila"ucap hajung sumringah
"aku tidak mengalami halusinasi, aku memang melihat sosok wanita yang selama ini aku cari"ucap hajung lagi
"hye jin kenalkan, ia adalah supir pribadiku sekaligus kepala pelayan di rumahku, Bruce Pennyworth" ucap hajung
"G-good evening mr. "sapaku pada kepala pelayan bruce
nampak ekspresi terkejut yang terlukis di wajahnya saat melihatku melalui kaca spion yang ada di dalam mobil
"kau benar tuan muda, saya kira anda hanya mengalami halusinasi saja karena telah lama tidak meminum obat penenang" ucap kepala pelayan bruce
"No! sudah ku katakan padamu bahwa aku tidak memerlukan obat penenang itu lagi karena aku sudah sembuh"
"dan kau tahu siapa orang yang membuatku sembuh dan memutuskan untuk menajalani therapi?'" tanya hajung yang memberikan pertanyaan pada kepala pelayannya
"gadis ini kepala bruce, ia adalah pemanduku yang telah menuntunku untuk keluar dari jalan kehidupanku yang kelam"ucap hajung dengan wajah berseri-seri
"sudah hentikan hajung"ucapku yang merasa malu karena mendengar ucapan hajung yang berlebihan menurutku
"ahh...jadi anda adalah pujaan hati tuan muda yang selalu dibicarakan?" tanya kepala pelayan bruce
"saya belum pernah melihat anda secara langsung, hanya mendengar segelintir dari orang-orang saja yang mengatakan wajah anda sangat mirip dengan sepupu tuan muda yaitu nona sung deok mi" ucap kepala pelayan bruce lagi
"dan kini saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, anda benar-benar sangat mirip. saya kira anda adalah nona sung deok mi, tapi setelah melihat anda dengan saksama, anda adalah orang yang berbeda"ucapnya lagi
"maafkan aku karena telah membuatmu terkejut"ucapku
tak lama suara deringan handphone berbunyi dari saku celana kepala pelayan bruce. dengan cepat ia mulai mengangkat panggilan telepon itu
"ahh...sekertaris min, maafkan saya karena terlambat membawa tuan muda ke rapat penting dengan para investor perusahaan, ada sedikit kendala hingga membuat tuan muda hajung terlambat menghadiri rapat tersebut"ucap pria paruh baya yang membelakangiku
"yyaa*(hei) apakah kau memiliki rapat penting sekarang, hajung?"bisikku
"benar, aku harus menghadiri rapat penting sore ini untuk membahas project baru" ucap hajung mengaku
"lalu kenapa kau justru bicara santai denganku di dalam cafe tadi jika kau memiliki jadwal penting?'tanyaku heran
"sudah ku katakan padamu, aku melihat seseorang yang mirip denganmu lalu aku bergegas mengejarnya dan ternyata memang itu adalah dirimu"ucap hajung mengatakan alasannya lagi
"apa kau tidak bisa membedakan mana hal yang penting atau bukan? para investor itu sedang menunggumu sekarang. bagaimana jika project perusahaan gagal karena mereka tidak bisa sabar lagi untuk menunggu kehadiranmu dalam rapat?"ucapku memperingatkan hajung
"tidak ada hal yang lebih penting dari apapun selain dirimu, hye jin" ucap hajung padaku
entah kenapa hajung selalu mengatakan hal seperti ini. apakah karena ia hampir mati tertembak pada saat itu lalu sifatnya berubah menjadi manja seperti ini padaku? aku merasa tidak enak pada pegawai hajung yang harus mengalami kesulitan karena sifat ceroboh majikannya
hajung selalu menempel dengan diriku selama kami berada di dalam mobil, ia selalu menggenggam tanganku hingga saat helaian rambutku mengenai salah satu mataku dan membuatku sulit membuka mata, aku harus ijin padanya untuk mengatakan apa yang ingin aku lakukan
"hajung-ssi bisa kau lepaskan genggaman tanganmu? rambutku menutupi salah satu mataku, aku ingin menyingkirkannya dan menyelipkan rambutku di belakang telinga" ucapku pada hajung
"odiga?*(mana?) biar aku saja yang menyelipkan rambutmu di belakang telinga"ucap hajung dan membuat kesabaranku habis dan jengkel
"yya!!*(Hei!!) apa kau salah makan hhuh?! berhentilah untuk menggenggam terus kedua tanganku, aku kesulitan untuk melakukan sesuatu" teriakku yang membuat terkejut hajung dan supirnya
"lagi pula aku bukan tahananmu dan aku tidak akan pergi kemana-mana selama mobil sedang melaju" lanjutku
"berhentilah bersikap berlebihan, aku tidak akan pergi menghilang secara tiba-tiba dari hadapanmu seperti penyihir yang melakukan teleport" ucapku dengan menggebu-gebu
"mi-mian*(ma-maaf) hye jin aku membuatmu kesal"ucap hajung merasa bersalah
"bergeserlah sedikit, sejak tadi aku terhimpit antara pintu mobil dan tubuhmu" protesku
"ba-baiklah" ucap hajung dan mulai melepaskan genggamannya dan bergeser sedikit menjauh dariku
sesaat suasana di dalam mobil menjadi hening setelah aku teriak pada hajung
"hye- hye jin-ssi"panggil hajung pelan
"mwo?*(apa?)"ucapku sedikit ketus
"maukah kau makan malam denganku saat ini steelah aku menyelesaikan rapatku dengan para investor?'tanya hajung
"karena aku sudah berjanji padamu untuk meluangkan waktuku malam ini saat kita berbincang di cafe tadi, aku akan menerima ajakanmu" ucapku pada hajung
terlihat wajah senyuman senang dari hajung saat aku menerima ajakan makan malam darinya
******************
sesuai ucapan hajung, aku menunggu dirinya yang sedang rapat di lobi hotel, dengan adanya rapat hajung, aku bisa megerjakan tugas makalah kuliahku yang dikumpulkan esok pagi
aku melihat waktu menunjukkan pukul 8 malam, tugas kuliahku telah selesai ku kerjakan, namun hajung belum selesai dengan rapatnya
aku merasakan kantuk setelah selesai mengerjakan tugasku, aku baru ingat, kopiku belum ku habiskan sore tadi saat aku berbincang dengan hajung
haahh...sayang sekali kopi tadi. aku belum sama sekali menyeruputnya tapi aku sudah meninggalkan kopi itu diatas meja, harusnya aku meminta barista cafe sana untuk membungkusnya saja
ini semua karena hajung! aku tidak peduli pokoknya malam ini aku ingin meminta dirinya untuk mentraktir makanan yang aku suka
setelah beberapa menit aku mengatakan hal itu, mataku terasa berat dan aku memutuskan untuk memejamkan mataku sebentar di atas sofa yang sangat nyaman ini. hingga hajung menyelesaikan rapatnya
aku tidak akan menyangka, aku akan melakukan hal ceroboh lagi untuk keuda kalinya yaitu tidur di tempat umum, namun kali ini aku tertidur di lobby hotel
entah sudah berapa lama aku mulai tertidur pulas hingga aku merasakan sentuhan tangan yang lembut di bagian keningku yang terdapat luka membekas yang tidak akan pernah menghilang untuk selamanya
sejak aku memiliki luka akibat tusukan garpu secara brutal oleh salah satu narapidana wanita di keningku, aku mulai merasa area itu menjadi area sensitif yang ada di wajahku
perlahan aku mulai membuka kedua mataku dan melihat hajung sedang tersenyum tepat di sampingku
"hei sleepyhead*(tukang tidur) apakah kau memimpikan aku tadi?"tanya hajung menggodaku
aku tersenyum pada hajung
"aku bermimpi kau membawa tusukan odeng yang sangat banyak lalu kita memakannya bersama-sama" ucapku pada hajung
"apakah itu sebuah kode untuk rencana makan malam kita hari ini?" tanya hajung padaku
"jika kau juga setuju menginginkan odeng, ku rasa kita bisa mencari restoran korea untuk makan malam ini" ucapku pada hajung
"actually I wanna romantic dinner on fancy restaurant only with you but...." ucap hajung terputus
"ku rasa keinginan makanmu yang sederhana ini membuatku berubah pikiran" lanjut hajung
"so.. do you wanna eat odeng for dinner?" tanyaku untuk memastikan hajung
"apapun makanannya asalkan aku bisa bersama denganmu, aku akan menyetujuinya" ucap hajung
"ok sir! let's go!!"seruku menarik lengan hajung
aku dan hajung pergi ke sebuah restoran makanan korea sederhana lalu memesan makanan sesuai keinginanku
kami sangat menikmati hidangan makanan malam ini. seolah melupakan masa lalu kelam kami dan hanya hari- hari indah saja yang kami lewati
hajung menceritakan hal lucu di kantornya dan tingkah para pegawainya yang konyol saat tertangkap basah sedang membicarakan dirinya saat menjabat menjadi CEO baru
hajung menceritakan bahwa ia sempat diragukan oleh sebagian pegawainya dan para pemegang saham untuk menjadi CEO baru di perusahaannya, namun dengan seiring berjalannya waktu, hajung mampu membuktikan dirinya sangat berkompeten dan membalik keadaan mempermalukan para komplotan orang-orang yang telah meragukan dirinya
terlihat kepuasan dari ekspresi wajah hajung saat ia sedang bercerita, sesekali aku memuji dirinya seperti layaknya anak kecil yang baru mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran. bukannya tersinggung, hajung justru menyukainya
hingga tidak terasa waktu sudah hampir lewat tengah malam dan seorang pelayan meminta kami untuk membayar tagihan makanan karena restoran akan segera tutup
setelah membayar tagihan makanan, hajung mengantarku ke apartement tempat aku tinggal hingga di depan pintu apartementku
"hye jin-ssi"panggil hajung sesaat sebelum aku masuk ke dalam
"bisakah kau meluangkan waktumu setiap harinya untuk kita berdua seperti malam ini?"pinta hajung padaku
"aku tidak keberatan untuk meluangkan waktuku padamu, tapi..."ucapku terputus
"aku ragu apakah kau memiliki waktu luang atau tidak karena kau kini seorang CEO yang sangat diandalkan oleh perusahaan"ucapku pada hajung
"aku akan berusaha meluangkan waktuku untukmu, kim hye jin"ucap hajung
"karena kau adalah prioritas bagiku melebihi apapun"ucap hajung dengan yakin
"ku harap waktu luangmu untukku tidak mengganggu aktivitasmu, hajung" ucapku
"kau tahu saat ini kau memiliki project besar untuk perusahaanmu, aku tidak ingin menjadi penghalang untuk kesuksesanmu menjadi seorang CEO"ucapku
"kau harus ingat masa-masa tersulitmu untuk mencapai posisi ini, dan aku tahu menjadi seorang CEO yang baik untuk perusahaanmu adalah cita-citamu sejak dulu"
"ku harap setelah kau mencapai cita- citamu sekarang, kau mampu mempertahankannya" ucapku pada hajung
"araseo*(aku mengerti) kim hye jin, apa yang kau katakan padaku"ucap hajung
"ku harap kau juga ingat dengan kata-kataku dulu yang nyaris membuatku kehilangan nyawa demi melindungi orang yang ku cintai" ucap hajung
"jika aku selamat dari maut, aku ingin kita hidup bersama bahagia selamanya, hye jin"ucap hajung
"meskipun lingkunganku berubah, tapi rasa cintaku padamu tetap masih sama, tidak memudar sama sekali"ucap hajung
"oleh karena itu, aku tidak akan menyerah dan akan terus berada di dekatmu hingga hatimu terbuka untuk menerimaku, kim hye jin"ucap hajung yang sangat optimis hingga membuat pikiranku terbuka agar menerima perlakuan baik darinya
mungkin pikiranku mengatakan untuk menerima hajung, tapi apakah hatiku akan berpendapat hal yang sama dengan pikiranku saat ini?
apakah hatiku benar-benar bisa menerima ketulusan hati hajung ataukah hatiku masih belum berubah dengan pilihan masa laluku?
biar bagaimanapun aku tidak boleh memikirkan pria yang terus bersemanyam di hatiku meskipun keadaan diriku sedang menderita
aku tidak bisa mengelak bahwa hati kecilku masih terus memikirkan park seo jin. meski aku mencoba untuk membencinya berkali-kali, namun ia masih tetap tidak berpindah tempat dari dalam lubuk hatiku seolah seo jin sudah benar-benar menyembunyikan kunci hatiku dan menyimpannya di bagian terdalam yang tidak bisa aku temukan
aku harus memberikan kesempatan pada hajung, ia sudah berkorban begitu banyak untuk diriku, dan ucapannya tetap konsisten sesuai sikapnya terhadapku
mungkin dengan berada di sisi hajung setiap hari, aku bisa melupakan nama pria yang membuat kehidupanku berubah 180 derajat
*******************
note : yang tidak tahu odeng ini gambarannya
see you di episode selanjutnya 🥰🥰
dukung terus hyung ya
__ADS_1
dengan like, komen dan fav novel ini 😉
dukungan kalian sangat berarti untuk hyungjoba🥰🥰🤗