
Kim Hye Jin Pov
"Aigoo...bagaimana mungkin kau bisa menjadi seperti ini, putriku? Bisa-bisanya ketika kau menolong orang lain justru membuat dirimu terluka" ucap ibu deok mi
"Apakah gadis itu sangat dekat denganmu hingga polisi meneleponmu dan memintamu untuk mewakilinya sebagai wali dari gadis asing itu" tanya ibu deok mi yang penasaran
"Eomma...*(ibu..) dia adalah mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari kampus yayasan kita, tentu saja aku sebagai ketua yayasan dari kampus itu harus bertanggung jawab dengan keselamatan mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di sana. Mereka sudah ku anggap sebagai anak asuhku sendiri" ucapku menjelaskan pada ibu deok mi
"Yee...araseo* (iya..aku mengerti) tapi...bagaimana mungkin kau harus menginap di sana untuk menemani gadis itu? Apakah ia tidak memiliki teman?" Tanya ibu deok mi lagi
"Tentu saja ia punya teman, hanya saja sahabatnya sedang kembali ke tanah airnya yang ada di korea, ia sangat dekat denganku. Ia meminta tolong padaku untuk membantu sahabatnya yang tinggal di sini jika membutuhkan sesuatu dan menggantikannya selama ia pulang kampung."
"Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan permintaan gadis yang satu bangsa dengan kita, ibu? Bukankah kita harus saling tolong menolong sebagai sesama orang korea yang tinggal di negeri asing?" Ucapku mengatakan hal ini ke ibu deok mi
Biar bagaimanapun ibu deok mi belum pernah bertemu dengan aku sebagai kim hye jin yang asli. Jadi ku pikir ia tidak akan curiga kenapa aku bisa kenal emma dengan baik, bukan hanya sekedar antar mahasiswi dan ketua yayasan saja, melainkan sudah menganggap mereka seperti teman atau bahkan anak asuh deok mi
"Kau tahu nak, kini kekhawatiran ibu padamu sudah berubah. Dulu aku mengkhawatirkan dirimu karena takut kau akan menjadi manusia yang tidak memiliki hati nurani lagi karena mengacuhkan orang lain dan memandang rendah orang-orang yang ada di bawahmu"
"Aku memaklumi sikap dingin dan aroganmu karena kau tumbuh dengan didikan keras dari ayahmu yang mengajarkan bahwa dunia ini hanya berisi orang jahat selain keluargamu sendiri yang memiliki sifat baik dan melindungimu dari segala kelicikan dunia luar"
"Kau tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sinis karena kau merasa memiliki koneksi kekayaan dan kekuasaan yang tidak terbatas dari ayahmu. bahkan kau tega memperlakukan para pelayan layaknya seorang budak yang hidup di abad ke 17"
"Melihat sikapmu yang dulu, membuatku khawatir kau bisa menjadi orang yang kejam seperti orang yang berasal dari kelompok mafia ataupun yakuza"
"Setelah kau hamil, aku senang kau memiliki sifat yang lembut layaknya seorang wanita biasa pada umumnya, meskipun kau mengalami keguguran pada akhirnya....kau tetap konsisten dengan sikap baikmu"
"Tapi...anehnya, setelah aku melihat perubahan sikapmu menjadi orang yang lebih baik, aku khawatir kau akan disakiti oleh orang jahat yang tega menyakitimu di luar sana. Seperti saat ini, kau hampir tewas karena berani menghadang pembunuh berantai dan menyelamatkan mahasiswi itu dari kematian isshh...." ucap ibu deok mi dengan wajah sedih bercampur kesal
"Eomma* (ibu) kau adalah orang yang peka dengan perubahan sikap dari putrimu. Itu mungkin karena ibu menyayangiku sedari kecil. Meskipun ayah mengajariku bagaimana caranya hidup seperti monster, tapi kau adalah wanita baik yang berusaha mengajarkan putrimu menjadi manusia seutuhnya"
"Kau tidak perlu khawatir padaku dan berpikir aku tidak akan mampu menjalani kehidupan di luar sana jika aku menjadi manusia yang baik. Karena aku percaya tuhan akan selalu melindungi dan menemani kemanapun kakiku melangkah meskipun aku dikelilingi oleh iblis jahat di sekitarku"
"Jika memang tuhan memberiku umur yang panjang, tuhan pasti akan memberikanku pertolongan meskipun datang didetik-detik terakhir ketika hambanya sudah putus asa"
"Lihat saja, buktinya aku masih hidup sampai sekarang dan masih bisa bertemu denganmu" ucapku sambil tersenyum pada ibu deok mi
"Tuhan mengirimku bala bantuan melalui seo jin dan menyelamatkanku dari kematian. Itu bukti bahwa tuhan bersama orang-orang yang baik, ibu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku"
"Omo....*(ohh ya ampun...) putriku tidak hanya mengalami perubahan pada sikapnya, ia sekarang menjelma menjadi orang yang agamis. Ku harap aku sedang tidak bermimpi" ucap ibu deok mi karena terkejut oleh ucapanku
"Eomma* (ibu) jika kau percaya bahwa orang bisa berubah, lalu kenapa kau tidak percaya bahwa hajung, sepupuku adalah orang yang baik?" Tanyaku penasaran
"Aigoo...aigo...sung deok mi! Aku tahu kau berubah menjadi orang baik, tapi bukan berarti kau tidak peka siapa musuhmu!" Teriak ibu deok mi
"Nne... eomma* (ya...ibu) aku tahu hajung adalah musuhku, tapi itu terjadi karena aku dan hajung bersaing untuk meperebutkan posisi direktur utama di perusahaan. tapi di luar itu, dia adalah orang yang baik"
"Apakah ibu pernah melihat hajung melakukan kejahatan dengan mata kepala ibu sendiri, atau pernah....melakukan perbuatan yang tidak sopan dan tidak menyenangkan terhadapmu atau ayah?" Tanyaku penasaran
Ibu deok mi terdiam sambil berpikir pelan-pelan untuk mengingat kejahatan atau sikap hajung yang tidak sopan dan tidak menyenangkan yang pernah ia lakukan terhadapnya
"Satu-satunya kejahatan yang ia lakukan adalah lahir ke dunia ini dari rahim seorang wanita yang seperti ular berbisa" ucap ibu deok mi mengatakan hal itu lagi
"Eomma* (ibu) kenapa ibu berkata seperti itu pada hajung? ibu boleh membenci orang tua hajung tapi ibu tidak boleh membenci hajung yang tidak salah apa-apa terhadapmu"
"ibu tahu..aku adalah anak yang beruntung karena bisa terlahir dari rahimmu yang merupakan wanita baik-baik dan terhormat, tapi lihatlah hajung..."
"Ia adalah anak yang kurang beruntung karena terlahir dari sebuah hubungan yang tidak direstui dan menjijikan"
"Hajung juga merasa malu hidup dengan label anak haram di lingkungan para konglomerat, tapi..terlepas dari hal itu, ia adalah pria baik meski kadang mulutnya menyebalkan" ucapku pada ibu deok mi
"Anak itu pernah merasa malu? Hahaha...jika ia merasa malu, harusnya ia membawa pergi ibunya dan keluar dari silsilah keluarga sung" ucap ibu deok mi sambil tertawa menyindir
"Ee...bukankah hajung dan ibunya memang dipaksa masuk ke dalam silsilah keluarga sung karena amanat dari kakek?"
"Jika ibu dan ayah mencoret mereka dari silsilah keluarga sung, apakah ibu tidak takut akan dikunjungi oleh arwah ayah mertua ibu di dalam mimpi?"
"I...itu..." ucap ibu deok mi yang kehabisan kata-kata
"Aku yakin jika kakek masih hidup, ia pasti merasa sedih karena kalian mengucilkan hajung seperti ini. Biar bagaimanapun hajung tetaplah salah satu keturunan dari keluarga sung"
"Sekali saja, ibu memberi kesempatan hajung untuk bisa dekat denganmu tanpa harus melihat ia adalah anak hasil dari hubungan gelap. Dengan begitu, ibu bisa melihat bagaimana sifat hajung sebenarnya terhadapmu" ucapku pada ibu deok mi
"Haah...baiklah karena putriku sendiri yang mengatakannya, aku akan mencoba bersikap baik pada anak yang berasal dari hubungan kotor itu"
"Meskipun hatiku merasa jijik karena melihat pasangan rendah itu berada di hadapanku, tapi aku akan berusaha untuk bersikap baik pada anaknya karena putriku sendiri yang memintanya" ucap ibu deok mi
"Eomma* (ibu) terima kasih karena telah berusaha memenuhi permintaanku" ucapku pada ibu deok mi sambil tersenyum
Tak lama seo jin datang dengan ayah mertuanya
Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar, seo jin terlihat murung setelah bicara empat mata dengan ayah mertuanya
"Yeobo* (sayang) ayo kita pulang" ucap dong il ke istrinya
"Apa katamu!! pulang?! Baru saja aku bertemu dengan putri kesayanganku" ucap ibu deok mi
"Masih banyak pekerjaan yang harus ku urus, sayang. Lagi pula deok mi harus istirahat dengan baik agar ia bisa cepat pulih"
"Jika ia kedatangan tamu seperti ini. Tentu saja waktu istirahatnya akan berkurang karena ia harus menemanimu mengobrol" ucap dong il
"Tidak apa ayah. Jika ibu masih merindukanku, aku bisa menemaninya" ucapku pada ayah deok mi
"Ahh...tidak sayangku, apa yang dikatakan ayahmu benar, ibu ke sini hanya ingin melihat kondisimu sebentar saja. Setelah itu aku akan membiarkanmu untuk beristirahat"
"Lagi pula ibu tidak perlu khawatir lagi kau akan kesepian, karena menantu seo sengaja tidak bekerja dan tetap setia berada di sampingmu"
"Jika menantu seo ada di sampingmu, ibu tidak perlu merasa khawatir lagi. karena kau pasti sudah sangat aman berada di dekatnya" ucap ibu deok mi sambil tersenyum senang
"Baiklah kalau begitu. Aku dan ibumu akan pergi dari sini. Cepatlah pulih agar kau bisa beraktivitas lagi" ucap ayah deok mi sambil menyentuh bahuku
Seo jin mengantar ayah dan ibu deok mi keluar rumah, setelah itu ia kembali ke dalam dan melihatku lalu duduk tepat di sampingku
"Wae?* (kenapa?) Apa ayah deok mi mengatakan sesuatu padamu, hingga membuatmu tidak bersemangat seperti ini?" Tanyaku pada seo jin
"Kita akan membicarakannya nanti malam, setelah para maid dan bibi min selesai bekerja" ucap seo jin
"Untuk saat ini, aku akan membantumu untuk mencuci rambutmu agar kau merasa nyaman" ucap seo jin
"Mworago?* (apa katamu?) *yyyaa...*(hei....) kau bisa menyuruh bibi min atau maid yang lain untuk mencuci rambutku. Tidak harus dirimu, apa kau adalah baby sisterku?" Tanyaku pada seo jin
"Kali ini saja. Jangan berkomentar apapun setiap aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku hanya memintamu untuk menerimanya saja dariku. Apakah itu adalah hal yang merepotkan bagimu? " tanya seo jin
aku terdiam sebentar ketika seo jin mengatakan hal seperti itu
"Araseo...aeaseo* (aku ngerti...aku ngerti) lakukan apapun yang ingin kau lakukan seo jin. Aku akan menerimanya dengan baik" ucapku pada seo jin pasrah agar moodnya kembali baik lagi
Masalahnya adalah jika kau memperlakukanku seperti ini, Akan semakin sulit untukku mengabaikan perasaan cintaku padamu seo jin bodoh
Sesuai keinginan seo jin, ia membantuku mencuci rambutku yang sepertinya sudah mulai tercium aroma yang tidak menyenangkan di hidung
Aku mencoba mengingat kembali kapan terakhir aku keramas? 2 hari? 3 hari? Atau bahkan....4 hari yang lalu?
Ahhh....
Aku sudah melupakannya karena akhir-akhir ini aku terlalu lelah berurusan dengan hajung untuk membantunya mencari bukti kejahatan dong il
Seo jin membentangkan rambutku yang sedikit ikal dan panjang dengan perlahan di dalam wastafel kamar mandi
Aku duduk di atas kursi dengan membelakangi wastafel, untuk ukuran seorang konglomerat, seo jin adalah tuan rumah yang tidak ingin merepotkan para asisten rumah tangganya
Bahkan ketika bibi min menawarkan dirinya untuk membantu seo jin mencuci rambutku, ia dengan nada datar menolak mentah-mentah bantuan tersebut
__ADS_1
Baiklah tuan rumah yang terhormat, silahkan lakukan sesukamu untuk memberikanku service terbaik yang kau berikan untukku
Seo jin dengan sangat hati-hati meletakkan kepalaku di tepi wastafel.
Ia mulai menyiram rambutku dengan air ketika yakin seluruh rambutku berada di dalam wastafel
"Aww..." aku reflek ketika seo jin memijat bagian atas kepalaku
"Apakah sangat sakit?" Tanya seo jin
"Hanya perih...ku rasa pembunuh berantai itu sangat kuat ketika menarik rambutku hanya untuk menatap dirinya. Padahal wajahnya sangat jelek sekali ketika ia melotot ke arahku dan mengancam diriku"
"Seandainya kuku-kuku jariku panjang, dan bisa memutar ulang waktu, tanpa ragu aku akan mencolok kedua matanya yang sangat jelek itu!!" Ucapku bersemangat sambil menirukan bagaimana cara aku mencolok kedua mata pembunuh jelek itu menggunakan jariku
"Apa kau akan tetap memilih untuk bertemu dengan pembunuh berantai itu jika kau bisa memutar waktu kembali?" Tanya seo jin dengan suara datar
Bodohnya aku baru sadar bahwa omong kosongku tidak tepat untuk saat ini
"A-anio* (t-tidak)" ucapku dengan raut wajah sedih dan menurunkan kedua jariku
"Kau adalah seorang wanita, biar bagaimanapun wajahmu adalah mahkota lain yang berharga untukmu"
"Melihat wajahmu menjadi tidak karuan seperti ini membuatku kehilangan akal dan ingin membunuh pria itu dengan kedua tanganku"
"Tapi melihat responmu yang ingin memutar waktu kembali dan lebih memilih mencolok kedua matanya dari pada harus menghindarnya, sepertinya kau tidak masalah jika pria itu menyakiti wajahmu seperti ini asalkan kau masih bisa bernafas"
"Kim hye jin, apa kau tidak takut jika luka yang diberikan penjahat itu membekas di wajahmu untuk selamanya?" Tanya seo jin
"Apa kau tidak keberatan jika ia melakukan sesuatu yang buruk pada wajahmu dan menyebabkanmu menjadi cacat permanen?"
"Seo jin-ssi kenapa kau berbicara menyeramkan seperti itu?" Tanyaku dengan serius
"Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu hye jin, kau masih bisa membuat lelucon dan melontarkan omong kosongmu disaat kau sudah mengalami hal seperti ini"
"Apakah kau tidak merenung dan berpikir bagaimana caranya agar kau tidak mengalami hal seperti ini lagi? setelah hal buruk terjadi padamu?" Tanya seo jin
"Apakah aku harus menjadi seseorang yang pendiam dan berlarut dalam kesedihan saat melihat wajahku yang babak belur ketika bercermin sehingga kau bisa menilaiku bahwa aku sedang merenung?" Tanyaku balik ke seo jin
"Aku tahu tidak seharusnya aku melontarkan omong kosongku tadi terhadapmu. Bukan berarti aku tidak menyesal bertemu dengan dengan psiko itu"
"Aku sangat takut jika bertemu dengannya lagi, aku sedang mencoba menjadi diriku sendiri, melontarkan omong kosong itu hanya untuk mengatasi rasa takutku saja, seo jin"
"Jika aku benar-benar bisa memutar waktu lagi dan tahu penjahat itu akan datang, aku akan memintamu untuk menyewa para bodyguard atau meminta bantuan polisi untuk bersiaga di depan kamar emma lalu menangkap pria gila itu tanpa harus membuat diriku dan emma terluka" ucapku
"Aku tidak ingin menjadi pendiam dan berlarut dalam kesedihan pasca kejadian ini. Jika aku menurutinya justru hal itu akan membuat mentalku terus down dan membuat proses penyembuhanku menjadi lambat karena perasaanku sangat membebani kejadian hal ini"
"Aku harap emma sama sepertiku, tidak berlarut dalam kesedihan dan menjadi diri sendiri lalu berjanji untuk menjadikan kejadian ini pelajaran hidup agar terus berhati-hati pada orang lain" ucapku menjelaskan seo jin
Seo jin terdiam menatapku. Apakah ia merasa kagum padaku karena kenyataanya aku adalah wanita tegar yang mampu menghadapi masalah dalam hidupku? Ataukah ia tetap memandang aneh sifatku?
"Mianhae* (maafkan aku) aku tidak tahu bahwa omong kosongmu itu kau gunakan hanya untuk tameng agar mentalmu semakin kuat, hye jin"
"Masih banyak hal yang belum aku pahami mengenai dirimu" ucap seo jin
"Eii...gwaenchana...*(tidak masalah) bukankah itu gunanya keluarga? Mencoba untuk mengerti satu sama lain dan berusaha menerima sifat anggota lain apa adanya?"
"Sudah menjadi sesuatu hal yang wajar jika terjadi perselisihan di dalam suatu keluarga, tidak ada sesuatu yang instan, bahkan terhadap pasanganpun kau membutuhkan waktu untuk saling memahami" ucapku
"ku harap aku bisa lebih memahami dirimu, hye jin. agar aku bisa menjadi keluargamu yang bisa kau andalkan" ucap seo jin
Berhentilah mengatakan hal seperti itu seo jin, kau membuat hatiku ingin bergantung padamu
****
Seo jin mengeringkan rambutku dengan hati-hati menggunakan hair dryer dan kami berdua duduk di atas tepi tempat tidur
Pria menawan itu sedang mengusap lembut kepalaku dengan tangannya agar rambutku yang terurai panjang bisa cepat mengering dengan baik
Meskipun suara hair dryer ini sedikit bergemuruh di telingaku, namun sentuhan tangan seo jin membuatku terantuk-kantuk beberapa kali
Aku yang tidak kuasa menahan kantuk memiringkan kepalaku ke arah kiri dan dengan sigap seo jin menyangga kepalaku dengan tangannya yang besar
"Seo jin-ssi mian* (maaf) aku rasa caramu merawatku hari ini terasa sangat nyaman hingga membuatku mengantuk" ucapku sambil memejamkan kedua mataku
Aku mengangkat kepalaku dan berbalik ke arah seo jin yang semula aku duduk membelakangi seo jin
"Seo jin-ssi...gomawo*(terima kasih) kau telah merawatku dengan baik. Aku sangat menyukainya" ucapku sambil tersenyum dengan kedua mata yang berkedip-kedip karena menahan kantuk
Aku membaringkan tubuhku ke atas tempat tidur dengan cara memiringkan posisi tubuhku dan memeluk lututku dengan kedua tanganku layaknya janin yang berada di dalam rahim seorang ibu
Seo jin tidak membalas ucapanku, ia hanya menatapku dengan tatapan kosong. Tak lama, seo jin merebahkan tubuhnya dengan posisi miring dan melihatku yang ingin menutup kedua mataku dengan rapat-rapat
Setelah itu, aku tidak ingat apapun lagi karena sudah tertidur pulas, hingga aku terbangun dalam keadaan lampu yang sudah menyala di kamar seo jin
Entah berapa lama aku tertidur dan sepertinya aku melewatkan jam makan siangku, tapi mengingat aku sarapan dengan porsi yang lumayan banyak hari ini, membuat perutku tidak terlalu protes menagih makanan
Aku bangun dan melihat sekeliling kamar, namun aku tidak melihat seo jin berada di sini
Bagaikan seorang anak yang gemar berada di dekat ibunya, aku memanggil nama seo jin beberapa kali dan mencarinya saat aku membuka mata
Aku pergi ke bawah dan melihat seo jin sedang menyiapkan makanan dan meletakkanya di atas nampan
Sepertinya, seo jin ingin membawa makanan itu ke atas dan memberikannya padaku
Seo jin yang menyadari kehadiranku, segera menyapaku dan menyuruhku untuk segera makan malam
"Ahh...syukurlah kau bangun tepat pada waktunya, baru saja aku ingin membawakan makanan ini dan membangunkanmu" ucap seo jin
"Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanyaku
"Mmm....entahlah, aku tidak menghitungnya, yang jelas begitu aku mengeringkan rambutmu, kau mengatakan merasa mengantuk lalu tertidur pulas hingga melewatkan makan siangmu dan para pegawai di rumah ini telah pergi lumayan lama karena telah selesai bekerja" ucap seo jin
"Benarkah?! Ku pikir matahari baru mulai terbenam, aku tidak tahu kenyataannya aku tidur selama itu, ku pikir ini efek obat yang ku minum hingga membuatku merasa mengantuk terus" ucapku
"Makanlah, setelah itu kau harus mandi air hangat dan meminum obatmu serta merawat luka yang ada di wajahmu" ucap seo jin layaknya orang tua yang sangat perhatian pada anaknya
Aku segera turun ke bawah menuruni beberapa anak tangga dan mulai duduk berhadapan dengan seo jin di meja makan
Aku menyeruput sup brokoli hangat dan terasa sedikit hambar, mungkin jika aku menambahkan penyedap rasa sedikit saja, sup brokoli ini akan terasa nikmat di lidahku
Setelah menyeruput sup brokoli hambar ini, aku memiliki ide untuk mencampurkan sup ini bersama semangkok nasi dan potongan ayam berbumbu lada hitam, setidaknya sup brokoli ini memiliki rasa dari bumbu ayam lada hitam tersebut
Seo jin sedikit terkejut melihat gaya makanku yang sangat tidak elegan. Tapi ia membiarkanku makan sesuai keinginanku tanpa harus mengomentari sikapku saat di meja makan
Setelah mencampur semuanya menjadi satu, aku segera mencicipi kuah sup itu dan terasa seperti makanan manusia pada umumnya yang memiliki cita rasa yang baik
Tanpa ragu, aku menyerok nasi beserta ayam dan brokoli itu dengan satu sendok penuh lalu memasukannya ke dalam mulutku
Namun seribu satu sayang, aku melupakan luka yang berada di sudut bibirku. Saat aku membuka mulutku lebar-lebar, aku merasakan perih di sudut bibirku hingga melepaskan sendok penuh yang berisikan nasi dan potongan ayam itu ke mangkok
"Aakk!..." teriakku reflek
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seo jin panik
"Yyaa...*(hei...) makanlah dengan perlahan, lagi pula tidak ada yang akan merebut makanan itu darimu" ucap seo jin mengoceh mengomeliku
"Kau itu, selalu saja bertindak ceroboh. Makanlah dengan menyendok makanan itu sedikit demi sedikit. Apa kau pikir kau sedang berada di acara mukbang sehingga kau harus makan dengan cara bar-bar seperti itu?" Tanya seo jin
"Araseo hehe...*(aku mengerti)" ucapku dan menyendok makanan itu pelan-pelan dan makan dengan anggun
Setelah selesai makan dan mandi, seo jin memberikanku beberapa obat yang harus di minum
__ADS_1
Tidak lupa aku meminum vitamin yang diberikan oleh ibu deok mi, karena di dalam kemasan vitamin itu terdapat ginseng merah yang sangat bagus untuk tubuhku
Meskipun vitamin itu untuk kesuburan dan vitalitas, aku tetap meminum vitamin-vitamin itu setiap harinya, selain itu rasanya juga sangat enak, hingga membuatku ketagihan
"Apa kau meminum vitamin itu 2 bungkus sekaligus?" Tanya seo jin yang melihatku meminumnya
"Tentu saja. Lagi pula di sini tertulis bisa di konsumsi sebanyak 2-3 kali dalam sekali minum dan ini bukanlah obat melainkan vitamin dan sangat bagus untuk tubuhku. Tenang saja, vitamin ini tidak akan membuatku over dosis" ucapku yakin pada seo jin
"Haahh... kemarilah dan duduk di sini, aku harus mengoleskan salep ini ke wajahmu" ucap seo jin yang sudah siap dengan obat salep untuk wajahku dan duduk di atas tempat tidur
Aku segera menghampiri seo jin dan duduk di dekatnya, seketika aku teringat ucapan seo jin yang berjanji akan bicara padaku saat para pegawai sudah pergi dari rumah ini
"Ahh...seo jin-ssi, apa yang dikatakan oleh ayah mertuamu tadi pagi? Kau bilang akan menceritakannya padaku setelah para pegawai selesai bekerja dan pergi dari rumah ini" ucapku pada seo jin
Seo jin terdiam sesaat dan mengurungkan niatnya yang hendak membuka salep obat untuk wajahku.
Sepertinya ini adalah sesuatu yang serius, hingga membuatku penasaran apa yang dibahas seo jin bersama ayah mertuanya tadi pagi
*****
PARK SEO JIN POV
Gadis itu merasa mengantuk saat aku mengeringkan rambutnya yang terurai indah di mataku menggunakan hair dryer
Saat ia berbaring layaknya janin, aku berbaring miring di dekat gadis itu dan menopang kepalaku dengan tangan kiriku agar aku bisa leluasa memandang wajahnya
Biar bagaimanapun, aku ingin berada di samping gadis ini untuk selamanya, ia butuh seseorang untuk melindunginya dari sikapnya yang ceroboh dan sikap sok beraninya namun nyatanya ia lemah
Aku ingin memahami gadis ini lebih dalam, kepribadiannya yang unik membuatku sejenak melupakan bahwa ia bukanlah istriku melainkan istri sah ku yang telah mengalami perubahan kepribadian
Namun, jika aku ingin memahaminya lebih dalam lagi, aku takut akan terjebak dalam pesonanya yang ada di gadis ini dan melanggar janjiku pada ayah deok mi
Jika aku tetap memaksakan keegoisanku untuk tetap berada di sampingnya, gadis ini akan hidup menderita karenaku
Aku tidak bisa mengabaikan ucapan ayah deok mi seperti hempasan angin yang berhembus melewatiku
Aku harus mengingat ucapan ayah deok mi jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada gadis ini
Biar bagaimanapun, aku harus menerima deok mi ke dalam pelukanku meskipun pernikahan ini hanyalah alat untuk saling menguntungkan perusahaan
aku berharap hye jin bisa menjalani kehidupan damainya setelah hari pemilihan direktur utama real estate rose selesai dilaksanakan
Dan saat ini hye jin sedang duduk di hadapanku untuk bertanya apa yang dibicarakan ayah mertuaku tadi pagi
Haruskah aku bicara jujur padanya? Ataukah berbohong kepadanya dan mengatakan semua baik-baik saja?
Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu berbicara pada gadis yang berada dihadapanku sambil membuka salep oles luka untuk wajahnya
"Hye jin-aa, apakah kau percaya padaku bahwa aku akan melindungimu dan menepati janjiku untuk mengembalikkan kehidupan normalmu?" Tanyaku pada hye jin sambil mengoleskan salep luka di pelipis gadis itu
"Aku hanya memerlukan dirimu berada di sampingku, agar aku bisa memastikan dirimu baik-baik saja hingga kau bisa menjalani kehidupanmu seperti semula"
"Setelah itu, kau bisa hidup bebas sesuai keinginanmu hye jin, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain" ucapku
"Maafkan aku. Untuk kali ini, aku memintamu untuk menjadi sung deok mi sepenuhnya dan berpura-pura menjadi dirinya meskipun di depan teman kampusmu serta di depan sahabatmu sendiri yaitu emma"
"Aku tahu permintaanku ini membuatmu tidak nyaman, tapi...hanya inilah satu-satunya jalan agar kau bisa kembali ke kehidupanmu semula" ucapku dengan berat hati sambil menundukkan wajahku dan enggan menatap wajah hye jin.
Ini adalah sesuatu yang memalukan bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa bermulut besar padanya mengatakan bahwa aku bisa melindunginya tapi meminta hye jin hidup bagaikan seekor burung di dalam sangkar
"Apakah menjauhi emma dan teman-teman kampusku adalah permintaan dari ayah mertuamu tadi pagi hingga membuatmu terlihat putus asa seperti ini karena membuatku semakin tidak bisa bergerak bebas menjadi diriku sendiri?" Tanya hye jin padaku
"Mianhae*(maafkan aku) hye jin" ucapku sambil menundukkan wajahku
"Apakah kau sangat takut pada ayah mertuamu seo jin?" Tanya hye jin lagi
"Aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi lagi seperti kejadian satu hari sebelum acara launching di buffalo" ucapku keceplosan
"Jadi kau ingin mengakui bahwa pembiusan yang dilakukan oleh chul moo terhadapku satu hari sebelum acara launching adalah perintah dari ayah mertuamu?" Tanya hye jin menginterogasiku
"I-itu...." ucapku terbata-bata
"Aku sangat menghargai keberanianmu karena telah memberitahuku dengan jujur bahwa itu adalah perbuatan dari ayah mertuamu, seo jin"
"Kau menuruti perintah ayah mertuamu semata-mata hanya ingin melindungiku meskipun hal itu bertolak belakang dengan keinginanmu"
"Seo jin-ssi, aku tahu kau merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungiku, tapi ku harap rasa tanggung jawabmu tidak membebani kehidupanmu dan membuatmu menderita" ucap gadis yang mirip dengan istriku ini dengan serius
"Melihat ekspresimu seperti ini, secara tidak langsung membuatku ikut merasakan sesak, seo jin"
"Apa kau tahu pelajaran yang telah ku ambil dari kejadian kemarin yang hampir merebut nyawaku?" Tanya gadis itu
"Di saat detik-detik terakhir aku hampir kehilangan nyawaku karena kehabisan nafas, satu hal yang ku sesali adalah aku baru menyadari bahwa begitu banyak keinginanku yang belum terpenuhi salah satunya adalah tentang perasaanku"
"Betapa bodohnya aku, karena tidak berani jujur terhadap perasaanku sendiri. Namun, setelah aku lolos dari kejadian kemarin, ku rasa...aku harus menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi keinginanku dan berbicara denganmu tentang perasaanku terhadapmu"
"Seseorang yang bisa membuatku bersandar ketika aku merasakan sesak saat mengalami sesuatu yang buruk"
"Tidak hanya deok mi yang mengubah kehidupanku tapi kehadiranmu, juga mengubah kehidupanku. tapi...dengan adanya kehadiranmu aku merasa kehidupanku yang berubah drastis ini menjadi sesuatu yang tidak terlalu buruk bagiku dan kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum ketika aku menjalani kehidupanku sebagai deok mi"
"Seo jin-ssi...neo..* (kamu...) adalah seseorang yang ku pikirkan di saat detik-detik terakhir aku hampir kehilangan nyawaku"
"Sesaat sebelum aku menutup mataku dan pria gila itu menanyakanku apa kalimat terakhir yang ingin ku ucapkan sebelum mati, hanya ini yang terlintas dibenakku"
"dan saat ini... aku ingin mengucapkannya di depanmu seo jin, bahwa aku..."
"Bahwa aku menyukaimu..."
" Naega choayo* (aku menyukaimu), seo jin-ssi"
"Saranghae,*(aku mencintaimu) seo jin-ssi..." ucap hye jin dan membuatku seketika kehilangan fokusku mengoles salep luka di bagian sudut bibirnya
Aku tidak percaya hye jin menyatakan perasaannya kepadaku
Dan saat ini, aku tidak merasakan perasaan senang ataupun perasaan kecewa ketika mendengar kalimat itu dari mulut hye jin
Seolah separuh nyawaku melayang entah pergi kemana meninggalkan ragaku yang terpatung memandang hye jin
Kami saling bertatap dengan jarak yang lumayan dekat dan tidak bicara apapun setelah hye jin mengatakan pernyataannya padaku
namun aku merasa gadis itu semakin lama semakin mendekatkan wajahnya padaku dan memandang bibirku
Dan tidak lama gadis itu mulai menyentuh bibirku dengan bibirnya
Seolah terhipnotis oleh suasana saat ini, aku membiarkan hye jin berbuat semaunya
Aku menutup kedua mataku dan merasakan hye jin sedang menciumku dengan lembut
Untuk pertama kalinya, hye jin menciumku atas kemauannya sendiri dan mengecup bibirku beberapa kali
bersambung......
________________________________
Annyeonghaseyo yeorobun
gaes...gaes
maapin ya..
hyung baru bisa update satu episode 🙏🙏🙏🙏😣😣😣😣
__ADS_1