Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan

Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan
Episode 99


__ADS_3

Kim hye jin pov


Aku membuka mataku lebar-lebar dan melihat cahaya berwarna putih berada di langit-langit


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri namun hanya tirai saja yang terlihat olehku


Aku bangkit dari tidurku dan mengambil tasku lalu membuka tirai untuk melihat di mana aku sekarang berada


Aku menyadari bahwa aku sedang berada di rumah sakit


Rumah sakit mana ini?


"Nona kim hye jin" ucap seorang wanita memanggil namaku


"Bagaimana keadaan anda? Apakah sudah merasa baikan?" Tanya perawat rumah sakit ini


Jika dilihat dari seragam perawat yang ada di hadapanku saat ini, ini adalah seragam perawat rumah sakit tempat cha young bekerja


"N-nne*(i-iya)" ucapku gugup


"Berbaringlah sebentar, saya akan memanggilkan dokter untuk memeriksa anda setelah siuman" ucap perawat


"Apakah saya pingsan?" Tanyaku


"Nne* (iya) anda pingsan di luar karena mengalami serangan panik hingga membuat anda kesulitan bernafas dan kehilangan kendali dalam mengatur emosi anda"


"Ahh...dokter, pasien atas nama kim hye jin sudah siuman" ucap perawat saat melihat dokter berjalan


Dokter itu menghampiriku dan memeriksa tanda-tanda vitalku


"Apa kau masih mengalami gejala sesak nafas?" Tanya dokter itu


"Tidak" jawabku singkat


"Sakit kepala?"


"Tidak..."


"Ahh...tapi aku mengalami nyeri pada mataku saat mengedip dan otot kedua pipiku terasa kaku" ucapku mengatakan keluhan yang aku alami


"Ahh...itu adalah hal yang wajar, kau menangis hampir satu jam dan pada akhirnya pingsan karena kelelahan dan di bawa ke rumah sakit ini"


"Benarkah itu yang aku alami?" Tanyaku


"Hem itu benar dan seorang pria yang menemukanmu di jalan membawamu ke rumah sakit ini karena takut terjadi sesuatu padamu" ucap dokter menjalani


"Ahh...nona kim hye jin, apa kau mengkonsumsi obat penenang secara rutin?" Tanya dokter


"I-iya" ucapku ragu


"Baiklah kau bisa mengambil obatnya di apotek sesuai resep yang diberikan"


"Pria yang membawamu mengatakan bahwa obat itu tercecer dan terjatuh saat kau mencoba menghentikkan serangan gangguan kecemasanmu"


"Untuk berjaga-jaga jika suatu waktu kau mengalami serangan gangguan kecemasan, kau bisa memakai obat itu"


"Tapi ku harap kau tidak rutin meminum obat penenang itu karena akan mempengaruhi sistem kerja saraf otakmu jika di konsumsi terlalu lama"


"Minumlah obat penenang itu, jika sangat dibutuhkan" ucap dokter menjelaskan padaku


"Nne*(ya) terima kasih dokter atas penjelasanmu, tapi...dimanakah pria yang telah membantuku?" Tanyaku penasaran


"Emm....sepertinya tidak lama aku melihatnya berada di sekitar sini, apakah ia sudah pergi keluar lagi karena masih memiliki urusannya sendiri?" Ucap dokter itu


Ku rasa ia sudah pergi karena paman itu memiliki urusan pribadinya


Yah...


Meskipun aku tidak sempat untuk mengucapkan terima kasih, setidaknya tindakan ia membawaku ke sini adalah hal yang tepat


Tapi....


Bagaimana aku bisa menebus dan membayar biaya perawatan rumah sakit selama aku pingsan? Huhuhu.....


Apakah rumah sakit ini menerima pembayaran dalam bentuk cicilan?


Jika iya harus berapa lama aku membayar cicilannya? 6 bulan? Setahun?


Aku ke bagian administrasi setelah mengambil obat penenang yang telah diresepkan oleh dokter IGD tadi


"Permisi" sapaku


"Aku ingin membayar tagihan rumah sakit" ucapku


"Ahh...baik, bisakah anda memberitahu nama pasien rumah sakit ini?" Tanya wanita di bagian administrasi rumah sakit


"Kim hye jin" ucapku


"Baiklah tunggu sebentar" ucap wanita itu yang membuatku semakin gugup


"Ahh...ini dia" ucap wanita itu


"A-apakah biayanya sangat mahal?" Tanyaku


"Tidak. Pasien atas nama kim hye jin sudah melunasi biaya perawatannya di rumah sakit ini" ucap wanita bagian administrasi sambil tersenyum


"Mwoo?*(apa?) Lunas??!!" Seruku


"Nne*(iya) anda sudah melunasi pembayarannya dan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit jika tidak ada keluhan apapun" ucap wanita itu


"A-apa kau tahu siapa nama seseorang yang telah melunasi biaya perawatan rumah sakitku melalui transaksi pembayaran?" Tanyaku pada wanita itu


"Ahh...mohon maaf sistem kami tidak menggunakan nama untuk melakukan transaksi pembayaran" ucap wanita itu


"Apakah ada lagi yang bisa ku bantu?" Tanya wanita itu


"Tidak ada, terima kasih"


"Sama-sama, semoga anda lekas sembuh" ucap wanita bagian admin rumah sakit


Aku sedikit kecewa karena tidak tahu siapa seseorang yang telah membantuku


Aku tidak tahu nama atau bahkan wajah asli seseorang baik hati yang telah menolongku di saat aku dalam keadaan sekarat


Aku tidak bisa mengucapkan terima kasih padanya atau pun membalas budi pada paman itu


Aku berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, namun dari kejauhan seorang pria melambaikan tangannya ke arahku dan membuatku berhenti melangkah


Pria itu mengenakan outer coats berwarna coklat dengan knits turtleneck berwarna putih sambil membawa paper back dan segelas minuman di tangan kanannya


Ia berlari ke arahku dan tersenyum


"Kau sudah siuman rupanya" ucap pria yang wajahnya selalu menghantuiku


"Bagaimana keadaanmu? Apa tubuhmu sudah enakan?" Tanyanya lagi


Aku tidak menjawab pertanyaan pria yang ada di hadapanku karena masih kebingungan antara halusinasiku atau memang kenyataan


"Ini minumlah, aku tadi membeli cokelat panas di mesin pembuat minuman di ujung lorong sana " ucap pria itu sambil menunjuk mesin pembuat minuman yang berada di ujung lorong rumah sakit ini


setelah itu, ia menggenggam kedua tanganku agar aku bisa memegang gelas karton tahan air yang sudah berisikan cokelat panas


Sentuhan tangannya seolah sangat nyata bagiku, apakah halusinasiku semakin parah? Apa jangan-jangan aku sudah mengalami skizofrenia akut??


"Apa kau merasakan pusing?"


"Kenapa kau diam saja? Apakah kau masih merasakan keluhan pada tubuhmu?"


"Atau tubuhmu demam? Wajahmu memerah?" Tanyanya yang begitu memburu dan kini ia menyentuh keningku dengan telapak tangannya yang besar dan hangat


Aku terkejut seketika menjatuhkan gelas karton tahan air yang berisi cokelat panas dan mengenai kakiku


"Arrgghh...panas-panas!!" Teriakku sambil meloncat karena kepanasan akibat cairan panas menyentuh punggung kakiku


"Neo gwaenchana?!* (kau tak apa?)" Ucapnya panik dan langsung sigap mengambil sapu tangan yang ada di kantong celananya lalu menunduk di hadapanku untuk mengeringkan sisa cokelat panas yang ada di kakiku


"Kau harus hati-hati. jika tidak, kakimu akan menimbulkan bekas luka bakar" ucapnya sambil mengusap kakiku dengan lembut


"Haah...syukurlah kakimu hanya memerah dan tidak terluka parah"


"Ahh...tunggu sebentar" ucapnya sambil melihat sekeliling


"Chogiyo!*(permisi!)" Ucapnya sambil melambaikan tangan ke salah satu petugas kebersihan


Wanita petugas kebersihan itu menghampiri kami


"Ahh..aku minta maaf, bisa kau bersihkan lantai ini? Cokelat panasku tumpah, aku takut orang lain akan menginjaknya dan terpeleset" ucap pria itu pada wanita petugas kebersihan rumah sakit


Aku yang sedang kebingungan karena tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan, kini berlari kecil lalu kembali menemui dokter atau perawat IGD yang telah menanganiku, berniat mengatakan padanya bahwa aku masih memiliki keluhan


"Seonsengnim!*(bu dokter!)"


"Seonsengnim!!!!" Teriakku pada dokter IGD


"Kim hye jin-ssi?" sapa dokter dengan khwatir karena aku berlari menghampirinya


"Ada apa? Kenapa kau berlari seperti ini?" Tanya dokter


"Seonsengnim*(bu dokter) ku rasa, aku masih belum sehat, aku masih mengalami halusinasi bahkan lebih parah lagi" ucapku menjelaskan pada dokter itu


"Eeh benarkah??!" Seru dokter itu


"A-apa maksudmu dengan keluhan yang lebih parah dari halusinasi? Apakah kau mendengar suara-suara?" Tanya dokter itu padaku


"N-nne*(i-iya) aku mendengar suara, suaranya sangat mirip sekali dengan seseorang yang wajahnya selalu menghantuiku" ucapku panik


"Baiklah kim hye jin tarik nafas...."


"Lalu hembuskan.."


"Tetaplah berusaha tenang kim hye jin, kau sudah aman di sini, tidak ada yang perlu kau takuti" ucap dokter itu


"Perawat eun suk!" Panggil dokter igd


"Nne Seonsengnim*(ya bu dokter)" jawab perawat IGD


"Tolong bawa nona kim hye jin ke tempat tidur dan segera siapkan obat penenenang injeksi agar ia tidak mendapat serangan kecemasan berlebih lagi" ucap dokter itu pada perawat yang berjaga


Sesaat pria itu tiba menghampiriku setelah aku selesai bicara dengan dokter dan perawat


"Seonsengnim*(bu dokter) apa yang terjadi dengannya? Apakah serangan gangguan kecemasannya kambuh lagi?" Tanya pria itu dan membuat dokter dan perawat berhenti melangkah


"Aahh...nona kim merasakan keluhan lagi, tapi aku akan segera bertindak, kau tidak perlu khawatir tuan seo jin" ucap dokter itu dan sontak membuatku terkejut


"Cha-chakamanyo*(tu-tunggu dulu)" ucapku menahan dokter dan perawat


"Seonsengnim*(bu dokter), apa tadi yang kau bilang?" Tanyaku pada dokter jaga


"Aku akan memberikanmu obat penenang injeksi, nona kim" ucap dokter itu


"Bu-bukan itu, maksudku...."


"Kau memanggil pria itu siapa?" Tanyaku heran


Dokter dan perawat jaga melihatku bingung dan saling menatap satu sama lain


"Tuan park seo jin"


"Ia adalah pria yang menolongmu sekaligus orang yang membawamu ke rumah sakit ini" ucap dokter jaga


Aku terpaku saat dokter menjelaskannya padaku


Perawat eun suk memintaku untuk berjalan menuju tempat tidur namun aku tidak melangkahkan kakiku sama sekali


Seolah kabel koneksi otakku dengan responku untuk menanggapi kejadian saat ini agak terlambat untuk terhubung


"MWOO??!!!"(APAA??!!") teriakku dengan suara keras ketika menyadari bahwa ini bukanlah halusinasi, hingga dokter dan perawat jaga IGD terkejut mendengar teriakanku


Ku rasa tidak hanya mereka yang terkejut mendengar teriakanku, namun seluruh pasien serta petugas kesehatan yang berjaga di IGD ini


"P-park seo jin?!" Seruku


"Jadi... aku tidak sedang berhalusinasi?" Tanyaku dengan mata melotot yang hampir keluar


"Apakah maksudmu seseorang yang terus menghantui dirimu adalah wajah tuan park seo jin?" Tanya dokter jaga itu


"S-seonsengnim*(bu dokter)..." keluhku


"Mianhae*(maaf) kim hye jin, telah membuatmu kebingungan dan tidak bisa membedakan antara kenyataan atau halusinasi karena diriku" ucap seo jin sambil menatapku


Aku hanya terdiam beberapa menit, lalu melepaskan bahuku dari genggaman perawat eun suk yang hendak membawaku ke tempat tidur


Aku berlari keluar dari rumah sakit meninggalkan mereka yang masih menatapku


"Kim hye jin!"


"Hye jin-aa" panggil seo jin beberapa kali namun aku tidak menggubris panggilannya


Hingga sebuah tangan menarik lenganku dan membuatku berbalik badan


"Kim hye jin tunggu! Haah...haah.." ucap seo jin yang berhasil mengejarku


"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku sambil menarik tanganku yang dipegang oleh seo jin


"Kenapa kau ke sini hhuh?!" Teriakku


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanyaku dengan ekspresi kesal pada pria yang ada di hadapanku


"Itu...."


"Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu kim hye jin" ucap seo jin serius setelah ia berhasil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena kelelahan berlari mengejarku


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi park seo jin" ucapku ketus


"Tentu saja ada, aku perlu menjelaskan beberapa hal padamu" ucap seo jin


"Cihh....penjelasan apa lagi yang harus ku dengar darimu?? Aku tidak perlu penjelasan apapun lagi yang keluar dari mulutmu" ucapku dengan sinis


"Aku masih memiliki janji, aku harus menepati janjiku padamu, kim hye jin" ucap seo jin


"Janji??" Tanyaku heran


"apa maksudmu dengan janji?" tanyaku lagi


"Kau tidak memiliki janji apapun lagi terhadapku, park seo jin" ucapku


"Apa kau lupa perjanjian kontrak kita?" Tanya seo jin


"Setelah kau membantuku, aku akan memberimu uang dan properti milikku" ucap seo jin yang membuatku semakin marah


Aku berusaha mengatur emosiku dengan cara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya


"Haah..."


"Apa kau bodoh??!"


"Atau kau pura-pura idiot?" Tanyaku


"Kau tidak memiliki janji apapun lagi terhadapku setelah kau mengingkari salah satu janjimu padaku" ucapku


"Hye jin-aa aku bisa menjela...."


"Hentikkan park seo jin!" Teriakku


"Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi setelah kau membuangku ke tempat yang sangat mengerikan itu"


"Kau tidak perlu memenuhi janjimu di dalam surat kontrak yang pernah kita buat di ruang bacamu"


"Kontrak kita berakhir dan kau sendiri yang membuat kesalahan di dalam kontrak itu"


"Kau sudah tidak bisa lagi mengubah atau melanjutkan perjanjian yang pernah kita buat"


"Tidak ada alasan lagi yang bisa membuat kau ingin bicara padaku"


"Dan aku tidak ingin sama sekali memilki hubungan atau mengenal dirimu lagi"


"Kau adalah orang asing dan orang yang tidak akan pernah ingin aku temui meskipun aku dalam keadaan sekarat atau bahkan dalam keadaan mati ataupun reinkarnasi" ucapku pada seo jin sambil berteriak layaknya gadis gila hingga beberapa pejalan kaki memerhatikanku dan seo jin


"Aku minta maaf padamu setelah apa yang ku lakukan padamu, hye jin" ucap seo jin beberapa menit setelah aku berteriak padanya


"Karena sikap pengecutku dan sikap over waspadaku, aku tidak bisa membaca situasi tindakan ayah mertuaku dan justru membahayakan dirimu" ucap seo jin


"Aku tahu permintaan maaf saja tidak akan cukup bagimu karena aku yang tidak becus melindungimu, kau sangat tersiksa berada di dalam sana"


"Melihatmu yang begitu marah padaku, kau pasti ingin sekali menampar atau bahkan memukulku"


"Lakukan hye jin, lakukanlah..."


"Jika hal itu bisa membuatmu lega dan menghilangkan rasa kesalmu padaku" ucap seo jin yang sepertinya tidak tahu lagi bagaimana menangani sikapku yang sedang marah


"Meskipun kau berlutut meminta maaf padaku hingga akhir hayatmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu" ucapku ketus pada seo jin


"aku sangat membencimu park seo jin"


"Sangat benci!"


"Apa kau bilang? Menampar atau memukulmu agar amarahku lega karena perbuatanmu yang telah ingkar janji padaku?"


"Tentu saja hal itu tidak akan cukup bagiku!"


"Aku akan puas jika aku membuatmu tersiksa perlahan-lahan dengan cara menguliti dirimu..."


"Mencabut kukumu satu persatu dan mencopot gigimu secara paksa lalu mendorongmu dari atas gedung pencakar langit dan melihat tubuhmu hancur berkeping-keping"


"Jika kau bersedia melakukan itu untukku, mungkin aku akan memaafkan kesalahanmu padaku" ucapku sambil tersenyum sinis


Seo jin terdiam seribu bahasa dan melihatku dengan tatapan terkejut dan perasaan takut


"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku


"Apa kau terkejut mendengar ucapanku?"


"Atau.. kau tidak akan menyangka, kim hye jin yang kau kenal akan mengatakan hal semengerikan itu padamu?" Tanyaku


"Jika kau mencari kim hye jin yang dulu kau kenal, ia sudah musnah"


"Terkubur di tempat yang ku sebut sebagai neraka dunia itu"


"Setelah ia keluar dari sana, apa kau akan berharap jiwa kim hye jin yang baik seperti malaikat akan ikut keluar bersama raganya?"


"Tentu tidak, hanya iblis yang mampu bertahan hidup di tempat yang seperti neraka itu, dan melanjutkan kehidupan kim hye jin, mengisi cangkangnya yang sudah kosong" ucapku dengan tatapan sinis


Sayangnya setelah aku mengatakan hal semengerikan layaknya psikopat di hadapan seo jin, handphoneku berbunyi dan membuatku terburu-buru mengangkatnya


Aku melihat paman pemilik minimarket tempat aku bekerja part time menelponku di saat seperti ini


Ku rasa ia sedang membutuhkan tenaga karyawan


"Nne ahjussi*(yaa...paman) kim hye jin di sini, ada yang bisa ku bantu?" Sapaku dengan ramah saat menyapa paman pemilik mini market melalui telepon


"Apa kau bisa membantuku bekerja di minimarket? Lagi-lagi pegawaiku meminta izin untuk tidak masuk bekerja karena anaknya sakit demam tinggi" ucap paman pemilik mini market


"Mullon imnida ahjussi*(tentu saja paman) aku bisa hari ini bekerja di tempatmu" ucapku


"Baiklah segera cepat ke sini, pelanggan sudah mulai banyak" ucap paman pemilik minimarket


"Nne ahjussi*(iya paman) aku akan ke sana dengan berlari secepat kilat" ucapku semangat dan segera menutup teleponnya


Ahhh...


Hampir saja aku melupakan seo jin yang sedang terdiam karena ucapan bar-barku


Aku berdehem dan merapikan pakaianku lalu berencana akan pergi meninggalkan seo jin yang sedang berdiri terdiam


Baru beberapa langkah aku berjalan, seo jin tiba-tiba muncul di hadapanku hingga membuatku berhenti melangkah


"Katakan padaku bagaimana caraku agar bisa memanggil jiwa kim hye jin yang ku kenal kembali untuk menghadapiku" ucap seo jin tiba-tiba


"Opsoyo*(tidak ada) bahkan jika kau memanggil jiwa hye jin yang dulu kau kenal menggunakan papan ouija, ia tidak akan muncul di hadapanmu" ucapku dan menggeser tubuhku agar aku bisa melewati seo jin


"Apakah aku perlu membuatmu terkena serangan kepanikan lagi sehingga kepribadian rapuhmu yang tersembunyi bisa muncul??!" Teriak seo jin


"Aku ingin bertemu kim hye jin yang bicara jujur padaku tanpa ada kebohongan sedikitpun"


"Aku ingin tahu seberapa hancur hatimu sehingga aku bisa membantumu untuk menyusun kembali dan menyembuhkan luka di hatimu"


"Untuk itu lah aku memutuskan untuk terus berada di sampingmu agar aku bisa melihat sisimu itu kim hye jin" ucap seo jin teriak layaknya pria gila


Aku menoleh ke belakang dan menatapnya dengan sinis lalu pergi meninggalkan dirinya


Seo jin mengikuti diriku dari belakang hingga aku tiba di depan minimarket tempat aku ingin bekerja


"Sampai kapan kau ingin mengikutiku terus hhuh?!" Tanyaku pada seo jin setelah membalikkan badanku untuk menatap ke arahnya


"Sampai kau mau bicara empat mata denganku di suatu tempat" balas seo jin


"Pergilah! Jangan ganggu aku yang sedang ingin bekerja" ucapku pada seo jin


"Kau ingin bekerja?" Tanya seo jin ulang


"Apa kau tidak ada niat ingin mengganti pakaianmu yang sudah bau itu sebelum pergi bekerja?" Tanya seo jin


"Apa katamu?!" Seruku

__ADS_1


"Dasar tidak sopan" ucapku menggerutu sambil mengendus-endus bajuku yang memang tercium aroma tidak sedap karena kemarin aku berkeringat banyak


"Benarkan kataku? Pakaianmu mengeluarkan aroma tidak sedap. Aku bisa melihatnya dari ekspresi wajahmu" ucap seo jin


Aku membuang muka dan membalikkan tubuhku, mengacuhkan seo jin


"Kim hye jin, gantilah pakaianmu. aku sudah membawakan pakaianmu di sini" ucap seo jin sambil menggoyang-goyangkan paper bag yang ia bawa-bawa bersama dirinya sejak tadi


"Shireo!*(ogah!)" Ucapku singkat


"Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi padamu dan tidak ingin menerima pemberian apapun lagi darimu" ucapku lagi


"Yya!!*(hei!!) Ku peringatkan padamu"


"Jika kau mengikutiku lagi, aku akan melaporkanmu ke polisi sebagai penguntit" ucapku pada seo jin memberi peringatan padanya


"Lakukanlah...lagi pula polisi tidak akan percaya padamu dan menangkapku sebagai seorang penguntit karena telah mengikutimu" ucap seo jin santai


"Cih...bagaimana mungkin kau bisa memiliki kepercayaan diri seperti itu dan yakin bahwa polisi tidak akan menangkapmu sebagai penguntit karena terus mengikutiku?" Tanyaku


"Kau sudah melanggar hak privasi seseorang, akan ku pastikan kau berurusan dengan polisi"


"Atau jangan-jangan... kau mencoba menyuap mereka menggunakan uangmu hingga mereka tidak berani menangkapmu?"


"Wahh....sungguh menyebalkan sekali orang-orang kaya model sepertimu" ucapku menuduh seo jin


"Kim hye jin, aku tidak menyuap petugas polisi seperti yang kau bilang tadi"


"Tidak semua petugas bersikap buruk seperti yang kau bilang tadi, masih banyak petugas polisi yang bersikap jujur dan baik untuk membantumu"


"Lagi pula aku tidak berani menyuap polisi"


"ada alasan kenapa mereka tidak mungkin menangkapku atas tuduhan sebagai penguntit dirimu" ucap seo jin


"Alasan??" Tanyaku heran


"Memangya apa alasan yang membuatmu tidak akan bisa menjadi pelaku penguntit karena telah mengikutiku terus seperti ini?" Tanyaku penasaran


"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini padamu, tapi...jika aku tidak memberitahukannya padamu, kau akan salah paham dan justru semakin membenciku" ucap seo jin


"Mereka tidak mungkin menangkapku, karena aku adalah orang yang membayar uang jaminanmu sehingga kau bisa pergi keluar dari penjara tadi pagi, dengan kata lain aku adalah walimu dan kau berada dibawah pengawasanku" ucap seo jin dan membuatku terkejut dengan apa yang ia katakan


"Mworago?!*(apa katamu?!)" Tanyaku


"Apa kau pikir, kau keluar dari penjara tadi pagi berkat pertolongan manager club malam itu yang menyerahkan barang bukti ke polisi?" Tanya seo jin yang mencoba menebak jalan pikiranku


"Tidak kim hye jin!" ucap seo jin


"Manager club malam itu tidak melakukan apapun padamu, ia lebih memilih pekerjaannya dibandingkan harus menyerahkan barang bukti untuk membebaskanmu" ucap seo jin


"Kau bukanlah orang penting di mata manager club malam itu, ia lebih memilih membela tamu vip nya meskipun tamunya bersikap kurang aja dan bersikap kasar pada dirinya, dibandingkan harus membelamu di depan petugas polisi"


"Meskipun kau berbuat baik pada manager club malam itu karena telah membela dirinya dari sikap tamu vip yang bersikap kasar padanya, ia tidak akan mengucapkan terima kasih padamu"


"Ia sudah tidak memiliki hati kecilnya lagi untuk membelamu sebagai solidaritas sesama perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual, karena ia sudah menjadi budak uang"


"Aku sendiri yang pergi ke club malam itu dan menyuap seseorang yang bekerja di sana untuk memberikanku rekaman cctv ruangan tamu vip tempat kau dilecehkan, dimana bukti rekaman itu terlihat jelas ia sedang mencium...." ucap seo jin terputus sambil memijat-mijat keningnya menggunakan jari-jarinya


"Haaahh....apa kau tidak berpikir dulu sebelum mengambil keputusan hhuh??!" Teriak seo jin


"Bagaimana mungkin club malam menjadi tempat kerja paruh waktumu?!"


"Apa tidak ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat kerja part timemu??" Ucap seo jin yang emosi padaku


"Kau saja bisa mengambil berbagai macam pekerjaan paruh waktu, seperti di minimarket, restoran, cafe, bahkan ke toko swalayan menjadi badut memakai kostum hewan sambil berjoget lincah hingga kau kelelahan"


"kau bisa mengambil semua pekerjaan paruh waktu itu hye jin!"


"Tapi club malam??"


"Waahhh....bagaimana mungkin kau bisa berbelok ke sana setelah makan malam dengan mie instant di minimarket?"


"Harusnya kau langsung menuju ke sauna setelah dari minimarket, tapi entah setan apa yang merasukimu hingga membuatmu berbelok dan bekerja paruh waktu di sana"


"Apa kau senang hhuh? Memakai pakaian sangat mini di dalam sana sambil berjalan mengantarkan makanan dan minuman dengan kaki jenjangmu yang indah itu?"


"Tentu saja pria mesum itu tergoda oleh pesonamu, kau yang menggodanya lebih dulu dengan cara berpakaian seperti itu" ucap seo jin tanpa sadar


"Tapi...tenang saja, aku telah membalaskan dendammu kim hye jin, setelah ku cari tahu informasi tentang pria laknat itu"


"Ternyata ia hanyalah seorang anak dari ketua sales marketing penjualan real estate yang ada di wilayah distrik gangnam"


"Cih...ku kira ia adalah anak dari seorang menteri atau keluarga presiden, ternyata ia hanyalah seorang anak dari unggas yang  bisa ku makan kapanpun ku mau"


"Setelah ku tahu ia hanyalah anak dari seekor ngengat yang meresahkan, aku segera menelpon kenalanku yang bekerja di real estate gangnam untuk memecat ayahnya dan mengirim anaknya ke penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan bejatnya padamu"


"Aku bahkan berani mengancam pembatalan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan real estate distrik gangnam untuk merekonstruksi apartement unggulan daerah gangnam jika tidak menuruti permintaanku" ucap seo jin yang tidak sadar bercerita panjang lebar membanggakan perbuatannya


"Cih...itulah akibatnya jika menyentuh seseorang yang berharga bagiku, aku akan menghancurkannya dengan kedua tanganku sendiri" ucap seo jin sambil mengepalkan kedua tangannya


"Tunggu dulu.." ucapku tiba-tiba setelah mendengar ucapan seo jin panjang lebar yang seperti sebuah pengakuan bagiku


"Memangnya sudah berapa lama kau mengikutiku hingga kau tahu semua kegiatanku selama aku di seoul?"


"Apakah mungkin...semua kejadian baik yang aku alami selama tinggal di sini adalah perbuatanmu?" Tanyaku


"M-maksudmu? Aku tidak paham" ucap seo jin grogi


"Pelayan minimarket yang tiba-tiba menjadi ramah lalu memberikanku sosis, koyo terlantar yang sengaja ditinggalkan oleh wanita paruh baya..."


"Sikye dan telur rebus gratis dari sauna, bahkan pembeli yang muncul tiba-tiba lalu memborong semua jeruk saat aku bekerja part time memakai kostum hewan?"


"Apakah itu semua perbuatanmu?!" Seruku


"K-kim hye jin, aku....tidak mengerti apa maksudmu?" Ucap seo jin


"Aahh satu lagi, jadi.... yang di maksud paman pelanggan oleh pria mesum di club itu adalah kau?" Ucapku menambahkan


"Mwo?*(apa?)" Tanya seo jin


"Aku juga sempat berpikir siapa yang dimaksud paman pelanggan seksku yang dibicarakan oleh pria mesum yang bernama ji hoon saat ia berada di dalam penjara?"


"Aku berpikir hingga membuat kepalaku hampir meledak karena penasaran"


"Harusnya aku bisa menebak satu-satunya orang yang pernah menghabiskan malam bersama adalah dirimu seorang" ucapku


"Yya ahjussi*(hei paman) apa kau mengatakan hal yang tidak-tidak pada pria mesum yang aku temui di club malam itu?" Tanyaku pada seo jin sambil berkacak pinggang


"aku? T-tidak..."


"Aku tidak mengatakan apapun padanya" ucap seo jin tidak ingin mengaku


"Yya!!*(hei!!) Berhentilah memanggilku ahjussi*( paman)" protes seo jin


"Jika kau tidak mengatakan macam-macam padanya, kenapa ia bisa mengucapkan dan memintaku bicara pada paman pelanggan **** ku untuk membebaskannya dari dalam penjara?" Tanyaku


"Mwo?*(apa?) Ia bicara kurang ajar seperti itu padamu?!" Seru seo jin


"Kim hye jin...aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa kau adalah wanita rendahan seperti itu"


"Aku hanya mengatakan padanya untuk tidak menyentuhmu dan mengancam mematahkan tangannya jika ia tidak mengakui perbuatan yang dilakukan padamu" ucap seo jin


"Yya ahjussi*(hei..paman)" ucapku memanggil seo jin


"Aku ucapkan terima kasih padamu karena kau telah membebaskanku dari dalam sana meskipun dengan cara menyuap beberapa pihak" ucapku


"Tapi...aku tidak lagi bekerja sebagai wanita PSK dan melayanimu lagi meskipun kau adalah pelanggan pertamaku" ucapku frontal


"Kim hye jin kenapa bicaramu seperti itu?" Protes seo jin


"Wae?*(kenapa?) Bukankah kau pernah memiliki niat untuk menjadikanku wanita penghiburmu?"


"itu hanyalah kesalahpahaman pada awal pertemuan kita, hye jin..." ucap seo jin


"Ku rasa kita tidak perlu membahas masa lalu seperti itu" ucap seo jin


"Jika tidak ingin membahas masa lalu, apa tujuanmu jauh-jauh dari chicago ke sini mengikutiku terus selain memiliki niat tersendiri?" Tanyaku


"Ada hal yang ingin ku katakan padamu dan ku harap kau mendengarkannya" ucap seo jin memintaku


"Lagi pula aku mengikutimu bukan dari chicago, tapi dari pulau hangan. kita berangkat bersama-sama bahkan satu kapal di kapal feri" ucap seo jin


"Aku tahu tindakanku salah dan diam-diam sudah mengikutimu selama satu bulan terakhir untuk melihat bagaimana kehidupan..."


"Mwoo??!*(apaa?!)" Seruku memotong ucapan seo jin


"Sa-satu bulan?!" Teriakku sambil membelalakan kedua mataku


"Wahh....ahjussi*(paman) kau memang penguntit yang handal"


"Ku kira hanya beberapa hari tapi ternyata sebulan?!"


"Ku rasa aku yang bodoh karena tidak menyadari menjadi korban penguntit selama satu bulan"


"Kim hye jin..." panggil seo jin


"Dan kebodohanku semakin parah karena telah mempercayai  takdir baik sedang berada di pihakku karena mereka datang secara terus menerus"


"Ternyata dibalik semua ini adalah ulahmu?" Ucapku sambil menghembuskan nafas dengan keras


"Kim hye jin...aku bisa menjelas..." ucap seo jin


"Agassi!!*(nona muda!)" Teriak seorang pria tiba-tiba memotong ucapan seo jin


Aku menengok dan melihat paman pemilik minimarket melambaikan tangan padaku


Aku segera berlari menghampirinya


"Kenapa kau tidak langsung masuk setelah tiba dan justru malah mengobrol dengan pacarmu? Ku kira aku salah lihat, tapi setelah melihat lebih dekat, ternyata itu benar dirimu" ucap pemilik minimarket menggerutu


"A-ahjussi*(p-paman) kau salah! Dia bukan pacarku tapi seorang *ahjussi (paman) penguntit!" Teriakku pada paman pemilik minimarket


"Penguntit??" Tanya ulang paman itu


"Apa kau sedang mengkhayal nona muda?"


"Pria setampan itu tidak mungkin menjadi penguntitmu, justru kau yang akan dituduh sebagai penguntit oleh polisi" ucap paman pemilik minimarket dan justru membuat seo jin menahan tawa


'Haah...sial!' Umpatku dalam hati


"Masuklah dan bantu aku menghitung barang-barang yang masuk" perintah paman pemilik  minimarket


Aku segera mengikuti paman itu dan masuk ke dalam minimarket


"Eitss...tunggu dulu!" Ucap paman itu menghentikkan langkah kakinya


"Sepertinya aku mencium suatu aroma yang tidak enak di hidung" ucap paman  pemilik minimarket sambil mengendus-endus


Lalu matanya tertuju padaku


"Ahh...aku baru menyadarinya.."


"Kenapa pakaianmu sama seperti kali pertama kau bekerja di sini, nona?!" Seru paman pemilk mini market


"Kau tahu, di toko ku kebersihan adalah nomor satu di sini" ucap paman pemilik minimarket


"Aishh...agassi*(nona muda) aku kecewa padamu"


"Meskipun wajahmu teihat lumayan dan kerjamu sangat gesit serta teliti, tapi ternyata kehidupanmu jorok"


"Kau sangat malas mandi dan memakai pakaian yang sama berhari-hari tanpa di cuci" ucap ketus paman pemilik minimarket


"Apa kau tidak punya pakaian lain lagi?" Tanya pemilik minimarket itu


"I-itu..." ucapku yang bingung menjawab


"Aku tahu, aku sedang membutuhkan seorang pekerja paruh waktu, tapi aku tidak bisa menerima orang jorok sepertimu, nona"


"Pergilah" ucap paman pemilik minimarket itu sambil menutup hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya


"Ahjussi*(paman) tunggu dulu-tunggu dulu" ucap seo jin tiba-tiba menghampiriku dan paman pemilik minimarket


"Aku ke sini berniat mengantar pakaian milik pacarku" ucap seo jin tersenyum


"Tapi ia sedang marah padaku, lalu enggan menerima pakaian yang ku antar padanya" ucap seo jin mengarang


"Sudah beberapa hari ini ia kabur dari rumah tempat tinggal kami berdua dan selama ini ia tinggal dan tidur di sauna"


"Setelah aku menemukannya dan berniat untuk meminta maaf, ia justru memarahiku dan menyuruhku untuk pergi dari hadapannya"


"Yyaa ahjussi!!*(hei paman)!!" Teriakku pada seo jin


"Ckckck...aigoo agassi*(aduh...nona muda) kenapa sikapmu sangat kekanak-kanakan?" Ucap paman pemilik minimarket


"Lihatlah pacarmu, ia pasti sangat mengkhawatirkan dirimu yang sudah pergi menghilang selama beberapa hari"


"Dan kau justru memanggilnya dengan sebutan ahjussi*(paman)"


"Apa kau tidak memiliki hati nurani?"


"Aku tahu jiwa muda memang sulit di kendalikan, tapi jika kalian bertengkar, sebaiknya segeralah berbaikan lalu rukun kembali"


"Segera terima dan ganti pakaianmu nona muda jika kau ingin bekerja di sini" perintah paman itu dan masuk ke dalam bekerja kembali


Aku melirikkan mataku dengan sinis ke seo jin


"Apa kau puas mempermainkan kehidupanku ahjussi?*(paman?)" Tanyaku sinis


"Aku tidak mempermainkanmu, hye jin. Aku sedang membantumu dan berhentilah memanggilku ahjussi!*(paman)?!" Sewot seo jin


"Paman itu benar, pakaianmu sangat bau, aku saja terus menahan nafas saat membopongmu ke rumah sakit..." ucap seo jin yang mulai menyindirku


Aku segera merebut paper bag dari tangan seo jin yang berisi pakaian baru, namun...


Ia justru menahan paper bag itu hingga membuatku menolehkan kepala dan aku menatapnya dengan ekspresi  bingung


"Kenapa kau tidak ingin melepaskannya ahjussi?*(paman?)" Tanyaku


"Ada harga yang harus dibayar agassi*(nona muda)" ucap seo jin dengan wajah datar


"Jika aku membantumu meminjamkan pakaian ini untukmu, sepulang kerja kau harus bersedia mengikutiku dan bicara tenang denganku" ucap seo jin yang mencoba bertransaksi denganku


"Apa kau gila?! Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu" seruku


"Kim hye jin ku mohon berikan aku satu kesempatan lagi untuk meluruskan semua kesalahpahaman ini" ucap seo jin padaku


"Yya agassi!*(hei nona muda!) Pergilah! Kenapa kau masih di sini?" Teriak paman itu


"Kau membuat seluruh minimarketku menjadi bau" ucapnya lagi


Aku menghembuskan nafasku, saat ini aku butuh uang untuk ongkos kembali ke pulau hangan


Harusnya tadi pagi aku kembali ke pulau menaiki kapal feri, namun akibat insiden kecelakaan lalu lintas dan aku harus di bawa ke rumah sakit untuk beberapa saat karena gangguan kecemasanku kambuh, aku menjadi terlambat menaiki kapal feri dan harus menunggu esok paginya lagi


Akses ke pulau hangan hanya ada setiap pagi dan sore hari sebelum matahari tenggelam


Setelah itu, tidak ada lagi kapal yang akan menuju pulau hangan sebagai angkutan umum


Kecuali jika aku memiliki uang yang cukup banyak, aku bisa menyewa kapal feri dan membawaku ke pulau hangan secara pribadi


Bisa saja aku kembali ke pulau hangan nanti sore sebelum matahari tenggelam, tapi terkadang orang yang menumpang kapal feri menuju pulau hangan sangat penuh karena berbarengan dengan orang-orang yang ingin liburan ke pulau hangan ditambah pas sekali hari ini adalah hari jumat


Dimana besok banyak kantor dan sekolahan yang tidak beraktivitas di hari sabtu, orang-orang akan memesan tiket kapal feri pada sore hari di hari jumat, lalu kembali lagi ke seoul sore hari di hari minggu dari pulau hangan


Jika tidak jauh-jauh hari memesan tiket kapal feri, bisa-bisa  aku tidak kebagian tiket untuk pelayaran sore hari


Haahh...


Oleh karena itu aku berencana untuk bermalam lagi selama satu hari di seoul dan harus mencari uang untuk melanjutkan hidupku di sini


Tapi...


Orang yang tidak ingin aku temui lagi selama sisa hidupku tiba-tiba datang dan melihat kondisi payahku


Dengan bodohnya aku tidak menyadari bahwa aku diikuti olehnya selama satu bulan lamanya


Dan saat aku sedang mengalami serangan dari gangguan kecemasan berlebih, ia melihat sisi terlemahku dan membiarkan alam bawah sadarku meracau di hadapan dirinya mengatakan hal sebenarnya yang aku sembunyikan dari siapapun


Dengan berat hati aku harus mengatakan ini, jika bukan karena seo jin, mungkin...aku sudah tidak ada lagi di dunia ini karena kekurangan oksigen dan tidak bisa bernafas lagi akibat gangguan kecemasan berlebihku


Hal mengerikan dari serangan gangguan kecemasan berlebih adalah seketika katup pernafasan akan menutup dan menghalangi jalan nafas penderita akibat kekakuan otot-otot pada tubuh


Oleh karena itu, sangat diperlukan obat penenang bagi penderita gangguan kecemasan berlebih untuk merelaksasikan otot-otot pada organ tubuh


Seo jin telah membantuku hingga saat ini meskipun aku  bicara kasar padanya, tapi tidak bisa dipungkiri, penyebab aku memiliki kelainan mental tidak lain dan tidak bukan adalah karena dirinya


Dengan terpaksa aku menuruti kemauannya untuk bicara denganku selesai bekerja nanti


"Baiklah..."


"Kita bicara setelah aku selesai bekerja" ucapku pelan


"Benarkah?!" Seru seo jin dengan wajah sumringah


"Kau harus berjanji dulu padaku" ucap seo jin sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Namun tindakannya itu, justru membuatku ingin menyindirnya


"Tenang saja, aku bukanlah dirimu yang hobi melanggar janji hingga membuat orang lain menderita" ucapku ketus dan pergi meninggalkan seo jin sambil merebut paper bag dari tangannya


Kali ini, seo jin tidak menahannya, melainkan membiarkanku menarik paper bagnya yang di tarik kasar olehku


Ia tercengang saat aku mengatakan hal itu padanya dan pergi entah ke mana


Paman pemilik minimarket memperbolehkan diriku bekerja di tokonya sambil melihatku dengan takjub


"Aigoo...agassi*(ya ampun nona muda) kau terlihat sangat berbeda setelah memakai pakaian yang diberikan oleh kekasihmu" oceh paman pemilik minimarket


Ku rasa seo jin membelikanku pakaian yang berlebihan, ia memberikanku jumpsuit berwarna abu-abu dengan ikat pinggang bentuk bulat di pertengahan perut  hingga membuatnya elegan



"Minimarketku menjadi ramai karena penampilanmu yang berkilauan di meja kasirku" ucap paman pemilik minimarket memuji pakaian yang diberikan seo jin


Setelah hampir 6 jam aku bekerja di minimarket paman itu, akhirnya aku selesai merampungkan kerja paruh waktuku


Setelah paman itu memberikanku upah atas jerih payahku hari ini, aku keluar dari minimarket dan melihat seo jin seorang diri sedang berdiri menyandarkan kaki kanannya ke tembok dengan ekspresi wajah sedih dan beberapa kali menghela nafas


Namun saat ia menolehkan kepalanya ke arah kanan, ia melihatku yang sudah keluar dari minimarket dan tersenyum menghampiriku lalu ekspresi wajah sedihnya itu hilang seketika


"Apa kau sudah selesai bekerja di sini?" Tanya seo jin namun aku tidak mempedulikannya dan hanya berjalan


"Apa kau masih ada urusan lagi, hye jin?" Tanya seo jin lagi setelah beberapa saat terdiam dan menyadari bahwa aku enggan bicara dengannya


Seo jin tetap berjalan di sampingku namun seorang pesepeda melaju dengan kecepatan tinggi, aku yang menyadarinya segera menghindar ke arah kanan  namun justru tidak sengaja menginjak kaki seo jin


"Aarrgghhh!!" Seru seo jin saat aku menginjak kaki kirinya menggunakan heelsku


"A-apa yang kau lakukan padaku, kim hye jin?" Tanya seo jin padaku yang belum menyadari bahwa aku sedang menghindari pesepeda gila yang kebut-kebutan di trotoar


"Apa kau tidak melihat pesepeda gila itu ahjussi?*(paman)" ucapku ketus


Ku rasa seo jin sedang melamun dan tidak menyadari bahwa ada pesepeda yang melaju cepat sehingga reflek menghindarnya tidak dalam mode on


Setelah menginjak kakinya, aku hanya melengos sambil berjalan dan tidak meminta maaf padanya


Seo jin berlari dengan kaki terpincang dan mengumpat pesepeda itu saat ia sudah berhasil menyusulku


"Ahh sial! Ku harap ia mendapat karma dengan terjatuh di selokan" ucapnya sambil jalan terpincang


"Kau tidak apa-apa kim hye jin? Ku rasa kau menghindari pesepeda itu dengan cepat. membutuhkan usaha yang kuat karena heelsmu yang terlihat tidak nyaman" ucap seo jin


"Ku harap kau hati-hati memakai heels itu agar tidak keseleo dan menyebabkan sendimu bergeser" lanjut seo jin


Aku terdiam tidak menanggapi ucapannya sama sekali


Hingga aku sampai ke cafe tempat kerja part timeku yang kedua


Salah satu pegawainya masih ada yang cuti menikah sampai hari ini, hingga cafe ini membutuhkan seorang pegawai untuk membantu cafenya


Seo jin duduk di dalam cafe dan ku rasa ia menungguku hingga aku selesai bekerja


Selang beberapa menit seo jin berada di hadapanku untuk memesan makanan atau minuman di cafe ini


Aku menarik nafas dan tersenyum


Pada seo jin sebagai pelayan yang profesional


"Selamat sore tuan, ada yang bisa ku bantu? Silahkan anda ingin memesan apa?" Tanyaku ramah sambil tersenyum


Seo jin menatapku dengan tatapan mata berbinar dan membalas senyumku dengan simpul


Ia termenung beberapa lama menatapku sedangkan antrian di belakangnya masih panjang


"Apakah anda masih bingung untuk memesan, tuan?"


"Kami memiliki menu spesial hari ini. Atau anda ingin memesan kopi rekomendasi pilihan cafe kami?" Ucapku ramah


"Hye jin-aa..."


"Bisakah kau memaafkan kesalahanku dan tersenyum padaku dengan cantik seperti ini?" Ucap seo jin melantur hingga rekan kerjaku menatapku dengan tatapan aneh


Seketika wajah senyumku menghilang dan menatap sinis ke seo jin

__ADS_1


Namun aku tersenyum kembali dan mendekatkan  wajahku ke seo jin alih-alih memilihkan menu pilihan


"Ahh...kami memiliki rekomendasi kopi di cafe ini, anda bisa mencoba kopi seperti americano atau luwak yang diimpor dari negara lain..."


'Pergilah...jika kau berniat mengacaukan kerja paruh waktuku, brengs*k' bisikku ke telinga seo jin setelah aku berhasil mendekatkan wajahku ke seo jin alih-alih memilihkan menu rekomendasi sambil menunjuk buku menu


Seo jin segera menyadarinya dan memilih pesanannya lalu membayar tagihannya menggunakan kartu sakti warna hitamnya


"Baiklah tuan, kami akan mengantar makananmu, di mana anda akan duduk?" Tanyaku ramah lagi


"Di sana" ucap seo jin


"Baiklah, silahkan bawa papan nomor pesanan ini dan letakkan di tempat yang terlihat agar staff kami bisa melihat nomor meja anda" ucapku tersenyum ramah lagi


Rekan kerjaku membisikiku karena kagum melihat kartu sakti berwarna hitam milik seo jin


Aku melihat seo jin berjalan masih sedikit pincang. Ku rasa karena insiden tidak sengaja aku menginjak kakinya hingga menimbulkan jalannya seperti itu


Aku mengantarkan kopi dan makanan yang ia pesan berupa kopi americano dan croissant rasa cokelat


Awalnya rekan kerja ku yang semangat ingin mengantarkan makanan itu ke seo jin, namun manager memanggil rekan kerjaku untuk membersihkan meja sehabis membuat pesanan kopi agar tidak lengket


aku mengantarkan pesanan ke meja seo jin, ia terkejut melihatku dan hanya menatapku saat aku meletakkan makanan dan minuman di atas mejanya


"Terima kasih hye jin, maaf merepotkanmu" ucap seo jin namun seperti biasa aku tidak menggubrisnya


Seo jin terlihat murung saat tahu ia diacuhkan olehku, namun aku kembali lagi dan memberi bungkusan koyo ke dadanya secepat mungkin agar tidak ada orang lain menyadarinya dan melihat ke arah kami


Aku kembali bekerja dan membuat pesanan kopi yang lain tanpa menatap ke arah seo jin, hingga jam kerja paruh waktuku habis


Manager cafe itu memberikanku upah atas kerja kerasku hari ini


"Terima kasih hye jin, kau bekerja dengan sangat baik"


"Terlebih....kau sangat menawan hari ini berkat pakaianmu yang elegan" ucap manager cafe itu sambil tersenyum dengan cantik


"Sama-sama nona, ku harap aku bisa bekerja paruh waktu lagi di sini"


"Aku akan menghubungimu jika aku sedang berada di seoul namun sedang membutuhkan pekerjaan part time" ucapku


"Ngg...aku akan memberitahumu jika aku membutuhkan tenaga karyawan di cafeku" ucap manager cafe


"Baiklah nona, aku undur diri dulu jika sudah tidak ada lagi yang perlu di kerjakan" ucapku


"Hem...sebenarnya aku ingin menutup cafe ini lebih cepat  namun ternyata masih ada pelanggan yang sedang menikmati kopi di cafe ini" ucap manager cafe dan melihat ke arah seo jin yang sedang duduk di sofa cafe ini 


"Karena ia tampan, maka aku membiarkan dirinya lebih lama duduk di sana dan enggan mengusirnya untuk mencuci mataku melihat pemandangan indah di wajahnya" oceh manager cafe itu hingga membuatku menghela nafas


Aku diam-diam pergi meninggalkan manager cafe itu berbicara sendiri dan enggan mendengarnya


Saat aku keluar dari cafe, sepertinya seo jin melihatku melewati dirinya dari kaca tembus pandang


Ia segera berlari dan keluar dari cafe lalu menghampiriku


"Apakah sekarang kau sudah bisa ikut denganku?" Tanya seo jin


"Katakanlah ahjussi*(paman) kau ingin pergi kemana?" Tanyaku pada seo jin


"Sudah ku katakan berulang kali padamu untuk berhenti memanggilku ahjussi*(paman)" pinta seo jin


"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku balik


"Umurku dan dirimu hampir berbeda 10 tahun" ucapku


"Kau juga bukan temanku dan aku tidak ingin akrab denganmu"


"Sebagai orang asing, sudah seharusnya aku memanggilmu ahjussi*(paman)" ucapku ketus dan seo jin hanya menghela nafas saat mendengar pernyataanku


"Jadi kau hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku di sini dan memperdebatkan cara panggilanku padamu?" Tanyaku sambil berkacak pinggang


"Baiklah masuk ke dalam mobilku yang ada di sebrang jalan dan kau akan tahu kita kemana, setelah kita sampai di sana" ucap seo jin dan menuju mobil yang ia parkir di bahu jalan


Selama di perjalanan, aku hanya terdiam dan tidak membalas satu katapun ocehan seo jin


Meski begitu, ia tetap gigih dan terus bicara hingga membuatku muak


"....laut di pulau hangan sangat indah dan air lautnya pun sangat jernih. Sudah lama aku tidak melihatnya..." oceh seo jin


"Bisakah kau berhenti bicara? Aku muak mendengar suaramu" ucapku ketus lalu memejamkan kedua mataku


Seo jin terdiam dan menuruti ucapanku, setelah itu seo jin berkendara tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutnya


Suasana di mobil begitu sunyi, hingga aku tertidur di mobil seo jin yang membuatku nyaman


Entah sudah berapa jam aku tertidur, begitu aku membuka mataku, aku bangun terkejut dan melihat seo jin sedang melihat layar handphone


"Kau sudah bangun?" Tanya seo jin lembut setelah menyadari diriku tertidur di dalam mobil


"Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanyaku


"Ku rasa sekitar 2 jam yang lalu" ucap seo jin santai


"Kenapa kau tidak membangunkaku, ahjussi*(paman)?" Tanyaku heran pada seo jin


"Kau terlihat kelelahan setelah seharian bekerja, jadi aku membiarkanmu tertidur sebentar" ucap seo jin


2 jam aku tertidur dan kau bilang itu hanya sebentar?


Park seo jin kau memang sudah gila, apa maksud kedatanganmu ke sini sebenarnya hhuh?


"Apa kau merasa lapar?" Tanya seo jin


"Tidak" jawabku singkat dan berbohong padanya


Sebenarnya aku lapar, namun aku tidak ingin lama-lama berada di sampingnya


"Tapi aku lapar, kita bisa bicara sambil makan malam" ucap seo jin


"Ahjussi*(paman) bicaralah sekarang, aku akan memberimu waktu untuk bicara" ucapku malas


"Apa kau lupa dengan janjimu? Kau sendiri yang setuju bersedia mengikutiku  pergi kemanapun untuk bicara setelah kau selesai bekerja"


"Dan aku menginginkan makan malam terlebih dahulu setelah itu baru aku bicara denganmu" ucap seo jin yang mulai membahas soal janjiku tadi pagi


Seo jin keluar dari mobil dan membantuku membuka pintu mobil agar aku bisa keluar


Saat seo jin membuka pintu mobil untukku, ia mengulurkan tangannya bermaksud membantuku berdiri keluar dari dalam


Aku tidak menanggapi uluran tangannya dan berdiri sendiri lalu keluar dari mobilnya


Seo jin masih mematung di posisi membungkuk dekat pintu mobil dan mengulurkan tangannya meskipun aku sudah keluar dari dalam mobil


"Cepatlah jalan ahjussi*(paman), kau ingin pergi kemana? Udara di sini dingin" ucapku ketus


"Baiklah" ucap seo jin pelan dan menutup pintu mobil lalu menguncinya


Seo jin jalan lebih dulu dan aku berada di belakangnya, begitu juga sebaliknya, jika seo jin jalan lebih lambat, maka aku akan mendahuluinya dan akan mengomel padanya jika jalannya terlalu lambat.


aku sengaja tidak ingin berjalan beriringan dengan dirinya


Saat seo jin berada di belakangku, aku hendak menoleh ke belakang ingin mengatakan bahwa jalannya begitu lambat namun tiba-tiba ia memakaikan coats tebal miliknya dan memasangnya ke bahuku


Aku berhenti berjalan, begitu juga seo jin. Aku dan seo jin saling menatap untuk beberapa saat. Namun aku segera menyadarinya dan menyingkirkan coats milik seo jin dari bahuku


"Ahjussi*(paman) aku tidak membutuhkan ini. Cepat jalan" ucapku ketus sambil berjalan dengan cepat


Seo jin segera mengambil coatsnya yang terjatuh dan berlari mengejar jalanku yang cepat


Seo jin mengajakku ke restoran sky hotel bintang 5


Ku lihat sekelilingku, namun tidak ada satupun pengunjung yang lain selain diriku dan seo jin


Seolah tempat ini sudah di sewa khusus oleh seo jin


Seo jin memanggilkan pelayan dan menyuruh pelayan itu menyajikan menu restoran ini


"Kau ingin makan apa, kim hye jin?" Tanya seo jin


"Kau yang ingin makan, sedangkan aku tidak" ucapku singkat


"Apa kau tidak merasa lapar setelah seharian bekerja?"


"Tidak" ucapku ketus namun terdengar suara gemuruh cacing alaska sedang bergerak dari dalam perutku hingga pelayan restoran mewah ini mampu mendengarnya


Aku yang malu segera memalingkan wajahku dari seo jin dan menutupnya dengan tangan  kananku


Aissh...


Perut sialan!


"Baiklah aku akan memesan ini" ucap seo jin pada pelayan restoran


"Baik tuan, mohon tunggu sebentar" ucap pelayan restoran


Setelah menunggu beberapa lama, makanan yang dipesan berupa daging steak yang menggiurkan lidahku sudah tiba dan seo jin menyuruhku untuk makan


"Makanlah kim hye jin" ucap seo jin padaku


"Aku bilang tidak mau" ucapku keras kepala


"Berhentilah bersikap keras kepala, makanlah! Aku bisa mendengar auman suara perutmu yang kelaparan" perintah seo jin


"Aku akan makan nanti" ucapku singkat


"Kapan?" Tanya seo jin


"Setelah mendengarmu bicara. Aku akan makan tapi tidak di restoran ini"


"Pernyataanmu aneh, hye jin" ucap seo jin


"aku mengikutimu ke sini karena ingin memenuhi janjiku padamu. yang katanya kau ingin bicara padaku, mendengarkanmu bicara, tapi aku ke sini bukan untuk ikut makan dengamu dan kau bilang pernyataanku aneh?" Ucapku mengomel pada seo jin


"Cih...memangnya kau ingin makan apa untuk malam ini, kim hye jin?" Tanya park seo jin


"Mie instan lagi? Atau onigiri?"


"Atau... roti sandwich yang sudah expired selama satu hari?" Sindir seo jin


"Yya ahjussi!*(hei paman) aku ingin makan apapun tidak ada urusannya denganmu. Berhentilah untuk menyebut menu makananku" ucapku memperingatkannya untuk tidak menyindirku


"Kim hye jin..."


"Apa kau tidak lelah hidup seperti ini?" Tanya seo jin


"Jika aku menjadi tubuhmu, aku pasti akan merasa lelah karena kau merawatnya dengan tidak baik"


"Kau pikir aku tidak memerhatikanmu selama ini sejak kau tiba di seoul?"


"Kau hidup sangat tragis bahkan lebih parah dari seorang pengemis gelandangan" ucap seo jin serius


"Kau memperlakukan tubuhmu dengan seenaknya"


"Berusaha menghemat uang dengan cara membeli makanan sedikit mungkin, tapi kau bekerja paruh waktu di 2-3 tempat dalam sehari"


"Pagi hari hanya makan nasi kepal atau sandwich yang sudah expired, siangnya kau hanya makan nasi kepal lagi, sedangkan malam hari kau hanya makan mie instant saja"


"Apa kau pikir kebutuhan nutrisi untuk tubuhmu terpenuhi hanya dengan makan makanan itu?" Ucap seo jin yang terus mengoceh


"Jika kau ingin bunuh diri, lakukanlah sekarang, terjun dari atas gedung atau gantung diri"


"Tapi jangan menyiksa tubuhmu perlahan-lahan dengan cara hidupmu yang seperti ini"


"Jika kau takut mati karena takut di hukum oleh dewa, hiduplah dengan normal layaknya orang pada umumnya. jangan seperti zombie atau mumi yang hidup kembali" ucap seo jin dengan emosi


"Ahjussi...*(paman)." Ucapku


"Apa kau menyukaiku?" Tanyaku tiba-tiba setelah mendengar seo jin mengoceh


"N-ne?? B-busunsuriya*(i-iya? A-apa maksudmu?" Ucap seo jin terkejut


"Tubuhku hanya milikku sendiri, aku bisa bebas memperlakukan tubuhku ataupun bebas memilih kehidupan yang aku jalani"


"Jika kau muak dengan kehidupan yang ku jalani, tutup saja matamu, pura-pura tidak melihat dan abaikan aku" ucapku pada seo jin


"Kecuali jika kau menyukaiku, mungkin akan sangat sulit untuk menutup matamu dan mengabaikan aku" ucapku pada seo jin


"B-bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku menyukaimu? Apa kau akan mengubah cara hidupmu?" Tanya seo jin


"Tidak!" Ucapku singkat


"Aku tidak akan mengubah kehidupanku yang seperti ini" ucapku yang membuat seo jin bingung


"Jika kau menyukaiku, aku akan menamparmu dan memukulmu hinggga babak belur lalu menyuruhmu kembali ke chicago agar kau sadar" ucapku ketus


"Aku...tidak akan pernah menyukaimu lagi ahjussi*(paman)" ucapku ketus


"Tidak akan pernah, jika kau masih ingat bahwa aku pernah mengatakan aku menyukaimu, lupakanlah"


"Karena hatiku sudah berubah dan tidak tertarik padamu lagi" ucapku pada seo jin


"Hye jin-aa kata-katamu tadi seperti seseorang yang telah di campakkan" ucap seo jin


"Apa katamu?!" Seruku


"Kau terus mengatakan bahwa kau tidak menyukaiku lagi. Kau berusaha menekankan kalimat itu" ucap seo jin


"Ku beritahu satu hal padamu, jika kau merasa di campakkan oleh seseorang, hiduplah dengan baik"


"Perlihatkan bahwa dirimu dalam keadaan baik-baik saja, tidak dalam keadaan menyedihkan seperti ini" ucap seo jin


"Meskipun kau berulang kali mengatakan bahwa kau membenciku, tapi kenyataan bahwa kita pernah tinggal satu atap dan melakukan hubungan layaknya suami istri di hotel parkhyatt adalah hal yang tidak bisa dipungkiri..."


"Yya?!*(hei?!)! Kenapa kau justru membahas kejadian itu lagi?!" ucapku kesal pada seo jin


"Wae?*(kenapa?) Apa kau kesal jika aku membahas masa lalu?"


"Bukankah tadi pagi kau duluan yang membahas masa lalu kita saat pertama kali bertemu dan enggan memanggil namaku sehingga kau memutuskan untuk memanggilku dengan sebutan ahjussi?*(paman)" ucap seo jin


"Apa kau sedang membalas dendam padaku?" Tanyaku pada seo jin


"Ani*(tidak)" ucap singkat seo jin


"Aku justru ingin membicarakan semuanya padamu tentang perasaanku"


"Aku tahu itu hanya kejadian yang tidak diinginkan, tapi aku tidak bisa berbohong padamu, bahwa aku tidak bisa melupakan malam kejadian itu, kim hye jin" ucap seo jin santai


"Park seo jin!!" Teriakku padanya yang tidak memperindahkan ucapanku agar tidak membahas masa lalu


"Wae?*(kenapa?) Kau terlihat marah" ucap seo jin tanpa rasa bersalah


"Jika kau tidak menyukaiku lagi, harusnya kita bisa membicarakan kejadian pada malam itu dengan santai tanpa harus memiliki pengaruh emosi pada dirimu" ucap seo jin yang semakin tidak bisa ku mengerti apa yang ingin seo jin sampaikan padaku


Yang aku tahu, jika aku salah membalas ucapannya, aku sendiri yang akan menanggung akibatnya


Seo jin berusaha untuk menggali lebih jauh tentang perasaanku terhadapnya


"Kecuali..."


"Jika kau masih memiliki perasaan suka padaku meskipun itu hanya sedikit, aku tidak akan membahas kejadian malam itu lagi,  hye jin"


"Aku akan menghargai perasaanmu bahwa kau terlalu malu untuk membahas malam kecelakaan kita tidur bersama di hotel parkhyatt" ucap seo jin


"Jika sekali lagi kau menuduhku bahwa aku masih menyukaimu, aku akan merobek mulutmu" ucapku sambil menatap sinis seo jin


"Baik..."


"Kalau begitu aku bisa membahas malam pertama kit..."


"Mmm...maksudku kejadian di mana kita menghabiskan malam bersama di hotel parkhyatt" ucap seo jin sambil meminum segelas anggur


Aku berusaha untuk tetap mendengarkan ocehan park seo jin


"Kau tahu, setelah kita berhubungan layaknya suami istri pada malam itu, aku merasa kau dan aku adalah satu..."


"Tidak hanya tubuh kita yang menyatu  melainkan perasaanmu terhadapku"


"Aku menjadi lebih tahu apa yang kau rasakan saat paginya setelah kita menghabiskan malam menggairahkan itu" ucap seo jin berbicara tanpa ada rasa canggung sama sekali padaku


Sedangkan aku yang mendengarnya merasa canggung dan lebih sering menundukkan kepalaku serta memijit-mijit perlahan kepalaku.


ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan kain agar ia berhenti bicara


"Mmm...mungkin aku terlalu kasar terhadapmu pada malam itu yang belum pernah melakukan hubungan intim sama sekali dengan orang lain, tapi ketahuilah..."


"Awalnya aku tidak menyadari kau dan istriku adalah dua orang yang berbeda"


"Tapi...ketika aku mencoba masuk ke dalam dirimu, itu adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan selama aku bermain dengan banyak wanita di ranjang, tapi karena aku terlalu emosi pada malam itu, aku tetap memaksanya masuk hingga membuatmu syok dan membisu di pagi harinya"


"setelah kejadian itu, aku merasa ada hormon magnetic yang membuatku terus mencarimu"


"Rasa rindu ingin melakukan hal yang sama seperti malam kejadian itu, tapi aku ingin kau menikmatinya juga tanpa ada perasaan tidak nyaman"


"Park seo jin...caramu bicara tidak jauh beda dengan lelaki mesum di luar sana" ucapku memperingatkan seo jin


"Aku tahu ini terdengar mesum olehmu, tapi aku hanya ingin mengungkapkan semua yang kurasakan selama ini padamu saat aku membicarakan semua tentangmu"


"Aku tahu kejadian malam itu tidak mungkin terjadi lagi antara kita berdua"


"Tapi...meskipun kita tidak pernah melakukan hubungan intim lagi, aku merasa perasaanmu tetap menyatu padaku"


"Dan perasaan itu semakin kuat saat kita tinggal satu atap"


"Namun saat kau pergi tiba-tiba dari hidupku, aku merasa ada ruang kosong yang menghilang dari hatiku"


"Dan naluriku ingin berusaha mencari sesuatu yang membuat hatiku terasa kosong"


"Setelah aku menyadarinya, sesuatu yang aku cari adalah dirimu, hye jin" ucap seo jin


"Cih...kau memang pantas dipanggil ahjussi*(paman) karena gaya bicaramu" ucapku


"Baiklah hye jin...kau bebas memanggilku dengan sebutan apapun..." ucap seo jin yang sudah pasrah


"Apakah hajung atau emma yang memberitahumu tentang keberadaanku?" Tanyaku tiba-tiba penasaran


"Hajung??!" Seru seo jin


"Jika ia sangat mudah memberitahuku dimana keberadaanmu, aku tidak akan membutuhkan waktu selama ini untuk menemukanmu" ucap seo jin


"Sedangkan emma..."


"Hemm...yah, ia hanya memberikanku sedikit clue saat ia mulai bekerja di perusahaanku, namun ia tidak memberitahukan keberadaan dirimu dengan pasti, jadi aku harus tetap mencarimu dengan usahaku sendiri" ucap seo jin sambil memotong-motong steak yang ada di hadapannya


"Yang jelas, masalah kita belum selesai hye jin. tapi kau sudah mencoba  menghapus diriku dari kehidupanmu"


"Oleh sebab itu, aku ke sini karena ingin mengisi kembali kekosongan hatiku, hye jin" ucap seo jin padaku


"Jadi... apa yang kau inginkan dariku park seo jin, agar hatimu bisa terisi lagi lalu kau bisa menghapus semua tentangku dari kehidupanmu?" Ucapku langsung pada inti pembicaraan


"Kembalilah ke chicago, selesaikan kuliahmu" ucap seo jin serius


"Setelah itu kau bisa bebas menentukan pilihan hidupmu, entah ingin tinggal di chicago ataupun menetap di sini"


"Setelah kau menyelesaikan kuliahmu, aku janji tidak akan pernah muncul kembali di hadapanmu" ucap seo jin


"Jika kau kembali ke chicago dan merampungkan kuliahmu, ku pastikan nama baikmu bersih dari segala catatan kriminal sekecil apapun, sehingga kau bisa memperbaiki CV mu saat melamar pekerjaan"


"Tidak ada lagi yang memandangmu sebelah mata ketika seseorang mengetikkan nomor identitasmu dan mengetahui latar belakang kehidupanmu"


"Dan satu hal lagi...." ucap seo jin sambil menukar piringku dengan piringnya yang terlihat sudah terpotong-potong daging steaknya


"Jalani perawatan therapi untuk mengobati gangguan kecemasan berlebih yang menimpa dirimu"


"Aku akan membiayainya dan memastikan kau sembuh dari penyakit mental itu agar kau bisa hidup bebas tanpa obat penenang lagi, kim hye jin" ucap seo jin dengan tatapan lembut


'Deg!'


Seketika dadaku berdebar saat melihat sorot mata seo jin yang sudah lama tidak pernah ku lihat lagi


Bagaimana ini?


Aku harus bisa mengaturnya


Ia adalah suami orang lain saat ini, kau tidak boleh menyukainya kim hye jin meskipun kau dan dia memiliki masa lalu yang sulit untuk di jelaskan


Apakah aku harus menolaknya ataukah menerima tawarannya?


Aku terus berpikir untuk menentukan jawabanku


_____________________________


hallo guys


berjumpa lagi dengan hyung


btw happy new year 2022 🥳🥳


semoga di tahun ini kalian selalu diberikan kesehatan, dan kesuksesan serta keinginan yNg diharapakan terwujud tahun ini, AMIN!!


how guys 2 episode ini?


apakah kedatangan seo jin membawa kesenangan atau malah malapetaka untuk hye jin?


kira-kira hye jin bakal terima gak ya tawaran dari paman seo jin ini??

__ADS_1


penasaran kan??


stay tune ya dan tunggu episode berikutnya bye!!


__ADS_2