Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan

Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan
Episode 52


__ADS_3

Kim hye jin pov


'Blam'


Aku membanting pintu mobil ketika sampai di rumah


Aku meninggalkan seo jin yang masih berada di dalam mobil


Para pelayan menundukkan kepalanya saat aku dan seo jin kembali ke rumah


Aku mengabaikan semua sapaan pelayan di rumah itu dan langsung masuk ke dalam kamar


Ucapan seo jin membuat diriku merasa bersalah


Ia mengatakan padaku bahwa kematian ahjussi* (paman) asing itu karena diriku


Yang membuat diriku merasa sedih karena ucapan seo jin ada benarnya menurutku


Seharusnya aku sadar diri, siapa sosok yang ingin aku cari tahu selama ini dan memang seharusnya aku tidak bisa melakukan apapun


karena aku hanyalah seorang gadis miskin yang tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat


Seharusnya aku sadar dari dulu, sebelum aku lahir, dunia ini memang sudah kotor


Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan bisa membuktikan kebenaran


Hanya orang yang memiliki kekuasaan dan banyak uang yang bisa menikmati kehidupan dunia ini


Seandainya aku tidak mengikuti chul moo ke taman, mungkin ahjussi* (paman) asing itu akan hidup hingga saat ini


Tidak peduli bagaimana ia menjalani kehidupannya


Berbuat baik atau berbuat buruk berada dipilihan tangannya dan dia sendiri yang akan menanggungnya kelak saat ia berhadapan dengan dewa


Aku kesal dengan perkataan seo jin yang mengatakan aku harus menuruti perkataannya jika ingin hidupku aman


Seolah mengatakan padaku tidak peduli dengan kehidupan orang lain asalkan dirimu hidup hingga saat ini


Bagaikan boneka yang tidak memiliki hati atau burung kecil yang ditakdirkan hidup dalam sangkar seumur hidupnya


Tidak perlu memikirkan kesengsaraan orang lain asalkan kau tidak sengsara menjalani kehidupanmu


Eomma...


Lihatkan...menjadi orang baik tidak selalu memberikan kebahagiaan pada orang lain, justru menghasilkan orang itu terbunuh secara tidak langsung


Aku segera pergi ke ruang baca seo jin dan meletakkan kepalaku diatas meja dengan menggunakan lengan kananku sebagai bantalan kepala


Tanpa sadar, cairan yang berasal dari mata kiriku membasahi bulu mata kananku diikuti dengan air mata yang jatuh ke lengan kananku


Semakin lama dress biru yang kupakai bagian lengannya menjadi basah terkena tetesan air mata


Cairan dihidungku kian menumpuk, memenuhi seluruh lubang dihidungku membuatku sulit bernafas hingga aku menimbulkan  suara


"Hiks....hiks..haah..."


Aku sengaja menyendiri ke ruang baca seo jin


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang, namun ku pikir, sepertinya ia menghormati keputusanku untuk menggunakan waktu agar aku bisa menyendiri


Sekitar 1 jam lebih aku menyendiri di ruang baca seo jin dan setelah persaanku lebih tenang aku kembali ke kamar seo jin dan melihat seo jin yang sedang duduk di sofa menungguku keluar dari ruang bacanya


Aku pikir seo jin saat ini tidak berada di kamarnya melainkan di kantor untuk bekerja


Aku terkejut ketika melihat seo jin dengan penampilan mataku yang sedikit bengkak karena habis menangis karena kesal


"Sudah merasa baikan?" Tanyanya


Aku melewati seo jin dan berjalan ke arah kamar mandi dan membasuh wajahku dengan air yang mengalir dari kran air wastafel


"Kenapa kau tidak ke kantor hari ini?" Tanyaku


Saat seo jin ingin menjawab aku menyelanya dan berkata


"Ahh...aku lupa, perusahaanmu tidak akan kabur darimu jika tidak pergi bekerja hari ini, itu kan yang ingin kau katakan?" Sindirku


Seo jin menghela nafas melihatku yang telah menyindirnya


Seo jin pergi ke wardrobe room dan mengambil kaca mata hitam


Lalu memakaikannya kepadaku.


Aku merasa heran dengan sikap seo jin yang seperti ini


"Ikut aku" ucap seo jin dan menarik lenganku lalu keluar kamar


Aku berusaha menghentikan seo jin dengan cara melepaskan tangannya yang mencengkram erat di pergelangan tanganku karena enggan untuk ikut dengannya


"Isshh...lepas..aku tidak mau" ucapku melawan


Sesampainya di luar kamar, aku tidak bisa meneriaki seo jin karena takut para pelayan akan bertanya-tanya jika aku meronta berusaha melepas genggaman seo jin


Mau tidak mau, aku mengikuti seo jin dengan tenang


Seo jin membukakan pintu mobil untukku dan menutupnya


Lalu ia mengendarai mobil yang entah akan kemana tujuannya


Selama di perjalanan seo jin tidak bicara padaku hingga aku tidak bisa menahan kedua bibirku untuk bertanya padanya


"Hhh...kita mau kemana lagi seo jin?" Tanyaku


Seo jin tidak menjawab pertanyaanku dan terlihat seperti ia mengabaikan pertanyaanku


Aku menghembuskan nafasku dengan kuat dan pasrah mengikuti tujuan perginya seo jin


Sampai dimana saatnya seo jin memakirkan mobilnya dan menyuruhku untuk turun dari mobil


"Turunlah..." ucapnya


"Sirheunde* (ga mau) untuk apa kita kesini?" Tanyaku


Seo jin turun duluan dari mobil lalu membuka pintu mobilku


Aku menggelengkan kepalaku dan enggan untuk menuruti kemauan seo jin


Seo jin menarik tanganku lagi agar aku bisa keluar dari mobil


Suara teriakan anak-anak dan musik semakin terdengar jelas ketika ku turun dari mobil


Aku menatap sekelilingku dan tidak percaya seo jin mengajakku ke sini


"Ayo kita bermain" ucapnya ceria


"Yya...heol!! Kau itu sudah berumur kepala 3 seo jin, apa kau tidak malu pergi ke taman hiburan haahh!!" Teriakku yang tidak habis pikir dengan pikiran seo jin


"Yya...ayo kembali ke rumah, aku ingin beristirahat" ucapku malas kepada seo jin


"Aku pernah mendengar obrolan para pegawaiku, jika mereka sedang marah atau sedih, mereka akan pergi ke taman hiburan karena bisa teriak dengan sepuasnya"ucap seo jin tiba-tiba


"Aku tahu kau merasa sesak di rumah, jadi aku membawamu kesini untuk melampiaskan semua kekesalan yang ada didalam dirimu"


"Teriaklah sepuasnya, aku tidak akan melarangmu, hari ini kau seharian menjadi hye jin tanpa takut ketahuan oleh orang lain, taman hiburan adalah tempat terbaik untuk didatangi" ucap seo jin sambil tersenyum padaku


"Yya...seseorang mengatakan padaku tidak semua taman hiburan itu adalah tempat terbaik"


"Ada mitos yang mengatakan jika pasangan pergi ke taman bermain, besoknya mereka putus entah apa yang terjadi" ucapku


"Jinjja* (benarkah), berarti itu adalah hal buruk, kalau begitu ayo kita kembali" ucap seo jin dan merangkul tanganku untuk masuk ke dalam mobil


"Ania..ania* (tidak..tidak) berhubung kita bukanlah pasangan, jadi itu bukanlah sesuatu yang buruk" ucapku


"Baiklah..aku akan menaiki semua wahana, berhubung ini adalah kali pertamaku mengunjungi navy pier selama 4 tahun aku tinggal di chicago"


"Bersiaplah seo jin, aku khawatir dengan kesehatan jantungmu jika menaiki wahana yang memacu adrenalin karena kau sudah tua hahaha" ucapku meledek seo jin dan meninggalkannya


"Yya...aku tidak setua itu hye jin!" Teriak seo jin yang kesal dengan ucapanku


Aku dan seo jin menaiki beberapa wahana yang sangat seru


Aku melihat seo jin yang mulai kewalahan dengan permainan yang memacu adrenalin yang sangat kuat hingga tidak terasa waktu sudah mulai senja dan kami memutuskan untuk menaiki kincir ria yang besar dan melihat matahari terbenam dengan indahnya di langit chicago


Warna sinar jingga yang dipantulkan oleh matahari sangat memanjakan mataku


Aku menatapnya dengan penuh takjub pemandangan yang kulihat saat ini dan tidak menyadari seo jin justru menatap wajahku sambil tersenyum


"Yya...kenapa kau menatapku sambil tersenyum seperti itu? Mencurigakan" ucapku


"Waeyo* (kenapa) ini adalah mataku, sudah sewajarnya mataku memandang ke arah pemandangan yang tampak indah" ucapnya meracau


"Pemandangan yang indah berada disampingmu, lihat itu matahari yang terbenam jauh lebih indah dari apapun" ucapku


"Entahlah...mataku justru memilih untuk menatap ke arahmu bukan ke matahari yang terbenam itu" ucapnya yang menurutku lebih gila lagi


Aku pikir seo jin menjadi gila karena lelah terlalu banyak menaiki wahana yang ada disini, hingga tidak bisa membandingkan pemandangan yang bagus atau bukan


Aku mencibirkan bibirku ke arah seo jin dan kembali menatap arah matahari terbenam


Setelah puas memandangi matahari terbenam, akhirnya aku dan seo jin turun dari kincir ria dan perutku berbunyi menandakan cacing alaska yang berada didalam perutku mengais untuk minta sesuap nasi


Seo jin tersenyum mendengarnya


"Disana sepertinya ada restaurant, sebaiknya kita makan dan menghangatkan tubuh, udara dimalam hari semakin dingin" ucap seo jin


Aisshh...dasar perut memalukan, bagaimana kau bisa melolong panjang dihadapan raja kukang


Setelah beberapa menit berjalan, aku dan seo jin menyantap sup jagung hangat dan spaghetti aglio seafood lengkap dengan anggur merah untuk menghangatkan suhu tubuh


Pada dasarnya aku tidak terlalu menyukai minuman beralkohol karena toleransiku terhadap alkohol rendah dan lebih mudah mabuk hanya dengan minum beberapa gelas berbeda dengan nyonya deok mi


Tanpa pernah memberitahu kepada seo jin, diam-diam ia memerhatikanku dan memesan susu hangat sebagai pengganti untuk menghangatkan suhu tubuhku


"Minumlah...hangatkan tubuhmu, cuaca malam hari disini semakin dingin" ucap seo jin dan aku mulai menyentuh gelas panas yang berada didepanku dan menggenggamnya menggunakan kedua tanganku


Kabut asap muncul dari dalam mulutku

__ADS_1


Beriringan dengan waktu datangnya malam sebentar lagi musim gugur akan berakhir dan akan tergantikan dengan musim dingin


Selesai makan malam aku dan seo jin hendak kembali ke rumah dan beristirahat


Aku masih mengusapkan kedua tanganku agar suhu tubuhku terasa hangat


Seo jin meletakkan jas yang ia pakai ke atas pundakku ketika aku meniup-niup kedua telapak tanganku


Aku menengok ke arah seo jin


"Gwaencahana* (tak apa) kau pakai saja lagi, nanti kau bisa terkena flu" ucapku


"Tidak akan! Kau saja yang pakai, tubuhku terasa panas setelah minum beberapa gelas" ucap seo jin


"Apa kau mabuk? Bagaimana nanti kau mengendarai mobil seo jin?" Tanyaku


"Tenang saja, malam ini aku terlalu lelah untuk menyetir mobil, aku akan meminta jasa supir diaplikasi untuk membawa mobilku" ucapnya


"Pfft...aku tahu, kau kewalahan karena terlalu banyak bermain wahana ditempat ini hahahaha....." ucapku meledek


"Berhenti tertawa!" Ucap seo jin dengan wajah memerah


"Bahahahaha....." tawaku yang tidak tahan melihat tingkah seo jin yang terlihat seperti orang tua karena kelelahan bermain wahana


"Ternyata benar apa yang dikatakan pegawaiku tentang pergi ke taman bermain, kau sudah terlihat baikan sekarang hye jin, aku lega melihatnya" ucap seo jin yang sedang menatapku sambil tersenyum dan membuat tawaku perlahan berhenti


"Gomawo* (terima kasih) karena telah membawaku kesini" ucapku sambil tersenyum kepada seo jin


Kami berdua saling bertatap dan tersenyum, tidak lama butiran putih  dari langit terjatuh di atas kepalaku


Aku mendongak ke atas langit untuk melihat benda bulat berwarna putih yang cantik itu kian banyak turun dan menyentuh tubuhku


Ahh...ternyata musim dingin datang lebih awal dari yang diperkirakan


Aku menadahkan butiran salju yang turun menggunakan tanganku dan menikmati suasana musim dingin yang indah di taman bermain bersama seo jin



*****


Hembusan angin malam memasuki seluruh ruangan di rumah ini


Membuatku terjaga dari tidurku yang lelap


Aku mencoba untuk mencari kehangatan dengan cara meringkukkan tubuhku hingga kedua lututku menyentuh dadaku


Namun kali ini aku merasa sesuatu menyentuh ujung jari kakiku dan terasa sangat dingin hingga aku mengernyitkan dahiku


Aku mencoba untuk tidur kembali, menghiraukannya dan tetap memejamkan mataku didalam sleeping bag yang nyaman ini


Gangguanpun terjadi lagi, aku merasakan tetesan air jatuh menyentuh ke keningku dan membuat mataku harus terbuka untuk melihat apa yang terjadi


Setelah aku membuka mataku, hanya pemandangan rak-rak buku saja yang kulihat berdiri rapi dihadapanku


Aku memegang keningku yang terasa terkena tetesan tadi


tapi anehnya, keningku terasa kering, dan tidak ada sesuatu yang aneh ketika aku mendongak ke atas untuk melihat langit-langit ruang baca ini


'Brak'


'Brak'


Aku mendengar suara benda yang terbentur  dengan keras  ke dinding hingga menyebabkan kebisingan ditengah malam


Tanpa rasa takut, aku segera keluar dari ruang baca dan memeriksanya


Tidak ada siapapun dikamar, bahkan tempat tidurpun masih tertata dengan rapi


Aku keluar kamar dan seperti biasa, tidak ada seorangpun di rumah sebesar ini ketika dimalam hari,  karena para pelayan di rumah ini hanya bekerja sampai pukul 8 malam


Pencahayaan di rumah ini sangat minimalis, karena harus menghemat energi jika tidak digunakan saat malam hari tiba


Aku berjalan ke arah suara benda yang terbentur, lalu melihat pintu rumah terbuka dengan lebar mengenai dinding akibat hembusan angin kuat yang berasal dari luar


Aku menghampiri pintu tersebut dan hendak akan menutupnya kembali


Sesaat sebelum menutup pintu, aku melihat pemandangan diluar rumah yang sedang turun salju, membuat tubuhku menggigil kedinginan dan ingin segera menutup pintunya dengan cepat


Namun, mataku tertuju pada sosok manusia yang sedang berdiri dari kejauhan, seolah mendekat sedang berjalan menghampiriku


Dan anehnya, ketika aku mengedipkan mataku sebentar, sosok manusia itu kini sudah berdiri diteras rumah dengan pakaian serba hitam


Karena terkejut aku segera ingin menutup pintu rumah, namun tubuhku seolah mematung dan tidak dapat digerakkan


Dari perawakan tubuhnya, sosok manusia itu sepertinya berjenis kelamin laki-laki


Dibuktikan dari bahunya yang lebar serta tinggi tubuhnya yang melampaui diriku


Laki-laki itu mulai melangkah perlahan untuk lebih dekat denganku


Reflek aku melihat kebawah lantai dan melihat laki-laki itu tidak memakai alas kaki


Terlihat beberapa tetesan air yang berjatuhan dari tubuhnya ketika ia melangkahkan kakinya seolah ia habis tercebur dari kedalaman air


'Agashi.....'(nona)


'Kenapa kau hanya diam saja dan melihat'


Laki-laki itu seperti berbicara kepadaku


Tapi anehnya suara laki-laki itu terdengar bergema didalam rumah padahal ia berada didepanku


Aku memejamkan kedua mataku karena mulai merasa takut dan tidak ingin berkomunikasi dengannya


'Agassi...*(nona) tolong aku...jaeball*(kumohon)'


Kali ini aku mencoba untuk memberanikan diri menatap sosok laki-laki didepanku


Laki-laki itu mulai menatapku dengan tatapan sedih dan putus asa


Aku mengenal wajah laki-laki itu


Ia adalah ahjussi*(paman) malang yang  tewas di ruang bawah tanah tuan dong il


Aku ingin sekali teriak dan kabur dari hadapannya, tapi lagi-lagi aku terdiam hanya melihatnya


Aku mulai gelisah hingga aku dapat mendengar suara nafasku sendiri yang sedang terengah-engah


'Wae*(kenapa) kau tidak menghubungi polisi agassi*(nona)'


'*Kenapa kau hanya diam saja melihatku mati'


'Naega*(aku) merasa kedinginan saat ini, tolong aku! Kumohon*!'


Ahjussi* (paman) itu mengulurkan tangannya ke arah ku dan tiba-tiba dari dahinya keluar cairan berwarna merah  yang semakin lama mengalir deras hingga menutupi sebagian wajahnya


Rasa takut dan rasa bersalahku bercampur hingga kedua bibirku gemetar dan mengeluarkan air mata


"Minhae ahjussi hiks..." (maaf paman)


Ucapku lirih


"congmal mianhae...." (sungguh maaf)


"Aku terlalu takut melakukannya...huhu...hiks" 


Seketika wajah ahjussi* (paman) itu berubah menjadi sosok yang sangat aku kenal


Tidak hanya wajahnya saja, namun juga tubuhnya, yang tidak berubah hanyalah cairan berwarna merah yang menutupi sebagian wajahnya


"Eomma?"


'Hye jin-aa...'


"Eeomma....huhuhu eomma"


'Dor!!!'


Terdengar suara pistol melambung ke udara dan membuat diriku yang semula terdiam dan berusaha untuk berucap, kini dapat teriak dan bergerak untuk memeluk sosok yang mirip dengan ibuku


"Andwe!!!*( jangan!!)*


 


\*


 


"Hye jin-a!!"


"Hye jin-a!!"


Terdengar suara seseorang memanggil namaku dan mengguncangkan tubuhku agar aku bisa bangun dari mimpi buruk yang  sedang ku alami


"Haaahh...haaahh...."


Aku merasa sesak setelah mimpi buruk yang aku alami tadi


Seo jin duduk disampingku dengan wajah yang terlihat cemas


"Dangsin-eun gwaenchana?* (kau baik-baik saja)?" Tanya seo jin padaku


Aku menatap seo jin dengan wajah ketakutan


Mimpi buruk tadi terasa sangat nyata, dan aku kembali teringat wajah ibuku yang berlumuran dengan cairan berwarna merah meminta tolong padaku hingga membuatku merinding


"Seo...seo jin-ssi...." panggilku lirih dan meneteskan air mata karena sudah tidak sanggup membendung air mataku lagi


"Gwaenchana* (tidak apa)" ucap seo jin sambil menepuk bahuku dengan lembut


"Hiks..hiks seo jin-ssi huwaaa!!" Tangisku pecah dan tidak sadar memeluk seo jin dengan erat


Aku menangis tersedu-sedu didalam pelukan seo jin dan memecah kesunyian malam karena tangisanku


Park Seo Jin pov

__ADS_1


Hari ini aku mengajak hye jin pergi keluar untuk memperbaiki moodnya yang sedang baik


Awalnya ia menolak, tapi sepertinya gadis itu justru paling menikmati wahana yang ada di taman bermain ini


Sepertinya hye jin tidak pernah menikmati waktu untuk bersantai selama 4 tahun tinggal di chicago, waktunya dihabiskan hanya untuk belajar dan bekerja part time


Baiklah...setidaknya hari ini ia dapat melupakan kejadian yang dialaminya semalam dan tidak bersedih lagi dengan ucapanku yang keterlaluan dimobil


Sepulangnya dari taman bermain, gadis itu segera pergi ke ruang bacaku dan tidur


Sejak aku membelikan sleeping bag untuknya, gadis itu enggan untuk tidur satu ranjang denganku


Yah...


Selama itu membuat dirinya nyaman, aku tidak keberatan menuruti kemauannya, meskipun aku merasa tempat tidur ini terlalu luas hanya untuk diriku seorang


Saat ini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari aku terbangun karena mendengar suara jeritan seseorang


Sontak aku terbangun dari tidurku dan langsung menghampiri hye jin, karena memang hanya aku dan hye jin yang tinggal di rumah ini saat malam hari


Aku melihat gadis itu sedang gelisah saat tidur, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya


Aku mencoba membangunkan hye jin dengan cara memanggil namanya, namun hye jin tak kunjung bangun dari tidurnya


Aku mencoba lagi membangunkan dirinya dengan menepuk bahunya hingga mengguncangkan tubuhnya agar ia bangun


Syukurlah gadis itu mulai terbangun dari tidurnya dan terbebas dari mimpi buruk yang ia alami


Aku membantu hye jin dari posisi berbaring ke posisi duduk dan mencoba menenangkannya


Terlihat wajah hye jin yang sedang ketakutan dan sedang menahan tangisnya dihadapanku


"Seo jin-ssi" ucap gadis itu memanggil namaku dengan lirih


"A-ahjussi* (paman) asing itu muncul didalam mimpiku dan...dan" ucap hye jin mencoba menjelaskan tentang mimpi buruknya


"Gwaencahana hye jin-a, tidak perlu diceritakan, semua akan baik-baik saja" ucapku menenangkan hye jin


Hye jin mulai mengerutkan dahi dan menaikkan kedua bibirnya ke atas pertanda ia akan menangis


Dan benar saja, gadis itu memelukku erat dan menangis keras hingga suaranya bergema di ruang baca


Setelah hye jin menangis beberapa menit dan isak tangisnya mulai terdengar pelan, aku mencoba untuk berbicara pelan dengan hye jin


"hye jin-aa tidurlah di kamar, agar kau bisa tidur dengan nyenyak, disini terlalu dingin, tidak ada pemanas ruangan di ruang baca, tidak cukup menghangatkan tubuhmu hanya dengan sleeping bag" ucapku


"Nne..*(ya) naneun museowo* (aku takut)" ucapnya


Aku membantu hye jin berdiri dan meninggalkan ruang baca


Sesampainya di kamar, aku membantu hye jin untuk duduk di atas tempat tidur


"Jamkkanman-yo* (tunggu sebentar) aku akan membuat minuman hangat untukmu" ucapku pada hye jin


Sesaat aku membalikkan tubuhku, hye jin menarik lengan piyamaku pertanda untuk berhenti


"Aku ikut denganmu pergi ke dapur" ucapnya


Aku menoleh ke arah hye jin dan memiringkan kepalaku tidak membalas ucapan hye jin


"Museowo...naneun museowo* (takut.....aku takut)" ucapnya lagi


"Baiklah...kau boleh ikut denganku hye jin" ucapku


Hye jin mengikutiku ke dapur untuk membuat minuman sambil memegang ujung piyamaku dari belakang layaknya anak kecil yang ketakutan setelah diceritakan kisah seram


Hye jin menengok ke arah kiri dan ke kanan seolah merasa ada orang lain selain diriku di rumah ini


Aku menyalakan semua lampu di rumah ini kecuali lantai 2 selain kamarku agar hye jin tidak merasa takut


Hye jin duduk di kursi meja makan sambil menggenggam kedua tangannya yang sedang kedinginan


Sedangkan diriku sedang membuat coklat panas untuknya, untungnya aku tidak terlalu banyak meminum anggur saat makan malam tadi, hingga aku bisa terjaga dari tidurku ketika mendengar teriakan hye jin di ruang baca


Aku meletakkan cangkir hangat kepada hye jin, gadis itu menggenggam cangkir hangat agar kedua tangannya tidak membeku karena kedinginan


Hye jin mulai meminum coklat panas yang aku buat dan ia mulai terlihat sedikit tenang


"Yya...kenapa kau sangat menyukai tidur di ruang baca?" Tanyaku


"Tidak masalah jika kau tidur disana saat musim semi atau musim panas"


"ini musim dingin! apa kau ingin mati membeku di ruang baca didalam sleeping bag?"


"Lagi pula...apa kau bisa tidur nyenyak didalam sleeping bag huh"


"Memangnya kau sedang berkemah di gunung, tidur menggunakan sleeping bag?" Ucapku yang mulai mengomel


"Aku tidak tahu alasan kenapa kau enggan tidur disampingku, memangnya selama ini aku pernah mengganggumu tidur"


"Yya...kim hye jin, kita hanya tidur memejamkan mata tanpa melakukan hal aneh diatas tempat tidur, kenapa reaksimu berlebihan huh?" Ucapku mengomel panjang lebar


"Aku hanya tidak nyaman tidur di sampingmu" ucap hye jin


"Wae?* (kenapa)" tanyaku lagi


"Karena aku selalu terkejut ketika membuka mataku dipagi hari, hal pertama yang aku lihat adalah wajahmu" ucapnya


"Aigoo...kim hye jin, apakah wajahku sangat buruk saat tidur, sehingga kau tidak ingin melihatku dipagi hari?" Tanyaku


"Ania* (tidak) bukan seperti itu.. tapi..."


"Tapi...."


"Ahh...Dwaesseo* (ahh...sudahlah) tidak perlu dibahas" ucap gadis itu dan memalingkan wajahya dariku


"Yaaa* (eeh)....aku tau sepertinya kau tidak enak padaku karena gaya tidurmu yang berantakan, selain itu..."


"Haaah....selain itu kau bisa mudahnya mengeluarkan liurmu saat tidur dan mengenai piyama..."


'Brak'


"Yaaaa!!!* (hei!)" Teriak hye jin sambil memukul meja makan dan membuatku terkejut


"Arasseo...arasseo* (aku mengerti...aku mengerti)"


"Baiklah..mungkin awalnya aku tidak nyaman karena tidak terbiasa dengan gaya tidurmu yang berantakan itu, tapi....setelah mengalaminya 3 sampai 4 kali, aku sudah mulai terbiasa" ucapku pada hye jin


"Jika kau tidak nyaman melihat wajahku saat pagi hari, mulai saat ini kau harus biasakan ok! karena ini demi kebaikan dirimu"


"Aku juga tidak ingin tidur di sofa ataupun di sleeping bag karena itu mm... terlihat sangat tidak nyaman sekali" ucapku


"Jadi sebaiknya kita bisa tidur bersama lagi..."


"Ma...maksudku tidur di satu tempat tidur yang sama dan hanya memejamkan mata masing-masing, tidak melakukan hal lain"


"Park seo jin..kau memiliki rumah yang luas, pastinya kau juga memiliki banyak kamar, kenapa kau tidak ijinkan saja aku untuk tidur di kamar lain" ucap hye jin


"No no no...." ucapku sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah hye jin


"Kita pernah membahas ini saat pertama kali kau datang kerumahku, alasan kau tidak ku ijinkan tidur di kamar lain"


"Aku tidak ingin mendengar gosip para pelayan disini, terlebih bibi min yang rasa keingintahuannya sangat tinggi"


"Bisa-bisa kau ketahuan kalo kau bukanlah deok mi yang asli, karena kau terlalu lembut kepada bibi min" ucapku


"Lembut? Wahh..park seo jin, aku sudah berusaha untuk bersikap jahat didepan bibi min, tidak mungkin kan aku harus berbicara kasar kepada bibi min setiap hari" ucap hye jin


"Memang harus setiap hari...." ucapku


"Deok mi selalu mencari masalah dengan bibi min, menindasnya tanpa rasa ampun meskipun bibi min tidak bersalah"


"Kudengar dari bibi min, kau pernah menyuruh pelayan baru untuk masuk ke dalam kamar dan menyuruh dirinya untuk mengompres pipinya yang memar karena tamparan bibi min, benarkah begitu?" Tanyaku


"Nne..*(ya) itu benar" ucap hye jin dengan wajah polos


"Ckckck....deok mi tidak pernah bersikap sebagai manusia bila berhadapan dengan pelayan" ucapku


"Cih...apakah deok mi adalah penyihir yang berasal dari negeri dongeng?" Tanyanya


"Tidak salah jika aku menyebar gosip bahwa deok mi hamil dan mengatakan hormonnya berubah hingga sifatnya menjadi lebih baik" ucapku


"Hentikan! Aku sudah mengakhiri kebohonganmu didepan ibunya deok mi" ucap hye jin


"Ahhh...soal keguguranmu? Tapi...saat sarapan, ibu mertuaku menyarankan kita untuk melakukan hal yang menggairahkan seperti subuh tadi, memadu kasih agar segera memiliki buah cinta didalam rahimmu"


"Apakah kita harus melakukannya lagi besok subuh,hye jin?" Tanyaku menggoda hye jin sambil tersenyum genit padanya


"Michinom* (orang gila)" ucap hye jin dan pergi meninggalkanku


"Yaaa!!* (hei) kim hye jin, apa kau tidak takut pergi sendirian ke kamar?" Tanyaku namun hye jin tidak menjawab pertanyaanku


Haahh....


Syukurlah gadis itu tidak ketakutan lagi seperti tadi


Kim hye jin bertahanlah sampai pemilihan direktur real estate rose berakhir


Setelah itu...


Kau bisa menjalani kehidupanmu seperti semula


Maafkan aku telah membuatmu menderita karena harus masuk ke dalam lingkaran gelap dari kehidupan keluarga konglomerat


bersambung....


________________________________________


anyeong chinggu....


maafkan aku yang telat update


terima kasih untuk readers mangatoon yang sudah setia menunggu hyung update


sampai jumpa di next episode 😘😘🙆‍♂️🙆‍♂️🙆‍♀️🙆‍♀️

__ADS_1


__ADS_2