
Kim Hye Jin Pov
Setelah aku keluar dari lobi rumah sakit, beberapa kerumunan orang menghampiriku dan seo jin
Dilihat dari peralatan yang mereka bawa dan pakaian yang mereka kenakan tidak lain dan tidak bukan mereka adalah para wartawan
Mereka mendekatiku dan menanyakan beberapa pertanyaan layaknya sebuah pistol yang diisi dengan peluru penuh
Sederetan pertanyaan mereka ajukan kepadaku tanpa sempat aku menjawabnya
"Nyonya sung!!! Lihat kemari" teriak beberapa pria yang membawa kamera, memintaku untuk menghadap ke kameranya agar ia mendapat gambar dari wajahku yang tidak karuan ini
"Bagaimana keadaan anda nyonya setelah bertemu dengan pria pembunuh berantai yang meresahkan warga chicago akhir-akhir ini?"
"Ku dengar anda hampir tewas di tangan pria itu jika suamimu tidak kunjung datang?"
"Bagaimana anda bisa memiliki nyali sebesar itu untuk menghadapi pembunuh berantai keji dan menggali informasi darinya secara detail dan menyeluruh"
"Dari rumor yang beredar, tampaknya anda sudah akrab dengan pembunuh berantai itu karena ia dengan mudahnya menceritakan detail dan barang buktinya pada anda, apakah pembunuh berantai itu menawarkan anda untuk menjadi kaki tangannya sehingga anda bisa hidup sampai saat ini?" Tanya salah satu reporter dengan pertanyaan yang gila menurutku
"Yaa...neo michyeosseo!*(hei...apa kau gila?!) Bagaimana mungkin aku memohon ke orang gila itu agar ia mengampuni nyawaku dan menukarnya untuk menjadi kaki tangannya?" Ucapku reflek ketika salah satu reporter melontarkan pertanyaan gila padaku
"Jika bukan karena suamiku yang telah menyelamatkanku, mungkin aku tidak bisa menyebutmu 'gila' pada pagi hari ini" ucapku nyolot dan seketika membuat gaduh para wartawan lagi
Supir ohh turun dari mobil membantu seo jin untuk menggiringku masuk ke dalam mobil dan menghindar dari kerumunan para wartawan yang telah menggila itu
Pada akhirnya aku berhasil masuk ke dalam mobil dan menunggu supir ohh menyalakan mesin mobil untuk melaju meninggalkan rumah sakit
"Kenapa kau menjawab pertanyaan mereka, hye jin?" Tanya seo jin padaku
"Kau pikir aku harus diam saja jika wartawan itu melontarkan pertanyaan gila seperti itu?" Tanyaku balik pada seo jin
"Harusnya kau diam saja hye jin jika tidak ingin muncul tulisan aneh di headline koran" ucap seo jin padaku
Apakah seo jin sudah terbiasa menghadapi wartawan? Ia terlihat santai saat di kerumunan tadi. Bahkan tidak terpancing untuk menjawab sederetan pertanyaan dari mereka
"Apa yang sedang mereka lakukan padaku? Apakah sung deok mi memiliki kerja sampingan menjadi selebriti?"
"Wah....aku baru tahu setelah menjalani kehidupan sebagai deok mi selama 3 bulan belakangan ini" ucapku pada seo jin
"Sepertinya anda yang membuat nyonya deok mi menjadi selebriti kota, nona kim" ucap supir ohh tiba-tiba setelah ia bersusah payah menghindari kerumunan orang-orang untuk masuk ke dalam mobil
"Mworago?!* (apa kau bilang?!) Kenapa aku yang membuat deok mi menjadi selebriti?" Tanyaku heran
"Berita pagi tadi polisi berhasil mendapatkan barang bukti pembunuh berantai chicago dan polisi menjelaskan pada para wartawan bahwa anda membantu kepolisian chicago untuk mendapatkan barang bukti tersebut" ucap supir ohh menjelaskan
"Jadi maksudmu...mereka mencari tahu di mana keberadaanku dari detektif itu dan berhasil menemukanku di sini?"
"Dan tentu saja mereka menyerbuku ke rumah sakit untuk mendapatkan berita lebih, hanya untuk keperluan mereka saja?"
"Wahh...betapa hebatnya mereka yang seenaknya datang ke sini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ketika seseorang sedang berusaha menenangkan psikisnya yang hampir mati tadi malam" sindirku mengoceh di dalam mobil
"Aku akan menyiapkan pengacara untuk mewakili dirimu berbicara ke media" ucap seo jin menenangkanku
"Nona kim...apa anda baik-baik saja?" Tanya supir ohh padaku
"Bagaimana mungkin seseorang yang hampir mati bisa baik-baik saja, supir ohh?? Tentu saja aku tidak baik-baik saja! Apa kau tidak lihat benda menyebalkan ini melilit di leherku?!" Teriakku pada supir ohh
"Aisshh...jinjja*(benar-benar) kenapa aku justru melampiaskan kemarahanku padamu?"
"Mian*(maaf) supir ohh aku menjadi emosi karena pertanyaan gila wartawan itu masih terngiang di pikiranku" ucapku meminta maaf pada supir ohh
***
Sesampainya di kediaman rumah seo jin, bibi min menyambutku dengan wajah yang panik dan khawatir
Ku rasa dari raut wajahnya, ia tulus mengkhawatirkanku yang sangat mengenaskan. Bagaimana mungkin seorang nyonya besar yang bahkan semut saja tidak berani menggigitnya, kini harus babak belur karena dihajar oleh pria asing yang meresahkan warga chicago selama ini
"Ya tuhan nyonya!!....bagaimana mungkin wajah anda menjadi seperti ini?!" Seru bibi min begitu juga dengan para maid yang melihatku
"Demi dewa neptunus! Aku akan mencabik pria itu dengan kedua tanganku sendiri!" Teriak bibi min yang berlebihan menurutku
"Tidak perlu repot, seo jin sudah membalas pria itu hingga sekarat" ucapku santai sambil melirik seo jin dan tersipu malu
"Siapkan minuman hangat, aku ingin segera meminumnya untuk meregangkan otot-otot wajahku yang semakin terasa kaku karena cuaca dingin" ucapku pada bibi min
"Baik nyonya, saya akan menyiapkannya ke kamar nyonya" ucap bibi min dan aku segera masuk ke dalam
Sesampainya di kamar, aku segera membuka jaketku dan ingin berisitirahat di sofa untuk rebahan karena masih mengantuk
Aku melihat vitamin-vitamin yang diberikan ibu deok mi dan berniat ingin meminumnya
"Ginseng merah? Wah...aku yakin jika meminum ini kondisi tubuhku akan cepat sembuh" ucapku ketika melihat komposisi dari kemasan vitamin itu dan tanpa ragu membuka lalu meminumnya
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meminumnya?" Tanya seo jin yang melihatku telah membuka kemasan vitamin vitalitas
"Ahh...aku meminum ini karena mengandung ginseng merah yang sangat bagus untuk tubuh dan ini sangat tepat untuk proses penyembuhan lukaku agar aku bisa sembuh dengan sangat cepat" ucapku pada seo jin
"Lagi pula kau ingin membuang vitamin-vitamin ini kan? Dari pada mubazir lebih baik aku yang meminumnya"
"Wae?*(kenapa?) Apa kau melarangku untuk meminumnya karena kau berubah pikiran untuk mengonsumsi vitamin ini?" Godaku ke seo jin
"Haaah...aku tidak akan meminumnya. Hanya saja...jangan menyalahkan diriku jika kau berubah menjadi aneh" ucap seo jin
"Hahaha....maksudmu aku akan berubah menjadi wanita agresif dan menyerangmu pada malam hari lalu membuat tidurmu tidak nyaman? begitu?" Tanyaku pada seo jin
"Gaya tidurmu yang sangat berantakan saja sudah mengganggu waktu tidurku, hye jin" gerutu seo jin
"Mwo?!* (apa?!)" Tanyaku untuk meyakinkan apa yang ku dengar
"Minumlah apapun yang kau sukai hye jin. Aku sudah memperingatkanmu mengenai vitamin itu" ucap seo jin dan langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah membuka blazernya dan menggulung lengan kemejanya
"Mmm...bilang saja kau juga membutuhkan ini tapi kau malu untuk mengatakannya...blee.." ledekku tanpa sepengetahuan seo jin
Tak lama bibi min membuka pintu kamar dan mengantarkan teh hijau panas untukku
"Sarapan sudah siap nyonya, apakah anda ingin makan di sini atau di ruang makan?" Tanya bibi min
"Di ruang makan, aku akan menunggu seo jin yang masih di kamar mandi" ucapku pada bibi min
"Nne...*(ya...) nyonya" ucap bibi min dan segera pergi dari kamar seo jin
*****
Seo jin hari ini tidak pergi ke kantor melainkan berada di rumah untuk mengurusku
Aku tidak paham dengan dirinya, jelas-jelas di rumah ini banyak pelayan dan bibi min yang siap setiap saat jika aku membutuhkan sesuatu
Seharusnya ia bisa pergi bekerja dengan perasaan nyaman tanpa mengkhawatirkanku yang masih dalam masa pemulihan. Mungkinkah ini termasuk dari perasaan tanggung jawab seo jin terhadapku?
Baiklah...
Jika ia memiliki kemauan seperti itu aku akan bersikap menjadi ratu di rumah ini hahahaha....
Selesai sarapan, aku memilih untuk bersantai sambil menonton televisi di ruang tamu rumah seo jin yang luas, sambil menghabiskan buah sebagai makanan penutup mulut
Seo jin mengupas buah pir untukku. Layaknya suami yang siaga, ia memperlakukanku dengan sangat baik. Setelah mengupas buah, seo jin meletakkan buah yang sudah dipotong-potong di atas piring lalu menyerahkan padaku guna mempermudah aku memakan buah tersebut
"Aaaa...." aku membuka lebar mulutku pertanda aku meminta seo jin untuk menyuapi buah tersebut
Seo jin hanya tersenyum melihat tingkahku yang bersikap manja. Tanpa berkomentar apapun, seo jin menurutiku untuk menyuapi potongan buah itu
"Ottokeh?* (gimana?)" Tanya seo jin dengan suara yang sangat lembut, nyaris membuatku meleleh karena mendengar suaranya
"Mm...amashita* (enak) buahnya sangat manis, naega choa* (aku suka) hehe..." ucapku sambil tersenyum ke seo jin
Bibi min menyuruh para maid untuk pergi meninggalkan kami karena merasa tidak enak dengan euforia yang telah aku buat bersama seo jin
Seo jin menyuapiku dengan perlahan menggunakan garpu makan dan menyeka air dari buah pir yang menetes jatuh ke daguku dengan jarinya
Aku bahagia saat diriku sedang bersama seo jin seperti saat ini. jika tidak ada kejadian semalam yang hampir membuatku mati, kemungkinan aku tidak akan menyadari bahwa seo jin adalah pria yang ku sukai selama ini
Dari kejadian semalam aku belajar, bahwa kebersamaanku dengan seo jin adalah waktu yang sangat berharga dan membuatku bahagia
Seandainya saja seo jin bukanlah suami deok mi, bisakah aku berharap seo jin menjadi milikku? Begitu pula dengan seo jin, ia memiliki perasaan yang sama denganku bukan perasaan tanggung jawab karena harus melindungiku. Alangkah baiknya jika seo jin memiliki perasaan cinta padaku, seperti ia mencintai deok mi dan ingin menikahinya dengan tulus pada waktu itu
Sempat aku berpikir, mungkinkah seo jin akan memaafkan deok mi jika ia sudah siuman dan mau menerima sebagai istrinya lagi lalu kembali dari awal untuk membangun rumah tangga yang baik?
Akankah deok mi bisa merubah sikapnya setelah aku membantu dirinya menjalin hubungan yang baik dengan mertuanya dan orang tua seo jin mau memaafkan deok mi setelah mereka tahu bahwa deok mi berselingkuh?
Jika dilihat dari sifat seo jin, ku rasa ia masih mencintai deok mi dengan tulus dan berharap ia siuman serta kembali lagi ke pelukan seo jin
Aku harap deok mi berubah menjadi wanita yang baik setelah ia siuman dan tidak menyia-nyiakan kebaikan hati seo jin setelah ia memberikan kesempatan kedua untuk deok mi
Haah....
Kim hye jin..betapa menyedihkannya dirimu mencintai seseorang yang bahkan tidak mungkin bisa kau miliki di kehidupan ini
Seharusnya aku mendengarkan patricia dan mengabaikan perasaan cintaku ke seo jin agar hatiku tidak semakin sakit di kemudian hari
Jika seandainya mengabaikan perasaan cinta semudah aku membalikkan telapak tangan, mungkin aku akan melakukannya sekarang
Maafkan aku patricia, bukannya aku tidak ingin mendengarkan nasehatmu, hanya saja karena aku tahu seo jin tidak akan pernah menjadi milikku, setidaknya biarkan kenangan indah saat aku bersama seo jin bisa terekam dengan baik di pikiranku
Aku hanya ingin kebahagiaan yang semu ini bisa ku nikmati sekarang. Perasaan... bagaimana aku bisa sedekat ini dengan orang yang ku cintai
"Lagi?" Tanya seo jin dengan lembut padaku
"Nne* (iya...) aku mau lagi...aaaa" ucapku dengan riang dan melupakan sejenak pikiran yang menyedihkan tadi
Seo jin menyuapiku lagi dengan pelan dan lembut, ia dengan sabar menungguku mengunyah buah yang ada di dalam mulutku sampai habis lalu menyuapiku lagi
Baru saja aku menikmati momen kebahagiaan ini, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan dari bibi min yang menghentikkan seseorang untuk masuk ke dalam
"Tuan... saya mohon jangan masuk dulu!" Teriak bibi min
Aku dan seo jin menoleh ke arah datangnya suara dan terkejut bukan main ketika melihat seorang pria menyebalkan nomor satu di bumi ini datang untuk menemuiku dan seo jin
"Lepaskan aku! Bagaimana mungkin seorang pelayan sepertimu melarangku masuk ke dalam untuk menjenguk sepupuku sendiri" ucap pria menyebalkan itu
Duenggg......
HAJUNG!!!
Ya...tuhan keributan apa lagi ini?!
Kenapa hajung datang ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu?
Haaaa....
__ADS_1
Atau jangan-jangan?!
Di mana handphoneku?
Handphoneku?!!
Aishh....
Sudah ku duga, aku meninggalkan handphoneku di dalam kamar dan tidak mengeceknya
Pasti hajung sudah mengirim pesan padaku tapi aku tidak membalas pesannya
"Sung hajung?! Apa yang kau lakukan di sini?!" Seru seo jin bertanya pada hajung
"Untuk mengajakmu berkelahi...." ucap hajung santai
"Tentu saja untuk bertemu dengan sepupuku" ucap hajung dan menatapku
Mataku dan mata hajung saling bertemu, membuatku terkejut dengan garis matanya yang sinis
Hajung melewati seo jin dan mendekatiku, ia menyentuh daguku dengan tangannya untuk melihat lebih dekat seberapa parah luka yang ada di wajahku
Aku terkejut melihat wajah hajung yang sudah sangat dekat dengan wajahku. Bagaimana mungkin ia melakukan hal gila seperti ini di hadapan seo jin
Apakah ia tidak meminum obatnya dengan baik hingga ia kehilangan akal sehatnya dan menjadi sangat berani seperti ini?
"Apakah wajahmu adalah samsak tinju?" Ucap hajung dengan jarak wajah kami yang sangat dekat
Seo jin menarik bahu hajung dengan kuat lalu mendorongnya hingga hajung hampir jatuh ke belakang
"Sung hajung apa yang kau lakukan padanya hhuh?! Pergi!! Jangan mengganggunya ataupun menyentuhnya" teriak seo jin pada hajung
"Cihh...apakah dia batu permata yang sangat langka sehingga aku tidak boleh menyentuhnya ataupun melihatnya?" Ucap hajung
"Jika kau menganggapnya sebagai batu permata yang berharga, kenapa kau tidak becus menjaganya dengan baik dari pria psiko itu, park seo jin?" Ucap hajung yang membuat amarah seo jin terpancing
"Sung hajung...." panggil seo jin memperingatkan hajung
"Mwo?!* (apa?!) Apakah kau mengakui ketidakbecusanmu dalam melindungi istrimu sendiri, park seo jin?"
"Kau telah gagal menjadi suami yang baik. Ahh...benar juga jika kau adalah suami yang baik, tidak mungkin kan istrimu berselingkuh dan memilih orang lain dari pada dirimu sendiri" ucap hajung menyindir
"Sung hajung!!!...." teriak seo jin dan mulai menarik kerah baju hajung
"Berhenti!!!!" Teriakku dengan keras dan beranjak dari posisi dudukku
"Ohok...ohokk...." aku terbatuk beberapa kali karena masih merasakan sakit di area tenggorokan dan leherku
"Apakah kalian berdua yang akan membunuhku sekarang, hhuh??!" Ucapku pada hajung dan seo jin
"Bisa-bisanya kalian membuatku berteriak hanya untuk menghentikan kalian berkelahi? Apa kalian ingin membuat pita suaraku benar-benar putus dan tidak bisa bicara lagi?!"
"Jika kalian sangat ingin bertengkar, jangan lakukan di sini. pergilah ke halaman depan untuk mendapatkan area yang luas dan bisa memiliki luka bonyok yang sama di wajahku sekarang, jika kalian saling memukul satu sama lain" ucapku kepada hajung dan seo jin
Seo jin segera melepas cengkraman yang melekat di kerah kemeja hajung. Sedangkan hajung merapikan pakaiannya yang berantakan
"Tujuanku ke sini tidak untuk berkelahi dengan seo jin, aku hanya ingin melihat keadaan sepupuku sendiri setelah melihatmu masuk berita karena berurusan dengan pembunuh berantai"
"Silahkan..kau bisa melihatku sekarang dan sayangnya aku masih bisa berjalan dengan baik"
"Tenang saja..aku masih memiliki waktu kurang lebih 3 minggu untuk pulih dan akan bersaing denganmu saat pemilihan direktur utama real estate rose tiba" ucapku pada hajung sambil merangkul bahunya membelakangi seo jin
'Apa yang kau lakukan di sini bodoh?' Ucapku tanpa bersuara sambil melihat hajung berharap ia mengerti maksud ucapanku
"Benarkah?!...hahaha...ku kira kau akan menyerah karena wajahmu berubah menjadi buruk rupa dan merasa malu untuk bertemu dengan orang banyak" ucap hajung sambil menepis tanganku yang telah merangkul bahunya
Seo jin mendekatiku karena melihat hajung berbuat kasar padaku. Aku berusaha menenangkan seo jin yang mulai terpancing lagi emosinya
"Baiklahh...karena aku sudah terlanjur bertamu ke sini, setidaknya suruh pelayanmu untuk memberikanku minum. Apakah mereka dilatih untuk mengabaikan tamu yang datang ke sini?" Ucap hajung sambil duduk di atas sofa dengan santai
Aku membalikkan tubuhku dan melihat bibi min yang terlihat kesal dengan sikap hajung
Seo jin meminta tolong kepada bibi min untuk membawakan minuman segar untuk hajung. Dengan mudahnya bibi min tersenyum pada seo jin dan pergi dari ruangan tamu dengan tenang
"Apakah kau pergi bekerja hanya untuk main-main dan mengisi waktu luangmu saja yang sebagian besar menganggur dengan datang ke sini untuk mengganggu sepupumu?" Tanya seo jin
"Cih...seharusnya ucapan itu untuk istrimu seo jin, bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang direktur dan bahkan mencalonkan dirinya menjadi direktur utama ketika ia sangat jarang menginjakkan kakinya ke perusahaan dan sering ketahuan sedang bermain-main dengan pria lain yang bukan suaminya di jam kerja?" balas hajung hingga membuat suasana runyam
Apa yang dikatakan hajung ada benarnya juga sih...
Hahahaha....aku ingin tertawa lepas ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut hajung
Ehemm....bodoh! aku kan deok mi di sini. Sudah seharusnya aku bersikap menjadi deok mi
"Tidak perlu menunjukkan wajahmu ke orang banyak untuk melihatmu bekerja, meskipun aku terlihat seperti itu, tapi aku bisa menyelasaikan tugasku tepat waktu. Yang terpenting adalah hasil akhir yang memuaskan. Bukankah begitu yeobo?* (sayang)" ucapku sambil tersenyum
"N-nne *(i-iya)" ucap seo jin yang sepertinya merasa bersalah karena menyindir hajung duluan
"Kau benar...terkadang orang tidak peduli bagaimana proses untuk mendapatkan hasil yang baik. Yang terpenting bagi mereka adalah hasil akhir yang bagus dan tidak peduli bagaimana cara mendapatkan hal itu dengan benar ataupun tidak" ucap hajung menyindir
Tak lama minuman untuk hajungpun tiba. Tanpa sempat bibi min meletakkan salah satu gelas ke atas meja, hajung mengambilnya dan segera meneguk habis jus jeruk tersebut
"Aaaahhh......"
"Not bad...setidaknya minuman ini cocok untuk mendinginkan emosiku yang hampir menghajarmu jika kau menyentuh wajahku yang tampan" ucap hajung sambil menunjuk ke arah seo jin
Tak lama supir ohh masuk ke dalam dan membisikkan sesuatu ke seo jin. Seo jin membelalakkan kedua matanya karena terkejut dan ikut keluar bersama supir ohh
Aku yang kebingungan hanya berdiam diri di ruang tamu dan kesempatan itu digunakan hajung untuk merangkul lenganku
"Neo gwaenchana??* (apa kau baik-baik saja??)" Tanya hajung dan membuatku kaget
"Tentu saja aku baik-baik saja. Kenapa kau datang ke sini? Apakah ada sesuatu hal yang mendesak?" Bisikku pada hajung
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya bagaimana kabarmu saat ini" ucap hajung santai
"Neo michyeosseo!?* (apa kau gila?)" Ucapku yang hampir berteriak dan melepas lenganku dari tangan hajung yang merangkulku
"Yyaa....*(hei...) Kenapa kau nekat datang kemari hanya untuk menanyakan hal itu padaku?" Tanyaku pada hajung yang hampir tidak habis pikir dengan sikapnya
"Apa kau tidak tahu betapa paniknya diriku ketika mendengar berita itu muncul di televisi?!" Seru hajung
"Mereka menyebut nama deok mi dan mengatakan kau terluka parah. Tentu saja aku sangat mengkhawatirkan kondisimu"
"Aku juga berpikir beberapa kali sebelum aku memutuskannya dengan nekat untuk pergi ke sini"
"Tapi ketika aku mengingat kalimat kau mengalami cedera parah, tanpa berpikir panjang lagi aku segera bergegas ke sini dan melihat keadaanmu dengan mata kepalaku sendiri"
"Memang benar apa yang dikatakan berita jika kau mengalami luka yang cukup parah. Tapi setidaknya kau masih bisa berakting menjadi deok mi. Itu artinya kau masih baik-baik saja nona kim. Syukurlah" ucap hajung dengan wajah serius dan membuatku terharu hingga mewajarkan sikap dia yang sangat nekat ini
"Lalu..apa yang terjadi di luar? Apakah kau melakukan sesuatu hingga seo jin terkejut seperti itu?" Tanyaku penasaran
"Percayalah aku tidak sedang membuat onar di rumah ini" ucap hajung dengan wajah serius
"Putriku...putriku sayang..." teriak seorang wanita dengan langkah kakinya yang terdengar nyaring karena suara itu muncul dari sepatu hak tingginya
Aku membelalakan mataku ke hadapan hajung dan reflek duduk dengan cepat
Awww!!!
Aishh....
Aku lupa jika aku harus berhati-hati dengan leherku. Karena terlalu panik, aku bergegas duduk dan tanpa sadar leherku yang sedang cedera terasa nyeri hingga mampu membuatku meringis kesakitan
Hajung sempat khawatir karena melihat ekspresi wajahku yang kesakitan saat tidak hati-hati ketika duduk, namun ia harus mengabaikannya karena mendengar suara langkah kaki wanita itu mulai mendekat ke sini
"omo putriku...ya tuhan!!" ucap ibu deok mi sambil menangis ketika ia melihat beberapa lebam biru muncul di wajahku
Ku tebak sepertinya ibu deok mi tidak menyadari kehadiran hajung di sini. Ia lebih memilih menangisi putrinya yang cedera dibandingkan bertanya atau mencaci maki orang yang dibencinya.
"Ya tuhan...kenapa kau bisa jadi seperti ini putriku? Huhuhu...putriku yang malang..."
"Aku tidak akan memaafkan pria brengs*k yang telah menyakiti putri kesayanganku!"
"Bahkan ia tidak layak hanya dengan mati begitu saja! Akan ku bakar mayatnya hingga kering menjadi abu!" Teriak ibu deok mi
"Ohookk....ohokkk" ibu deok mi terbatuk beberapa kali dan membuatku panik
"E-eomma* (i-ibuu...) apa kau baik-baik saja?" Tanyaku
"Bi-bibi min! Bibi min ambilkan air untuk ibuku! Uhukk uhukkk..." ucapku yang berteriak pada bibi min karena panik dan membuatku terbatuk beberapa kali hingga menyebabkan nyeri pada tenggorokkanku
"Haaah...." hajung menghela nafas dan mengambil sendiri minuman di atas meja lalu menyerahkannya ke ibu deok mi
"Eomma...eomma minum dulu dan bernafas dengan baik, ok" ucapku pada ibu deok mi
"Ini kau juga minumlah" ucap hajung dan memberikanku segelas air
"Haah....hahh..." ibu deok mi sudah sedikit tenang setelah meminum segelas air putih dan merilekskan tenggorokannya
"Haah...gomawo* (terima kasih)..menantu Seo..."
"Seo...haaah...sung hajung!!!" Teriak ibu deok mi dan membuatku terkejut lagi
ibu deok mi terkejut bukan main dan salah mengira bahwa tadi yang memberi minum adalah menantu seo melainkan hajung
"Selamat siang bibi ji hye. Bagaimana kabar anda? Senang bertemu denganmu" ucap hajung dengan sopan ke ibu deok mi sambil menundukkan separuh tubuhnya memberi hormat
"A-apa yang kau lakukan di sini hhuh?!" tanya ibu deok mi
"Apa kau berniat mencelakakan putriku? Pergi kau menjauh dari putriku" ucap ibu deok mi yang salah paham dengan hajung
"Eomma* (ibu) tenanglah...hajung tidak ada niat seperti itu padaku" ucapku menenangkan ibu deok mi
"Ommo...putriku. aku tahu kau berubah menjadi anak yang baik belakangan ini. Tapi..jangan sampai kau lengah terhadap musuhmu"
"Jika ia bersikap baik bukan berarti kebaikannya tulus kepadamu. Kau harus tetap mencurigainya. Apa kau tidak tahu bahwa ibunya sangat licik seperti ular kobra yang berbisa? Menggoda adik ayahmu dan mengkhianati istri sahnya...." ucap ibu deok mi tanpa perasaan bersalah sedikitpun di depan hajung
"Eeommmaa!!*...(ibuu!!....) uhuk..uhuk" aku sedikit teriak untuk menghentikkan ibu deok mi bicara menyakitkan seperti itu di hadapan hajung
Aku tahu perselingkuhan adalah suatu kejahatan. Tapi...bisakah untuk tidak berbicara menyakitkan seperti itu pada anak yang tidak memiliki kesalahan apa-apa?
Kau boleh mengutuk perbuatan orang tua hajung, tapi...jangan biarkan hajung menanggung akibatnya. Ia tidak bisa memilih rahim seorang ibu untuk menanggung kehidupannya sebelum lahir ke dunia
Jika ia bisa memilih, pasti ia akan memilih lahir dari seorang ibu yang memiliki sejarah yang baik dalam kehidupannya hingga tidak menjadi bahan cemoohan orang-orang
"Maaf telah mengganggu waktu anda bibi ji hye, Semoga harimu menyenangkan" ucap hajung pamit lalu memberi salam ke ibu deok mi dengan baik
Haaa....
__ADS_1
Ku harap hajung tidak merasa sedih karena mendengar ucapan kasar dari ibunya deok mi
Dari kejauhan, aku melihat hajung bertemu dengan ayah deok mi dan seo jin saat ia ingin keluar rumah
Hajung membungkukkan tubuhnya pertanda ia memberi salam pada ayahnya deok mi, setelah itu ia langsung pergi melewati mereka berdua
Ayah deok mi sempat kebingungan karena melihat hajung baru saja bersilahturahmi ke kediaman seo jin
"Hei...menantu seo, apakah anak kurang ajar itu ke sini hanya untuk mengejek putriku yang sedang tidak berdaya seperti ini?" Tanya ayah deok mi ke seo jin
"Tidak ayah. Ia hanya menjenguk istriku" ucap seo jin jujur
"Mwo?!* (apa?!) Anak itu menjenguk putriku? Hahaha....."
"Tidak mungkin ia melakukan hal baik seperti itu. Ia pasti ke sini atas permintaan ibunya yang seperti penyihir itu untuk menjadi mata-mata dan melihat seberapa parah luka yang diderita oleh putriku" ucap dong il berprasangka buruk pada hajung
Aku hanya menghembuskan nafas ketika ayah dan ibu deok mi selalu berpikiran negatif ke hajung
Kupikir akan sangat sulit mendamaikan keluarga hajung dan juga keluarga deok mi karena pada dasarnya mereka sangat mengutuk hubungan perselingkuhan hingga memiliki anak dari hubungan gelap tersebut.
Biar bagaimanapun akan selalu ada percikan api di antara keluarga deok mi dan hajung
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan lukamu?" Tanya dong il kepadaku
"Sudah agak baikan, dokter bilang tidak ada sesuatu yang menyebabkan lukaku infeksi dan sudah diperbolehkan untuk melakukan perawatan luka di rumah" ucapku
"Lain kali kau harus berhati-hati menjaga tubuhmu sendiri, kau harus ingat tidak ada anggota tubuh cadangan yang bisa kau ganti jika sudah mengalami cedera yang sangat parah" ucap dong il
"Sebentar lagi pemilihan direktur utama real estate rose, kau harus lebih fokus dalam proses pemilihan, kau harus banyak belajar dari menantu seo agar lebih baik" ucap ayah dong il
"Apa kau sekarang masih memikirkan perusahaan setelah melihat sekujur luka di tubuh putri kandungmu?" Sindir ibu deok mi
"Bagaimana mungkin kau masih membebankan perusahaan ke putri semata wayangmu ketika ia hampir kehilangan nyawanya tadi malam" bela ibu deok mi
"Berhentilah membicarakan perusahaan! Kau sudah berjanji padaku saat perjalanan kemari untuk tidak membahas perusahaan di depan putri dan istrimu!" Ucap ibu deok mi kesal
"Ehemm...mianhae yeobo* (maafkan aku sayang) aku tidak akan membicarakannya lagi dan membiarkan ia beristirahat" ucap dong il
"Menantu seo. Bisakah kita bicara empat mata di ruanganmu?" Tanya ayah deok mi ke seo jin
"Nne abeoji *(iya ayah)" balas seo jin dan mereka pergi dari hadapanku dan ibu deok mi
Sementara itu ibu deok mi selalu mengelus rambut dan wajahku dengan lembut sambil menangis terisak-isak
Aku sibuk menenangkan ibu deok mi agar ia tidak berlarut dalam kesedihan karena melihat lukaku hingga menyebabkan kesehatannya menurun
****
Park Seo Jin pov
Ayah deok mi ingin bicara empat mata denganku. Setelah aku dan ayah mertuaku berada di ruang baca, ayah deok mi duduk dan bicara serius denganku
"Menantu seo. Aku tidak meminta banyak darimu"
"Aku hanya memintamu untuk menjaga gadis itu untuk tetap berada di dekatmu termasuk untuk menjauhinya dari segala kehidupan aslinya" ucap dong il
"Kau pikir aku tidak tahu, jika gadis itu masih bebas keluar masuk ke dorm di kampus itu?" Tanya dong il
"Apakah ayah mengawasi hye jin bahkan ketika ia sedang pergi sebentar dari rumahku?" Tanyaku penasaran
"Aku tidak mengawasi dirinya secara diam-diam menantu seo. Aku mengetahuinya dari informanku yang memang bertugas menjaga kampus yayasan kita beserta asramanya" ucap dong il menjelaskan
"Tidak ada keuntungan untukku mengetahui kehidupannya sehari-hari saat ia bersama dengan dirimu" ucapnya lagi
"Lagi pula kejadian ini bermula ketika ia terlalu peduli pada temannya di kehidupan dia sebelum berpura-pura menjadi putriku"
"Jika seandainya ia tidak dekat lagi dengan teman-teman asramanya, sudah pasti ia tidak akan babak belur seperti ini" ucap dong il menyalahkan hye jin
"Kau tidak bisa menyalahkannya. Ia sedang sial ayah, karena bertemu dengan pembunuh berantai itu dan pria itu hampir membunuh temannya"
"Justru ia sial karena masih berurusan dengan teman asramanya itu! Seandainya saja ia tidak ikut campur dan tidak menjalin persahabatan yang tidak menguntungkan seperti itu. Tentu saja hal ini tidak akan pernah terjadi" ucap dong il
"Jadi maksudmu, seharusnya hye jin membiarkan pembunuh berantai itu menculik temannya dan ayah menyuruh hye jin menjauh dari teman-temannya yang ada di asrama?" Tanyaku penasaran dengan cara pikir ayah mertuaku
"Akan lebih baik jika ia pergi menjauh dan tidak dekat dengan teman-temannya lagi"
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti jika ia masih tetap dekat dengan teman-temannya yang ada di asrama"
"Untung saja aku sudah satu langkah lebih dulu menyiapkan persiapan agar gadis itu tidak dekat lagi dengan teman-temannya yang ada di kampus ataupun di asrama"
Aku masih berpikir apa yang dimaksud ayah deok mi dengan persiapannya itu
"Kau benar menantu seo, gadis itu sedang sial karena bertemu dengan pembunuh berantai itu karena ia dekat dengan teman-temannya yang ada di asrama"
"Tapi tenang saja, kesialan yang dibawa oleh teman-teman asramanya itu telah berakhir. Karena setelah aku menyebarkan isu buruk mengenai gadis itu, aku yakin untuk sementara ia tidak akan mengunjungi asrama temannya maupun kampusnya" ucap dong il sambil tertawa
"Apa maksud ayah?" Tanyaku heran
"Apakah kau dalang yang menyebarkan isu bahwa hye jin cuti kuliah karena sedang mengandung anak haram?" Tanyaku terkejut
"Aku hanya mengatakan ini padamu seo jin. Aku sudah tahu apa yang terjadi selama kau hidup bersama dengan gadis itu"
"Kau masih membiarkan gadis itu bermain dan bertemu dengan teman-temannya bahkan memberikan kartu kreditmu untuk menyenangkan keinginan anak muda seusianya"
"Aku tidak menyangka, bukannya melarang gadis itu untuk bertemu dengan teman-temannya, kau justru menjemput hye jin di asrama tanpa perasaan khawatir jika sewaktu-waktu penyamaran hye jin terbongkar karena ulah temannya sendiri"
"Apa kau yakin 100% hye jin tidak menceritakan penyamaran rahasianya ke teman-teman asramanya?"
"Aku yakin teman hye jin tidak akan..."
"Omong kosong!!!" Teriak ayah deok mi memotong pembicaraanku
"Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan padaku apa yang dikatakan hye jin ke teman-temannya ketika ia bisa mentraktir semua teman angkatannya makan malam gratis di kedai paman tua tersebut?"
"Jika ia tidak menjual dirinya, tidak mungkin ia mendapatkan uang sebanyak itu untuk mentraktir satu angkatan teman kampusnya" ucap ayah deok mi
"Abeoji!!!...*(ayah!!...)" teriakku
"Aku hanya berpikiran yang sama dengan orang-orang pada umumnya menantu seo"
"Tanpa dijelaskan, orang-orang di sekitarnya sudah mengetahui bahwa gadis itu mendapatkan pria kaya raya yang sudah menikah untuk menopang kehidupannya"
"Kau jangan munafik seo jin. Sebelum gadis itu menolong keluarga kita, kau juga berniat untuk menjadikannya wanita simpananmu kan?"
Aku terdiam tidak bisa membalas ucapan ayah mertuaku karena apa yang dikatakannya memang benar
Aku berniat untuk menjadikan hye jin wanita simpananku. Tapi itu dulu, waktu aku merasakan bahwa dunia ini tidak adil bagiku. Bagaimana mungkin istri sahku bisa berselingkuh dengan laki-laki lain sedangkan diriku tidak bisa berselingkuh dengan wanita lain?
Terlebih aku menemukan wanita yang cocok dengan seleraku. Tentu saja aku meminta hye jin untuk menjadi wanita simpananku. Toh deok mi yang memulai duluan untuk melakukan open relationship di dalam hubungan rumah tangga kami
"Kau juga senang saat bermain dengannya kan, seo jin?" Tanya ayah deok mi
"Abeoji!!...*(ayah!!...) apa yang aku lakukan dengan hye jin waktu itu adalah sebuah kecelakaan dan aku tidak pernah mengulang kesalahan yang sama lagi selama hye jin tinggal bersamaku" ucapku jujur pada ayah deok mi
"Baiklah...baiklah aku percaya ucapanmu seo jin. Kita adalah sesama pria, tidak ada kebohongan di antara kita" ucap ayah deok mi
"Tapi...aku adalah tipe pria yang akan melakukan apapun demi kesejahteraan keluargaku termasuk istri dan juga anakku"
"Mungkin kau memiliki ide untuk menjadikan gadis itu wanita simpananmu hanya untuk melihat putriku cemburu padamu"
"Aku setuju jika hal itu bisa membuat putriku bisa kembali ke pelukanmu. Tapi..jika deok mi sudah kembali ke pelukanmu namun kau tidak bisa lepas dari gadis itu, aku akan bersumpah untuk membuat kehidupan wanita simpananmu menderita saat ia berada di dekatmu"
"Tapi...karena takdir mengatakan hal lain dan putriku kini terbaring koma di rumah sakit, aku masih membutuhkan gadis itu dan memanfaatkannya untuk kepentingan perusahaan serta kesehatan istriku"
"Secara tidak langsung, kehidupan gadis itu berada di tanganku sepenuhnya"
"Apa kau ingin mengancam hye jin jika ia tidak bergerak sesuai dengan perintah atau keinginanmu?" Tanyaku yang sedang menahan kesal
"Tentu saja aku mengancam kehidupannya. Aku bisa saja membuat orang-orang yang ia sebut sebagai sahabat untuk menjauhi dirinya selama-lamanya"
"Ayah! Ku mohon berhenti menyiksa hye jin. Lalu kenapa kau mengungkit masa lalu? Lagi pula waktu itu hye jin menolak untuk dijadikan wanita simpananku"
"Jelas-jelas ia adalah gadis yang sangat baik, ayah. Ia menolak semua penawaranku ketika aku memintanya untuk menjadi wanita simpananku. Apa kau lupa sejumlah uang bertebaran di lantai ruang kantorku karena hye jin yang telah mengambil semua uang dari bank untuk dikembalikan padaku?"
"Ia tidak tergila-gila dengan harta kekayaan, ayah. Aku sengaja memberikannya kartu kredit karena sejak ia pindah ke rumah ini, ia tidak bekerja part time lagi, tentu saja ia tidak mendapatkan uang tambahan"
"Kau memiliki harta dan uang yang sangat berlimpah, ayah. Bagaimana mungkin kau mengungkit uang yang tidak seberapa untuk digunakan hye jin mentraktir makan teman-temannya?"
"Sejak ia pindah ke rumah ini, Tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. Kita telah membuatnya menjadi burung di dalam sangkar ayah, ia sudah tidak bebas lagi"
"Haruskah kau melakukan hal keji seperti itu? Menyebarkan isu buruk dan gosip murahan tentang hye jin untuk menjauhi dirinya dari teman-temannya karena ketakutan berlebihanmu akan rahasia penyamaran hye jin yang berpura-pura menjadi istriku terbongkar?"
"Ketakutan berlebih katamu?! Menantu seo, jika aku tidak mempersiapkan dengan matang dan menyerahkannya begitu saja padamu, bisakah kau bertanggung jawab dengan segala resiko kejadian buruk yang mungkin terjadi dikemudian hari nanti?"
"Aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama karena sifat baikmu yang sungguh tidak berguna itu"
"Berkali-kali ku katakan padamu untuk tidak menaruh hati pada gadis itu park seo jin!"
"Apa kau berniat untuk menceraikan putriku dan mengkhianati dirinya ketika ia sudah siuman dari koma?"
"Ahh...apakah kau sudah kehilangan akal karena sudah tergila-gila oleh gadis itu dan memilih jalur seperti orang tua hajung dan berniat memiliki anak dari rahim gadis duplikat putriku itu?!" Teriak ayah deok mi
aku akui, dulu aku pernah meminta hye jin untuk mengandung anakku di rahimnya, tapi waktu itu keadaan hye jin tidak terdesak seperti ini. jika hye jin adalah gadis murahan dan mau mengandung anakku di rahimnya, kemungkinan aku bisa dikutuk oleh para konglomerat karena mengikuti jejak orang tua hajung.
untungnya hye jin adalah wanita terhormat yang bisa mempertahankan prinsip kehidupannya. dan hal itu adalah pesona dari diri hye jin yang membuat hatiku menyukai dirinya
tapi...aku menyadarinya, aku tidak boleh mencintai hye jin. bagiku mencintai hye jin sama saja dengan menempatkan dirinya dalam keadaan bahaya. aku lupa jika kehidupanku akan selalu dipantau oleh ayah deok mi demi mempertahankan citra baik keluarga sung dan park di mata para konglomerat
"Abeoji* (ayah) sudah ku katakan berkali-kali padamu, aku tidak ada niat untuk menceraikan istriku ketika ia sudah siuman nanti"
"Lagi pula aku sudah berjanji untuk mengembalikkan kehidupan hye jin seperti semula dan tidak melibatkan dirinya ke kehidupan sisi gelap kita"
"Maka dari itu, aku memohon padamu, ayah. untuk menghentikan isu buruk tentang hye jin yang beredar di kampus dan asrama tempat tinggalnya dulu" ucapku sambil berlutut di hadapan ayah deok mi, memohon untuk mengabulkan permintaanku
"Aku tidak ingin ia mendapat perlakuan buruk setelah ia kembali ke kehidupannya semula setelah menolong keluarga kita" ucapku
"Ayah tidak perlu khawatir dan takut jika penyamaran hye jin akan terbongkar oleh orang lain selain yang tidak kita inginkan, selain itu aku akan menjamin hye jin tidak akan kembali ke asrama untuk mengunjungi teman-temannya sebelum acara pemilihan direktur utama real estate dimulai"
"Ayah tidak perlu khawatir tentang perasaanku pada hye jin, rasa peduliku terhadapnya bukan karena perasaan cinta, melainkan perasaan tanggung jawab untuk melindunginya dari segala macam mara bahaya"
"Sebagai sesama pria, harusnya kau paham ayah jika janjinya sama berharganya dengan nyawa dirinya sendiri" ucapku dengan tatapan yang sangat tajam untuk bisa meyakinkan ayah mertuaku
Dong il hanya terdiam dan mengamati keseriusanku dalam perkataan yang ku ucapkan
"Baiklah...aku akan mengabulkan permintaanmu karena kau bersikeras untuk melindungi gadis itu"
"Aku akan memikirkan bagaimana cara untuk menghapus isu buruk tentang gadis itu di kampus dan asramanya, selama kau masih bisa memegang janjimu padaku, aku tidak akan menyentuh ataupun menyakiti gadis itu"
"Tapi...jika ia berulah di luar kendaliku ataupun diluar kendalimu, aku tidak akan main-main untuk membuatnya jera dan menyesal selamanya" ucap dong il dengan serius dan pergi dari ruang bacaku
__ADS_1