Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan

Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan
Episode 67


__ADS_3

Kim Hye Jin pov


Aku bertemu dengan emma di starb*ck daerah beverly street


Tentu saja untuk menukar handphoneku dan mengambil kartu keramat milik seo jin


Pastinya emma juga membuat laporan padaku tentang sesuatu yang menarik untuk aku ceritakan pada seo jin, untuk berjaga-jaga jika ia menanyakan padaku tentang berlangsungnya acara pesta


Emma menceritakan semua detail berlangsungnya acara kemarin sampai berakhirnya acara pesta


Emma memberitahu padaku bahwa pagi ini seo jin sudah meneleponku sebanyak tiga kali dam emma sengaja tidak mengangkatnya


Seo jin akan curiga jika yang mengangkat panggilan telepon adalah emma terus


Mungkin aku akan membuat alasan pada seo jin bahwa aku bangun tidur kesiangan dan melewatkan sarapan karena terlalu lelah menghabiskan waktu di acara pesta kemarin


Seo jin mengirimiku pesan, namun emma tidak berani membuka pesan itu sebelum aku datang menemuinya


Aku dan emma membuka pesan dari seo jin bersama-sama dan seo jin memberitahuku agar berkunjung ke rumah orang tua deok mi karena alasan nyonya song ji hye rindu untuk bertemu dengan putrinya


Seo jin mengirimku pesan 2 jam yang lalu


"Kenapa kau tidak meberitahuku, emma?" Tanyaku


"Karena aku tahu kau sedang berada di dalam pesawat dan aku cukup kesulitan untuk menghubungimu" ucapku


Tak lama seo jin melakukan panggilan ke handphoneku, reflek aku dan emma terkejut dengan suara handphoneku sendiri


Aku memberi isyarat pada emma untuk diam dan untungnya suasana di starb*ks saat ini sedang sepi pengunjung


"Hoahhmmm...ya seo jin-ssi ada apa?" Tanyaku berpura-pura


"Apa kau sudah bangun hye jin-aa?" Tanya seo jin


"Mm...baru saja" ucapku acuh


"Apa kau belum membaca pesanku?" Tanya seo jin lagi


"Hmm...aku masih belun bisa membuka mataku dengan sempurna, apa kau bisa memberitahuku apa isi pesanmu, seo jin?" Tanyaku


"Kemarin ayah meneleponku dan meminta kita untuk bertemu di rumahnya" ucap seo jin dan membuatku merubah cara bicaraku


"Ayah? Untuk apa ia menyuruh kita ke rumahnya?" Tanyaku


"Entahlah...mungkin ibu deok mi merindukan putrinya. ia hanya bertanya apakah kau sedang berada di sampingku dan aku menjawab 'iya'"


"Tidak mungkin aku bilang pada ayah jika kau sedang merayakan pesta bersama teman-teman kampusmu"


"Sebaiknya kita harus latihan untuk menyatukan jawaban yang sama tentang aktivitas kita semalam untuk berjaga-jaga jika ayah deok mi menanyakannya" ucap seo jin


Aneh


Untuk apa dong il tiba-tiba menanyakan keberadaanku semalam?


jika istrinya merindukan putrinya, seharusnya dong il cukup menyuruhnya untuk ke rumah tanpa menanyakan keberadaanku


Terlebih waktunya sangat cocok ketika aku sedang pergi ke buffalo bersama hajung


Apakah dong il memiliki mata-mata di buffalo?


Dan kehadiran hajung ke buffalo membuat dong il menjadi salah paham dan mengira hajung diam-diam sedang melakukan sesuatu yang akan merugikan dia?


Apakah kebakaran panti asuhan tadi malam ada kaitannya dengan dong il?


Ia sengaja membakar panti asuhan binaan hajung agar konsentrasi hajung terpecah dan berharap apa yang direncanakan hajung di buffalo menjadi gagal?


Aku semakin penasaran, jangan-jangan dong il mengetahui penyakit mental hajung dan sengaja membuat mentalnya semakin hancur karena sebentar lagi pemilihan direktur utama real estate rose semakin dekat


Terlebih hajung mengatakan padaku bahwa banyak julukan jelek tentang dirinya


Mungkinkah orang yang menyebar gosip dan julukan hajung adalah perbuatan dong il juga?


"Hye jin-aa"


"Kim hye jin?"


Emma memukul tanganku dan membuatku tersadar bahwa seo jin memanggilku beberapa kali di telepon


Haah...


Lagi-lagi aku terhanyut dalam pikiranku sendiri


"Ahh...mian* (maaf) seo jin-ssi, aku masih merasa mengantuk" ucapku pura-pura


"Baiklah...aku akan menjemputmu di dorm" ucap seo jin


"Ahh....tidak usah!" Ucapku


"Kau tidak perlu ke dorm karena akan membuat penghuni asrama heboh karena kedatanganmu" ucapku mencari alasan


"Apa maskudmu hye jin?" Tanya seo jin


"M-maksudku saat ini hampir semua penghuni asrama menginap di sini, aku hanya tidak ingin bermunculan gosip yang aneh-aneh lagi, di tambah mobilmu sangat bagus dan hal itu akan mencolok di sini" ucapku pada seo jin


"K-kau tidak lupa kan insiden saat teman sebelah kamarku hampir menghampiri mobilmu ketika sepanjang malam kau berada di depan dormku di hari turunnya salju" ucapku yang terus mencari alasan


Seo jin terdiam ketika mendengar ucapanku


"Haah...baiklah, aku akan meminta supir ohh untuk menjemputmu" ucap seo jin


"Baiklah..aku tidak keberatan jika supir ohh yang menjemputku, ku harap supir ohh menjemputku menggunakan mobil sedan biasa seperti biasanya" ucapku pada seo jin dan mengakhiri panggilan teleponku


Aku menghembuskan napas setelah berbicara pada seo jin


Terlalu banyak berbohong membuat hidupku semakin tidak nyaman


Aku ingin sekali segera mengakhiri sandiwara ini dan kembali ke kehidupanku yang dulu


Syukurlah yang akan menjemputku adalah supir ohh


Aku akan menceritakan ke supir ohh dan berharap ia akan membantuku kali ini


***


Sesuai ucapan seo jin, tak lama supir ohh menjemputku di depan dorm dan emma melambaikan tangannya padaku


"Kau sudah menjadi nyonya besar sekarang hye jin" ledek emma


Aku melirik tajam ke arah emma bahwa ini bukan waktu yang pantas untuk dijadikan bahan guyonan


Setelah aku masuk ke dalam mobil, baru seperempat jalan, supir ohh berdehem padaku sambil menatap spion dalam mobil


Tanda bahwa aku harus menceritakan apa yang terjadi semalam pada supir ohh


"Baiklah..aku akan menceritakannya padamu...." ucapku


Supir ohh berhenti mendadak saat aku menceritakan bahwa hajung sudah tahu identitasku yang sebenarnya


"Nona kim lalu apa yang kau lakukan?" Tanya supir ohh


"Bukankah sebaiknya kita beritahu tuan seo jin terkait masalah ini" usul supir ohh


"Anio* (tidak) jangan katakan apapun pada seo jin termasuk detektif choi" ucapku memperingatkan supir ohh


"Hanya kau yang tahu supir ohh"


"Kau tahu kan tuan mu park seo jin sangat tidak menyukai hajung?"


"Jika kau memberitahu hal ini pada tuanmu, perang dunia ketiga akan terjadi"


"Hanya akan memperumit masalah jika seo jin mengetahui hal ini"


"Setidaknya hajung sepakat untuk tidak membocorkan identitasku ke semua orang" ucapku


"Nona berhati-hatilah pada tuan hajung, setahuku ia memiliki temprament yang sangat buruk" ucap supir ohh padaku untuk memperingatkan


"Araseo* (aku mengerti) supir ohh, aku akan berhati-hati" ucapku menenangkan supir ohh


***


Seo jin menungguku di kamar dan menyambutku dengan sumringah


Seolah ia seperti seorang ayah yang sedang menunggu anaknya pulang dari karyawisata


"Hye jin-aa bagaimana acara pestamu? Apakah menyenangkan?" Tanya seo jin


"Mmm....aku sangat senang, gomawo seo jin-ssi karena kau telah meminjam kartu saktimu" ucapku


"Eisshh....sudah ku katakan padamu berulang kali, kartu itu telah menjadi milikmu, jika kau ingin membeli pakaian baru dan cantik, kau bisa menggunakannya hye jin" ucap seo jin


Aku hanya tersenyum sambil menyelipkan rambutku ke telinga


"Hye jin-aa chakaman* (tunggu)" ucap seo jin panik sambil memegang tanganku dan menyingkapkan rambut yang ada di dahiku


"Apa kau terluka?" Tanya seo jin yang perhatian padaku


"Ada apa dengan dahimu?" Tanya seo jin lagi


Haaahh...


Bagaimana ini!?

__ADS_1


Apa yang harus ku katakan?


Bagaimana seo jin menyadari luka yang ada di dahiku


Bahkan hajung, emma dan supir ohh saja tidak menyadari jika terdapat plester luka kecil yang ada di dahiku


Apa karena aku lengah di hadapan seo jin dan tidak memperhatikan rambut bagian depanku yang telah menutupi dahi


Jangan sampai seo jin tahu luka memar kebiruan yang ada di leherku


Aku menarik syalku lebih ke atas agar seo jin tidak menyadarinya


"Ohh ini?!" Seruku


"Ini karena kecerobohanku, aku tidak melihat kaki meja saat kembali dari toilet"


"Dahiku terkena ujung meja" ucapku


"Apa kau mabuk?" Tanya seo jin


"Anio* (tidak) aku tidak minum alkohol, aku hanya meminum beberapa gelas orange juice" ucapku


"Apa kau anak kecil? Bagaimana mungkin kau tidak melihat meja dan membuatmu terjatuh hingga dahimu terluka"


"Mian* (maaf) membuatmu khawatir seo jin-ssi" ucapku pada seo jin


Seo jin terdiam sambil memandangiku


Aku segera menyadari seo jin yang sedang memandangku


Aku takut ia menyadari ada yang tidak beres pada leherku


"Wae?* (kenapa?)" Tanyaku


"Apa kau kedinginan hye jin?" Tanya seo jin


"Mm..sedikit" ucapku


"Ahh...sebenarnya aku kurang enak badan karena terlalu lelah menghabiskan waktu bersama teman-teman kemarin malam"


"Ditambah dengan cuaca yang agak dingin saat ini" ucapku


"Apakah sebaiknya ku batalkan acara makan siang keluarga hari ini agar kau bisa beristirahat hye jin?" Tanya seo jin


"Anio* (tidak) kau bilang ibunya deok mi merindukan putrinya, jangan sampai membuat ia menunggu, ayo bergegas" ucapku dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap


Sebenarnya aku menghindari seo jin agar ia tidak bisa memerhatikanku lagi


Aku sangat gugup jika harus berbohong pada seo jin


Aku tidak berani menatap mata seo jin saat aku berbohong


Situasi ini membuatku sangat frustasi


****


Selama di perjalanan, aku berpura-pura untuk tidur di dalam mobil seo jin


Aku sengaja menghindari seo jin untuk tidak berbicara


Sesampainya di rumah kediaman tuan dong il, ibu deok mi seperti biasa menyambut putri kesayangannya dengan ramah


"Aigoo putriku" ucap ibu deok mi


"Dimana ayah?" Tanya seo jin


"Ahh...ia sedang memanggang daging di taman belakang" ucap ibu deok mi


"Benarkah?!" Seru seo jin


"Kalo begitu aku akan membantunya di  belakang" ucap seo jin dan segera bergegas ke kebun belakang


"Eomma* (ibu) apa kau tidak kedinginan berada diuar rumah?" Tanyaku heran


"Ahh tidak sayang...musim dingin tahun ini memang datang lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya tapi ibu rasa musim dingin kali ini belum sepenuhnya datang" ucap ibu deok mi


"Sudah seminggu ini salju tidak turun dan ku pikir musim gugur enggan untuk bergantian dengan musim dingin karena masih ingin melihat bunga-bunga kuat yang masih bermekaran untuk terakhir kalinya sebelum musim dingin benar-benar datang" ucap ibu deok mi lagi


"sedangkan ibu ingin sekali mengajak kalian makan bersama di kebun belakang rumah sambil menikmati pemandangan bunga"


"Begitu mendengar dari ayahmu jika menantu seo menelpon ayahmu dan mengatakan akan ke sini, dengan semangat aku mempersiapkan peralatan barbeque untuk dibawa ke sana" seru ibu deok mi


"Bukankah ayah yang menelepon seo jin karena ia bilang ibu merindukanku?" Tanyaku heran


"Tidak! Aku yakin ayahmu mengatakan hal itu pada ibu, ibu memang merindukanmu tapi ibu pikir kalian berdua akan sibuk karena pemilihan direktur semakin dekat. Jadi ibu sadar diri dan tidak akan meminta kalian untuk mengunjungi ibu dulu" ucap ibu deok mi menjelaskan


"Tapi mendengar menantu seo menelpon ayahmu dan menyempatkan waktu kalian berdua untuk datang ke sini, membuat ibu senang"


"Haa....apakah ia malu jika mengatakan rindu pada putrinya sendiri?"


Aneh


Kenapa dong il mengajakku dan seo jin ke sini?


Dan kenapa ia berbohong pada seo jin dan mengatakan bahwa song ji hye merindukan putrinya


Apakah semalam dong il menelepon pada seo jin hanya untuk memastikan diriku bersama dengan dirinya atau tidak?


Tapi setelah seo jin menanyakan alasan ia mencariku tiba-tiba, dong il mengatakan bahwa istrinya merindukan putrinya sendiri agar seo jin tidak curiga pada dirinya


"Ibu tidak mengerti dengan cara berpikir laki-laki, apakah seo jin sama seperti ayahmu enggan mengatakan rindu padamu?" Tanya ibu deok mi tiba-tiba padaku tentang seo jin


"Ahh...tidak ibu, seo jin tidak sama seperti ayah"


"Ia akan langsung bilang padaku jika ia merindukanku" ucapku asal


"Ohh...sudah ibu duga, seo jin adalah anak yang jujur, ia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya pada putriku" ucap ibu deok mi dan membuatku tersenyum masam


Aku dan ibu deok mi menyusul seo jin dan dong il ke kebun belakang rumah  untuk membantu mereka memasak daging barbeque


Aku melihat beberapa pelayan yang menyambut kami dan berdiri di samping dong il dan seo jin jika sewaktu-waktu mereka membutuhkan bantuan dari para pelayan


"Ahh...kau datang tepat waktu anakku, kupikir aku akan membakar daging ini bersama-sama dengan kau dan suamimu" ucap dong il ketika aku baru datang ke kebun


"Kita bisa membakar beberapa daging lagi jika ayah ingin kita melakukannya bersama-sama" ucap seo jin


"Hahaha...tidak perlu, aku hanya bergurau menantu seo, kalian sudah menempuh perjalanan jauh untuk datang ke sini, aku tidak akan tega menyuruh kalian untuk membakar daging lagi" ucap dong il dan duduk di meja makan yang sudah terlihat cantik karena sudah di hias oleh para pelayan di rumah ini


Setelah para pelayan selesai menyiapkan hidangan makanan di meja makan, dong il mempersilahkan senua orang yang duduk di meja makan untuk menyantap hidangan


Di tengah berlangsungnya makan, dong il tiba-tiba menanyakan aktivitasku dan seo jin semalam


"Apakah di perjalanan terjadi kemacetan? Ku kira kalian ke sini pagi hari" tanya dong il


"Ahh...maaf ayah, aku dan deok mi bangun siang hari ini" ucap seo jin


"Memang apa yang kalian lakukan malam hari?" Tanya dong il yang terlalu ingin tahu lebih detail


"Yeobo* (sayang) kenapa kau menanyakan ke mereka seperti pasangan pengantin baru" ucap ibu deok mi


"Hahaha...mian* (maaf) aku hanya merasa heran, menantu seo tidak biasanya datang telat, ia adalah tipe pria yang sangat menghargai waktu" ucap dong il sambil melirik ke arahku seolah tatapannya menyindirku bahwa seo jin datang telat karena ulahku


"Maafkan aku ayah, semalam aku bekerja lembur di rumah setelah aku dan deok mi makan malam di sebuah restoran, karena ku pikir esok adalah hari libur" ucap seo jin


"Lembur?! Bagaimana mungkin kau masih melakukan hal yang tidak di sukai oleh istrimu?"


"Jangan sampai kalian bertengkar lagi karena deok mi tidak menyukai dirimu yang masih membawa pekerjaan ke rumah menantu seo" ucap ibu deok mi yang tiba-tiba menyahut dalam pembicaraan ini


Oo oo....


Sepertinya seo jin lupa dengan hal yang dibenci oleh istrinya sendiri


Haruskah aku turun tangan untuk membantu seo jin?


"Eomma* (ibu) yang dimaksud seo jin bekerja lembur adalah karena ia harus mengurusku yang sedang tidak enak badan. Ibu jangan memarahi seo jin" ucapku


"Omo omo* (astaga) kau sedang sakit nak? Kenapa kau tidak mengatakan hal itu ke ibu"


"Gwaenchana eomma* (ibu) berkat seo jin aku merasa lebih baik" ucapku pada ibu deok mi


"Haruskah kita masuk ke dalam deok mi untuk menghangatkan tubuhmu?" Tanya ibu deok mi ramah


"Kenapa kau tidak istirahat di rumah saja deok mi, kau bisa menghubungi ibu atau ayahmu dan mengatakan tidak jadi datang ke sini" ucap song ji hye


"Tidak apa ibu, bagaimana mungkin aku diam saja di rumah jika ayah bilang bahwa ibu merindukanku" ucapku


"Semalam aku sempat terbangun karena seo jin menerima panggilan telepon dari ayah dan mengatakan bahwa ibu ingin sekali bertemu denganku karena rindu, bukankah begitu ayah?" Ucapku pada dong il sengaja mengatakannya di depan ibu deok mi


Ibu deok mi melirik ke arah suaminya untuk melihat ekspresi wajah suaminya sendiri yang ketahuan telah berbohong oleh putrinya


Ayah deok mi hanya terbatuk kemudian berdehem untuk menghilangkan perasaan gugupnya


Tak lama suara handphoneku berbunyi pertanda ada seseorang yang ingin berbicara denganku


Aku segera mematikan panggilan telepon itu tanpa melihat kontak nama yang meneleponku dari layar kaca handphone


Sesaat aku mematikan panggilan telepon dari seseorang, suara handphoneku berdering kembali dan membuat semua orang menatap menuju ke arahku


"Angkatlah teleponmu sayang, sepertinya orang itu ingin sekali berbicara denganmu" ucap ibu deok mi


Aku mengintip handphoneku dari dalam tas dan melihat nama 'selingkuhanku 😈' menelepon

__ADS_1


Haaahhh....


Yang benar saja, ada apa lagi hajung meneleponku di saat diriku sedang ingin mencari tahu alasan dong il menepon seo jin semalam


Aku segera mengambil handphoneku dari dalam tas bermaksud untuk menjauh dari mereka dan mengangkat panggilan telepon dari hajung


Setelah aku yakin telah menjauh dari orang tua deok mi dan juga seo jin, aku mengangkat telepon dengan cara berbisik


"Yya* (hei) ada apa kau meneleponku?" Tanyaku


"Datanglah ke apartementku ada sesuatu yang ingin aku konfirmasi, waktumu 30 menit" ucap hajung memerintahku


"Aku tidak bisa sekarang, aku sedang berada di rumah orang tua deok mi" ucapku berbisik


"Baiklah kalo begitu aku akan memberimu waktu 1,5 jam untuk sampai ke apartementku, waktu itu sangat cukup, untuk perjalananmu agar sampai ke tempatku" ucap hajung seenaknya


"Yyya!!* (hei!!)" Ucapku sambil agak teriak dan seketika aku tersadar dengan suaraku yang membuat seo jin dan orang tua deok mi menengok ke arahku


"Neo michiseo?* (kau gila?)" Ucapku sambil membelakangi orang tua deok mi dak seo jin


"Aku tidak bisa ke apartmentmu hari ini, lagi pula apa yang ingin kau konfirmasi?" Tanyaku pada hajung


"Jika kau tidak pergi ke apartementku sekarang, aku sendiri yang akan datang menjemputmu ke tempat dirimu berada" ucap hajung mengancam


Arrgghhh....


Sung hajung! Dia seperti pangeran dari kerajaan antah berantah yang harus dipenuhi segala keinginannya


"Aku akan terus memantau lokasimu melalui aplikasi yang pernah ku download di handphonemu tempo hari"


"Jika dalam waktu 15 menit kau tidak bergerak, tanpa menunggu 1,5 jam, aku sendiri yang akan bergerak dan pergi ke rumah orang tua deok mi" ucap hajung tanpa mendengar ucapanku lagi


"Tapi..." ucapku dan tanpa basa-basi hajung mematikan panggilan teleponnya pertanda ia menolak untuk di ajak negosiasi denganku


'Tut tut tut tut'


Napeun sekki* (laki-laki bre**sek)


Aku mencaci maki hajung di dalam hatiku dan mencoba menahan amarah


Tenanglah hye jin, jernihkan pikiranmu dan berpikirlah untuk mencari alasan agar bisa pergi dari sini tanpa seo jin


Aishh...


Tapi alasan apa yang harus ku katakan pada seo jin


Haruskah aku mengabaikan hajung?


Aku yakin ia hanya menggertak


Tidak mungkinkan ia berani datang ke sini tiba-tiba


Ok


Sekarang aku akan menghampiri mereka dan makan siang dalam keadaan tenang


Aku tersenyum pada ibu deok mi


Dan syukurnya mereka tidak menanyakan padaku siapa yang telah menelepon diriku


Tak lama setelah aku duduk, sebuah notif pesan masuk berbunyi dan aku segera membacanya


'Apa yang ku katakan tadi bukanlah ucapan yang sia-sia kim hye jin. Aku sungguh-sungguh akan melakukannya jika kau tidak datang ke apartementku' tulis hajung dalam pesan


'Tring'


'Tring'


'Tring'


Suara notif pesan masuk dari handphoneku datang bertubi-tubi


Tanpa melihatnya aku tahu bahwa itu pesan dari hajung


"Deok mi sayang, apa kau masih memiliki urusan lain yang tidak bisa kau tinggalkan?" Tanya ibu deok mi


"Ku lihat dari wajahmu, kau terlihat sangat gelisah" ucap ibu deok mi lagi


"Mianhae eomma* (maaf bu) sebenarnya aku masih memiliki janji lain dengan temanku hari ini" ucapku berbohong lagi


"Apakah urusan temanmu itu sangat spesial dan lebih penting dari acara makan siang bersama keluarga?" Tanya ayah deok mi padaku


"Yeobo* (sayang)" ucap ibu deok mi sambil memukul bahu suaminya


"Araseo* (aku mengerti) deok mi-aa, sepertinya kau memiliki urusan yang sangat penting hingga kau terlihat cemas"


"Pergilah jika itu sangat penting" ucap ibu deok mi dengan ramah


Oh ya ampun


Ibu deok mi memang sangat perhatian, terkadang aku lupa jika wanita yang duduk di hadapanku ini bukanlah ibuku


Karena sifat lembutnya dan penuh perhatian, aku merasa sosok ibu selalu berada di sampingku


"Apakah terjadi sesuatu pada temanmu, sayang?" Tanya seo jin padaku


"Nanti akan aku ceritakan di rumah, sayang" ucapku sambil tersenyum pada seo jin


"Baiklah aku akan mengantarmu" ucap seo jin dan hampir beranjak dari posisi duduknya


"Ahh...tidak-tidak" ucapku menghentikan seo jin


"Kau di sini saja menemani ibu dan ayah menggantikanku, yeobo* (sayang)" ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku


Aku sengaja mendekat ke telinga seo jin dan berbisik padanya


"Terjadi sesuatu pada emma, tunggu aku di rumah, nanti aku ceritakan, jangan khawatirkan aku" bisikku pada seo jin lalu mencium pipinya agar ibu deok mi tidak curiga padaku


Seo jin hanya diam terpaku ketika aku mencium pipinya


Setelah itu aku meninggalkan seo jin di rumah kediaman dong il dan meminta tolong pada charlie yang merupakan supir pribadi dong il untuk mengantarku


Aku sengaja meminta charlie untuk mengantarku ke cafe mewah pierrot gourmet dan berencana untuk berpura-pura masuk ke dalam, setelah charlie pergi, aku akan keluar dari cafe tersebut dan pergi dengan taksi


***


Aku masih memiliki waktu 5 menit untuk sampai ke apartement hajung.


Hanya melewati lampu merah ini, aku akan sampai ke apartementnya dan berlari melewati basemant agar terhindar dari sosok pria yang sedang mengintai hajung


Saat aku membuka dompet untuk membayar ongkos taksi, aku melihat lembaran dollar yang aku ambil dari dompet hajung semalam dan menatapnya


Yah...


Setidaknya aku memiliki alasan sendiri untuk mengembalikkan uang yang bukan milikku


Setelah membayar ongkos taksi, aku berlari ke arah basemant dan naik tangga agar menghindari lantai lobby


Haah...


Ini sangat merepotkan, aku tidak tahu apakah pria itu masih mengintai hajung atau tidak


Jika karena bukan pria itu, aku bisa sampai di apartement  hajung tepat waktu


Aku sedikit bernapas terengah-engah ketika menaiki tangga sebanyak 3 lantai karena pintu untuk tangga darurat terkunci, sehingga aku harus mencari lantai yang membuka pintu untuk tangga darurat


Haah sial!!....


Kenapa mereka mennguci pintu untuk tangga darurat dari lantai 5 sih?!


Kenapa mereka menguncinya di saat seperti ini


Aku sudah telat 10 menit untuk sampai ke kamar apartement hajung yang berada di lantai 15 ditambah lagi harus menunggu lift untuk berhenti di lantai 5 dan menuju lantai atas


Aku telah sampai di lorong lantai kamar hajung dan mulai bernapas dengan cepat, sesekali aku menarik napas karena aku merasa pasokan oksigen di sekelilingku sedikit


Entah karena aku yang kelelahan sehabis naik tangga atau karena gugup untuk bertemu hajung


Akhirnya aku sampai di depan pintu kamar hajung, belum sempat aku memencet bel, aku terkejut dengan suara seseorang yang sedang membukakan pintu dan menatap wajahku dengan tatapan tajam


Hajung membuka pintu kamarnya dan membuatku terkejut, seolah ia menunggu kehadiranku tepat di pintu masuk


"Kau telat 10 menit dari basemant hanya untuk mencapai ke kamar  apartemenku" ucap hajung datar dan ketus


"Yya* (hei) siapa suruh pintu untuk tangga darurat terkunci sampai lantai 5?" Tanyaku


"Aku harus berlari melewati tangga hanya untuk tidak berpapasan dengan pria yang sedang mengawasimu di lobi" ucapku membela diri


"ssssttt...kecilkan suaramu hye jin, Jangan membahas hal itu di luar" ucap hajung memperingatkanku


"Wae-yo?* (kenapa?) Apakah kau takut ada seseorang yang mendengarnya? Setidaknya kau harus tahu aku berusaha dengan kemampuan yang ku punya untuk sampai ke apartementmu!" Ucapku yang sedikit teriak sambil bernapas terengah-engah pada hajung


Hajung dengan lancang menarik lenganku ke dalam kamar apartmentnya dan menyeretku lalu mendaratkannya ke dinding tanpa memberiku kesempatan untuk mengganti sepatuku yang dari luar dengan sandal rumah


Wajahku berada di antara kedua tangan hajung yang sedang menapakkannya di dinding, hajung menatapku dengan dekat dan membatasi gerakanku dengan tubuhnya


Aku tidak tahu apa yang ingin ia konfirmasi dengan jarak sedekat ini


Yang aku tahu, aku merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini


_______________________________

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2