
Saat di depan kamar hotel, aku menempelkan kartu hotel untuk membuka kamar dengan ragu-ragu
Namun hye jin justru merebut kartu masuk kamar hotel dari tanganku dan menempelkannya di sensor pintu agar bisa terbuka
Hye jin menarik tanganku untuk masuk ke dalam kamar
Dan benar saja sesuai dugaanku, hye jin mendorongku ke dinding dan mencium bibirku tanpa sempat memberikanku kesempatan untuk membuka sepatu
"Mmm...hye jin tu...mm" ucapku berusaha bicara dengannya
Aku berusaha menarik tangan hye jin agar ia berhenti menjamah gesperku dan berusaha melepas celanaku
Aku menarik tangannya dan membalikkan keadaan mendaratkannya ke dinding dengan cara melipat kedua lengannya dari belakang
"Awww...." keluh hye jin
"Bagaimana aku bisa menyentuhmu jika kau melipat kedua tanganku?" Tanya hye jin
"Bisakah kau untuk tidak seliar ini, hye jin?" Ucapku
"Aku tahu kau menyukainya sung hajung, berhentilah untuk bepikiran sama seperti gadis idiot ini" ucap hye jin
"Biarkan instingmu bermain, kau menginginkanku kan?"
"Kau menahannya selama ini kan?"
"Lakukanlah, lagi pula gadis bodoh ini tidak akan sadar jika aku dan kau telah menghabiskan malam menggairahkan bersama denganmu selama kau bisa menutup mulutmu"
"Jika kau menginginkannya lagi, kau bisa memberikanku alkohol secara diam-diam tanpa sepengetahuan gadis bodoh ini"
"Dengan begitu aku akan muncul dan bisa melakukannya lagi bersamamu" ucap hye jin yang sungguh gila
"Mwo?!*(apa?!)" Seruku
"Apa kau baru saja menyuruhku untuk selingkuh dengan kepribadianmu yang lain?" Tanyaku
"Kau dan hye jin adalah orang yang sama...." ucapku
"Jangan samakan aku dengan gadis bodoh itu!" Seru hye jin teriak dan membuatku terkejut dengan suaranya
"Dia hanyalah gadis munafik yang selalu menjaga imagenya agar tetap baik di hadapan orang lain"
"Tapi ketahuilah, ia tidak beda jauh dengan wanita murahan di luar sana yang gemar bermalam dengan pria" ucap hye jin yang membuatku tercengang
"Kim hye jin ku rasa kau harus pergi ke psikiater untuk bisa sembuh" ucapku yang sempat lengah dan melonggarkan cengkaraman lengan hye jin
Nyaris saja ia lepas dari genggamanku, aku membuat kepala hye jin tetap menunduk dan menahan kedua lengannya dengan tanganku
Hye jin mulai meronta memintaku untuk melepas cengkaraman tangannya
"Baiklah..aku menyerah" ucap hye jin
"Aku tidak akan menyerangmu" ucap hye jin lagi
Namun saat aku melepaskan cengkraman tanganku, hye jin mulai berbalik badan dan menyerbu bibirku lagi
Aku kembali berusaha menahan hye jin dengan cara menahan bahunya namun saat aku mengguncang-guncang bahunya, hye jin mulai menutup mulutnya dengan telapak tangannya seolah ia akan muntah
"Ho...mmm"
"Hye jin segera ke kamar mandi" ucapku yang melihat ada hal aneh menurutku
"Haah..sial lemah sekali tubuh gadis bodoh ini" gerutu hye jin
Namun ia menatap nakal ke arahku lagi dan siap ingin menyerangku lagi
"Hye jin sudah cukup..." ucapku
Saat wajah hye jin berdekatan dengan wajahku, tiba-tiba hye jin menunduk dan muntah di dadaku
HYE JIN ANDWEEE!!!*(jangan)" teriakku pada hye jin saat ia muntah tepat di dadaku dan mengenai kemejaku
Aku hanya menutup kedua mataku sambil mendengar suara hye jin sedang muntah
"Haah...haah..." ucap hye jin sambil mendorongku dan melihat kekacauan yang telah ia buat
"Hiks..hikss huwaaaa!!!" Teriak hye jin menangis tiba-tiba
"Kenapa semua hal yang ku inginkan tidak pernah berhasil!!" Seru hye jin dan membuatku membuka kedua mataku lagi
Aku seketika melihat muntahan hye jin yang mengotori kemejaku dan melepas kemeja yang kotor itu dan melemparnya ke atas wastafel
"Hoo ekhh..."
Dengan cepat aku merangkul hye jin dan membawanya ke kamar mandi dan membantu menepuk perlahan punggungnya saat ia muntah di kloset
Sesekali hye jin menangis karena kesal dan masih merasa mual karena mengonsumsi alkohol yang berlebih untuk tubuhnya
Aku membantu hye jin untuk mengusap sisa muntahannya yang menempel di dagunya dan mengusap air matanya dengan punggung tanganku
"Apa kau masih merasa mual?" Tanyaku
Hye jin menggelengkan kepalanya sambil menangis
"Huwaa....aku seperti hantu yang tidak bisa menikmati tubuh sempurna ini" ucap hye jin yang masih belum sadarkan diri dari pengaruh alkohol saat melihat diriku yang telah bertelanjang dada karena kemejaku yang sudah kotor
"Sudah ku katakan padamu untuk berhenti bersikap aneh-aneh"
"Beginilah jika kau memaksakan kehendak" ucapku
"Ayo berdiri dan hangatkan tubuhmu" ucapku sambil membopong hye jin yang sudah selesai mengeluarkan isi perutnya
Aku membuat teh hangat dari teko listrik untuk hye jin
"Aku kedinginan, bisakah aku membuka pakaianku?" Tanya hye jin yang mulai beralasan lagi
"Jika kau sudah selesai minum teh aku akan menghangatkanmu" ucapku
"Dan kita akan melalui malam bergairah bersamamu?" Tanya hye jin yang masih membuatku sakit kepala
"Tentu saja kita bisa melakukannya tapi dengan catatan kau istirahat sebentar memejamkan matamu" ucapku merayu
"Bagaimana jika aku tidak bangun hingga esok pagi?" Tanya hye jin
"Tidak akan" ucapku singkat
"Aku akan membangunkanmu dengan cara membuatmu bergairah" ucapku asal agar hye jin senang
Hye jin tersenyum dan menyeruput habis tehnya
Ia seperti anak kecil yang menurut apa yang dikatakan oleh orang tuanya
Hye jin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
Aku menarik selimut hye jin namun ia terus menarikku untuk ikut naik ke atas tempat tidur
Agar hye jin bisa tenang, aku memeluk hye jin dari belakang dan meletakkan lengan kiriku untuk menopang kepala hye jin
"Tutup matamu dan jangan bicara apapun" perintahku
Tidak ada tanggapan dari hye jin selain menarik lengan kananku untuk merangkul tubuhnya dan ia sesekali mencium jemariku
Hye jin berada di dekapanku, dan masing-masing memejamkan matanya
Awalnya aku berencana untuk tidur sebentar hingga hye jin pulas tertidur, namun aku tidak akan menyangka pengaruh alkohol membuat tidurku terlelap hingga esok pagi
Aku dibangunkan oleh suara teriakan wanita dan suara seseorang terjatuh dari tempat tidur
Aku membuka perlahan kedua mataku dan melihat ekspresi wajah hye jin terkejut melihatku
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya gadis itu yang sepertinya sudah mulai mendapatkan akal sehatnya
"Ke-kenapa aku bisa tidur di pelukanmu dan kenapa kau tidak memakai baju?"
__ADS_1
"Kemana bajumu?!" Seru hye jin saat ia sudah sadar
Haahh...
Jika ia tahu bahwa semalam kau adalah pelaku sebenarnya dari penyerangan terhadap tubuhku, apakah kau akan percaya?
Setidaknya aku tahu sisi lain yang tidak baik dari hye jin
Minuman alkohol adalah musuh terbesar baginya
Aku meregangkan tubuhku saat hye jin selesai bicara dengan ekspresi terkejut dan rasa penasarannya
"Hoahhmmm...." ucapku
"Sung hajung apa yang sebenarnya terjadi?!" Seru hye jin sambil berteriak
"Tentu saja kita tidur bersama" ucapku santai
"MWO?!!*(apa?!)" Seru hye jin dan nyaris bola matanya melompat keluar karena terkejut
KIM HYE JIN POV
"Apakah yang kau maksud tidur bersama adalah...."
"hanya memejamkan mata dan tidak melakukan hal lain kan?" Tanyaku memastikan
Hajung menatapku malas dan terdiam untuk beberapa saat
"Kau bebas membayangkan apapun yang terjadi semalam" ucap hajung dan beranjak dari tempat tidur dan merapikan celana panjangnya dan berjalan ke lemari es untuk meminum air mineral kemasan botol
Aku beranjak dari posisi dudukku dan mencoba menngingat kembali kejadian semalam
Saat aku bertengkar dengan hajung, aku yang kesal memilih untuk masuk kembali ke dalam club dan menodong bartender untuk memberikan minuman anggur yang sangat mahal yang ada di club itu dengan menjual nama hajung yang akan membayar tagihannya
Setelah itu aku sengaja menegak botol anggur yang lumayan besar itu seorang diri
Meskipun rasanya sangat pahit, namun aku mencoba menelannya
Aku memaksakan diri meminum semua anggur itu seorang diri setelah itu....
Setelah itu....
Ahh sial
Aku tidak mengingat apapun lagi
Apakah tubuh mabukku yang telah mengambil alih semua kesadaranku?
Lalu apa yang telah ku lakukan dengan hajung hingga aku berakhir di pelukannya?
Dan terlebih lagi ia bertelanjang dada dan hanya memakai celananya saja
Apakah kami sudah?!....
Aku memukul beberapa kali kepalaku mencoba keras untuk mengingat kembali
"Cih...kau bisa melakukan hal itu seharian" celetuk hajung sambil memegang handphonenya dan hendak mengecek pesan yang masuk
Aku menghampiri hajung dan mencoba untuk memastikannya lagi
"Aku mengenal kau" ucapku
"Aku percaya tidak ada apapun yang terjadi antara kita berdua tadi malam"
"Kau tidak sebrengs**k itu" ucapku yakin
Hajung berhenti menatap handphonenya dan beralih menatapku
Hajung perlahan mendekatiku dan reflek aku justru melangkah mundur ke belakang hingga ke dinding
Saat hajung mencoba menyentuh pipiku dengan tangannya, aku reflek menggeser kepalaku dan memejamkan mata pertanda menolak sentuhan hajung
"Hemm...apakah kau sekarang merasa jijik saat aku menyentuhmu?" Tanya hajung
"A-apa kau bertemu dengan sisi burukku saat aku mabuk kemarin malam?" Tanyaku gugup
"Wae?*(kenapa?)" Tanya hajung
"Apa kau enggan untuk menunjukkan sisimu yang lain terhadapku?" Tanya hajung
"A-anio*(tidak) hanya saja...."
"Hanya saja seharusnya kau tidak perlu melihat sisiku yang.."
"Bukankah kau sendiri yang ingin menunjukkan sisi burukmu terhadapku?" Potong hajung
"Jika kau tidak ingin menunjukkan sisi burukmu yang ingin kau pendam, lalu kenapa kau memilih untuk menegak minuman alkohol hingga kau mabuk?" Tanya hajung lagi
"Itu karena kau yang memulai duluan!" Seruku
"Bagaimana mungkin aku tidak berada dibawah tekanan saat kau mencium wanita asing itu sambil melirik ke arahku!"
"Apa kau sudah gila?!" Seruku
"Kenapa kau tega melakukan hal itu di hadapanku?!" Seruku yang mulai membahasnya lagi
"Karena aku sedang berada difase yang sedang bingung antara cinta dan penasaran saja" ucap hajung
"Mwo?!*(apa?!)" Ucapku
"Apa kau masih ingat dengan ucapanku saat di rumah sakit yang mengatakan bahwa aku menginginkan jiwa dan ragamu?" Tanya hajung padaku
Aku terpaku pada ucapan hajung
"Aku sudah mendapatkan jiwamu, kau mulai membuka hatimu untukku, itu artinya aku telah mendapatkan hatimu"
"Dan kemarin malam aku telah mendapatkan ragamu, kita menghabiskan malam yang penuh gairah" ucap hajung
"Kemarin malam tidak terjadi apa-apa hajung" ucapku yakin
"Cih...jika kau dalam keadaan sekarang, aku percaya tidak akan menyentuhmu tapi..."
"Apa kau yakin aku bisa menahan semua hasratku saat aku bertemu dengan dirimu yang dalam kondisi mabuk?" Tanya hajung yang membuatku ragu bahwa semalam tidak terjadi apa-apa
"Kau merayuku semalam, memintaku untuk memelukmu dan menidurimu layaknya seorang pela**r"
"Terlepas kau sedang mabuk atau tidak, aku sudah mendapatkan izin darimu untuk menyentuh tubuhmu"
"Dengan kata lain aku sudah mendapatkan apa yang ku dapat darimu"
"Aku sudah tidak penasaran lagi terhadapmu kim hye jin" ucap hajung yang membuat diriku termenung
"Dengan kata lain, tidak ada alasan lagi yang membuatku berada di sisimu"
"Aku tahu kau memiliki ekspetasi yang tinggi terhadapku"
"Kau menginginkan sebuah ikatan untuk hubungan kita"
"Tapi setelah ku pikir kembali, sepertinya aku tidak tertarik memiliki hubungan ikatan yang mengikat di antara kita"
"Aku tidak ingin menikahimu ataupun hidup bersamamu hingga menua bersama"
"Aku ingin hidup bebas seperti sekarang ini"
"Mencari wanita yang ku suka, bersenang-senang dengannya setelah aku bosan..."
"Aku akan pergi meninggalkannya" ucap hajung panjang lebar
"Aku tahu ini terdengar tidak nyata olehmu tapi..."
"Inilah kenyataannya hye jin, aku tidak ingin menjalin hubungan lagi denganmu"
"Dugaanmu salah, aku tidak sedang berada di bawah tekanan siapapun"
__ADS_1
"Apa kau lupa aku memiliki segala yang ku punya"
"Kekayaan, jabatan dan kekuasaan"
"Aku meninggalkanmu karena aku sudah bosan denganmu, itu saja"
Aku hanya berdiri diam mendengarkan ucapan hajung
"Aku tahu kau sangat terpukul mendengar ucapanku di pagi hari ini"
"Aku harap kau bisa membenciku dengan begitu kau bisa melupakanku dan menghapus memori saat kita bersama-sama"
"Tapi sayangnya kau tidak bisa membenciku, jadi ku rasa itu akan sangat sulit untuk bisa melupakanku"
"Tidak apa hye jin, jika kau butuh seorang psikiater, katakan saja padaku"
"Aku akan membayarkannya untukmu"
"Oh iya satu hal lagi..."
"Ini lembaran uang dollar untukmu, aku tidak bisa mengantarmu kembali ke rumah"
"Jadi pesan taksi dan sisanya bisa kau habiskan untuk berbelanja"
"Anggap saja ini adalah uang untuk menghibur hatimu yang sedang luka"
"Jika kurang, kau bisa menghubungiku melalui teleponmu tapi dengan catatan..."
"Kau bersedia untuk tidur denganku lagi dan aku mendapatkan imbalannya yaitu tubuhmu" ucap hajung sambil menepuk perlahan bahuku dan berjalan keluar kamar hotel
Hajung hanya memakai blazer untuk menutupi bagian atasnya yang terbuka
Aku tidak tahu dimana kemejanya berada
Aku yang tersadar bahwa hajung hendak meninggalkanku, aku berlari kecil ke arah pintu kamar dan menarik lengan hajung
Hajung menoleh ke arahku saat aku mencengkram tangannya
"Sebelum kau pergi, ada satu hal yang ingin ku mintai kejelasan darimu" ucapku
"Buktikan padaku bahwa ucapan yang tidak mengenakan tadi adalah jujur, bukanlah kebohongan yang mengada-ada darimu" ucapku menantang hajung
"Haah...hye jin kau benar-benar" ucap hajung menghela nafas
"Apa kau sudah tidak jijik lagi terhadapku atau kau masih dalam pengaruh alkohol?" Tanya hajung
Aku terdiam tidak menggubris ucapan hajung dan hanya menatapnya
"Aku..."
"Tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu dan sudah bosan berada di sampingmu" ucap hajung sambil menatap kedua mataku dan terlihat meyakinkan
"Apa kau sudah puas?" Tanya hajung padaku
Aku yang mendengarnya berusaha tersenyum kepada hajung dan mengucapkan terima kasih atas waktunya yang telah dihabiskan untuk bersama denganku
"Nne*(ya) aku sudah puas dengan pernyataanmu yang mengatakan hal itu sambil menatap kedua mataku"
"Setidaknya aku bisa memastikan dirimu berbohong atau tidak"
"Apa kau sudah mendapat kesimpulannya sekarang?" Tanya hajung
"Terlepas kau mencintaiku atau tidak, setidaknya aku merasa semua perlakuanmu terhadapku selama ini adalah tulus"
"Aku tidak peduli apa niatmu terhadapku, tapi kau adalah seseorang yang ada saat aku membutuhkan orang lain untuk bercerita dan selalu berada di sampingku"
"Kau mengajarkanku beberapa hal hajung"
"Terima kasih karena sudah sabar menghadapi sikapku yang keras kepala dan menjagaku selama ini"
"Aku minta maaf karena selalu merepotkan dirimu, aku harap kau menemukan kebahagian hingga akhir hayatmu" ucapku pada hajung
"Bisakah kau lepaskan genggaman tanganmu dari lenganku? Aku sudah muak mendengar ocehanmu pagi ini" ucap hajung yang terus berbicara kasar padaku
Aku melepas lengan hajung dan membiarkan ia pergi dari kamar dan menghilang karena naik lift
Anehnya aku tidak merasakan sedih ataupun ingin menangis seperti kemarin malam dan lebih anehnya lagi aku tidak bisa membenci hajung yang sudah bicara kasar padaku sejak kemarin
Seolah hajung sengaja mengatakan hal itu dan tidak bersungguh-sungguh dari lubuk hatinya
Aku masih berpikir hajung akan kembali mampir ke apartementku seperti biasa dan makan malam bersama
Apakah aku masih denial bahwa hajung tidak mencintaiku lagi?
Aku kembali masuk ke dalam kamar hotel lalu pergi ke wastafel berniat untuk cuci muka
Aku menemukan kemeja hajung yang berwarna putih dalam keadaan kotor di atas wastafel
Aku baru menyadari bahwa kemeja hajung menghilang karena ku rasa aku muntah di pakaiannya kemarin malam akibat aku minum alkohol berlebihan
Itu sebabnya hajung bertelanjang dada dan tertidur lelap di sampingku
Aku semakin yakin pada hajung bahwa kemarin malam tidak terjadi apa-apa karena aku tidak menemukan sampah dari alat kontrasepsi yang biasa hajung pakai saat bercumbu dengan wanita
Ada berpikir kembali semula bahwa ada sesuatu yang ia coba sembunyikan dariku namun ia tidak ingin aku terlibat di dalamnya
Haah...
Aku penasaran tapi aku tidak bisa memaksa hajung bicara padaku, ia sangat teguh mengatakan padaku tidak terjadi apa-apa dan pasti aku hanya akan mendapat ucapan cacian maki dari hajung yang tidak serius ia katakan dari lubuk hatinya
Aku hanya bisa menunggu hajung menghubungiku lagi
Setelah itu aku bisa memuaskan rasa penasaranku dengan cara menginterogasinya
*****
Beberapa minggu berlalu namun aku tidak kunjung jua mendapati hajung menghubungiku
Yang ada justru panggilan telepon dari sung deok mi yang terus menerorku
Setiap aku memblokir nomor telepon dari deok mi, akan selalu bermunculan nomor terbaru yang tidak ku kenal
Aku bisa menebak, panggilan telepon ini pasti dari sung deok mi
Aku tahu ia ingin meminta tolong padaku, tapi aku tidak menggubrisnya dan memilih untuk mematikan panggilan telepon dan memblokir nomor deok mi
Hingga tiba hari dimana aku wisuda.
Beberapa petinggi kampus menghadiri acara wisuda angkatan yang ke- 88
Tentu saja park seo jin selaku ketua yayasan kampus yang baru menghadiri acara wisuda kali ini
Setelah seo jin memberikan beberapa pidato di atas podium, ketua rektor memanggil mahasiswa yang mendapatkan cumlaude
Menjadi mahasiswi cumlaude adalah keinginanku, namun ku rasa aku tidak bisa mewujudkannya meskipun nilai ipk ku tinggi karena aku sempat mengambil cuti kuliah dan terlebih lagi aku adalah mantan narapidana
".....Bonnie wright" ucap ketua rektor memanggil mahasiswa dengan predikat cumlaude
'Plok plok plok'
Suara tepuk tangan bergemuruh di seluruh aula yudisium
"Sebenarnya di tahun ini universitas kita memiliki mahasiswi dengan nilai yang nyaris sempurna yaitu 3,9 dan hanya dimiliki oleh 2 orang saja"
"Satu dari jurusan sastra dan satu lagi berasal dari jurusan ekonomi"
"Namun karena suatu alasan salah satu mahasiswi tidak bisa mendapatkan gelar predikat magna cumlaude seperti brownie wright"
"Oleh karena itu kebijakan universitas tetap memberikan gelar cumlaude kepada mahasiswi ini namun turun satu tingkat dikarenakan mahasiswi tersebut mengambil cuti kuliah dan sempat mengalami permasalahan yang menyeretnya hingga terjadi kesalahpahaman yang dilakukan oleh penyidik kepolisian chicago..."
"Ehem...baiklah kurasa, aku sudah terlalu banyak bicara hingga membuat mrs. Smith marah karena durasi" ucap ketua rektor berusaha mencairkan suasana sehingga membuat orang-orang yang berada di aula tertawa
"Silahkan maju ke depan podium kepada kim... hye.. jin" ucap rektor menyebut namaku
__ADS_1