Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan

Pilih Dia Atau Aku Yang Perawan
Episode 103


__ADS_3

Happy Reading ^^


Kim Hye Jin pov


Ku rasa dua minggu belakangan akhir ini membuat kehidupanku lelah,


Sejak aku makan malam bersama dengan kedua orang tua hajung, beberapa wanita asing menghampiriku dan menanyakan namaku, lalu setelah itu mereka menamparku atau menyiramku dengan air putih hingga kopi kepunyaanku yang belum diseruput


Setelah ku tanya kenapa alasan mereka berbuat seperti itu padaku, mereka mengatakan bahwa mereka adalah mantan pacar atau mantan teman tidur hajung yang pernah dijanjikan akan dijadikan pendamping hidupnya


Haahh....


Apakah seperti ini jika menjalin hubungan dengan mantan dari label seorang laki-laki playboy?


Saat aku mengadu pada hajung tentang kejadian yang tidak menyenangkan itu terjadi pertama kalinya untukku,


Hajung terkejut karena ternyata targetnya bukan hanya dirinya saja yang menjadi pelampiasan kemarahan para barisan mantannya, melainkan aku juga ikut terseret karena perbuatan masa lalu hajung


Hajung sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari para gadis yang pernah ia campakkan dan baginya hal itu pantas ia dapatkan mengingat sikap jahatnya pada wanita-wanita itu


Tapi...


Aku bukanlah hajung yang terbiasa mendapat amukan dari pada gadis yang di campakkan


Ini sangat tidak adil bagiku


Aku tidak melakukan kesalahan apapun.  tapi kenapa aku harus mendapatkan perlakuan seperti ini


Entah dari mana mereka tahu bahwa hubunganku dan hajung sudah seperti  menjalin hubungan layaknya wanita dewasa dan pria dewasa pada umumnya


Seolah ada seseorang yang sengaja menyebar berita ini begitu cepat hingga sampai di telinga orang-orang yang mengenal hajung


Hajung pernah menawarkanku untuk menyewa seorang bodyguard agar senantiasa berada di sampingku, tapi aku tentu saja menolaknya  karena aku tidak ingin ada kehebohan atau gosip apapun lagi di detik-detik aku lulus kuliah


Hingga seorang wanita dengan perut buncitnya menghampiriku di halte bus sekitar area kampusku dan membuatku terkejut ketika ia menanyakan namaku


"Apakah kau adalah kim hye jin?" Tanya seorang wanita asia dengan rambut hitam legamnya dan terurai panjang


Aku menperhatikan wanita hamil yang ada di hadapanku dengan seksama.


Ya tuhan


Apa lagi sekarang?


"Yes, i am" jawabku


"Can I help you?" Tanyaku pada wanita yang ada di hadapanku


"Jika kau tidak sibuk, bisakah kita bicara sebentar?" Tanya wanita itu


Aku menganggukkan kepala, pertanda setuju untuk bicara dengannya


Sesampainya di cafe tempat langgananku, aku memesan langsung ke meja barista dan mempersilahkan wanita hamil itu untuk menungguku di meja dekat jendela yang menghadap ke jalan raya


Sambil menunggu pesanan selesai, dari jauh aku memandang wanita hamil itu duduk dengan gelisah, aku bisa melihatnya dengan cara ia terus-menerus menggenggam kedua tangannya dan sering menghela nafas


"Hei kim hye jin" sapa seorang barista cafe yang sudah mengenalku


Aku segera menengok ke arah pria dengan rambut blondenya dan postur tubuhnya yang kebanyakan adalah otot karena sering berolahraga di tempat gym


Ia adalah chris, salah satu barista di cafe tempat langgananku


"Apa kau akan mendapat serangan dari wanita hamil itu?"


"Sepertinya ia adalah salah satu korban dari pacar barumu yang mantan playboy itu" ucapnya asal


"Aissh....holy ****! Shut up!" Ucapku sewot pada chris


"Bahkan aku tidak tahu dia itu siapa" ucapku


"Tenang kim hye jin, hari ini aku dan hedric akan melindungimu dari serangan wanita-wanita menyeramkan yang akan menyerangmu sejak 2 minggu belakangan ini" ucapnya dengan yakin


"mereka akan takut melihat otot kekarku dan tidak akan berani maju selangkah untuk mendekatimu, selama mereka tidak tahu bahwa sebenarnya di dalam hatiku, aku memiliki sifat yang feminim" ucap chris menjelaskan padaku


Yep...


Chris tidak menyukai wanita, lebih tepatnya ia hanya menyukai sesama jenis dan tentunya berteman dengan laki-laki seperti chris lebih mudah dibandingkan berteman dengan geng wanita yang sangat gaul


"Thanks... but I think, i can handle it, chris" ucapku sambil memukul lengan kirinya yang sangat keras karena ototnya lalu mengambil kopi asian dolce latteku beserta teh hijau hangat untuk wanita hamil tersebut


Aku tersenyum saat menghampiri wanita itu ketika ia telah menyadari diriku yang datang dengan dua minuman


"Ini ambillah, ku harap bisa menghangatkan dirimu dan juga anak dalam kandunganmu" ucapku


"Jadi apa perlumu denganku?"


"Apakah ini berhubungan dengan hajung?" Tanyaku pada wanita itu yang langsung ke intinya


"Maaf membuatmu terkejut karena kehadiranku, aku adalah naomi..."


"Aku ke sini untuk meminta bantuan darimu untuk mempertemukanku dengan hajung"


"Aku ingin meminta pertanggung jawaban darinya"


"Ku dengar...kau menjalin hubungan dengannya"


"Sangat sulit untuk pergi menemuinya, aku sudah pergi ke kantornya namun hasilnya tetap nihil" ucap wanita yang bernama naomi itu padaku


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil meminum kopi hangatku,  pertanda mengerti apa yang ia coba katakan


"Lalu...dari mana kau tahu, bahwa kau harus menemuiku hanya untuk bertemu dengan hajung? Aku bukanlah sekertarisnya yang tahu kemanapun ia pergi" Tanyaku santai pada naomi


"A-aku mengetahuimu dari kerabatku yang mengatakan bahwa kau menjalin hubungan dengan hajung"


"Setelah mendengar hajung dekat dengan seorang wanita dan ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, aku segera ingin bertemu dengan hajung dan memberitahumu bahwa hajung harus mempertanggung jawabkan perbuatannya" ucap naomi yang terlihat aneh di mataku


"Jadi maksudmu...."


"Anak yang kau kandung adalah hasil perbuatan hajung?" Tanyaku untuk memastikan


Wanita itu terdiam beberapa saat lalu pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan jawabanku


"That's weird*(aneh) kenapa para wanita yang mengaku sebagai korban dari perbuatan hajung yang breng*ek di masa lalu muncul tiba-tiba setelah aku makan malam dengan orang tuanya"


"Seolah mereka datang berbondong-bondong silih berganti hanya untuk membuatku menjauh dari hajung" ucapku menggerutu dengan sengaja agar bisa di dengar oleh wanita hamil yang ada di hadapanku


"Nona hye jin...A-apa maksud ucapanmu tadi?" Tanya naomi yang terbata-bata saat mendengar diriku menggerutu


"Tidak ada" ucapku tersenyum


"Sayangnya hajung sedang rapat di luar kota untuk membahas proyek barunya selama 3 hari ke depan"


"Mungkin lusa, aku bisa mempertemukan dirimu dengan hajung" ucapku memutuskan


"T-tidak nona hye jin, aku hanya ingin memintamu untuk menyampaikan pesanku pada hajung bahwa ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya"


"Aku tidak ingin menemuinya, karena takut tidak bisa mengatur emosiku saat bertemu dengan dia" ucap naomi yang tiba-tiba berubah pikiran setelah mendengar aku bergumam sendiri


"Nona naomi, kau sangat aneh. Bukankah tadi kau mengatakan padaku bahwa dirimu berusaha untuk menemui hajung namun sangat sulit karena kesibukan hajung"


Naomi terdiam dan berkeringat dingin ketika aku menanyakan hal itu


"Apa kau tiba-tiba lupa dengan dialogmu saat bertemu denganku?" Ucapku menyindir


"A-apa yang kau bilang nona hye jin?" Tanyanya yang terlihat sangat kikuk


"Tidak...aku hanya nengatakan apa kau tiba-tiba lupa bahwa kau memiliki janji dengan orang lain sehingga kau tidak bisa mengatakan secara langsung pada hajung lusa nanti" ucapku berdalih


"Te-tentu saja tidak, aku akan menemuinya lusa dan akan meminta pertanggung jawaban pada dirinya" ucap naomi yang pada akhirnya merubah pikirannya lagi dan memutuskan untuk menemui hajung


"Baiklah kalau begitu jika kau berkenan, aku akan mengantarmu sampai rumah" ucapku ramah


"Kenapa kau harus mengantarku?" Tanya naomi heran


"Kau tidak lihat perutmu sudah membesar seperti ini dan pasti akan sangat tidak nyaman berpergian untuk mendapatkan hakmu" ucapku


"Tidak apa, lagi pula aku juga sekalian akan pulang ke rumah, jadi tidak ada salahnya jika taksi yang ku pesan sekalian mampir ke rumahmu" ucapku pada naomi


Ia hanya terdiam saat mendengar ucapanku


Dengan sigap, aku pergi ke luar cafe dan mencari taksi yang lewat


Setelah mendapatkan taksi, aku membantu naomi untuk masuk ke dalam mobil dengan hati-hati


"Dimana rumahmu?" Tanyaku pada wanita dengan rambut hitam indahnya


"Aku tinggal di apartement yang berada di jalan jacqueline du pre" jawab naomi


Sejenak aku berpikir, bukankah itu adalah kawasan kumuh yang terkenal dengan perbuatan angka kriminalitasnya yang tinggi dan kebanyakan adalah orang imigran gelap


"Hem...baiklah"


"Pak tolong antarkan kami menuju jalan jacqueline" ucapku santai


Supir taksi itu hanya mengangguk dan pergi menuju jalan yang dimaksud naomi


Sepanjang perjalanan, naomi tampak diam dan hanya menatap luar kaca mobil


"Dari mana kau mengenal hajung?" Tanyaku pada naomi


Sekilas aku melihat naomi menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaanku


"Aku bertemu dengan hajung saat bekerja sambilan di tempat karoke"


"Saat itu mereka mengadakan pesta kantor dan hajung meminum minuman alkohol hingga mabuk, lalu..."


"Lalu??" Tanyaku menunggu lanjutan ceritanya naomi


"Lalu aku dan hajung melakukan one night stand di sebuah hotel sekitar area itu"


"Aku tidak menyangka bahwa hubungan one night stand ku dengan hajung berakhir dengan memiliki sebuah anak yang ada di dalam kandunganku"


"Aku harus meminta pertanggung jawaban darinya, biar bagaimanapun hajung sudah membuat masa depanku berantakan"


"Dan aku tidak bisa memilih orang sembarangan untuk hidup menggantikan tanggung jawab hajung"


"Aku harus memintanya untuk hidup bersama dengan diriku selamanya"


"Tidak akan ada orang tua dari pihak pria yang akan mengizinkanku menikah dengan putranya jika tahu bahwa aku pernh melakukan hubungan tubuh dengan pria lain" ucap naomi yang terdengar tidak asing di telingaku


Ini seperti sebuah template dari seseorang yang tampak familiar bagiku terlebih kejadian yang diceritakan oleh naomi hampir mirip denganku


Hanya bedanya, ia mengandung anak dari pria yang melakukan hubungan one night standnya yaitu hajung


Tak terasa saat naomi bicara, supir taksi menanyakan kami ingin turun di sudut jalan mana, mengingat kami sudah tiba di jalan jacquelin


"Itu adalah apartementku, aku akan turun di sini" ucap naomi


"Kau tinggal di unit nomer berapa?" Tanyaku pada naomi


"Ku rasa kau tidak perlu tahu hingga sedetail itu nona kim, kita bukanlah kerabat yang harus tahu tempat tinggal satu sama lain" ucap naomi padaku


"Baiklah...maafkan aku karena sudah melebihi batas privasimu" ucapku


"Sampai jumpa lusa nanti naomi, di cafe yang tadi tepat pukul 4 sore" ucapku sambil menutup kaca mobil taksi


Aku melihat naomi berjalan perlahan hingga ia memasuki gedung apartement yang terlihat sudah tua dan sepertinya perawatan berkala bangunan apartement itu tidak dilakukan secara rutin


Aku memutuskan untuk pergi dari daerah itu dan ingin segera beristirahat di apartement yang ku tempati


******


Aku berjalan cepat melewati taman kampus untuk menuju aula karena ada kelas pagi


Namun seketika terjadi sesuatu hingga membuat mahasiswa dan mahasiswi lainnya berkerumun untuk melihat kejadian tersebut


Sekilas aku mendengar suara teriakan dari salah satu mahasiswi yang terkejut karena mengalami kejadian tepat di sampingnya


"Cepat bawa dia ke ruang kesehatan!" Ucap salah seorang mahasiswa yang memanggil teman-temannya untuk segera membantunya


"Tidak sebaiknya bawa dia ke IGD rumah sakit terdekat"


"Ia tadi mengeluh perutnya kram sebelum jatuh pingsan" ucap salah seorang mahasiswi yang teriak tadi


"Haa...bagaimana ini?!"


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada jenifer?"


" aku belum melihat dia beristirahat beberapa hari ini"


Aku mendengar beberapa orang sedang berdiskusi dan melihat jenifer jatuh pingsan di taman kampus


"Apakah ia memaksakan diri lagi?" Seru salah satu pria berkaca mata kepada gadis yang terlihat dekat dengan jenifer


"Sudah ku katakan padamu untuk mengingatkan ketua angkatan agar beristirahat"


"Kau tahu sendiri, ia seperti kuda liar jika pekerjaannya belum selesai" oceh pria dengan kaca matanya yang lumayan terlihat tebal itu


"Kenapa kau justru memarahiku, aku bukan bodyguardnya yang senantiasa mengawasi dirinya secara terus menerus..." ucap gadis berambut abu-abu itu sambil merapikan baju atasannya yang tampak kekecilan


Haah....


Kenapa mereka justru bertengkar dan tidak menelepon ambulance


Aku berinisiatif untuk menelpon ambulance agar jenifer bisa segera mendapatkan bantuan


"Bisakah kalian merebahkannya di bangku taman? Ambulance akan segera ke sini jadi jangan biarkan dia kedinginan" ucapku yang pada akhirnya ikut campur karena tidak tahan mereka justru adu mulut satu sama lain


Entah kenapa aku menjadi merasa bersalah pada jenifer yang tempo hari menolak permintaannya untuk membantu dirinya menyerahkan proposal permintaan dana acara kampus ke ketua yayasan yang baru


Bagaimana aku ingin membantunya jika ketua yayasan baru kampusku adalah park seo jin


Aku tidak mungkin bertemu denganya lagi karena terikat dengan ucapanku di pulau hangan saat ia dan supir oh  menjemputku untuk kembali ke sini sekali lagi


Saat beberapa orang hendak memindahkan jenifer, tiba-tiba ia tersadar dari pingsannya


Sambil memegang bagian ulu hatinya, jenifer meringis kesakitan dan berusaha untuk bangkit dari posisi tidurannya


"No..."


"Aku tidak boleh sakit..." ucap jenifer terputus


"Akkhh....sakit" ucap jenifer lirih sambil memegang perutnya


"Jenifer...bertahanlah, ambulance sedang dalam perjalanan ke sini" ucapku yang langsung menghampiri jenifer


"Kim...hye jin" panggil jenifer saat ia melihatku


"Apa? Ambulance?" Tanya jenifer balik


"Tidak...aku tidak perlu ambulance"


" aku...harus pergi ke kantor ketua yayasan hari ini"


"Mereka mengatakan padaku..."


"Akan mempertemukanku dengan ketua yayasan hari ini setelah ia selesai rapat" ucap jenifer terbata-bata


"Oh ya ampun jenifer, kau bisa meminta anggota organisasi yang lain untuk pergi ke sana" ucapku


"Hell no!" Ucap jenifer


"Aku harus menyerahkannya secara langsung pada ketua yayasan, aku tidak ingin melakukan kesalahan di depannya"


"Aku takut anggotaku tidak bisa menjelaskan kebutuhan dana secara terperinci"


"Hanya...aku yang bisa melakukannya" ucap jenifer keras kepala


"Tidak mungkin!" Seruku


"Aku yakin ia pasti akan menyetujui proposal pengajuan dana untuk kampus ini"


"Sekarang berhentilah memikirkan organisasi dan pikirkan kesehatan dirimu sendiri" ucapku


"Apa kau punya sakit maag?" Tanyaku


"Apa kau menyediakan obat maagmu di dalam tas?" Tanyaku memburu


Ku rasa ia terkena serangan sakit maag karena terus memegang area perut bagian atasnya


"Kim hye jin, apakah kau bersedia menggantikan diriku untuk menemui ketua yayasan yang baru?" Tanya jenifer yang mengacuhkan pertanyaanku


"Hanya kau...yang bisa ku percaya" lanjut jenifer


"Sorry, excuse me? What you say, jenifer?"seruku hingga orang-orang di sekitar taman yang berkerumun sedikit terkejut mendengar suaraku yang seperti berteriak


"No! I can't jenifer, sorry" ucapku sambil membuang muka


"How dare you to me, hye jin..." ucap jenifer sambil menangis


"Apakah kau akan mengabaikan permintaan orang sekarat di depan matamu?" Ucap jenifer sambil menangis


Sekarang aku tidak tahu apakah ia menangis karena merasa nyeri di perut bagian atasnya atau karena diriku yang menolak permintaannya


Namun...


Aku justru tidak tega melihat jenifer memohon padaku seperti ini


Ku rasa ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bertemu dengan seo jin tapi ia gagal melakukannya karena padatnya jadwal seorang CEO


"Baiklah..." ucapku yang mengalah pada akhirnya


"Aku hanya perlu menyerahkan proposal ini ke kantornya lalu meminta padanya untuk memberikan dana agar acara perpisahan mahasiswa kampus ini berjalan lancar kan?" Ucapku sambil menutup kedua mataku


"Yes...you right hye jin, but kau harus tahu apa isi dari proposal itu, setidaknya secara garis besarnya saja " ucap jenifer yang berhenti menangis


"Kau...masih ingat kan apa tujuanku membuat acara perpisahan kampus ini saat kita bicara di taman tempo ha....ri" ucap jenifer bersusah payah


"Kim hye jin, aku sangat percaya padamu bahwa kau bisa melakukannya...."


" karena aku tidak mungkin salah informasi mengenai dirimu dan juga ketua yayasan kampus baru kita" ucap jenifer padaku


"Beristirahatlah...ku harap kau segera sembuh dan bisa melanjutkan kegiatanmu yang sangat merepotkan ini" ucapku pada jenifer


"Thank you very much  hye jin, kau bisa mengambil proposal permintaan dana di dalam..."


"Ughh...tasku" ucap jenifer berusaha


"Aku selalu membawanya kemanapun aku berada.."


"Jadi...maafkan aku jika proposalnya sedikit tidak rapi" ucap jenifer menyesal


Aku menghembuskan nafas berusaha untuk menahan emosiku


"Jika...kau ingin soft copy dari proposal itu, kau bisa mengambilnya di..."


"Tidak perlu, aku akan membawakan ini sesuai permintaanmu" ucapku memotong kalimat jenifer


Tak lama, ambulance segera datang dan membawa tempat tidur portable lalu membawa jenifer ke dalam ambulance


"Ku mohon bantuanmu, hye jin" ucap gadis dengan rambut abu-abunya sambil menyentuh bahuku


Aku hanya menggaruk alisku menggunakan kuku jari telunjukku


Sesuai permintaan jenifer


Setelah selesai mengikuti kelas pagi, aku segera pergi ke kantor edelweis untuk menemui seo jin menggunakan taksi


Sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan bagaimana aku menyapa seo jin saat bertemu nanti setelah insiden yang terjadi di pulau hangan


Aku terus mengehela nafas dan berusaha menenangkan diriku dan telah menyiapkan skenario


"Nona...tujuanmu sudah sampai" ucap supir taksi menghentikan lamunanku


Aku terkejut ketika tahu diriku sudah sampai di kantor perusahaan edelweis


Gedung sebanyak 30 lantai ini mengingatkanku saat membawa koper yang berisi ratusan lembaran uang dollar untuk mengembalikkan semua uangnya ke seo jin


Tentunya beberapa kenangan hadir di kepalaku saat mengunjungi perusahaan ini bersama seo jin


Aku terus menarik nafas lalu menghembuskannya dengan segera sebelum masuk ke dalam gedung ini


Aku menemui resepsionist dan hendak mengatakan ingin menemui park seo jin sesuai janji menggantikan jenifer


Namun resepsionist itu justru terkejut melihatku dan membungkukkan tubuhnya 90⁰ pertanda memberi salam hormat padaku


"Nyonya sung deok mi, ada perlu apa anda kesini?" Tanya resepsionist itu


"Apakah anda ke sini untuk bertemu dengan tuan seo jin?"  Tanya lagi resepsionist itu


"Ehemm..." aku berdehem karena mereka masih salah mengira diriku adalah deok mi


"Aku bukan deok mi, kau bisa memperhatikanku lebih jelas lagi" ucapku pada wanita dengan setelan pakaian formal


Ia mulai memperhatikan diriku dari bawah hingga ke atas


"Ahh...maafkan saya nona, saya kira anda adalah nyonya deok mi" ucap resepsionist terkejut setelah menyadari bahwa aku bukanlah deok mi melainkan hanya orang yang berwajah mirip


Aku hanya tersenyum pada wanita yang ada di hadapanku


"Apakah ada yang bisa saya bantu, nona?" Tanya resepsionist


"Hari ini adalah jadwal temanku bertemu janji dengan tuan park seo jin untuk membahas proposal pengajuan dana kampus yayasan yang di kelolanya"


"Namun...karena temanku sakit dan hanya berbaring di rumah sakit saat ini, aku ke sini untuk menggantikannya" ucapku lagi


"Janji? Hari ini?"


"Ku rasa...anda tidak bisa bertemu dengan tuan park seo jin hari ini karena beliau masih berada di luar kota untuk menghadiri rapat penting dengan pemegang saham dan petinggi perusahaan lain untuk membahas proyek baru" ucap resepsionist menjelaskan lagi


Apakah ini terkait dengan proyek besar yang di bicarakan hajung?


Hajung juga sedang rapat beberapa hari di luar kota


Terlebih perusahaan edelweis dan estate rose masih memiliki ikatan kerja sama karena sebuah pernikahan


Seketika aku mengingat ucapan emma yang mengatakan bahwa deok mi dan seo jin sudah bercerai namun realitanya gosip itu hanyalah isapan jempol belaka


Sudah ku bilang pada emma berulang kali untuk tidak percaya dengan gosip yang beredar


Baru saja aku memikirkan emma, tidak lama seseorang memanggil namaku dengan keras


"Kim hye jin!!" Seru suara wanita itu hingga memenuhi loby perusahaan


Tentu saja tidak lain dan tidak bukan, itu adalah suara emma


Gadis itu berlari dengan cepat lalu merangkul bahuku dengan keras hingga aku hampir kehilangan keseimbangan untuk berdiri


"Berhentilah berlari sambil berteriak seperti itu, kau bukan anak kecil lagi" ucapku sewot memperingatkan emma


"Hahaha...sorry, aku terlalu senang melihatmu berada di lingkungan kantorku" ucap emma


"Apa kau ke sini untuk bertemu dengan bosku?" Tanya emma


"Dan.... merubah pikiranmu yang sangat bodoh itu?" Ucap emma menyindir


"Aku terpaksa ingin bertemu dengan bos mu karena aku harus membantu seseorang" ucapku


"Hemm?? Seseorang? Siapa?" Tanya emma sambil mengernyitkan dahinya


Aku akhirnya memutuskan untuk bercerita kepada emma tentang situasiku saat ini


"Hahaha.....mungkin ini terdengar jahat, tapi aku bersyukur ketua angkatan itu jatuh sakit dan supir pribadinya kebetulan sedang ambil cuti lama"


" jika tidak, mana mungkin kau mau ke sini " ucap emma asal


Aku memukul bahu emma dengan keras pertanda untuk berhenti bicara


"Aww...berhentilah memukulku hye jin. Pukulanmu sangat panas tau!" Ucap emma sewot


"Tutup mulutmu jika tidak ingin ku pukul" balasku ketus


"Tapi....ku rasa ini adalah kesempatan yang bagus untukmu" ucap emma


"Apa maksudmu? Bagus dari mananya?" Tanyaku heran


"Kau bisa mengambil langkah pertama untuk meyakinkan perasaanmu pada bosku, apakah kau masih memiliki perasaan atau tidak sebelum kau mengizinkan hajung menyentuh tubuhmu yang seperti barang dari peradaban kuno" ucap emma dan membuatku seketika mengingat kejadianku di balkon apartement bersama hajung


Aku mengacak-acak rambutku ketika mengingat kejadian itu


"Aishh...." gerutuku


"Kau kenapa hye jin?" Tanya emma yang melihat sikapku menjadi aneh


"Ini semua karena ucapanmu yang tidak masuk akal" gerutuku lagi


"Kim hye jin jangan bilang kau dan hajung sudah...." ucap emma terputus sambil menatapku karena terkejut


Aku menatap balik emma namun tatapannya berubah menjadi aneh dan kini ia tersenyum layaknya seseorang yang hendak berbuat mesum


"Wahh....luar biasa kim hye jin kemajuanmu sudah berkembang pesat" ucap emma sambil menatapku dengan tatapan mesum yang membuatku ingin menjambak rambutnya


"Lalu bagaimana? Apakah sesuai dengan rumor yang beredar di luar sana  bahwa tuan muda tampan itu benar-benar hebat di atas tempat tid..."


"Aku tidak melakukannya dengan hajung!" Seruku memotong ucapan emma


"Ohh...kim hye jin, apakah kau sekarang sedang berbohong padaku?"


"Tidak masalah, tidak ada yang perlu disembunyikan dariku"


"Seberapa lama tuan muda itu menahannya saat melakukannya denganmu?"


"15 menit? 30 menit?"


"Atau jangan-jangan..."


"Satu jam?"


"EMMA DAWSON!!" teriakku yang membuat suaraku memenuhi seluruh lobi


"Bisakah kau tidak membicarakan hal mesum seperti itu?" Tanyaku


"Kau keterlaluan emma, terlebih ini di kantor" ucapku yang mulai memelankan suaraku


"Aku...."


"Tidak melakukan hal kotor seperti yang kau pikirkan  selama aku berada di dekat hajung" ucapku mengaku


"Percayalah padaku emma"


"Aku dan hajung hanya saling berciuman lalu saat berada di atas tempat tidur..."


"Aku terlalu takut untuk melakukan hal itu bersama hajung karena bayangan masa lalu tentang kejadian malam di hotel parkhyatt..."


"Masih terekam jelas di ingatanku seolah hal itu baru saja terjadi kemarin"


"Bagaimana mungkin aku masih bisa membayangkan wajahnya saat masih bersama dengan hajung?" Ucapku yang frustasi sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku


"Maafkan aku hye jin, aku tidak tahu bahwa kau nekat mengizinkan hajung untuk menyentuhmu..." ucap emma yang menyesal mengatakan kalimat yang tidak pantas kepadaku


"Haah....ini semua karena ucapan bodohmu yang tidak masuk akal itu yang mempengaruhi pikiranku" ucapku menyalahkan emma


"Aku??" Tanya emma balik


Aku menganggukan kepala pertanda semua ini karena ucapan dari emma saat ia berkunjung ke tempatku


"Aku hanya mengatakan ide yang terlintas di pikiranku, ku kira kau tidak akan mendengarnya apalagi nekat melakukannya" ucap emma menyangkal


"Kau tahu kan dirimu adalah gadis kepala batu?" Ucap emma menyindirku lagi


Aku menyipitkan kedua mataku ke arah emma pertanda kesal dengannya yang terus menyindirku


"Baiklah...baiklah aku salah padamu hye jin, aku minta maaf" ucap emma yang awalnya selama beberapa menit terdiam berusaha memahami arti dari tatapanku ke arahnya


"Tapi...ku rasa dengan kejadian itu, kau bisa mengambil hikmahnya" ucap emma yang masih membuatku belum memahami apa hikmahnya dari kejadian yang ku alami saat di balkon


"Itu artinya...kau masih memiliki perasaan pada bos ku, hanya saja...."


"Kau masih mengelak perasaan itu dan berusaha menguburnya dengan pikiranmu yang sekeras batu itu" ucap emma yang membuatku kehilangan minat bicara dengannya saat ini


"Emma...ku rasa kau harus memenuhi permintaanku mengingat kau merasa bersalah padaku karena menuduhku melakukan yang tidak-tidak bersama hajung" ucapku mengalihkan pembicaraan


Emma menungguku untuk bicara kelanjutannya


"Berikan langsung proposal ini ke bos mu agar aku bisa pulang dengan perasaan lega" ucapku sambil menyodorkan  berkas kepada emma


"Nope..." ucap emma santai sambil menggeser berkas itu dengan santai


"Kenapa aku harus menyerahkan proposal ini kepada tuan seo jin menggantikan dirimu?"


"Ketua angkatan itu memintamu untuk memberikannya secara langsung pada bosku"


"Jika ia bertanya tentang isi dari proposal, aku tidak bisa menjawabnya, karena bukan aku yang membuat" ucap emma menyangkal


"Kau pikir aku tahu isi dari proposal ini secara terperinci? lagi pula kau sudah tahu secara garis besar bahwa kampusku akan mengadakan sebuah konser di hari kelulusan"


"Kau..sebagai alumni dari kampus yang sama denganku, sudah sebaiknya membantuku kan?" Ucapku membalas emma


"Tapi sayangnya sebagai alumni, aku tidak bisa membantumu hye Jin, justru jika aku membantumu menyerahkan proposal ini ke tuan seo jin, belum tentu ia akan setuju dan menandatangani proposal pengajuan dana ini"


"Bisa saja bos ku akan mengatakan untuk melakukan pesta kelulusan tanpa mengundang bintang tamu dan jalani proses hari kelulusan secara hikmat"


"Kau tahu kan seberapa kolot bosku? Kau pasti sudah tahu lebih lama dariku mengingat kau pernah tinggal bersama dengannya selama beberapa bulan" ucap emma menyindir


"Tidak akan! Ia pasti akan setuju dan menandatangi ini, percayalah..."


"Kau tinggal menyerahkan ini saja, selebihnya kau bisa pergi dari ruangannya" ucapku membujuk emma


"Kalimat yang kau katakan itu hanya berlaku untukmu saja, nona"


"Selain kau...ia akan menolaknya" ucap emma

__ADS_1


"Kenapa kau sangat sok tahu sekali emma, padahal kau belum mencobanya" ucapku yang mulai kesal dengannya yang selalu bersilat lidah denganku


"Karena ia masih memiliki perasaan padamu, hye jin"


"Sudah pasti dengan mudahnya, ia akan mengabulkan semua keinginan orang yang ia sukai"


"Aku yakin jika kau yang pergi menemuinya, tanpa melihat proposal itu, ia pasti sudah menandatanganinya tanpa bertanya terlebih dahulu padamu"  ucap emma sok tahu lagi


Aku terdiam beberapa saat sambil menatap emma


"Cihh....kau itu sangat menyebalkan emma" ucapku kesal


"Baiklah...jika kau enggan untuk membantu sahabatmu, akan ku lakukan sendiri"


"Akan ku buktikan padamu bahwa ia pasti akan membacanya terlebih dahulu meskipun siapapun itu yang menemuinya, baik diriku ataupun diriku" ucapku


"Biar bagaimanapun ia adalah CEO, tidak mungkin melakukan hal sembrono seperti itu" ucapku


"Tapi.. aku kesal karena tidak bisa menyerahkan proposal permintaan dana hari ini" ucapku


"Sangat sulit menemuinya dan aku harus mengatur ulang jadwal dan membuat ulang janji pada resepsionist itu agar bisa menyerahkan proposal ini" ucapku lagi


"Tidak bisakah aku menitipkan proposal ini kepada resepsionist saja dan berharap bosmu akan menandatangi ini?" Tanyaku pada emma


"Apa kau lupa pernah bercerita padaku? baru saja kurang lebih 10 menit yang lalu kau mengatakan bahwa ketua angkatanmu pernah mencoba hal itu namun tidak ada jawaban apapun yang ia dapat selama berhari-hari" ucap emma mengingatkan padaku


"Jika kau tega melakukan itu pada ketua angkatanmu, lakukan saja" ucap emma


"Arrgghhh....keadaan ini membuatku bingung, kenapa terdapat perbedaan yang signifikan sekali waktu luang antara hajung dan seo jin?" Ucapku menggerutu


"Biarpun hajung CEO, ku rasa ia mudah saja bisa bertemu denganku hanya untuk makan siang" ocehku lagi


"Pfftt...kau itu polos atau bodoh sih" ucap emma menyindir


"Berhenti mencemoohku jika kau tidak ingin membantuku!" Ucapku sewot


"Hei kim hye jin, jika kau kesulitan untuk menitipkannya di kantor, karena takut tertumpuk dengan dokumen lainnya, kenapa kau tidak pergi saja ke rumahnya dan menitipkannya ke kepala pelayan rumah tuan seo jin" usul emma


"Kau kan sangat hapal jalan rumah bosku, jika aku jadi dirimu, aku akan pergi ke rumahnya dan melakukan apa yang ku ucapkan tadi" ucap emma lagi


"Jika kau menitipkan dokumen proposal itu ke rumahnya, kemungkinan untuk tercampur dengan dokumen yang lain sangat sedikit mengingat rumah tuan seo jin bukanlah kantor yang senantiasa banyak keluar masuk dokumen terkait perusahaan" ucap emma yang menurutku masuk akal


"Emma..." ucapku sambil memukul bahunya


"Terima kasih karena telah memberikan ide cemerlang itu padaku"


"Sore ini setelah selesai kelas siang, aku akan pergi ke rumah seo jin untuk menitipkan proposal ini ke bibi min, dengan begitu aku juga tidak perlu bertemu seo jin lagi mengingat ia sedang rapat di luar kota"


"Aku akan menghubungi bibi min tentang kemajuan proposal permintaan dana ini" ucapku


"Aku hanya perlu tanda tangannya saja, ku harap seo jin membaca proposal ini tanpa harus meminta penjelasan apa-apa dariku"


"Aahh....aku tahu!!"


"Jikapun seo jin memiliki pertanyaan terkait proposal ini, aku tinggal bilang saja untuk menghubungi ketua angakatan, toh seiring berjalannya waktu.."


" ku rasa jenifer sudah sembuh dari sakit  lambungnya" ucapku  yang tanpa sadar mengoceh seperti gadis gila dengan wajah sumringah


"Haah..  gadis ini mulai kehilangan jati dirinya seketika ia mendapatkan sebuah ide untuk menghindari orang yang paling tidak ingin ia temui di dunia ini" sindir emma sambil memijit keningnya


********


Sesuai rencanaku, sore ini aku pergi ke rumah kediaman seo jin menggunakan taksi


Saat aku tiba di depan pagar rumah seo jin, aku menelan salivaku sebelum memencet bel dan berbicara dengan salah satu pegawai rumah melalui micropohone yang ada di depan pagar besar rumah seo jin


'Ting...tong'


"Ya....good evening, can I help you?" Sapa suara seorang wanita muda dari dalam melalui bel


Aku mendekatkan wajahku di dekat kamera bel rumah saat berbicara dengan wanita yang menyambutku di bel


Bel rumah seo jin tidak hanya bisa saling bicara saja, melainkan bisa memperlihatkan wajah tamu yang ingin berkunjung ke rumahnya


"Good evening, i am kim hye jin from chicago university, can I meet mr. Park seo jin?" Tanyaku pada wanita dibalik bel ini


"I am sorry but mr. Seo jin not avaliable now.."


"I know...i just.." ucapku memotong


"I just wanna give something for him, because i can't meet to him when i visited the office.."


"So...I decided to come his house" ucapku


"Please...I must give this document for him" ucapku memohon


Namun tidak ada jawaban dari wanita yang ada di seberang bel rumah seo jin


Aku menunggu beberapa detik namun tidak ada suara apa-apa lagi


"Hello???" Ucapku


"Are you still there?" Tanyaku


"Hello~~"


"Hell...."


"Ahh...nona kim" sapa wanita yang suaranya terdengar familiar di telingaku


"Maafkan atas ketidaknyamananmu karena menunggu" ucap wanita itu lagi, ku rasa ini adalah suara bibi min


"Silahkan masuk nona kim" ucapnya lagi dan seketika gerbang rumah seo jin yang besar itu terbuka lebar secara automatis


Aku masuk melewati gerbang rumah seo jin dan  berjalan melewati pekarangan rumah seo jin yang tampak luas


Saat aku melewati air mancur depan rumah seo jin, aku melihat beberapa pelayan berdiri seolah menyambutku


Terlihat bibi min tersenyum ke arahku seolah aku adalah seorang tamu kehormatan yang sangat ditunggu kedatangannya


"Nona kim, saya sangat rindu dengan anda" ucap bibi min tiba-tiba memelukku saat aku tiba di depan pintu rumag seo jin


Beberapa pelayan rumah menunduk ke arahku pertanda memberi salam dan hormat kepadaku


Euforia ini mengingatkanku ketika aku  masih berpura-pura menjadi sung deok mi


"Bibi min...ku rasa kau tidak perlu menyuruh pelayan melakukan hal ini padaku" ucapku pada bibi min


"Maksud anda, nona?" Tanya bibi min yang masih belum mengerti


"Aku adalah kim hye jin bukan nyonya besarmu yang bernama sung deok mi, jadi ku rasa kau tidak perlu menyambutku seperti ini" ucapku mengingatkan bibi min


Namun ia hanya tersenyum ke arahku


"Biar bagaimanapun anda pernah menjadi nyonya besar baik hati yang pernah tinggal di sini"


"Sudah sewajarnya kami menyambutmu dengan baik, nona"


"Lagi pula ini bukan hanya keinginanku, melainkan keinginan dari para pelayan yang bekerja di sini"


"Mereka ingin menyambutmu dengan layak, nona" ucap bibi min yang justru membuatku canggung


"Ahh.. begitu" ucapku


"Silahkan masuk ke dalam dan duduk, nona" ucap bibi min


"Aku tidak akan lama-lama di sini aku hanya ingin meminta tolong padamu untuk menyerahkan document ini pada tuan seo jin"


"Ini adalah proposal permintaan dana untuk acara wisuda kampusku, mengingat saat ini tuan seo jin adalah ketua yayasan kampusku yang baru dan ketua angkatan kampusku sedang sakit, hanya aku yang bisa ia percaya"


Aku mengatakan pada bibi min untuk menyerahkan berkas ini ke seo jin setelah ia pulang nanti dari luar kota. lalu jika ia memiliki pertanyaan tentang proposal ini, ia bisa menghubungi ketua angkatanku yaitu jenifer dan aku sudah menyelipkan nomor telepon jenifer ke dalam map yang berisi proposal


"Aku sudah memberikan kontak nomor telepon orang yang berhubungan dengan proposal ini, silahkan hubungi jika tuan seo jin memiliki pertanyaan terkait ini"


"maafkan aku bibi min harus merepotkanmu seperti ini..."


"PUTRIKU!!" seru seorang wanita yang tiba-tiba berteriak ketika aku hendak menitipkan proposal permintaan dana ke bibi min


Wanita itu adalah song ji hye, yang merupakan ibu kandung dari deok mi


Ia berlari kecil dan langsung memelukku dengan erat


Aku melihat ke arah bibi min bermaksud untuk menanyakan apa maksud panggilan dari song ji hye


"Nyonya, jangan berlari seperti itu. Nanti anda bisa terjatuh dan terluka" ucap bibi min pada ibu deok mi


"Bagaimana mungkin aku tidak segera berlari ketika melihat putriku yang cantik dan baik hati ini" ucap ibu deok mi yang masih menganggapku sebagai putri kandungnya


"Ma-maaf nyonya tapi saya bukanlah deok mi putri anda" ucapku sambil berusaha melepas pelukannya


Seketika song ji hye melepas pelukannya lalu menatapku dengan tajam


"Dasar anak nakal! Durhaka!" Teriak ibunya deok mi sambil memukul bahu lalu punggungku dengan keras


"Sudah lama tidak kembali ke rumah, lalu setelah kembali ke sini kau melupakan ibumu!"


"Apa kau perlu ibu pukul lebih keras lagi hhah??!" Ucap ji hye yang terus memukulku


Bibi min terlihat berusaha menghentikkan ibunya deok mi untuk berhenti memukulku


"Sebenarnya....apa yang telah terjadi pada nyonya ji hye?" Tanyaku pada bibi min


"Sejak suaminya dinyatakan bersalah dan harus di penjara seumur hidup, kesehatan beliau turun drastis secara terus menerus dan sering mengalami lupa ingatan"


"Setelah di lakukan pemeriksaan secara berkala, nyonya ji hye ternyata mengalami demensia ringan tapi..." ucap bibi min terputus


"Tapi apa?" Tanyaku pada bibi min penasaran


"Ia hanya melupakan keluarga intinya saja"


"Ia bahkan tidak menganggap nyonya deok mi yang asli sebagai putri kandungnya melainkan sebagai wanita asing yang tinggal di rumah ini"


"MWO??!*(apa?!)" Seruku


"Ini pertama kalinya ia memanggil putrinya sendiri setelah melihatmu nona" ucap bibi min


Aku terkejut mendengar ucapan bibi min yang memberitahukan kondisi ibunya deok mi yang membuatku prihatin


Masuknya dong il ke dalam penjara membuat istri tercintanya mengalami kondisi seperti ini, begitu juga dengan deok mi yang tidak dianggap sebagai putrinya oleh ibu kandungnya sendiri


Tidak hanya diriku saja yang mengalami perubahan mental, ibu deok mi juga terpukul atas kejadian buruk yang terjadi 2 tahun yang lalu


"Araseo eomma!*(aku mengerti ibu!)" Seruku pada ibunya deok mi


"Maafkan aku karena tidak mengenalimu, berhenti memukulku!"


"Aku akan menuruti ucapan ibu dan tidak berbuat nakal lagi" ucapku lagi


Untungnya cara ini berhasil, song ji hye berhenti memukulku dan menatapku


"Aigoo....eomma ttal*(ya ampun...putri ibu) akhirnya kau berubah menjadi anak baik" ucap ibu deok mi


"sekarang maukah kau berjanji pada ibu untuk tidak meninggalkan rumah ini lagi dan terus berada di samping ibumu?" tanya song ji hye


"N-ne eomma* (iya ibu) aku berjanji" ucapku yang terpaksa mengatakan hal itu agar ia bisa tenang


"bagus anakku, kau sekarang sudah berubah menjadi anak yang sangat baik, ibu sangat menyayangimu" ucapnya sambil mengelus rambutku dengan lembut


"sekarang, maukah kau menemani ibu untuk melakukan ikebana?" 


 (ikebana semacam kerajinan dalam merangkai bunga)


"ibu lihat di taman ini beberapa bunga yang bersemi di awal musim dingin sudah mulai bermekaran, kita tidak boleh melewatkannya begitu saja" ucap ibu deok mi sambil menuntunku ke kebun taman belakang rumah seo jin


untuk saat ini aku hanya menuruti kemauan ibunya deok mi karena ku pikir, aku tidak akan bertemu seo jin sore ini karena ia berada di luar kota sekarang


selama melakukan ikebana, aku bicara bisik-bisik ke bibi min menanyakan kapan deok mi kembali ke rumah. karena aku harus segera pergi dari sini sebelum bertemu dengan wanita itu


bibi min mengatakan padaku bahwa deok mi juga tidak akan pulang hari ini karena beberapa hari ini bekerja lembur menggantikan hajung sebagai CEO di perusahaan selama hajung tidak berada di tempat


haah...syukurlah setidaknya aku masih memiliki waktu banyak menemani ibu deok mi sampai waktu makan malam tiba


"deok mi sayang, lihatlah" ucap ibu deok mi yang membuatku kembali fokus ke dirinya


"bagaimana menurutmu? apakah bunga camelia ini cocok jika disandingkan dengan bunga krisan putih ini?" tanya ibu deok mi


...



...


"nne eomma, noemu kyeopta*( ya bu, itu sangat cantik)" ucapku takjub dengan hasil kerajinan tangan ikebana dari nyonya song ji hye


meskipun ia mengalami demensia ringan dan melupakan keluarga intinya karena terlalu berat menjalani kehidupan, ia masih memiliki kreativitas tangan yang baik


"cheogiyo ahjumma* (permisi bibi)" ucap ibu deok mi tiba-tiba memanggil bibi min


"ya nyonya" sapa bibi min


"apakah kau pelayan di sini?" tanya ibu deok mi yang tiba- tiba membuatku berhenti memuji hasil merangkai bunga karya nyonya ji hye


"betul nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi min yang tetap ramah


"aku haus, tolong ambilkan minuman dingin" ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa


tak lama ibu deok mi menengok ke arahku dengan seksama lalu menatap ikebana lagi


" aigoo...agashi* (ya ampun...nona muda) apakah rangkaian bunga ini kau yang membuatnya?" tanya tiba-tiba ibu deok mi yang semakin membuatku sadar bahwa ia mengalami demensia


jelas-jelas beberapa detik yang lalu ia selesai menciptakan maha karya yang bagus, tapi ia mudah melupakannya dan menuduhku yang membuat hasil kaya ciptaan seni ikebana ini


"anio eomonim* (tidak ibu) bukan aku yang membuat mahakarya indah ini, melainkan dirimu. kau memiliki bakat dalam bidang seni" ucapku tersenyum


"Jinjaragoeyo?*(benarkah?)" ucap ibu deok mi takjub


"hihihi...ternyata tangan ini masih berguna juga" ucap ibu deok mi senang


"omong-omong agashi*( nona muda) kau tampak familiar di mataku"


" kau mirip dengan putriku"


"aigoo...apa yang ku katakan?" ucap song ji hye sambil memukul kepalanya beberapa kali dengan kedua tangannya


"kau kan memang putriku, pantas saja kau terlihat sangat cantik saat tersenyum hihi..."


"eomma ttal, neo.... noemu ippuda, coengmal mianhae*(putri ibu, kamu... sangat cantik, aku sungguh minta maaf) karena melupakanmu dalam ingatanku"


"aku tidak ingin melupakanmu, aku ingin mengingatmu seumur hidupku.."


"jadi..berhentilah meninggalkan ibumu walaupun sedetikpun" ucap ibu deok mi yang hampir membuatku menitikkan air mata dan memilih untuk memeluk tubuhnya dengan erat


" tenang bu, aku tidak akan pergi kemanapun dan akan terus berusaha berada di sampingmu" ucapku pada song ji hye


" nyonya..maafkan aku karena mengganggu waktumu, ini saatnya anda meminum obat" ucap bibi min yang sudah tiba kembali setelah ia pergi ke dapur mengambil air minum untuk ibu deok mi


'tring'


dalam pesan grup itu tertulis untuk menambahkan sumber buku sebagai daftar pustaka agar  tugas kelompok kami bisa mendapatkan nilai bagus dan hasil revisi paper tugas kelompokku akan dikumpulkan besok siang


ohh damn...


bagaimana mungkin aku kembali lagi ke kampus untuk menuju perpustakaan agar bisa mendapatkan buku sebagai sumber tambahan daftar pustaka


waktunya tidak akan cukup jika dikerjakan esok pagi, setidaknya malam ini aku harus begadang untuk menyelesaikan tugas kelompok ini jika aku mendapatkan buku tentang  filsafat ekonomi, tapi dimana aku harus mendapatkan buku itu jika di sekitar sini tidak ada perpustakaan?


ehh...chakamannyo*(tunggu dulu) perpustakaan katamu? tentu saja di sekitar sini ada. kau lupa jika ruang baca seo jin adalah surga untuk para pecinta buku?


ku rasa seo jin memiliki berbagai macam buku tentang filsafat ekonomi untuk menyelesaikan tugas kelompokku


Ku rasa...


Aku bisa meminjam buku dari seo jin sekitar satu atau dua hari, lalu kembali ke sini untuk mengembalikkannya di saat ia sedang bekerja


Menurutku ia tidak akan menyadari bahwa ia kehilangan satu atau dua buku dari ruang bacanya


"Aahh...shireo!*(ga mau!) Kenapa aku harus meminum benda seperti  itu? Aku sudah muak meminumnya" seru ibu deok mi yang sedang merajuk karena tidak ingin minum obat


Ia bahkan membuang obat itu beserta vitamin yang berada di dalam kemasan ke lantai


Beberapa pelayan sedikit kerepotan menghadapi sikap song ji hye


"Eomma...kenapa membuang obatmu? Apa kau tidak ingin cepat sembuh lalu pergi berbelanja baju denganku?" Ucapku mencoba membujuk song ji hye agar tidak merajuk


"Aku heran kenapa mereka selalu memaksaku untuk meminum benda yang di sebut obat itu? Aku tidak sakit"


"Aku justru merasa mengantuk setelah meminum salah satu dari benda itu"


"Setelah aku terbangun, terkadang aku akan melupakan sesuatu yang terjadi padaku, aku benci hal itu" ucap ibu deok mi


"Eomma..justru jika kau tidak meminumnya, kau akan melupakan semuanya bahkan kau akan lupa cara membuat mahakarya seperti ini"


"Lebih parahnya lagi kau akan melupakan aku"


"Apa kau ingin melupakan aku, bu?" Tanyaku


"Maldo andwe*(ga mungkin) meskipun ibu lupa, setelah melihat senyummu,  seketika ibu akan mengingatmu bahwa kau adalah putriku" jawab ibu deok mi


"Tetap saja ibu kau akan melupakanku, oleh karena itu ku mohon padamu untuk minum obat secara rutin meskipun ibu muak"


"Ok bu?" Tanyaku


"Hemm....baiklah demi putri ibu tercinta ibu akan berjuang meminum obat ini, asal kau berjanji selalu berada di sampingku  ok?" Balas song ji hye padaku


Beberapa pelayan mengambil obat baru dan memberikannya ke ibu deok mi


Disaat itulah aku memiliki kesempatan untuk bicara pada bibi min


"Bibi min, maaf merepotkanmu lagi" ucapku


"Apa itu nona? Katakan saja padaku, jangan sungkan karena anda juga sudah membantuku membujuk nyonya ji hye" balas bibi min


"Mmm...bisakah aku meminjam beberapa buku dari ruang baca tuan seo jin?" Tanyaku


"Aku membutuhkan buku untuk sumber referensi tugas kuliahku, aku harus mengerjakannya malam ini, aku tidak akan sempat jika pergi ke kampus saat ini" ucapku pada bibi min


"Ahh...itu" ucap bibi min ragu


"Aku hanya meminjamnya dua hari, ani*(tidak) bahkan ku rasa hanya satu hari"


"Jadi sebelum ia kembali dari luar kota, buku yang ku pinjam sudah kembali ke tempatnya" ucapku


"Baiklah nona jika kau yakin tuan seo jin tidak akan menyadari bahwa barang-barangnya tidak ada yang hilang" ucap bibi min memberi izin padaku


"Gomawo* (terima kasih) bibi min" ucapku sumringah sambil pergi menuju tangga agar aku bisa segera ke lantai dua


"Deok mi-aa kau mau kemana?" Tanya ibu deok mi yang menyadari bahwa aku tidak duduk di sampingnya lagi


"Aku..."


"Aku ingin ke toilet ibu, tunggulah sebentar, aku akan kembali" ucapku sambil senyum


Ibu deok mi tampak tenang saat aku mengatakan akan pergi ke toilet


"Cepatlah kembali, ibu tidak ingin kau terlalu lama menghilang dari hadapan ibu"


"Nne eomma*(iya bu)" ucapku sambil berlari kecil menaiki tangga


"Ahh nona, tunggu sebentar!" panggil bibi min yang membuat langkahku berhenti


"Kau bisa meletakkan document yang kau bawa tadi ke meja kerja yang ada di ruang baca tuan seo jin"


"Aku yakin ia pasti akan menemukannya dan bertanya padaku" ucap bibi min


"Baiklah..." ucapku setuju dan meraih document proposal


Aku telah sampai di lantai 2 dan berada di depan pintu kamar seo jin


Begitu aku membukanya, tampak sofa cokelat tepat di depan tempat tidur.


Seketika aku mengingat kembali bahwa itu adalah sofa favoritku saat aku menghabiskan waktu luang sebagai deok mi sambil menonton televisi jika seo jin berada di kantor ataupun sedang sibuk dengan pekerjaannya di ruang baca


Sejenak, aku tidak langsung menuju ruang baca seo jin, melainkan menuju ke beberapa titik yang pernah aku singgahi selama tinggal di sini


Aku menuju kamar mandi yang merupakan tempat yang aman saat aku dan seo jin hendak membahas sesuatu yang bersifat rahasia agar identitasku tidak ketahuan


Bahkan aku mengingat pernah tidur di bathub kamar mandi dan mencabut tirai agar bisa kabur dari kamar seo jin melalui jendela kamar mandi saat hendak menyelamatkan hajung yang terperangkap di gudang kosong


Aku tersadar dari nonstalgiaku dan mulai fokus dengan tujuanku ke sini


Aku segera pergi menuju ruang baca seo jin dan mulai mencari buku tentang filsafat ekonomi


Aku mulai memilah-milah buku yang terkait dengan tugasku


Seandainya saja aku masih tinggal di sini, mungkin aku tidak perlu repot mengerjakan tugas di kampus hingga perpustakaan tutup


Setelah beberapa menit berlalu, aku memutuskan untuk mengambil dua buah buku yang menurutku sangat cocok untuk dijadikan referensi


Saat aku mengambil buku dari rak, aku mendengar suara pintu kamar yang terbuka saat aku masih berada di dalam ruang baca seo jin


Ku rasa..


Aku terlalu lama mencari buku hingga bibi min menjemputku ke sini, begitu pikirku


Saat aku hendak ingin keluar dari ruang baca, aku terkejut dengan apa yang ku lihat dari celah pintu ruang baca menuju kamar yang terbuka sedikit dan membuatku mundur kembali


Apakah aku salah lihat??


Tidak mungkin kan itu adalah dia??


Aku memastikannya sekali lagi menunggu sosok yang tidak ingin aku lihat melewati celah pintu ini


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang berada di dalam kamar seo jin


Hingga sosok pria dengan postur tinggi tegap berjalan melewati ruang baca dengan santainya sambil melepas jas berwarna cokelat mudanya yang ia pakai lalu menuju wardrobe pakaian untuk mengganti baju


Hanya melihat dari punggungnya saja aku sudah tahu bahwa sosok pria itu adalah park seo jin, tuan besar pemilik rumah ini


Bagaimana mungkin ia sudah kembali ke chicago??!


Bukankah ia sedang berada di luar kota selama beberapa hari ini?


Apakah rapatnya dibatalkan?


Aishh...


Situasi ini membuatku gila


Pokoknya aku harus segera pergi dari sini sebelum ia mengetahui keberadaanku


Aku menggunakan kesempatan untuk pergi dari ruang baca saat seo jin berada di wardrobe untuk mengganti pakaian


Namun waktunya tidak cukup, aku mendengar suara pintu lemari pakaian dari wardrobe menutup dan seketika aku menuju kamar mandi yang merupakan tempat terdekat untuk persembunyian selanjutnya


Saat berada di dalam kamar mandi, aku segera mencari titik spot  tempat untuk  aku  bersembunyi


Aku mulai mendengar suara langkah kaki yang diseret hingga alas kaki bergesekan dengan karpet kamar. itu artinya seo jin sedang menuju ke sini


Dengan panik aku segera bersembunyi di balik tirai yang menutupi jendela kamar mandi


Aku meletakkan buku yang ku pegang dengan asal. kedua buku itu ku letakkan di atas lemari kecil wastafel sambil berharap seo jin tidak menyadari keberadaan buku itu


Aku loncat mencoba untuk menggapai besi jendela agar aku bisa menyembunyikan kedua kakiku agar tidak berpijak.   karena tirai ini tidak menjuntai ke bawah menyentuh lantai, sehingga aku takut seo jin bisa melihat sepatuku dan akhirnya aku akan ketahuan bahwa aku sedang bersembunyi dan mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya


Tubuhku bergantung di udara dan hanya bermodalkan kekuatan dari otot kedua tanganku


Seo jin membuka pintu kamar mandi dan ku rasa dari suara gemericik air, ia sedang berada di wastafel


Aku tidak tau apa yang sedang ia lakukan karena wajahku tertutup dengan tirai


Ku rasa sudah lima menit berlalu dan tanganku mulai kebas karena terlalu lama bergelantungan.


Keringat dingin mulai bermunculan di dahiku. aku berusaha  menyemangati diriku sendiri agar tetap bertahan dengan posisi seperti ini dan yakin bahwa aku bisa keluar dari sini tanpa ketahuan


Seolah doaku terkabul, aku mendengar suara handphone milik seo jin berdering dan ia mulai menuju tempat tidur lalu keluar dari kamar mandi


Seketika aku melepas tanganku dari besi jendela dan kedua kakiku mulai menapak di lantai


Dengan sigap, aku membuka tirai dan menuju wastafel untuk mengambil buku yang sebelumnya ku letakkan di atas lemari kecil


Namun, saat aku baru menyentuh buku yang ada di atas lemari wastafel, aku mendengar seo jin bicara sambil berjalan dan menuju ke kamar mandi


Dengan panik aku kembali lagi ke tempat persembunyianku dan menggapai besi jendela lalu menutup tubuhku dengan tirai


Aku mengabaikan kondisi buku itu


Seo jin bicara melalui telepon dengan seseorang


"Kau bisa menjadwal ulang dengan para pemegang saham" ucap seo jin melalui telepon


"Untuk proyek itu aku akan mengurusnya..."


Aishh....sial!


Kenapa aku seperti pencuri?


Seharusnya aku tidak perlu meminjam buku milik seo jin secara diam-diam


Jika saja seandainya hajung tidak sedang rapat di luar kota, mungkin aku akan meminjam buku yang aku cari dari perpustakaan di rumahnya


Dasar hye jin bodoh!!


Bodoh!!


Baru saja aku mencaci maki diriku, tiba-tiba tirai yang menutup tubuhku terbuka hingga membuat mataku melompat keluar karena terkejut


"Keluar kau pencuri!!" Seru seo jin sambil mengayunkan sebuah tongkat golf ke arahku


Aku reflek menutup kedua mataku saat tongkat golf itu memukul salah satu kakiku


Pukulan itu lumayan keras mengenai kaki kiriku hingga membuatku oleng


"Aarrghhh!!" Aku reflek teriak dan melepaskan kedua tanganku karena merasa nyeri di bagian kaki


"kim hye jin??" panggil seo jin menyebut namaku karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat


Namun aku tidak jatuh ke bawah lantai melainkan seseorang menangkap tubuhku agar aku tidak jatuh dan mencegah lututku cedera


Aku membuka kedua mataku dan melihat seo jin sedang menggendongku dengan cara mendekap kedua paha hingga perutku agar aku tetap dalam posisi sejajar seperti semula saat aku bersembunyi, kakiku tidak menapak di lantai


Kepala seo jin berada tepat di bagian dadaku hingga aku bisa menatap wajahnya dengan cara menundukkan kepala


Beberapa detik berlalu dengan posisi seperti ini, seolah otakku belum merespon, hanya perasaan saja yang bermain hingga membuat jantungku berdetak cepat


Kami saling menatap satu sama lain hingga mendengar suara teriakan orang yang sedang memanggil nama seseorang dari luar kamar seo jin dengan keras


"Deok mi-aa oedisoo?*(dimana?)" Teriak seorang wanita yang ku kenal


Ku rasa itu adalah suara nyonya ji hye


Suara itu menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata dan memukul bahu seo jin pertanda untuk menurunkan tubuhku


seo jin menurunkan tubuhku dengan cepat seolah sudah mengerti kode yang ku berikan untuk berhenti menggendongku, namun saat kedua kakiku menapak di lantai, aku merasa nyeri di kaki sebelah kiriku seolah mata kakiku enggan untuk menopang beban berat tubuhku


aku gagal untuk berdiri dengan tegap dan hampir tumbang, namun seo jin segera menggenggam kedua tanganku berusaha untuk membuatku berdiri tegap


"neo gwaenchana?*(kau tidak apa?)" tanya seo jin reflek


Aku kembali menatap wajah seo jin dan perlahan menuju ke bawah.


Betapa terkejutnya aku ketika baru menyadari bahwa ia hanya memakai sebuah handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya


Seo jin bertelanjang dada dan membuatku merasa malu berdekatan dengannya untuk saat ini


"ahh..mian*(maaf)" ucapku sambil menunduk dan enggan menatap seo jin karena ini sangat memalukan bagiku


Seo jin melepas genggaman tanganku seolah ia menyadari bahwa aku merasa tidak nyaman berada dengannya dalam kondisi seperti ini


aku segera pergi meninggalkan seo jin dengan rambut menutupi wajahku dan jalan terpincang sambil menahan nyeri kaki kiriku


Saat aku berada di ambang pintu kamar mandi, aku tersandung oleh karpet karena wajahku tertutup oleh rambutku yang sengaja ku kedepankan


"Aakkhh...!" Seruku saat dahiku lebih dulu membentur karpet dengan keras


"Kim hye jin!"


"Neo gwaencahana?*(kau tak apa?)" Tanya seo jin dengan panik saat aku terjatuh


"Aisshh...."


Aku mengelus keningku dengan rambutku


Haah...aku sedang mengalami kejadian seperti kata pepatah


Sudah jatuh tertimpa tangga pula


Kaki kiriku sudah sakit di tambah aku harus terjatuh karena tersandung tepi karpet


Seo jin dengan sigap segera memeriksa keningku dengan kedua tangannya yang besar berada di pipiku


"Apa dahimu baik-baik saja?" Tanya seo jin dan membuatku semakin terkejut karena sikapnya


"Naega gwaenchana!*(aku baik-baik saja!)" Seruku sambil mendorong bahu seo jin dengan keras hingga membuatnya jatuh duduk yang awalnya dalam posisi berjongkok


"Ta-tapi dahimu lecet hingga menimbulkan darah.." ucap seo jin namun aku tidak menggubrisnya


Aku berusaha melupakan semua rasa sakitku dan ingin segera keluar dari kamar seo jin akibat kecerobohanku sendiri


Aku berhasil keluar dari kamar seo jin


Namun saat aku berada di depan pintu kamar seo jin, aku bertemu dengan seorang wanita yang sama sekali tidak ingin aku temui

__ADS_1


"Eomma chakamanyo..*(ibu tunggu...)" ucap wanita itu dan berhenti melangkah mengejar song ji hye yang merupakan ibu kandungnya karena melihatku


"Kim..hye jin??" Panggil wanita itu ketika mata kami saling bertemu


Di saat yang bersamaan, seo jin ternyata mengejarku dan ia baru saja keluar dari kamarnya sambil mengenakan kemeja warna putihnya yang belum ia kancingkan dengan rambutnya yang separuh basah


"Kim hye jin tunggu!" ucap seo jin memanggil namaku


Deok mi menatap diriku dan seo jin dengan tatapan penuh tanda tanya


"Apa sebenarnya yang kalian lakukan di dalam kamar?" Tanya deok mi saat melihat keadaan kami saat ini


Bagaimana tidak?


Aku dengan rambut yang berantakan lalu disusul dengan kedatangan seo jin yang keluar dari dalam kamar  dengan keadaan telanjang dada sambil memakai kemejanya yang belum ia kancingkan


Seolah kami baru saja selesai  melakukan hal yang tidak boleh dilakukan saat wanita dewasa dan pria dewasa berada di dalam kamar hanya berduaan saja


Tentu saja akan menimbulkan salah paham pada orang yang baru saja melihat keadaan kami yang seperti ini


"Emmm aku..."  ucapku yang kesulitan untuk menjelaskan pada deok mi selaku istri sah seo jin


"Yya!!*(hei!!) Sung deok mi!" Teriak song ji hye padaku sambil memukul bahuku dengan keras


"Aww!!.." Ucapku yang merasa kesakitan karena pukulan dari tangannya


"Dari mana saja kau? Ibu mencarimu kemana-mana"


"Ibu kira kau menghilang lagi"


"Dasar anak nakal" ucap song ji hye yang kini memeluk tubuhku


Entah aku harus berterima kasih padanya atau tidak


Setidaknya aku bisa selamat dari kondisi yang canggung seperti ini


********


"Ahahaha...." tawa deok mi pecah saat kami makan malam bersama sambil mendengar penjelasan dari bibi min, aku dan seo jin tentang bagaimana aku bisa berada di dalam kamar tuan rumah ini hingga menimbulkan kondisi yang menyebabkan salah paham bagi orang yang melihatnya


"Jadi...."


"Kau diam-diam ke kamar seo jin hanya untuk mencari buku untuk referensi tugas kuliahmu di ruang bacanya?"


"Lalu kau tidak akan menyangka bahwa hari ini kami akan datang dan mengira seo jin masih berada di luar kota untuk rapat?"


"Kemudian seo jin mengira ada pencuri yang masuk ke dalam kamarnya karena melihat buku yang berserakan di lantai kamar mandi..."


"Setelah itu kau kena pukul oleh seo jin di bagian kaki?" Tanya deok mi yang mencoba reka adegan kejadian kacau yang ku alami di kamar seo jin


"Untunglah kakimu tidak patah karena pukulannya" ucap deok mi sambil memutar garpunya untuk mengumpulkan spageti di atas piringnya sebelum memasukkannya ke dalam mulut


Aku hanya menunduk menatap makanan yang berada di atas piringku sambil mendengar deok mi bicara tentang kelakuan memalukanku hari ini


"Mianhae*(maafkan aku) hye jin, aku tidak tahu bahwa itu adalah dirimu" ucap seo jin padaku yang merasa menyesal  karena tidak sengaja memukul kakiku


Aku melirik seo jin dan menyumpal mulutku dengan spagethi menggunakan garpu


"Apakah kakimu baik-baik saja?" Tanya seo jin padaku


"N-ne*(y-ya) aku baik-baik saja..." ucapku dengan nada canggung


"Paling hanya akan memar dan jalanmu selama beberapa hari ini akan pincang" celetuk deok mi


Sekilas aku melirik seo jin dan tampak ia merasa bersalah dan kikuk hingga ia tidak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya


Seketika suasana kembali hening.


Tak lama deok mi berdehem untuk mencairkan suasana


"Ehem..."


"Lagi pula, kenapa kau bersikap canggung seperti itu?" Tanya deok mi sambil melipat kedua tangannya di dada


"Jika kau bersikap biasa saja, kau tidak akan mungkin tersandung karena karpet dan membuat dahimu terluka"


"Bukankah kau sudah sering melihat seo jin bertelanjang dada dan berjalan-jalan hanya dengan menggunakan handuk saat kau tinggal satu atap bersama..."


"Uhuk...uhukk"


"Kim hye jin kau baik-baik saja?"


"Nona, anda tidak apa-apa?"


Ucap seo jin dan bibi min secara bersamaan saat melihatku yang tiba-tiba terbatuk ketika mendengar ucapan vulgar deok mi


Aku segera meraih gelas yang berisi air putih dan segera meminumnya agar makanan yang menyangkut di tenggorokanku bisa terdorong dan turun ke lambung


Aku, seo jin dan bibi min menatap deok mi secara bersamaan


deok mi menyadari bahwa kami bertiga sedang menatap ke arahnya


"Apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Ucap deok mi sambil mengangkat kedua tangannya seolah merasa ia tidak bersalah


"Yya!! Wanita asing" ucap song ji hye yang tiba-tiba memukul kepala deok mi menggunakan sendok makan


"Berhentilah bicara dan makan makananmu" ucapnya


"Kau selalu saja berisik dan menyuruh pelayan seolah kau adalah nyonya besar di rumah ini" ucap song ji hye pada deok mi


Deok mi hanya mengerutkan keningnya sambil memegang kepala yang kena pukul oleh sendok makan ibunya


"Karena ulahmu, kau membuat putri kesayanganku tersedak makanan, dimana sopan santunmu terhadap nyonya dan tuan rumah?"


"Sepertinya orang tuamu tidak mendidikmu dengan cara yang baik" ucap song ji hye mengoceh


"Waaahh...eomma*(ibu) kenapa ucapanmu jahat sekali dan tidak menganggapku sebagai putri kandungmu sendiri?"


"Apakah ibu tidak bisa membedakan mana putri kandungmu dan mana yang bukan meskipun aku dan hye jin memiliki wajah yang sama?" Protes deok mi pada ibunya yang menderita demensia


"Apa kau gila wanita asing?!" Seru song ji hye


"Kau hanyalah wanita peniru yang hidup berpura-pura menjadi putri kandungku"


"Meskipun seisi dunia ini menganggap kau adalah putriku, tapi aku tidak akan tertipu olehmu rubah licik!"


"Putri kandungku yang asli, adalah wanita yang tepat berada di sampingku saat ini"


"Meskipun ia sudah lama pergi menghilang meninggalkanku, tapi sekarang ia sudah berjanji untuk selalu berada di sampingku" ucap song ji hye yang membuatku tercengang


"Bukankah begitu deok mi sayang?" Ucap lembut ibu deok mi sambil menatapku


"Ini makanlah yang banyak agar kau selalu sehat dan selalu berada di sampingku setiap saat" ucap lagi song ji hye sambil memberikanku potongan ikan dori sebagai menu pendamping makanan utama malam ini


"Ku kira hanya pikirannya saja yang selalu lupa, tapi matanya juga ikut menjadi lupa dan tidak bisa membedakan putri kandungnya sendiri"


"Apakah demensia juga berpengaruh pada kualitas kedua matanya?" Oceh deok mi kesal


"Sung deok mi..." panggil seo jin sambil menutup kedua matanya


"Bisakah kita makan malam dengan tenang?"


"Setidaknya ibumu dalam keadaan tenang saat makan malam seperti ini dan tidak mengamuk seperti biasanya saat melihatmu duduk berdekatan dengannya" ucap seo jin memperingatkan deok mi


Lagi-lagi aku merasa canggung dengan suasana keluarga ini


Aku berusaha menelan semua hidangan makanan malam ini dan berharap bisa segera pergi dari sini dan kembali ke apartementku


Ku kira setelah selesai makan malam, aku bisa segera pamit untuk kembali ke kediamanku sendiri, namun...


Ibu deok mi terus menempel padaku dan tidak lepas dari penglihatannya


Saat aku hendak pamit dan mengabaikan ibu deok mi, ia selalu memukul bahuku dengan keras dan mencaci maki diriku dengan sebutan anak durhaka dan anak nakal


Seolah anak kecil yang sedang ranum karena tidak dibelikan mainan yang ia sukai


Satu-satunya cara adalah menunggu hingga ibu deok mi merasa lelah dan tidur terlelap di kamarnya


Saat berada di atas ranjang berdua dengan ibu deok mi, ia memperlakukanku seperti anak kecil dan membacakan sebuah buku cerita dongeng berharap aku tidur terlelap di sampingnya


Namun bukannya diriku yang merasa mengantuk, justru ibu deok mi yang merasa lelah karena telah menceritakan sebuah buku cerita dongeng anak kecil tentang serigala yang menyamar menjadi nenek kesayangannya dan bermaksud ingin memakan anak kecil tersebut yang tinggal di sebuah rumah gubuk di tengah hutan


Aku berpura-pura tidur memejamkan mata agar ibu deok mi senang karena berhasil membuatku tidur terlelap


Yah..setidaknya keahlianku dalam berpura-pura ku gunakan untuk membuat orang lain senang


Setelah memastikan ibu deok mi tidur pulas, perlahan aku menggeser tubuhku dari tempat tidur dan berdiri meninggalkan ibu deok mi yang tidak menyadari bahwa aku sudah pergi dari hadapannya


Sejenak aku melihat nyonya song ji hye yang sedang tidur terlelap dengan wajah polosnya


Sekitar dua tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya namun saat bertemu kembali, kesehatannya sudah mulai menurun drastis dan tidak memperhatikan penampilannya lagi


Rambutnya yang sudah hampir memutih semua membuatku mengelus pelan dan mengecup keningnya seolah ia adalah ibu kandungku sendiri


Biar bagaimanapun, song ji hye sangat mencintai putri semata wayangnya, ia menjadi seperti ini diawali karena kecelakaan yang menimpa putri kandungnya yang sempat koma


Ia menolak kenyataan dan cenderung melupakan kenyataan pahit dan menganggap bahwa keluarganya dalam keadaan baik-baik saja


Jika bukan karena sikap suaminya yang licik dan tamak, mungkin song ji hye bisa hidup bahagia di dunia nyata bukan dunia khayalannya


Aku menghembuskan nafas dan menarik selimut hingga ke leher ibu deok mi memastikan ia tidak akan kedinginan


Aku keluar dari kamar ibu deok mi dan menuruni anak tangga bermaksud kembali ke apartement dan beristirahat


"Aku yakin ibuku pasti sudah tidur terlelap sehingga kau bisa keluar dengan tenang dari dalam kamarnya" ucap seorang wanita mengejutkanku dari belakang setelah menuruni anak tangga yang terakhir


Aku menoleh ke belakang dan melihat sung deok mi sedang minum anggur seorang diri


"Apakah kau ingin mencicipinya segelas?" Tanya deok mi menawarkanku untuk mengonsumsi anggur


"Ku rasa kita tidak memiliki hubungan untuk bisa minum bersama" ucapku acuh


"Cihh...."


"Hahahaha...." tawa deok mi tiba-tiba


"Kau tetap tidak berubah hye jin, kau masih sama..."


"Seseorang yang masih menyimpan dendam terhadapku" ucap deok mi yang mulai mabuk ku rasa


"Apa kau berencana akan menyimpan dendammu padaku hingga akhir hayatmu tanpa memberikan kesempatan untuk aku berbuat baik kepadamu?" Tanya deok mi yang menarik perhatianku


"Kau..."


"Berbuat baik padaku?" Ucapku mengulang ucapan deok mi


"Ku rasa sebaiknya aku tidak mempercayai ucapan orang yang sudah mulai mabuk" ucapku lalu membalikkan tubuhku bermaksud mengabaikan ucapannya


"Apa kau kurang puas melihat karma yang ku dapat akibat perbuatan jahatku kepadamu, kim hye jin?" Ucap deok mi dan membuatku berhenti melangkah


"Apa kau lupa dengan kutukanmu terhadapku saat kau keluar dari penjara setelah hari persidanganmu?" Lanjut hye jin


"Apa kau berencana untuk mengutukku selamanya, kim hye jin?"


"Apa kau tidak bercermin bahwa kondisi saat ini penyihirnya adalah dirimu?!" Seru deok mi


"Berhenti bicara omong kosong" ucapku


"Aku tidak akan menanggapi ucapan orang mabuk" lanjutku


"Huuh...apa kau lupa bahwa aku adalah sung deok mi? ratu yang sangat kebal terhadap alkohol?" Ucap deok mi


"Aku bukanlah dirimu kim hye jin, yang akan tumbang walau hanya meminum setengah gelas anggur" lanjut deok mi dan membuatku membalikkan tubuhku lalu berjalan menghampiri dirinya


"Jadi apa yang ingin kau katakan haah?!" Seruku bicara pada deok mi


"Apa kau sungguh lupa dengan ucapan kutukanmu?" Tanya deok mi lagi


"Cih...apakah hidupmu menderita sesuai keinginanku?" Tanyaku lagi


"Ku rasa penderitaanmu tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaanku yang telah kau berikan sehingga mengubah kehidupanku yang damai berubah menjadi kehidupan neraka" ucapku sinis


Tiba-tiba deok mi meraih bahuku dengan kedua tangannya hingga membuatku terkejut


"Meskipun aku tahu ini sangat terlambat untuk mengucapkannya, setidaknya kau masih mendengarkannya saat aku masih bisa menghembuskan nafas di dunia ini" ucap deok mi


"Mianhae kim hye jin* (maafkan aku kim hye jin)


"Congmal mianhae*(benar-benar aku minta maaf)" ucap deok mi berulang kali padaku


Hatiku merasakan getaran saat deok mi mengucapkan kalimat maaf padaku


Dan aku hampir menangis saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya


Seolah kalimat yang ingin ku dengar selama ini untuk mengobati penyakit hatiku mulai bereaksi dan bekerja untuk menyingkirkan semua rasa dendam yang ku pendam selama ini


Aku mencoba untuk tidak terenyuh dengan ucapan deok mi yang ingin ku dengar selama ini


Aku menepis kedua tangan deok mi yang telah menggenggam bahuku lalu membalikkan tubuhku untuk mengatur emosiku


"Aku tidak mengharapkan kau akan mengampuni dan memaafkan semua kesalahanku padamu yang benar-benar keterlaluan" ucap deok mi


"Hanya saja..."


"Hanya saja, aku ingin mengungkapkan perasaanku yang mengganjal selama ini dan ingin mengucapkannya secara langsung padamu"


"Ku kira semua perasaan yang mengganjal dalam hatiku akan menghilang begitu saja jika aku mengabaikannya"


"Tapi...ku rasa aku salah"


"Aku tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah padamu seiring berjalannya waktu"


"Di tambah dengan kondisi kehidupanku yang memburuk"


"Kau tahu hye jin, ku kira dengan mengirimkan ayahku ke penjara, semua akan berjalan dengan baik"


"Tapi ternyata tidak"


"Seolah kutukanmu mulai bekerja untuk kehidupanku karena telah berbuat jahat kepadamu"


"Perlahan orang yang dekat denganku, mulai melupakanku dan tidak mencintaiku seolah jika aku menghilang dari muka bumi ini, ku rasa tidak ada satupun yang akan menangisi kepergianku" ucap deok mi


"Excuse me, apakah kau baru saja  melakukan play victim?" Ucapku yang mendengar kalimat deok mi


"Harusnya kau bersyukur sung deok mi, berkatku..."


"Kau mendapatkan semua yang kau inginkan saat ini"


"Kehidupanmu yang tentram, hubungan keluarga yang harmonis"


"Bahkan..aku telah membuatmu dimaafkan oleh mertuamu karena perbuatan perselingkuhanmu dimasa lampau"


"Kau bisa mengulang dari awal untuk memperbaiki hubungan rumah tanggamu meskipun dengan cara harus mendorongku ke jurang yang paling dalam" ucapku emosi sambil menunjuk wajah deok mi dengan telunjukku


Deok mi tersenyum melihatku


"Kim hye jin, apa kau berpikir aku dan seo jin masih saling mencintai?" Tanya deok mi padaku


"Aku tidak peduli dengan urusan rumah tanggamu" ucapku kesal dan membalikkan tubuhku lagi


"Aku dan seo jin sudah bercerai" ucap deok mi sengaja untuk menghentikkan langkahku


"Ku rasa kau yang paling tahu bahwa sikap seo jin yang penuh tanggung jawab sangat melekat di dirinya" ucap deok mi


"Tidak berselang lama setelah ayahku diadili dan mendapat hukuman penjara seumur hidup, aku menggugat cerai park seo jin" ucap deok mi


Aku menggelengkan kepalaku pertanda tidak ingin tahu lebih jauh persoalan rumah tangga mereka


Aku mulai berjalan meninggalkan deok mi, namun deok mi menahanku dengan cara merangkul lenganku


"Setidaknya dengarkan aku hingga selesai bicara kim hye jin" ucap deok mi yang memaksa


"Apa kau tidak ingin tahu apa alasanku menggugat cerai park seo jin?" Tanya deok mi


"Aku tidak peduli" ucapku singkat sambil berusaha melepaskan lenganku dari cengkraman deok mi


"Apa kau enggan mendengarkanku karena masih mencintai mantan suamiku?" Ucap deok mi gila


"Neo michisseo!!*(apa kau gila!)" Seruku


"Jika kau tidak mencintai seo jin lagi, apakah kau sekarang mencintai hajung?" Tanya deok mi


Aku terdiam saat deok mi menanyakan hal itu padaku


"Apa kau mencintainya dengan tulus kim hye jin? Ataukah kau menggunakan hajung sebagai bentuk pelarianmu saja?" Tanya deok mi lagi


"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu yang tidak ada hubungannya denganmu sama sekali?" Tanyaku balik


"Tentu saja ini berhubungan denganku, hajung adalah sepupuku, aku berhak memastikan dirinya bahagia" ucap deok mi serius


"Pffft...." aku menahan tawa


"Sejak kapan kau peduli terhadap hajung?" Tanyaku


"Apakah hajung tidak cerita padamu?..."


"Ahh.. aku lupa, hajung pernah mengatakan padaku bahwa kau enggan mendengarkan hal-hal yang berhubungan denganku dan juga park seo jin" ucap deok mi yang membuatku terkejut


Sejak kapan hajung sangat dekat dengan deok mi hingga bisa membicarakan masalah kehidupan pribadi  hajung?


"Sejak ia menjabat sebagai seorang CEO..." ucap deok mi yang seolah tahu pertanyaanku


"Aku bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan melalui mimik wajahmu, kim hye jin" ucap deok mi lagi yang membuatku kesal


"Araseo..araseo*(aku ngerti...aku ngerti)"


"Aku tidak akan membaca isi hatimu melalui ekspresi wajahmu" ucap deok mi yang membuatku menghembuskan nafas


"Tapi sebagai gantinya, dengarkan aku selesai bicara dan kau bisa memutuskan tindakanmu selanjutnya untuk menerima perasaan tulus sepupuku atau tidak" ucap deok mi dan melepas rangkulannya dari lenganku


"Baiklah...bisakah sekarang kita duduk bersama dan mengobrol layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu kembali?" Ucap deok mi yang berusaha bersikap akrab denganku


Aku berjalan mendekati bangku yang tersedia di dekat mini bar dan menunggu deok mi menyelesaikan ceritanya agar aku bisa pergi meninggalkan rumah ini tanpa di hadang oleh siapapun lagi


Deok mi cengengesan saat aku menuruti kemauannya yang sudah duduk manis, pertanda aku siap mendengarkan ia bicara hingga selesai


"Kau benar, saat rencanaku berhasil untuk mengirim ayahku beserta anak buahnya yang licik ke dalam penjara..."


"Aku ingin memulai semua dari awal, membangun rumah tangga bersama park seo jin dan memperbaiki semua kesalahan yang ku perbuat padanya" ucap deok mi yang mulai bicara


"Awalnya aku tersenyum senang karena apa yang ku rencanakan berjalan dengan baik sesuai ekspetasiku meskipun aku memiliki perasaan bersalah padamu yang telah mengorbankan kehidupanmu yang baik-baik saja"


"Ku kira amarahmu padaku akan  berkurang dalam kurun waktu satu atau dua bulan" 


"Karena biar bagaimanapun, akulah yang telah menolongmu dan menyelamatkanmu untuk keluar dari penjara"


"Setidaknya aku berpikir kita sudah impas meskipun kau menolak tawaranku untuk memberikanmu hadiah atas kompensansi karena sempat mengacaukan kehidupanmu dengan berpura-pura menjadi diriku"


"Aku tidak pernah mengira bahwa kehidupanmu setelah keluar dari dalam penjara akan berpengaruh buruk bagi masa depanmu"


"Ku kira kau bisa cepat melupakan masa lalumu yang buruk"


"Hingga aku menyadari bahwa kutukanmu yang kau lantunkan padaku, di restoran itu benar-benar terjadi"


"Kau mengutukku agar aku tidak akan pernah merasakan bahagia lagi selama kau masih menaruh dendam padaku"


"Dan kau tahu ucapanmu yang ku kira konyol itu, benar-benar membuatku terus memikirkannya"


"Perlahan kesehatan ibuku mulai menurun sejak ayahku masuk ke dalam penjara hingga ia tidak bisa mengenali putrinya sendiri dan menganggap bahwa aku adalah wanita asing yang menumpang tinggal di rumah menantunya sendiri"


"Entah apa yang kau lakukan bersama ibuku selama ini saat aku terbaring koma, yang aku tahu...."


"Ibuku berharap aku adalah dirimu yang memiliki hati yang baik dan hangat"


"Terlebih sikap seo jin yang selalu menganggapku seperti dirimu"


"Kau tahu, sebelum kau menggantikan posisiku, park seo jin tidak pernah bicara santai dan hangat denganku"


"Ia selalu bicara formal dan menganggapku seperti atasannya bukan sebagai istrinya"


"Seo jin bahkan mengelus kepalaku dengan lembut untuk pertama kalinya saat aku mengeluh padanya yang merasa lelah karena menemani ibuku yang terus tantrum dan lupa siapa diriku"


"Aku muak!" Seru deok mi


"Semua orang yang berada di sekelilingku menganggapku adalah dirimu, bahkan seorang pelayan rendahan seperti bibi min..."


"Kini mulai berani menyelaku saat aku berbicara dan melarangku untuk minum anggur di siang hari" ucap deok mi yang mulai emosi


"Kau...hanya menggantikan diriku tidak lebih dari 3 bulan, tapi kenapa semua orang mengira dan percaya deok mi benar-benar berubah padahal nyatanya mereka sudah tahu bahwa kau adalah gadis peniru" ucap deok mi


"Seolah dewa sedang menghukumku. ia terus memaksaku untuk mengingat dirimu dan semua perbuatan salahku padamu"


"Ini adalah penghinaan bagiku"


"Sama saja mereka menganggap aku telah mati dan tidak selamat dari koma lalu kehidupanku digantikan dengan sifatmu dan semua orang menyukaimu!"


"Aku membenci itu kim hye jin, sangat benci"


"Seolah tidak ada lagi orang yang mengenal sung deok mi yang asli dan dengan mudah digantikan dengan sosok dirimu yang merupakan sung deok mi palsu"


"Aku tidak memiliki siapapun yang mengenal kepribadianku, hanya andreas yang mengenalku"


"Apakah harusnya aku tidak perlu bangun dari koma?"


"Mungkin semua orang akan bahagia jika aku mati dan meninggalkan dunia ini karena tidak ada satupun orang yang mencintaiku"


"Kau pikir hanya dirimu saja yang menderita kim hye jin?"


"Aku juga menderita!" Seru deok mi


"Bukankah harusnya kau sadar?" Ucapku menyela ucapan deok mi


" Itu artinya kau harus merubah tabiatmu yang buruk itu menjadi kepribadian yang baik dan tidak memandang orang lain dengan rendah" lanjutku


"Ania*(tidak)" sanggah deok mi


"Ini bukanlah masalah aku harus merubah sikapku atau tidak"


"Tapi aku harus meminta maaf padamu dengan cara yang benar, dengan begitu hatiku akan merasa lega dan aku menjalani kehidupanku dengan baik tanpa perasaan bersalah terhadapmu" ucap deok mi


"Kau tahu, kau membuatku merinding" ucapku pada deok mi


"Seseorang yang angkuh dan antagonis sepertimu, merasa bersalah kepadaku? Apa kau bercanda?"


"Aku tidak akan tertipu lagi olehmu" ucapku yang tetap menjaga pertahananku agar tetap siaga pada deok mi


"Kau mampu mengendalikan orang-orang di sekitarmu untuk tunduk terhadapmu" ucapku


"Bahkan yang aku tahu, meskipun kau melakukan kesalahan apapun berkali-kali, akan ada pria yang akan selalu memaafkanmu untuk kesekian kalinya bagaikan seekor anj*g yang setia kepadamu"


"Tidak lain dan tidak bukan itu adalah suamimu"


"Dan kau melepasnya dengan cara menggugat cerai dirinya?"


"Apa kau sedang bercanda ataukah kau sedang mengetes kesetiaanya terhadapmu?" Tanyaku penasaran


"Sesuai ucapanmu kim hye jin, aku mampu mengendalikan orang lain sesuai keinginanku tapi..."


"Apa kau pikir itu adalah cinta?" Tanya deok mi balik


"Tentu saja bukan, seperti katamu.."


"Aku memiliki laki-laki yang setia berada di sampingku layaknya seekor anj*g tapi bukan itu yang ku maksud dengan perasaan yang ku sebut cinta"


"Perasaan cinta yang sesungguhnya ialah, ketika kau merasa nyaman dan ingin terus berada di sampingnya setiap saat, bukan karena paksaan melainkan sebuah perasaan rindu saat kau tidak melihat dirinya"


"Sikap hangat seo jin saat ia menganggapku sepertimu lah yang aku inginkan"


"Bukan seperti seekor anj*g yang setia pada majikannya"


"Tapi sayangnya sikap hangat itu hanya bisa ia berikan padaku saat ia belum menyadari bahwa aku adalah sosok deok mi yang ia anggap sebagai majikannya"


"Ironinya, aku menyukai sikap park seo jin yang hangat saat ia menganggapku sebagai dirimu"


"Jika aku meminta seo jin untuk bersikap hangat saat bersamaku layaknya ia menganggapku seperti sosok dirimu, ku rasa aku hanya akan merasakan kebahagiaan semu"


"Dimana sebenarnya ia menyukai sosok wanita sederhana seperti kim hye jin bukan wanita rumit seperti sung deok mi"


"Dan aku menyadari bahwa tipe wanita idaman suamiku telah berubah akibat kesalahanku sendiri karena telah menyia-nyiakan kasih sayangnya terhadapku yang tulus"


"Kini ku rasa karma membalasku, setelah aku mulai menyukai park seo jin dan melupakan mantan kekasihku yang telah meninggal, ia justru menyukai sosok dirimu bukan diriku lagi"


"Aku pernah memutuskan bersikap egois hanya untuk mendapatkan kebahagiaan semu itu dengan cara tetap mempertahankan seo jin hingga akhir hayatku"


"Tapi kau tahu apa yang seo jin lakukan di belakangku meskipun kau jauh dari pandangannya dan kau tidak melakukan apapun untuk menggoda seo jin?" Tanya deok mi


"Diam-diam ia mencari tahu bagaimana kehidupan yang kau jalani setelah ia menyadari bahwa kau selama ini tidak berada di sisi hajung"


"Setelah ia tahu bahwa kehidupanmu sangat menyedihkan di korea, hari-hari buruk mulai terjadi lagi"


"Bahkan aku tidak bisa berharap aku akan mendapatkan kebahagiaan semu lagi dari park seo jin"


"Ia sering terlihat melamun dan tidak fokus dengan dunia sekitarnya"


"Seolah berita buruk tentang kehidupan yang kau jalani selama kau tinggal di korea, mempengaruhi kehidupan di dunia seo jin"


"Yang aku tahu jika aku tetap mempertahankan seo jin untuk tetap berada di sisiku, tidak akan ada satupun yang akan mendapatkan kebahagiaan"


"Yang ada...aku hanya akan melihat detik-detik jiwa seo jin yang perlahan-lahan lepas dari tubuhnya jika aku terus memaksa dirinya untuk tetap terus berada di sisiku"


"Dengan kata lain, aku akan membiarkan park seo jin hidup seperti zombie karena jiwanya terus keluar dari tubuhnya yang terus memikirkan kehidupanmu yang sedang terpuruk"


"Pengalihan seo jin dari dirimu hanyalah bekerja"


"Siang dan malam ia terus bekerja dan mulai jarang pulang ke rumah. Ini mengingatkanku kembali ke masa lalu saat ia berusaha untuk tidak memikirkanku saat aku berkencan dengan pria lain saat andreas masih hidup" ucap deok mi


"Oleh sebab itu saat aku mulai menyadari bahwa tidak akan ada kebahagiaan lagi antara aku dan seo jin..."


"Aku memutuskan untuk melepasnya dengan cara menggugat cerai park seo jin agar ia bisa kembali menjadi manusia lagi seperti dulu" ucap deok mi


"Tentu saja ada tanda tanya besar yang tampak di wajahnya seo jin saat aku memintanya untuk menandatangani surat ceraiku dengannya"


"Namun aku menjelaskan padanya, hanya ini bantuan yang bisa kuberikan padanya atas semua kebaikan yang pernah ia berikan padaku selama ini"


"Aku tidak ingin menjadi bagian tanggung jawabnya yang justru membuat kehidupannya menderita meskipun ia tidak pernah mengatakan hal itu padaku"


"Aku sangat tahu watak park seo jin yang satu ini"


"ia adalah pria yang bertanggung jawab tidak perlu diragukan lagi, tapi sayangnya ia tidak pandai dalam menyembunyikan ekspresi wajah sama seperti dirimu yang mudah ditebak hanya melalui mimik wajah"


"Seo jin menderita karena diriku, aku sangat tahu itu"


"Namun aku hanya orang egois yang berusaha pura-pura tidak tahu apapun"


"Tapi pada akhirnya, aku sendiri yang menderita karena melihat dirinya tersiksa seperti itu"


"Bukankah aku wanita yang aneh?" Tanya deok mi padaku


"Kau tidak aneh" sanggahku


"Benarkah??" Tanya deok mi yang masih tidak percaya dengan jawabanku


"Kau bukan aneh, kau hanyalah wanita gila di mataku" ucapku datar


"Hahaha....baiklah kim hye jin, kau bebas mencaciku jika hal itu membuatmu lega dan dendammu terhadapku hilang" ucap deok mi


"Sayangnya aku tidak mudah memaafkan orang sepertimu"


"Ku rasa kau sedang bermimpi jika mendapatkan pengampunan dariku" ucapku ketus


"Kau lebih pendendam dari yang ku kira" ucap deok mi


"Apa kau tidak berterima kasih padaku? Karena aku sudah mengajukan surat cerai pada seo jin, ia bisa pergi ke kampung halamanmu untuk menjemputmu hingga kau bisa kembali lagi ke sini" ucap deok mi


"Aku tidak pernah mengharapkan kedatangan seo jin ke korea" ucapku berdalih


"Yang aku tahu, aku tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan kalian berdua"


"Jika saja seo jin tidak ikut campur dalam masalah keluargaku, dan ia tidak seenaknya mengatakan pada kedua orang tuaku tentang kejadian buruk di hotel parkhyat, aku tidak akan mungkin kembali ke sini untuk melanjutkan kuliahku" ucapku pada deok mi


"Jika kau merasa park seo jin saat ini tidak menyukaimu lagi dan tergila-gila dengan diriku..."


"Harusnya kau berusaha lebih keras lagi untuk mengembalikkan perasaan seo jin seperti dulu yang masih mencintaimu, deok mi" ucapku


"Jika kau bertanya padaku bagaimana caranya? Aku tidak tahu."


"Cari jalan keluarnya sendiri karena sejak awal kau yang membuatnya menjadi berantakan"


"Dan kini kau ingin menyusunnya lagi seolah tidak terjadi apapun" ucapku


"Dan satu hal lagi..." ucapku sebelum mengakhiri percakapanku pada deok mi


"Penderitaanmu tidak sebanding denganku, sung deok mi"


"Setidaknya kau tidak pernah mengalami gangguan kecemasan hingga membuatmu mengalami sesak nafas dan bisa berjumpa dengan kematian kapanpun dan dimanapun hanya dalam waktu kurang dari satu menit"


"Setidaknya kau tidak perlu cemas seperti diriku yang takut kehilangan akal dan lupa siapa diriku sebenarnya lalu menjadi wanita gila sungguhan yang bisa melukai diri sendiri maupun orang lain"


"Setidaknya hidupmu jauh lebih tenang dibandingkan diriku yang merasa seolah seseorang sedang mengejarku untuk membunuhku dan mati secara mengenaskan di tangannya"


"Kau tidak pernah tahu dan tidak pernah membayangkan, neraka macam apa yang telah kau berikan padaku akibat keegoisanmu"


"Kau...."


"Benar-benar membuat kehidupanku  dan masa depanku sangat berantakan hingga membuatku menjadi serpihan debu yang panas"


"Jika kau merasa bersalah dan khawatir aku tidak akan pernah memaafkanmu, kau benar"


"Karena hingga akhir hayatku, aku tidak akan pernah memaafkan semua perbuatanmu padaku, sung deok mi"


"Hiduplah dengan perasaan bersalahmu padaku selama akhir hayatmu dan kubur bersama peti matimu agar dewa bisa melihat orang macam apa kau selama hidup di dunia ini?" ucapku dingin pada deok mi lalu pergi meninggalkan dirinya yang masih tertegun memandangku

__ADS_1


Aku pergi meninggalkan deok mi dan keluar melewati pintu dari rumah yang besar itu


__ADS_2