
update ahh di hari pertama puasa ehhe...
šššššš
Kim Hye Jin pov
"Ahhh....."
"Jadi tuan muda itu masih belum menyerah denganmu?" Tanya emma yang telah meneguk bir kalengannya saat ia mengunjungi apartementku di akhir pekan
"Aku bingung harus memberi jawaban apa ke hajung" ucapku jujur pada emma tentang ucapan hajung saat ia mengantarku pulang ke apartement tempo hari
"Kenapa kau harus bingung?" Tanya emma
"Bukankah sudah pasti dengan jawabannya?"
"Kau bodoh jika menolaknya" sewot emma
"Bukan masalah itu bodoh!" Ucapku kesal pada emma
"Lantas apa masalahnya? Bisa kau beritahu padaku?" Tanya emma lagi penasaran
"Kau tahu emma bagaimana aku mengalami kejadian yang sangat buruk dalam hidupku"
"Aku hanya merasa..... ini bukan waktu yang tepat untuk menerima perasaan hajung" ucapku pada emma mencoba menjelaskan
"Kim hye jin" panggil emma
"Aku ingin bertanya padamu?"
"Mau sampai kapan kau akan terus mengingat kejadian buruk yang tidak menyenangkan untukmu?" Tanya emma
"Semua sudah berakhir, hye jin. Kau harus ingat itu"
"Bahkan orang yang seharusnya mendapatkan ganjaran akibat perbuatannya, sudah berada di tempat yang seharusnya"
"Kau harus move on dari masa lalumu..."
"Kau sudah melalui semua malapetaka itu dengan baik"
"Dan sudah saatnya kau melihat masa depanmu dan menjalani masa sekarang" ucap emma menasehatiku
"Entahlah emma, aku hanya saja merasa takut jika aku bahagia, akan ada kejadian buruk yang akan menimpaku" ucapku tentang kecemasan yang ku alami
"Apa kau sudah mengatakan hal ini ke psikiatermu?" Tanya emma
Aku hanya terdiam saat emma menanyakan hal itu padaku
"Jangan bilang kau sudah lama tidak mengunjungi psikiatermu untuk berkonsultasi" tebak emma
"Aku sudah sembuh emma.." sangkalku
"Belum hye jin, kau belum sembuh dari rasa sakit masa lalumu" ucap emma memotong kalimatku
"Jika kau masih mencemaskan tentang masa depanmu, berkonsultasilah pada psikiatermu seperti yang biasa kau lakukan selama ini hingga hampir setahun lamanya"
"Itu akan sangat membantumu" ucap emma
"Aku memang bukan seseorang yang perofesional untuk mengatasi masalah yang kau alami tapi..."
"Sebagai sahabatmu aku hanya ingin memberitahumu, kau pantas mendapatkan kebahagiaan hye jin"
"Tidak akan ada hal buruk lagi yang menimpa dirimu, semua akan baik-baik saja"
"Termasuk pendamping hidupmu di masa depan nanti, kau berhak memilikinya dan hidup bahagia dengan pasangan hidupmu"
"Lakukan apapun keinginanmu, jika kau belum pernah mencobanya, cobalah dan kau bisa mengetahui, kau menyukainya atau tidak"Ā saran emma
" jadiĀ maksudmu aku harus mencoba menjalin hubungan dengan hajung? setelah itu aku baru bisa mengetahui bagaimana perasaanku padanya?" tanyaku mencoba untuk memahami maksud ucapan dari emma
"yah...bisa dibilang seperti itu" ucap emma membenarkan penjelasanku
"Jika kau merasa bahagia meskipun kau hanya melihat sosok dirinya saja dari kejauhan, itu berarti kau menyukainya" ucap emma
" ahh....seperti yang aku rasakan saat melhat richard?" tanyaku balik
"oh ayolah hye jin...richard bukan seseorang yang kau cintai, kau hanya mengaguminya saja. itu tidak termasuk ke dalam kisah cintamu" sanggah emma
"yang ku maksud adalah perasaan yang kau rasakan saat kau bersama CEO perusahaan di tempatku bekerja" ucap emma yang membuatku menghembuskan nafas
"Tidak hanya perasaan bahagia saja saat kau melihatnya"
"Kau bisa merasakan perasaan dimana kau akan meledak jika tidak mengungkapkannya"
"perasaan dimana kau merasa seolah duniamu hampa dan khawatir saat ia tidak ada di depan matamu"
"perasaan dimana hatimu terasa sakit saat tahu ia telah mengkhianatimu"
"dan perasaan dimana saat kau masih mencintainya tapi kau mengatakan bahwa kau membenci dirinya" ucap emma dengan sok tahu
"emma-aa entah kenapa setiap kau bicara seolah kau paling tahu segalanya tentang isi dunia ini" ucapku menyindir
"kau menyindirku atau memujiku?" tanya emma
"terserah bagaimanaĀ kau menganggapnya seperti apa" ucapku asal
" apa kau masih ingat tentang ucapanmu yang mengatakan soal isi hati hajung jika ia menyukaiku?"Ā ucapku mengingatkan emma tentang ucapannya saat ia di rawat di rumah sakit karena bertemu dengan pembunuh berantai yang hampir membuatnya kehilangan nyawa
emma memutar bola matanya pertanda mencoba untuk mengingat kembali tentang kejadian itu
"hahaha...apakah tuan muda tampan itu benar-benar mengatakannya padamu?!" seru emma
"sangat sesuai dengan apaĀ yang kau ucapkan emma" balasku
"apakah kalimat itu berasal dari sebuah novel atau film yang belum pernah aku lihat?" tanyaku pada emma
"itu adalah kalimat klise yang sering diucapkan oleh para pria pada umumya, hanya saja kalimat klise itu sebenarnya merupakan isi hati dari seorang pria sesungguhnya jika kau adalah wanita yang peka"Ā
"sayangnya kau bukanlah seorang wanita yang peka, kim hye jin. oleh sebab itu, kau tidak bisa membedakan ucapan tulus seorang pria padamu atau hanyalah sebuah gombalan" sindir emma lagi padaku
"Begini saja...ku beri satu rahasia yang belum ku katakan padamu kim hye jin, semoga saja dengan aku mengatakan hal ini, kau tidak larut lagi dalam kegalauanmu" ucap emma
"Apa itu?" Tanyaku penasaran
"Tapi kau harus berjanji padaku hye jin..."
"Kau tidak boleh menghentikkanku berbicara di tengah-tengah, dengarkan hingga aku selesai bicara padamu, ok?" Ucap emma mencoba membuat kesepakatan denganku
"Aissh...berhentilah bermain-main deganku" ucapku memperingatkan emma
"Ya sudah kalau tidak mau membuat kesepakatan terlebih dahulu, bergalaulah sepuasmu, gadis kepala batu" ucap emma kesal
Aku menghembuskan nafasku mencoba untuk bersabar menghadapi sikap emma yang sedang menyebalkan
"Baiklah aku berjanji tidak akan menyuruhmu berhenti saat bicara" ucapku akhirnya menyerah
Emma langsung tersenyum sumringah saat mendengarku menyerah dan memilih bersepakat dengannya
"Kau tahu...sebenarnya beredar gosip ini di kantorku, tapi aku yakin ini bukanlah sekedar gosip semata melainkan sebuah fakta yang belum rilis "
"Aku sangat yakin berdasarkan dari intuisiku" ucap emma dengan yakin
Aku masih mendengar emma dengan seksama
"Kabarnya..."
"Park seo jin sudah bercerai dengan istrinya, sung deok mi" ucap emma yang membuatku malas mendengarnya
Aku memutarkan kedua bola mataku pertanda tidak tertarik dengan ucapan emma dan langsung berwajah masamĀ
Namun aku tidak menyuruh emma berhenti berbicara karena aku sudah berjanji dengannya untuk tetap mendengarkan hingga ia selesai
"Karena salah satu dari mereka berdua mengatakan sejak awal pernikahan mereka tidak didasari oleh rasa cinta"
" setelah lama berpikir, akhirnya mereka sepakat untuk bercerai setelah sung dong il resmi dinyatakan bersalah oleh hakim, namun tetap menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan perusahaan atas dasar hubungan persahabatan" ucap emma
"Kabar baiknya kini mereka berdua sudah melajang dan tidak ada ikatan apapun selain bisnis perusahaan" ucap emma dengan sumringah
"Lalu apa hubungannya dengan kegalauanku, emma?!" Ucapku kesal karena menyesal mendengarkan ia selesai bicara
"Tentu saja itu ada hubungannya, dengan aku memberitahukan hal ini padamu, kau masih bisa memiliki kesempatan untuk menguji perasaanmu terhadap park seo jin" ucap emma
"Dengan begitu, hatimu tidak perlu galau lagi" ucap emma
"Bisakah kau tidak menyebut nama itu lagi di hadapanku?!" Ucapku sewot
Entah kenapa setiap aku mendengar namanya, seolah terdapat sengatan listrik yang langsung mengalir ke seluruh tubuhku
"Why?!" Seru emma lagi
"Apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya?" Ucap emma mengujiku
Aku menatap emma dengan tajam
"Kau tahu hye jin, kau adalah orang yang tidak pandai dalam menyembunyikan perasaan" kritik emma
"Jika kau tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya, mengucapkan namanya tidak akan menjadi masalah bagimu" ucap emma
"Aku salah meminta pendapatmu" ucapku menyesal
"Baiklah aku akan menerima perasaan hajung" ucapku memutuskan
"Apa kau yakin akan bercinta dengannya?" Tanya emma seolah ia tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berucap
"Kau gila!!" Teriakku
"Kenapa aku harus bercinta dengannya?!" Seruku
"Ohh...ya ampun hye jin, memang kau pikir jika kau menerima perasaan hajung, kau tidak akan bercinta dengannya?" Tanya balik emma padaku
"Menerima perasaan hajung tidak hanya sekedar bercinta emma...."
"masih banyak kegiatan lain yang bisa membuktikan perasaanku pada hajung" ucapku menjelaskan
"Tapi bercinta dengannya adalah salah satu dari kegiatan yang membuktikan bahwa kau memiliki perasaan yang sama terhadap tuan muda tampan itu" ucap emma blak-blakan dan membuatku memijit kepalaku perlahan dengan kedua tanganku
"Apa salahnya hye jin jika kau bercinta dengannya?" Tanya emma
"Kau bisa bermadu kasih dengan tuan muda tampan itu, ku dengar ia sangat handal dalam hubungan percintaan"
"Menurut gosipnya, banyak wanita yang mengantri hanya untuk tidur dengan hajung"
"Dan sekarang banyak wanita yang patah hati karena hajung sudah benar-benar jatuh hati pada seorang gadis dan ia enggan bercinta dengan gadis lainnya, ia hanya ingin bercinta dengan orang yang dia cintai"
"Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah dirimu"
"Dan jahatnya kau memberi peraturan pada pria menawan itu untuk tidak menyentuhmu sebelum kau mengijinkannya"
"Apa kau adalah sebuah lukisan monalisa atau barang antik dari abad ke 10 hingga ia tidak boleh menyentuhmu?" Sindir emma
Astaga!!
Kenapa mulut gadis ini terus mengalir seolah tidak ada rem di dalam mulutnya
"Apa kau lupa emma dengan prinsip hidupku?!" Seruku untuk menghentikkan ucapan emma
"Aku dan hajung belum menikah, aku tidak akan pernah berhubungan tubuh dengan lelaki lain selain suamiku!" Seruku.
Tapi ku rasa ada yang salah dengan ucapanku
Aku berhenti bicara dan tiba-tiba diam termenung saat mendengar ucapanku sendiri yang harusnya ku ralat
"Kau dan hajung sudah sama-sama dewasa, hye jin" ucap emma memecah keheningan sambil menggenggam tangan kiriku dengan erat bermaksud untuk menguatkanku
"Dan kau..."
"bukan seorang perawan lagi yang selalu kau bangga-banggakan terhadap semua orang dengan statusmu itu" ucap emma yang terdengar menyakitkan perasaanku
"Hajung sudah tahu semua tentangmu termasuk malam kecelakaanmu dengan pria lain yang berakhir membuatmu kehilangan sesuatu berharga yang kau jaga selama ini" ucap emma
"Maaf...aku harus mengatakan hal ini padamu hye jin, agar sifatmu yang keras kepala itu bisa melunak dan mendengar ucapanku"
"Seperti yang ku bilang, kau harus move on dari semua masa lalumu"
"Jika kau tidak bisa melupakan masa lalumu, kau akan terjebak dalam ingatan kelam itu selamanya dan justru melupakan masa depanmu" ucap emma
"Kau memiliki kesempatan lagi kim hye jin untuk bisa merubah masa depanmu agar kau bisa hidup bahagia"
"Jika kau memutuskan untuk menerima perasaan hajung yang tulus padamu, buktikanlah kim hye jin"
"Setidaknya ijinkan dia untuk menyentuhmu dan kau akan tahu bagaimana perasaanmu terhadap hajung"
"Jangan membuat perasaan tulus hajung terhadapmu hanya kebahagiaanĀ semu untuk mengalihkan kisah masa lalumu"
"Karena semakin lama kau menahan hajung seperti ini, semakin lama kau menyiksa perasaannya"
"Biarkan hajung tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadap dirinya" ucap emma sambil menepuk perlahan bahuku
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku setelah mendengar ucapan emma
Aku tahu tidak seharusnya memperlakukan hajung seperti itu, tapi...
Jika aku menolak perasaan hajung pun, ia tidak akan menyerah begitu saja
Ia pasti akan berusaha lebih keras untuk menempel padaku selama belum ada seseorang yang berdiri di sampingku
Aku yang harusnya memutuskan bagaimana perasaanku sebenarnya kepada hajung
*****
Keesokan harinya setelah melalui pembicaraan yang cukup serius dengan emma, aku melakukan aktivitas biasaku yang membosankan
Sudah hampir 4 jam aku tidak mengucapkan sepatah katapun di ruangan ini, hanya sesekali helaan nafasku yang sengaja ku lakukan untuk menyemangati diriku sendiri
Hingga terdengar suara auman keras dari dalam perutku dan membuat mahasiswi lainnya yang tadinya sedang berfokus, justru memandangku dengan tatapan aneh, lalu tak selang beberapa lama ada beberapa mahasiswi yang berusaha melawan tawa gelinya dengan cara menutup mulutnya menggunakan kepalan tangannya karena tingkah perut konyolku yang tidak tahu tata krama
"Sssst...."
Terdengar suara seseorang yang memperingatkan mahasiswi lainnya yang terdengar cekikikan
Aku yang merasa canggung dengan sikap konyol perutku, memutuskan keluar dari dalam perpustakaan agar tidak mengganggu yang lain
Haah...
Memalukan bagaimana mungkin suara keroncongan perutku sangat keras seperti orang yang tidak makan berhari-hari?
Setelah ku coba mengingat kembali kejadian kemarin, ternyata terakhir aku makan adalah sore kemarin saat aku mengobrol dengan emma, setelah itu aku bangun pagi lalu melewatkan sarapan dan langsung menuju ke perpustakaan kampus
Aku berencana memesan makanan melalui aplikasi dan di antar ke kampusku untuk menghemat waktu tanpa harus keluar dari sini
Aku terkejut ketika melihat riwayat panggilan handphoneku yang sebelumnya aku non aktifkan agar aku bisa fokus mengerjakan skripsi di perpustakaan
sebanyak 20 kali hajung terus menghubungi handphoneku dan 15 notif pesan yang masuk ke dalam inbox handphoneku
Hajung-ssi
Apakah kau adalah seorang rentenir?
Kenapa kau terus-terusan menelponku dengan jeda waktu yang tidak terlalu jauh
Lagipula, apakah tugas utama seorang CEO adalah meneleponi seseorang saja?
Apakah pekerjaannya sesantai itu?
Terkadang aku merasa heran dengan sikap hajung yang bekerja terlihat seperti orang yang sedang bermain-main
Setelah membaca notif pesan dari hajung yang mengatakan bahwa ia menunggu telepon dariku, aku segera menghubunginya kembali bermaksud memperingatkan dirinya untuk bekerja dengan serius
'tuut....'
"halo hye jin"sahut hajung cepat saat aku baru saja mendengar nada sambung yang pertama
cepat sekali ia menjawab panggilan telepon dariku? apakah ia sedang senggang?
"ada apa kau menghubungiku hajung"tanyaku
"tentu saja ingin mengingatkanmu tentang janji kita besok malam" ucap hajung di sebrang telepon
"maksudmu janji makan malam dengan keluargamu"?"tanyaku memastikan
"iya"ucap hajung singkat
"bukankah kita masih harus melewatkan satu malam lagi sebelum pertemuan makan malam dengan keluargamu?" Tanyaku
"Iya" jawab hajung singkat lagi
"Itu masih sekitar kurang lebih 30 jam lagi!" Seruku sambil menatap jam tanganku
"iya tapi kau harus melakukan beberapa persiapan sebelum acara makan malam besok"ucap hajung
"persiapan?"tanyaku ulang
"iya persiapan"ucap hajung meyakinkan
"bukankah kita hanya makan malam dengan keluargamu saja?"tanyaku lagi
"kau harus tampil menawan di hadapan keluargaku hye jin, khususnya di depan kedua orang tuaku" ucap hajung membalas pertanyaanku
"apakah aku perlu melakukannya? bukankah kau bilang padaku hanya makan malam santai saja dengan keluargamu?" Tanyaku
"Tapi kenapa kau bersikap seolah ini seperti acara makan malam orang yang ingin melamar pernikahan?" Tanyaku lagi
"memang santai...tapi tetap saja kau harus mepersiapkan penampilanmu untuk makan malam kali ini" jawab hajung
"Anggap saja makan malam dengan keluargaku besok adalah latihan untuk makan malam acara lamaran pernikahan" ucap hajung santai lagi
"Mworago?!*(apa katamu?!)" Seruku saat menanggapi serius ucapan hajung
"Sekarang kau dimana?" tanya hajung santai seolah-olah ia tidak mendengar ucapan terkejutku
"tentu saja aku di kampus" ucapku jelas
"aku tahu, sekarang aku juga sedang di kampusmu. apakah kau di sekitar lorong perpustakaan?"tanya hajung yang membuatku terkejut
"chakaman!* (Tunggu dulu!) kau bilang dimana tadi? kampusku?"tanyaku lagi untuk memastikan aku tidak salah dengar
"mm...ya. aku sedang di kampusmu"ucap hajung lagi
"ahh...aku sudah melihatmu hye jin, kau sedang memakai blouse hijau muda kan?"tanya hajung memastikan
aku melihat sekelilingku untuk menemukan sosok hajung
"kau tahu hye jin, warna cerah itu sangat cocok denganmu"ucap hajung dan seketika ia muncul tepat di belakangku lalu membuatku terkejut
wajah hajung terlihat sumringah saat ia menemukanku di kampus yang lumayan luas ini
tentu saja dengan munculnya hajung di kampusku, membuat beberapa mata mahasiswi lainnya terpaku pada pria ini
hajung terlihat bersinar sendiri di area kampusku, bagaimana tidak? pria tinggi semampai dengan setelan jas berwarna biru tuaĀ yang sangat pas melekat ditubuhnya ituĀ begitu menawan, ditambah dengan rambutnya yang ia buat miring ke samping sehingga memperlihatkan keningnya yang lebar dan menambah daya kharismatiknya
Mata sipit hajung nyaris tidak terlihat karena tersenyum padaku membuat kesan wajah sinis dan antagonisnya hilang seketika dan berubah menjadi sosok yangĀ menggemaskan serta sosok yang hangat
"ayo kita pergi, kepala pelayan bruce sedang menunggu kita tepat di gedung utama kampusmu"ucap hajung yang langsung menuntunku dengan cara melingkarkan tanganku ke lengannya
"ah..tunggu dulu hajung-ssi!'ucapku menghentikkan hajung
"apa kau sedang tidak ada kerjaan hari ini?" Tanyaku tiba-tiba
"tentu saja ada, tapi aku sudah melimpahkannya ke sekertarisku, biarkan ia yang mengerjakannya. aku hanya perlu tanda tangan saja" ucap hajung
"tenang saja, menjadi CEO itu adalah pekerjaan yang mudah bagiku"ucap hajung meremehkan
"ayo tunggu apa lagi? apa ada hal yang belum kau selesaikan di kampus?"tanya hajung
"tentu saja ada, aku harus berkonsultasi mengenai skripsiku dengan dosen pembimbingku, ada beberapa pertanyaan yang harus aku ajukan padanya"ucapku
"baiklah lakukan setelah kau pergi denganku"ucap hajung acuh
"tapi aku harus melakukannya hari ini" ucapku bersikukuh
hajung menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat pertanda ia harus tetap sabar menghadapiku
"apakah dosen pembimbingmu tidak butuh istirahat makan siang?"tanya hajung
"Ku rasa ia membutuhkan makan siang yang banyak untuk bisa menghadapi mahasiswi yang keras kepala sepertimu"
"Aku yakin dosen pembimbingmu pasti kewalahan menghadapi rentetan pertanyaan darimu" ucap hajung sambil menyentil keningku dengan jari telunjuknya secara perlahan
"sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu tapi..karena sikap keras kepalamu, aku harus mengatakannya" ucap hajung
"kau tahu, perlu usaha yang keras untuk bisa kabur dari ruanganku"ucap hajung yang membuatku terkejut
"sejak aku menjadi CEO, sekertaris min begitu cerewet melebihi ibuku yang sedang mengomel" ledek hajung
"ia seperti wanita penyihir bagiku, tanpa henti ia terus memberikan begitu banyak pekerjaan dan meminta pendapatku mengenai pendapatan yang di dapat oleh perusahaan cabang lain" ucap hajung menjelaskan
"Setelah aku tahu kau kembali ke sini, hanya kau satu-satunya yang bisa membuatku sedikit bernafas lega dan membuatku relax"
"Seolah kau adalah basecamp tempatku beristirahat sebelum memulai perang kembali" ucap hajung yang membuatku menyipitkan kedua mataku
"Pokoknya ayo kita makan siang bersama dan membeli beberapa pakaian untukmu sebelum acara makan malam besok" rengek hajung
Entah kenapa aku merasa ia bukan seorang CEO perusahaan bagiku, melainkan anak kecil yang terus menempel padaku dan merengek jika ingin meminta sesuatu
Jika aku mengabaikannya justru akan semakin menyebalkan sikapnya dan aku akan kewalahan untuk menghadapinya
"Baiklah ayo kita pergi dan jangan membuang waktu lagi" ucapku sambil menarik lengan hajung
Sesuai dengan ucapan hajung, selesai makan siang bersama, aku dan hajung mampir ke sebuah butik tempat desaigner ternama dan ia membelikanku beberapa pakaian untuk makan malam bersama dengan keluarga hajung
hajung memilihkanku sebuah mini dress one shoulder berwarna hitam dan memintaku untuk mencobanya
"Hye jin, coba kau pakai ini. Aku yakin ini pasti akan pas di tubuhmu" ucap hajung bersemangat
Ia menungguku untuk berkomentar tentang pilihan pakaiannya untuk makan malam bersama keluarganya esok
Seketika aku berwajah masam dan memutar kedua bola mataku pertanda malas dan tidak tertarik dengan pilihannya
"Kau pikir kita akan pergi ke klub malam hhuh?!" Seruku
"Pilihlah pakaian yang tertutup sedikit" ucapku sambil melihat-lihat pakaian yang lain
"Baiklah aku akan memilih ini" ucapku
"Tidak harus dress kan? Yang penting harus tampil elegan" ucapku menyodorkan sebuah jumpsuit bermotif bunga dengan warna soft
"Tapi ini..menurutku kurang cocok untuk..." ucap hajung terputus
"Sudahlah...bayar pakaian itu dan ayo kita kembali ke tempat aktivitas masing-masing" pintaku Pada hajung dan memotong ucapannya sambil mendorong punggungnya agar ia berjalan cepat
"Baiklah, yang lainnya seperti sepatu dan tas, aku akan meminta sekertaris min untuk membelikannya hari ini" ucap hajung
"Hajung-ssi, aku punya sepatu dan tas yang cocok dengan jumpsuit ini"
"Jangan terlalu menghambur-hamburkan uang, kau tahu kan aku tidak menyukai hal itu?"Ā Ucapku tegas pada hajung
"Tapi aku masih ingin berkeliling mencari barang bersama denganmu..." ucap hajung merengek
"Jika kau masih ingin terus bersamaku, mampirlah ke tempat tinggalku." Ucapku
"Datanglah setelah kau selesai bekerja nanti, aku akan membuatkan makan malam untukmu" ucapku pada hajung agar ia berhenti merengek padaku
Seketika wajah hajung yang sedikit cemeberut berubah menjadi sumringah mendengar ucapanku
"Apakah aku boleh menginap di tempatmu malam ini?" Pinta hajung
"Lagi?!" Seruku
"Ku rasa kau harus membayar sewa bulanan karena terlalu sering menginap di kamar tamuku" ucapku meledek hajung
Terkadang hajung menginap di apartementku tapi tentu saja tidak sekamar denganku
Ada satu kamar kosong yang sengaja ku sediakan jika ada tamu yang terlalu malam berkunjung ke tempatku
Awalnya aku menyediakan kamar itu untuk emma jika ia sudah terlalu banyak meminum minuman alkohol miliknya yang ia titipkan di lemari es ku
Aku terlalu khawatir untuk membiarkan emma kembali ke apartement sewaannya tempat ia tinggal
Terlebih ia hanya tinggal seorang diri di sana, aku khawatir kejadian buruk yang menimpa emma akan terulang lagi seperti waktu malam itu
Secara tidak sengaja, emma menjadi sasaran korban selanjutnya dari pembunuh berantai yang sempat menghebohkan kota ini
Kejadian malam itu juga nyaris menghilangkan nyawaku, jika saja seo jin datang sedikit lebih lama, mungkin...
Aku akan mati di tangan pembunuh berantai yang gila itu.
Hingga sekarang jika aku tidak meminum obat penenangku, secara tidak sadar aku bisa merasakan kembali cengkaraman tangan pembunuh itu tepat melingkar di leherku
Seolah ia mampu meremukkan tulang leherku hanya dengan menggunakan satu tangan saja
Setiap aku mengingat kejadian itu, aku selalu menarik nafas dan menghembuskannya kembali dengan cepat
Seperti kata dokterku, itu hanyalah bagian dari masa laluku, tidak seharusnya terus selalu diingat.
Rasa trauma akibat kejadian buruk itu pasti ada, tapi hanya diriku sendiri yang mampu mengendalikannya
Aku tidak boleh kalah hanya karena rasa traumaku dan membuatku menderita seperti dulu layaknya orang bodoh
"Hye jin-ssi kau mau mampir ke cafe sebentar untuk membeli kopi?" Tanya hajung yang membuatku berhenti melamun
"Ahh..nne*(iya)" ucapku sambil tersenyum
sejak bertemu dengan hajung kembali, ia juga lumayan sering mampir ke tempatku untuk sekedar mengobrol hingga tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam
Aku menawarkannya untuk menginap di tempatku dan hajung menyetujuinya.
Semula ia hanya membawa beberapa pakaian ganti untuk pergi ke kantor saat pagi harinya tapi sepertinya, lemari pakaian kamar tamuku mulai agak penuh dengan pakaian hajung
Haaah...
Sejak kapan apartementku menjadi penuh dengan milik orang lain, pertama emma yang menitipkan minuman alkoholnya di lemari es ku dan sekarang lemari pakaian kamar tamuku juga mulai terlihat agak penuh karena hajung menitipkannya di dalam sana
Yah...
Setidaknya aku merasa tidak seperti tinggal seorang diri dan seperti memiliki teman layaknya tinggal di asrama tapi yang berbeda penghuni kamarnya tidak terlalu sering menempati, hanya barangnya saja yang ada
*******
'Ting tong'
Sebuah bel apartementku berbunyi saat aku membuat kaki ayam pedas untuk menu makan malam kali ini
Entahlah hajung menyukainya atau tidak, yang jelas ia mengatakan padaku untuk membuat masakan apa saja untuk makan malam kali ini asalkan aku menyukainya
Kebetulan aku sedang menginginkan kaki ayam yang sudah lama tidak aku makan
Aku bahkan rela mampir ke china town khusus untuk mencari toko yang menjual kaki ayam
Karena aku yakin toko di sekitar tempat tinggalku tidak ada yang menjual kaki ayam seperti yang aku inginkan
Kebanyakan dari mereka yang tinggal di sekitar apartementku mengonsumsi dada ayam atau beef
kepala ayam, jeroan atau tulang-tulangan, kebanyakan di buang oleh mereka, karena menurutnya hal itu tidak menyehatkan bagi tubuh mereka
Tapi berbeda denganku, aku menyukai makanan yang mereka pikir tidak menyehatkan itu.
aku segera berlari kecil menuju pintu untuk mempersilahkan hajung masuk ke dalam apartement dan membantuku memasak
begitu aku membuka pintu, aku dikejutkan oleh sebuah buket bunga yang disodorkan padaku hingga aku bisa mencium aroma bunga-bunga yang segar itu
"hajung-ssi?"panggilku untuk meyakinkan bahwa orang itu adalah sung hajung karena wajahku terhalangi oleh buket bunga
"apakah kau menyukainya kim hye jin?"tanya hajung setelah aku mendengar suaranya yang sedang berbicara denganku
"aku tidak meminta dibelikan bunga, tapi aku meminta dibelikan daun bawang dan juga beberapa lobak untuk persediaan kimchiku. kau tidak lupa kan membeli titipanku?" ucapku pada hajung yang seketika mengingat ucapanku melalui telepon sebelum hajung ke apartementkuĀ
hajung menghembuskan nafasnya saat mendengar ucapanku
"sudah ku duga, responmu akan dingin seperti ini"ucap hajung sambil menerobos masuk ke dalam apartementku dan menyerahkan titipanĀ belanjaanku
Ia langsung duduk di atas sofa
"wah...syukurlah kau tidak lupa dengan barang titipanku"ucapku sambil tersenyum sumringah
"jadi kau lebih menyukai bahan makanan itu dibandingkan dengan sebuket bunga ini" ucapĀ hajung setelah menoleh ke arahku dan melihatku tersenyumĀ
"Pergilah ke kamar mandi dan berendam di bak air hangat, setelah itu kita akan makan bersama" ucapku sambil tersenyum tidak menggubris kalimat hajung
"Baiklah...hanya kau gadis pertama yang berani menyuruhku yang menjabat sebagai CEO perusahaan besar untuk membelikan bahan makanan agar kau bisa memasak dan mengabaikan ucapanku" ucap hajung sambil berdiri dari posisi duduknya dan melepaskan kancing kemejanya
"Jika aku tidak menyukaimu, jangan harap aku bersedia membelikan lobak dan daun bawang itu ke pasar tradisional"
"Kenapa kau tidak membelinya di supermarket?" Tanyaku sambil berhadapan dengan hajung
"Aku sudah pergi ke dua supermarket yang berbeda. tapi kau tahu, ini amerika, mencari daun bawang dan lobak adalah suatu kegiatan yang cukup sulit"
"Untungnya kepala bruce tahu lokasi untuk membeli barang-barang itu selain di supermarket"
"Tapi ia ragu untuk membawaku ke sana, karena itu adalah tempat yang tidak mungkin bisa aku pijakkan kakiku di sana"
"Jika bukan karena kekuatan cinta, mungkin aku tidak akan sanggup menginjakkan kakiku di sana" ucap hajung yang penuh drama
"Pfftt....kau tahu hajung, mendengarmu bicara seperti ini seolah kau habis pergi ke medan perang dan mengorbankan nyawamu hanya untuk menemuiku" ucapku cengengesan
"Memang iya, ku kira pasar tradisional adalah tempat buruk yang pernah aku pijak karena area jalanannya yang becek hingga membuatku menghindari beberapa genangan air agar tidak mengotori pakaian dan sepatuku"
"Namun, tidak ku sangka, di sana aku menemukan sebuah toko bunga yang lumayan bagus, mereka menjual bunga indah yang segar dan sangat cocok untuk dirimu" ucap hajung sambil memegang ujung rambutku
"Kim hye jin..." panggil hajung
"Apa kau tidak ingin memberikanku reward atas perjuanganku karena telah mencari dan membelikanmu bahan masakan?" Tanya hajung
"Memangnya apa yang kau inginkan?" Tanyaku
"Hemm....biar ku pikir dulu, jika anak berprestasi, ia akan diberikan sebuah piagam oleh gurunya"
"Jika seorang atlet, akan diberikan medali emas sebagai rewardnya"
"Jika seorang anak yang rajin, akan diberikan pujian dan kecupan hangat oleh ibunya"
"Karena aku adalah seorang pria dewasa yang menyukaimu, ku rasa kecupan di bibir adalah reward yang bisa kau berikan kepadaku" ucap hajung
"Kim hye jin, maukah kau mencium bibirku karena sudah bersusah payah untuk membelikanmu daun bawang dan lobak?" Tanya hajung sambil menyelipkan rambutku ke belakang telingaku
Aku menatap hajung dan mulai menyipitkan kedua mataku
"Aigoo....dasar mesum!" Seruku sambil memukul bahu hajung
"Berhentilah bicara yang aneh dan bergegas ke kamar mandi, perutku sudah keroncongan karena menunggumu" ucapku lagi sambil pergi meninggalkan hajung dan menuju ke dapur
"Haah...."
"Memang sangat sulit untuk menggodamu, kim hye jin" gerutu hajung
"Apa?"
"Apa kau bilang sesuatu?" Tanyaku
"T-tidak, aku tidak mengatakan apapun" ucap hajung
"Jika tidak ada, jangan berdiri mematung seperti itu"
"Jangan salahkan aku jika kau selesai mandi, makanannya sudah dingin kembali" ocehku
"Yahh...kau memang sudah gila sung hajung menyukai gadis seperti kim hye jin" gumam hajung lagi
"Hajung-ssi aku bisa mendengarmu" protesku
"Uppss...sorry honey" ucap hajung cengengesan
Setelah beberapa menit berlalu, hajung sudah selesai mandi dan aku sudah siap duduk di meja makan
"Kemarilah dan santap makan malam kita" ucapku pada hajung yang sedang tertegun
"Hye jin-ssi bunga ini..." ucap hajung terputus
"Ahh...aku takut bunga yang indah ini akan mati, jadi aku memutuskan untuk meletakkannya di vas bunga berisi air dan ku pajang di atas meja makan dan sebagiannya lagi ku letakkan di atas lemari sepatu" ucapku
"Apa kau yang menghias meja makan menjadi cantik seperti ini?" Tanya hajung
"Ini seperti makan malam romantis dengan sepasang kekasih" ucap hajung yang terdengar berlebihan menurutku
"Busunsuriya*(apa maksudmu?)" Tanyaku
"Aku hanya memasang taplak meja dan menyiapkan peralatan makan dengan rapi lalu menambahkan lilin aroma therapi dan bunga pemberian darimu,Ā hanya itu saja" ucapku
"Tapi....aku takjub padamu karena bisa membangun makan malam romantis seperti ini" ucap hajung
"Benarkah?!" Seruku
Hajung mengangguk
"Baiklah aku akan mencoba menyusun meja makan seperti ini jika kau mampir ke rumahku di kunjungan berikutnya" ucapku
"Sekarang mari kita nikmati menu makan malam hari ini, tada~~~" ucapku sumringah saat membuka tutup panci keramik berwarna pink di atas meja makan
"Hemmm!!!...sangat harum sekali aromanya" seruku sambil menghirup aroma masakanku sendiri
"H-hye jin-ssi, ige boya?*(apa ini?)" Tanya hajung dengan ekspresi aneh
"Tentu saja kaki ayam" ucapku dengan polos
"K-kenapa kau makan makanan ekstrem seperti ini? Apa kau tidak tahu bahwa ayam selama hidupnya tidak pernah memakai alas kaki" ucap hajung yang membuatku kebingungan
"Apakah ada orang yang memproduksi sepatu khusus ayam?" Tanyaku balik
"Justru tidak ada! Makanya..." seru hajung yang membuatku sedikit terkejut
"Apa kau tidak merasa jijik bahwa ayam selama hidupnya tidak bisa membedakan mana kotorannya atau makanannya saat ia berpijak?" Tanya hajung
"Dan kau tahu, ayam selalu bermain di atas tanah yang tentu saja sangat jauh dari kata hygienis" ucap hajung
"Kenapa kau memikirkan gaya hidup ayam saat masih hidup sih?" Tanyaku
"Berhentilah memikirkan bagaimana kehidupan ayam selama masih hidup dan nikmati rasa kaki ayam yang lezat ini"
__ADS_1
"Aku sudah membersihkan kaki ayam ini sebisaku" ucapku pada hajung
"Apa kau sungguh menyikati jari-jari kaki ayam ini satu persatu?" Tanya hajung
"Apa kau bisa memastikan padaku bahwa tidak ada kotoran yang menyangkut diantara jari-jari kaki ayam ini?" Tanya hajung yang paranoid
"Yyya!!!*(hei) hajung-ssi kenapa kau menanyakan hal seperti itu seolah kau adalah tim audit makanan?" Tanyaku pada hajung
"Ku rasa tim audit makanan tidak berlebihan sepertimu" ucapku pada hajung
"Ahhh....sudah ku duga tidak mungkin kim hye jin berubah menjadi wanita anggun yang berkelas" gumam hajung
"Meskipun ia sudah menata meja makan menjadi cantik, aku lupa untuk mengecek menu masakannya"
"Dan benarkan, makanan kesukaannya di luar batas kewajaranku"
"Bagaimana mungkin kaki ayam menjadi menu utama untuk makan malam"
"Harusnya aku tidak terlalu berlebihan untuk memuji dirinya" oceh hajung
"Yyaa!!*(hei) hajung-ssi aku bisa mendengar ucapanmu dengan jelas"Ā
"Kau akan tahu bagaimana aku bisa menyukai kaki ayam setelah kau tahu rasanya" ucapku pada hajung
"Kau menyuruhku untuk mencicipi kaki ayam ini?" Tanya hajung
Aku mengangguk pada hajung pertanda mengiyakan atas pertanyaan hajung
"Tidak kim hye jin, aku tidak berniat sama sekali untuk mencicipinya" ucap hajung
"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku
"Apa kau takut kaki ayam ini tidak hygiene?" Tanyaku
"Tentu saja hye jin, banyak bakteri dan kuman yang masih tersisa di jari-jemari kaki ayam itu" ucap hajung
"Hajung-ssi tanpa kau makan kaki ayam ini, di ususmu juga penuh dengan bakteri" ucapku
"Tapi bakteri yang ada di ususku berbeda, itu adalah bakteri baik bukan bakteri atau kuman yang ada di kaki ayam ini" ucap hajung
Aku memejamkan kedua mataku dan menarik nafas dalam-dalam mencoba bersikap sabar pada hajung
"Hajung-ssi kau tidak akan mati karena mengonsumsi kaki ayam"
"Lagipula sudah sewajarnya manusia hidup kontak erat dengan bakteri atau mikroorganisme lainnya"
"Tapi percayalah tubuhmu lebih pintar melindungimu dari pada pikiranmu yang paranoid itu" ucapku
"Lihatlah!! Aku masih baik-baik saja memakan kaki ayam ini nyam..nyam" ucapku sambil makan
"Apa kau sudah gila hye jin? Bagaimana bisa kau menikmati makanan seperti itu?" Ucap hajung sambil meringis
"Baru kali ini aku dijuluki orang gila karena makan kaki ayam" ucapku
"Hajung-ssi kau itu bukan anak kecil lagi, kenapa kau memilih-milih makanan?" Tanyaku
"Karena aku tidak menyukainya" ucap hajung
"Dari mana kau bisa mengatakan hal itu jika kau belum pernah mencicipinya?!" Seruku
"Aku sudah tahu hanya dari melihatnya saja" seru hajung
"Percayalah padaku kaki ayam ini sungguh nikmat"
"Jika kau merasa geli karena melihat kaki ayam ini, tutup saja matamu dan coba kau nikmati rasanya"Ā saranku
"Ini aaa..." ucapku sambil menyuapi hajung
"Hye jin-ssi aku tidak mau...." ucap hajung sambil mundur ke belakang
"Kau bisa memuntahkannya jika rasanya aneh" ucapku meyakinkam hajung
"Jika kau tetap tidak menyukainya padahal kau sudah mencicipinya, aku akan berhenti untuk memaksamu memakan makanan ini lagi dan akan memasakanmu makanan yang lain, ok?" Ucapku lagi
"Ayo buka mulutmu, aaa~~~" ucapku bak ibu yang sedang menyuapi makanan ke anak kecil
Hajung menuruti permintaanku dan ia mulai melahap kaki ayam yang sudah ku pisahkan dari tulangnya
"Ottokeh?*(bagaimana?)" Tanyaku setelah hajung mengunyah makanan yang ku masak dan menelannya
Hajung masih mengunyah sambil menutup kedua matanya, namun saat indera pengecapnya mulai merasakan sesuatu yang lezat, hajung mulai membuka kedua matanya lagi dan lanjut memakannya
"Tidak buruk seperti yang ku duga" ucap hajung jujur
"Benarkan kataku!" Seruku
"Hajung-ssi kau sudah besar bagaimana mungkin kau belum pernah mencoba makanan seperti ini?" Tanyaku
"Lain kali aku akan memasakanmu kepala ayam pedas" ucapku semangat
"Aku yakin kau pasti belum pernah mencobanya kan?" Tebakku
"Hanya bersamamu, aku bisa memakan makanan kelas bawah yang terlihat aneh seperti ini" ucap hajung
"Eeii....tidak semua makanan kelas bawah tidak enak seperti yang kau duga" ucapku
"Di tanganku, semua makanan kelas bawah akan menjadi lezat dan menari indah di dalam mulutmu" ucapku membanggakan diri sendiri
"Ku rasa makanan aneh ini menjadi enak karena kau yang memasak, hye jin" ucap hajung sambil tersenyum
"Kau bicara seperti itu karena ini pertama kalinya kau mencicipi makanan yang sebenarnya enak, tapi kau sudah berprasangka buruk terlebih dahulu sebelum mencobanya..." ucapku sebelum melahap kaki ayam selanjutnya
Aku dan hajung menikmati makan malam dengan suasana yang hangat
Setelah selesai makan malam, hajung membantuku mencuci peralatan makan sambil sesekali bermain air dan mencipratkannya ke wajahku
Aku membalas sikap hajung dan mencipratkannya ke area wajahnya
"Cukup hye jin-ssi kau membuat pakaianku basah" ucap hajung sambil tertawa
"Biarkan saja, lagi pula siapa yang memulai peperangan cipratan air ini, jika bukan dirimu?" Ucapku sambil cengengesan
"Baiklah aku menyerah kim hye jin, bisakah kita fokus membersihkan piring dan gelas-gelas ini saja?" Tanya hajung yang mencoba berdamai padaku
"Araseo*(aku mengerti) kau ingin melakukan gencatan senjata kan" ucapku mengerti maksud ucapan hajung
Tidak lama aku mendengar suara petir yang bergemuruh dan suara hujan yang lumayan deras dari luar
"Apakah di luar sedang hujan?" Tanyaku tiba-tiba
Aku dan hajung terdiam sebentar untuk memastikan suara itu hujan atau bukan
"Ku rasa iya" ucap hajung
"Tidak!! Pakaianku" seruku dan langsung melepas sarung tangan karet dan menghentikkan aktivitasku untuk mencuci piring
Aku segera membuka pintu balkon apartement dan mulai mengangkat pakaian yang ku jemur tadi pagi
"Kenapa kau menjemur pakaian di balkon? Apa kau tidak melaundry pakaianmu?" Tanya hajung yang mulai menghampiriku
"Yya!!*(hei!) Berhentilah mengoceh dan bantu aku mengangkat pakaian" seruku ke hajung sambil meletakkan pakaian yang sebagian sudah ku angkat dari tempat jemuran ke atas sofa
Aku terbiasa mencuci pakaianku sendiri, di tambah lagi tersedia mesin cuci di dalam apartement ini
Jadi aku memutuskan untuk menggunakan mesin cuci itu dan menghemat uang
"Kau yakin aku ingin membantumu mengangkat pakainmu?" Tanya hajung memastikan lagi permintaanku
"Tentu saja yakin, memangnya kau tidak mendengar ucapanku hhuh?!" Seruku ke hajung
"Baiklah jika itu permintaanmu" ucap hajung santai
Sekilas aku melihat hajung memegang pakaian keramat yang tidak boleh di sentuh oleh orang lain manapun
Hajung mengangkat pakaian bagian privasiku yang berfungsi untuk melindungi dadaku
"Yyya!!!*(hei!!) Sung hajung! Apa yang sedang kau lakukan hhuh!!" Teriakku reflek ke hajung
"Tentu saja membantumu mengangkat pakaian" ucap hajung santai
"Maksudku apa yang ku sentuh itu?!" Teriakku kembali
"Bukankah ini juga salah satu pakaianmu?" Ucap hajung tetap santai seolah ia tidak merasa bersalah
"Letakkan kembali dan jangan menyentuh itu!" Seruku sambil meraih pakaian privasiku yang di sentuh hajung
Namun aku melupakan bahwa saat ini lantai yang aku pijak licin karena air hujan dan aku terpeleset nyaris terjatuh
Untungnya hajung segera meraih tangan kiriku dan menangkap tubuhku agar tidak jatuh ke lantai dan mencegah kepalaku terbentur oleh benda keras
Aku reflek segera membuang pakainku ke lantai dan meraih leher hajung dengan kedua tanganku agar aku bisa mempertahankan posisiku tidak jatuh ke bawah
"Kim hye jin berhati-hatilah, lantai ini sangat licin" ucap hajung dengan ekspresi serius
Kedua mata kami saling bertemu dan menatap satu sama lain, ditambah dengan posisi yang sedikit lebih intim dengannya
Aku sejenak melupakan butiran-butiran air hujan yang membasahi sebagian wajahku
Karena aku sekilas mengingat ucapan emma kemarin yang membahas tentang perasaan hajung terhadapku
'Kau tidak akan pernah tahu jika kau belum pernah mencobanya'
'Jika kau memutuskan untuk menerima perasaan hajung yang tulus padamu, buktikanlah kim hye jin'
'Setidaknya ijinkan dia untuk menyentuhmu dan kau akan tahu bagaimana perasaanmu terhadap hajung'
'Jangan membuat perasaan tulus hajung terhadapmu hanya kebahagiaanĀ semu untuk mengalihkan kisah masa lalumu'
"Hajung-ssi neo*...(kau...)" panggilku
"Apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan padamu bahwa aku mengizinkanmu untuk menyentuhku" ucapku pada hajung masih dalam posisi merangkul leher hajung dan ia masih menahan tubuhku dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh
Hajung terdiam saat mendengar ucapanku
Ini di luar ekspetasiku, ku kira hajung akan menjawabnya dengan cepat dan penuh semangat
Tapi...
Ia hanya menatapku dengan ekspresi serius
"Ku rasa kau sudah tahu apa jawaban dariku, hye jin" ucap hajung
"Jika kau mengizinkanku untuk menyentuh dirimu, itu artinya..."
"Hatimu sudah mulai terbuka untukku dan melupakan masa lalumu" ucap hajung padaku
"Anio*(tidak) aku tidak bisa menjamin apakah hatiku sudah benar-benar melupakan sepenuhnya masa laluku atau masih menyimpan rasa itu"
"Naega...*(aku...) butuh kepastian melalui dirimu, hajung-ssi" ucapku jujur pada hajung
"Apa kau ingin berkata padaku untuk mencobanya terlebih dahulu sebelum memutuskan tindakanmu selanjutnya, kim hye jin-ssi?" Tanya hajung
Aku hanya menatap hajung saat ia bertanya untuk memastikan padaku
"Kau bisa melakukannya jika kau masih penasaran dengan perasaanmu terhadapku yang sesungguhnya" ucap hajung
"Jika kau mengizinkanku untuk menyentuhmu, akan ku pastikan kau bisa memberikan jawaban atas pernyataanku selama ini padamu kim hye jin" ucap hajung
"Jika kau tidak menyukainya, kau bisa menghentikanku di tengah-tengah, tapi dengan caramu sendiri"
"Karena aku tidak yakin, bisa dengan mudah menghentikkan diriku sendiri saat aku mulai menyentuhmu"
"Kau tahu butuh usaha yang besar untuk menahan diriku sendiri agar tidak menyentuhmu" ucap hajung
"Karena aku..."
"Mencintaimu, kim hye jin-ssi" ucap hajung dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku
Perlahan aku mulai berdiri dan menapakkan kedua kakiku agar bisa semakin dekat dengan wajah pria yang ada di hadapanku
Saat aku dan hajung sudah mulai bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain, hajung mulai menyentuh kedua bibirku dengan bibirnya
Hajung perlahan mulai ******* kedua bibirku, aku berusaha untuk mengimbangi bibir hajung dan merasakan nafas kami saling memburu
Hajung memberikanku kesempatan untuk bernafas dan melepaskan kedua bibirku
Sejenak, aku menatap kedua mata hajung lalu ia menciumku kembali
Kini pakaianku dan juga pakaian hajung yang melekat di tubuh sudah mulai basah akibat hujan yang mengguyur kota chicago
Hajung mulai mengangkat sebelah kakiku menggunakan tangan kirinya seolah ingin mengisyaratkan sesuatu
"Naikkan kedua kakimu ke pinggangku hye jin, aku akan membawamu masuk ke dalam" bisik hajung di telinga kananku dan mulai menciumi telinga kananku
Aku merasakan sensasi geli menggelitik di area leherku hingga membuat bulu kudukku berdiri dan sedikit menghindari bibir hajung
Seolah hajung mengerti sensasi yang diberikan oleh tubuhku, ia berhenti mencium area telingaku dan beralih ke bibirku
Hajung tetap menciumku sambil berjalan menggendong tubuhku menuju kamarku
Dengan perlahan, hajung menurunkan tubuhku dan membaringkanku di tempat tidur
Hajung membuka baju turtle necknya yang sudah basah karena hujan dan memperlihatkan otot perut dan dadanya yang bidang
Sejenak aku berpikir
Apakah aku akan benar-benar tidur dengan hajung hari ini?
Apakah aku benar-benar bisa melakukannya
"Ha-hajung-ssi, chakamannyo*(tunggu sebentar)" ucapku
Namun ia tidak menggubris ucapanku, seolah ia sudah tersihir oleh hasr*tnya yang terpendam selama ini kepadaku
Ia menciumku kembali dan tangannya mulai menjalar ke bawah ke area sensitifku
Aku sontak terkejut dengan perlakuan hajung yang diberikan kepadaku
Seolah instingku mengatakan untuk menghentikkan semua perbuatan ini
Saat hajung mulai mencium leherku, aku mencoba untuk menghentikkan hajung
Karena aku merasa hajung semakin tidak bisa mengontrol dirinya yang justru membuatku merasa takut dan tidak nyaman
Aku merasa ia bukanlah hajung yang ku kenal
Saat hajung mulai melepas kancing kemejaku dan mulai mencium dadaku, seketika aku mengingat kejadian buruk
Di hotel parkhyatt
Wajah seo jin mulai menghantuiku dan muncul di dalam pikiranku
Wajah seo jin saat pertama kali aku bertemu dengan dirinya dan benar-benar membuat kehidupanku berubah 180ā°
"Hajung-ssi hentikan..." Ucapku
Namun hajung tidak mendengar ucapanku, ia masih sibuk menciumku untuk memberikan tanda pada tubuhku
"Ku bilang hentikkan sung hajung" seruku
Bukannya menghentikkan semua tindakannya padaku, ia justru menggigit leherku dengan keras hingga membuatku terkejut dan reflek menendang tubuh hajung dengan sekuat tenaga
Usahaku berhasil
Hajung terlempar menjauh dari tubuhku, dengan nafas yang tersengal-sengal, aku bangkit dari posisi tiduranku ke posisi duduk untuk melihat keadaan hajung
"Haah....haah..."
"Neo gwaenchana...hajung-ssi?" Tanyaku pada pria yang terkejut karena sikapku yang tidak bisa diprediksi olehnya
Hajung masih dalam posisi duduk dengan kaki kanannya yang menekuk untuk menjadi tumpuan siku tangan kanannya, sedangkan kaki kirinya sengaja ia luruskan sambil melihat ekspresi terkejutku
"Mian*(maaf) aku harus menendangmu agar kau sadar" ucapku menjelaskan padanya sambil mengatur nafasku yang masih memburu
"Haaah....haah ania*(tidak)" ucap hajung
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku" ucap hajung
"Kau sudah melakukan yang seharusnya kim hye jin"
"Jika tidak, aku akan semakin kehilangan akal sehatku dan semakin membuatmu tidak nyaman" ucap hajung
"Aku tidak menyiapkan pengaman karena aku tidak akan menduga kau akan memberikan izin untuk menyentuhmu" ucap hajung menjelaskan
Aku memejamkan kedua mataku dan mengacak-acak rambutku yang sudah basah dan kusut karena air hujan
********
"Kau yakin tidak ingin bermalam di sini?" Tanyaku pada hajung saat ia berada di luar pintu apartmentku
"Ku rasa aku harus memberikanmu kesempatan untuk menyendiri kim hye jin karena peristiwa yang menggairahkan hari ini antara kita berdua" ucap hajung
"Entah karena kau menggigil kedinginan atau gemetar ketakutan, aku merasa bersalah padamu, kim hye jin"
"Aku juga harus bisa belajar mengontrol diriku saat berhadapan denganmu dan ku harap...."
"aku tidak kehilangan kendali seperti tadi yang justru membuatmu ketakutan" ucap hajung jujur
Aku tertegun mendengar ucapan hajung yang ternyata menyadari bahwa tubuhku sempat gemetar karenaĀ merasa ketakutan terhadap dirinya saat berada di atas tempat tidur
"Jangan memasang wajah sedih seperti itu, kita masih memiliki waktu banyak untuk membiarkan tubuhmu beradaptasi dengan sensasi yang ku berikan padamu" ucap hajung padaku
"Baiklah aku akan pergi hye jin, ku harap kau tidur nyenyak malam ini" ucap hajung dan memelukku sebelum ia pergi meninggalkan apartementku
"Sampai bertemu besok malam" ucap hajung lagi
Setelah hajung masuk ke dalam lift, aku segera menutup pintu apartementku dan menyandarkan punggungku ke pintu
Perlahan membiarkan tubuhku turun ke bawah dan duduk di lantai
Aku menekuk kedua lututku dan menenggelamkan wajahku di atasnya
Wae*(kenapa)
Aku mengingat park seo jin dalam pikiranku
Apakah ini jawaban dari semua kegalauanku?
Seberusaha apapun diriku untuk membenci dirinya, seo jin tetap berada di alam bawah sadarku
Katakan padaku bagaimana aku bisa melupakan park seo jin dari kehidupanku dan menerima perasaan tulus hajung
Aku ingin tinggal di sisi hajung tanpa harus memikirkan masa laluku
Aku tidak ingin kejadian buruk di hotel itu terus mengingatkanku dan menghambat hubunganku dengan sung hajung
Bagaimana mungkin aku masih bisa membayangi wajah seo jin dalam pikiranku saat hajung menyentuhku
This is really insane!!
Gumamku dalam hati sambil membeturkan kepala belakangku ke puntu beberapa kali dengan pelan
______££££______
keesokan paginya aku melakukan aktivitasku seperti biasanya dan berencana mengerjakan tugas paper ku di taman kampus sambil menikmati suasana dipenghujung musim gugur dan menimati sarapanku dengan roti sandwich dan kopi hangat yang ku beli di cafe langgananku sebelum aku tiba di kampus
Ā dedaunan yang mulai gugur dari pohonnya dan hembusan angin pagi yang dingin membuat moodku baik untuk mengerjakan tugasku. hingga seseorang menghampiriku dan menyapaku karena membutuhkan sesuatu dariku
" hai kim hye jin, bolehkah aku duduk di sebelahmu?" sapa ramah seorang wanita yang tampak tidak asing bagiku, namun aku tidak mengenal namanya
"silahkan" balasku
" kau tampak sibuk meskipun kelas belum di mulai" ucapnya padaku untuk bisa bicara denganku
"maafkan aku sebelumnya, tapi...apakah aku mengenalimu?" tanyaku yang langsung to the point pada gadis yang ada di sampingku
"apa kau tidak mengenali ketua angkatan mahasiswi tingkat akhir?" tanya balik gadis dengan rambut merah ikalnya
seketika aku mengingat dirinya pernah berdiri di atas podium dan memberikan beberapa pidato sebelum acara kemahasiswaan di mulai
ahh..pantas saja wajahnya terlihat familiar bagiku, tapi aku lupa pernah melihatnya dimana. ini semua karena ketidakpedulianku pada lingkungan sekitar kampusku dan lebih memilih mementingkan kepentingan diri sendiri
"ahh...maafkan aku, kau adalah jessica kan ketua angkatan mahasiswi tingkat akhir tahun ini?" ucapku yang menebak namanya
"hahaha....lebih tepatnya namaku adalah jenifer bukan jessica" sanggah gadis bermata cokelat sambil tersenyum kepadaku
" I am sorry, aku salah menyebut namamu" ucapku yang merasa canggung karena salah menyebut nama ketua angkatanĀ tingkat akhir
"that's ok kim hye jin, aku memaklumi dirimu karena kondisimu yang harus mengejar materimu yang tertinggal sehingga kau tidak begitu fokus pada struktural organisasi kemahasiswaan" ucap jenifer ramah padaku
"kalau begitu apakah kau ada keperluan denganku sehingga ketua angkatan yang sangat sibuk sepertimu menyapa diriku yang merupakan mahasiswi tertinggal kelulusannya karena alasan pribadi?" tanyaku lagi yang langsung blak-blakan kepada jenifer
aku mengatakan secara langsung pada jenifer karena aku yakin ia memiliki sesuatu penting yang dibicrakan denganku, tidak mungkin orang sesibuk seperti jenifer memliki waktu luang untuk bercengkrama denganku
"ahh...sepertinya kau adalah orang yang tidak menyukai basa-basi kim hye jin" ucap jenifer
" baiklah...memang benar aku membutuhkanmu untuk membantuku, tidak. lebih tepatnya untuk membantu organisasi kemahasiswaan kampus ini" ucap jenifer lagi
"memangnya apa yang bisa ku lakukan untuk organisasi kemahasiswaan kampus ini?" tanyaku penasaran
"kau tahu sebentar lagi acara kelulusan tiba dan organisasi membutuhkan dana untuk mendukung berlangsungnya acara kelulusan kita menjadi kenanganĀ yang terindah untuk mahasiswa kampus ini"Ā
" aku ingin kelulusan tahun ini menjadi acara yang mengesankan dan mengundang bintang tamu dari luar kampus yang sedang menjadi tren tahun ini"
"apa kau tahu band fatamorgana yang sedang tren saat ini?"tanya jenifer
aku dengan polosnya menggelengkan kepalaku pertanda tidak mengetahui band yang ia sebutkan tadi
mungkin benar apa yang dikatakan hajung, meskipun usiaku masih belia, namun cara berpikirku seperti wanita paruh baya, dimana usia seumuranku memiliki artis idola yang dipuja atau memiliki musik favorite masa kini tapi aku memilih mengabaikan semua itu dan lebih fokus kepada tujuan hidupku agar bisa hidup tanpa kesulitan
mungkin karena faktor ekonomi dan perjuangan untuk bertahan hidup menjadikan diriku sangat kolot dan tidak mengetahui hal apa yang sedang menjadi trendi saat ini
jika bukan karena pengaruh emma, mungkin aku tidak mengetahui busana saat ini atau make up anak muda yang sedang populer
"apa kau sungguh tidak mengetahui band terkenal itu?" tanya jenifer memastikan
"ahhh...atau kau pernah mendengar nada lagu dan lirik seperti ini.."
"tell me..is your father is a good man? nana...dudu... his daughter was my saviour" jenifer mulai menyanyikan lagu terkenal band fatamorgana dan aku hanya mengerutkan keningku
"you know that?" tanya jenifer
"no..sorry" ucapku pada jenifer
"ohh...atau lagu ini, kau pasti pernah mendengarnya.."
"in our house the quiet is so loud..I'll never hear single word~..." ucap jenifer menyanyi lagi
"ahh..aku tahu lagu itu!" seruku
"really?! you know that, hye jin!" seru jenifer saat aku mengetahui lirik lagu tersebut
"aku pernah mendengar lagu itu saat aku mengunjungi sebuah mall dan cafe" ucapku
"ouhh....aku sampe bosan mendengar lagu itu di putar secara terus menerus" ucapku polos lagi
"kau...bosan mendengarnya??" tanya jenifer yang tampak kecewa
seketika aku tersadar bahwa jenifer terlihat kecewa melihat responku dan tidak seharusnya aku bicara seperti itu. seharusnya aku bisa berpura-pura excited menyukai lagu yang sering ku dengar itu saat aku mengunjungi tempat umum. aku menggaruk-garuk kepalaku agar bisa mengurangi rasa canggung antara aku dan jenifer
"jadi...apa yang bisa ku bantu untukmu..." ucapku mengalihkan topik pembicaraan
"bukan untukku tapi..." sanggah jenifer
"ahh...maaf maksudku untuk organisasi kemahasiswaan" potongku untuk meralat ucapanku
"kau tahu selama ini yang membiayai organisasi kemahasiswaan adalah yayasan yang diketuai oleh real estate rose, tapi.."
" karena ayah dari ketua yayasan memiliki skandal kasus penggelapan dana, dan harus mendekam di dalam penjara untuk menebus kesalahannya, automatis keuangan dari organisasi kemahasiswaan ikut terkena dampaknya dan harus mengurangi kegiatan organisasi karena kekurangan dana"
"hampir nyaris satu tahun lamanya kampus kita tidak mengadakan kegiatan apapun untuk mengurangi anggaran" ucap jenifer menjelaskan
"aku tahu harusnya aku tidak meminta bantuan kepadamu karena kau bukanlah anggota dari organisasi kemahasiswaan ditambah kau adalah angkatan satu tingkat diatasku"
"tapi...aku hanya ingin mewujudkan impian para mahasiswa tahun ini yang lulus untuk memberikan sebuah acara yang berkesan karena tidak ada dokumentasi tentang kegiatan mahasiswa tahun ini dan angkatan di bawahku"
"aku berencana membuat proposal untuk mengajukan sebuah dana kepada ketua yayasan yang baru"
"tapi sampai detik ini aku masih belum bisa bertemu langsung dengan ketua yayasan kampus yang baru dan saat mengunjungi perusahaannya, resepsionist selalu membatalkan janjiku dengan beliau karena alasan ada rapat penting"
"entah mereka menolakku karena aku tidak dianggap penting ataukah memang jadwal ketua yayasan yang baru sangat sibuk sehingga aku masih belum bisa bertemu dengannya" ucap jenifer yang membuatku masih bingung
"lantas apa hubungannya ketua yayasan yang baru dengan diriku?" tanyaku pada jenifer yang masih belum menemukan inti dari pembicaraan pagi ini
"ku dengar dari beberapa mahasiswa lain kampus ini, kau adalah satu-satunya mahasiswa yang memiliki koneksi yang baik dengan ketua yayasan baru kampus kita, untuk itulah aku menemuimu untuk meminta bantuan darimu hye jin"
"tunggu dulu. aku?? memiliki koneksi ke ketua yayasan kampus yang baru?" tanyaku ulang
"jenifer..to be honestly, aku tidak tahu siapa ketua yayasan baru kampus kita, bagaimana mungkin kau ingin meminta bantuan dariku sementara aku tidak tahu siapa ketua yayasan kampus saat ini" ucapku pada jenifer
jenifer terdiam sebentar saat melihat responku
"That's weird*(itu aneh) aku yakin tidak salah dengan informasi ini" ucap jenifer
"Kau memiliki koneksi yang cukup dekat dengan CEO perusahaan edelweis" ucap jenifer yang membuatku tersadar
"Jadi...maksudmu ketua yayasan baru kita adalah CEO dari perusahaan edelweis?" Tanyaku untuk meyakinkan
"Mmm...that's right, ketua yayasan baru kita adalah tuan park seo jin selaku CEO perusahaan edelweis dan suami dari mantan ketua yayasan kampus kita yang dulu" ucap jenifer
"Jenifer..." panggilku
"Ku rasa...kau sudah tahu alasanku kenapa aku bisa menjadi mahasiswa akhir yang telat untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan tidak lulus tepat waktu" ucapku
"Bukan memiliki koneksi baik dengannya melainkan hubungan yang buruk dengan ketua yayasan baru kita" ucapku pada jenifer
"Ku kira kau melanjutkan kuliahmu lagi di sini karena kau sudah menyelesaikan semua masalah rumitmu dan berdamai dengan ketua yayasan baru"
"Maafkan aku kim hye jin karena tidak tahu kondisimu yany sebenarnya" ucap jenifer
"Aku hanya merasa putus asa karena tidak bisa menghubungi ketua yayasan kampus kita yang baru"
"Selama ini setidaknya sekertaris perusahaan dari mantan ketua yayasan kita mengunjungi kampus ini setidaknya satu bulan sekali untuk kegiatan monitoring"
"Tapi kali ini..."
"Aku tidak melihat ketua yayasan baru kita atau pun perwakilannya untuk mengunjungi kampus kita" ucap jenifer kecewa
Aku sedikit merasa iba pada jenifer karena wajahnya yang terlihat sedih setelah mendengar ucapanku secara langsung
"Bagaimana jika aku menghubungi supir pribadinya agar ia bisa menyampaikan secara langsung ke ketua yayasan kampus baru kita?" Usulku ke jenifer yang seketika mengingat supir ohh
Yah...
Setidaknya supir oh akan menyampaikan proposal pengajuan dana kampus tentang acara kelulusan dan mewujudkan impian jenifer untuk membuat acara mengesankan bagi mahasiswa yang ada di sini
"Benarkah! Kau kenal dengan orang yang memiliki koneksi yang baik ke ketua yayasan baru kita?!" Seru jenifer padaku saat mendengar ucapanku
"Ahhh..syukurlah" ucap jenifer sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat hingga membuat dedaunan gugur yang semula menempel di rambutnya, kini menjadi jatuh ke atas tanah
Aku segera meraih handphoneku dan menelpon supir ohh
"Nona kim!" Seru supir ohh begitu ia mengangkat panggilan teleponku
"Halo supir ohh apa kabar?" Tanyaku saat mendengar suara supir oh
"Aku? Tentu saja baik. Justru aku yang menanyakan hal itu padamu"
"Bagaimana kabar anda, nona?" Tanya balik supir oh
"Tentu saja baik, jika tidak, tidak mungkin aku menghubungimu dengan nada sumringah seperti ini" ucapku pada supir ohh
"Ku kira anda tidak akan pernah menghubungiku lagi, nona. Karena perbuatan lancangku yang diam-diam mengikuti anda dan mencari tahu kehidupan anda selama di korea" ucap supir ohh
"Aigoo....maldo andwe*(ga mungkin) aku masih marah karena itu"
"Aku bahkan sudah melupakan bagaimana kehidupanku yang sangat menyulitkan seperti dulu" ucapku sengaja berbohong dan melebih-lebihkan agar supir ohh bisa bicara santai denganku
"Benarkah anda sudah melupakan masa lalu kelam anda?!" Seru supir ohh
"Syukurlah..nona kim, anda berangsur-angsur sudah mulai sembuh" ucap supir ohh
"Mmm...supir ohh, bisakah sore ini kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu, ini soal kegiatan kampusku" ucapku pada supir ohh
Supir ohh tampak terdiam saat mendengar ucapanku
"Supir ohh?" Panggilku
"Ahh....jadi anda menghubungiku karena anda ingin meminta tolong padaku"
"Apakah ini berkaitan langsung dengan majikanku, nona kim?" Tanya supir ohh yang sangat pintar bisa menebak maksudku
"Ku rasa anda belum sepenuhnya melupakan masa lalu nona kim" ucap supir ohh
"Anda masih sama membenci tuan saya" ucap supir oh yang terdengar kecewa
Aku terdiam saat mendengar ucapan supir oh melalui telepon
"Apakah ini hal mendesak, nona kim? Jika tidak, anda bisa menungguku kembali ke chicago" ucap supir ohh yang membuatku terkejut
"Apakah kau dan majikanmu melakukan perjalanan bisnis, supir ohh?" Tanyaku
"Kalau begitu, aku akan menunggumu selesai dari perjalanan bisnis tuanmu dan kembali ke chicago" ucapku pada supir ohh
"Tidak nona kim, aku tidak sedang bersama tuanku" ucap supir ohh
"Aku....sedang menikmati cutiku untuk liburan pulang kampung ke seoul menemui keluargaku" ucap supir ohh padaku
"Ohh..sungguh! Itu adalah hal bagus untukmu.." ucapku
"Kau hampir tidak ada waktu untuk liburan, tidak harusnya aku mengganggu waktu santaimu seperti ini" ucapku
"Baiklah kabari aku jika kau sudah kembali dari liburanmu" ucapku pada supir ohh
"Sepertinya bukan hal yang mendesak nona kim, baiklah kita akan berjumpa lagi kurang lebih satu bulan kemudian dipertengagan musim dingin" ucap supir ohh
"Eeehhh...chakamanyo!!!*(tunggu dulu!!)" Seruku pada supir ohh dan tentu membuat jenifer yang duduk di sebelahku terkejut
"S-satu bulan?!" Seruku lagi
Karena yang aku tahu jadwal kelulusan adalah 2 bulan lagi, tentu saja tidak mungkin menunggu supir ohh kembali ke chicago lalu memberikan proposal pengajuan dana ke majikannya
"K-kau sedang tidak di rumahkan sementara kan, supir ohh?" Tanyaku penasaran
"Tentu saja tidak, nona kim" ucap supir ohh sambil tertawa
"Tuan seo jin memberikanku cuti lama karena hampir selama 2 tahun ini, aku tidak mengambil cutiku dan terus sibuk mengurus kehidupannya" ucap supir ohh
"Setelah keadaan stabil, ia menyuruhku untuk mengambil cuti dan bonus atas hasil kerja kerasku"
"Kau tahu nona kim, tuanku adalah bos terbaik yang pernah aku temui dalam hidupku selama aku bekerja menjadi supir pribadi" ucap supir ohh memuji majikannya
"Ah...hahahaha" balasku hanya dengan tawaan garing saja
"Apakah ada masalah nona kim jika aku kembali ke chicago satu bulan kemudian?" Tanya supir ohh
"Ahh...kalau begitu lupakanlah permintaan tolongku padamu supir ohh"
"Ku rasa saat kau kembali, sangat mepet dengan hari kegiatan kampusku"Ā ucapku
"Kalau begitu kenapa anda tidak menemui secara langsung ke tuan seo jin, nona?" Usul supir ohh
"Naega?!!!*(aku??!) Menemui tuanmu?!!" Seruku dengan suara tinggi
"Apa kau gila supir ohh! Bagaimana mungkin aku menemui tuanmu?!"
"Aku tidak mungkin lupa dengan ucapan bodohku yang mengatakan tidak sudi untuk bertemu dengan majikanmu" ucapku sewot
Supir ohh sempat tertawa mendengar ucapanku
"Apa kau menyesal dengan ucapanmu sendiri pada saat itu, nona kim?" Tanya supir oh memancing
"Aku?? Menyesal??!" Ucapku lagi sewot
"Untuk apa aku menyesal dengan ucapanku pada saat itu?"
"Sudah tidak berjumpa dalam waktu beberapa bulan saja masih sulit untuk melupakannya, bagaimana jika aku masih bertemu dengan dirinya secara langsung akhir-akhir ini?"
"Apakah selamanya aku tidak bisa melupakan dirinya?"
"Apakah ia akan bertanggung jawab tinggal disisiku jika aku tidak bisa melupakannya?"
"Bagaimana mungkin aku masih bisa memikirkan tuanmu saat aku bersama dengan pria lain?"
"Auhh....ini sangat membuatku gila!!" Ocehku tanpa sadar mengaku pada supir ohh bahwa aku masih memikirkan park seo jin selama ini
"Nona kim..." panggil supir ohh
"Apakah kau baru saja mengaku padaku bahwa hingga detik ini kau masih memikirkan tuan seo jin?..." tanya supir ohh yang membuatku sadarĀ bahwa ucapanku tidak bisa dikontrol tentang perasaan yang ku rasakan saat ini
"M-mworago?!*(apa katamu?)" Seruku
"Kapan aku mengatakan hal seperti itu padamu? Siapa bilang aku tidak bisa melupakan tuanmu?"
"Apa kau baru saja menuduhku, supir ohh?" Ocehku lagi seperti orang kebakaran jenggot
"T-tenang nona kim, kenapa kau jadi marah-marah seperti ini padaku?" Tanya supir ohh
"Siapa bilang aku marah-marah padamu?" Ucapku menyanggah
"Sudahlah supir ohh aku akan menutup teleponnya, nikmati saja waktu liburanmu dan jangan menuduhku sembarangan" ucapku kesal dan langsung menutup panggilan teleponku tanpa ingin mendengar apapun yang keluar dari mulu supir ohh
"Ouhhh....jinjja!(benar-benar) kenapa ia harus menuduhku sembarangan seperti itu? Membuatku kesal saja!" Seruku meskipun aku sudah tidak bicara lagi dengan supir ohh
Aku sejenak melupakan jenifer yang masih ada di sebelahku, ia tidak paham kenapa aku marah-marah dan kesal karena tidak paham dengan bahasa korea
"Hye jin, are you mad?" Tanya jenifer
"Aah...anio*(tidak).."
"I mean..no" ucapku meralat
Aishh...
Sungguh merepotkan bicara dua bahasa seperti ini
"So...how kim hye jin?" Tanya jenifer
"Can you help me?" Tanya jenifer lagi
__ADS_1
"Jenifer, i am so sorry. I can't help you because...." ucapku terputus
"Orang yang aku kenal memiliki koneksi baik dengan ketua yayasan yang baru, sedang tidak berada di chicago, melainkan di korea" ucapku pada jenifer
"Haah...so this is ending?" Gerutu jenifer dengan ekspresi sedih
"I know i can't do it..."
"Should I make apologize to all?..." ucap jenifer pelan
"Jenifer...are you alright?" Tanyaku
"Sigh....no" ucap jenifer
"Sorry..." ucapku lagi
"Maafkan aku hye jin karena telah mengganggu waktumu, ku rasa aku harus mencari cara untuk mendapatkan dana" ucap jenifer dan pergi meninggalkanku dengan postur tubuh yang tidak bersemangat
Sejenak aku berpikir untuk memaksimalkan diriku membantu jenifer tapi....
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali mengatakan itu tidak ada urusannya denganku
Berhenti mencampuri urusan orang lain
Kau pasti bisa hye jin
Ucapku terus menerus meyakinkan diriku
Hingga matahari kembali terbenam dan aku sudah bersiap-siap untuk acara malam ini
Hajung menjemputku tanpa di antar oleh kepala pelayannya
Ia membawa mobil pribadinya ke kantor dan setelah ia selesai bekerja, hajung mampir ke tempatku untuk menjemputku lalu aku dan hajung bersama-sama ke rumahnya untuk makan malam bersama keluarganya
Saat tiba di rumah hajung, beberapa pelayan menyambut kedatangan kami dan mengantar kami ke ruang makan
Ayah dan ibu hajung tersenyum ramah kepadaku
"Eomma, appa*(ibu ayah) ini kim hye jin" ucap hajung memperkenalkan diriku
"Selamat malam bibi, paman" sapaku hangat ke ayah dan ibu hajung
"Masuklah, makan malam sudah siap" ucap ayah hajung pada kami
Tidak membutuhkan waktu lama, para maid sudah menyiapkan makan malam keluarga dengan kepala pelayan bruce berada di samping ayah hajung jika sewaktu-waktu ia dibutuhkan
"Bagaimana dengan kuliahmu nona kim, apakah berjalan dengan lancar?" Tanya ayah hajung menanyakanku dengan ramah
"Syukurlah semua berjalan dengan lancar paman, bulan depan aku akan melakukan sidang skripsiku" ucapku sambil tersenyum
"Ohh....kalau begitu sebentar lagi kau akan lulus dan mendapatkan gelar sarjana kim hye jin" balas ayah hajung
"Iya begitulah..." ucapku sambil tersenyum ramah
Sedangkan ibu hajung masih memerhatikan diriku dengan seksama
"Yobo*(sayang) hingga saat ini aku masih tidak percaya, ia dan sung deok mi adalah dua orang yang berbeda" ucap ibu hajung tiba-tiba membicarakan topik yang lain
Seketika aku berhenti tersenyum namun tetap mengunyah makananku
"Ku kira saat ia datang ke rumah kita, ia adalah sung deok mi, tapi setelah melihat ia tersenyum ramah kepada kita, aku baru menyadari ia adalah gadis penipu itu" ucap ibu hajung tanpa sadar
"Ehem..hem..." ayah hajung sengaja terbatuk agar aku tidak bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh ibu hajung
"Eomma*(ibu) kenapa kau bicara seperti itu kepada hye jin?" Protes hajung
"Apakah ibu salah dengan ucapan ibu?" Tanya ibu hajung balik
"Lagi pula semua orang tahu bagaimana kisah kehidupan gadis ini"
"Tidak hanya ibu sendiri yang memanggil julukan dia seperti itu"
"Terlebih ia sangat berani mendekati putra tercintaku setelah semua orang tahu bahwa ia pernah tidur dengan pria lain saat pertemuan pertamanya di sebuah hotel"
"Jika ia adalah gadis terhormat, tentu saja dia menolak pertemuan dengan seorang pria di sebuah hotel" ucap ibu hajung yang membuatku menjadi tidak nafsu makan
"Yobo*(sayang) kenapa kau membahas masalah itu?" Ucap ayah hajung memperingatkan istrinya
"Aku harus menanyakannya karena aku penasaran dan ia harus bicara jujur apa adanya tentang kejadian malam itu secara detail jika ia ingin menjadi menantuku" ucap ibu hajung sambil melipat kedua tangannya di dada
"Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang merelakan putra berharganya untuk menikah dengan seorang gadis yang tidak bisa menjaga kesuciannya" ucap ketus ibu hajung
"Aku yakin ia pasti menggoda putraku terlebih dahulu dan berpura-pura menjadi korban pada malam kejadian ia tidur dengan pria lain padahal kau sudah merencanakannya dan menikmatinya kan" ucap ibu hajung yang membuat makananku nyaris tersangkut di tenggorokan
'Prang!!'
Hajung sengaja menjatuhkan alat makannya ke atas piring pertanda untuk ibunya segera berhenti bicara
"Eomma*(ibu) kenapa kau tega bicara seperti itu kepada hye jin?" Tanya hajung
"Aku yang mendekati hye jin terlebih dahulu bukan dia yang menggodaku"
"Aku mencintainya meskipun ia memiliki masa lalu yang kelam"
"Lagi pula apa salahnya memiliki masa lalu yang kelam? Toh bukan hye jin saja yang memiliki masa lalu yang kelam"
"Aku juga memilikinya, apa ibu lupa bahwa aku pernah dijuluki anak haram dan memilki kelainan mental karena sifat tempramentku?" Tanya hajung
"Sung hajung!" Seru ibu hajung saat mendengar ucapan dari putranya
"Wae?*(kenapa?) Apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya hajung pada ibunya
"Dan kuperingatkan pada ibu, jangan asal menuduh kim hye jin seperti itu"
"Malam yang ibu bahas tadi adalah murni kecelakaan, itu di luar kuasa kim hye jin" ucap hajung menatap ibunya sendiri
Aku memegang tangan kanan hajung agar ia bisa mengontrol emosinya
Hajung menengok ke arahku seolah tahu isyarat yang ku berikan padanya
"Hahh....bisakah kita hanya makan malam saja tanpa membicarakan hal buruk tentang gadis yang sedang duduk di sampingku?"
"Jika ibu ingin tahu tentang bagaimana masa lalunya, tanyakan saja pada diriku"
"Setidaknya ku mohon...hargai hye jin saat ia berkunjung ke rumah kita" ucap hajung memohon pada ibunya
Ibu Hajung merasa kesal karena dibantah oleh putranya sendiri untuk membelaku
Ia memutuskan untuk tidak menyelesaikan makan malam bersama kami dan pergi ke dalam kamar
Seketika suasana makan malam menjadi runyam dan aku merasa ini semua karena kehadiranku
Hahh...
Pantas saja ibu deok mi sangat membenci ibunya hajung, ternyata sifatnya sangat menyebalkan seperti ini?
Apakah ia lupa dari mana dulunya ia berasal?
Ia juga bukan dari kalangan konglomerat melainkan orang biasa yang selingkuh dengan ayahnya sung hajung yang masih berstatus suami orang hingga ia hamil dan terpaksa ayah hajung menikahinya
Ataukah ia dulu memang menggoda ayahnya hajung sehingga ia berprasangka buruk seperti itu padaku
Hem...
Yang aku tahu, ibunya hajung terlihat tidak menyukai diriku dekat dengan putranya
Setelah menghabiskan makan malam dengan keluarga hajung yang berujung dengan suasana canggung akibat perbincangan kecil yang membahas masa laluku, hajung mengajakku untuk berkeliling di rumahnya
Mulai dari ruang keluarga, ruangan gym, taman belakang yang dekat dengan kolam renang, perpustakaan keluarga bahkan hajung memilki lapangan golf pribadi karena ayahnya hobi bermain golf saat akhir pekan
Yah...
Rumah hajung sangat luas seperti rumah keluarga konglomerat yang tentu saja sangat tidak biasa bagi seseorang sepertiku
Dan berakhir hajung mengajakku untuk berkunjung ke kamarnya sendiri
Aku berkeliling melihat kamar hajung yang lumayan cukup rapi bagiku
Aku melihat beberapa koleksi miniatur figure super hero milik hajung yang tertata rapi di dalam lemari berlapis kaca
"Ahh...jadi kau adalah fans dari marvel super hero?" Tanyaku
"Sudah berapa lama kau mengoleksi mainan miniatur super hero ini?" Tanyaku penasaran
"Ahh...ini hanya keisenganku saja saat aku duduk di bangku SMA" ucap hajung
"Wow...itu sudah sangat lama" ucapku takjub
"Apakah aku boleh menyentuhnya?" Tanyaku izin pada hajung
Hajung membuka lemari kaca yang berisi miniatur figure super hero marvel
Aku mengambil miniatur figure dr. Strange dalam genggamanku
"Apakah ia adalah salah satu hero kesukaanmu?" Tanya hajung
"Mm...aku mengidolakannya, karena ku rasa kekuatan super heronya sangat menakjubkan" ucapku
"Hahaha...aku tidak menyangka dokter bedah yang berubah menjadi penyihir adalah super hero favoritemu. kenapa kau tidak mengidolakan harry potter saja sekalian" tawa hajung meledekku
"Apakah harry potter bisa mengatur waktu dan mengubah masa lalu?" Tanyaku
Hajung terdiam setelah aku mengucapkan 'masa lalu' keluar dari dalam mulutku
"Seandainya saja aku bisa mengulang waktu kembali dan memperbaiki kesalahan masa laluku, mungkin aku bisa menjalani kehidupanku lebih baik" gumamku perlahan
"Apakah kau berpikir seperti ini karena ucapan ibuku?" Tanya hajung padaku
Aku menoleh ke arah hajung dan ia memegang bahuku dengan kedua tangannya
"Kim hye jin dengarkan aku..."
"Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu seperti kau tidak mempedulikan masa laluku" ucap hajung
"Aku hanya peduli bagaimana dirimu yang sekarang dan ingin menghabiskan waktuku bersamamu kim hye jin" ucap hajung
"Meskipun isi dunia membencimu dan mencacimu karena masa lalumu, aku akan tetap berada di sisimu"
"Dengan catatan kau bersedia mengizinkanku untuk berada di sampingmu" ucap hajung sambil merapikan poniku ke samping
Hajung memiliki kebiasaan menyentuh rambutku saat ia berbicara denganku
"Ku rasa...aku terlalu banyak menerima kasih sayang darimu sung hajung" ucapku
"Terkadang aku merasa bersalah padamu karena aku tidak bisa membalas rasa kasih sayangmu padaku..."
"Ssst...bukannya tidak bisa, hye jin. Hanya saja kau masih belum bisa beradapatasi denganku" ucap hajung memotong ucapanku
"Tidak apa kim hye jin, untuk sekarang, kau bisa menerima kasih sayang tulusku padamu seperti ini, biarkan hatimu perlahan menerimaku dan membalas perasaanku"
"Aku tidak ingin kau memaksakan hatimu untuk segera menerima perasaanku" ucap hajung lagi sambil mengibaskan rambutku ke belakang
"Baiklah...ku rasa aku ingin mandi sebelum mengantarmu kembali ke apartementmu" ucap hajung
"Jika kau ingin berkeliling ke rumah ini, kau bisa melakukannya"
"Tapi...ku rasa kau sedikit tidak nyaman jika bertemu dengan ibuku" ucapku pada hajung
"Baiklah...aku akan menunggumu sambil membaca beberapa buku yang membuatku tertarik saat tadi kita mampir ke perpustakaan dan membacanya di kamarmu" ucapku pada hajung
"Kenapa kau selalu ingin membaca buku dimanapun kau berada, hye jin. Apakah kau seorang kutu buku?" Ledek hajung
"Tidak juga, biasanya aku membaca buku hanya untuk iseng saja itu sudah ku lakukanĀ saat aku duduk di bangku SMA" ucapku meniru hajung saat ia menjawab pertanyaanku tentang hobinya
"Hahaha....apa kau sedang meniru gaya bicaraku, hye jin?" Tanya hajung yang menyadari bahwa aku sedang meledeknya
"Mm...bagaimana jika aku mengusulkanmu untuk memiliki hobi baru?" Tanya hajung
"Apa itu?" Tanyaku
"Menggosok punggung pria tampan yang ada di hadapanmu saat mandi" ucap hajung cengengesan
Seketika aku menyipitkan kedua mataku setelah mendengar ucapan hajung
"Pergilah ke kamar mandi sebelum aku memukul mulutmu yang mesum dengan telapak tanganku" ancamku pada hajung
"Ok baiklah! Aku hanya bercanda..."
"Kenapa seketika auramu berubah seperti asassin yang siap menumbangkan lawannya?" Ucap hajung sambil menyentuh bibirnya dengan tangan kanannya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi
Aku menatap hajung masuk ke dalam kamar mandi dan mendengar suara shower yang sudah dinyalakan
Aku berjalan keluar kamar hajung untuk melaksanakan rencanaku
Aku tiba di perpustakaan keluarga untuk mencari buku yang menarik perhatianku tadi saat mampir ke sini bersama hajung dan tidak ada siapa-siapa di sini melainkan hanya diriku seorang
aku berada di antara lemari-lemari buku dan berencana untuk mengambil beberapa buku fiktif yang ringan untuk dibaca, namun aku mendengar suara langkah kaki yang sedang menuju ke perpustakaan
"Sudah ku bilang, yobo*(sayang) aku tidak menyukai gadis itu" ucap seorang wanita
"Bagaimana jika nanti image putraku yang susah payah ia bangun kembali menjadi buruk kembali akibat gadis itu berada di sampingnya?"
Aku menyadari itu adalah suara ibu hajung bersama suaminya
Mereka sedang membicarakan diriku yang kebetulan tidak mengetahui keberadaanku saat ini
"Yobo*(sayang) kenapa kau membencinya seperti itu? Apakah kau tidak merasa iba pada gadis itu yang sudah mengalami berbagai hal buruk di usianya yang masih muda?" Ucap ayah hajung membelaku
"Lagi pula ia juga sama denganmu yang dulu"
" sama-sama bukan berasal dari kalangan konglomerat dan tau betapa susahnya hidup di dunia yang kejam ini, seharusnya kau bisa merasakan empati lebih padanya dibandingkan denganku" ucap ayah hajung
"Tapi...aku tidak tidur dengan sembarang pria seperti dirinya" ucap ibu hajung
"Sst...jaga ucapanmu! Tidak seharusnya kau bicara kasar seperti itu"
"Biar bagaimanapun, putramu satu-satunya sangat mencintai gadis itu, apa kau tidak bisa melihatnya hanya dari sorot matanya saja?"
"Tetapi aku ragu apakah gadis yang mirip dengan keponakanku itu memiliki perasaan yang sama terhadap putraku atau tidak" ucap ayah hajung
"Jadi maksudmu, putraku bertepuk sebelah tangan!" Seru ibu hajung
"Aishh....ini membuatku gila! Kenapa putraku yang tersayang itu harus jatuh cinta pada gadis itu?" Ucap ibu hajung yang terlihat frustasi
"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai seorang ibu"
"Mana ada seorang ibu yang merelakan putranya menikahi gadis yang pernah tidur dengan pria lain, di tambah pria ini adalah suami dari sepupunya sendiri yang menakutkan itu"
"Jika bukan karena hajung jatuh cinta padanya, ku rasa ia tidak bisa menikah selamanya karena ia memiliki masa lalu kelam seperti itu"
"Seolah putraku yang harus bertanggung jawab atas kejadian pada malam itu saat ia bersama pria lain di sebuah hotel"
"Jika ia ingin meminta pertanggung jawaban, harusnya ia pergi ke pria yang pernah tidur dengannya. Jangan ke putraku yang tidak tahu apapun" ucap sewot ibu hajung
"Yobo*(sayang) meskipun kau tidak menyukai gadis itu, bisakah kau berpura-pura menyukainya demi putramu sendiri?" Pinta ayah hajung
"Biar bagaimanapun, gadis itu yang membuat putra kita berubah sedikit demi sedikit menjadi seseorang yang hidup layaknya seperti manusia pada umumnya"
"Kau tahu kan selama ini hampir seluruh hidup kita berdua dihabiskan untuk mengkhawatirkan kehidupan putra kita satu-satunya akibat ulah jahat pamannya"
"Jika bukan karena pengorbanan gadis itu, mungkin selamanya kakakku akan terus mengintimidasi keluarga kita" ucap ayah hajung
"Apa maksudmu hanya gadis itu saja yang berkorban?! Apa kau lupa bahwa kau nyaris kehilangan nyawa putramu akibat ia melindungi gadis itu dari tembakan?"
"Putraku juga berkorban untuk menyelamatkan nyawa gadis itu dan menjebloskan kakakmu ke penjara akibat perbuatan jahatnya selama ini"
"Jika gadis itu sadar bahwa ia berhutang nyawa pada putraku, sudah seharusnya ia pergi dari kehidupan putraku satu-satunya dan tidak kembali lagi agar putraku tidak terbawa sial akibat terus berada di sampingnya" ucap ibu hajung sambil melipat kedua tangannya ke dada
"Kau ini...terus saja memojokkan gadis itu! Sudah ku bilang berhenti mencelanya" seru ayah hajung
"Kenapa kau tidak menyukai diriku bicara buruk tentang gadis itu?!" Seru ibu hajung membalas ucapan suaminya
"Ohh....aku tahu alasanku melarang bicara hal buruk tentang gadis itu" ucap ibu hajung
"Apa karena wajahnya mirip dengan keponakanmu yang mengerikan itu?" Tebak ibu hajung
"Apa maksudmu?" Tanya ayah hajung balik
"Kau terbiasa tunduk di bawah kaki keponakanmu yang bernama deok mi itu hingga alam bawah sadarmu tidak bisa lepas dari pengaruhnya"
"Saat kau melihat gadis yang mirip dengan keponakanmu, secara tidak sadar, alam bawah sadarmu mengatakan untuk tetap patuh padanya meskipun gadis itu dan sung deok mi adalah dua orang yang berbeda" ucap ibu hajung menebak suaminya
"A-apa maksud ucapanmu? Aku mana mungkin menganggap gadis itu dan keponakanku adalah satu orang yang sama" ucap ayah hajung berkelit
"Yaa! Yobo! Berhentilah bicara omong kosong seperti itu dan ku peringatkan padamu untuk tetap tersenyum seolah kau menyukai gadis itu saat berada di hadapan putramu sendiri" ucap ayah hajung dan mengakhiri percakapan mereka tanpa menyadari bahwa aku telah mendengar semua ucapan yang mereka katakan
Aku menyandarkan kepala bagian belakangku pada lemari buku yang ada di perpustakaan ini, menarik nafas dalam-dalam dan perlahan mengeluarkannya
Sudah ku duga
Sangat sulit menghilangkan berita buruk tentang masa laluku
Meskipun aku berusaha untuk berdamai dengan masa laluku, tapi tetap saja akan ada orang yangĀ terus-terusan mencomoohku bahkan memandang rendah diriku akibat kejadian itu
Aku tidak perlu empati dari orang lain tentang kejadian buruk yang aku alami. Hanya saja ku mohon...
Jangan memandangku sebelah mata karena aku mengalami peristiwa yang tidak aku inginkan sama sekali
Perlahan setelah aku merasa perasaanku mulai stabil, aku kembali ke kamar hajung dan berpura-pura seolah aku tidak mendengar ucapan apapun yang keluar dari mulut orang tua hajung
Aku mulai membuka buku yang aku ambil dari perpustakaan namun tidak bisa fokus dengan inti dari buku yang aku baca karena masih memikirkan perbincangan orang tua hajung
Hingga seseorang mengetuk pintu kamar hajung dengan perlahan dan membuatku tersadar ada seseorang yang ingin masuk ke dalam kamar ini
'Tok- tok'
"Hajung-ssi apakah ayah boleh masuk?" Ucap seorang pria yang mengatakan bahwa ia adalah ayah hajung
Hajung yang masih berada di dalam kamar mandi sambil terkadang bernyanyi tidak mendengar suara ayahnya yang sedang mengetuk pintu
Seketika aku yang sedang berada di atas tempat tidur hajung untuk membaca, segera turun dan membuka pintu kamar hajung
Namun saat aku hendak menghampiri pintu kamar hajung, ayah hajung sudah menerobos masuk ke dalam duluan sebelum aku membukakan pintu untuknya
"Ahh...apakah paman menganggumu dan juga hajung?" Tanya ramah ayah hajung
"Anio ahjussi*(tidak paman) aku sedang membaca buku di atas tempat tidurnya dan hajung sedang mandi" ucapku jujur
"Ahh.. jadi begitu rupanya, ku kira aku mengganggu waktu kalian yang sedang berduaan saja di sini" ucap ayah hajung yang membuatku merasa canggung
"Kalau begitu aku akan memberitahu hajung bahwa kau ke sini untuk mencarinya setelah ia selesai mandi" ucapku untuk mengusir rasa canggung
"Ahh....tidak keponakanku..." ceplos ayah hajung yang membuatku terkejut karena panggilannya
"M-maksudku kim hye jin" ucapnya salah tingkah saat meralat nama panggilanku
"Paman ke sini bukan untuk bertemu dengan putra paman, melainkan ingin bertemu denganmu" ucap ayah hajung
"Aku?!" Seruku pada ayah hajung
"Apakah kita bisa bicara sebentar kim hye...jin" ucap ayah hajung yang masih belum terbiasa menyebut namaku
Aku mengangguk pertanda setuju untuk bicara dengannya
Ayah hajung mengajakku ke ruang keluarga dan ia duduk di sampingku sambil membawa amplop berwarna cokelat di tangan kanannya
"Nona kim..." panggil ayah hajung
"Mungkin aku lancang karena melakukan hal ini padamu" ucap ayah hajung
"Tapi ku rasa aku harus menanyakannya secara langsung denganmu"
"Apa itu? Tanyakanlah padaku" jawabku pada ayah hajung
"Sudah sampai sejauh mana hubunganmu dengan putraku?" Tanya ayah hajung
"Apakah kalian akan naik ke jenjang lebih serius seperti pernikahan?" Tanya ayah hajung
"Ahh....anio ahjussi*(tidak paman)" ucapku canggung
"Aku dan hajung memang cukup dekat akhir-akhir ini tapi...."
"Aku sudah menduganya kau menjalani hubungan tanpa status dengan putraku" potong ayah hajung
"Awalnya ku kira kalian hanya berteman dekat tapi...aku berubah pikiran setelah melihat foto ini" ucap ayah hajung sambil memberikan amplop cokelat padaku
Aku penasaran dengan isi dari amplop cokelat yang dipegang oleh ayah hajung sedari tadi
Hingga aku membukanya dan membuatku terkejut karena melihat isinya
"Ige mwoyeo?*(ini apa?)" Tanyaku heran pada ayah hajung
"Mungkin kau berpikir aku adalah ayah yang gila dan terlalu over protektif pada putraku satu-satunya"
"Tapi perlu kau tahu, aku melakukan hal ini karena memiliki alasan" ucap ayah hajung
"Selama ini pelayan kepala bruce menjadi supir pribadi hajung sekaligus menjadi orang kepercayaanku untuk melindungi putraku satu-satunya" ucap ayah hajung
"Tentu kau tahu nona kim kejadian buruk yang hampir menewaskan anakku akibat konflik perusahaan"
"Meskipun seseorang yang telah berbuat salah sudah berada di tempat seharusnya, aku takut akan ada beberapa pihak yang tidak menyukainya dan justru menaruh dendam pada anakku karena ia menjabat sebagai CEO baru pengganti pamannya"
"Oleh sebab itu untuk berjaga-jaga aku menyewa beberapa orang body guard dan kepala pelayan bruce sebagai orang terdekat putraku kemanapun ia berada, harus membuat laporan padaku"
"Dan aku menemukan ini" ucap ayah hajung
Aku terkejut ketika melihat beberapa lembar foto yang menunjukkan kejadian saat aku hampir terpeleset di balkon apartement
Yang lebih memalukannya lagi, kejadian saat aku dan hajung berciuman di balkon juga ikut terfoto dan memperlihatkan dengan jelas dari sudut pengambilan seberang gedung apartementku
Aku mengingat lagi pemandangan depan gedung apartementku yang merupakan atap dari beberapa perumahan toko
Apakah seseorang mengambil foto ini dari sana?
"Tentu...aku sudah tahu apa kelanjutannya dari kejadian ini"
"Seorang wanita dewasa dan seorang pria dewasa sedang berada di puncak gairah membuatku berpikir bahwa kau dan putraku sudah memiliki hubungan lebih dari kata seorang teman.."
"Ahjussi*(paman) ini...tidak seperti dugaanmu, aku dan hajung tidak tidur ber...."
"Apa kau benar-benar mencintai putraku?" Tanya ayah hajung dan memotong ucapanku
Aku menelan air salivaku pertanda aku sedang berada di suasana yang tidak nyaman
"Jika kau merasa tidak bisa membalas perasaan putraku, menjauhlah"
"Ini peringatan dariku" ucap ayah hajung
"Aku tahu tidak seharusnya mengatakan kalimat ini pada seseorang yang telah membuat hidup putraku jauh lebih baik dari sebelumnya"
"Aku tahu kau yang meyakinkan hajung untuk pergi ke psikiater untuk mengikuti therapi agar ia bisa sembuh dari penyakit mentalnya yang di derita selama bertahun-tahun"
"Dan kau juga yang menyelamatkan putraku dari maut akibat ia disekap dalam gudang dengan suhu dingin ekstreem oleh pamannya sendiri"
"Aku sangat berterima kasih padamu nona kim karena kau telah menjadi malaikat pelindung baginya" ucap ayah hajung
"Tapi ku rasa..."
"semua hutang budimu sudah dibayar impas mengingat putraku juga pernah menyelamatkan dirimu dari maut"
"Dan berusaha membebaskanmu dari dalam penjara dengan cara menggiring opini masyrakat tentang sikap baikmu"
"Tidak ada alasan lagi putraku untuk tetap berada di sampingmu. Instuisiku mengatakan hanya akan ada luka jika kau terus berada di samping putraku setelah aku me-review ulang kejadian buruk yang terjadi di masa lalu" ucap ayah hajung
"Ku harap kau tidak tersinggung dengan ucapanku, karena aku hanya ingin melindungi putraku satu-satunya"
Aku tersenyum masam saat mendengar ucapan ayah hajung
"Melindungi katamu?" Ucapku ulang ke ayah hajung
"Jika kau ingin melindungi putramu satu-satunya, harusnya sudah kau lakukan sejak awal saat pamannya hajung berusaha untuk menyingkirkannya" ucapku menyindir ayah hajung
"Tapi setelah paman hajung sudah berada di dalam penjara, kau menyuruhku untuk menjauhi putramu"
"Kau dan keponakanmu memang mirip denganmu"
"menyuruh orang lain untuk menguak kejahatan sung dong il tanpa harus ada campur tangan dari dirimu dan tidak ingin terlibat langsung berhadapan dengannya"
"Lebih seperti seorang pengecut yang merasa dirinya teraniaya namun enggan berjuang untuk bebas dari segala penderitaan yang di rasakan selama ini"
"Apakah sung dong il adalah raja iblis sehingga kau dan keponakanmu sangat ketakutan untuk berhadapan langsung dengannya?"
"Ahh...aku lupa"
"Sung dong il memang bukan seorang manusia, ia hanyalah iblis yang sedang menyamar menjadi manusia"
"Ia bahkan rela menyingkirkan putrinya sendiri dan berencana menggantikannya dengan diriku hingga aku kehilangan kewarasanku di tempat yang ku sebut dengan neraka dunia" ucapku yang terus menyindir ayah hajung
Meskipun kondisi mentalku sudah lebih membaik dari satu tahun belakangan ini, tapi tentu saja kim hye jin yang dulu tidak seperti kim hye jin sekarang yangĀ lebih berani mengutarakan pendapatnya, tidak peduli baik itu orang yang lebih tua atau bukan
Yang jelas aku merasa ayah hajung tidak seharusnya menyuruhku untuk mendekati atau menjauhi orang-orang yang ada di sekelilingku
Aku bukan hye jin dulu yang bisa diperintah oleh orang seenaknya
Kim hye jin yang sekarang lebih seperti sebuah tank yang siap maju ke depan dan menyingkirkan apapun yang ada di hadapannya jika aku merasa terancam
"Tapi meskipun sung dong il adalah iblis, setidaknya kau juga harus berjuang hingga tetes darah penghabisan"
"Untungnya sung hajung tidak sepertimu yang hanya mengunci kamar dan duduk meringkuk ketakutan lalu berharap iblis itu akan pergi dengan sendirinya" ucapku lagi
"Hajung berjuang untuk mencari jalan keluar masalah keluarganya yang selama ini membuatnya menderita"
"Meskipun hambatannya sangat besar sekalipun, ia tidak mempedulikan itu semua"
"Hingga ia bertemu denganku dan menjadikanku peluang untuk bisa terbebas dari rantai besar yang dipasang oleh sung dong il"
"Apa kau tidak malu paman saat memintaku untuk menjauhi putramu mengingat aku dan putra kesayanganmu berjuang mati-matian untuk membuatmu dan juga istrimu hdup nyaman seperti ini?" Ucapku tanpa ada rasa takut
"Kau...." ucap ayah hajung yang terkejut mendengar ucapanku
"Jangan kau pikir karena aku bukanlah keponakanmu, kau bisa berlagak memerintahku dengan seenak jidatmu"
"Aku..."
"Bebas melakukan apapun dan bebas untuk dekat dengan siapapun termasukĀ putramu"
"Aku tidak peduli persepsimu tentang hubunganku dan hajung"
"Selama hubunganku dengan hajung baik-baik saja, aku tidak akan menuruti perintah orang lain yang menyuruhku untuk menjauhinya" ucapku dengan tegas
"Jika tidak ada lagi hal yang perlu dibahas, bisakah aku kembali ke kamar hajung dan menunggu dia menyelesaikan aktivitasnya?" Tanyaku pada ayah hajung yang sedang duduk terdiam memandangku
Aku menundukkan kepalaku pertanda memberikan salam untuk pamit dari hadapan ayah hajung
Namun saat aku membalikkan tubuhku dan berdiri dari sofa, aku melihat hajung yang sudah berdiri mematung memandang ke arah ku dan ayahnya
"Hajung-ssi" panggilku reflek saat melihat dirinya
Ayah hajung sama denganku yang terkejut saat melihat hajung sedang berdiri di belakang sofa tempat kami duduk
"Aku mencarimu di kamar tapi aku tidak menemukan dirimu" ucap hajung sambil berjalan menghampiriku
Hajung melirikkan matanya ke atas meja danĀ melihat foto-foto yang menunjukkan kemesraanku dengan hajung di atas balkon
"Jadi awal mula kau bicara dengan ayahku karena untuk menanyakan hal ini?" Tanya hajung yang berusaha bersikap santai
"Bukan putraku, aku hanya bicara santai dengan hye..."
"Apakah melarang hye jin untuk mendekatiku adalah obrolan santai menurutmu, ayah?" Ucap hajung memotong ucapan ayahnya sendiri
Aku terkejut saat hajung mengatakan hal itu pada ayahnya sendiri
Ku rasa ia sudah berada di belakangku dan ayahnya sudah lumayan cukup lama sehingga hajung mendengar pembicaraan yang tidak nyaman ini
"Mulai besok aku tidak perlu pelayan kepala bruce untuk tetap berada di sampingku" ucap hajung memutuskan
"Biarkan aku menyetir sendiri selama pulang pergi ke kantor"
"Hajung, ayah...."
"Jika kepala pelayan bruce tetap berada di sampingku, ku rasa aku perlu meninggalkan rumah ini dan kembali lagi tinggal di apartement lamaku agar aku bisa bebas dari mata kalian yang mengganggu privasiku dan hye jin" potong hajung saat ayahnya berusaha untuk memberi alasan kenapa dirinya bertindak hingga sejauh ini
"Hajung-ssi" panggilku ke hajung untuk memperingatkan dirinya agar tetap bicara sopanĀ ke orang tuanya sendiri
"Bergegaslah, aku akan mengantarmu pulang" ucap hajung padaku
aku menuruti hajung dan pergi ke lantai 2 untuk ke kamarnya mengambil tasku, saat kembali ke lantai 1, aku melihat ibu hajung sudah berada di samping ayahnya dan suasana tampak hening ketika aku datang kembali
hajung menarik lenganku, namun aku memegang bahunya pertanda untuk berhenti sebentar dan menundukkan kepalaku pertanda pamit ke orang tua hajung
selama di perjalanan, hajung tidak mengatakan sepatah kata apapun padaku.
tidak seperti biasanya hajung menjadi pendiam seperti ini
ia cenderung cerewet dan selalu bercengkrama denganku meskipun saat berkendara
"ku rasa para kokimu sangat handal, hidangan makan malam tadi terasa sangat lezat, hampir saja aku khilaf untuk menambahnya lagi menjadi penuh di atas piringku"ucapku basa-basi untuk membuka suatu percakapan
namun hajung tetap terdiam, tidak menggubris ucapanku
aku hanya menghembuskan nafaskuĀ dan menyandarkan kembali tubuhku ke bangku mobil yang empukĀ saat hajung mengabaikan ucapanku yang sedang berusaha membuat suasana menjadi tidak hening
"maafkan aku hye jin. karena aku mengajakmu makan malam bersama keluargaku, kau mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan seperti ini" ucap hajung
"mereka sangat keterlaluan hingga melanggar batas hak privasi orang lain"ucap hajung lagi
"hajung-ssi..."panggilku
"ku kira semua akan lebih mudah setelah melewatiĀ kejadian buruk yang terus menerus menimpa kehidupan kita, tapi ku rasa aku salah.."ucap hajung
"meskipun pamanku sekarang berada di penjara dan aku menjadi CEO perusahaan real estate menggantikan pamanku, harapanku untuk hidup bersamamu masih belum terwujud"
"aku hanya ingin melihatmu bahagia hye jin, tapi aku justru melihatmu direndahkan oleh kedua orang tuaku sendiri"
"terutama oleh ibuku..."
"hajung-sii..."panggilku ulang sambil menyentuh paha kirinya pertanda untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri
"naega gwaenchana*(aku baik-baik saja)"ucapku pada hajung untuk menenangkannya
"meskipun kedua orang tuamu memandang sebelah mata karena masa laluku, tapi aku bisa membela diriku sendiri dan bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa aku bukanlah hye jin dulu yang bisa diperintahkan dengan seenaknya" ucapku
"aku tidak akan mengulangi kesalahanku seperti dulu lagi, hajung"
"aku akan memperjuangkan apa yang menurutku benar"
"Dan aku tidak mengambil pusing sikap kedua orang tuamu yang membenciku, asalkan kau tetap bersamaku"
"Bagaimana jika sebaiknya kita fokus untuk menyenangkan kehidupan kita?" Usulku
"Untuk saat ini, aku hanya fokus pada hatiku yang berusaha menerima perasaanmu, hajung" ucapku yang bicara jujur padanya
Hajung mengenggam tangan kananku yang berada di paha kirinya
"Gomawo hye jin-ssi neo....*(kau..) selalu bisa menenangkan hatiku" ucap hajung
"Aku berharap hatimu bisa cepat menerima perasaanku dan aku ingin segera mengajakmu ke jenjang hubungan yang lebih serius" ucap hajung sambil mengangkat tangan kananku yang sudah berada di genggaman tangan kiri hajung, lalu ia mencium punggung tanganku
Untungnya hajung tampak ceria kembali setelah perbincangan ringan yang membahas hubunganku dengan dirinya
Ku harap, aku bisa memberikan semua hatiku ke hajung dan hidup bahagia dengan pria yang ada di sampingku
Hajung mengantarku hingga di depan pintu apartementku. Kami berjalan sambil bergandengan tangan dan membahas makanan apa yang akan ku masak jika ia makan malam lagi di rumahku
Selain kepala ayam, aku memutuskan untuk memasak berbagai jeroan sapi atau kambing untuk di jadikan sop
Hajung mengernyitkan dahinya pertanda ia sedikit jijik dengan organ dalam hewan berkaki empat di jadikan sop untuk hidangan makan malam
Aku tertawa melihat ekspresinya hajung yang terus membayangkan hal aneh tentang makanan yang belum pernah ia coba
"Istirahatlah...dan berhenti membayangkan masakan anehmu itu" ucap hajung saat aku membuka pintu apartementku
"Apa kau yakin tidak ingin bermalam di sini?" Tanyaku lagi pada hajung mengingat suasana rumahnya agak suram karena kehadiran diriku
"Apa kau mengijinkaku untuk tidur di sampingmu malam ini, hye jin?"
"Jika iya, aku tidak akan ragu untuk bermalam di apartementmu" goda hajung
"Jangan macam-macam jika kau tidak ingin mendapat pukulan dariku" ucapku sambil menyipitkan kedua mataku ke hajung
"Hahaha.....aku tidak ingin sebuah pukulan darimu hye jin, aku justru ingin mendapat kecupan nakal darimu"
"Kau tahu, aku bermimpi kau berubah menjadi gadis nakal dan menggodaku setiap saat" ucap hajung dengan ciri khas gayanya yang genit di mataku
"Aigoo...kau terlalu imajinatif membayangkan hal itu, apa kau tidak takut dunia akan kiamat jika aku berubah menjadi nakal?" Ucapku sambil memukul bahu hajung karena ucapannya yang nyeleneh
Syukurlah...
Ia telah menjadi sung hajung yang ku kenal seperti biasanya
Tidak ada lagi wajah masam saat aku naik mobil bersamanya tadi
"Baiklah...aku akan masuk ke dalam, hati-hati saat berkendara" ucapku dan hendak masuk ke dalam
Namun hajung menarik lenganku tiba-tiba hingga tubuhku berbalik ke arah hajung dan menubruk dadanya yang bidang
Hajung mendekap tubuhku dengan erat.
Ia menarik nafas dan menghembuskannya, seolah ia sedang berusaha untuk mengatur emosi yang bergejolak di dalam dirinya
"Baiklah...terima kasih sudah memberikanku kesempatan mengisi daya untuk persediaan energi tubuhku" ucap hajung dan melepas pelukannya
"Sekarang pergilah masuk ke dalam, besok aku akan ke sini untuk mengisi daya lagi" ucap hajung padaku
Aku cengengesan melihat tingkahnya yang terkadang aneh menurutku, tapi...
Aku memakluminya karena ia menyukaiku
Setelah itu, hajung pergi meninggalkan apartementku dan kembali ke rumahnya
____ā¬_________ā¬_____________ā¬_________
kurang panjang gak chapter ini??
kalo kurang tak tambahin ampe lieur ehhe...šš
btw semangat menjalani hari pertama puasa guys semoga kita senantiasa diberikan kesehatan agar bisa menjalani puasa sampai satu bulan full
love you ā¤ā¤
__ADS_1