
"kau bisa memakai pakaian hajung, ia sering menginap di sini" ucapku pada seo jin saat berada di kamar tamu apartement tempatku tinggal
Ku rasa seo jin tidak terkejut dengan ucapanku yang telah mengatakan kalimat itu
Seolah ia sudah tahu bagaimana aktivitasku sehari-hari selama aku kembali ke chicago setahun belakangan ini
"Maaf membuatmu repot hye jin" ucap seo jin yang terus mengatakan kalimat yang sama sejak tiba di dalam apartement
Aku tidak menghiraukan ucapannya dan terus melanjutkan niatku yang ingin memberitahu barang-barang yang ia butuhkan untuk menginap di tempatku malam ini
"Jika malam hari kau merasa lapar, kau bisa membuat ramyun sendiri" ucapku sambil membuka lemari tempat menyimpan makanan
"Dan...jika kau ingin menghangatkan diri, emma memiliki persediaan minuman alkohol di lemari es ku"
"Oh iya..ku rasa belum lama ini emma membeli wine yang menurutnya lumayan enak"
"Tapi aku tidak yakin akan seenak minuman anggur yang kau simpan di ruang bawah tanahmu" ucapku yang tanpa sadar mengoceh
"Apa kau sering minum bersama di sini?" Tanya seo jin
"No, of course not..." ucapku reflek
"Kau tau, aku tidak begitu menyukai minuman beralkohol" ucapku
"Dan..ku yakin kau tahu apa alasannya" ucapku yang tidak sadar justru mengobrol santai dengan seo jin
"Tentu aku ingat hye jin, saat kau membuat kekacauan di acara makan malam bersama kedua orang tuaku"
"Semalaman aku dibuat repot olehmu" ucap seo jin
"Ahahaha...please forgot it, aku harap kau tidak mengingat kejadian yang memalukan itu lagi" ucapku
"Tapi berkat kekacauan yang kau buat pada malam itu, kau menyelamatkan hubungan buruk yang terjadi di keluargaku selama bertahun-tahun lamanya" ucap seo jin
"Dan berkatmu, kedua orang tuaku pada akhirnya mengetahui hubunganku yang terjadi sebenarnya pada deok mi tidak baik seperti yang mereka kira" lanjut seo jin
Aku berhenti tersenyum ketika seo jin kembali mengungkit masa laluku saat membantu seo jin dalam masalah keluarganya
"Ku rasa tidak ada lagi yang perlu ke jelaskan, jika kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk mengambilnya sendiri, karena kau sudah tahu dimana barang-barang yang sudah ku letakkan" ucapku memotong seo jin
"Ahh ya...dan satu hal lagi" ucapku sambil membalikkan badan
"Jangan lupa untuk mengambil barangmu yang ketinggalan" ucapku dan membuat seo jin mengernyitkan dahinya
"Kau bisa mengambilnya di samping lemari es" ucapku sambil menunjuk jaket yang sengaja ku gantung untuk mengingatkanku bahwa masih ada orang baik yang membantuku agar tidak kedinginan saat aku tertidur di halte bus akibat pengaruh obat jiwa yang ku konsumsi
Seo jin sedikit terkejut saat aku mengetahui bahwa jaket itu adalah miliknya
"Terima kasih bahwa selama ini kau berusaha menepati janjimu untuk tidak muncul di hadapanku dan tetap membantuku secara diam-diam seperti hantu"
"Persis seperti yang kau lakukan saat aku berada di seoul" ucapku pada seo jin
"Bagaimana kau tahu hye jin?" Tanya seo jin
"Bahkan aku sudah memastikan kau tertidur dengan sangat pulas di tempat umum"
"Kau bahkan tidak mendengar suara klakson yang berisik berlalu-lalang melewati jalan raya" ucap seo jin
"Aku mengetahui pemilik jaket itu adalah dirimu dari emma" ucapku jujur
Seo jin mulai memutar kedua bola matanya dan sesekali berkedip, pertanda ia masih bingung emma tahu dari mana
"Emma bilang jaket itu adalah barang limited edition dari seorang desaigner ternama" ucapku menjelaskan seo jin
"Hanya pelanggan vvip nya saja yang bisa mendapatkan jaket istimewa itu"
"Aku tidak tahu menahu soal pakaian bermerk atau apapun yang bersifat mewah dalam dunia fashion"
"Dan tidak perlu diragukan lagi bahwa orang yang mampu menjadi pelanggan vvip dari desaigner ternama tersebut adalah..."
"Tentu saja dirimu" ucapku
Seo jin hanya terdiam saat aku mengatakan kalimat panjang lebar padanya
"Park seo jin" panggilku
"Ku rasa saat ini... kau tidak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti itu"
"Kau..."
"Bisa melakukan kegiatanmu sebelum kau bertemu denganku"
"Meskipun kau masih terikat surat perjanjian dengan diriku satu tahun yang lalu, tapi ku rasa kau tidak perlu lagi mengikutiku secara diam-diam dengan tujuan melindungiku"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, terlebih..." ucapku terpotong
"Terlebih hajung sudah berada disisiku saat ini" lanjutku
"Ia bisa menjagaku dengan baik, kau tidak perlu khawatir lagi meskipun aku masih menjadi bagian dari tanggung jawabmu"
"Ku rasa kurang dari satu bulan lagi... kontrakmu yang terikat dengan diriku akan berakhir"
"Aku akan lulus dan setelah itu kau tidak perlu membiayai kuliahku lagi"
"Aku akan pindah dari apartementmu yang nyaman ini dan aku bisa bekerja part time sambil melamar ke beberapa perusahaan sambil menunggu ijazahku keluar"
"Kim hye jin kau tidak perlu pindah, gedung apartement ini akan ku berikan pada..." ucap seo jin
"Tidak!" Seruku
"Aku tidak ingin gedung apartement ini atau apapun darimu yang bersifat mewah" ucapku
"Aku sudah menerima banyak darimu..." ucapku
"Hye jin itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang terjadi padamu" ucap seo jin
"Iya aku tahu hal itu" ucapku memotong
"Hanya saja..."
"Aku ingin melupakan sesuatu yang berhubungan denganmu, salah satunya tidak menyimpan atau menerima barang-barang darimu"
"Kau sudah membantuku dalam financial selama ini dan ku rasa itu lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupanku untuk tinggal di sini"
"Setelah aku benar-benar lulus, aku akan mengembalikkan kelebihan uangmu yang ada di rekeningku"
"Jika sesuai perhitungan, ku rasa aku sedikit boros menghabiskan uangmu untuk memenuhi kebutuhanku"
"Itu karena emma yang sering mengajakku ke pusat perbelanjaan hampir setiap weekend"
"Ku rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan" ucapku
"Aku akan mengerjakan tugas kuliahku dan ku harap kau tidak mengganguku meskipun aku terjaga sepanjang malam ini" ucapku
"tunggu!" ucap seo jin yang membuatku mengurungkan niat untuk pergi ke dalam kamar
"Jika aku tidak salah, sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu padaku saat kau menyeka darah di dahiku menggunakan sapu tangan milikmu" ucap seo jin yang membuatku kembali mengingat pikiran konyol yang sempat terlintas di pikiranku dan hampir saja aku mengatakan hal yang tidak pantas kepada seo jin
"kim hye jin, apa yang ingin kau katakan padaku?"
"ungkapkan saja perasaanmu yang kau rasakan saat ini padaku"
"aku akan mendengarkannya dengan baik"
aku terdiam saat seo jin menyakan lagi hal itu
"aku tahu hal ini tidak pantas untuk ku tanyakan padamu" ucap seo jin
"tapi..."
"aku masih penasaran dengan hal ini"
"anehnya aku masih merasakan intuisiku yang terus mengarah kepadamu"
"bisakah aku berharap bahwa kau masih memiliki sisa perasaan mencintaiku seperti yang kau katakan padaku saat aku mengoleskan obat salep luka di bibirmu?" tanya seo jin yang membuatku tersadar bahwa hal ini tidak boleh ku sampaikan dengan sejujurnya
"Anio*(tidak)" ucapku tegas
"kau tidak boleh berharap hal seperti itu padaku" ucapku lagi
"jawabanku atas pertanyaanmu tentang ini masih sama"
"aku tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapmu"
"meskipun kau berusaha untuk mengejarku, jangan pernah berharap aku akan mencintaimu seperti dua tahun yang lalu sebelum kejadian buruk itu menimpa diriku"
"jika kau memiliki perasaan cinta terhadapku, buang jauh-jauh perasaan itu park seo jin"
" aku tidak akan memilih seseorang seperti dirimu lagi untuk aku cintai"
"karena kau adalah seseorang yang sangat berbakat memberikan luka yang sangat dalam pada hatiku dan membutuhkan waktu yang panjang untuk memulihkannya kembali"
"itulah yang hendak aku katakan padamu saat di mobil tadi" ucapku pada seo jin yang sengaja tidak ku katakan tentang perasaanku yang sebenarnya
"apakah kau benar-benar mencintai sung hajung?"tanya seo jin padaku
aku terdiam sebentar dan betapa aku baru menyadari hal ini, ternyata banyak orang-orang sekelilingku yang telah menanyakan hal ini padaku, bahkan orang ku benci seperti sung deok mi saja menanyakan hal yang sama seperti ini padaku
"cih..."
"apa kau bersekongkol dengan sung deok mi untuk menanyakan hal ini padaku?" tanyaku
"aku perlu tahu kebenarannya" ucap seo jin
"untuk apa? pertanyaan itu tidak ada hubungannya denganmu.." balasku
"tentu saja hal itu berhubungan denganku, kim hye jin" sahut seo jin cepat
aku terkejut mendengar ucapan seo jin
"park seo jin apa kau gila?" tanyaku heran
"hanya aku dan hajung yang mengetahui bagaimana hubungan kami" ucapku
"hal ini tidak ada hubungannya denganmu ataupun dengan deok mi" ucapku lagi
"aku tidak tertarik dengan laki-laki yang sudah memiliki istri" ucapku ketus
"bagaimana jika aku mengatakan hal ini secara langsung padamu, bahwa aku dan deok mi sudah bercerai dan tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya" sahut seo jin cepat
"apa kau berubah pikiran dan akan jujur kepadaku bahwa kau masih memiliki perasaan mencintaiku yang masih kau simpan di dalam relung hatimu ?" tanya seo jin
"yya!!(Hei!!) park seo jin!" teriakku
"kau harus tahu sampai mana batasanmu terhadapku!" ucapku memperingatkan
" ku rasa tidak ada hal yang perlu dibahas lagi denganmu"
"kau tahu, setiap kali aku mencoba untuk bicara santai denganmu, pada akhirnya hanya ada rasa benci yang muncul di benakku"
"seperti ini" ucapku sewot pada seo jin
"bisakah kau diam dan tidak perlu menanyakan hal tidak penting seperti ini?"
"tujuanmu ke sini hanya untuk menginap dan terhindar dari marabahaya karena cuaca ekstrem bukan untuk mengintrogasi hatiku terhadapmu"
"aku sama sekali tidak peduli tentang hubungan percintaanmu seo jin"
"kau bercerai atau tidak dengan sung deok mi, aku sama sekali tidak peduli"
"urusanmu denganku tidak lain dan tidak bukan hanya untuk saling menepati surat perjanjian yang kita buat satu tahun yang lalu"
"sejauh ini berjalan dengan normal, bisakah aku meminta dirimu untuk tidak merusak isi perjanjian yang sudah kita sepakati?"
"sebentar saja lagi, surat perjanjian itu akan berakhir dan kita akan menjadi orang asing yang tidak perlu saling mengenal satu sama lain"
"dan aku ingin mengatakan hal ini padamu dengan sejujurnya...."
"aku..sangat tidak nyaman berada di sampingmu seperti ini park seo jin"
"sekarang kau sudah tahu bagaimana isi hatiku yang sesungguhnya"
"sekarang hentikan omong kosong ini dan selamat beristirahat" ucapku ketus dan berjalan ke dalam kamarku sambil menutup pintu dengan cara membantingnya
aku menghembuskan nafas di dalam kamar dan menutup wajahku dengan kedua tanganku
kim hye jin, satu-satunya keahlian yang masih tersisa dari dalam diriku adalah, aku masih bisa berpura-pura dengan sangat baik
aku berusaha untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam dan tidak boleh ada satu orangpun di dunia ini mengetahui perasaan terkutukku
Aku berusaha mengalihkan segala pikiran resahku dengan cara mengerjakan tugas kelompok yang perlu di revisi hingga tanpa sadar hari sudah berganti
Waktu menunjukkan pukul 6 dini hari
Sudah waktunya aku bergegas membersihkan apartement dan pergi ke kampus
Baru saja aku hendak menyeruput kopiku di cangkir namun, kopi hitam yang ku buat untuk membuatku terjaga sudah habis
Aku segera berdiri dari posisi duduk dan berniat pergi ke dapur untuk membuat kopi sati cangkir lagi agar aku bisa kembali menghilangkan rasa kantuk
Dengan cuek aku keluar kamar dengan rambut yang sudah berantakan dan membuka mulutku selebar-lebarnya karena mengantuk
"Hoahhhhmmmm..."
Aku berjalan dengan cara menyeret kakiku dan kedua mataku belum terbuka secara sempurna
Aku meregangkan tubuhku dengan cara mengangkat kedua tanganku setinggi-tingginya
Dan di saat itu aku baru menyadari ada aroma harum yang berasal dari dapur
Aroma telur yang baru saja diangkat dari penggorengan sangat menggugah seleraku hingga membuat perutku keroncongan
"Morning hye jin"
"Apa kau sudah selesai mengerjakan tugasmu?" Sapa seorang pria yang membuatku membuka kedua mataku dengan lebar
"Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu" ucapnya lagi
Tampak seorang pria dengan kemeja ketatnya menyapaku di pagi hari
"Park seo jin?" Ucapku
"Mworago*(apa)" sahutnya
"Apa yang kau lakukan di subuh seperti ini?" Tanyaku pada seo jin
"Subuh?" Ucapnya sambil mengernyitkan dahi
"Ku rasa kau salah, ini sudah pagi dan sebentar lagi matahari akan segera tinggi" ucap seo jin
"Tapi ini masih jam 6 pagi, butuh waktu untuk 2 jam lagi agar matahari bisa tinggi, setinggi pelipismu" ucapku
Seo jin terdiam memandangku dengan wajah yang bingung
"Ammm...kim hye jin kau seperti hantu yang tidak terima kenyataan bahwa hari sudah mulai pagi"
"Hingga kau terus berdalih dan melupakan bahwa jam 6 pagi adalah jam biasa aku bangun sebelum melakukan aktivitasku" ucap seo jin menjelaskan dan berhasil membuatku bingung
"Benarkah kau biasa bangun jam 6 pagi?" Gumamku sambil mencoba mengingat-ngingat kebiasaan seo jin
"Bagaimana jika kau bergabung denganku untuk sarapan?" Tanya seo jin
"Tapi sebelum itu, ku rasa kau harus membasuh wajahmu yang tampak seperti hantu deadline" ucap seo jin sambil menunujuk area bawah matanya bermaksud memberitahuku bahwa aku memiliki lingkaran mata yang menyeramkan akibat begadang
Aku segera menuruti perintah seo jin dan bergabung dengannya untuk sarapan di meja makan lalu bersiap menyantap hidangan yang sudah ia masak
Karena aku juga merasa lapar dan bahan makanan yang ia masak adalah milikku, jadi ku pikir tidak ada masalah jika aku ikut makan bersamanya
Saat dipertengahan makan, tanpa di sengaja kedua mata kami bertemu
Seo jin tampak terkejut saat ia ketahuan sedang menatapku sedari tadi
"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku
Aku melihat seo jin menggaruk-garuk kepalanya menggunakan tangan kirinya pertanda ia salah tingkah
"Berhentilah menatapku dan makan makanan yang kau masak" ucapku pada seo jin
"Maaf hye jin aku menatapmu karena ada hal yang ingin ku sampaikan" ucap seo jin
"Apa yang ingin kau sampaikan haah?" Tanyaku
"Aku tidak ingin membahas topik yang kita bicarakan semalam"
"Ku harap kau mengerti dan jelas dengan batasanmu"
"Awalnya aku ingin bersikap biasa saja saat berada di sampingmu"
"Karena surat perjanjian yang kita buat satu tahun yang lalu, membuatku merasa canggung dan aku selalu mendengar ucapanmu yang berkata 'maaf' karena menunjukkan wajahmu di hadapanku"
"Tapi..."
"Setelah mendengar ucapanmu yang semakin tidak masuk akal itu"
"Aku menyadari bahwa sebaiknya kau dan aku harus sama-sama bersikap sesuai batasan yang berlaku di surat perjanjian itu"
"Ku rasa lebih baik untuk kita satu sama lain agar tidak bertemu dan kau membantuku layaknya hantu seperti selama ini"
"Hingga batas waktu yang di sudah ditetapkan sesuai surat perjanjian kita" ucapku panjang lebar
"Aku minta maaf karena lancang melewati batasanku" ucap seo jin
"Harusnya aku tidak terpengaruh dengan perasaanku selama ini yang terus ku pendam, harusnya aku..."
"Ahh..satu hal lagi" ucapku memotong ucapan seo jin
"Aku..."
"Sama sekali tidak peduli terhadap perasaanmu"
"Aku tidak peduli kehidupan pribadimu yang tidak penting menurutku"
"Jadi..jika kau memendam perasaan yang kau miliki selama ini terhadapku, entah apapun itu.."
" jangan katakan padaku, kubur saja perasaan apapun yang kau rasakan saat ini jauh-jauh di dalam lubuk hatimu mengenai diriku" ucapku
Seo jin terdiam menatapku dan aku memilih untuk menghiraukannya lalu kembali menyantap makananku
Tidak ada lagi pembicaraan antara kami selain hanya suara peralatan makan saja
"Aku selesai makan" ucapku memulai pembicaraan lagi
"Ahh...jika kau ingin pergi ke kantor tidak perlu membangunkanku"
"Aku akan tidur sebentar sebelum berangkat kuliah"
"Piring kotor silahkan letakkan saja di sana" ucapku yang terus mengoceh tanpa memberi kesempatan seo jin untuk bicara
Aku segera bergegas pergi ke dalam kamar dan mengunci pintu lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur
Ahh...
Rasanya sangat nyaman sekali rebahan di atas tempat tidur ini setelah semalaman bergadang
Entah sudah berapa menit waktu berlalu dan pada akhirnya aku tertidur sebelum bangun dari tempat tidur dengan cara melompat karena terkejut mendengar suara seseorang memencet bel apartementku secara brutal
"Nona kim!"
"Nona kimm!!!" Teriak seorang pria dari luar mencoba memanggilku
Aku yang panik segera keluar dan melihat siapa seseorang yang membuatku terbangun hingga melompat
"Nona..."
'Ceklekk'
"Ya? Ada yang bisa ku bantu?" Ucapku pada seorang pria paruh baya yang terlihat memakai seragam keamanan apartement ini sambil mengucek mata kiriku
"Ahh...maaf nona kim, saya membuat keributan dan mengganggu tidur nyenyak anda" ucap pria yang ada di hadapanku
"Saya hanya melaksanakan tugas saya untuk membangunkan anda agar tidak telat berangkat kuliah" ucapnya yang membuatku mengernyitkan kening
"Oh iya?"
"Memangnya pukul berapa ini?" Tanyaku
"Pukul 10 pagi nona" jawab pria yang beranama boby miller dari papan nama pengenalnya yang menempel di saku kanannya
__ADS_1
"Bagaimana anda tahu jika saya harus berangkat kuliah pagi ini?" Tanyaku penasaran
"Mm..kalau itu, pagi ini aku bertemu dengan tuan pemilik gedung apartement yang saya hormati yaitu tuan park seo jin"
"Ia memerintahkanku untuk membangunkan penghuni apartement di unit yang sedang kau tempati nona kim"
"Tuan park seo jin bilang aku harus membangunkanmu apapun yang terjadi meskipun harus membuat kegaduhan"
"Syukurlah aku tidak perlu membawa panci atau ember dan membuat kebisingan agar anda bangun, nona" ucapnya sambil tersenyum
"Ahh..."
"Hahaha...anda tidak perlu melakukan hal hingga sejauh itu"
"Kau memencet bel rumah saja dan mengedor-ngedor pintu apartementku sudah membuatku bangun dengam cara meloncat dari tempat tidur" ucapku polos
Haah...
Park seo jin, apakah ia harus melakukan hal kecil seperti ini hanya untuk diriku?
Benar-benar merepotkan
Aku terlambat atau tidak untuk berangkat kuliah, itu bukanlah urusannya
"Baiklah mr. Miller, thank you so much for your's concern to me and.."
"Aku pikir...aku akan mengucapkan terima kasih juga pada mr.park yang telah memberikanmu amanat untuk membangunkanku" ucapku sambil tersenyum
"Tidak masalah nona kim, semoga harimu menyenangkan" ucap pria itu dan pergi meninggalkan unit apartementku
*******
Sebelum aku pergi ke kampus, aku memutuskan pergi ke toko service handphone untuk memperbaiki handphoneku yang tidak mau menyala sejak kejadian kemarin, dimana seo jin mengagetkanku saat aku sedang mencoba mencari transportasi online yang ku coba pesan melalui handphoneku tepat di halaman rumahnya
Karena responku yang berlebihan, handphoneku terlepas dari genggaman tanganku dan membuat handphone pemberian seo jin tergeletak di luar gazebo lalu terkena air hujan
Sore harinya setelah selesai presentase tugas kelompok, aku segera pergi ke toko service handphone lalu menyalakan handphoneku yang hanya menyisakan sedikit bar baterai
Banyak sekali notif pesan yang masuk ke handphoneku selama handphoneku mati
Salah satunya pesan masuk dari hajung yang terus menerus masuk hingga mencapai 99+ notif
Haah...
Hajung ada peneror yang baik, ia bahkan sanggup membuatku sakit mata karena terus mengirimiku pesan yang isinya sama
"Hye jin"
"Dimana kau?"
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa kau tidak bisa dihubungi?"
"Yyaa*(hei) apakah semua baik-baik saja?"
"Tolong kabaro aku segera jika kau sudah bisa menghubungiku"
"Sore ini aku akan pulang"
"Kenapa masih tidak ada kabar?"
"Dimana kau?"
"Aku akan pergi untuk mencarimu di kampus"
Kurang lebih berikut isi pesan yang di sampaikan hajung, selebihnya ia terus mencoba mengubungiku
Aku terpaku pada isi pesan dari seorang wanita yang baru saja ku kenal dengan nama naomi
Ia datang kepadaku lalu mengaku bahwa ia adalah mantan kekasih dari hajung dan sedang hamil besar
Aku lupa bahwa hari ini aku memiliki janji untuk mempertemukan ia dan hajung untuk membicarakan masalah masa lalu mereka
Naomi telah menungguku di cafe tempat langgananku pukul 4 sore dan saat ini waktu menunjukkan pukul 5 sore
Aku segera berlari sambil menelpon hajung untuk segera menemuiku di cafe tempat langgananku
"Halo hye jin, dari mana saja kau? Kenapa sulit sekali menghubungimu?" Tanya hajung seketika saat ia mengangkat panggilan telepon dariku
"Hajung-ssi, neo oediga?*(kau dimana?)" Tanyaku spontan dan menghiraukan pertanyaannya
"Aku?"
"Tentu saja berada di depan kampusmu, aku baru saja tiba di kota chicago setelah menghadiri rapat di luar kota" ucap hajung
"Tapi kau sulit sekali dihubungi, apakah terjadi sesuatu padamu, hye jin?" Tanya hajung penasaran
"Handphoneku sempat rusak dan mati karena terkena air hujan" ucapku
"Terkena air hujan?" Tanya hajung lagi
"Apa kau menggunakan handphonemu sebagai pengganti payung sehingga menjadi rusak?" Tanya hajung bercanda
"Aku akan menceritakannya, sekarang temui aku di cafe tempat langgananku, ok"
"Ada hal penting yang harus ku bicarakan denganmu" ucapku serius
"Bicara soal apa?" Tanya hajung lagi
"Mmm...biar ku tebak, apakah selama aku pergi ke luar kota kau merindukanku dan akhirnya menyadari bahwa kau mencintaiku lalu memutuskan untuk segera menikah denganku?" Tanya hajung yang sangat kepedean
"Kau akan tahu jika kita bertemu di sana nanti" ucapku pada hajung lalu memutuskan panggilan teleponnya
Aku sedikit berlari agar naomi tidak lebih lama lagi menungguku
Hingga akhirnya aku sampai di depan cafe langgananku dan aku melihat dari pintu kaca yang tembus pandang itu, naomi sedang duduk sendiri seperti sedang menunggu orang lain
Wanita hamil itu melihatku dan ekspresinya berubah menjadi agak terkejut ketika melihatku tiba dengan nafas tersengal-sengal
"Naomi!.. haah.." panggilku
"I am sorry, i am late. My handphone..."
"Handphoneku mengalami masalah sehingga aku lupa bahwa hari ini adalah hari dimana kita akan bertemu lagi di sini" ucapku menjelaskan pada naomi
"Apa kau sudah lama menungguku di sini?" Tanyaku pada naomi
"Ia sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu, nona" sambar chris, barista yang bekerja di cafe tempat langgananku
Aku menengok ke arahnya dan memincingkan mataku pertanda untuk tidak ikut campur
"Sorry, aku hanya membantu wanita itu untuk mewakilinya bicara" lanjut chris ketika ia tahu bahwa aku tidak menyukainya saat ia ikut campur
"Thank you chris atas perhatianmu padaku, tapi aku bisa mewakili diriku untuk berbicara dengan nona hye jin" ucap naomi yang ternyata juga sudah akrab dengam chris
Apakah mereka mengobrol dan menjadi teman baru saat naomi sedang menunggu kedatanganku
"Jadi..."
"Dimana kekasihmu?" Tanya naomi
'Kling-kling'
Suara bel pintu cafe berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam cafe ini
Seorang pria dengan tubuh tingginya baru saja memasuki pintu cafe dan terlihat sedang mencari seseorang
Pria itu melambaikan tangannya ketika ia sudah menemukan seseorang yang ingin ia temui
"Ahh...panjang umur"
"baru saja selesai dibicarakan, kekasihmu sudah datang nona kim" celetuk chris yang lagi-lagi ikut campur
Aku hanya menggaruk keningku dengan jari telunjuk kananku dan menaikkan kedua alisku sedangkan hajung menghampiriku dengan wajah sumringah tanpa ada dosa
"Hai hye jin" sapa hajung
"Maaf aku datang terlambat karena saat di perjalanan menuju ke cafe aku membeli ini" ucap hajung sambil mengeluarkan sebuket bunga lili putih dari balik tubuhnya lalu memberikannya padaku
"aku menemukan toko bunga dan melihat bunga lili putih sedang dipajang di sana"
"Lalu aku teringat dirimu yang sangat mirip dengan bunga lili putih ini"
"Karena kebaikan hatimu, kau mampu membuat hatiku yang gelap layaknya langit tanpa bulan, perlahan menerangi gelapnya hatiku dengan sinar hatimu" ucap hajung yang terus mengatakan kalimat konyol itu
lebih buruknya lagi ia menganggap kalimat yang baru saja ia katakan tadi adalah hal romantis yang mampu meluluh lantakan hati para gadis di muka bumi ini
"ohh that's weird sentence" sambar chris pelan namun aku masih bisa mendengarnya
"ehem...thanks hajung atas bunga lilinya but.." ucapku sambil melirik naomi
"ku rasa sebaiknya kita mulai membicarakan hal penting yang ingin ku sampaikan padamu" ucapku sambil duduk berhadapan dengan naomi dan meletakkan bunga lili di atas meja
"oh ya apa itu, aku juga penasaran, hye jin" ucapk\= hajung lalu menengok ke arah naomi
"tapi apa kau yakin akan membicarkannya di sini?" tanya hajung
"maksudku ada orang asing yang duduk di meja kita" ucap hajung
"orang asing?" oceh naomi yang tidak percaya dengan ucapan hajung
"hajung-ssi neo*(kau..)" ucapku ragu
"apa kau sungguh tidak mengingat naomi?" tanyaku
hajung mengernyitkan dahinya pertanda ia mencoba berpikir
"terlalu banyak nama orang yang ku ingat" ucap hajung santai
"cobalah berusaha mengingat lagi, apa kau tidak ingat bahwa ada nama naomi di rentetan nama mantan pacarmu?" tanyaku pada hajung lagi
"mmm..."
"mmm...maaf hye jin aku tidak bisa mengingatnya, lagi pula itu sudah menjadi masa lalu" ucap hajung
"memang apa hubungannya dengan wanita hamil ini? apa kau berpikir aku yang telah menghamilinya?" ucap hajung cengengesan
aku mengehembuskan nafas seketika saat seo jin selesai mengatakan kalimat itu
"oh my god! apakah baru saja ia sudah mengakui perbuatannya?" sambar chris
"A-apa maksudmu? mengakui apa?"tanya hajung yang seketika berwajah panik saat mendengar ocehan chris
aku menatap hajung
"hye jin apa maksud tatapanmu? jangan bilang kau menuduhku..." ucap hajung terpotong
"oleh sebab itu aku bertanya padamu apa kau mengingat nama mantan...ania-ania*(tidak-tidak)" sahutku memotong kalimat hajung
"maksudku apa kau mengingat semua wajah wanita yang pernah kau tiduri?" ucapku yang langsung ke intinya
"tentu saja...." balas hajung sambil berpikir
"tidak" lanjut hajung pelan
sejenak suasana cafe mendadak sepi
"kim hye jin aku tahu, aku memiliki masa lalu yang buruk. aku adalah laki-laki terbrengsek di muka bumi ini tapi..."
" seperti yang ku bilang setelah aku bertemu denganmu, aku tidak pernah bermain dengan wanita lain lagi"
" aku berani bersumpah atas nama tuhan, sejak kau meninggalkan chicago dan kembali ke kampung halamanmu, aku tidak pernah menghabiskan malamku bersama wnaita lain di atas ranjang"
"jadi.. hal itu tidak akan mungkin terjadi" ucap hajung sambil menatap ke arah naomi
" lagi pula aku selalu memakai alat pengaman saat aku melakukannya dengan wanita lain, hal itu untuk mencegah agar tidak terjadi hal seperti ini" ucap hajung sambil menunjuk perut buncitnya naomi
"jadi maksudmu kau menolak bahwa aku tidak mengandung anakmu di dalam perutku?" tanya naomi dengan ekpresi yang kesal namun terlihat aneh menurutku
entah ia ingin menangis namun tidak bisa hingga ia lampiaskan dengan cara berbicara kesal
" tentu saja aku menolak, karena aku yakin itu bukanlah anakku" ucap hajung ketus
"sebenarnya apa niatmu ke sini dan mengaku-ngaku bahwa kau mengandung anakku?" tanya hajung agresif
"apakah kau bertujuan untuk membuat hubunganku dengan hye jin berakhir?"
"siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"hajung-sii" panggilku bermaksud untuk memepringatkan hajung agar tidak memojokkan naomi
"katakanlah..sebenarnya kau dibayar berapa oleh penyuruhmu? jika kau berani mengatakan siapa orang yang menyuruhmu untuk melakukan ini, aku akan membayarmu 2 kali lipat" ucap hajung
"BRAK!"
aku terkejut ketika naomi memukul meja menggunakan tangannya dengan keras hingga membuatku terkejut
" kau benar-benar pria breng**k di muka bumi ini" ucap naomi dengan tatapan geram
"kau tahu, kau terlalu baik untuk mendapatkan wanita seperti ini"
"jika kau benar-benar mencintainya, setidaknya kau selesaikan masalah masa lalumu dengan wanita yang pernh kau tiduri"
"jika kau tak sanggup menyelesaikan masa lalumu, harusnya kau lepaskan wanita ini agar ia bisa hidup bahagia dan tidak mengkhawtirkan lagi masa depannya saat bersammu" ucap naomi dan pergi dari cafe itu
aku terpaku mendengar ucapan naomi yang seperti mengandung unsur tersirat, begitu pula dengan hajung, ia juga terpaku pada ucapan naomi
beberapa saat aku menyadari bahwa naomi pergi meinggalkan cafe dan mnemukan taksi yang tepat berhenti di depan cafe langgananku
"naomi wait!!" teriakku memanggil naomi untuk mengurungkan niatnya pergi meninggalkan aku dan hajung karena merasa belum selesai berbicara dengannya
namun aku gagal mengehentikkan naomi yang sudah masuk lebih dulu ke dalam taksi dan pergi dari hadapanku
haah...kenapa jalan wanita itu cepat sekali seperti bukan wanita hamil pada umumnya
aku kembali masuk ke dalam dengan berjalan malas dan menatap hajung masih diam terpaku menatap kursi kosong
aku melirik chris yang sedang menggosok cangkir kopi menggunakan serbetnya, chris mengucapkan kalimat namun tidak bersuara dan aku bisa mengetahuinya dari gerakan mulutnya
chris berkata " semua menjadi chaos, akhiri hubunganmu dengan pria itu"
aku mengehembuskan nafas dan membuang wajahku dari chris lalu beralih ke hajung
aku duduk di hadapan hajung dan mengetuk meja beberapa kali menggunakan jariku agar hajung kembali fokus memperhatikanku
"bukan aku yang mengahmilinya kim hye.."
"aro..*(aku tahu)" ucapku memotong ucapan hajung
namun hajung justru terkejut mendengar ucapanku
"benarkah kau mempercayaiku?" tanya balik hajung
"kau mengatakan bahwa kau tidak menghamili wanita itu, jadi aku percaya padamu"ucapku santai
" kim hye jin, ku kira kau akan mengamuk dan tidak akan mempercayai ucapanku" ucap hajung
"aku tidak pernah meragukan ucapanmu hajung" ucapku
"jika kau mengatakan padaku bukan kau pelakunya, aku mempercayainya 100%" ucapku dan kali ini justru membuat hajung menatapku dengan tatapan mata berkaca-kaca
"hentikan tatapanmu itu" ucapku santai
"harusnya kau tidak perlu bicara kasar seperti itu, dengan begitu aku bisa tahu apa maksud naomi menuduhmu seperti itu"
"aku mengenal wanita itu" ucap hajung tiba-tiba
"jinjaro?*(benarkah?!*)" seruku
"oedinya gu?*(di mana?)" tanyaku lagi
"di club vip langgananku" ucap hajung
"jika ku ingat lagi ku rasa ia adalah wanita yang terlibat cek-cok dengan pria yang merupakan kekasihnya" ucap hajung
"malam itu aku merasa frustasi karena tidak bisa menemukanmu, kau menghilang seperti asap tanpa mengabariku" ucap hajung
"aku memutuskan untuk pergi ke club dan meminum minuman alkohol agar sejenak aku bisa melupakanmu meskipun aku tahu minuman itu tidak mempan bagiku untuk bisa melupakanmu" ucap hajung bercerita
"saat aku keluar dari club malam dan menunggu kepala pelayan bruce menjemputku, di dalam gang sempit tepat samping clu malam, aku mendengar suara seorang wanita yang berteriak dan memohon seseorang untuk 'berhenti'"
"ditambah suara seorang pria yang sedang mencaci maki serta mengumpat wanita itu dengan kasar"
"tanpa ragu aku memeriksa gang itu dan melihat seorang pria sedang memukuli wanita hingga babak belur"
"meskipun di dalam gang itu gelap, namun aku dapat melihat wanita itu yang merasa bersyukur aku datang untuk membantunya"
"tentu saja aku geram dengan sikap lelaki pengecut itu yang berani memukuli wanita yang tidak berdaya seperti itu"
" aku memukuli pria itu dengan tanganku sendiri hingga ia babak belur, namun pada saat pria pengecut itu tidak sadarkan diri olehku, wanita itu memohon padaku untuk berhenti memukulinya karena bisa saja pria itu mati di tanganku jika aku terus memukulinya dengan brutal"
"aku menelpon polisi agar bisa menangkap pria pengecut itu atas tuduhan penganiayaan terhadap seorang wanita"
"awalnya wanita itu mencoba menghentikkanku untuk menelpon polisi"
"setelah ku coba memahaminya lagi aku berkata dalam hati.."
"ahh...ternyata ia mencintai pria breng**k yang telah memukuli dirinya"
"wanita itu sangat bodoh, memutuskan berada di sisi pria gila itu hanya untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu"
"dengan ketus aku berkata pada dirinya..."
"jika kau ingin mati, terjun saja ke air terjun niagara, setidaknya kematianmu lebih terhormat dibandingkan kau menyerahkan jiwa dan ragamu ke pria tidak berguna bak sampah seperti ini"
"setelah para polisi tiba, wanita itu terus merengek dan memohon untuk tidak menangkap pria itu, meskipun wajah wanita itu babak belur dan jelek karena menangis, aku masih bisa mengingat wajah wanita bodoh itu dengan sangat baik" ucap hajung
"kau aneh, kenapa kau bisa mengingat naomi yang hanya kau temui beberapa menit saja tapi tidak mengenali wanita yang pernah tidur denganmu?" tanyaku heran
"haa...kim hye jin, mereka hanya perlu memuaskan hasrat nafsuku saja, dan aku tidak perlu mengingat wajah mereka dalam ingatanku, karena setelah aku puas, aku akan tidur terlelap hingga esok hari" ucap hajung santai tanpa sadar
aku terdiam saat hajung mengatakan kalimat itu dan menatap tajam ke arahnya
setelah hajung sadar dengan ucapannya, ia segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya
"ahh..mian hye jin, aku salah bicara padamu" ucap hajung
"yya!!, neo neomu napeun seki*(hei! kau benar-benar laki-laki bajin**n)" ucapku ketus
"Aku tahu masa laluku sangat kelam, tapi..."
"Apakah aku tidak bisa memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki citraku sebagai laki-laki playboy?" Tanya hajung
"Tangi aji...*(tentu saja) kau memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki citramu" ucapku
"Kau tahu sebelum kau menjabat sebagai CEO seperti sekarang ini?"
"Kau hanyalah anak ingusan manja yang mengandalkan kekayaan keluargamu untuk bersenang-senang"
"Tapi...kau bisa menapis rumor buruk itu dan membuat orang lain yang mencibirmu diam seperti orang idiot"
"Aku yakin kali ini kita pasti bisa memperbaiki citra burukmu yang lainnya dengan caraku" ucapku optimis
"Apa kau memiliki rencana hye jin?" Tanya hajung
"Opseo*(belum ada)" ucapku
"Lalu bagaimana kau bisa bicara memperbaiki citraku dengan caramu?" Tanya hajung
"Kau tahu, butuh informasi yang cukup banyak dan akurat untuk menyusun sebuah rencana" ucapku
"Oleh sebab itu, kau harus memulainya dengan memperhatikan lingkunganmu seperti tempat kerja, tempat hiburanmu hingga di kediaman rumahmu"
"Sedangkan aku..."
"Biarkan aku mendekati naomi dengan caraku sendiri, akan lebih baik jika aku bersikap layaknya seseorang yang peduli terhadap sesama perempuan" ucapku
"Jika aku beruntung, mungkin naomi akan mengatakan padaku siapa orang yang menyuruh dirinya untuk menuduhmu menghamili dirinya" ucapku sambil tersenyum
"Kim hye jin..." panggil hajung
"Neo*(kau) semakin membuatku jatuh cinta padamu" ucap hajung membual
"Apa kau ingin makan malam di tempatku?" Tanyaku untuk mengalihkan hajung
"Tentu saja aku mau, sudah 3 hari aku tidak bertemu denganmu"
__ADS_1
"Bolehkah aku menginap di rumahmu?" Tanya hajung
"Tentu saja boleh" ucapku santai
"Bagaimana jika aku memintamu untuk tidur satu ranjang denganku?" Tanya hajung lagi
"Tentu saja boleh hehe..."
"Tetapi jangan salahkan aku jika wajahmu babak belur" ucapku sambil mengepalkan tangan
"Baiklah..aku bisa tidur sendiri di ranjangku" ucap hajung menyerah
******
Keesokan harinya aku dan hajung sepakat untuk masing-masing mencaritahu siapa dalang yang menyuruh naomi berbohong dan mengaku bahwa hajung telah menghamilinya
Aku memulainya dengan cara berkunjung ke rumah naomi agar bisa melakukan pendekatan kepadanya sedangkan hajung mulai mencari dari orang yang terdekat dengannya
Hari ini aku berencana mencari rumah naomi yang berada di jalan jacqueline du pre sebelum dimulainya kelas siang, ku harap ia sedang berada di rumah untuk melakukan kegiatan membersihkan rumah tangga
Aku menanyakan ke beberapa orang di sekitar jalan yang terkenal dengan daerah kumuhnya dan angka kejahatan yang lumayan tinggi di sekitar kota chicago
Hingga akhirnya aku menemukan titik terang yang mengatakan bahwa orang yang aku cari adalah pasangan dari pria bertangan besi
Awalnya ku kira pria bertangan besi itu adalah semacam julukan hero yang berjasa dalam melawan kejahatan tapi...
Ku rasa itu adalah julukan untuk musuh antagonis, karena pria bertangan besi itu gemar berkelahi dan terkenal karena tinjunya yang keras layaknya besi
Apakah aku harus mundur
Firasatku mengatakan bahwa aku akan mengalami bahaya jika aku terus melanjutkan pencarian naomi
Tapi...
Ketika beberapa orang mengatakan bahwa pria bertangan besi itu sedang berada di dalam penjara, aku sedikit merasa lega
Setidaknya naomi aman dan usaha hajung berhasil untuk melindungi naomi dari pasangannya yang toxic itu saat hajung terlibat perkelahain di club malam
Saat aku melihat nomor apartement, aku memberanikan diri untuk memencet bel
"Ya wait" sahut suara seorang wanita ketika aku memencet bel unit apartement kumuh ini
Dan benar naomi membuka pintu dengan tersenyum namun saat ia melihat aku yang berkunjung ke rumahnya, seketika senyumnya menghilang dari wajahnya
Naomi bermuka masam padaku, ia hendak menutup pintunya kembali namun dengan sigap aku menahannya
"Oh wait wait wait..." ucapku sambil menggganjal pintunya dengan kakiku
"Mau apa kau kemari?" Tanya naomi setengah sewot
"Ku rasa kita belum selesai bicara kemarin" ucapku
"Apa kau akan mencaci makiku sama halnya dengan pria bajin**n itu?" Tanya naomi
"Tentu saja tidak, aku..." ucapku
"Mmh..maafkan perbuatan hajung, aku mewakili dirinya sebagai kekasihnya" ucapku terpaksa
"Kau tahu begitu sulit menangani sifat temprament yang dimiliki hajung"
"Apakah hajung juga memukulimu?" Tanya naomi
Seketika otakku menangkap kata yang kemungkinan bisa mendekati naomi
"Ya" ucapku pelan sambil menunduk
"Terlebih karena kejadian kemarin, kami bertengkar hebat tak lama setelah kau pergi dan aku..."
"Aku diseret keluar dari cafe oleh hajung" ucapku terpaksa berbohong
Sekilas aku melihat ekspresi naomi yang merasa iba padaku
'Snif..snif'
Aku memegang hidungku seolah-olah ada cairan yang menyumbat hidungku
"Masuklah dan tenangkan dirimu di dalam" ucap naomi yang mempersilahkan aku masuk ke dalam apartementnya
Ia mempersilahkan diriku duduk dan ia membuatkan minuman di dapur
Entah apa yang ia buat
Mataku melihat sekeliling tempat tinggal naomi dan wow...
Ini lebih kumuh dari pada asramaku
Ku rasa karena ini adalah bangunan tua dan maintenance yang tidak teratur membuat lumut bersangkar di atas plafon
Fuh...ini sangat tidak layak untuk bayi dan kenyamanan ibu jika ia masih tinggal di sini
"Ini minumlah hangatkan dirimu" ucap naomi yang sudah tiba dengan secangkir teh hijau hangat
Aku menyeruputnya dengan perlahan dan wow...
Rasanya sungguh sangat enak
"Naomi..." panggilku
"Teh hijau ini sangat enak sekali" pujiku
"Terima kasih karena telah memujiku" ucap naomi
"Kau tahu belakangan ini aku mengunjungi festival kebudayaan jepang yang di adakan di kota chicago"
"Setiap tahun aku selalu mengunjungi festival kebudayaan itu untuk membeli teh hijau yang dikirim langsung dari jepang"
"Setidaknya dengan meminum teh hijau ini, aku bisa merasakan dekat dengan kampung halamanku" ucap naomi dengan mata berkaca-kaca
"Apa kau ingin kembali ke sana naomi?" Tanyaku
"Mm...tapi aku tidak bisa melakukannya"
"Kau bisa menebak apa alasannya setelah kau melihat keadaanku"
"Oleh sebab itu, aku memberanikan diriku bertemu dengan hajung, pria yang telah menghamiliku"
"Karena ku rasa aku tidak akan sanggup untuk menghidupi bayiku jika lahir nanti" ucap naomi yang masih bisa berbohong
Aku tahu aku muak mendengar cerita bohongnya tapi...aku harus bisa menahannya
"Tapi yang ku dapat justru penghinaan" ucap naomi
"Maafkan aku naomi karena tidak bisa menghentikkan hajung untuk menyakitimu" ucapku
"Jika hajung tidak bertanggung jawab pada anakmu, maka biarkan aku yang akan bertanggung jawab untuk menghidupi anak ini" ucapku
"Hmm? Menghidupi anak ini?" Tanya naomi
Aku mengangguk untuk memastikan naomi lebih percaya kepadaku
"Kau tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti itu, bagaimana mungkin kau rela menghidupi anak orang lain..."
"Orang lain??" Tanyaku penasaran
"Bayi ini adalah anak hajung, tentu saja ia bukan orang lain"
"Aku akan membesarkannya seperti anakku sendiri" ucapku
"K-kenapa kau tidak meninggalkannya hhah?!" Seru naomi
"Kau masih muda dan cantik, kau bisa memilih pria yang lebih hebat dari pada harus memilih pria yang sudah menghamili wanita lain" ucap naomi gelagapan yang seolah-olah menyuruhku mengakhiri hubunganku dengan hajung
"Aku tidak bisa berpisah dengan hajung naomi, meskipun ia memiliki temparament yang buruk, aku tetap mencintai keadaan dirinya seperti apapun"
"Karena aku..."
"Aku..."
'PRANG!!'
aku terkejut ketika mendengar suara piring pecah di dapur
Apakah itu kucing yang masuk dari jendela
"Haah..merepotkan" gumam seorang pria
Tapi...kenapa aku juga mendengar suara pria? Apakah pencuri?
"Tunggu sebentar dan jangan pergi kemana-mana" ucap naomi yang terlihat pucat saat mendengar suara mengejutkan tadi
Naomi bergegas pergi ke dapur dan sekilas aku mendengar suara naomi yang seperti orang terkejut
"K-kenapa kau di sini? Bukankah kau harusnya ke sini pada malam hari?" Bisik naomi yang samar-samar bicara dengan seseorang
"Wanita bodoh! Kau ingin aku mati membeku di luar sana hhah?!" Teriak seorang pria
"Masa bodo dengan polisi, aku ingin menghangatkan tubuhku sambil rebahan di atas sofa" ucapnya sambil berjalan
Aku bisa tahu karena terdengar suara langkah kaki seseorang sedang menuju ke sini
"T-tunggu dulu kau tidak boleh ke sana!" Teriak naomi
"Berani-beraninya kau melarangku hhah?! Lepaskan! Apa kau menyelundupkan pria lain?"
"Akan kupatahkan lehernya jika berhasil ku temukan orang lain selain dirimu"
'DEG!'
Seketika aku merasa bahwa diriku sedang berada dalam bahaya
Aku berniat memutuskan untuk pergi dari sini tanpa berpamitan dengan naomi
Namun aku terlambat
"Siutt...wow" ucap pria itu sambil bersiul
"Apa kau sekarang menjadi biseksual naomi?" Tanya pria itu sesaat ia melihatku
"Setelah kau berani menyelundupkan pria dan menghamilimu, apa kau berniat untuk memanjakan hasratmu dengan seorang wanita juga?"
"Hentikan ucapan bodohmu! Aku tidak pernah berselingkuh darimu dan ini adalah anakmu!" Teriak naomi membela dìri
'BRAK!!'
pria itu memukul dinding dengan sangat keras hingga aku menutup kedua mataku
"Sejak kapan kau berani membentakku hhah?!" Teriak balik pria itu
"Apa kau yang mengajarkannya untuk melawan kepadaku?" Tanya pria itu dan berhasil melihat ekspresi ketakutanku
"Cihh...ku rasa tidak"
"Wajahmu seperti hamster yang memohon untuk tidak di bunuh" ucap pria itu yang berhasil membuatku takut
"Kau tahu kan naomi, jangan membiarkan orang lain berkunjung ke sini tapi kau..."
"Justru melanggarnya"
"Apa kau ingin aku di tangkap lagi oleh polisi sebagai narapidana yang kabur dari penjara hhah??!" Teriak pria itu sambil menampar naomi hingga ia terjatuh
Aku terkejut melihat naomi terjatuh sambil memegang perutnya, saat aku hendak membantunya naomi justru mengisyaratkanku untuk lari dari sini
Seketika aku berlari menuju pintu depan dan hendak lari dari sini
Saat aku berhasil membuka pintu, secara bersamaan tangan pria itu berhasil menjambak rambutku dan memaksaku kembali ke dalam
"Kau pikir kau bisa lari begitu saja wanita jal*ng, haah?" Ucap pria itu dan berhasil mengunci pintu dari dalam
Hilang sudah kesempatanku untuk lari dari sini
Pria itu mendorongku hingga keningku terkena ujung meja
Aku merasa nyeri pada keningku dan ketika ku sentuh menggunakan jemariku, terlihat darah segar yang lumayan banyak
"Kau tahu istilah pela**r akan berteman dengan sesama pela**r?"
"Selain sikapnya sama, nasibnya juga tidak akan berbeda jauh dengan sahabatnya"
"Dengan kata lain jika kau berteman dengan seorang pela**r seperti naomi, nasibmu juga buruk seperti dirinya"
"Hahaha...."
"I am sorry hari ini adalah hari sialmu sekaligus hari kematianmu" ucap pria itu
"Aku tidak akan membiarkan orang lain selain naomi tahu keberadaanku saat ini"
"Seperti yang kau dengar, aku adalah buronan, narapidana yang berhasil kabur dari penjara sial**n itu"
"Karena seseorang, hidupku sengsara di penjara"
"Aku tidak akan berhenti mencari pria kaya sial*n itu"
"Akan ku balaskan dendamku padanya, menyiksanya perlahan sebelum membunuhnya"
"Tetapi sebelum itu, aku akan mengurus dirimu terlebih dahulu agar tidak ada saksi mata yang melihatku berada di sini" ucap pria itu sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya
"Hentikkan Cooper, kau tidak boleh menyentuh gadis itu, ia tidak ada hubungannya dengan ini, ia pasti tidak akan memberitahu siapapun jika kau berada di sini" ucap naomi yang sudah bangun dari posisi duduknya lalu meghadang pria itu
'Plak'
"Minggir kau jal**g!!" Teriak pria itu geram hingga naomi terjatuh dan punggung naomi mengenai lemari besar di belakangnya
Aku segera menghampiri naomi untuk melihat keadaannya
Ia seperti sedang menahan sakit
Dan perlahan aku melihat air jernih mengalir keluar dari bagian bawah tubuh naomi
Apakah ini air ketuban?
"Naomi, are you ok?!" Tanyaku dengan rasa khawatir
"Nona kim, kau tidak perlu mempedulikanku, segera cari cara untuk pergi dari sini" ucap naomi sambil meringis
"Apa kau gila? Aku tidak akan meninggalkanmu dengan pria gila itu" ucapku
Tak berapa lama suara handphoneku berbunyi dari dalam tas ku yang berada di depan pintu masuk
Saat aku dan pria gila itu saling bertatapan, dengan cepat aku segera berlari menuju pintu masuk untuk mengambil handphoneku
Namun pada saat diriku lebih dulu menuju ke arah tasku, tiba-tiba sebuah benda tajam menoreh pergelangan kakiku hingga aku jatuh tersungkur
Pria itu lebih unggul untuk menggapai hanphone yang berada di dalam tasku
Dengan seenaknya ia menatap layar kacanya seolah ia sedang berpikir
Hingga handphoneku berhenti berbunyi
'Tring'
'Tring'
Terdengar suara notif pesan masuk ke dalam handphoneku dan aku tidak tahu pesan itu dari siapa
"Sung hajung?" Ucap pria itu
"Apakah yang di maksud adalah seorang CEO pemilik real estate rose?" Tanya lagi pria gila itu
Aku berusaha untuk bangun sambil menekan luka di pergelangan kakiku
Keringat dingin mulai keluar karena menahan rasa sakit dan ketakutanku pada pria itu
"Hei bit*h! Apa hubunganmu dengan pria ini hhah?"
"Kenapa ia memanggilmu dengan sebutan honey?"
"Apakah kalian berpacaran?" Tanya pria itu
"Kau tahu, pria ini adalah pria yang ku cari selama ini"
"Pria yang ingin ku pisahkan tulang-tulang yang menempel di tubuhnya"
"Tapi ku rasa, aku memiliki ide baru yang sangat menarik dibandingkan harus memisahkan tulang dari tubunya"
"Aku ingin ia merasakan sepertiku, menggila"
"Karena dirinya, aku harus mendekam di dalam penjara akibat tuduhan palsunya itu"
"Dan karena dirinya, hidupku sengsara seperti ini, aku harus bersembunyi dari orang-orang agar aku tidak ditangkap lagi oleh polisi"
"Oleh karena itu, aku akan membuat psikis pria itu sama seperti yang ku rasakan"
"Tentu saja dengan cara mengirim foto dirimu yang sudah tidak bernyawa lagi agar pria ini merasa seolah dunia runtuh dan kiamat"
"Sorry, sepertinya kau salah, ia bukan kekasihku"
"Jika aku mati, tidak ada hubungannya dengan pria itu, aku yakin ia masih bisa menikmati keindahan dunia dan masih bisa membuat pria gila sepertimu mendekam di dalam penjara" ucapku dengan ketus
Seketika pria itu langsung menghampiriku dan menjambak rambutku
"Benarkah??!" Seru pria gila itu
"Kalau begitu haruskah aku mengambil nyawamu sekarang dengan begitu aku akan melihat bagaimana reaksi dari pria itu" ucap pria sinting itu yang mulai mencekik leherku
"TIDAK COOPER HENTIKAN!!" teriak naomi
"DEMI TUHAN! JANGAN KAU SENTUH NONA KIM!"
"IA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN INI!!" Teriak naomi sambil berusaha menyingkirkan tangan pria itu dari leherku
"Bre**sek diam kau!" Balas pria itu dan melepas cengkaraman tanganku
Melihat keadaan itu, aku segera menendang tubuh pria itu agar bisa menjauh dari tubuhku
Aku melihat naomi yang sedang memandang ke arahku sambil memegang perutnya
"LARI KIM HYE JIN, LARI!!" teriak naomi yang menyuruhku untuk mengabaikan dirinya dan cenderung menyuruhku untuk menyelematkan diri
Saat aku berada di depan pintu, aku segera membuka kunci yang masih menempel di lubang kunci tersebut
Namun karena ini adalah apartement tua, sangat sulit dan terasa keras untuk membuka kunci pintu yang ada di hadapanku
Dan hal ini membuatku kehabisan waktu hingga membuat pria yang bernama cooper itu menarik rambutku lagi untuk kesekian kalinya
Kali ini ia menyiksaku dengan cara menyeret tubuhku di lantai dan menariknya hingga terpepet di lantai
Ia menarik kerah bajuku dan mulai membenturkan kepalaku ke tembok
Naomi hanya menangis sambil memanggil namaku
"Tidak nona kim!"
hingga terdengar suara keras dari arah pintu dan pria itu seketika berhenti membenturkan kepalaku
"Kim hye jin kau tak apa?" tanya seorang pria yang terdengar familiar di telingaku
aku membuka mata perlahan dan melihat pria yang menyelamatkan nyawaku, dan ternyata ia adalah orang sama, pria yang terus berada di sampingku ketika aku mengalami hal buruk
apakah ia adalah pawang dari malaikat mautku?
setiap kali aku mendekat dengan kematian, ia selalu muncul di detik-detik terakhirku yang mulai putus asa
park seo jin datang dengan membawa dua orang petugas polisi dan langsung menyergap pria itu setelah ia mendobrak paksa pintu apartement tua ini
seo jin mendekapku dengan erat dan hal itu membuat perasaanku nyaman, dan lebih gilanya lagi aku tersenyum karena merasa lega melihat wajah park seo jin
apakah aku sudah mulai gila? bukannya aku menangis, aku justru tersenyum dengan sumringah hingga membuat seo jin kebingungan
"syukurlah kau datang" ucapku sesaat sebelum aku jatuh pingsan
******
aku terbangun dan melihat keadaan sekelilingku yang terlihat kosong, tidak ada satupun orang lain di ruangan ini selain diriku
aku tersontak kaget saat melihat infusan yang berada di tanganku mulai tercabut karena pergerakanku yang tiba-tiba saat beranjak bangun dari tempat tidur
dengan menahan sedikit rasa nyeri, aku mencabut infusan yang terpasang di lenganku. aku menekan erat area tanganku yang tertusuk oleh infusan agar tidak ada lagi darah yang mengalir
__ADS_1
setelah aku yakin tidak ada lagi darah yang keluar dari tanganku, aku segera beranjak dari tempat tidur untuk mencari keberadaan naomi dan hal-hal yang terjadi selama aku pingsan