
( 1TAHUN KEMUDIAN)
Kim hye jin pov
Aku masih mengingat jelas bagaimana beratnya hajung melepas kepergianku ke korea saat berada di bandara chicago
Meskipun kejadian itu sudah lewat satu tahun yang lalu, hajung masih mengirimiku pesan untuk menanyakan kabar masing-masing
Hajung sudah resmi menjadi direktur utama perusahaan real estate rose setelah para pemegang saham memutuskan untuk memilih hajung sebagai direktur dibandingkan deok mi karena sebagian dari pemegang saham beralasan kesehatan deok mi masih belum stabil dan mereka masih trauma pengkhianatan pada perusahaan akan terjadi lagi seperti yang dilakukan dong il
mereka takut sifat licik dan sifat pengkhianat dong il mewarisi deok mi yang merupakan putri kandungnya
Hajung juga memberitahuku bahwa dong il dinyatakan bersalah atas tuduhan penipuan, kekerasan dan perencanaan pembunuhan dengan ancaman hukuman seumur hidup di penjara
Tentu saja hal itu berlaku bagi tangan kanannya sung dong il yaitu chul moo. Ia juga dinyatakan bersalah akibat terbukti menyelundupkan imigran ilegal dan mempekerjakan mereka seperti budak tanpa standar upah minimum serta kelalaiannya dalam memakai senjata hingga membuat hilangnya nyawa seseorang
Ku harap dengan hukuman ini, paman asing yang meninggal secara mengenaskan di ruang bawah tanah rumah dong il bisa pergi ke surga dengan tenang dan tidak mati dengan rasa penasaran
Syukurlah semua berakhir dengan baik dan hajung telah mendapatkan haknya serta terbukti bisa menjadi direktur yang layak sesuai harapan semua orang.
Hal itu terbukti dengan naiknya kembali harga saham perusahaan dan penjualan unit real estate rose meningkat setelah sempat terpuruk karena membayar semua kerugian dari pihak-pihak yang menjadi korban sung dong il
Hanya dalam kurun waktu satu tahun, hajung mampu membalikkan keadaan perusahaan menjadi lebih baik, tentu saja semua itu di dapat dengan usaha dan kerja keras dari hajung
Sudah ku duga, hajung memang berbakat menjadi CEO muda yang berkualitas, selama ini ia hanya berpura-pura dan terlihat main-main saat perusahaan masih dibawah kendali dong il
Selain itu hajung juga dipandang sebelah mata di kalangan konglomerat karena ia terlahir dari hasil hubungan gelap dan dong il semakin memperparah rumor tentang kebiasaan hajung yang suka bermain dengan banyak wanita di club malam dan memiliki kelainan mental hingga semakin membuat citra hajung menjadi buruk
Syukurlah saat ini citra buruk hajung semakin memudar dan terganti dengan citra baik sebagai CEO berbakat dalam menangani masalah pelik di perusahaan
Hajung juga memberitahuku bahwa cinta pertamaku yaitu richard, kini menjadi pegawai teladan yang bekerja di perusahaannya bersama felix yang merupakan anak buah hajung di bagian pemasaran
Sedangkan emma, dua bulan yang lalu ia mulai bekerja di perusahaan seo jin dan masih dalam tahap probation
Setelah pertemuan terakhirku di restoran itu, aku tidak pernah mendapat kabar apapun lagi dari mereka berdua, deok mi dan seo jin
Ku rasa mereka sudah akur kembali dan menjadi pasangan suami istri yang di dambakan semua orang
Mengingat sifat seo jin yang lembut, ia pasti memaafkan semua kesalahan deok mi dan memulai awal kehidupan rumah tangganya yang baru setelah mengirim sumber masalah utama yaitu dong il ke penjara
Semua sudah berjalan sesuai tempatnya masing-masing dan mendapatkan kebahagiaan
Sedangkan diriku?
Tentu saja kembali ke pulau tempat kelahiranku dan bekerja serabutan di pulau ini
Aku memutuskan tidak melanjutkan kuliahku dan otomatis beasiswaku terpaksa dicabut dan diberikan ke orang lain yang lebih layak menerimanya
Meskipun semua kejadian buruk sudah berakhir, aku masih tidak yakin bisa menjalani kehidupan di sana
Terlalu banyak luka yang ku alami saat menjalani kehidupan di chicago, meskipun berulang kali hajung menawariku untuk tidak ragu meminta bantuan darinya, tetap saja aku tidak ingin mengganggu dan merepotkan hajung yang tidak memiliki waktu luang di tengah kesibukannya
Setidaknya aku bisa melupakan park seo jin dan menghapusnya dari kehidupanku jika aku berada di sini. Begitu pikirku
Tapi kenyataannya tidak!
Aku masih memikirkan dirinya dan masih banyak hal yang perlu diselesaikan agar hatiku tidak di penuhi dendam dan luka olehnya
Namun berulang kali aku mengatakan pada diriku sendiri untuk membiarkan mereka berdua bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya dan melupakan apa yang terjadi di masa lalu
Perjalanan kehidupanku masih panjang, melupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan chicago akan membuatku lebih baik dan menyembuhkan rasa traumaku
Sebelum kembali ke korea, dokter oh yeon seo memberikanku obat penenang untuk digunakan jika aku mengalami gangguan kecemasan hingga membuatku sesak nafas
Berkat bantuan obat itu, aku tidak lagi mengalami mimpi buruk seperti yang aku alami saat berada di apartement hajung
Aku tahu obat penenang ini tidak boleh dipakai secara terus menerus, aku harus menjalani perawatan untuk kesehatan mentalku, tapi karena masalah keuangan, aku mengurungkan niatku untuk menajalani therapi dengan psikiater
Untungnya aku memiliki teman masa kecilku yang berprofesi sebagai perawat, ia bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di seoul, sesekali aku pergi ke sana untuk membeli obat penenang dan mencari pekerjaan di seoul
Hingga detik ini aku masih belum di terima di sebuah perusahaan seoul meskipun aku sudah melamar di berbagai perusahaan
Mencari pekerjaan dengan gelar sarjana saja sudah sulit, apalagi diriku yang hanya bermodalkan ijazah SMA saja
Selama ini aku hanya bekerja part time di pulau ini
Diawali dengan pagi hari bekerja di pelelangan pasar ikan, menawarkan harga ikan segar ke para penduduk yang ada di pulau hangan
Setelah itu aku bekerja part time membersihkan cumi dan sisik ikan yang akan di olah menjadi berbagai olahan makanan dan akan dikirimkan ke kota besar
Siang harinya aku membantu orang tuaku di restoran dan melayani pelanggan yang kelaparan dan nelayan yang ingin menyantap makan siang yang enak di restoran orang tuaku
Ditengah kesibukan saat melayani pelanggan restoran, aku mendapat notif email dari sebuah perusahaan yang ku lamar melalui handphoneku
Ku harap kali ini aku diterima, namun aku kecewa saat melihat tulisan "maaf" dari perusahaan tersebut
Kali ini aku gagal diterima sebuah perusahaan dan harus mencoba melamar di perusahaan baru lagi
"Nona kim! Aku ingin pesan Bugeoguk (semacam sup ikan pollock kering) dan nasi hangat" teriak salah satu pelanggan saat aku melihat layar handphohe
"Ahh..nne*(iya)" ucapku dan langsung menghampiri pelanggan
Ditengah kesibukan restoran yang sedang ramai, aku mulai berhalusinasi lagi dan melihat seseorang yang mirip dengan seo jin sedang memerhatikanku di seberang restoran, namun saat sebuah gerobak yang berisi ikan lewat, seseorang yang mirip seo jin, kini sudah menghilang dari pandanganku
Aku mulai menarik nafas dan membuangnya, setiap kali aku berhalusinasi melihat sosok seo jin, detak jantungku semakin cepat dan nafasku menjadi berat
Jika dibiarkan, hal itu akan membuat aktivitasku terhambat dan orang-orang di sekelilingku akan menyadari bahwa perilakuku ada yang tidak beres hingga membuat mereka hawatir, terlebih ada kedua orang tuaku di dekatku
Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan menyembunyikan kesehatan mentalku yang sedang memburuk dari mereka
Aku mencari cela dan menyendiri untuk meminum obat penenang pemberian dokter oh yeon seo, setidaknya ini akan membuatku menjadi lebih rileks
Baru-baru ini aku mulai berhalusinasi melihat sosok seo jin dari kejauhan, mungkin sekitar satu bulan yang lalu
Awalnya ku pikir seo jin datang ke pulau ini, pernah aku mengejar sosok yang mirip dengan park seo jin itu tapi setelah berhasil ku kejar, ternyata itu murni hanya halusinasiku saja dan orang yang berhasil ku kejar bukanlah park seo jin melainkan orang lain yang tidak ku kenal
Apakah penyakit mentalku semakin parah dan jika dibiarkan terus menerus aku akan berakhir di rumah sakit jiwa?
Aku pernah menceritakan keluhan yang ku rasakan saat ini ke cha young, ia adalah teman masa kecilku sekaligus berprofesi sebagai perawat dan bekerja di seoul, ia mengatakan padaku bahwa aku mengalami ciri-ciri skizofrenia paranoid dan harus segera ditangani
Apakah mungkin gangguan kecemasan bisa berubah menjadi skizofrenia jika dibiarkan seperti ini?
Entahlah...
Sebaiknya aku harus segera mengumpulkan uang agar aku bisa menjalani therapi
Malam harinya setelah selesai menjalani aktivitasku sehari-hari yang melelahkan, aku mulai duduk di batu besar dekat bibir pantai sambil melihat bintang yang bersebaran di atas langit
Angin malam yang berhembus dari arah laut mulai melewati tubuhku, seolah tubuhku sudah kebal oleh angin laut, aku tidak merasakan kedinginan
Aku merasakan ketenangan saat duduk sambil memandangi langit-langit seolah sedang berbicara dengan bintang-bintang
Sesekali aku memikirkan tentang masa depanku di kemudian hari
Apakah aku bisa kembali bahagia dan menjadi hye jin yang dulu?
Bersikap riang, menangis jika merasa sedih, marah ketika sedang kesal, tertawa saat melihat acara komedi di televisi
Sejak keluar dari penjara, aku tidak bisa kembali ceria lagi dan bahkan tidak pernah mengeluarkan air mata sama sekali seolah air mataku sudah mengering dan terganti oleh amarah dan ketakutan berlebih hingga aku mengalami sesak nafas seperti ingin mati
'Tring'
Sebuah notif email dari handphone membuat lamunanku terhenti dan melihat apa isi dari notif tersebut
Sebuah perusahaan yang memproduksi kertas memberitahuku untuk hadir dalam tes wawancara besok pagi di seoul pada pukul 9 pagi
Ku harap kali ini aku berhasil lolos tes wawancara dan aku diterima di sebuah perusahaan yang ada di seoul
Aku segera beranjak dari posisi dudukku dan pulang ke rumah untuk beristirahat karena pagi-pagi sekali aku harus pergi ke seoul
****
Keesokan paginya aku memakai rok hitam selutut dan kemeja putih dibalut dengan blazer hitam serta sepatu heels berwarna hitam layaknya pelamar yang sedang mencari pekerjaan di sebuah perusahaan
Aku tiba lebih awal 30 menit sebelum tes wawancara di mulai. Ini sudah sekian kalinya aku melakukan tes wawancara di sebuah perusahaan namun takdir baik masih belum berpihak padaku
Aku merasa tes wawancaraku terhambat ketika penguji melontarkan sebuah pertanyaan tentang CV ku yang pernah bekerja di sebuah restoran chicago dan alasan tidak merampungkan kuliahku di sana
Saat aku menjawab dengan jujur pertanyaan itu, raut wajah penguji mulai terlihat seolah-olah mengintimidasiku
Dan saat ini aku berada di situasi yang sama, dimana para penguji yang mewawancaraiku mulai memandangku dengan sebelah mata
"Di usiamu yang sekarang hanya dengan bermodalkan ijazah SMA saja sudah sulit untuk mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan" ucap pria paruh baya yang menjadi salah satu penguji wawancaraku
"Tapi ia sangat lancar dalam berbahasa inggris, ku rasa hanya itu satu-satunya kelebihan yang ia miliki" ucap wanita berambut pendek
"Perusahaan kita bukanlah kedubes negara asing, tidak hanya sekedar membutuhkan seseorang yang mahir berbahasa inggris meskipun bahasa inggris merupakan bahasa global" ucap pria muda
"Aku tahu..tapi kita bisa melihat kelebihannya setelah kita menerima dirinya di perusahaan ini" ucap wanita berambut pendek membelaku
"Apa yang perlu dilihat dari seseorang yang dituduh melakukan kejahatan dan menjadi mantan narapidana ibu Jang?" Celetuk pria paruh baya yang mengesalkan itu
Seketika semua penguji langsung menatap ke arah pria baya itu dan mengisyaratkan bahwa ucapannya keterlaluan untuk disampaikan kepadaku
"Baiklah nona kim, anda boleh meninggalkan ruangan ini karena anda telah selesai melakukan tes wawancara" ucap ramah penguji dengan rambut pendek
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara dengan penuh rasa percaya diri
"Aku tahu diriku adalah mantan narapidana, tapi....itu murni karena kesalahan penyidik di sana yang masih percaya dengan ucapan seseorang yang memiliki kelas sosial yang lebih tinggi" ucapku
"Setiap orang pasti memiliki kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan yang terbaik, begitu juga dengan perusahaan ini"
"Saya yakin anda semua adalah orang-orang yang bijak dalam mengambil keputusan, saya berharap anda semua bisa memberi saya kesempatan kedua dan bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini, terima kasih" ucapku sambil menunduk 90° memberi hormat pada para penguji
Pria paruh baya itu hanya berdehem beberapa kali saat mendengar ucapanku
Sesampainya di luar ruangan, aku menghembuskan nafas yang sedari tadi ku tahan saat berada di dalam ruangan
Ku harap kali ini aku diterima di perusahaan ini dan bisa menjalani perawatan di rumah sakit
Hanya berlangsung satu jam saat aku melakukan tes wawancara dan masih memiliki banyak waktu untuk kembali ke pulau hangan
Dari kejauhan aku melihat seorang nenek yang membawa penuh barang-barang tanpa didampingi siapapun hendak menyebrangi zebra cross
Dari sekiannya banyak orang, tidak ada satupun yang berniat untuk membantu nenek tersebut
Dengan sigap aku menghampiri nenek itu dan membantu barang-barangnya serta membantunya menyebrangi jalan raya
"Halmeoni*(nenek) kau ingin kemana biar ku bantu?" Tanyaku
"Aigo...gomawo*(terima kasih) anak muda karena telah membantuku" ucap nenek tua itu
"Antarkan aku ke halte bus yang ada di sana, aku ingin pulang ke kampung halamanku" ucap nenek itu
"Pulang kampung?" Tanyaku
"Kenapa kau tidak pergi bersama anak-anakmu?" Tanyaku lagi
"Hohoho...aku tidak memiliki anak ataupun suami, aku hanya hidup seorang diri di kota besar ini, anak muda" ucap nenek itu
"Aku tinggal di panti jompo di kota besar ini, tapi aku tidak menyukai pemandangan dan hiruk pikuk di kota ini"
"Aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku di kampung halamanku sendiri dan menikmati udara yang segar di sana" ucap nenek itu lagi
Aku terdiam mendengarkan nenek asing yang baru saja ku temui
Sesampainya di halte bus, nenek itu tidak melihat pijakan yang beda tinggi antara trotoar dan jalan raya hingga membuat dirinya hampir terjatuh
Aku dengan sigap menahan tubuh nenek itu agar tidak terjatuh namun jutstru membuat barang bawaan yang ku pegang terjatuh dan sebagian isi dari tas jinjing tersebut berserakan di aspal
"Ahh...maafkan aku halmeoni*(nenek) aku akan segera membereskannya" ucapku panik saat memastikan nenek asing itu stabil untuk berdiri
Aku melihat isi dari tas jinjing tersebut yang berserakan, ternyata nenek itu membawa kembang api dalam jumlah yang lumayan banyak layaknya seseorang yang hendak berjualan
"Halmeoni*(nenek) kenapa kau membawa kembang api banyak sekali?" Tanyaku
"Ahh...itu, aku berjualan kembang api untuk membiayai hidupku dan untuk tabunganku agar aku bisa pulang ke kampung halamanku"
"Tapi hari ini aku masih belum bisa menghabiskan barang daganganku"
"Hahh...mungkin karena sekarang ingin memasuki musim gugur dan musim panas akan segera berakhir sehingga kembang apiku belum laku terjual"
"Jika aku belum bisa menjualnya hingga tiba musim gugur, aku akan mengalami kerugian dan kemungkinan tidak bisa kembali ke kampung halamanku"
"Jika musim gugur tiba, pastinya curah hujan akan naik dan tentunya tidak akan ada satupun orang yang akan membeli kembang api hahaha..." curhat nenek itu
"Jika kau tidak bisa menjual seluruh kembang api ini, kau akan kemana nek?" Tanyaku
"Tentu saja kembali ke panti jompo yang ada di kota ini"
"Haah...akan sangat sulit jika ingin keluar dari panti jompo kota jika tidak ada seorang wali"
"Pada akhirnya aku akan menghabiskan seluruh hidupku dan mati di tempat asing seperti ini"
"Hahaha...tidak ada yang bisa menentukan takdir, jika dewa menginginkanku mati di kota besar yang asing ini, maka matilah"
"Tapi setidaknya aku tidak mati menyesal karena aku sudah berusaha menjual barang daganganku ini semampuku"
"Dimana nenek akan berjualan?" Tanyaku
"Hem...ku rasa nenek akan berjualan di taman kota lalu berjalan kaki menjajakan kembang apiku hingga kaki ini lelah melangkah" ucap nenek itu dan membuatku merasa iba
__ADS_1
"Halmeoni*(nenek)" panggilku
"Juallah..."
"Juallah seluruh kembang api yang kau punya padaku" ucapku pada nenek asing itu
"Eee?!!" Seru nenek itu
"Apa aku salah dengar?"
"Ania-ania*(tidak-tidak) anak muda, aku menceritakan ini bukan untuk menyuruhmu membeli semua kembang api padamu"
"Aku hanya menceritakan ini karena kau bertanya padaku dan aku hanya menjawab jujur padamu"
"Sudah cukup kau membantuku membawa semua barang-barangku dan membantuku menyebrang" ucap nenek asing itu menjelaskan
"Pergilah ke kampung halamanmu hari ini juga nek, wujudkan keinginanmu di usia yang sudah senja ini"
"Dengan kau pergi ke kampung halamanmu, mungkin kau bisa bertemu dengan teman masa kecilmu kembali dan menceritakan masa lalumu saat masih kecil"
"Dengan begitu kau tidak akan merasa kesepian lagi karena kau berada di kampung halamanmu sendiri" ucapku
"Tidak-tidak, ku lihat kau juga sedang membutuhkan uang, aku tahu bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di sebuah perusahaan kota besar" ucap nenek itu
"Gwaenchana*(tak apa) meskipun aku belum diterima kerja di sebuah perusahaan besar, tapi aku masih bisa mencari pekerjaan paruh waktu di sini"
"Aku masih muda nek, sangat mudah mencari uang di usiaku sekarang, kau tidak perlu khawatir" ucapku meyakinkan nenek asing itu
Nenek itu menatapku dengan tatapan nanar dan hampir menangis
"Terima kasih anak muda..terima kasih" ucap nenek itu sambil memeluk diriku
"Semoga dewa membalas kebaikanmu nak" ucap nenek itu lagi
"Dimana kampung halamanmu nek?" Tanyaku
"Provinsi Gwangju desa yangnim-dong" ucap nenek itu sumringah
"Catat itu anak muda, jika kau sedang berpergian ke gwangju, mampirlah ke desa tempat aku dilahirkan"
"Aku akan memberikanmu makanan khas daerah sana dengan buatan tanganku sendiri" ucap nenek itu
"Aigoo...ku harap aku masih diberikan sisa umur yang panjang oleh dewa dan melihatmu ke rumahku bersama suami dan anak-anakmu nanti" ucap nenek asing itu mendoakanku
Setelah selesai membeli semua kembang api nenek asing itu, akhirnya sebuah bus dengan jurusan terminal besar tiba
Nenek itu menaiki bus lalu saat hampir pintu bus tertutup, nenek itu balik arah dan meminta supir bus untuk membuka pintu busnya kembali dan memintanya untuk menunggu sebentar
"Anak muda tunggu!" teriak nenek itu
"Hemm...wae halmeoni?*(kenapa nek?)" Tanyaku
"Chakamanyo*(tunggu sebentar) aku hampir lupa" ucapnya lagi
"Aku ingin memberikan ini padamu" ucap nenek itu dan melingkarkan syal yang pakai ke leherku
"Ahh..tidak usah nek.."
"Eishh...terimalah ku mohon, ini adalah syal hasil rajutanku sendiri selama aku tinggal di panti jompo kota ini"
"Syal ini yang selalu memberikanku kehangatan pada hatiku selama aku tinggal di sana"
"Karena aku akan kembali ke kampung halamanku, ku rasa aku tidak membutuhkan syal ini lagi"
"Hanya ini yang bisa ku berikan padamu anak muda karena sudah membantuku mencari jalan keluar dari masalahku, ku harap hatimu tetap selalu hangat seperti syal ini" ucap nenek asing itu layaknya seperti nenekku sendiri
Aku tidak pernah bertemu dengan nenekku sendiri. kedua nenekku sudah pergi lebih dulu meninggalkan dunia ini sebelum aku lahir, hanya dari foto saja aku mengenal wajah mereka
Hari ini aku merasa seperti memiliki seorang nenek tanpa ikatan darah.
Memberikanku syal serta sebuah onigiri
"Tidak nek, tidak usah ini untuk bekalmu nanti selama diperjalanan" ucapku saat nenek itu memberikanku sebuah onigiri
"Gwaenchana*(tidak apa) aku masih memiliki onigiri satu lagi, biarkan aku memberikannya satu untukmu" ucap nenek itu
Setelah memberikanku syal dan onigiri, nenek itu masuk ke dalam bus dan pintu busnya sudah tertutup, ia melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum sumringah
Aku membalasnya dengan senyum simpul dan melambaikan tanganku padanya hingga bus itu tidak terlihat lagi dari pandanganku
Haah...
Ku kira aku sedang melakukan tindakan yang bodoh, memberikan sebagian uangku pada orang asing, tapi...melihat nenek itu tersenyum bahagia padaku dan memberikan syal rajutan buatannya sendiri, membuatku seolah memiliki seorang nenek yang masih hidup
Padahal rencananya uang itu akan ku gunakan untuk membeli obat penenang yang harganya lumayan sangat mahal satu botolnya
Aku harus menghubungi cha young untuk menunda pertemuanku dengannya karena aku harus mengumpulkan uang lagi untuk menebus obat penenang itu dengan cara mencari pekerjaan paruh waktu di sini
Tapi...
Apa yang harus ku lakukan dengan kembang api sebanyak ini?
Aku menoleh ke arah kanan dan melihat plastik hitam besar berisikan kembang api
Baiklah pikirkan saja nanti, untuk saat ini aku harus fokus mencari pekerjaan paruh waktu
Aku berjalan di sekitar area ruko sambil menengok ke arah kiri dan kanan, barang kali ada pengumuman yang membutuhkan pekerja paruh waktu untuk membantu usaha tokonya
Tentu saja aku membawa plastik hitam besar berisi kembang api itu bersamaku
Sekitar 30 menit aku berjalan, akhirnya aku menemukan sebuah minimarket 24 jam yang membutuhkan pekerja paruh waktu saat ini
Tanpa ragu aku masuk ke dalam dan melamar sebagai pekerja paruh waktu
Mungkin jika ada nominasi sebagai ratu pekerja paruh waktu, aku lah yang keluar sebagai pemenangnya
Aku bisa melakukan hal apapun jika berkaitan dengan pekerjaan paruh waktu
Menjadi kasir, membersihkan peralatan hingga kinclong, mengecek barang yang datang dan keluar dengan teliti, membuat kopi, mengantarkan makanan dan mencatat pesanan makanan para pelanggan serta membersihkan gedung kosong, aku pun sanggup melakukannya
Tanpa menunggu waktu lama lagi, pemilik minkmarket ini menerimaku sebagai pekerja paruh waktunya
Untungnya pemilik minimarket tidak menanyakan isi dari plastik hitam besar yang ku bawa ini
Ia menyuruhku untuk menyimpan barang-barangku di loker dan menguncinya
Hingga tiba jam makan siang, aku menyantap onigiri buatan nenek asing yang ku bantu tadi
Aku harus menghemat uang untuk makan 3 kali sehari. Sebisa mungkin, aku akan menggunakan sedikit uang agar aku bisa menebus obat penenang itu pada cha young
Selesai bekerja part time, paman pemilik minimarket meminta nomer teleponku agar sewaktu-waktu jika ia membutuhkan tenaga pekerja part time, ia tidak perlu pusing mencari orang yang bersedia bekerja paruh waktu
Aku membuka map GPS ku melalui handphone dan melihat jarak antara minimarket tempat aku bekerja part time ke taman dekat sungai han sejauh 4 kilometer
Ini adalah jarak yang sangat tanggung, jika aku menaiki bus hanya butuh waktu 5-10 menit sedangkan berjalan kaki setidaknya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai ke sana
Karena aku sedang menghemat uang, aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju taman sungai han menggunakan sepatu heelsku
Setelah berjalan hampir satu jam, akhirnya aku sampai ke taman tepat saat matahari terbenam
Rasa lelahku terbayar saat melihat pemandangan indah ini, karena sungai han sangat luas, setidaknya mengobati rasa rinduku pada pulau hangan yang dekat dengan laut tapi bedanya aliran sungai han sedikit tenang dibandingkan dengan ombak di laut
Aku mulai menyalakan satu persatu kembang api yang kecil sambil menghitung jumlah uang won yang ku habiskan jika disetarakan dengan harga satu kembang api
Yah...
Anggap saja aku sedang membakar lembaran uang won ku satu persatu
" 35 ribu won..."
"40 ribu won...."
Saat aku membakar kembang api dan menjadi percikan api yang indah, seorang gadis kecil menghampiriku dan memandangku dengan senyuman sumringah
Ia terpesona dengan kembang api yang sedang ku nyalakan
"Kau mau?" Tanyaku pada gadis kecil itu
"Kemarilah..aku akan menyalakan kembang api yang indah ini untukmu" ucapku pada gadis itu
Saat aku menyalakan kembang api yang dipegang gadis kecil itu, ia mulai tersenyum senang melihat kilauan cahaya merah dan orange berpadu menjadi satu
Setelah kembang api kecil itu habis, ia melompat kegirangan pertanda senang karena aku mengajaknya bermain
Hingga seorang wanita memanggil nama gadis itu
"Min suah..."
"Omo ternyata kau di sini" ucap ibu dari gadis kecil itu
"Mianhae*(maafkan aku) karena putriku mengganggumu" lanjutnya
"Anio, neoneun ttal neomu gwieyowo*(tidak kok, putrimu sangat menggemaskan)" ucapku memuji
"Min su ah kemarilah" ucap ibu dari gadis kecil itu memanggil anaknya
"Ahh...chakamannyo*(tunggu sebentar)" ucapku
Aku mengambil banyak kembang api dan memberikannya pada gadis kecil itu
"Ahh...agassi*(ah...nona) tidak usah"
"Gwaenchana*(tidak apa)" ucapku
"Aku tidak ingin membeli kembang apimu" ucap ibu dari gadis kecil itu hingga membuatku membeku karena terkejut
"Ahjumma*(bibi) aku tidak sedang berjualan kembang api, aku..."
"Aku membeli kembang api ini terlalu banyak dan sekarang sedang bingung bagaimana cara menghabiskannya" ucapku sambil tersenyum canggung
"Tenang saja, ini gratis untuk putrimu, aku tidak akan meminta uang sepeserpun darimu" ucapku sambil melambaikan kedua tanganku pertanda tidak menerima uang
"Ahh...jinjjaro!*(benarkah!)"
"Mi-mian*(ma-maaf) ku kira kau sengaja membakar kembang api untuk putriku lalu menagih uangnya padaku" ucap wanita itu
"Gwaenchana*(tidak apa) orang lain selain dirimu juga berpikir aku sedang berjualan kembang api karena membawa banyak berbagai macam aneka kembang api di dalam plastik ini" ucapku
"Betul sekali, di jaman sekarang ini, apalagi kota seoul, banyak sekali cara jitu agar semua barang jualan mereka laku"
"Ada yang berpura-pura cacat fisik, memberikan barang dagangannya seolah-olah gratis tapi pada akhirnya dimintai tagihan pembayaran"
" bahkan ada juga yang sengaja memperkerjakan lansia atau anak kecil yang pura-pura tersesat dan alasan berjualan agar bisa kembali ke kampung halamannya atau alasan lainnya yang membuat kita merasa bersimpati pada mereka sehingga kita bersedia membeli barang dagangannya" ucap ahjumma*(bibi) itu hingga membuatku merenung
Hemm...
Apa yang diucapkan oleh bibi ini sepertinya aku pernah mengalaminya tadi pagi sehingga membuatku membeli semua kembang api ini
Apa mungkin nenek tua itu telah menipuku??
"...ssi"
"Agassi..."
"Agassii..." panggil ahjumma itu berulang kali hingga membuatku berhenti merenung
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya bibi itu
"Y-ya aku baik-baik saja" ucapku
"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi" ucap bibi itu
"Pertanyaan apa? Bisa kau ulangi?" Tanyaku
"Aku bertanaya, apakah hari ini ada sesuatu yang spesial bagimu hingga kau membawa kembang api sebanyak ini?" Tanya wanita itu
"Itu..." ucapku ragu
"Ahh....nne*(yaa...) hari ini aku mendapat pekerjaan dan ingin merayakannya dengan cara menyalakan kembang api yang baaanyak sekali" seruku
"Ahh...aku mengerti sekarang apa alasanmu membawa kembang api sebanyak itu agassi*(nona muda)"
"Cukhae*(selamat) semoga kau betah di tempat kerjamu yang baru"
"Tapi... dimana teman-temanmu? Kenapa merayakannya sendirian?
"Dimana pacarmu?"
"Apakah kau tidak memiliki teman?" Tanya wanita itu yang tidak sadar bahwa pertanyaannya menggangguku
Aku hanya terdiam saat ahjumma*(bibi) itu menanyakan rentetan pertanyaan yang sama kenapa alasanku sendirian di sini
"Ahh...mian-mian*(maaf-maaf) ku rasa aku telah bersikap kurang ajar padamu nona" ucap ahjumma* (bibi) itu sambil menepuk-nepuk bibirnya menggunakan beberapa jemarinya
"Aku belum memiliki pacar dan teman-temanku masih sibuk bekerja" ucapku
Ekspresi wajah bibi itu terlihat kecewa
"Ahh...tapi tenang saja selesai dari sini aku sudah memiliki janji temu dengan teman-temanku di sebuah bar, tapi memang agak malam" lanjutku lagi
"Oleh karena itu sebelum waktu janji temu tiba, aku memutuskan untuk bermain kembang api di sini" ucapku ngarang
__ADS_1
"Ah....."
"Hahaha....ya ampun nona, caramu merayakan sesuatu sangatlah unik" ucap ahjumma*(bibi) itu tertawa tiba-tiba hingga aku terkejut
"Baiklah agassi*(nona muda) kalau begitu nikmati waktumu bermain kembang api, terima kasih karena telah memberikan kembang api pada putriku secara gratis" ucap ahjumma*(bibi) itu dan pergi meninggalkanku
"Ah..nne*(ya..) selamat menikmati waktu santaimu" ucapku membalas bibi tadi
Apa-apaan maksud ucapannya tadi? Kenapa setelah ia bicara seperti itu aku merasa telah ditipu oleh nenek tua yang ku temui tadi pagi?
Eish...ssolma*(masa sihh)
Haaah....mmola-mmola*(ga tau-ga tau) tidak mungkin nenek itu menipuku
Berpikir positif hye jin kau tidak boleh berpikiran negatif dan berprasangka buruk pada orang lain
Baiklah...saatnya menyalakan kembang api yang besar agar sungai ini lebih berwarna dan ceria
Aku segera menyalakan kembang api yang besar secara bersamaan dan berpesta kembang api sendiri
'Dduar...'
'Kretek...kretek'
Beberapa pengunjung di sekitar sungai han menghentikan aktivitasnya dan ikut menikmati pemandangan kembang api yang kunyalakan
Ku rasa aku sudah menyalakan kembang api besar ini sebanyak 10 dan tinggal sisa 5 lagi
Namun aku mendengar suara pluit dan pengeras suara yang mencari siapa pelaku yang menyalakan kembang api
'Prittt!!!"
"Yyya!!*(hei....) siapa yang menyalakan kembang api di sini tanpa persetujuan hhuhh?" Ucap keamanan di sekitar sungai han
Saat aku mendengarnya, seketika aku mengambil sepatu heelsku dan berlari tanpa alas kaki secepat kilat tanpa menengok ke arah belakang
Waah...
Kim hye jin ternyata kau..
Wae?* (kenapa?) ternyata aku berbakat membuat onar di tempat publik
Entah mengapa aku merasa senang dan sudah lama aku tidak merasakan perasaan bahagia seperti ini
Aku tidak tahu apakah perbuatanku termasuk tindakan tidak terpuji atau hal biasa? hanya saja, aku merasa peraturan di seoul terlalu ketat
Menyalakan kembang api di sekitar sungai han saja tidak boleh, toh lagi pula beberapa pengunjung menikmati pemandangan indah itu kok
Lagi pula jika di sungai han saja tidak diperbolehkan menyalakan kembang api, lalu dimana lagi aku harus menyalakan kembang api sebanyak ini?
Baru saja aku mengatur nafasku yang kelelahan akibat berlari, tiba-tiba hujan deras turun tanpa peringatan terlebih dahulu hingga membuatku basah kuyup karena mencari tempat teduh
Aku memutuskan untuk meneduh di depan restoran bernuansa barat, restoran itu menyajikan makanan-makanan barat seperti steak, spageti dan lainnya
Aku mencium aroma wangi dari daging yang dipanggang dengan aneka bumbu yang sudah diracik hingga membuat perutku berbunyi
Restoran itu memiliki kaca yang besar hingga orang dari luar bisa melihat pengunjung yang sedang menikmati makanannya
saat pengunjung restoran itu sedang melahap makanannya, mulutku terbuka dan mengecap-ngecap bibir bawahku lalu menelan ludah
Ya tuhan
Sangat nikmat sekali sepertinya makanan itu, aku juga menginginkannya
Aku menggeser tubuhku untuk melihat daftar menu yang berada di luar restoran dan betapa terkejutnya aku ketika melihat harga untuk satu hidangan di restoran ini
Eee!!!
300.000₩
Kenapa mahal sekali?
Apakah itu daging dengan kualitas tinggi?
Haah..
Kim hye jin, jika ingin memakan daging steak itu, kau harus bekerja selama 4 hari berturut-turut
Nada dering handphoneku berbunyi terus menerus dan melihat ibuku sedang meneleponku
"Nne eomma*(ya ibu)" sapaku
"Kim hye jin, apa kau tidak pulang malam ini?" Tanya ibuku
"Hem...eomma*(ibu) aku masih ada urusan di seoul, mungkin aku akan kembali ke rumah sekitar 2-3 hari lagi" ucapku pada ibuku
"Aigoo...apakah urusanmu tidak bisa di selesaikan dalam satu hari?" Tanya ibuku
"Maaf ibu, tidak bisa...aku masih ada tes wawancara lagi" ucapku terpaksa berbohong pada ibuku
"Bagaimana kau menghadiri tes wawancara sedangkan kau hanya membawa satu stel pakaian saja?" Tanya ibuku
"Eii...eomma*(ibu) apa kau lupa, di seoul ada cha young? Aku akan meminjam setelan kemeja darinya. Kau tidak perlu khawatir" ucapku menenangkan ibu
"Aigoo....aku mengizinkanmu pergi ke seoul karena ada cha young, jika bukan hong cha young tidak mungkin aku mengizinkanmu pergi ke seoul dan menginap di sana" ucap ibu dari seberang telepon
"Ngomong-ngomong apa kau sudah makan?"tanya ibuku
"Nne eomma*(ya ibu) aku sudah makan" ucapku berbohong lagi
"Kau makan apa hye jin?" Tanyanya lagi
"Cha young membelikanku ayam goreng bumbu untuk makan malam dan juga bir" ucapku pada ibu
"Jangan lupa memakan nasi dan jangan minum bir terlalu banyak, jaga kesehatanmu kim hye jin" ucap ibuku mengkhawatirkan diriku
"Araseo eomma*(aku mengerti ibu) baiklah aku tutup teleponmu" ucapku dan mengakhiri panggilan telepon
Mian eomma*(maaf ibu) aku terpaksa membohongimu dan tinggal di rumah cha young
Aku tidak akan pergi ke tempat cha young karena akan merepotkan dirinya
'Krukk..krukk'
Perutku berbunyi dengan suara yang sangat keras.
Baiklah ayo kita makan
Tapi kau harus ingat hei perut!
Kau harus tahu diri ok?!
Kita pergi ke toko serba ada sebelah sana dan mengganti dagingnya dengan sosis
Aku berlari kecil untuk menuju ke toserba yang berjarak 3 toko dari restaurant western ini
Sesampainya di toserba, aku membuang kembang api yang sudah basah karena air hujan
"selamat tinggal uangku" ucapku saat membuang kembang api yang masih tersisa namun sudah tidak bisa di pakai lagi karena basah dan harus berakhir di tempat sampah
setelah membuang sisa kembang apai, aku membeli ramyun instan dan sebuah sosis tanpa melihat jumlah harganya
Sesampainya di kasir aku terkejut ketika mendengar jumlah yang harus dibayar
"Totalnya 10.000₩" ucap kasir
"Mwo?! 10.000?!" Seruku
Kasir itu hanya mengangguk padaku
"Ahh..kalo begitu, aku tidak jadi membeli sosis ini, maaf..."
"Tolong jumlahkan ramyunnya saja" ucapku pada kasir
"3000₩" ucap kasir cuek
Aku mengambil beberapa uang koin di dalam tasku untuk menggenapkan 3000₩
"Maafkan aku karena uangnya recehan" ucapku pada kasir namun kasir itu tidak berkomentar apapun
Saat meninggalkan meja kasir, aku masih memandangi sosis besar itu. berharap aku bisa memakannya malam ini
Tapi...
Uangku tidak cukup jika harus makan keduanya, aku lupa ada perbedaan harga antara kota seoul dan pulau hangan, di sini harganya terlalu mahal hanya untuk sebuah sosis
Tadinya aku berencana membeli koyo untuk ditempelkan pada kakiku, aku merasa pegal-pegal karena seharian ini memakai sepatu heels terus-menerus
Aku duduk di kursi yang ada di toserba ini menghadap arah luar toko sambil melihat hujan turun
Beberapa kali aku memijat-mijat pergelangan kakiku agar rasa pegal yang kurasakan sedikit berkurang sambil menunggu ramyun instantku matang
Beberapa kali juga aku menghela nafas dan menyandarkan daguku di atas kedua tanganku, hingga aku mulai mencium aroma mie instantku yang sudah mulai matang
Aku membuka penutup mie instant itu dan mulai membelah sumpit kayunya.
Tak lama seorang wanita yang merupakan kasir di toko toserba ini menghampiriku
"Nona...ini untukmu" ucapnya sambil menyodorkan sosis yang tidak jadi ku beli
"Tapi...aku tidak jadi membelinya" ucapku singkat
"Hemm....itu" ucap kasir terlihat ragu
"Ahh....aku salah memasang harga sosis itu, harusnya itu hanya 1500₩ saja tapi aku salah memasang harga" ucapnya
"Ahh...begitukah, baiklah aku ingin membeli ini, tunggu sebentar" ucapku sambil mengambil uang sebesar 1500₩
"Ti-tidak perlu, tidak perlu" ucap kasir itu tiba-tiba
"Tidak perlu?"
"Wae?*(kenapa?)" Tanyaku
"....ini gratis! Anggap saja ini sebagai permintaan maafku padamu karena salah memasang harga pada sosis itu" ucap kasir itu
"Ehhei...gwaenchana*(tidak apa) aku akan membayarnya, aku juga pernah menjadi kasir sepertimu, jika barang berkurang itu akan menjadi tanggung jawabmu dan kau yang akan mengganti kerugiannya" ucapku detail
"Terimalah uangnya...dengan begitu aku bisa makan lebih tenang" ucapku lagi dan memberikan 1500₩ ke wanita kasir itu
"Ga-gamshamnida*(te-terima kasih)" ucapnya sambil menundukkan kepalanya padaku
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu, berkatmu...aku bisa menikmati sosis ini dengan ramyunku" ucapku
"Nikmati makananmu, nona" ucap kasir itu ramah dan kembali ke meja kasirnya
Aneh...
Kenapa ia mendadak jadi sopan begitu?
Padahal tadinya ekspresi wajahnya sangat ketus saat aku mengatakan tidak jadi membeli sosis ini
Haahh...lupakan!
Setidaknya aku bisa memakan sosis ini.
Aku menikmati makan malamku di toserba ini
Selesai menghabiskan ramyun, aku melihat bungkusan koyo tertinggal di meja toserba tepat disampingku
Aku segera mengeceknya dan masih tersegel, sontak aku teriak memanggil wanita paruh baya yang tadi duduk di sampingku saat dipertengahan aku sedang makan ramyun
"Ahjumma*(bibi) berbaju kuning!" Teriakku
Wanita itu menoleh ke arahku
"Barangmu tertinggal, bukankah ini koyomu?" Tanyaku
"Ahh...benar itu punyaku, tapi untukmu saja, aku sudah punya yang lain?" Ucapnya yang terlihat aneh menurutku
"Tapi...ini masih tersegel" ucapku pada bibi itu
"Aku salah membeli koyo, harusnya aku membeli koyo yang lebih panas, tapi aku justru membeli koyo yang biasa saja"
"Untukmu saja...jika kau tidak mau menerimanya, buang saja ke tempat sampah" lanjut ahjumma*(bibi) itu
"Anio*(tidak) aku akan menerimanya, gamsahamnida ahjumma*(bibi)" ucapku pada wanita paruh baya itu
Wahh...
Sepertinya ini hari baik bagiku, aku mendapatkan sosis dengan harga murah dan koyo gratis. betapa beruntungnya aku
Aku mulai mencium aroma bau apek dan itu berasal dari pakaianku
Akibat hujan dan keringat, pakaianku menjadi bau, aku harus melaundrynya supaya wangi lagi
Kemana aku harus bermalam malam ini? Ku rasa sauna adalah tempat yang tepat untuk bermalam di sana
Baiklah
Ayo kita ke sauna!
__ADS_1