
Mikhayla Almahyra berumur 26 tahun, selain bentuk tubuh yang sempurna dia juga gadis yang berparas cantik dengan rambut curly panjang berwarna coklat alami, hidung mancung, mata yang sangat indah dan lesung pipi di sebelah kiri semakin menambah kecantikan di wajahnya, lulusan S2 jurusan Administrasi Perkantoran di Universitas ternama di Ibukota, diberi kepercayaan sejak usianya 19 tahun menjadi Asisten & Sekretaris di PT Trengginas Estu salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Awalnya dia hanya bekerja sebagai cleaning service, karena hanya ijazah SMA yang dia punya, tapi karena semangat dan kecerdasannya dia seringkali diminta bantuan oleh seorang wanita bernama Winda yang bekerja sebagai sekretaris disana, dari mulai mengetik, menata dokumen, memberikan ide-ide sebagai alternatif pemikiran pimpinan, mengatur agenda rapat dan menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan bahkan terjun langsung ke lapangan mengikuti beberapa kali meeting dengan perusahaan selalu dia lakukan, itu karena Winda yang mengajaknya.
Winda adalah Asisten sekaligus sekretaris yang dipercaya oleh pimpinan perusahaan yang 3 tahun lalu sudah tiada karena penyakit jantung yang dideritanya. Istri pimpinan tersebut turut mempercayakan perusahaannya kepada Winda, tapi karena Winda akan segera menikah dan pindah diboyong suaminya ke Luar Negeri, maka dari itu winda merekomendasikan jabatannya kepada Mikhayla.
Awalnya Bu Rena tak percaya, tapi setelah Winda menceritakan kecerdasan Mikhayla selama membantunya bekerja, Bu Rena setuju dengan syarat Mika sanggup bekerja sambil kuliah, tentu saja Mika sangat setuju karena bisa kuliah adalah salah satu impiannya.
Saat itu juga Bu Rena memberitahukan kepada seluruh karyawan bahwa Winda akan berhenti dari pekerjaannya dan digantikan oleh Mikhayla, Bu Rena melihat kelegaan di hati karyawan, karena seluruh karyawan sudah mengetahui kemampuan Mika dalam bekerja membantu Winda.
Mika sangat menikmati pekerjaannya, selalu semangat menjalani aktifitas kuliahnya, dia mengikuti kelas karyawan. Sepulang kerja dia langsung menuju ke kampusnya dan hingga malam tiba dia baru bisa pulang ke kost an. Gaji yang dia dapatkan 5 kali lipat melebihi gaji sekretaris biasanya, Bu Rena pun telah membiayai kuliahnya sampai S2, tapi dia hanya tinggal di kost an yang sederhana demi mewujudkan mimpinya, menabung dan membeli rumah yang mewah di Ibu Kota hasil dari kerja kerasnya.
Setiap hari dia banyak berinteraksi dengan orang yang berbeda, kepribadian dan karakter masing-masing orang yang ditemui sangat bervariasi, Bu Rena sebagai Istri dari pimpinan perusahaan tidak punya waktu untuk terjun langsung melihat kondisi perusahaan, dia mempercayakan semuanya kepada Mika, meeting dengan para klien dan petinggi-petinggi perusahaan, Mika sudah terbiasa melakukannya bahkan menghadapi petinggi perusahaan yang nyeleneh pun dia sudah bisa mengatasinya, pengalaman yang didapatkannya semakin banyak, dia mampu mengatasi semua masalah dan tantangan yang ada di perusahaannya.
Hari demi hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun dilewatinya, dia telah menyelesaikan S2 nya dengan nilai camlaude yang didapatkan, Bu Rena sendiri yang mengantar dia Wisuda S1 dan S2 nya, Bu Rena turut bangga tidak jarang Bu Rena meneteskan air mata bentuk keterharuan dan kebanggaan pada semangat Mika.
Mika menyelesaikan S2 nya di usia 24 tahun, dia juga mampu mewujudkan impiannya membeli rumah mewah di Ibu Kota, sebuah rumah minimalis yang luas, ada garasi, di belakangnya terdapat kolam renang pribadi dan sebuah taman yang sangat indah, juga benteng yang sangat tinggi sehingga tidak kelihatan bahwa rumah tersebut penghuninya hanya seorang diri.
Duduk termenung di sebuah kursi taman tidak jauh dari kolam, teringat masa kecil dengan ayahnya yang selalu memanjakannya, berusaha membahagiakannya meski dari keluarga sederhana, setelah ayahnya sakit-sakitan, dia menjual rumah dan sepetak tanahnya untuk biaya berobat, tak lama sakit yang diderita ayahnya semakin parah dan meninggal tepat bulan Desember di waktu Mikha pembagian raport hasil belajarnya kelas 2 semester 1.
Ibunya meninggal karena pendarahan hebat sewaktu melahirkan Mikhayla, tepat hari ini hari dimana 8 tahun yang lalu dia menjadi yatim piatu.
"Semoga Ayah dan Ibu tenang disana, karna disini Mika hidup dengan sangat nyaman dan bahagia, Mika sudah berhasil meraih mimpi Mika, terimakasih Ayah...Ibu selalu menjadi penyemangat untuk Mika, meski kita tak hidup bersama," batinnya dengan mata berkaca-kaca karena kerinduannya yang mendalam.
Fabian Estu Darmawan adalah anak laki-laki tunggal dari pasangan Bapak Aldrich Darmawan dan Ibu Rena Talia, pria dengan sejuta pesona berusia 30 tahun, wajah tampan, rahang yang tegas, sorot mata tajam dan tubuh yang atletis. Semenjak kepergian Ayahnya dia diboyong oleh Neneknya ke Amerika, tempat kelahiran Alm Kakeknya dan kuliah sampai S3 di Harvard University dengan punya banyak prestasi, setelah lulus dia pun ikut mengurus bisnis properti Kakeknya yang di Amerika, laki-laki yang setia dengan satu wanita yang dicintainya yang berada di Indonesia. Sudah hampir 11 tahun dia menjalani hubungan long distance dengan kekasihnya, dia berencana untuk pulang ke Indonesia untuk menikahinya dan siap mengurus perusahaan Ayahnya.
kring...kring...kring
Suara ponsel Fabian pertanda telpon masuk
"Halo, maa" ucapnya semangat
"Bian, Nenek bilang lusa kamu mau pulang sayang, kok gak kasih tau Mamah, kenapa?"
"Surprise donk Maa, ah Nenek gimana sih?”
"Yeee... kirain kamu marah sama Mama,"
"Marah kenapa?'' tanya Bian penasaran.
" Marah gara-gara Mama nyuruh kamu cepet nikah," Bu Rena terkekeh
''Oh,, kalau itu santai saja Mam Aku udah punya calon kok," jawabnya meyakinkan.
"Eh siapa?.. siapa? Mama penasaran nih."
"Mama juga udah kenal kok, nanti setelah di Indonesia Aku mau ngajak dia ke rumah, kenalin sama mama dan Aku juga berencana segera menikah dengannya Ma, kasian dia udah nungguin Aku selama 11 tahun, tadinya ini mau surprise buat mama, tapi mama keburu tau duluan, gimana Mama seneng kan?" tutur Fabian dengan jelas dan penuh semangat.
"Mama kenal? siapa ya?" ucapnya sambil berpikir dan bertanya.
"Itu loh Maa, Alena. Cinta pertama aku waktu SMA, mama pasti gak nyangka kan kita masih berhubungan? dia pernah diajak ke rumah kok ma, masa mama lupa," jelasnya.
Jantung Mama Rena semakin berdegup kencang, teringat saat temannya bercerita tentang kehancuran rumah tangga anaknya disebabkan oleh perempuan yang bernama Alena.
"Ma.. kok Mama diam aja?" tanya Bian.
"Udah dulu ya sayang, mama ada tamu." jawab Mama Rena berbohong sambil menutup telponnya dan duduk di sudut ranjangnya dengan pikiran kacau.
"Aku harus mencari cara supaya Bian menjauhi Alena," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Aku pikir mereka sudah tak menjalin hubungan, setelah sekian lama aku selalu mendengar berita buruk tentang perempuan itu, bagaimana bisa Bian dibutakan oleh cintanya, CEO muda lulusan Universitas Harvard dengan segudang prestasi tapi bisa dibodohi oleh cinta"
Mikayla dengan nama panggilan Mika, perempuan cantik itu tengah disibukan oleh rutinitas pagi harinya, bersiap-siap berangkat ke kantor dengan blouse biru muda terdapat tali pita bagian kerahnya, dipadukan dengan rok span panjang selutut dan rambut coklat dikuncir kuda tak ketinggalan sepatu
senada menambah kesempurnaan penampilannya dan membuat para karyawan menatap kagum padanya.
"Ok....sempurna," sambil memonyongkan bibirnya, karena telah mengoleskan lipstik berwarna peach di bibirnya.
Mika berangkat menggunakan taksi online yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Maaf menunggu lama, jalan sekarang pak!" titahnya
"baik bu," jawab supir taksi tersebut.
Setibanya di kantor tepat pukul 08.00
"Selamat pagi bu," sambut para karyawan sambil menundukan kepalanya.
"Selamat pagi, semangat bekerja" jawab Mika dengan senyum ramahnya.
Mika memasuki ruangan tempat dia bekerja dan mempersiapkan berkas-berkas yang mau dia bawa meeting dengan 2 pemimpin perusahaan, jabatannya sekretaris tapi pekerjaan dan tanggung jawabnya seperti seorang CEO.
"Rin, aku pergi dulu ya," ucapnya pada Rinda salah satu karyawan di perusahaan, dia berjalan terburu-buru melewati meja para karyawan.
"Mau kemana bu?" teriak Rinda
"Aku mau meeting," balas Mika
"Cantik, pintar, bisa diandalkan, baik, tapi kok masih sendiri ya?" batin Rinda sambil tersenyum dengan mata masih tertuju ke arah Mika.
"Kenapa lo senyum-senyum?" tanya liza menghampiri Rinda dari belakang.
"Itu lo kenapa senyum-senyum, jangan-jangan lo lagi ngebayangin CEO baru di perusahaan kita ya? ayoooo ngaku?" tuduh liza sambil tertawa.
"Enggak, itu bu Mika sudah cantik, baik, pintar, mandiri, kategori wanita idaman lah pokoknya, tapiiiiiii... " ucap Rinda menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" liza dengan rasa penasarannya.
"Tapi kok jomblo ya?"
"Yaelah.. emang harus kalau punya pacar bilang-bilang ke lo?"
"Ya seenggaknya kita tau laaah, eh tadi lo bilang apa? CEO baru? siapa?" Rinda penasaran.
"Anaknya Bu Rena, Istri pemilik perusahaan ini, katanya masih muda, tampan lagi rin," jelasnya sambil ngebayangin ketampanannya.
"Oooh Bu Rena punya anak ya? gue baru tau liza."
"Gue juga baru tau tadi d toilet nguping gibahan para karyawan," jawabnya cekikikan seketika mereka diam setelah para karyawan lain memperhatikannya.
******
Mikayla tiba di restoran tempat dia mau meeting dengan 2 perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. kedua perusahaan ternama tersebut dipimpin oleh CEO muda tampan dan berbakat,
Raditia dengan nama panggilan Radit, usia 29 tahun, CEO di perusahaan bidang properti juga.
Rangga usia 32 tahun berstatus Duda tidak kalah tampan dengan yang masih perjaka, CEO di perusahaan batubara, mereka berdua berteman baik.
"Selamat siang" ucapnya tersenyum, kedua laki-laki itu menoleh tatapan matanya tak berkedip dan seketika mereka berdiri.
__ADS_1
"Maaf terlambat, di jalan ada kecelakaan hingga menyebabkan jalanan menjadi macet," lanjutnya menunduk dengan rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa nona santai saja," jawab Rangga dengan mata berbinar bahagia karna gak nyangka Asisten sekaligus Sekretaris yang selalu jadi bahan obrolan setiap petinggi perusahaan ternyata benar-benar sangat cantik.
"Silahkan duduk!" ucap Radit menarik kursi untuk mempersilahkan Mika duduk.
"Terimakasih." membungkukan badannya dan mereka duduk bersama-sama.
"Tak usah sungkan nona, kenalkan nama saya Rangga CEO perusahaan Batubara," Rangga tak sabar mengulurkan tangannya
"Saya Mikayla." Mika membalas uluran tangan Rangga.
"Dan ini Radit CEO di perusahaan property juga," ucap Rangga menepuk bahu Radit. Radit pun mengulurkan tangannya dan Mika membalasnya.
Rangga memberikan isyarat dengan tangannya memanggil waiters,
"Mau pesan apa nona?" tanya Rangga
"Orange juice saja," jawab Mika sopan. tak lama waiters tersebut membawa pesanan Mika.
"Kita mulai saja apa nona makan atau minum dulu?" tanya Radit.
"Kita langsung saja ya?"
"Tentu," Radit dan Rangga serempak.
"Silahkan dilihat pak!" Mika memberikan Radit dan Rangga map yang di dalamnya terdapat foto dan berkas-berkas yang harus dilihat.
"Pembangunan hotel yang di Bali sudah berjalan 80%, pembangunan berjalan dengan lancar adapun kendala yang akan saya sampaikan adalah 100 meter dari hotel, akan ada lagi hotel yang dibangun oleh perusahaan Z dan dari informasi yang saya dengar perusahaan Z bekerjasama dengan perusahaan CN yang sangat berkuasa di Bali, sehingga kedepannya akan banyak pengunjung yang menginap di hotel tersebut, perusahaan Z sudah memperkirakan seperti itu, dalam meeting kali ini adalah solusi yang diharapkan dari pak Radit dan juga pak Rangga, bagaimana caranya supaya para tamu atau wisatawan lebih tertarik dengan hotel kita ," ucap Mika dengan jelas.
"Saya rasa dilihat dari poto-poto ini pembangunan hotel sudah mendekati sempurna, hanya perlu menambahkan taman dekat kolam renang supaya sedikit ada penghijauan dan tidak terlalu gersang," ucap Rangga dengan pendapatnya.
"Kita tinggal memastikan orang-orang dapat menemukan hotel kita dengan mudah, kemudian menjadi pelanggan tetap untuk setiap masa liburan mereka, saya yakin anda nona Mika bisa memberikan ide yang brilian seperti yang dikatakan orang-orang," Radit menambahkan.
Mika sejenak berpikir ...
"Kita harus membuat hotel A2R mudah dicari secara online, kita juga harus mengajukan penawaran secara agresif di jaringan penelusuran untuk mengiklankan hotel dan jangan membatasi diri hanya pada satu platform saja, kita harus melakukan Remarketing dengan menampilkan iklan bergambar yang menarik kepada orang-orang yang baru saja mengunjungi situs kita untuk mengingatkan mereka bahwa kita ada disana dan mengarahkan mereka melalui proses, kita harus menunjukan kepada mereka bahwa hotel kita memiliki banyak kelebihan daripada pesaing dan buat proses pemesanan semudah mungkin, jika perlu kita berikan insentif untuk membuat orang tertarik, misalnya kita bisa menawarkan diskon 15% untuk semua tamu pertama kali, insentif juga bagus untuk strategi pemasaran hotel dan menciptakan rasa urgensi untuk memacu orang memesan pada kita sebelum mereka kehilangan tawaran karena waktu terbatas, selain itu kita harus memperhatikan pelayanan terbaik untuk pelanggan, staf yang akan dipekerjakan harus dilatih dengan mentalitas yang mengutamakan pelanggan hotel, selalu mengutamakan pelanggan adalah hal yang kritis. Itu menurut saya Pak, bagaimana?apakah bisa diterima dan dipertimbangkan?" ucap Mika memberikan ide briliannya.
"Sempurna," balas Rangga menatap kagum dengan gaya bicara Mika yang Intelek.
"Ya saya setuju," ucap Radit dengan sikap dinginnya menyembunyikan rasa kagum pada Mika.
Mika meminum juicenya, karena tenggorokannya sudah terasa kering setelah bicara panjang lebar dengan kedua CEO tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu sampai di sini meeting kita pada hari ini, saya harus kembali ke kantor."
"Ini jam istirahat nona, alangkah baiknya kita makan siang bersama dulu!" ajak Rangga.
"Terima kasih pak Rangga atas tawarannya, saya ada janji dengan klien dan membutuhkan waktu yang lama di perjalanan," jawab Mika sopan.
"Bolehkah saya mengantarmu ke tempat tujuan?" lagi-lagi Rangga memberi tawaran.
"Terimakasih, tidak perlu pak Rangga."
"Senang bertemu denganmu calon nyonya Rangga," ucap Rangga tersenyum dengan tingkat kepedean nya.
Mata Mika membulat terlihat kaget dengan yang diucapkan Rangga, tetapi Rangga malah terkekeh membuat Mika jadi salah tingkah.
"Sampai jumpa kembali, pak Radit, pak Rangga selamat siang," ucap Mika tersenyum dan membungkukkan badannya berlalu meninggalkan restoran.
__ADS_1