Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Jangan harap!


__ADS_3

Setibanya di kantor, Fabian mempercepat langkahnya dan menghiraukan para karyawan yang menyapanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, rasa panik dan takut semakin terasa dalam hatinya ketika langkahnya semakin mendekati ruangan tempat dia bekerja. Fabian panik bagaimana dia akan menghadapi Mikha dan Fabian takut bagaimana jika kenyataannya Mikha tidak ada di tempat.


"Mi- ...," ucapnya terhenti ketika dilihatnya meja Mikha yang ternyata masih kosong.


Fabian mematung terpaku, dahinya mulai berkeringat pikirannya jauh berkelana memikirkan kemana perginya Mikha.


Fabian duduk di kursi Mikha dan merogoh ponsel yang berada di sakunya, dia mencoba menghubungi Mikha namun hasilnya tetap nihil yang terdengar hanyalah suara si operator.


"Mikha, kamu kemana sih?" lirihnya seraya menatap foto Mikha yang tersimpan di meja kerjanya.


Tap ... tap ... tap


Suara high heels mendekati dan terdengar semakin jelas di telinga Fabian, matanya seketika berbinar terlihat ada sedikit kelegaan di dalam hatinya.


"Akhirnya kamu datang juga Mikha," ucapnya seraya melirik ke arah suara langkah kaki itu.


"Mama-"


"Hai ...,"


"Mama tumben ke sini?" tanya Fabian sedikit shock.


"Kenapa? Kaget ya?"


"I-iya Ma," jawab Fabian sedikit gagap.


"Mikha kemana?" tanya mama Rena dengan mata berbinar.


"Dia tidak ada Ma,"


"Tida ada? Maksud kamu?"


"Aku tidak tahu Mikha kemana Ma," jawab Fabian seketika membuat mata mama Rena melotot dengan raut wajah yang terlihat marah.

__ADS_1


"Tidak tahu kamu bilang?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.


"Iya Ma, semalam aku pergi ke rumah Alena dan pas aku pulang pagi Mikha sudah tidak ada," jawab Fabian seadanya karena bagaimanapun dia tidak mau menutupinya karena mamanya harus tahu hubungannya dengan Alena.


"Kamu mendatangi wanita itu lagi?"


"Dia Alena Ma,"


"Dan kamu meninggalkan istri kamu sendirian di rumah?" tanyanya seraya berteriak marah.


"Mikha tau kok Ma, aku pergi ke rumah Alena," jawabnya jujur.


"Tapi sekarang kamu tidak tahu, kemana Mikha pergi?" tanyanya dengan sinis dan Fabian menggelengkan kepalanya.


"Bahkan kamu tidak tahu penyebab kenapa dia pergi?" lanjutnya semakin marah dan Fabian kembali menggelengkan kepalanya, karena Fabian merasa pernikahannya dengan Mikha hanya sementara dan Mikha pun tahu hubungannya dengan Alena jadi urusan dia pergi menemui Alena, bukankah hal yang biasa dia lakukan. (Itulah pikiran Fabian yang terkadang bodohnya tembus ke langit)


"BODOH!"


"Apa kamu tidak cukup pengecut buat Mikha? Apa kamu tidak sadar telah mengingkari janjimu di hadapan Tuhan? Apa kamu tidak mau mempertanggung jawabkan pernikahanmu?"


"Ma, sebelum itu aku sudah punya janji sama Alena," jawab Fabian kekeh dengan tatapan memelas.


"Apa itu penting buatmu?" tanyanya dengan tatapan bengis.


"Penting Ma, aku mencintainya,"


"Jadi selama ini kamu dengan Mikha berpura-pura?"


"Kita berdua sepakat Ma,"


"Kamu memaksanya?"


"Tidak, Ma,"

__ADS_1


"Sekarang kamu mau apa?"


"Aku mau, Mama merestui hubungan aku dengan Alena," pinta Fabian.


"Tidak akan!"


"Kenapa Ma?"


"Karena kamu sudah menikah dengan Mikha," jawabnya tanpa menatap Fabian.


"Kita sudah sepakat setelah urusan perusahaan itu selesai, kita akan bercerai," jawaban Fabian membuat jantung mama Rena berdetak sangat kencang ada kemarahan dan kekesalan di hatinya yang sedang dia tahan.


Fabian sengaja membongkar semuanya karena dia sebenarnya lelah dengan apa yang dia jalani, dia begitu tersiksa dan bingung dengan perasaannya yang dimiliki sekarang.


Fabian berharap setelah dia mengungkapkan kejujurannya maka dia akan segera menemukan solusinya karena yang selama ini menjadi ketakutan terbesarnya adalah reaksi mamanya. Apapun itu resikonya dia sudah siap menerimanya.


"Bercerai?" tanyanya kaget.


"Iya, Ma," jawab Fabian menunduk.


"Baiklah," ucapan mama Rena membuat Fabian kaget, karena semudah itu mamanya menyetujuinya.


"Mama semudah itu setuju?"


"Ya,"


"Kenapa Ma?"


"Ini kan yang kamu mau?"


"Bukan hanya itu Ma,"


"Kalau kamu meminta Mama merestui hubungan kamu dengan wanita itu, jangan harap! Sampai matipun Mama tidak akan merestuinya,"

__ADS_1


__ADS_2