Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Tidur menemani Fabian


__ADS_3

"Hadeh ...," keluh MIkha seraya menyimpan tasnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Mikha membuka setiap lemari yang ada di dapurnya, tetapi Mikha tidak menemukan bahan makanan yang lengkap.


"Ya ampun ... mau masak apa? berasnya juga gak ada," gumam Mikha seraya menepuk jidatnya.


"Benar-benar ngerjain itu orang,"


Tidak ada bahan makanan yang lengkap, Mikha hanya membuat cemilan dengan bahan seadanya. Sementara itu Fabian galau, Alena pujaan hatinya masih belum bisa dihubungi. Fabian memutuskan untuk pergi ke dapur mencari Mikha.


"Masak apa si dia, anteng banget," ucap Fabian dalam hati melihat Mikha yang sedang anteng membuat cemilan.


"Wanginya menggugah selera, masak apa ya kan tidak ada bahan makanan," gumam Fabian yang terus memandangi Mikha dan secara tidak sadar dia sebenarnya mengaguminya.


Cemilan berupa Chicken roll dan nugget pisang telah di hidangkan untuk mengganjal perut Fabian sampai pagi.


"Nih!" ucap Mikha duduk seraya menyimpan cemilan tersebut.


"Apaan nih?" tanya Fabian.


"Makanan lah, bingung mau masak apa gak ada bahan-bahannya. Setidaknya cemilan itu bisa mengganjal perut Bapak sampai pagi."


"Mama gak tau saya akan pulang cepat, jadi Mama tidak mempersiapkan segala keperluan rumah ini," ucap Fabian seraya menyantap cemilannya.


"Makanya cepat kawin!" celetuk Mikha.


"Cie ... yang udah ngerasain kawin," kekeh Fabian dan berhasil membuat Mikha membelalakkan matanya.


"Gimana rasanya?" tanya Fabian penasaran.


"Rasa apa?" jawab Mikha benar-benar tidak mengerti.


"Rasa kawin," balas Fabian.


"Ya mana saya tau ih,"


"Ya udah kalau gak mau ngasih tau juga gak apa-apa," ucap Fabian seraya terus menyantap nugget pisang buatan Mikha.

__ADS_1


"Maksud saya itu cepat nikah Pak, biar ada yang ngurusin, yang masakin yang nemenin," jelas MIkha.


"Tadi kamu bilangnya kawin,"


"Salah ngomong, maaf!"


"Ya, kalau kawin doang gampang malam ini juga bisa, sama kamu juga boleh," ucap Fabian tersenyum smirk.


"Saya pulang sekarang ya Pak!" pamit Mikha mengalihkan pembicaraannya.


"Nanti dulu, saya mau tanya. Dulu saya suruh kamu cari Alena, kenapa gak dilaksanakan?"


"Saya sudah mencarinya Pak,"


"Kenapa tidak mengabari saya lagi?"


"Bu Alena bilang, saya tidak usah mengabari Anda karena dia yang akan langsung mengabari Anda,"


"Saya gak percaya,"


"Sama kamu," jawab Fabian datar.


"Terserah!"


"Kamu temui dia dimana?"


"Di kafenya pak Rangga,"


"Di kafe?"


"Ya, saya bertemu dia di kafe. Saya sudah mencarinya ke apartemen, ke hotel tp saya tidak menemukannya dan secara tidak sengaja saya bertemu dia lagi makan siang di kafe,"


"Sama siapa?"


"Sama pak Radit dan pak Rangga,"


"Bertiga?" tanya Fabian.

__ADS_1


"Ya,"


"Eh berempat sama saya," ralat Mikha.


Fabian terdiam.


"Apa mereka kenal dekat?" tanya Fabian dalam hatinya.


"Dia baik-baik saja kan?"


"Mana ada orang sakit makan siang d kafe," jawab Mikha.


"Apa mereka terlihat akrab?"


"Kelihatannya iya," jawab Mikha datar.


"O-iya ATMnya udah saya kasih saat itu juga dan dia kelihatan sangat senang,"


"Apa dia nanyain saya?"


"Enggak, dia hanya mencium ATM itu,"


"Masa si, Alena tidak nanyain aku," ucap Fabian dalam hati.


"Udah belum nanyanya? Saya mau pulang nih,"


"Nanti saya anterin!" ucap Fabian seraya memakan nugget terakhir.


"Gak usahlah! naik taksi saja,"


"Mau dianterin atau mau tidur di kamar menemani saya?" tanya Fabian serius.


πŸ˜”πŸ˜”Hadeuh.. Fabian, pertanyaan macam apa itu?


Readers juga bingung memilihnya.


Author milih atau saja lah.. πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”

__ADS_1


__ADS_2