Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Kekesalan Fabian


__ADS_3

***


Maafkan author yang telat up ya readers ๐Ÿ™๐Ÿ™


***


"Kamu sudah tau ya, Pak Gunawan itu Ayahnya Radit?" tanya Bian


"Ya," jawab Mikha


"Pantesan," ucapnya sinis


"Kenapa?"


"Semangat diajak makan malam."


"Itu karena perintah."


"Bukannya karena ingin ketemu Anak Pak Gunawan?"


"Jika Anda berpikir seperti itu, itu urusan Anda." balas Mikha cuek seraya memainkan ponselnya, semakin terlihat tangan Mikha yang dipenuhi dengan bulu halus, Mikha tak tahu Fabian curi-curi pandang ke arahnya.


"Kamu sangat perhatian sama Radit."


"Siapapun yang tersedak saya pasti reflek memberikan minum," ucap Mikha.


"Dan menepuk-nepuk punggungnya?"


'Ya."


"Memberikan air putih sepulang bekerja?"


"Ya."


"Saya rasa kamu cocok sama Radit, dia juga kayanya suka sama kamu,"


"Dia orang yang baik."


"Sementara kamu tidak?"


"Ya."


"Kamu kalau ngomong sama atasan itu yang benar!"


"Lagian Bapak kenapa malam ini banyak bicara, biasanya juga enggak kan?"


"Ya terserah saya, mulut-mulut saya."


"Begitupun dengan saya."


"Ini masih jam kerja, ngomong yang benar sama atasan!" ucap Bian dengan suara sedikit tinggi.


"Maaf Pak saya baru ingat kalau saya lagi bersama dengan atasan,"


"Memangnya kamu tadi ngerasa lagi sama siapa?"


"Sama polisi," ucap Mika datar


"Kok polisi si, dasar aneh."


"Habisnya dari tadi saya merasa lagi diinterogasi urusan pribadi pak,"


Bian tersenyum tipis tapi Mikha masih dengan sikap datarnya memainkan ponselnya.


"Turun," Titah Bian.

__ADS_1


Mikha menoleh ke arah luar,


"Oh sudah sampai ya?" ucap Mikha sambil membuka selt beltnya.


"Makasih," lanjut Mikha dan segera turun dari mobil dan memasuki rumahnya tanpa menoleh kembali pada Bian.


Bian menginjak pedal gasnya dan melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumahnya. Dia memikirkan Alena yang sejak tadi siang nomornya tidak bisa dihubungi. jadi melampiaskan kekesalannya dengan menginterogasi Mikha.


Sesampainya di rumah


"Sayang, baru pulang?" Tanya Mama Rena


"Iya ma, kenapa Mama belum tidur?"


"Nungguin kamu sayang, kirain kamu pulang ke rumah kamu abisnya Mama telpon gak di angkat,"


"Oh maaf Ma, tadi aku lagi di jalan," ucap Bian


"Gimana makan malamnya?"


"Ya begitulah, Bian ke kamar dulu ya Ma!"


"Iya sayang,"


"Kok terlihat kesal ya? Kenapa? Apa karena tidak berangkat sama Alena?" ucap Mama Rena dalam hati.


***


"Kemana si, Alena?" ucap Bian sambil melemparkan jas nya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya di kasur king size di kamarnya.


Hari ini benar-benar hari yang melelahkan Fabian pun langsung tidur tanpa membersihkan diri.


Keesokan harinya di ruang makan


"Kenapa?"


"Biar lebih dekat dari kantor, takut lembur kalau ke sini cape banget Ma,"


"Ya udah gak apa-apa, tapi kamu sering-sering ya pulang kesini! titah Mama Rena


"Iya dong Ma, kalau aku pulang masih sore nanti aku kesini deh. Lagian sayang Ma, rumah itu dikosongin terus."


"Iya sih, tapi tenang aja biarpun kosong


rumahnya tetap bersih kok."


"Apa Mama sering kesana?"


"Tidak, tapi suka ada Bibi yang bersih-bersih kesana,"


"Oh... Ya udah sekalian sama Bibi tolong bawain baju-baju Bian yang ada di dalam koper ke rumah yang itu ya Ma!"


"Iya sayang, apa mau ajak satu bibi dari sini? kan di sini ada 3."


"Gak usah lah Ma," tolak Bian


"Yang urusin kamu nanti siapa sayang? Nyiapin makan pulang kerja cape," ucap Mama Rena menghawatirkan Anaknya.


"Aku udah biasa sendiri Ma, Mama tenang aja." Bian meyakinkan


"Aku berangkat ya!" pamit Bian sambil mencium tangan dan pipi Mamanya.


"Hati-hati sayang!"


Fabian melajukan mobilnya menuju perusahaan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


*****


Sementara di waktu yang sama


Mentari telah menembus jendela, memberi kehangatan pada seorang insan yang masih bergulung dengan selimutnya.


"Hoaam... " Alena menguap dan membuka matanya.


"Kemana laki-laki tua itu?" ucap Alena dalam hati dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hotel itu.


Pak Broto telah berangkat ke Surabaya pagi-pagi sekali dan meninggalkan Alena yang masih tidur, tak lupa menyimpan uang ratusan sebanyak sepuluh lembar di nakas.


"Shit... Beberapa panggilan tak terjawab dari Fabian," ucap Alena mengecek ponselnya.


"Aku harus segera mandi dan datang ke kantor Fabian."


Alena bergegas mandi dan memakai pakaian yang dia simpan di hotel tempat Pak Broto menginap, dia telah bersiap dengan dress hitam selutut dan bahu terbuka juga high heels dan tas yang senada juga rambut hitam sebahu yang selalu di gerai, Alena benar-benar tidak bisa mengubah stelannya, dia selalu ingin terlihat seksi dimanapun dia berada, tidak bisa menyesuaikan mau kemana dia pergi setelannya tetap saja begitu. Alena bergegas keluar dari kamarnya.


Sementara di loby hotel Bu Rena sedang memberikan intruksi kepada karyawan hotelnya, dia melihat Alena terburu-buru keluar, Bu Rena segera menghampiri resepsionis menanyakan kamar yang Alena tempati, berhubung Bu Rena adalah pemilik hotelnya resepsionis itu memberitahukan bahwa Alena tidur di kamar hotel atas nama Pak Broto.


"Aku gak akan membiarkan Fabian menikah dengan perempuan seperti kamu Alena," ucap Bu Rena dalam hati dengan pandangan masih ke arah Alena yang berlalu pergi.


**


Mikha datang ke kantor pagi-pagi sekali langsung berkutat dengan komputernya, mempersiapkan dokumen-dokumen yang akan di berikan pagi ini kepada klien.


Suara langkah kaki Fabian terdengar khas di telinga Mikha, tanpa melihatpun Mikha tahu bahwa yang datang adalah bos nya.


"Selamat pagi pak," sambut Mikha berdiri dan membungkuk hormat.


Fabian hanya melihat tanpa menjawab dan terus berjalan menuju ruangannya. Moodnya buruk karena terus memikirkan Alena yang belum memberikan kabar. Mikha pun kembali duduk dan meneruskan pekerjaannya.


Dua jam kemudian terdengar suara langkah kaki yang berbeda, calon istri Fabian datang, Mikha tak lagi bertanya dia tak memperdulikan kedatangan Alena, dia tetap dengan pekerjaannya dan Alena pun merasa Mikha tak bersikap sopan karena tidak menyapa nya.


"Sayaaaaaang," panggil Alena membuka pintu dan langsung duduk di pangkuan Fabian membuat mata Fabian membulat kaget karena kedatangannya.


"Kamu kemana aja sayang dari semalam gak bisa di hubungi?" tanya Fabian memeluknya dan menghawatirkannya.


"Kemarin itu gak enak badan jadi ponselnya aku matiin," jawab Alena dengan wajah sayu berusaha menyembunyikan kebohongannya


"Aku cari kamu ke Afartemen gak ada, kamu nginep dimana?"


Deg... Deg... Deg


"Oh... Oh itu aku nginep di rumah teman sayang, kan aku gak enak badan jadi pengen ada yang nemenin," jawab Alena gugup.


"Sekarang gimana? baik-baik aja kan?" tanya Fabian dengan segala kekhawatirannya.


"Aku langsung baik-baik saja setelah ketemu kamu," ucap Alena tersenyum dan mencium pipi Fabian.


"Kamu ini paling bisa bikin mood aku baik,"


Tok... Tok... Tok


"Masuk," ucap Fabian tanpa menurunkan Alena dari pangkuannya karena Fabian sangat merindukan Alena.


"Maaf pak, berkasnya harus di tandatangani sekarang," ucap Mikha menghampiri Fabian dan memberikan berkasnya.


Mikha menunggu Fabian menyelesaikan setumpuk berkas yang sedang di tanda tanganinya dengan Alena masih berada di pangkuannya.


โค๏ธโค๏ธTerimakasih telah berkenan membaca๐Ÿ˜


Author sangat menerima kritik yang membangun ya๐Ÿ˜€


Happy Reading ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2