Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Untung ada Mikha


__ADS_3

Haiiii..... Happy Reading❤️


"Kamu keluar saja dulu! nanti sayang panggil kalau sudah beres!" titah Fabian pada Mikha


"Baik Pak." Mikha keluar dari ruangan Fabian.


"Benar-benat gak tau tempat tu orang," ucap Mikha dalam hati seraya keluar dari ruangan Bosnya.


***


"Sayang sibuk banget ya?" tanya Alena dengan tangan masih bergelayut manja dan membuat Fabian tak tahan dengan kenakalan Alena.


Fabian menghentikan pekerjaannya dengan menyimpan balpoin nya dan menatap Alena,


"Maunya gimana sayang?" tanya Fabian tersenyum.


"Aku kangen," ucap Alena manja.


Fabian menggendong Alena ala bridal style dan mendudukkannya d sofa ruangan tersebut.


Fabian tak kuat menahan godaan dari Alena yang sedari tadi duduk di pangkuannya, karena bagaimanapun Fabian adalah pria dewasa.


Tatapan mereka beradu , wajah mereka semakin dekat. Seketika Alena berpindah posisi duduk di pangkuan Fabian berhadapan dengannya dan mengalungkan tanganya ke leher Fabian, Alena benar-benar sangat agresif dan membuat Fabian gak tahan dibuatnya, Alena terus saja memancing Fabian supaya Fabian melakukan apa yang diinginkan Alena. Sejujurnya dari kemarin Fabian ingin melakukan yang lebih dari sekedar ci***n tapi Fabian tidak mau merusak Alena karena Fabian sangat mencintai Alena.


Sementara di luar sana Klien sedang menunggu Fabian membereskan tanda tangannya, Mikha pun terlihat resah kenapa Bosnya belum saja memanggilnya, dia pun merasa malu pada klien itu yang sudah mondar mandir dan duduk kembali sesekali matanya melirik ke arah pintu ruangan Fabian, kali ini Mikha berdiri dan memberanikan diri.


Tok... Tok... Tok (Mikha mengetuk pintu di tengah-tengah panasnya suasana Fabian dengan Alena)


Tok... Tok... Tok


Mikha terus mengetuk pintunya,


Tok... Tok... Tok


Tidak ada jawaban dari dalam


Tok... Tok... Tok


Belum juga ada jawaban


Karena berkasnya harus segera di berikan, Mikha terpaksa membuka pintu ruangan bosnya.


Kedua Insan yang sedang di mabuk asmara itu tak mendengar Mikha membuka pintu, mereka terus saja melakukan kegiatannya.


Mata mikha membulat ketika melihat adegan yang tak seharusnya dilakukan di kantor. Seketika Mikha menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Maaf Pak, berkas harus segera saya berikan, kliennya menunggu di luar," ucap Mikha lantang dengan mata masih di tutup kedua tangannya.

__ADS_1


Seketika kegiatan Fabian terhenti oleh suara lantang Mikha.


"Apa-apa an sih lo, ganggu aja," bentak Alena sambil berdiri dan merafikan dressnya, Alena terlihat sangat kesal karena kalau saja Mikha tak masuk Fabian pasti mengajak Alena pindah ke kamar yang ada di ruangan itu.


"Maaf, saya dari tadi mengetuk pintu tak ada jawaban," balas Mikha menatap Alena tanpa rasa takut.


"Sekretaris tak beradab kaya dia jangan di pertahankan sayang,!" ucap Alena sambil merafikan jas Fabian yang berantakan karena kegiatan tadi.


"Maafkan atas kelakuan saya yang melakukan kegiatan tak senonoh di dalam kantor," balas Mikha menatap Fabian datar dan Fabian pun merasa ucapan Mikha tengah menyindirnya.


"Sudah-sudah tunggu sebentar, saya beresin dulu tanda tangannya," ucap Fabian menuju kursi kebesarannya dan melanjutkan tandatangannya yang sempat terhenti, karena Fabian merasa debat sama Mikha tidak akan ada ujungnya.


"Sayang aku keluar sebentar ya, nanti jam makan siang aku kesini lagi, pokonya hari ini aku mau seharian denganmu!" ucap Alena menghampiri Fabian


"Mau kemana sayang?" tanya Bian menatapnya seolah Fabian tak mau Alena tinggalkan.


"Sebentar saja, aku nemuin dulu teman di kafe depan," jawab Alena.


"Ya udah hati-hati!"


"Iya sayang," Ucap Alena da mencium pipi Fabian.


Alena pergi dan menatap Mikha dengan tatapan yang sinis beda halnya dengan Mikha melihat Alena datar.


"Lagi-lagi mataku tercemar," ucap Mikha dalam hati.


15 menit sudah Mikha menunggu Fabian menandatangani berkasnya, andai saja tak tergoda oleh Alena mungkin berkas itu telah selesai sedari tadi, Alena benar-benar menghambat pekerjaan.


"Terimakasih," balas Mikha


"Saya ingatkan sebentar lagi akan datang dua pimpinan perusahaan yang sedang bekerja sama dalam pembangunan hotel di Bali, mereka akan ke sini dengan tujuan membahas perencanaan yang akan dilakukan selanjutnya," ucap Mikha mengingatkan.


"Iya Saya ingat."


Mikha segera keluar dari ruangan bosnya.


"Ini berkasnya, mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda karena telah menunggu lama," ucap Mikha dengan penuh permohonan dan memberikan berkas yang telah ditandatangani bosnya kepada laki-laki muda yang bernama Ridho yaitu klien yang sedari tadi menunggu.


"Terimakasih Bu Mikha, jangan sungkan ini tidak masalah bagi Saya," balas Kliennya.


"Ah... terimakasih sekali lagi telah berkenan datang jauh-jauh untuk mengambilnya," ucap Mikha tersenyum.


"Iya, ini sangat dibutuhkan hari ini juga maka dari itu saya harus datang mengambilnya," ucap Ridho ramah


"Saya permisi Bu Mikha," ucap Ridho membungkukkan badannya tanda hormat.


"Iya, hati-hati pak."

__ADS_1


Mikha kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sebenarnya tidak pernah selesai, beberapa surat yang harus diketik, membuat perencanaan jadwal meeting dengan beberapa pimpinan perusahaan, mengirim email, menerima panggilan belum lagi memfotocofy beberapa dokumen. Mikha adalah sekretaris yang berwawasan luas jadi pekerjaan seberat apapun itu dia benar-benar sangat menikmatinya karena buatnya kesuksesan tidak diraih dengan bermalas-malasan.


Tap... Tap... Tap


Mikha mengalihkan pandangannya ke arah suara langkah kaki itu dan langsung berdiri menyambut mereka berdua.


"Selamat siang Pak Radit , Pak Rangga," sambut Mikha seraya membungkukkan badannya.


"Selamat siang Nona Mikha, makin cantik saja." jawab Rangga tersenyum begitupun dengan Radit yang menatap Mikha dengan tatapan penuh harapan.


"Terimakasih," jawab Mikha tersipu malu.


"Beliau ada di dalam?" tanya Radit


"Iya, silahkan masuk beliau sudah menunggu," ucap Mikha.


Mereka segera masuk ke dalam ruangan CEO dengan tujuan untuk membahas rencana selanjutnya mengenai hotel yang di Bali dan untuk Rangga ini merupakan pertemuan pertama kalinya langsung dengan pimpinan perusahaan tidak halnya dengan Radit, Radit sempat bertemu dengan Fabian waktu acara makan malam di rumahnya.


Tok... Tok... Tok


"Masuk!"


"Selamat siang Pak Bian,"


Fabian berdiri menyambut kedatangan mereka


"Selamat siang Pak Rangga dan Pak Radit, mari silahkan duduk!"


Fabian mengajak mereka duduk di sofa, supaya lebih santai.


"Bagaimana kabarnya Pak?" tanya Rangga memulai obrolannya, Rangga memang terlihat orang yang senang mengobrol beda dengan Radit yang sedikit cuek dan bicara pun seperlunya.


"Saya baik Pak Rangga, terimakasih telah berkenan mampir ke kantor,"


"Sama-sama Pak Bian, penting buat kita mampir kesini selain untuk membahas perencanaan selanjutnya mengenai hotel di Bali saya juga kan perlu tau dan kenal dengan pimpinan perusahaan yang bekerjasama dengan kita, meski Sekretaris Mikha mampu menghandle semuanya tapi tidak ada salahnya dong kami mengobrol langsung dengan pimpinannya," ucap Rangga.


"Betul sekali Pak Rangga, kebetulan di sini juga saya tidak punya teman semenjak tinggal di Amerika, selain kita berteman di dunia bisnis tidak ada salahnya kan kalau berteman di kehidupan sehari-hari?"


"Ya benar sekali, Pak Bian tidak usah sungkan sama kita karena kita welcome sama siapapun," ucap Radit.


"Anda juga bisa mengajak kita ngobrol dan ngopi dimanapun," ucapnya dengan kekehannya.


"Terimakasih Pak Radit, Pak Rangga saya merasa menemukan keluarga baru," ucap Bian.


"Sama-sama Pak Bian," ucap Radit


"Apa rencana yang akan dilakukan kedepannya setelah pembangunan beres?" tanya Radit.

__ADS_1


"Mengenai hal tersebut kayanya harus melibatkan Sekretaris Mikha, apa bisa anda memanggilnya kesini?" ucap Rangga pada Fabian.


"Ya," Fabian segera berdiri dan menekan interkomnya untuk memanggil Mikha.


__ADS_2