
"Tidak bisa begitu Nek! Bian di sini punya calon istri,"
"Lah ... ya udah kalau begitu cepatlah menikah! bilang sama calon istri kamu untuk bergabung melakukan kerja sama dengan istri-istri pimpinan perusahaan yakinkan mereka bahwa perusahaan kalian itu adalah perusahaan terbaik yang mampu bersaing dalam segala bidang," ucap nenek padahal nenek sendiripun tau kalau calon istrinya Fabian tidak mungkin terjun dalam dunia perusahaan. Maka dari itu nenek menyuruh Fabian menikah dengan Clara dan itu atas persetujuan mamanya.
"Itu tidak mungkin nek, calon istri Bian tidak bekerja dia tidak akan mengerti urusan perusahaan tetapi meskipun begitu Bian sangat mencintainya, Bian tidak mau kehilangan dia nek,"
"Dari dulu kamu bilang punya calon istri tetapi tidak menikah-menikah," ucap nenek mengejeknya.
"Maka dari itu nenek harus bantu Bian untuk membujuk mama supaya mama cepat merestui pernikahan Bian," ucap Bian memohon.
"Kenapa mama kamu tidak merestuinya?" tanya nenek pura-pura tidak tau padahal nenek sudah tau segalanya, karena mama Bian selalu menceritakan hal sekecil apapun kepada neneknya Bian.
"Bian juga tidak tau nek, padahal Alena gadis yang sangat baik. Dia rela harus menjadi perawan tua demi menikah dengan Bian. Akhir-akhir ini Fabian seringkali debat sama mama perihal pernikahan,"
"Mungkin mama kamu ada alasan Bian, coba kamu tanya baik-baik sama mama kamu!" nasehat nenek.
"Bian lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada harus menikah dengan perempuan selain Alena,"
__ADS_1
"Jaga bicaramu Bian!" ucap nenek dengan suara lebih tinggi.
"Kalau dari awal tau begini lebih baik Fabian tidak melakukan kerja sama dengan perusahaan itu," ucap Bian menyerah.
"Kamu yang minta sama nenek bahwa kamu ingin membuat perusahaan semakin berkembang, nenek memilih Dubay karena Dubay dikenal dengan negara kaya dan Dubay merupakan satu kota termewah di dunia jika perusahaan kamu melakukan kerja sama dengan perusahaan mereka, maka tidak akan lama perusahaan kamu akan menjadi perusahaan terbesar di Indonesia,"
Fabian menghembuskan nafas kasar.
"Kalau ujung-ujungnya aku harus menikah dengan Clara, lebih baik perusahaanku tetap seperti ini," lirih Fabian dan terdengar menyerah.
"Ya sudah, yang penting sekarang kamu menikah dulu dengan Clara setelah kontrak kerja sama itu selesai kamu boleh pikirkan kembali hubungan pernikahanmu!" perintah nenek karena nenek yakin Clara pasti bisa membuat Fabian jatuh cinta dan Fabian tidak akan mungkin menceraikannya.
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku kasihan sama Alena nek, masa aku harus membiarkan Alena menungguku kembali sampai kontrak kerja sama selesai,"
"Kamu bicarakan dulu masalah ini dengan kekasih kamu itu! nanti Clara biar nenek yang urus, dia pasti mau bantuin kamu, ingat ... istri seorang CEO itu harus cerdas!"
__ADS_1
"Ya nek,"
"Kasih tau nenek secepatnya!"
"Baik, nek,"
"Ya sudah nenek tutup ya! jaga kesehatan! jaga mama kamu buatlah dia selalu bahagia!"
"Baik, nek,"
Nenek menutup telponnya dan berhasil membuat Fabian frustasi pagi ini.
Fabian mengusap wajahnya kasar, dia mengabaikan dokumen yang harus dia tanda tangani. Pikiran Fabian benar-benar kacau, dia tidak mungkin menikah dengan Clara karena dia tau Clara adalah gadis yang pintar. Clara tidak akan mungkin membuat Fabian dengan mudahnya menceraikan dia. Sedangkan Fabian sangat mencintai Alena dan hanya ingin menikah dengannya.
"Apa yang harus aku katakan sama Alena?" tanyanya dengan hati gelisah membayangkan wajah kecewa Alena.
"Kalau aku menikah dengan Clara, Clara tidak akan mungkin melepaskan aku dengan mudah," lirihnya seraya mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok
"Masuk!"