
"Ini kamar siapa?" tanya Mikha yang masih berada dalam gendongan Radit.
"Kamar untuk malam pertama kita," jawab Radit.
Mereka berdua saling menatap dan seperti sama-sama menginginkan sesuatu.
"Kamu serius?" tanya Mikha dengan hati berdebar merasa senjata makan tuan, terjebak dengan omongannya sendiri.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Radit dengan tatapan serius dan Mikha menggeleng.
"Kamu mencintai aku kan?" tanya Radit dan Mikha mengangguk, Mikha baru pertama kalinya merasa jantungnya seakan mau loncat dari tempurungnya.
Radit menidurkan Mikha di kasur dengan lembut kemudian Radit duduk tepat di sebelah Mikha dan memegang tangannya.
"Dit,"
"Iya,"
"Kamu serius?"
"Iya,"
Jantung Mikha semakin berdetak kencang.
"Kamu kenapa? Kok gugup?"
"Aku- ak- aku,"
"Aku kenapa? Kok ngomongnya terputus-putus?" tanya Radit tersenyum.
"Kalau Fabian tau bagaimana?"
"Tau apanya?"
"Aku melakukannya denganmu?"
"Dia gak akan tau," jawab Radit singkat.
"Dia pasti tau Dit,"
"Kamu tenang saja!" ucap Radit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lemari kemudian Mikha duduk.
"Kamu mau apa?" tanya Mikha.
"Aku mau buka dulu baju," jawab Radit membelakangi Mikha seraya menyunggingkan senyumnya.
"Dit, kamu serius?" Mikha kembali bertanya.
__ADS_1
"Apakah tidak ada pertanyaan lain? Jangan itu lagi dong nanyanya genti!" ucap Radit sedikit terkekeh.
"Genti sama apa?" tanya Mikha polos.
"Mau berapa ronde? Gitu juga boleh," ucap Radit seraya menggulung bagian lengan kemejanya dan sontak membuat Mikha melemparkan bantal ke Radit tetapi Radit berhasil menangkapnya.
"Udah siap? Mau aku bantuin buka gaunnya?" tanya Radit menghampiri Mikha dan kembali duduk di sebelah Mikha.
"Aku- ak,"
"Aku kenapa? hahaha,"
"Kamu ngetawain aku?"
"Lihat aja wajahmu memerah seperti kepiting rebus,"
"Ih, gara-gara kamu ini,"
"Mana lihat kakinya,"
Mikha menarik gaunnya sehingga memperlihatkan kakinya yang mulus kemudian Radit mengoleskan krim dengan lembut supaya kaki Mikha tidak semakin membengkak.
"Kamu sangat baik Radit," ucap Mikha dalam hati seraya memandangi Radit yang telaten mengoleskan krim itu di kakinya.
"Mikha ...," Radit berdiri dan berpindah posisi menjadi duduk di belakang Mikha.
"Dit," ucap Mikha dengan suara bergetar.
"Apa?" Radit mencondongkan wajahnya dari belakang dan menyimpan dagunya dibahu Mikha tepat di samping telinga Mikha, pertahanan Radit hampir goyah ketika mencium harumnya tubuh Mikha.
"Kamu sangat cantik, Mikha," ucap Radit.
"Terima kasih, Dit,"
"Kamu siap-siap ya!" perintah Radit lalu mematikan saklar lampunya. Jantung Mikha semakin tidak bisa dikondisikan.
"Kamu mau ngapain?" tanya Mikha.
"Pejamkan matamu!" perintah Radit dan Mikha menurutinya.
Dengan lembut Radit memindahkan rambut Mikha ke samping kemudian Radit mengeluarkan sebuah kalung berlian yang begitu indah dari dalam kotak perhiasan dan memakaikannya ke leher jenjang Mikha. Kalung mewah dengan harga 1 M yang sudah lama Radit simpan dan persiapkan untuk melamar Mikha tidak ada pilihan lain, Radit tetap memberikannya kepada Mikha sesuai dengan niat dari awal, kalung itu akan tetap menjadi milik Mikha meski Mikha tidak menjadi miliknya.
Kini di lehernya Mikha memakai dua kalung yang sangat mewah, kalung pemberian Radit terlihat sangat simpel namun tak menghilangkan kesan mewahnya dan kalung pemberian Nenek jelas terlihat sangat rame dengan beberapa mutiaranya.
Mikha sontak membuka matanya ketika lampunya kembali nyala dan ada benda yang terasa dingin menempel di lehernya kemudian Mikha merabanya.
"Ternyata Radit membawaku ke kamarnya untuk memberikan aku kalung," ucap Mikha dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga di hari pernikahanmu, kalung ini khusus aku pesankan dan telah aku persiapkan sejak dulu sebagai bukti lamaranku dan bentuk cinta aku sama kamu. Jagalah kalung ini seperti aku yang kan selalu menjaga cinta ini, biarkan aku memelukmu sebentar saja," ucap Radit seraya memeluk Mikha dari belakang.
"Ini sungguh berlebihan Dit, mana ada sahabat memberikan cincin seindah ini," ucap Mikha seraya meraba kalung yang diberikan Radit.
"Itu tidak ada apa-apanya Mikha, kamu sangat berharga buat aku. Terima kasih telah menjadi cinta pertamaku, sungguh kamu akan selalu menjadi bagian terindah dalam hidupku. Aku benar-benar sangat mencintaimu," ucap Radit seraya terus memeluk Mikha.
"Aku juga mencintaimu Radit,"
"Ayo berdiri, kamu harus segera kembali ke kamarmu," ajak Radit seraya memegangi Mikha untuk berdiri dan mereka berdiri berhadapan.
"Jika kamu mengalami hambatan dalam perjalanan rumah tanggamu, kembalilah padaku karena aku akan selalu menunggumu," ucap Radit seraya memegangi kedua bahu Mikha.
"Selamat menempuh hidup baru sayang, meski aku sangat menginginkanmu untuk menjadi istriku tetapi aku berharap kebahagiaan selalu menyertaimu bersama suamimu," ucap Radit mencium kening Mikha.
"Terima kasih Radit, sungguh aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena bisa mengenalmu sedekat ini," ucap Mikha sedikit terisak dan langsung memeluk Radit.
"Hei ... berbahagialah, aku tidak suka kamu menangis,"
"Kamu membuatku malu Dit,"
"Kenapa?"
"Aku pikir iya, kita akan melakukan malam pertama," ucap Mikha menepuk dada bidang Radit dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sehingga membuat Radit terkekeh.
"Hei ... aku bukannya tidak mau, aku hanya tidak ingin Fabian kecewa padamu sayang," ucap Radit memeluknya dan mencium kepalanya.
"Yuk! Aku antar kamu keluar,"
Mereka berjalan keluar dari kamar Radit dan menuju kamar pengantin Mikha.
"Kalau Fabian tidak menemani kamu dan kamu merasa kesepian, kamu ketok aja ya pintu kamarku aku ada di dalam," ucap Radit terkekeh sebelum Mikha menutup pintunya.
"Iya,"
"Semoga kamu bisa melewati malam pertamamu dengan indah," ucap Radit dan tidak ada jawaban dari Mikha.
"Semoga tamu bulananmu segera datang," ucap Radit sontak membuat Mikha tertawa.
Tap ... tap ... tap
"Masih di sini?" tanya Fabian.
******........******
Marhaban Ya Ramadhan ππππ
Jangan lupa tinggalkan like and koment nya ya readers untuk menambah energiku dalam melanjutkan ke episode berikutnya. hehehehe πππππππ
__ADS_1