
"Mikha kamu kemana sih?" gumam Fabian seraya terus menguhubungi nomor Mikha namun tak ada hasil.
Fabian pun mencari akun media sosial Mikha namun tidak ada tanda-tanda Mikha telah membukanya.
"Harus kemana aku mencarimu? Apa kamu marah lagi? Maafkan aku Mikha," ucapnya seraya menatap foto profil Mikha di akun media sosialnya.
"Maaf Pak, saya mencari bu Mikha," ucap salah satu karyawan sedikit membungkukan badannya ketika yang dilihat di mejanya ternyata Fabian bukan Mikha.
"Tidak ada," jawabnya singkat dan karyawan tersebut berlalu pergi seraya bingung karena ada pekerjaan penting yang harus dia tanyakan ke Mikha.
Beberapa menit kemudian, seorang karyawan wanita datang berlari dengan nafas tersenggal dan berkas di tangannya, "Bu ... tolong cek dulu sebelum ditandatangani pak Ceo!" ucapnya dengan mengatur nafas seraya memejamkan mata dan menyimpan berkasnya di meja namun tak ada jawaban kemudian karyawan itu membuka matanya dan kaget seraya jantung berdebar kencang.
"P-ppp Pak, maaf saya kira bu Mikha." karyawan itu menundukkan kepalanya seraya mengambil kembali berkasnya.
"Apa itu?" tanya Fabian dingin.
"Ini laporan penjualan bulan lalu Pak," jawab karyawan seraya memberikan berkasnya.
"Kenapa begini, tidak jelas!" ucap Fabian dengan sorot mata mengintimidasi.
__ADS_1
"Maaf Pak, makanya saya pikir yang ada di kursi itu bu Mikha. Soalnya, biasanya bu Mikha selalu memberitahu letak kesalahannya sebelum diberikan ke Bapak," jawabnya tetap menunduk dan tak berani menatap mata Fabian.
"Kembali dan benarkan!" perintahnya dingin.
"Baik, Pak." karyawan itu membungkukkan badannya dan segera berlalu pergi dengan sedikit berlari takut Fabian berubah pikiran dan kembali memarahinya.
Fabian kembali menghubungi Mikha namun tetap yang menjawab otomatis dari operatornya.
"Semarah itukah kamu sama aku Mikha?" gumamnya seraya menatap foto di mejanya.
Datang lagi karyawan perempuan namun saat yang dilihatnya bukan Mikha, tanpa sepatah kata pun spontan karyawan itu balik kanan.
"Kenapa balik lagi?" tanyanya dengan tegas.
"Ada perlu apa?"
"Saya mau menunjukkan laporan keuangan bulan lalu," jawabnya menunduk.
"Sini!"
__ADS_1
Karyawan itu memberikan berkasnya namun hasilnya mengecewakan Fabian.
"Kenapa formatnya seperti ini?" tanyanya.
"Itu belum selesai Pak, saya ke sini mau menunjukan dulu sama bu Mikha," jawabnya.
Fabian melempar berkasnya, "Benarkan!"
"Ba-baik Pak," ucap karyawan dan segera berlari.
"Semua karyawan mencarinya, posisinya memang sangat penting dan sepertinya Mikha sangat dibutuhkan di kantor ini. Setiap berkas yang aku terima dari Mikha untuk aku tanda tangani semuanya sempurna, namun sekarang? Mereka seperti tidak becus bekerja, apa setiap bulannya seperti itu? Harus ada campur tangan Mikha dalam setiap pekerjaan mereka? **** ...," ucap Fabian seraya mengacak rambutnya kasar, terlihat frustasi.
"Apa jadinya kalau dia tidak ada di kantor ini?" Fabian menyugar rambutnya.
"Maaf Pak, ada yang harus Bapak tanda tangani dan ini berkas yang harus diberikan kepada bu Mikha dari perusahaan di Surabaya," ucap salah satu karyawan dan cukup membuat Fabian kaget, tanpa menjawabnya Fabian segera menerima berkas itu kemudian menandatanganinya.
Karyawan itu segera berlalu pergi karena raut wajah Fabian terlihat seperti tidak bersahabat.
Fabian mengusap wajahnya kasar, dia pun mengabaikan pekerjaan kantornya karena dia berencana untuk pergi ke rumah Mikha. Fabian melangkahkan kakinya dengan cepat, mengabaikan suasana di ruangan karyawan yang terlihat sedikit gaduh karena pekerjaan. Mikha, seseorang yang punya peran penting dalam perusahaan tidak ada, membuat pekerjaan sedikit terhambat.
__ADS_1
Fabian melanjukan mobilnya dengan sangat cepat, menuju rumah Mikha dan sesampainya di depan gerbang, Fabian mengedarkan pandangannya berharap Mikha ada di dalam namun dengan gerbang tekunci dari luar dan siang hari lampu masih menyala Fabian meyakini bahwa Mikha tidak ada di dalam.
"Mikha, kamu kemana sih?" bathinnya dengan tangan memegang gerbang dan tatapan mata masih ke rumah Mikha.