Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Pikiran negatif Fabian


__ADS_3

"Sayang, nanti malam mau kemana?" tanya Fabian.


"Memangnya kenapa?" Alena bertanya balik.


"Aku jemput ya! Kita makan malam di luar,"


"Emmmm, aku gak bisa sayang," tolak Alena seraya otaknya berpikir berusaha mencari alasan karena nanti malam dia harus kembali ke Reza.


"kenapa?" tanya Fabian aneh, soalnya tidak biasanya Alena menolak ajakan Fabian.


"Aku gak enak badan, aku mau istirahat. Gatal-gatal di badanku membuat aku tidak ingin keluar." Alena menggaruk-garuk badannya yang tidak gatal.


"Ya ampun sayang, ya udah nanti malam aku ke apartemen ya temanin kamu!" ucap Fabian terlihat sangat khawatir.


'E- em jangan sayang, aku kasian sama kamu. Aku hanya ingin istirahat saja, percuma kamu berada di apartemen juga kita gak akan bisa ngapa-ngapain karena aku ingin istirahat," tolak Alena menolehkan kepala ke belakang dengan nada suara lebih keras berharap Mikha mendengar.


"Terserah mau ngapa-ngapain juga, sebelum menikah itu bukan urusan saya," ucap Mikha dalam hati seraya mendelikkan matanya ke arah luar.


"Ya udah sayang terima kasih ya, udah anterin aku. Kalau aku tidak bisa dihubungi kamu jangan khawatir, aku pasti datang ke hari pernikahanmu. Kamu tinggalkan pesan saja ya, pasti aku akan membacanya," ucap Alena sebelum turun dari mobil Fabian.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya!" ucap Fabian.


"Kamu juga, inget pesan aku ya sekalipun kamu sudah menikah hatimu harus tetap menjadi milik aku!" ucap Alena.


"Tentu," balas Fabian dan Alena segera keluar da mobilnya.

__ADS_1


Alena sudah tidak terlihat oleh pandangannya tetapi Fabian tidak segera melajukan mobilnya. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, Mikha pun tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.


"Kamu tidak mau pindah ke depan?" tanya Fabian seraya menoleh ke belakang.


"Saya nyaman di sini," jawab Mikha cuek.


"Saya bukan sopir kamu!"


"Siapa juga yang bilang," ucap Mikha.


"Makanya kamu pindah ke depan!"


"Saya tidak mau," tolak Mikha.


"Saya pasti mendengarnya dari sini,"


"Mau pindah sendiri atau mau saya pindahin?"


"Tidak mau pindah,"


Fabian malah keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil bagian belakang kemudian menggendong Mikha dan memindahkannya ke depan.


"Bapak itu kenapa sih, maksa banget!" gerutu Mikha.


"Kalau kamu tidak keras kepala saya tidak akan memaksa," ucap Fabian seraya duduk di balik kemudi.

__ADS_1


"Mau ngomong apa?" tanya Mikha cemberut.


"Persiapkan dirimu untuk pernikahan kita, saya gak mau kamu terlalu dekat dengan Radit! Saya gak mau semua orang curiga dengan pernikahan kita,"


"Hubungan saya dengan Radit itu hanya teman Pak, beda halnya dengan Bapak. Jadi Bapak tidak perlu pikirin orang lain akan curiga dengan pernikahan kita karena hubungan saya dengan Radit, yang perlu Bapak pikirin itu bagaimana caranya menghadapi orang-orang jika Bapak ketahuan meski sudah menikah tetapi masih menjalin hubungan dengan kekasih Bapak," cerocos Mikha membuat Fabian langsung diam berusaha mencerna apa yang Mikha ucapkan.


"Dengan suap-suapan kamu bilang biasa? Apalagi yang menurutmu itu biasa? Apa kamu juga biasa melakukan segala sesuatu dengan Radit?" tanya Fabian dengan nada sedikit tinggi teringat akan hal intim yang pernah Mikha dan Radit lakukan.


"Ya, saya memang biasa melakukannya dengan Radit," balas Mikha polos karena memang dia biasa melakukan suap-suapan dengan Radit ketika makan tetapi membuat sorot mata Fabian seketika menjadi merah karena menganggap bahwa ucapan Mikha menandakan bahwa dia sering melakukan hubungan lebih intim dengan Radit.


"Sudah berapa kali kamu melakukannya?" tanya Fabian.


"Setiap kali kita bertemu," jawab Mikha dengan jelas.


Jawaban Mikha membuat Fabian seketika melajukan mobilnya dengan sangat cepat membuat Mikha ketakutan dan panik karena mobil Fabian hendak menabrak kendaraan lain. Fabian seperti hilang kontrol, lagi-lagi kesalah pahaman terjadi diantara mereka disebabkan pikiran negatif Fabian.


"STOP!" teriak Mikha membuat Fabian menghentikan mobilnya dan menatap tajam ke arah Mikha, membuat Mikha ketakutan.


"Maaf!" ucap Fabian, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membuat Mikha sedikit lebih tenang.


"Sekali lagi, persiapkan dirimu jangan sampai membuat orang lain curiga karena pernikahan kita. Aku ingin kita terlihat seperti pasangan yang harmonis. Aku tidak ingin mengecewakan mama dan nenek yang telah mempersiapkan pernikahan kita dengan sangat mewah. Nanti malam aku jemput! Nenek ingin ketemu dulu sama kamu," ucap Fabian sebelum turun dari mobil dan Mikha hanya memberi jawaban dengan anggukan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Readers mau datang gak ke pernikahannya Mikha sama Fabian? 🤭

__ADS_1


__ADS_2