Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Istri Sementara?


__ADS_3

Mikha memasuki ruangan Fabian, dia melihat wajah frustasi Fabian dan Fabian menatap Mikha dengan sorot mata yang tajam, seketika Mikha merasa ragu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Fabian.


"Sini!" perintah Fabian dan Mikha menghampirinya.


"Mau apa?"


"Saya mau mengambil berkas yang sudah bapak tanda tangani," jawab Mikha menunduk.


"Saya belum menanda tanganinya," ucap Fabian datar.


"Ya sudah saya tunggu di luar," ucap Mikha.


"Ada yang mau saya bicarakan, duduk!"


"Baik, pak,"


"Kamu tau gak kontrak kerja sama dengan perusahaan Dubai itu harus dilakukan oleh perempuan?"


"Saya tau pak," jawab Mikha menunduk.


"Kalau kamu tau, kenapa kamu melengkapi berkasnya?"


"Emangnya ada masalah?" tanya Mikha polos.


"Masalah kamu bilang? Jelas ada, kamu kan tau saya belum punya istri kenapa kamu malah melengkapi berkasnya?" bentak Fabian membuat Mikha tersentak kaget.


"Memangnya kerja samanya harus dijalankan oleh istri Bapak?"


"Ya iyalah,"


"Maaf pak saya benar-benar tidak tau, saya pikir yang penting perempuan. Kalau perempuankan bisa saya yang handle semuanya. Saya pikir Bapak menyerahkan tugas sama saya semalam itu karena bapak sudah tau kalau kedepannya kontrak ini saya yang akan mengurusnya. Saya gak tau kalau kerja sama ini harus melibatkan istri pimpinan Pak, seandainya saja saya tau pasti saya tidak akan melengkapi persyaratannya. Saya benar-benar mohon maaf saya tidak tau" ucap Mikha berusaha membela dirinya dan memohon maaf.

__ADS_1


"Benar juga ya, Mikha pasti bisa menghandle semuanya," ucap Fabian dalam hati terlihat sedikit lebih tenang.


"Terus sekarang harus bagaimana?"


"Ya ... Bapak tinggal menikah saja sama bu Alena, nanti kedepannya tinggal bu Alena yang mengurus," jawab Mikha enteng.


"Alena gak mungkin bisa terjun ke dunia bisnis Mikha!" ucap Fabian dengan meninggikan suaranya.


"Itu menurut Bapak, belum tentu menurut bu Alena. Mending sekarang Bapak bicarakan dulu dengan bu Alena, bagaimana baiknya," saran Mikha.


"Kalau dia tidak bisa bagaimana? Kamu harus tanggung jawab karena kamu yang melengkapi persyaratannya," desak Fabian.


"Loh, kok saya yang bertanggung jawab," ucap Mikha mengerutkan keningnya seraya menunjuk dirinya.


"Ya iyalah, kamu juga yang mengirimkan file-file nya,"


"Kan saya cuma menjalankan perintah Bapak," ucap Mikha terus membela dirinya.


"Iya, maaf ... kalau Bapak mau pecat saya silahkan. Saya terima," ucap Mikha menunduk.


"Kalau saya memecat kamu perusahaan pasti tidak akan berkembang," ucap Fabian dalam hati.


"Enak saja, kalau saya memecat kamu pasti kamu akan kabur tidak mau ganti rugi,"


"Ganti rugi apa?"


"Memangnya kamu tidak tau? kalau kita membatalkan kontrak kerja sama maka kita harus membayar uang penalti sebesar 900 M,"


"Ha ..." Mulut Mikha menganga.


"Ya sudah sekarang Bapak bicarakan dulu sama bu Alena, semoga dia bersedia. Saya permisi keluar dulu Pak!"

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Fabian, Mikha segera berdiri dan keluar dari ruangan Fabian tanpa membawa berkasnya.


*********


Tap ... tap ... tap


Suara langkah kaki semakin mendekati Mikha. Ucapan Fabian yang mengharuskan dia bertanggung jawab membuat Mikha tenggelam dalam lamunannya.


.


.


"Ehem ...,"


Ketukan jari telunjuk di mejapun Mikha tak mendengarnya,


"Ehem ...," Radit berdehem dan duduk bersebrangan dengan Mikha.


"Eh ... hai Radit," sapa Mikha sedikit terkejut.


"Ngelamunin apa?" tanya Radit tersenyum.


"Aku lagi bingung," gumam Mikha.


"Apa yang kamu bingungkan? Cerita sama aku!"


Mikha menceritakan apa yang Fabian keluhkan kepadanya dan itu semua cukup membuat Radit terdiam. Memikirkan suatu kemungkinan, bagaimana kalau Fabian meminta Mikha untuk menjadi istri sementaranya. sampai kontrak itu selesai.


"Jadi itu yang membuatmu melamun sejak tadi?" tanya Radit terlihat sedikit resah.


😘😘😘😘

__ADS_1


Readers akankah Fabian menjadikan Mimha istri sementara? πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2