
Fabian tidak bersemangat untuk keberangkatannya ke Jerman, Mondar-mandir di dalam kamar sesekali memijit pelipisnya dia terlihat frustasi karena nomor Alena dari tadi siang tidak bisa dihubungi. Meski ada Mama Rena di rumahnya tapi tetap Fabian merasa kesepian.
"Alena, Alena, Alena please aktifin ponselnya," batin Fabian seraya menatap nomor Alena di ponselnya.
Tok... Tok... Tok (Mama Rena mengetuk pintu kamar Fabian)
"Masuk."
"Kenapa belum tidur?" tanya Mama Rena menghampiri dengan membawa segelas air putih untuk Fabian.
"Sebentar lagi Ma," jawab Fabian dengan wajah ditekuk.
"Minum dulu sayang!" ucap Mama rena memberikan Fabian segelas air.
"Terima kasih Ma."
"Apa ada masalah?" Mama Rena hawatir
"Tidak ada Ma," Fabian meyakinkan.
"Apa Mikha telah memberikan agenda selama kamu kerja di sana?"
"Sudah Bian terima Ma." masih dengan wajah murungnya.
"Apa kamu keberatan dengan schedulenya?"
"Tidak Ma," jawab Fabian singkat
"Apa segala keperluan pribadi kamu selama ada di sana sudah dipersiapkan?"
__ADS_1
"Sudah Ma."
"Terus kenapa terlihat gelisah sayang?" tanya Mama Rena mencemaskan Anaknya.
"Ini Ma, Alena gak bisa di hubungi sejak tadi siang, Bian hawatir." dengan mata fokus ke ponselnya.
"Minggu kemarin juga sempat nomornya gak bisa di hubungi, tau-taunya dia sakit Ma," lanjut Bian menatap Mama Rena
Mama Rena menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kasar.
"Mungkin dia lagi sibuk."
"Dia tidak mungkin sibuk Ma," lirih Bian.
"Apa kamu sangat mencintainya?"
"Aku sangat mencintainya Ma,"
"Kok Mama masih tanya kenapa, kan Mama juga tau alasannya. Dia kekasih Aku sejak dulu Ma dia setia menunggu aku pulang, kalau saja bukan Alena tidak akan ada perempuan lain yang mau menunggu selama bertahun-tahun Ma," jelas Fabian
"Apa kamu yakin dia setia untuk kamu?" tanya Mama rena menatap mata Fabian dalam.
"Aku sangat yakin Ma, seperti cinta Aku sama dia. Aku yakin Aku sangat mencintai Alena," ucap Bian meyakinkan Mama nya.
"Itu karena kamu tidak memberikan kesempatan membuka hati untuk perempuan lain."
"Untuk apa Aku harus membuka hati untuk perempuan lain sementara Alena telah memenuhi seluruh ruang di hati Aku."
"Mama terlihat tidak suka dengan hubungan aku dan Alena, untuk mengajak Alena ke rumah mamah pun mamah selalu mencari alasan, kenapa Ma?" tanya Fabian dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
"Dulu kan Mama suka sama Alena, kenapa sekarang Mama jadi beda? Alena sering Ma ingin main ke rumah Mama seperti dulu waktu Bian masih sekolah," jelas Bian
"Mama tidak mencari alasan sayang, memang kenyataannya mamh sibuk dengan hotel yang Mama kelola," balas Mama Rena menyembunyikan kebohongannya.
"Ya sudah sekarang cepet tidur! pagi-pagi sekali kamu harus berangkat, jangan sampai kesiangan sayang."
"Iya Ma."
Mama Rena keluar dari kamar Fabian dengan perasaan sesak di hatinya, sesak karena Fabian ternyata begitu mencintai kekasih yang jelas-jelas telah menipu dirinya hingga membutakan mata dan hatinya.
Fabian masih terlihat gelisah, dia terus mencoba menghubungi Alena tapi kenyataannya nihil. Alena sama sekali tidak bisa di hubungi hingga akhirnya dia mengirimkan pesan.
@ Fabian :
Sayang kemana saja?
Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?
Kamu baik-baik saja kan?
Aku sangat hawatir sayang. kartu ATM aku titip sama sekretaris Mikha, kamu ambil ke kantor ya! aku sengaja titip takut kamu membutuhkan sesuatu selama Aku di Jerman.
Fabian mencari kontak atas nama
@Sekretaris Mikha, karena selama di Indonesia perempuan yang dia sering temui dan dia kenal hanya Alena dan Mikha.
Fabian berniat mengirim pesan ke Mikha untuk meredam rasa gelisahnya pada Alena lebih tepatnya Mikha selalu jadi korban kekesalan Fabian karena Alena.
*****
__ADS_1
next... Author sangat menunggu krisan yang membangun dari para readers semua ππππ