
Hai Readers... Mohon maaf π lama up nya, tetap setia membaca ya ππ ! hehehe
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Mikha bergegas menuju Kafe tempat dia dan Radit bertemu. Karena ini jam makan siang maka suasana Kafe pun sangat rame.
Radit melambaikan tangannya ke Mikha yang sedang mengedarkan pandangannya.
"Hai... " Mikha membalas lambaian tangan Radit dan menghampirinya.
Radit berdiri dari duduknya menggeser kursi dan mempersilahkan Mikha duduk.
"Terima kasih," ucap Mikha tersenyum.
"Sama-sama Mikha," balas Radit.
Pelayan Kafe menghampiri mereka dan memberikan daftar menu makanannya.
"Saya mau steak dan jus jeruk," ucap Radit.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Radit.
"Samain aja," jawab Mikha tersenyum.
"Baik ditunggu sebentar Tuan, Nyonya!" ucap pelayan kafe itu sopan.
"Iya," jawab Mikha
"Aku merasa jadi Nyonya," Mikha terkekeh.
"Emang iya kan, Nyonya Radit," balas Radit terkekeh.
"Apa-an sih," Mikha malu-malu.
"Bagaiamana tadi meetingnya?"
"Lancar."
"Sudah pasti."
"Mana berkas yang harus aku tanda tangani,"
"Ini," Mikha memberikan berkas itu dan Radit langsung menandatanganinya.
"Gak dibaca dulu?" tanya Mikha.
"Gak perlu,"
"Kenapa?"
"Karena aku percaya sama kamu," jawab Radit menatap Mikha.
"Yakin?"
"100%,"
"Itu surat pengalihan semua harta kamu loh jadi atas nama aku," ucap Mikha serius.
__ADS_1
"Gak apa-apa," balas Radit datar mengembalikan berkasnya.
"Loh, kok gak apa-apa," Mikha penasaran.
"Ya gak apa-apa jadi atas nama kamu juga," Radit tersenyum.
"Kenapa?" tanya Mikha.
"Ya nantinya juga kan pasti jadi milik kamu," jawab Radit tersenyum dengan melipat tangannya di atas meja seraya menatap Mikha dalam.
"Ih apaan sih," Mikha mencubit lengat Radit.
"Aw... enak Mikha," Radit meringis.
"Apanya yang enak?" Mikha terlihat bingung.
"Tadi kamu ngapain?" Radit tanya balik.
"Cubit kamu," jawab Mikha polos.
"Kok rasanya enak ya," ucap Radit pura-pura berpikir.
"Kamu tuh yang aneh," bakas Mikha gemas.
"Silahkan dinikmati makanannya!" ucap pelayan kafe.
"Terima kasih," balas Mikha dan Radit kompak lalu mereka terkekeh bersama.
Radit segera memotong steak yang ada di hadapannya sementara Mikha meminum jusnya.
Radit memberikan steak yang telah dipotongnya untuk Mikha dan menukarnya dengan steak yang masih utuh.
"Terima kasih ya," balas Mikha tersenyum senang atas perhatian Radit dan Radit mengangguk.
Mikha maupun Radit selalu menunjukan perhatiannya, mereka masih bingung dengan perasaan yang mereka rasakan, yang pasti mereka selalu saling memberikan perhatian untuk satu sama lain.
Radit tak fokus dengan makannya, matanya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Mikha yang sedang makan dengan anggunnya.
"Fokus sama makanan!" titah Mikha seraya menahan senyumnya.
Radit sadar akan ucapan Mikha dan melanjutkan makannya.
"Habis ini mau kemana?"
"Mau ke Hotel bu Rena,"
"Aku anterin ya?"
"Memangnya gak sibuk?"
"Aku sih santai, mau ngapain nyamperin bu Rena?" tanya Radit seraya meminum jus nya.
"Beliau nyuruh aku datang, ada yang harus dibahas kali," jawab Mikha.
"Ya udah yuk!" ajak Radit.
__ADS_1
"Habisin minumnya!"
"Aku udah kenyang Mikha," balas Radit mengusap perutnya.
"Habisin!" tegas Mikha
"Iya-iya." Radit menghabiskan jusnya dan Mikha tersenyum.
Radit menyimpan 5 lembar uang ratusan ribu di meja untuk pembayaran dan segera keluar memasuki mobilnya. Seperti biasa Radit membukakan pintu mobil untuk Mikha.
"Nanti malam mau kemana?" tanya Radit
"Aku mau menemui Klien untuk meminta tanda tangannya,"
"Dimana?"
"Di club."
"Haishhh... gak boleh ah!" Radit melarang cemas.
"Dia mintanya di sana," Mikha memelas.
"Jangan malam ini! besok malam saja ya," pinta Radit.
"Besok beliau mau berangkat lagi ke New york,"
"Sudah pernah bertemu dia belum?"
"Belum lah, beliau teman lama pak Bian katanya,"
"Kenapa sih, harus di Club?" Radit khawatir.
"Sudah biasa sih, bukan yang pertama Klien ngajak bertemu di Club,"
"Kamu sudah pernah kesana?"
"Sudah,"
"Ngapain?" Radit penasaran.
"Cuma ngasih berkas atau minta tanda tangan Klien, habis itu pulang lagi!"
"Kamu hati-hati kalau datang ke tempat seperti itu!" Radit cemas.
"Iya aku tau," balas MIkha dengan tenang.
"Jam berapa kesana?"
"Jam 8,"
"Aduuuh jam 7 aja deh, aku anterin."
"Kamu kenapa?" tanya Mikha terkekeh merasa aneh sama Radit.
"Ya aku cemas lah Mikha, aku takut nanti Kliennya berbuat macam-macam sama kamu,"
__ADS_1
"Tenang saja." Mikha tersenyum mengelus bahu Radit.
Terima kasih sudah berkenan membaca πππ