Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Aku belum pernah


__ADS_3

Hai...


Happy reading!


Jangan pernah bosan ya! tinggalkan jejakmu.


*****


Radit terdiam dan suasana seketika hening.


"Kalau kamu meminta dalam keadaan sadar, aku tidak akan menolaknya Mikha," ucap Radit.


Mikha mendongakkan kepalanya, mata coklatnya melebar dan Radit tertawa saat melihat ekspresi Mikha yang kaget atas ucapan Radit barusan.


"Kenapa tertawa?" tanya Mikha dengan mata seakan menantang Radit tetapi tangan masih memeluknya.


"Ada dua alasan kenapa aku tertawa," jawab Radit disertai kekehannya.


"Apa?" tanya Mikha penasaran.


"Yang pertama, aku pengen tertawa melihat ekspresi kaget kamu saat aku bilang, aku tidak akan menolaknya kalau kamu meminta dalam keadaan sadar," jawab Radit.


"Yang kedua?" lanjut Mikha.


"Lucu aja, ngebayangin kamu kalau meminta dalam keadaan sadar. hahaha," ucap Radit.


"Kalau aku meminta dalam keadaan sadar, apa benar kamu akan melakukannya?" tanya Mikha dengan tatapan yang serius.


"Ya iya lah," jawab Radit datar.


"Aku gak percaya," ucap Mikha seraya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah kalau gak percaya, coba kamu minta!" titah Radit seraya menaikan alisnya sebelah.


"Emangnya kalau mau melakukan itu harus minta dulu ya?" tanya Mikha polos.


"Ya, buktinya tadi kamu mohon-mohon sama aku. hahaha,"


"Ih ... itu kan aku tidak sadar,"


"Andai aja kamu sadar," ucap Radit.


"Kenapa kalau sadar?" tanya Mikha membulatkan matanya kesal.

__ADS_1


"Pasti kamu tidak akan nuduh aku gay," ucap Radit tergelak.


Mikha mengerucutkan bibirnya seraya masih menatap Radit dan jarak wajah mereka begitu dekat, ingin sekali Radit membungkam bibir Mikha dengan bibirnya, mencecap manisnya bibir Mikha yang pink alami dan terlihat semakin menggemaskan saat sedang mengerucut namun Radit urungkan niat itu karena dia sadar, dia tak punya hak apa-apa karena dia hanya teman bagi Mikha.


"Apa? Kenapa itu bibirmu menjadi seperti nasi tumpeng? jangan-jangan kamu mau bukti aku gay apa enggak" ucap Radit tergelak.


"Kok disamain sama nasi tumpeng," ucap Mikha bingung dan menempelkan kembali kepalanya di dada bidang Radit.


"Terus apa dong?" tanya Radit.


"Rambu-rambu lalu lintas?" lanjut Radit tergelak.


"kamu ih dari tadi nertawain aku terus ya," ucap Mikha mencubit pinggang Radit.


"Aw ...," Radit pura-pura kesakitan dan memegang tangan Mikha yang telah mencubit Radit.


"Ya udah nasi tumpeng aja ya? kan enak," ucap Radit dengan kekehannya.


"Ya terserah kamu," balas Mikha yang masih betah memeluk Radit.


"Boleh gak aku cobain nasi tumpengnya?" tanya Radit menggoda Mikha.


Mikha mendongakkan kembali wajahnya menatap Radit, matanya menelisik mencari jejak keseriusan di mata Radit.


"Emangnya boleh?" Radit balik bertanya.


"Emangnya kamu mau?" Mikha membalikkan lagi pertanyaannya dengan jelas.


"Kamunya mau gak?" Radit malah memberikan pertanyaan yang seharusnya Radit jawab.


"Kok nanya sih," ucap Mikha kesal.


"Oh, jadi gak usah nanya dulu ya?"


"Ya gak usahlah,"


"Harusnya gimana?" tanya Radit memancing Mikha.


"Ya aku gak tau, aku kan belum pernah," Mikha menggelengkan kepalanya seraya mata masih menatap Radit.


"Apalagi aku," ucap Radit datar.


"Aku gak percaya," balas Mikha.

__ADS_1


"Maka dari itu aku penasaran rasanya," ucap Radit tersenyum memandang Mikha dari dekat yang semakin menggemaskan.


"Kok senyum?" ucap Mikha terlihat kesal.


"Emangnya gak boleh?"


"Gak boleh!"


"Kalau cium ... boleh gak?" ucap Radit membuat Mikha membulatkan matanya seketika kemudian Radit menangkup pipi Mikha dengan kedua tangannya, tatapan Radit semakin lekat menatap Mikha, jantung Mikha seakan mau loncat dari tempurungnya ketika Radit semakin mendekatkan wajahnya.


.


.


.


Cup ...


.


.


.


Radit mencium kening Mikha dengan sangat lama.


"Aku mencintaimu Mikha ... sangat mencintaimu," ucap Radit dalam hati.


"Tetaplah seperti ini Radit, aku nyaman bersamamu," ucap Mikha dalam hati.


"Tidurlah meski hanya sebentar! aku akan temani kamu sampai pagi," perintah Radit seraya melepaskan tangan dan ciumannya.


Radit menggeser duduknya dan membiarkan kepala Mikha tidur di pangkuannya.


"Kamu tidak tidur?" tanya Mikha.


"Aku akan tidur di sini," jawab Radit seraya mengelus rambut Mikha supaya Mikha segera tidur.


"Tidurlah! aku akan selalu jadi orang pertama yang selalu kamu lihat, sebelum kau menutup mata dan saat kau membuka mata," ucap Radit dalam hati.


Bersambung


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2