Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Radit hebat


__ADS_3

Radit keluar dari kamar Mandi Mikha, membiarkan Mikha berendam dan berharap pengaruh obat itu segera hilang.


"Dit ... Radit, tolongin aku!" teriak Mikha dari dalam kamar Mandi.


Radit mondar-mandir di dalam kamar Mikha, terlihat khawatir akan keadaannya. Radit pun segera mengambil ponsel dan menelpon sahabat kecilnya yaitu dokter Riri.


Dokter Riri yang sigap dan ahli dalam bidangnya itu segera datang memenuhi permintaan Radit.


"Untung kamu segera datang," ucap Radit gelisah.


"Ada apa?" tanya dokter Riri terlihat khawatir.


"Dia di dalam, tolong kamu cek keadaannya! aku gak sanggup melihatnya," jawab Radit.


"Siapa?" tanya dokter Riri.


"Dia, dia temen aku," jawab Radit.


Dokter Riri segera masuk ke kamar mandi, Ia terkejut ketika melihat seorang perempuan tanpa busana sedang berendam di tengah malam seperti ini dan itu terlihat aneh. Kini dokter Riri mengerti akan tugasnya. Entah apa yang dilakukan oleh dokter itu, namun Mikha terlihat sedikit lebih tenang.


"Kamu memang istimewa, untung saja laki-laki itu Radit coba kalau bukan dia, mungkin kamu telah kehilangan hal yang paling berharga di dalam dirimu," ucap dokter Riri kepada Mikha.


"Tetaplah berendam, sebentar lagi akan segera membaik!" perintah dokter Riri.


Dokter Riri pun meninggalkan Mikha dan segera keluar menemui Radit.


"Bagaimana?" tanya Radit.

__ADS_1


"Kamu seperti seorang ayah yang sedang menunggu kelahiran buah hatinya, mondar-mandir bikin kepalaku pusing hahaha," jawab dokter Riri seraya terkekeh.


"Aku takut pengaruh obat itu akan lama Riri," ucap Radit kesal karena sahabatnya mentertawakan kegelisahannya.


"Kamu hebat!" ujar Riri menatap Radit seraya menepuk pundaknya.


"Apanya yang hebat?" tanya Radit bingung.


"Hebat karena kamu bisa menahan godaan," jawab dokter Riri seraya tersenyum.


"Aku tidak segila Rangga, Riri," ucap Radit.


"Ya, ya, ya, kalau Rangga jangan ditanya hahaha, ngomong-ngomong dia bagaimana kabarnya?" tanya dokter Riri.


"Dia selalu baik-baik saja, Ri," jawab Radit.


"Kenapa?" tanya Radit.


"Aku, membayangkan jika Rangga ada di posisimu sekarang," jawab dokter Riri serius.


"Kamu tentu sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Rangga," ucap Radit.


"Dia pasti akan segera menggarap sawah itu," ucap dokter Riri.


"Kamu ini, ada-ada saja," ucap Radit lalu tergelak.


"Jangan khawatir, pengaruh obat itu akan segera hilang," ucap dokter Riri lalu menepuk pundak Radit.

__ADS_1


"Aku pulang, ya!" pamit dokter Riri seraya melangkah keluar.


"Terima kasih ya Ri, kamu memang terbaik. Bayaranmu aku transfer saja ya," ucap Radit mengikuti dokter Riri.


"Udah gak usah, aku seneng bisa bantuin kamu," ucap dokter Riri.


"Aku menghargai jasamu, Ri," ucap Radit.


"Iya aku tau, daaah ...." ucap Riri lalu masuk ke mobil dan melambaikan tangannya.


"Hati-hati!" ucap Radit.


Radit kembali memasuki rumah dan melangkah menuju kamar Mikha. Dia tidak tega jika harus pulang meninggalkan Mikha sendiri di rumahnya. Radit terlihat gelisah, ingin sekali membuka pintu kamar mandi Mikha untuk melihat keadaannya tetapi Radit takut melihat kenyataan, kalau tidak dibuka, Radit penasaran apakah Mikha baik-baik saja atau tidak.


Sudah empat jam Radit duduk terpaku di sudut ranjang, menunggu Mikha bersuara. Radit kembali berdiri berjalan mondar-mandir di kamar Mikha.


Kring ... kring ... kring


Terdengar suara ponsel Mikha, lalu Radit mengambil ponsel itu dari dalam tas Mikha.


CEO Fabian


Radit mengerutkan keningnya.


"Ngapain Fabian nelpon malam-malam begini? apa aku angkat saja?" Radit bertanya-tanya sendiri seraya menekan tombol warna hijau pada layar ponsel Mikha.


"Mikha, apa yang kamu lakukan? Apa sekarang kamu tidak becus bekerja? Saya menyuruhmu meminta tanda tangan klien kita, bukan membatalkan kerja," ucap Fabian dengan penuh amarah di seberang sana.

__ADS_1


Mungkin Reza telah menelpon Fabian terlebih dulu dan dia berhasil memfitnah Mikha. Radit tidak langsung menjawabnya dia berusaha tenang. sebenarnya Radit ingin sekali memaki Fabian, Radit menarik nafasnya dalam dan meghembuskannya perlahan, jangan sampai ucapan Fabian memancing emosinya.


__ADS_2