
"Ya," Fabian segera berdiri dan menekan interkomnya untuk memanggil Mikha.
Tok... Tok... Tok
Mikha masuk ke dalam ruangan CEO, terlihat di atas meja tempat mereka mengobrol masih kosong belum ada minuman yang di sajikan, dia segera mengambil minum yang ada di lemari pendingin ruangan CEO dan segera menyajikannya kepada mereka.
"Terimakasih Nona Mikha," ucap Rangga dengan penuh senyuman begitupun dengan Radit.
Mikha hanya membalasnya dengan senyuman.
"Duduk!" titah Fabian datar.
Mikha duduk di antara Radit dan Rangga, karena memang tempat itu yang masih luas dan bisa Mikha duduki.
"Nona Mikha apakah pengecekan struktur dan bangunan hotel sudah dilakukan?" tanya Radit
"General Manager dan seluruh Divisi Engineering sudah melakukan pengecekkan struktur dan bangunan hotel secara menyeluruh," jawab Mikha
"Untuk kedepannya apa sudah ada rencana mengenai pembukaan hotel?" tanya Fabian
Mikha mengerutkan keningnya.
"Oh iya maaf sebelumnya, kami bertanya sama Anda karena kami tau Anda ikut andil dalam pembangunan ini, Anda yang selama ini mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran demi lancarnya pembangunan, Anda juga yang mengurus segala sesuatunya dari nol dan kami yakin Anda akan selalu memberikan ide-ide yang bisa memajukan perusahaan yang mau kita kelola bersama," ucap Rangga tersenyum
"Terimakasih sebelumnya, untuk pembukaan hotel kita harus menyewa seorang konsultan atau tenaga ahli untuk mempersiapkan tempat termasuk melakukan rekruitment pegawai, pembuatan standar operasional dan prosedur juga training Bla... Bla... Bla ," jawab Mikha
Mereka tak mengalihkan pandangannya dari sosok Mikhayla yang punya gaya bicara begitu intelek Mikha benar-benar memiliki keterampilan komunikasi yang profesional, jelas dan efektip.
"Saya paham dengan seluruh penjelasanmu Nona ," ucap Rangga tersenyum sambil menoleh ke arah Radit dan Radit pun mengangguk tersenyum pertanda setuju dengan apa yang Rangga ucapkan beda halnya dengan Fabian dia hanya mengangguk tanpa senyum.
"Pak Bian dari mana Anda menemukan sekretaris cantik dan cerdas seperti Nona Mikha ini?" tanya Rangga
"Mulai." Radit sinis
Mereka semua tertawa karena hubungan kerjasama mereka tak canggung lagi.
"Sayaaang," ucap Alena yang tiba-tiba memasuki ruangan Fabian.
Fabian tersenyum, Radit dan Rangga kaget saling melirik.
"Ngapain dia kesini? cari lo?" tanya Radit polos.
Rangga sedikit menendang kaki Radit
"Gue gak yakin,"
"Trus ngapain dia kesini?" bisik Radit
"Cari lo kali," balas Rangga berbisik
"Ih najis," Radit menendang kaki Rangga dan Rangga terkekeh
"Dia pasti kangen sama sentuhan lo," bisik Radit
"Gue udah lama gak main sama dia."
"Makanya dia kangen, sampai nyamperin lo ke sini."
"Sialan lo," bisik Rangga
Radit pun langsung diam, Alena melongo tak kalah kaget dengan adanya Radit dan Rangga di ruangan Fabian masalahnya mereka berdua tau segalanya tentang Alena. Alena terlihat semakin tegang melihat Rangga mengingat bagaimana pergulatan panas yang seringkali terjadi diantara mereka.
Untuk menepis rasa paniknya agar Fabian tak curiga, Alena menghampiri Fabian dan mencium pipinya di depan Rangga dan Radit. Seketika mereka saling pandang pengen rasanya mereka tertawa terbahak-bahak karena apa yang mereka pikirkan dan takutkan sedari tadi itu salah.
__ADS_1
"Duduk sayang." Fabian mengajak Alena duduk di sampingnya.
Sejujurnya Alena lebih penasaran sama RAdit si pria dingin itu, karena diantara mereka bertiga badan Radit terlihat yang paling seksi dan membuat Alena tak bisa berhenti memandangnya, tetapi alena segera menepis pikiran itu karena tujuan utamanya sekarang adalah membersihkan namanya dengan menjerat Fabian supaya menikah dengannya.
"Makan siang yuk!" ajak Alena
"Iya sebentar ya sayang,"
"O iya Pak Rangga Pak Radit ini Alena, calon Istri Saya," ucap Fabian memperkenalkan
"Oh iya saya Rangga dan ini Radit,"
mengulurkan tangan dan Alena pun menerimanya kecuali Radit dia tidak mengulurkan tangannya padahal Alena sangat berharap.
"Hebat Pak Fabian baru beberapa hari di Indonesia sudah mendapat calon istri," ucap Rangga tersenyum
"Dia kekasih saya sudah lama, dia setia menunggu saya selama 11 tahun makanya saya pulang berencana mau menikah dengannya." jelas Fabian
"Oh kekasih yang setia rupanya hehehe, selamat deh untuk kalian, selamat melepas rasa rindu." kekeh Rangga dan wajah Alena sedikit pucat.
"Pak Rangga bisa saja," balas Fabian tersenyum sementara Radit terus memandang Mikha yang tengah asyik memainkan ponselnya.
"Ehem... " Rangga berdehem.
"O iya saya keluar duluan ya Pak, sudah waktunya jam makan siang. Permisi!" ucap Mikha dan segera keluar dari ruangan Bosnya.
"Kalau begitu kami juga permisi dulu pak Bian, takut mengganggu kebersamaan kalian." pamit Rangga.
"Sekali lagi terimakasih telah berkenan mampir kesini,"
"Sama-sama Pak Bian," balas Rangga dan lekas keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Radit.
"Lo cemburu ya?" tuduh Radit dengan kekehannya setelah pintu ruangan itu tertutup.
"Sialan lo," hentak Rangga
"Nona Mikha," panggil Rangga dan membuat Mikha kaget
"Eh iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mikha dan langsung berdiri.
"Emmm... Bisakah kita bertukar nomor handphone?" balas Rangga
"Boleh," Mikha menyebutkan nomornya, Rangga mengetiknya dan ternyata Radit sedang menyimaknya. (Aduh Babang Radit benar-benar jaim)
Rangga menyimpan nomor Mikha di ponselnya dengan nama @Sekertaris Cantik
"Terimakasih Nona Mikha," ucap Rangga.
"Sama-sama," balas Mika
"Saya permisi Nona,"
"Iya,hati-hati Pak."
Mereka berlalu meninggalkan tempat Mikha
"Lo udah catat belum nomornya?" tanya Rangga
"Nomor siapa?" balas Radit pura-pura gak ngerti
"Ya nomor Mikha lah, gue tau Lo pasti ingin dapat nomornya tapi Lo malu kan mintanya? gue kurang baik gimana tuh sama Lo," cerocos Rangga sambil membuka salah satu aplikasi hijau di ponselnya.
"Tuh nomornya udah gue kirim ke nomor Lo,"
__ADS_1
"Iya, thanks ya bro." ucap Radit menepuk bahu Rangga
"Gue balik kantor,"
"Iya sama gue juga, udah jangan dipikirin dia udah mau nikah!" Radit terkekeh
"Mikirin siapa maksud Lo?" Rangga bingung
"Ya dia, yayang Lo yang biasa lo apa-apain hahaha," ucap Radit seraya menaik turun na alisnya yang tebel dan hitam.
"Gila lo ya, udah enggak gue Dit. Udah lah gue balik dulu." Rangga berlalu meninggalkan Radit
"Hati-hati lo jangan terlalu dipikirin! hahaha," teriak Radit
Rangga mengacungkan jari tengahnya (bentuk luapan kekesalan budaya orang barat) sebelum membuka pintu mobilnya dan Radit sangat puas membuat kesal sahabatnya itu mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.
Di dalam mobil, Radit membuka ponselnya matanya membulat ketika nomor yang Rangga kirim tadi di kasih nama @sekretaris cantik dan tentu Radit mengubahnya dengan nama
@Calon Ibu Negara dan untuk pertama kalinya Radit mengirim pesan ke Mikha dan tak sabar menunggu balasannya.
*****
Kling (Suara ponsel Mikha pertanda ada pesan masuk).
+6281321#######
*Waktunya istirahat. Makan dulu gih! kerja mulu.
"Nomor siapa ya? apa nomor Rangga?" batin Mikha
Mikha pun membalas pesannya
*Siapa?
Kling
+6281321#######
*Aku Radit,
Auto save @ Radit Gunawan
*Oh, saya sudah memesan makanan untuk makan siang, jadi sambil menunggu lebih baik saya meneruskan pekerjaan.
@Radit Gunawan
*Pulang bareng ya!
Deg... Deg... Deg jantung Radit berdebar tak beraturan menunggu balasan pesan kali ini.
*Bareng? emangnya Pak Radit belum pulang?
Radit mengelus dadanya supaya jantungnya lebih relax
@Radit Gunawan
*Nanti aku kembali lagi jemput kamu.
Mikha pun membalasnya
*Ya udah, boleh.
@Radit Gunawan
__ADS_1
*Terimakasih Mikha
Mikha kembali menyimpan ponselnya tanpa membalas pesan Radit. Makan siang hari ini Mikha lebih memilih Delivery Order karena dia gak sempat menyiapkan bekal, selain itu dia juga malas antri dan malas untuk keluar, lebih baik menyelesaikan pekerjaannya sambil menunggu makan siang datang.