Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Sekretaris Mikha


__ADS_3

Fabian memasuki mobilnya di ikuti oleh Mikha, Mikha duduk di samping Fabian. Suasana terasa canggung. Mikha lebih memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Mikha sangat berprofesional dalam bekerja, ketika bekerja dia sangat pandai berbicara dan bisa membuat lawan bicaranya seketika paham dan selalu tertarik dengan apa yang Mikha bahas, tak jarang obrolan ringan juga bisa dia lontarkan untuk mencairkan suasana.


Berbeda dengan suasana di dalam mobil yang sangat hening, tak ada obrolan sama sekali diantara mereka, beda dengan tadi saat Mikha menghadapi Klien nya penuh senyuman dan sangat ramah. Mikha terlihat sangat cuek sama Fabian, dia hanya mengobrol seperlunya itupun urusan perusahaan.


"Pak tolong berhenti dulu di depan, mau ambil belanjaan buat dibawa ke panti." ucap Mikha


Fabian menghentikan mobilnya tanpa berbicara dan langsung membuka ponselnya untuk menghubungi Alena, tapi nomor Alena tidak bisa dihubungi dan membuat Fabian sedikit gelisah sangat menghawatirkannya.


Mikha telah datang dengan membawa beberapa paperbag, disimpan di bagasi kemudian duduk kembali di samping Fabian dan Fabian kembali melanjutkan perjalanannya menuju Panti Asuhan Sayang Bunda.


"Apa saja yang biasa dilakukan disana?" tanya Fabian memulai obrolannya.


"Memberikan beberapa kebutuhan anak-anak panti dan uang sumbangan bulanan, biasanya saya main dulu sebentar dengan mereka, kalau Bapak mau pulang duluan silahkan" jawab Mikha


"Oiya Pak, untuk acara makan malam Pak Gubernur membatalkan, karena beliau sampai saat ini belum pulang, kunjungan ke luar kota memang tidak bisa ditentukan, tapi Bapak tetap datang ke acara Pak Gunawan pemilik perusahaan property mengundang Bapak bersama calon istri untuk makan malam di rumahnya.


"Apa diharuskan membawa calon Istri?" tanya Bian, karena dia lupa memberitahu Alena dan sekarang Alena tidak bisa dihubungi.


"Iya, itu ajakan dari Istri pak Gunawan, mungkin untuk menemani beliau mengobrol," jawab Mikha


"Di depan belok kanan pak!"


Fabian membelokkan mobilnya ke arah kanan dan sampailah mereka di Panti Asuhan Sayang Bunda, semua Anak-anak panti menyambut kedatangan mereka.


"kakaaaaaa...," panggil salah satu Anak panti menghampiri Mikha dan memeluknya, Mikha membalas pelukan nya, semua anak panti menghampiri Mikha untuk bersalaman.


"Salam juga ya sama Bapak itu," titah Mikha pada Anak-anak sambil mengarahkan Ibu jarinya ke arah Fabian.


"Assalamualaikum Pak," serempak ucap Anak-anak panti dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Waalaikumsalam," jawab Fabian tersenyum dan menerima uluran tangan mereka.


"Apaan ke dia panggil Kaka ke saya panggil Bapak, emangnya saya terlihat sangat tua apa," ucap Fabian kesel dalam hati.


Ibu panti mengajak Fabian mengobrol tentang kebiasaan perusahaan untuk panti dan sesekali Bu Rena datang ke panti menemani Mikha, sedangkan Mikha sedang asyik membagi beberapa oleh-oleh untuk mereka. Mikha pun mengajak bermain, bercanda dan bercerita dengan mereka terlihat wajah kebahagiaan dari Anak-anak panti itu setiap kedatangan Mikha dan Mikha pun suka lupa waktu kalau sudah bersama mereka.


Fabian menghampiri Mikha


"Saya mau pulang sekarang," ucap Bian memberitahu Mikha.


"Silahkan Bapak pulang duluan, saya masih mau disini."


Fabian pulang sendiri menuju apartemen Alena berniat mau mengajak dia ke acara nanti malam, sesampainya di apartemen Fabian menempelkan acces card nya dan pintu pun terbuka Abian masuk mencari Alena namun di apartemen tak ada siapapun bahkan tidak ada tanda-tanda Alena telah pulang sejak makan siang tadi.


"kemana si Alenaaa, nomornya ga bisa dihubungi lagi," ucap Bian dalam hati dan terlihat sangat resah.


*****

__ADS_1


Sesampainya di rumah


"Sayang sore /banget pulangnya, padat banget ya jadwalnya?" tanya Mama Rena.


Bian istirahat duduk sebentar di ruang keluarga


"Iya ma, belum lagi nanti malam acara makan malam bersama pak Gunawan, mana Alena gak bisa dihubungi lagi," gerutu Fabian.


"Emangnya harus bersama Alena ya?"


"Istri pak Gunawan meminta Bian mengajak calon Istri ma," ucap Bian


Deg... deg... deg... detak jantung Mama Rena kembali berdegup kencang


"kamu mau memperkenalkan Alena sebagai calon istrimu nak?"


"Ya iyalah ma siapa lagi, kan emang Alena calon istri Bian," ucap Bian


"Trus kamu mau ngajak siapa?"


"Bingung ma," ucap Bian


"Mikha aja Bian,"


"Tapi dia bukan calon istri aku ma,"


"Dia asisten kamu,"


"Astagfirallah Bian, kamu tidak punya nomor Mikha?"


"Ya tidak lah ma,"


"08**********" Mama Rena menyebutkan nomor Mikha dan Fabian menyimpannya dengan nama


*Sekretaris Mikha,


Fabian menekan tanda hijau d ponselnya mencoba menghubungi Mikha.


*Mikha : "Halo..., "


*Fabian : "Mikha...,"


*Mikha : "Iya... siapa?"


*Fabian : "Saya Fabian,"


*Mikha : "Ada yang bisa saya bantu pak?"

__ADS_1


*Fabian : "Mengenai makan malam, Alena tidak bisa di hubungi,"


*Mikha : "Iya terus?"


*Fabian : "Mama menyuruh kamu untuk ikut dengan saya,"


*Mikha : "Saya siap-siap dulu Pak,"


*Fabian : "share loc alamat kamu!"


*Mikha : "Baik Pak." Mikha mengirimkan alamat rumahnya.


"Gimana, Mikha mau?" tanya Mama Rena


"Ya mau lah orang di suruh sama Mama," jawab Fabian.


"Bian siap-siap dulu ya Ma,"


"Iya sayang."


******


Sementara di waktu yang sama


******


"Kenapa tadi kamu pucat sekali sayang?" tanya laki-laki tua berkumis tipis dan masih gagah itu seraya mengelus tangan Alena,


"Tatapan Mas sih bikin jantung aku mau lompat," jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku pikir tadi Mas mau bongkar semuanya di depan Fabian," ucap Alena.


"Ya enggak lah, bisa-bisa kerjasamanya batal dan aku rugi dong udah bayar kamu full," kekeh laki-laki tua itu.


"Apa benar dia calon suami kamu?" tanya pak Broto


Alena diam karena bingung jawabannya takut membuat pak Broto murka.


"Atau sama statusnya denganku?" lanjutnya


"Dia pacar aku sejak SMA, tapi dia study ke luar negeri dan kembali lagi sama aku, aku gak menerima pelanggan lain ko, bla... bla... bla "


Alena menjelaskan panjang kali lebar.


Alena sedang bersama dengan pak Broto di hotel tempatnya menginap selama sebulan, Alena tidak tahu kalau hotel tempat dia sering cek in itu milik Mama Rena. Sudah 5 jam Alena bersamanya, semenjak keluar dari restoran Alena langsung menemui pak Broto dan meminta maaf karena telah membohonginya, awal kenal dengan pak Broto Alena bilang tidak memiliki kekasih apalagi calon suami, jadi pak Broto mengajak Alena untuk berhubungan kontrak selama sebulan.


Alena tidak menerima pelanggan lain dia hanya bertemu dengan Fabian karena tidak mungkin jika Alena tidak menemui Fabian yang di katakan calon suaminya itu, Pak Broto tidak habis pikir dengan pengakuan Alena yang mengatakan bahwa Alena bukan hanya butuh uang tapi dia juga membutuhkan kepuasan, kalau masalah uang dia bisa meminta dari Fabian tapi kalau kepuasan Fabian belum memberikan sepenuhnya.

__ADS_1


Karena pak Broto sudah terlanjur memberikan uang dan sudah merasakan kepuasan yang luar biasa dari Alena maka pak Broto menyetujuinya dan terus melanjutkan hubungan kontraknya bersama Alena tanpa diketahui Fabian dengan syarat Alena harus datang disaat dia membutuhkan Alena pun menyetujuinya.


Selama 3 jam Alena melayaninya dan merasakan kepuasan yang sama, meski usia pak Broto terpaut jauh 20 tahun di atas Alena tapi Alena benar-benar ikut terhanyut dalam permainan laki-laki tua itu. Alena mematikan ponselnya karena malam ini Alena berencana tidur di hotel bersama pak Broto karena Alena tidak tahu bahwa malam ini Fabian akan mengajaknya makan malam.


__ADS_2