Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Sedetik Terpejam


__ADS_3

Fabian memasuki apartemen Alena, apartemen yang luas dengan fasilitas yang lengkap untuk wanita seukuran Alena yang statusnya bukan wanita karir (tidak bekerja) dan tidak berpenghasilan, kedua bola mata Fabian melihat sekeliling ruangan apartemen Alena.


"Kenapa sayang?" tanya Alena sambil menggandeng tangan Fabian menuju ruang santainya.


"Enggak apa-apa," jawab Fabian


"Sudah berapa lama tinggal disini?" lanjut Fabian bertanya, seraya duduk di sofa panjang yang menghadap televisi.


"Sudah lama sayang, semenjak kedua orangtua gak ada," jawab Alena dengan raut wajah yang dibuat sedih, Fabian mengelus kepala Alena tersenyum memberikan ketenangan.


"Bentar ya! aku buatin kamu minum dulu." Alena berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Lumayan besar, apakah selama ini Alena bekerja untuk mendapatkan fasilitas sebagus ini?" ucap Bian dalam hati dengan rasa penasarannya yang tinggi dan kedua bola mata terus melihat sekeliling apartemen Alena. Alena datang menghampiri Fabian dengan dua gelas minuman segar di nampannya.


"Minum dulu Bi! seraya memberikannya supaya Fabian lekas meminumnya. (Bi adalah panggilan sayang Alena sedari dulu untuk Fabian)


"Terima kasih Alena," Bian meminumnya.


"Apa saja kegiatanmu setiap harinya selama aku di Amerika?"


"Aku paling ke salon, shoping, tiduran, nonton, nongkrong di Ba... " ucapnya terhenti.


"Di ba...? ba itu apa? dimana?" tanya Fabian polos.


"Tadi tu aku belum lanjutin ngomongnya sayang, maksud ba itu emmm... nongkrong di- di bawah kursi di sini nih." jawab Alena sambil mendudukan bokongnya di bawah kursi dan meluruskan kakinya berharap Fabian mempercayainya.


"Ooh di sana, ya ampun Alena sini duduk kembali di sini jangan di bawah sayang!" ajak Bian menarik tangan Alena dengan lembut.


"Hehehe iyaa, makanya aku seneng banget kamu kembali lagi kesini Bi, pasti hari-hari yang aku lewati akan kembali indah seperti dulu, sebelum kamu ke Amerika," ucap Alena meyakinkan Fabian.


"Sekalipun aku kembali kesana aku pasti ngajak kamu,"


"Aku merindukanmu Bi..."


Alena memeluk erat Fabian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Fabian, Fabian mengelus rambut Alena dan mencium pucuk kepalanya tanda sayang, seketika Alena mendongakkan kepalanya dan tatapan mereka beradu, wajah mereka semakin dekat, Alena punya kesempatan untuk melancarkan aksinya dan membuat lawannya masuk ke dalam gelora permainanya. Aksi seperti pekerjaan yang dilakukannya selama ini, bagaimanapun Fabian adalah pria dewasa yang normal, naluri laki-lakinya bangkit ketika di depannya disuguhkan wanita cantik, seksi dan wanita yang sangat dia rindukan tentunya.


(maaf readers kali ini author tak sanggup menuliskan detail setiap apa yang terjadi takut dedek dedek gemes baca)


"Maaf Alena, aku terbawa suasana," ucap Fabian sambil merapikan rambut Alena.


"Gak apa-apa sayang, kita lanjut yu!" ajak Alena.


"Aku harus pulang sayang, hari sudah mulai gelap maafkan aku,"


"Aku masih merindukanmu Bi," jawab Alena memohon supaya Abian tetap tinggal.


"Besok aku mulai kerja, masih banyak yang harus aku bahas dulu sama mama di rumah,"


"Apakah besok aku boleh nyamperin kamu ke kantor Bi?"


"Boleh dong sayang, tau kan kantornya?"


"Tau dong,"


"Aku pulang ya," ucap Bian


"Hati-hati sayang, sering-sering main kesini ya!"

__ADS_1


"Pasti." Alena mengantarkan Bian ke depan pintu Apartemennya.


Setibanya di dalam mobil, Fabian tak juga menginjak pedal gasnya dia terdiam hanyut dalam pikirannya, mengingat suatu kejadian yang baru saja terjadi dengan Alena yang hampir kebablasan.


"Ini bukan yang pertama kalinya menc**m Alena, tapi rasanya berbeda," ucap Fabian dalam hati sambil memijit pelipisnya.


"Mungkin dia sudah dewasa." lirih Fabian menginjak pedal gasnya dan berlalu meninggalkan apartemen Alena.


******


Matahari sudah mulai bersembunyi, gelapnya malam semakin mendekati suasana hening di dalam sebuah kamar yang luas dengan warna dominan merah muda itu sangat rapi dan bersih, Mika selalu menyenangi suasana malam dalam kesendiriannya karena bagi Mika malam yang sunyi itu menenangkan. Mikayla yang terlihat santai memakai daster hijau selutut gambar keroppi, duduk di sofa dekat jendela kamarnya sedang asik memainkan ponsel, berseluncur di dunia maya adalah salah satu kegiatan yang dilakukan Mika untuk menghibur dirinya.


*Cekrek*


Dia memfoto dirinya sendiri dan mengunggahnya di salah satu akun media sosial yang paling digemari banyak orang, bukan seorang Artis ternama ataupun Selebgram tapi akun media sosialnya tembus 30 juta followers, ya memang begitulah kenyataannya.


*Akan selalu ku nikmati kesunyian dalam gelapnya malam, karena terkadang kesunyian bisa menjadi sahabat paling menenangkan.


Itulah caption saat Mika mengunggah fotonya dan menyimpan ponselnya. Entah berapa juta tanda hati yang muncul d post nya Mika.


"Bu.... Ayah semoga kalian bahagia bersama di surga," Itulah yang setiap hari Mikha ucapkan dalam hati sebelum tidur ketika melihat foto Ayah dan Ibunya yang berukuran besar terpampang di dalam kamarnya.


Mika mematikan lampunya dan segera memejamkan matanya.


*********


Mentari pagi telah menunjukan cahayanya. Di dalam sebuah kamar yang luas dominan warna coklat, terlihat Fabian yang tengah disibukan memilih dasinya, kesulitan dalam memilih perpaduan yang cocok dengan kemeja yang ia gunakan, untuk hari pertamanya bekerja di kantor.


"Yah ini saja," dia mengambil dasi yang berwarna orange.


"Iya Ma, aku udah beres." Bian memasukan dasinya ke dalam tas kerjanya dan segera keluar dari kamarnya.


****


#Mikhayla


"Hati-hati ya Pak!" pesanku pada supir taksi yang aku tumpangi.


Supir taksi itu mengangguk dan tersenyum ke arahku, kembali segera menginjak pedal gasnya dan meluncur menuju gedung kantor tempatku bekerja.


Karena ini hari senin seperti biasa aku mengenakan kemeja favorit ku, warna biru muda lengan panjang dengan kerah tinggi bertali pita dan blazer navy dipadukan dengan rok span yang senada panjangnya selutut juga sepatu high heels hitam dan tak lupa rambut yang tebal warna coklat alami ku kuncir kuda, semakin terlihat jenjangnya leherku.


Setibanya di kantor, seperti biasa sambutan beberapa karyawan dan petugas keamanan mereka semua tersenyum ke arahku.


"Selamat pagi Bu," Sambut mereka.


"Selamat Pagi," jawabku seraya tersenyum pada mereka.


Aku bergegas menuju ke ruangan tepatnya sebuah meja sekretaris yang berada di dekat ruangan CEO, kembali mempersiapkan file-file dan seluruh dokumen-dokumen penting untuk meeting pertama kalinya dengan CEO baru, entah ada apa di luar sana terdengar riuh suara karyawan perempuan, aku tak peduli karena dokumen-dokumen ini jauh lebih penting harus aku persiapkan sebelum CEO itu datang.


tap-tap-tap


Suara langkah kaki seseorang semakin mendekat, seketika aku menoleh ke arah suara itu, benar saja beliau sudah datang. "Selamat pagi pak," ucapku seraya menunduk tanda hormatku padanya.


"selamat pagi." jawabnya datar.


"Ke ruanganku sekarang!" titahnya.

__ADS_1


Aku bergegas ke ruangannya dengan membawa beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani.


"Apakah kamu telah mempersiapkan segalanya untuk meeting pertama kali ini?"


"Sudah siap Pak."


"Hasil rekapan data keuangan 3 tahun yang lalu sudah selesai?"


"Sudah Pak."


"Permasalahan dengan klien dari jepang mengenai pembatalan kontrak kerjasama sudah kamu urus?"


"Semuanya sudah beres Pak, saya tinggal menunggu keputusan dari Bapak."


"Lalu apa saja schedule saya hari ini?"


"Pagi ini Bapak hanya melaksanakan meeting di kantor bersama seluruh karyawan mengenai kemajuan pendapatan 3 bulan terakhir dan target yang harus dicapai bulan depan."


"Sudah, hanya itu?"


"Pertemuan dengan klien dari Surabaya mengenai kerjasama membuka cabang restoran pada jam makan siang di restoran Raosestu."


"Lalu?"


"Kunjungan ke Panti Asuhan Sayang Bunda sore hari rutin setiap sebulan sekali, dan tepat pada hari pertama Bapak bekerja."


"Saya kerja sudah lama bukan baru hari ini." Tegasnya.


"Maaf, maksud saya di perusahaan ini."


"Ada lagi?"


"Undangan makan malam dari Pak Gubernur bersama..." ucapku terhenti


"Bersama siapa?"


"Bersama calon Istri anda Pak,"


"Ya sudah nanti saya ajak Alena."


"Siap pak."


"Meeting segera dimulai Pak!"


"Persiapkan segalanya, kumpulkan seluruh karyawan di ruangan!"


"Semuanya sudah siap Pak dan mereka sudah berkumpul di ruangan meeting,"


Pak Fabian mengambil dasi warna orange dari tasnya, dan terlihat menuju ke arah cermin yang ada di ruangan tersebut, sangat tidak cocok sekali kemeja biru muda dengan jas navy dipadukan dengan dasi warna orange, reflek segera kubuka lemari tempat menyimpan pakaian dan di sana juga terdapat dasi yang di siapkan oleh Bu Rena jauh-jauh hari,


"Maaf pak, kemeja yang anda gunakan warna biru muda, jika anda mengenakan dasi warna orange itu tidak cocok. Dasi kotak-kotak warna navy ini akan menambah kesempurnaan penampilan anda pada hari ini." ucapku seraya memasangkan dasinya.


Ini pertama kalinya aku memasangkan dasi ke laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa denganku, aku pikir aku akan memasangkan dasi pertama kalinya buat suamiku kelak, tapi kenyataannya tidak, jarak aku dan dia sangat dekat, aroma tubuhnya menyegarkan hembusan nafas miliknya harum mint membuat mataku sedetik terpejam dan aku segera memakaikan jasnya.


“Sudah.”


Pak Bian segera menuju ke ruang meeting tanpa mengucapkan terimakasih .

__ADS_1


__ADS_2