Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Berusaha berdamai dengan luka


__ADS_3

"Mau makan sekarang?" tanya Fabian basa-basi.


"Saya mau mandi dulu!" jawab Mikha seraya membalikkan badannya meninggalkan Fabian.


"Lama-lama bakalan gendut nih," gumam Fabian setelah Mikha tak terlihat.


*****......*****


Mikha telah kembali dengan pakaian santainya, daster bergambar keroopi dengan tangan pendek dan panjang sebatas paha adalah pakaian favoritnya menjelang malam. Rambut digulung asal ke atas membuat Fabian sejenak terdiam melihatnya. Tidak menyangka, bisa tinggal satu atap dengan sekretaris yang dingin namun selalu membantunya terkait pekerjaan. Tanpa berkata apapun Mikha melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan Fabian segera mengikutinya. Mikha melaksanakan tugasnya sebagai istri yaitu melayani Fabian di meja makan.


"Selamat makan!" ucap Mikha seraya memberikan piring yang telah penuh diisi nasi dan lauknya.


"Terima kasih," ucap Fabian.


Hening, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Sesekali Fabian melihat Mikha aneh, dia seperti tinggal bersama orang asing yang tidak pernah kenal sebelumnya. Jangankan obrolan, senyumpun tak Mikha berikan hingga selesai makan.


"Kamu masih marah?" tanya Fabian memecah hening.


"Tidak,"


"Kenapa diam saja?"


"Tidak ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan," jawabnya seraya berdiri dan membereskan piring yang kotor.


"Apa kita membutuhkan pembantu?" tanya Fabian karena bagaimanapun Fabian tidak mau Mikha terlalu cape dengan pekerjaan di rumahnya.

__ADS_1


"Tidak perlu," jawab Mikha singkat.


"Untuk memasak dan segala pekerjaan rumah tidak mungkin kamu melakukannya sendiri Mikha,"


"Aku biasa melakukannya,"


"Atau nanti akan ada bibi dari rumah mama yang seminggu dua kali datang ke sini untuk bersih-bersih ya!"


"Ya, terserah kamu,"


Setelah semuanya beres, Mikha berniat kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Mikha merebahkan tubuhnya di balik selimut dan segera memejamkan matanya di atas sofa panjang yang berada di kamar.


Sementara Fabian masih berada di meja makan, dia benar-benar dibuat frustasi oleh sikapnya Mikha yang mendadak diam seribu bahasa. Seraya berbalas pesan dengan Alena, yang selalu mengingatkan Fabian untuk tidak menyentuh Mikha, sebenarnya Fabian malah semakin kepikiran Mikha. "Jangankan mau disentuh kurasa bicara dengankupun dia tidak mau," bathinnya seraya menggelengkan kepala dan melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Mikha, kalau mau kamu boleh tidur di kasur biar aku yang tidur di sofa!" ucap Fabian namun tidak ada jawaban dari Mikha karena Mikha telah terlelap dan pergi ke alam mimpi.


Ketika pagi telah menyapa, Mikha tengah disibukkan dengan rutinitas di dapur. Menyiapkan sarapan adalah hal yang menyenangkan buatnya, nasi goreng spesial buatan Mikha telah siap di meja tinggal menunggu Fabian untuk menyantapnya. Mikha mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri saat melihat Fabian datang menghampirinya.


Rupanya aroma nasi gorengnya sangat menggugah selera, sehingga membuat cacing dalam perut Fabian meronta dan langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Aku cuma membuat nasi goreng pagi ini," ucap Mikha dengan aura dingin seraya memberikan sepiring nasi goreng kepada Fabian.


"Justru nasi gorengmu yang membawa kakiku melangkah ke sini, terima kasih Mikha." Fabian menyantap nasi gorengnya dan memberikan jempolnya untuk Mikha menunjukan bahwa nasi gorengnya sangat enak dan Mikha terpaksa hanya menarik sudut bibirnya tanpa bicara.


"Sarapan bareng, jangan mandi dulu!" perintah Fabian seraya memegang pergelangan tangan Mikha supaya duduk dan Mikha duduk di kursi tepat di samping Fabian.

__ADS_1


Seperti biasa hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Mikha tak memperdulikan Fabian yang sedari tadi terus memperhatikannya. Fabian benar-benar dibuat gemas oleh sikap Mikha yang dingin.


"Masakanmu selalu enak," puji Fabian.


"Terima kasih,"


"Aku sudah selesai, aku akan bersiap mau kekantor,"


"Kamu mau ke kantor?" tanya Fabian.


"Ya," jawabnya seraya berdiri.


"Ini masih waktu cuti Mikha, jangan sampai karyawan curiga dengan pernikahan kita," sergah Fabian.


"Ada hal yang ingin aku urus dengan perusahaan di Dubai, biar cepat selesai," ucap Mikha meninggalkan Fabian yang masih duduk ruang makan.


"Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya atau dia tidak sabar ingin secepatnya menyelesaikan pernikahan ini," bathin Fabian terlihat sedikit khawatir di wajahnya.


"Ya udah, kita berangkat ke kantor sama-sama!" ucap Fabian.


Untuk saat ini Mikha hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan sebaik-baiknya, perihal bersikap dingin kepada Fabian dia hanya sedang menata hati dan berusaha berdamai dengan luka yang telah Fabian goreskan di waktu malam pertamanya.


Readers ❀️ maaf ya, sekalinya up sedikit. Author lagi sibuk kerjaπŸ™πŸ™


Tinggalkan likenya ya readers πŸ™ biar author semangat ngetiknya 😚😚😚

__ADS_1


Yang sudah memberikan like terima kasih ❀️


__ADS_2