Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Tanda merah di leher Alena


__ADS_3

"Tidak apa-apa, nanti saya pesan sendiri," balas Fabian dan tidak lama pelayan Restoran itu datang Fabian langsung memesan makan siangnya.


Radit hanya menyunggingkan senyumnya ketika Fabian tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Mikha. Fabian tidak pernah menyangka Mikha sekretarisnya itu sebentar lagi akan menjadi istrinya lebih tepatnya istri sementara. Fabian tidak bersuara ketika melihat keakraban Mikha dan Radit, sesekali Mikha tertawa karena candaannya Radit.


Fabian tidak melihat sosok sekretaris Mikha yang dingin ketika sedang bersama Radit. Lesung pipinya tampak saat Mikha tertawa membuatnya semakin terlihat cantik alami. Fabian terlihat kesal dia benar-benar merasa seperti obat nyamuk di antara Mikha dan Radit. Pelayan restoran itu datang membawa pesanan Fabian.


"Ayo makan!" ajak Radit dan membuat Fabian segera mengalihkan pandangannya dari Mikha.


Mereka pun langsung menyantap makan siangnya, sesekali perhatian kecil Radit berikan untuk Mikha tanpa memikirkan ada Fabian di sana. Radit memang sengaja melakukannya karena Radit ingin tau reaksinya Fabian.


"Kamu mau cobain ini?" Radit menawarkan makanan yang dimakannya kepada Mikha.


"Enak gak?" tanya Mikha.


"Enak!" jawab Radit.


"Beneran?" tanya Mikha ragu.


Tanpa menjawabnya Radit menyendokkan makanannya tanpa ada rasa ragu dan mengangsurkan sendoknya ke mulut Mikha. Mikha membuka mulutnya menerima suapan dari Radit.


"Enak!" ucap Mikha bersemangat mengunyah makanannya.


"Kamu terlihat sangat lapar Mikha," ucap Radit terkekeh.


"Hahaha, kamu tau saja. Aku memang lapar," balas Mikha.


"Jangankan sendok bekas bibir Radit, bibir Radit nya pun kamu pernah merasakannya Mikha," ucap Fabian dalam hati melihat keakraban Mikha dan Radit.


Teringat kembali masa dimana Radit membantu Mikha menghilangkan pengaruh obat perangsang itu. Sampai saat ini Fabian masih menyangka kalau Mikha sudah tidak perawan.


"Mikha apa makananmu enak?" tanya Fabian dan membuat Radit menyunggingkan senyumnya.


"Ini makanan favorit saya di sini Pak dan ini sangat enak," jawab Mikha.

__ADS_1


"Boleh saya mencobanya?" tanya Fabian berharap Mikha akan menyuapinya.


"Boleh, sebelah sini pak! masih bersih," jawab Mikha seraya menunjuk makanan yang masih utuh dengan sendoknya.


Fabian seketika diam dan Radit segera membuang muka berusaha menahan tawanya melihat kepolisan Mikha.


"Pakai sendok kamu saja!" Perintah Fabian dingin.


"Sendok saya?" tanya Mikha meyakinkan.


"Ya,"


Saat Mikha mau menyendok makanannya dan mengangsurkan sendoknya ke arah mulut Fabian, tiba-tiba Alena datang dengan memakai minidress dan bagian atas berupa tali kecil, terlihat sangat seksi membuat orang yang berada di dalam restoran menatapnya liar.


"Sayang, kamu di sini?" seru Alena seraya merangkul pundak Fabian dan membuat Mikha malah membelokkan sendoknya ke arah mulutnya seraya tersenyum ke arah Radit.


"Eh, hai Alena!" sapa Bian.


Fabian menyadari pakaian yang dipakai Alena terlalu mini sehingga membuat mata para lelaki untuk tak bisa mengalihkan pandangannya dari Alena.


"Aku sendiri dong sayang," jawab Alena seraya duduk di sebelah Fabian.


"Ya udah, ayo cepat pesan makanannya biar bareng makannya!" titah Fabian ketika pelayan menghampirinya.


"Samain kaya ini ya!" pinta Alena kepada pelayan itu seraya menunjuk makanan Fabian.


"Baik Bu, ditunggu makanannya!" jawab pelayan.


"Kamu kemana saja dari kemarin tidak bisa dihubungi?" tanya Fabian terlihat khawatir.


"Aku- aku- aku ada sayang," jawab Alena gugup.


"Kenapa ponselnya dimatiin? Aku kan khawatir," ucap Fabian mengelus rambut Alena membuat Mikha dan Radit saling pandang.

__ADS_1


"Aku takut ganggu kamu, kamu kan pasti sibuk mengurus pernikahanmu. Kalau ponselnya tidak aku matiin, aku tidak akan kuat jika tidak menghubungi kamu. Jadi kalau kedepannya ponsel aku mati, berarti aku hanya tidak ingin menganggu kamu." Alena menyenderkan kepalanya di lengan atas Fabian berharap Fabian iba padanya.


"Kamu jangan pernah mematikan ponselmu lagi ya! karena aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Fabian.


"Tapi aku takut ganggu kamu sayang, aku tidak mau pernikahanmu terhambat meski itu hanya pernikahan sementara," balas Alena menekankan kata sementaranya seraya melirik Mikha dan membuat Radit ilfil melihatnaya.


"Aku tidak sibuk Alena, pernikahan semuanya mama yang urus," ucap Fabian seraya mengelus rambut Alena.


Fabian benar-benar mencintai Alena dan sangat mengkhawatirkannya karena Fabian taunya Alena hidup sendiri dan tidak bekerja jadi Fabian sangat mengkhawatirkan kehidupan sehari-hari Alena.


"Makan dulu!" perintah Fabian kepada Alena.


"Iya sayang,"


Alena buru-buru menyantap makanannya karena dia benar-benar merasa lapar.


"Pelan-pelan makannya sayang!" ucap Fabian lembut seraya menyibakkan rambut Alena ke belakang karena terlihat mengganggu saat Alena makan.


"Terima kasih sayang," ucap Alena membiarkan Fabian menyibakkan rambutnya.


Tetapi Fabian tiba-tiba menghentikan makannya, matanya menatap lekat ke leher jenjang Alena yang terlihat ada beberapa tanda merah bekas gigitan.


Bukan hanya Fabian Mikha pun melihat jelas tanda itu di leher Alena dan langsung mengalihkan pandangannya ke Fabian, sorot mata Fabian menyimpan pertanyaan dan kecurigaan yang mendalam. Begitupun dengan Radit, sebagai laki-laki dewasa jelas dia tau apa yang ada dalam pikiran Fabian. Alena belum menyadari kalau Fabian masih menatap lekat leher Alena.


Huh-


Tarik napas dulu 🤭🤭


hehehe Sudah dulu ya!😘


Apa yang akan terjadi di episode berikutnya?


Apa ada yang tau?

__ADS_1


hehehe


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2