Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Alena ?


__ADS_3

*****


Sesampainya di hotel.


"Mau masuk dulu gak?" tanya Mikha yang masih berada dalam mobil.


"Gak usah deh, aku balik ke kantor aja,"


"Ya udah, terima kasih ya," ucap Mikha seraya membuka selt beltnya dan berniat turun tetapi Radit memanggilnya.


"Mikha..."


"Iya," Mikha menoleh sebelum turun.


"Kamu nanti malam hati-hati ya!"


"Iyaaaaa...." Mikha tersenyum.


"Aku usahain gak ikut ke acara keluarga, aku mau nganterin kamu."


"Gak usah, Dit. Gak enak sama Ibu kamu,"


"Aku gak suka di bantah,"


"Hmm... ya udah, aku turun ya!" Mikha turun dari mobil Radit.


"Hati-hati ya!"


"Kamu juga hati-hati, jangan ngebut!"


"Siap Nyonya." Radit memberi hormat.


*****


Mikha memasuki Gedung Hotel milik bu Rena, petugas keamanan di hotel tersebut sudah tak asing dengan Mikha. Dulu sebelum Fabian datang ke Indonesia Mikha sering mengunjungi bu Rena di hotelnya.


Terlihat bu Rena sedang duduk mengobrol dengan seseorang di loby dan Mikha segera menghampirinya.


"Bu ... "


"Hai, Mikha. Sini duduk! ada yang mau saya tanyakan," ucap bu Rena seraya menepuk kursi di sebelahnya.


"Baik, Bu."


****


Sementara di waktu yang sama.

__ADS_1


Sudah dua hari Alena mematikan ponselnya karena dia tidak mau diganggu saat kebersamaanya dengan pak Broto, dia pun sudah mempersiapkan jawabannya jikalau Fabian bertanya.


"Mas ... makasih loh," ucap Alena manja dengan mengalungkan tangannya ke leher pak Broto.


"Untuk apa?" tanya pak Broto mengelus dagu Alena.


"Untuk ,semuanya... aku sangat menyukainya Mas," jawab Alena jujur.


"Bukannya kamu lebih menyukai Fabian?" goda pak Broto.


"Hasratku tak pernah tuntas dengannya," ucap Alena melepaskan tangannya.


"Why, Beby? memegang bahu Alena dengan kedua tangannya.


"Entahlah," jawab Alena mengangkat bahunya.


"Aku pulang dulu ya Mas,"


"Hati-hati Beb!"


"Daaaah... " Alena mencium pak Broto.


Alena bergegas keluar kamar hotel dengan berpakaian super minim, dres merah ketat dengan bahu terbuka dan panjang di atas lutut. Terlihat menonjol setiap lekukan tubuhnya, membuat para pengunjung dan tamu hotel yang berada di loby tak mengalihkan pandangannya termasuk bu Rena dan Mikha. Alena terlihat buru-buru keluar seraya fokus dengan ponselnya dia tidak melihat orang-orang yang sedang memperhatikannya.


"Kamu tau kan siapa dia?" tanya bu Rena.


"Saya tau bu," Ucap Mikha mengangguk.


Pertanyaan bu Rena sedikit membuat Mikha bingung.


"Yang saya tau, dia calon Istri pak Fabian bu,"


bu Rena menggeleng lemah dan tersenyum sinis membuat Mikha semakin bingung.


"Apa dia sering ke kantor?"


"Iya bu, dia sering datang ke kantor,"


"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya bu Rena terlihat penasaran dengan jawaban Mikha.


"Di sana dia sangat menghambat pekerjaan pak Bian, seringkali saya menggantikan meeting karena pak Bian lebih mementingkan calon Istrinya bukan hanya itu dia juga sering melakukan hal yang tidak sepantasnya dia lakukan di kantor, dia juga sangat angkuh mungkin karena dia merasa calon Nyonya Bos disana," ucap Mikha tapi dia hanya mampu mengungkapkan dalam hatinya.


"Mikha .... "


"I-Iya bu,"


"Kok diam, apa yang dia lakukan di kantor Fabian?"

__ADS_1


"Dia mengajak pak Bian makan siang," ucap Mikha menyembunyikan kebenarannya.


"Apa Fabian menjalankan tugasnya dengan baik?"


"Untuk sementara, Iya Bu," jawab Mikha.


"Tapi Bu, apa dia menginap di sini?"


"Ya."


"Di kamar berapa ya? saya coba tanya resepsionis aja kali ya Bu?"


"Mau ngapain?" tanya bu Rena


"Ada titipan kartu ATM dari pak Bian untuk dia," jawab Mikha.


bu Rena terdiam.


"Segitu cintanya Fabian sama wanita itu, sampai-sampai dia memberikan kartu ATM yang jumlahnya tidak mungkin sedikit. Awas aja Alena, aku akan membuat Fabian melihat kebusukanmu dengan mata kepalanya," ucap bu Rena geram dalam hati.


"Gak usah Mikha!"


"Loh, kenapa?" tanya Mikha penasaran.


"Bilang aja sama Bian, kalau kamu gak ketemu sama dia!"


"Kayanya bu Rena tidak suka sama Alena," ucap Mikha dalam hati.


"Kalau Alena yang meminta?" tanya Mikha.


"Kasih saja! Fabian ribet kalau urusannya dengan Alena," jawab bu Rena terlihat kekesalan di hatinya.


"Ya sudah,"


Mikha tidak terlalu banyak bertanya masalah Fabian meski dia tau bu Rena ingin sekali mencurahkan segala kekesalannya. Tetapi Mikha tidak ingin mencampuri urusan keluarga Bosnya.


****


Night Club


Mikha kembali menginjakkan kakinya di Klub malam, mengenakan blouse merah tali pita bagian leher di masukan ke dalam celana panjang hitam, dipadukan blazer hitam yang menempel pas di tubuhnya. Mikha tidak berani mengenakan rok maka dari itu celana panjang lah yang selalu menjadi pilihannya ketika datang ke tempat itu.


Mikha datang bukan untuk bersenang-senang tetapi untuk urusan bisnis. Ini bukan yang pertama kalinya tetapi buat Mikha tetap saja merasa risi dengan suara dentuman musik sangat keras yang memekakan telinganya, belum lagi cahaya lampu yang kerlap kerlip membuat kepala Mikha sedikit pusing.


Mikha mengedarkan pandangannya mengerutkan dahinya melihat orang-orang yang dengan asyiknya berjoged mengikuti alunan musik, Mikha malah terpaku di tempatnya ketika melihat sosok wanita yang mirip dengan Alena sedang berjoget mengikuti irama musik dengan kedua tangan melingkar di leher pria yang seumuran dengan Fabian dan kedua tangan pria tersebut tepat berada di pinggang Alena.


Tidak lama Mikha menemukan sosok rekan bisnis yang Ia maksud, laki-laki yang memakai jas biru tua senada dengan celananya memberikan isyarat dengan tangannya supaya Mikha menghampirinya.

__ADS_1


Terima kasih telah berkenan membaca


πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


__ADS_2