Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Satu piring berdua


__ADS_3

"Jadi itu yang membuatmu melamun sejak tadi?" tanya Radit terlihat sedikit resah.


"Ya," jawab Mikha singkat.


"Kamu bawa apa si?" tanya Mikha.


"Aku bawa makan siang buat kamu, makan dulu yuk! nanti kita cari solusinya sama-sama," ajak Radit.


"Aaah ... kebetulan sekali aku lapar hehehe," ucap Mikha tersenyum.


"Makan di situ yuk!" ajak Mikha menunjuk sofa panjang yang berada di sudut dekat tangga seraya membawa papper bag yang Radit bawa dan isinya kotak bekal.


"Yuk!"


"Wah ... yuhuuu, makanan favorit aku nih, pasti mama yang bikin ya?" tanya Mikha saat membuka kotak bekalnya dengan mata berbinar.


"Iya ... mama nyuruh aku bawain makan siang buat kamu," jawab Radit tersenyum bahagia melihat Mikha yang begitu kesenangan dibawain makanan.


Mikha memanggil mamanya Radit dengan sebutan mama, itu semua atas permintaan mamanya Radit. Dalam satu tahun ini hubungan Mikha dan Radit begitu dekat meski status mereka hanya berteman tetapi orang tua Radit berharap suatu saat hubungan mereka bisa berakhir ke jenjang pernikahan.


"Perhatian banget sih mama," ucap Mikha.


"Haish ... piringnya cuma ada satu, sendoknya juga satu tetapi ini porsinya banyak banget. Kita makan sepiring berdua aja ya!" ajak Mikha tanpa ada rasa canggung.


"Boleh,"


"Pasti mama sengaja," ucap Radit dalam hati.


Mikha menyendokkan nasi pertamanya dan memberikannya ke Radit.


"Suapan pertama harus kamu dulu!" ucap Radit saat Mikha mau menyuapi Radit.


"Emangnya kenapa?" Mikha mengerucutkan bibirnya.


"Aku lebih suka sendok bekas kamu, hahaha," kekeh Radit.


"Ya udah,"


Mikha menyantap makan siangnya begitupun dengan Radit makan siang disuapin Mikha.

__ADS_1


"Fabian tidak keluar?"


"Entahlah," jawab Mikha cuek dan terus menghabiskan makannya.


"Ini suapan terakhir, buat kamu ya!" ucap Mikha.


"Buat kamu saja!" tolak Radit.


"Buat kamu!"


"Ya, udah buat kita berdua," ucap Radit tersenyum "Kamu makan setengah sendok dan aku akan memakan yang tersisa dari sendok itu," ucap Radit dan Mikha melakukannya, aksi mereka dilihat oleh Fabian dan membuat Fabian kembali ke dalam ruangannya.


"Gimana kenyang?"


"Kenyang banget, hehehe terima kasih ya,"


"Untuk apa?"


"Untuk makanannya," jawab Mikha tersenyum dan menampakkan lesung pipinya.


"Sama-sama, terima kasih juga ya,"


"Untuk suapannya, hehehe,"


"Kaya baru pertama kali saja, orang sudah biasa kok," ucap Mikha mengerucutkan bibirnya.


"Mikha ...,"


"Ya, apa?"


"Mudah-mudahan ada solusi dibalik masalah ini!"


"Iya, Aamin. Aku gak mau pak Bian melimpahkan tanggung jawab sepenuhnya ke aku karena bagaimanapun aku kerja atas perintahnya," ucap Mikha.


"Kamu tidak salah," ucap Radit mengelus punggung Mikha "Aku pulang dulu ya,"


"Hati-hati!"


"Ya,"

__ADS_1


********


Fabian pulang lebih awal dari kantor dan langsung ke apartemen Alena, kontrak kerja sama kali ini benar-benar membuat Fabian prustasi.


"Sayang ...," panggil Bian seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apartemen tetapi tidak ada tanda-tanda Alena ada.


"Kemana sih, kok gak ada,"


Fabian merebahkan tubuhnya di sofa panjang seraya menunggu Alena.


********


Sementara di waktu yang sama


"Ya udah, aku pulang dulu ya!" pamit Alena seraya merapikan rambutnya.


"Buru-buru amat lena ... aku masih sangat menginginkanmu." Reza memeluknya dari belakang.


"Kamu benar-benar selalu menjadi candu bagiku Alena," ucap Reza.


"Tenang saja, dalam satu tahun kedepan kita akan sering bertemu,"


"Apa kamu masih bermain dengannya?"


"Siapa?" tanya Alena karena Alena sendiri bingung siapa yang Reza maksud soalnya dia tidak hanya bermain dengan satu orang.


"Serangga,"


"Oh, Rangga ... aku sudah lama tidak bertemu dia," ucap Alena berbohong karena dia tidak mau memancing amarah Reza.


"Bagus. Kamu harus datang disaat aku butuh kamu,"


"Ok, siap! Aku mengerti kok,"


Alena melakukan hubungan kontrak bersama Reza selama satu tahun dengan bayaran yang fantastis. Tentu saja Alena dengan senang hati menerimanya tanpa memikirkan konsekuensinya, uang 1 M yang di berikan Reza membuat dia lupa akan tujuan utamanya. Sejujurnya pertemuannya dengan Reza cukup membuat hati Alena berdesir karena Reza adalah orang pertama yang membobol gawang miliknya.


πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Jangan lupa tinggalkan like and krisannya ya readers 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2