
Maafkan Author lama up'nya!π
Semoga readers tetap setia ya! π
*
*
"Saya tidak bertanya terima atau tidak, itu perintah Mikha dari atasan kamu!"
"Saya permisi!" ucap Mikha seraya berdiri dan meninggalkan ruangan Fabian.
"Tidak ada jalan lain Mikha, maafkan aku! Aku tidak bisa menikah dengan Clara, kamu adalah pilihan yang tepat," lirih Fabian setelah Mikha keluar dari ruangannya.
****....****
"Kenapa jadi begini?" lirih Mikha seraya menutup wajah dengan kedua tangannya berusaha menetralkan perasaannya yang kacau, ingin berteriak melampiaskan amarah dan kekesalan yang terpendam di dadanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Mikha menahan sesak.
Bukan masalah dirinya menikah dengan siapa karena sampai saat ini statusnya pun masih sendiri. Dia hanya tidak siap dengan status janda yang akan dia terima nanti dan diapun tidak siap jika harus berbagi suami dengan wanita yang tak lain adalah kekasih suaminya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya dia harus menikah dengan laki-laki yang tidak mencintainya dan menjadikan pernikahan ini hanya untuk keuntungan perusahaan semata. Mungkin sudah takdir, masalah ini membawanya ke dalam suatu pernikahan sementara yang rumit untuk kehidupannya.
__ADS_1
Mikha benar-benar tidak fokus dia tidak bisa bekerja dengan perasaan yang kacau. Sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu pulang masih sangat lama.
.
.
"Mikha ...," panggil Radit dan seketika Mikha mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Radit.
"Radit ..." Mikha berdiri menghampiri Radit dan memeluknya.
Mikha memeluknya dengan sangat erat menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Radit mencoba mencari kenyamanan, dia berharap dengan memeluk Radit bisa menghilangkan rasa sesak di hatinya. Raditpun membalas pelukannya, mencium pucuk kepalanya dan tangan kanan mengelus rambut Mikha. Radit merasakan ada sebuah sesak di hati Mikha yang ingin dia luapkan.
"Keluar yuk!" ajak Radit, Mikha pun mengangguk.
Radit mengajak Mikha ke sebuah taman yang sangat indah, dia terus menggandeng tangan Mikha dan menautkan jari jemarinya, mereka terus berjalan menuju bangku panjang menghadap kolam kecil yang penuh dengan ikan.
Radit mengajak Mikha duduk di sebelah kanannya dan membuat kepala Mikha menyandar di dadanya sementara tangan Radit mengelus lembut kepala Mikha.
"Aku baru tau ada taman di sekitar sini," lirih Mikha.
"Aku sering ke sini ketika hati terasa sesak dan mulut tidak bisa berbicara," ucap Radit.
__ADS_1
"Indah ya?" Mikha mendongakkan kepalanya menatap Radit terlihat kesedihan dari tatapan matanya.
"Ya." Radit tersenyum. "Kamu kenapa?" lanjut Radit.
"Masalah yang kemarin membuatku harus menikah dengannya, tidak ada jalan lain menikah adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan harga diri Fabian sebagai pimpinan. Dia memilihku untuk menjadi istri sementaranya, karena dia merasa hanya aku yang bisa melakukan kerja sama dengan perusahaan mereka. Alena sebagai calon istrinya menolak untuk terjun ke perusahaan jadi Alena mengijinkan Fabian menikah denganku untuk sementara selama menjalin hubungan kerja sama itu dan setelah kerja sama itu selesai dia akan menceraikan aku," ucap Mikha seraya menatap Radit.
"Aku tidak setuju!"
"Kenapa?" tanya Mikha.
"Karena aku mencintaimu Mikha kalau tau bakal terjadi hal seperti ini, dari dulu saja aku nikahi kamu," ucap Radit dalam hati.
"Kenapa Dit?" tanya Mikha mengulanginya.
"Menikah bukan hanya sekedar bermain peran dalam suatu ikatan, bukan pula sekedar menyatukan dua individu. Jangan pernah menganggap sepele sebuah pernikahan karena di dalam sebuah pernikahan terdapat tanggung jawab besar setelahnya," ucap Radit.
"Aku tau Dit, terus aku harus bagaimana?" tanya Mikha pasrah.
"Berapa penalti yang harus dibayar? aku akan membayarnya!" lanjut Radit.
****.....****
__ADS_1