Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Oktavio Reza Bimawan


__ADS_3

***


Rangga telah menuggu Radit di Kafe miliknya, mengenakan celana jeans dan atasan kaos polos juga jaket denim sebagai outer.


Dia terlihat santai sedang meneguk kopinya seraya memainkan ponsel.


"Sorry, gue telat!" ucap Radit seraya duduk di kursi seberang Rangga.


"Kebiasaan banget lo," ucap Rangga dengan mata mendelik.


"Sorry ... gue tadi ketiduran lagi,"


"Abis begadang lo? tumben pagi-pagi tidur lagi,"


"Ini yang mau gue omongin sama lo,"


"Sorry ini hari minggu, gue gak mau ngomongin kerjaan!"


"Siapa juga yang mau ngomongin itu,"


"Terus?"


"Semalam Mikha menemui kliennya di klub, namanya Reza,"


"Oktavio Reza Bimawan?" tanya Rangga membelalakan matanya.


"Entahlah gue gak tau nama lengkapnya, Mikha gak cerita,"


"Jam berapa dia kesana?"


"jam delapanan, tapi udah rame banget di dalamnya,"

__ADS_1


"Terus apa yang mau lo omongin?" tanya Rangga kemudian meneguk kopinya.


"Mikha dikasih obat perangsang dalam minumannya," jawab Radit.


Seketika Rangga menyemburkan kopinya hingga ke meja tepat di depan Radit.


"Fix, gue yakin orangnya pasti Oktavio Reza Bimawan. Anak pak Bimawan, pemilik perusahaan batu bara teman lama bokap gue," ucap Rangga dengan sorot mata yang terlihat emosi.


"Jorok banget si lo!" pekik Radit seraya mengambil tisue untuk membersihkan meja di depannya akibat semburan kopi Rangga, "Lo kenal sama dia?" tanya Radit.


"Sorry ... Sorry, gue kaget culas banget dia.


Gue tau dia pemilik klub ... dia baru tiga bulan kembali ke Indonesia. Klub yang Mikha datangi itu pasti milik dia dan lo tau? semua orang yang malam itu datang ke sana dia kasih gratis. Makanya masih sore sudah rame, entahlah apa maksudnya mungkin karena untuk kedepannya klub dia lagi yang kelola, dulunya kan dikelola oleh temannya, setau gue sih begitu," ucap Rangga dengan sorot mata yang seakan tidak menyukai Reza.


"Dimana Mikha sekarang? Apa dia jatuh ke tangan Reza?" tanya Rangga khawatir.


"Dia di rumahnya, semalam gue bawa dia ke rumahnya,"


"Ya ... gue susul dia ke klub, semenit saja gue telat pasti gue gak akan menemukan Mikha," ucap Radit.


Rangga terlihat menarik nafas lega.


"Terus lo semalam bawa dia kemana?" tanya Rangga penasaran.


"Kan gue bilang, gue bawa dia ke rumahnya," jawab Radit seraya terus membersihkan meja depannya menggunakan tisue.


"Kenapa gak ke hotel saja?" tanya Rangga.


"Kan gue harus bantu dia meredakan hawa panasnya bro,"


"Ya, kan di hotel juga bisa," ucap Rangga seraya menahan tawanya.

__ADS_1


"Apa'an sih lo? Gue kan minta bantuan Riri,"


"Hah? Emangnya lo gak bisa bantuin Mikha meredakannya? Kenapa harus nelpon Riri? Kenapa lo gak telpon gue saja?" tanya Rangga sedikit gemes dengan ucapan Radit.


"Brengsek lo!" hentak Radit seraya melempar tisue yang sedang dia pegang ke wajah Rangga.


"hahaha, apa lo gak mencoba menyuruh Mikha untuk berendam?"


"Sudah gue lakukan, tapi Mikha terus memanggil-manggil gue. Gue gak tega, gue khawatir jadi gue nelpon Riri,"


"Apa lo gak tegang?" tanya Rangga seraya menahan tawanya. "Biasanya orang yang terpengaruh obat seperti itu mereka tidak bisa menahan hasratnya," ucap Rangga.


"Adik gue baik bisa diajak kerja sama, tidak seperti adik lo yang nakal!"


"Adik gue bukan nakal dia hanya normal," ucap Rangga membela dan menahan tawanya.


"Terus maksud lo, adik gue gak normal?" tanya Radit menajamkan tatapannya.


"Bisa jadi, hahaha." Rangga meledek dan tak kuat menahan tawanya.


"Sialan lo!"


"Ya udah, ya udah ... Sorry," ucap Ranga terkekeh.


"Jadi mau gimana? lo mau beri pelajaran sama Reza?" tanya Rangga mulai serius.


"Reza mantan kekasihnya Mikha,"


"Hmmm ... mantan ya? mungkin ada perasaan yang belum mereka sesesaikan," ucap Rangga.


Radit menceritakan apa yang Mikha ceritakan semalam tentang hubungannya dulu dengan Reza.

__ADS_1


__ADS_2