Pilihan Yang Tepat

Pilihan Yang Tepat
Tenggelam dalam sakit


__ADS_3

Hai ... Readers, Mohon maaf telat banget up'nya!


Doain author selalu sehat ya readers supaya bisa melanjutkan novel ini sampai tamat.


Matahari pagi telah menampakkan cahayanya, Fabian yang sejak semalam memejamkan matanya pura-pura tidur demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan dan Alena yang terlihat dongkol karena tidak ada respon dari Fabian.


"Bi," panggil Alena dengan nada lembut meski sebenarnya hati begitu kesal.


"Iya, Al ...," sahut Fabian seraya merapikan bajunya dan bersiap untuk pergi.


"Aku ngerasa sikap kamu sekarang berubah," ucap Alena.


"Berubah?" tanya Fabian tidak mengerti.


"Biasanya kamu sangat hangat dan selalu menuruti apa mau aku,"


"Kamu mau apa Al?"


"Kenapa kamu menolakku semalam?"


"Oh, gara-gara itu kamu bilang aku berubah?" tanya Fabian dan Alena mengangguk.


"Gak tau kenapa Al, apakah aku kasihan dan ingin menjaga kamu sebelum kita menikah atau aku tidak lagi punya hasrat sama kamu," jawab Fabian namun hanya dalam hati.


"Bi, kenapa diam?" tanya Alena seraya memeluk Fabian.

__ADS_1


"Al, kalau saja aku ingin merusak kamu, sudah aku lakukan sejak dulu. Aku itu ingin menjaga kamu, aku tidak mau melakukannya sebelum kita resmi menikah,"


"Bi, boleh aku meminta satu permintaan?"


"Apa?"


"Aku ingin kita segera menikah, meski itu hanya nikah siri," pinta Alena dan cukup membuat Fabian terkejut.


Permintaan Alena kali ini benar-benar gila, mana bisa Fabian mengabulkannya.


Sedangkan nikah siri harus ada persetujuan dari istri pertama dan bagaimanapun Fabian masih punya keluarga, sudah pasti restu dari mama dan neneknya sangat berarti buat Fabian.


"Kenapa diam? Kamu tidak mau?"


"Jangan bilang-bilang Bi, kita kasih tau dia setelah kita sah. Aku gak apa-apa tinggal satu atap sama dia," ucap Alena dan semakin membuat Fabian kaget dengan ide gila Alena.


"Itu tidak mungkin Al, karena syaratnya harus ada izin dari istri pertama. Kita bicarakan ini nanti lagi ya, kamu sabar dulu! Aku tidak mau mama dan nenek sampai membenci kita. aku pulang dulu ya, udah kesiangan harus ke kantor, ada meeting dengan perusahaan penting, " balas Fabian dengan sejuta alasan supaya Alena sedikit lebih tenang.


"Iya," jawab Alena walau hati sebenarnya sangat kecewa karena malam ini dia tidak berhasil menjerat Fabian.


Fabian bergegas keluar sebelum Alena berubah pikiran dan melarangnya pulang.


******.....******


Hari sudah hampir siang, namun lampu di rumah Fabian masih menyala. Gordengnya pun masih menutup dengan rapat, Fabian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Hati Fabian sudah merasa tidak enak dengan pemandangan yang ia lihat di pagi hari. Ada rasa khawatir di hatinya dan dia semakin mempercepat langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


"Mikha ...," panggilnya seraya mengedarkan pandangannya.


"Mikha ...," melangkahkan kakinya seraya membuka pintu kamar mandi dan hasilnya nihil.


Fabian membuka gordeng kamarnya dan tidak ada tanda-tanda Mikha di halaman. Fabian kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, terlihat tempat tidur yang rapi dan teringat akan kejadian semalam dengan Mikha kemudian dia menghela nafasnya seraya memejamkan mata dan berusaha menghapus bayangan Mikha semalam.


Fabian mencoba menghubungi Mikha berulang kali, namun ponselnya tidak aktif.


"Apa dia sudah berangkat ke kantor ya? Terus kenapa keadaan rumah seperti ini, " tanyanya dalam hati seraya bersiap untuk pergi ke kantor.


****.....****


Sementara di waktu yang sama, Mikha masih tenggelam dalam sakitnya matanya merah dan bengkak, dia duduk bersandar seraya memeluk lutut di atas tempat tidurnya. Mikha menghela nafas dan segera menyeka air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.


Bagaimanapun dia harus kembali bangkit, duduk dan tegak berdiri melupakan bayangan Fabian yang sejak semalam membuat hatinya sesak. Meski diapun tahu melupakan Fabian adalah tugas terberat buatnya yang tidak bisa diselesaikan dalam kurun waktu yang singkat.


"Aku harus segera menyelesaikan urusan dengan perusahaan itu kemudian setelahnya aku akan menyelesaikan urusan dengan hatiku sendiri," gumamnya seraya berdiri dan keluar dari kamar.


'Sampai di sini aku tahu dan mengerti bahwa sebaik apapun aku, setulus dan sesayang apapun aku sama kamu. Semua itu tidak akan berarti dan tidak akan ada harganya buatmu karena sampai kapanpun kamu hanya menganggap aku sebagai istri sementara,' bathinnya kemudian meneguk segelas air putih.


Lanjut?


Hayu ...


Tinggalkan like dan komentnya ya beb!

__ADS_1


__ADS_2