
Maaf π Telat banget π₯Ί
Terima kasih sudah setia menunggu πππ
Untuk saat ini Mikha hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan sebaik-baiknya, perihal bersikap dingin kepada Fabian dia hanya sedang menata hati dan berusaha berdamai dengan luka yang telah Fabian goreskan di waktu malam pertamanya.
Mikha telah siap dengan setelan kerjanya, blouse warna putih yang dimasukan ke dalam rok span selutut.
"Ayo!" ajak Fabian dan mereka memasuki mobilnya.
Tidak ada obrolan di dalam mobil, Fabian fokus mengemudi dan Mikha fokus dengan ponselnya. Sesekali Fabian melirik Mikha, tetapi Mikha tak mengindahkannya dia malah terlihat asik senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.
"Pasti lagi chating sama si Radit," πbathin Fabian dengan mata mendelik.
Fabian menginjak pedal gasnya kencang seketika, sehingga membuat Mikha kaget. Sejenak melirik Fabian kemudian fokus lagi ke ponselnya setelah Fabian kembali mengemudi dengan kecepatan sedang. Fabian mendengus kesal dengan sikapnya Mikha yang benar-benar dingin dan datar.π€¨
"Kamu tidak lagi sariawan kan?" tanya Fabian basa-basi mencoba mengalihkan pandangan Mikha.π
"Tidak," jawab Mikha dengan pandangan masih ke ponselnya.π
"Kalau di kantor, tolong kamu jangan dingin gitu sama aku! Kamu harus terlihat bahagia menikah sama aku,"
"Kenapa?"π€
"Aku hanya ingin menunjukan kepada mereka, bahwa sebagai pimpinannya aku bisa membuat istrinya bahagia,"
"Hmm," π
Fabian mendecakkan lidah setelah mendengar jawaban singkat dari Mikha.
"Kamu harus bersikap hangat sama aku, jangan buat aku malu dengan sikapmu yang seperti tidak peduli kehadiran aku,"
"Kenapa sih, ni orang jadi banyak bicara," bathin Mikha sejenak melihat Fabian.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu tau gak sih, sikap dingin kamu beberapa hari ini bisa membuat orang menyangka bahwa rumah tangga kita tidak baik-baik saja," ucap Fabian mengungkapkan kekesalannya dan MIkha malah mengerutkan dahinya.
Mikha menyimpan ponselnya di tas. Sejenak dia berpikir, merasa apapun yang dia lakukan selalu salah. mencoba mengakrabkan diri, salah. Bersikap dingin, tetap salah. Mikha menghembuskan napas kasar, "Apa menurutmu rumah tangga kita baik-baik saja?" tanya Mikha.
"Setidaknya dengan bersikap hangat di depan orang lain, mereka akan menyangka rumah tangga kita baik-baik saja," jawab Fabian, ada suatu keinginan yang tersirat di balik jawabannya.
"Aku mengerti kok, kamu gak usah khawatir! Aku bisa bersikap hangat sama kamu di depan orang lain. Tenang saja, aku cukup pandai dalam memainkan peran sebagai istri penurut, istri sholehah dan istri penyayang," ucap Mikha dan membuat Fabian sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Bagus Mikha,"
"Hmm,"π
"Sudah sampai, tunggu! Biar aku bukain pintunya." Fabian segera turun dan memutari mobilnya kemudian membukakan pintunya untuk Mikha.
"Ayo, sayang," ajak Fabian setelah pintu terbuka dan Mikha tersenyum.
"PIntar juga bersandiwara," bathin Mikha.
"Aaaaa ... so sweet ya pak Bian,"
"Benar-benar suami idaman,"
__ADS_1
"Mereka sangat serasi,"
Itulah bisikan-bisikan para karyawan ketika Fabian dan Mikha melangkahkan kakinya memasuki kantor.
"Eh-eh kita lihat, ada yang beda gak ya dengan jalannya bu Mikha," bisik salah satu karyawan perempuan.
"Kalau beda, bearti pak Bian sangat perkasa," balas karyawan yang lain.
"Kalau tidak, berarti pak Bian-" mereka menghentikan bisik-bisiknya ketika MIkha dan Fabian tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Maksud mereka apa?" tanya Fabian berbisik.
"Aku tidak tahu,"
"Kamu bisa kan, jalannya dibedain jangan seperti biasanya, anggap aja semalam kita sudah melakukan sesuatu yang membuat kamu sulit berjalan," perintah Fabian berbisik membat mengerutkan keningnya.
"Ogah," tolak Mikha.π
"Cape? Ya udah, aku gendong." Fabian sedikit mengeraskan suaranya dan secara tiba-tiba menggendong Mikha ala brydal style membuat Mikha terperangah kaget namun Mikha harus tetap tenang dan membiarkan Fabian menggendongnya, dia tidak lupa bahwa dia sedang memainkan peran sebagai istri penurut.
"Ya ampun, aku gak nyangka bekerja di perusahaan yang pimpinannya benar-benar penyayang," celoteh salah satu karyawan dan dengan sangat jelas Fabian mendengarnya kemudian segera melangkahkan kakinya.
"Berat banget sih," bisik Fabian.
"Lagian ngapain sih, tiba-tiba gendong? Biar dapat pujian ya?"
"Habisnya, kamu disuruh bedain jalannya, gak mau,"
"Aku gak bisa kalau harus memainkan peran pura-pura sakit anu,"
"Kenapa?"
"Masa gak tahu,"
"Orang aku belum pernah ngerasain,"
"Iya, sama aku belum," ucap Fabian sekenanya.
"Sama Radit udah," lanjutnya dalam hati.
"Belum? Kalau belum pasti suatu saat akan dong," bathin Mikha.
"Kenapa diam?" tanya Fabian.
"Tidak apa-apa," jawab Mikha mengerucutkan bibirnya.
"Udah sampe, berat banget sih," rutuknya seraya menurunkan Mikha dari gendongannya.
"Ya maaf. Nanti aku diet," lirihnya.π
"Jangan!" Fabian sontak melarang.
"Kenapa?" tanya Mikha bingung.π€
"Udah bagus, jangan diet!" jawab Fabian membuat pipi Mikha bersemu merahπ karena tidak secara langsung Fabian telah memujinya.
"Oh, ya udah," ucap Mikha dengan tatapan melihat ke bawah, mencoba menetralkan perasaannya.
__ADS_1
"Ingat, kamu jangan bersikap dingin sama aku di depan karyawan!"
"Iya,"
"Jalankan peranmu dengan baik sebagai istri penurut,"
"Hmm,"
*******.........*******
Mikha tengah disibukkan dengan pekerjaannya, cuti selama empat hari membuat pekerjaannya semakin menggunung. Dia kembali membuat schedule untuk satu minggu ke depan, di dalam satu schedulenya minggu depan dia harus berangkat ke Dubai selama satu minggu untuk mengurus kerja sama dan menyelesaikan pekerjaannya.
Di tengah kesibukannya Mikha, Alena datang. Sebenarnya Alena sedang tinggal bersama Reza, tetapi dia menyempatkan waktunya untuk menemui Fabian karena dia takut, Fabian melupakan janjinya.
"Hai ... istri sementara," sapanya namun membuat Mikha tak bergeming dari posisinya. Selain dia sedang sibuk, dia juga sangat malas meladeni Alena yang pada akhirnya pasti akan menguras emosinya. Alena segera memasuki ruangan Fabian setelah Mikha menghiraukannya.
"Sayaaaaang ... kangen," teriaknya tanpa mengetuk pintu.
"Alena ...," Fabian kaget.
"Sibuk ya?" tanyanya dengan manja.
"Iya, maklum lah beberapa hari ini akukan tidak kerja," jawabnya dengan mata fokus ke berkas.
"Yaaaah," ucapnya dengan raut wajah kecewa.
"Kenapa?"
"Udah sore loh, biasanya sudah selesai, anter aku belanja yuk!" ajak Alena sedikit merajuk.
"Kemana? Mau belanja apa?"
"Aku kepikiran cin-cin yang dipakai Mikha, baru beberapa tahun mengenalmu dia udah memakai cin-cin dengan harga fantastis, sementara aku? Udah mau tiga belas tahun bersamamu, kamu tidak pernah membelikannya," ucapnya dengan raut wajah dibuat kecewa.
"Ya ampun, kamu kepikiran itu? Cin-cin Mikha itu mama yang pilihin, bukan aku!"
"Sama aja, aku menginginkannya!"
"Cin-cin itu dipesan Al, tidak ada di Indonesia. Aku gak tahu mama pesannya dimana, kan kamu tahu semuanya mama yang urus,"
Tiba-tiba mata Alena berkaca-kaca, berharap Fabian mengasihaninya. Dia memang paling jago bersandiwara kemudian Fabian menghentikan pekerjaannya.
"Ya udah, kita cari model lain. Sekarang kamu keluar dulu tunggu aku di parkiran ya! Aku gak mungkin keluar bareng sama kamu, nanti para karyawan aku curiga,"
"Beneran?" tanya Alena dengan mata langsung berbinar.
'Iya," jawab Fabian tersenyum.
Alena keluar dari ruangan Fabian dan begitu saja melewati Mikha. Lima belas menit kemudian, Fabian mengikutinya.
"Aku keluar dulu ya, mau anter Alena," pamit Fabian kepada Mikha namun tak ada jawaban dari Mikha, dia terus fokus pada pekerjaannya dan Fabian segera melangkahkan kakinya.
π¬π¬π¬π¬π¬π¬ selalu aja nongol tuh di alena π€π€π€π€
Sekali lagi maaf lama up nya πππ
kasih bom like nya dong,, biar semangatt π€π€ yang baca mau 1000 orang yang like gak nyampai 100π€π€π€ tapi yang ikhlas yaa πππ
__ADS_1