
Lanjuuut....
Mungkin Reza telah menelpon Fabian terlebih dulu dan dia berhasil memfitnah Mikha. Radit tidak langsung menjawabnya dia berusaha tenang. sebenarnya Radit ingin sekali memaki Fabian, Radit menarik nafasnya dalam dan meghembuskannya perlahan, jangan sampai ucapan Fabian memancing emosinya.
"Maaf Pak Bian, saya Radit."
"Kenapa anda yang mengangkat telponnya? kemana perempuan itu?" tanyanya yang masih terdengar kesal.
"Mikha lagi di kamar mandi Pak,"
"Ngapain anda bersama sekretaris saya malam-malam begini?" tanya Fabian terbersit rasa ingin tahu.
"Siapa Klien yang Mikha temui malam ini di klub?" Radit malah balik bertanya.
"Kenapa anda ingin tahu?" tanyanya sinis.
"Karena saya belum memberikan pelajaran yang setimpal kepada Klien anda," jawab Radit tegas.
"Apa ada masalah?" tanya Fabian terdengar cemas.
"Jelas,"
"Ada apa Pak Radit?" Fabian semakin khawatir.
"Klien yang Mikha temui pada malam ini telah berbuat culas, dia mencampurkan obat perangsang dalam minuman Mikha. Kalau saya tidak datang tepat waktu, mungkin Mikha akan kehilangan kendali karena tak bisa menahan hawa panas yang menjalar dalam tubuhnya," jawab Radit.
__ADS_1
"Obat perangsang?" tanya Fabian seakan tidak percaya kliennya melakukan hal culas seperti itu.
"Ya," jawab Radit.
Fabian terdiam sejenak, sepengetahuan dia jika seseorang tak bisa menyalurkan hasratnya maka dia dalam bahaya.
"Apa kamu telah membantu Mikha menghilangkan hawa panas itu?" tanya Fabian penasaran.
"Ya, saya membantunya," jawab Radit sekenanya.
Fabian menyangka jika Mikha dan Radit telah melakukan hubungan terlarang, untuk meredam gejolak yang Mikha rasakan akibat obat perangsang. Padahal kenyataannya tidak, jangankan melakukannya saat Mikha membuka pakaiannya pun, Radit malah menutup matanya.
"Ya sudah Pak Radit tenang saja, untuk urusan Klien itu biar saya yang urus. Mikha tidak usah menemuinya kembali!"
"kenapa? bukannya berkat klien itu kamu bisa menikmati tubuh Mikha? ucap Fabian tetapi hanya dalam hati.
"Dit... " terdengar samar oleh Fabian, suara Mikha dari dalam kamar mandi memanggil Radit.
"Sebentar Mikha! apa kamu sudah membaik?" tanya Radit menyimpan ponselnya di nakas tanpa mematikan sambungan telponnya.
Mikha keluar dari kamar mandi dengan selimut membungkus tubuhnya.
"Kamu mau pakai baju?" tanya Radit dan Fabian jelas mendengarnya di seberang sana.
"Iya. Terima kasih ya kamu udah tolongin aku," ucap Mikha.
__ADS_1
"Iya Mikha, cepat pakai bajumu jangan sampai kamu kedinginan!"
"Baik Radit, kamu memang luar biasa," ucap Mikha kepada Radit.
Sementara di seberang sana Fabian membulatkan matanya mendengar apa yang Mikha katakan.
"Luar biasa apanya? huh!" ucap Fabian dalam hati dengan raut wajah sinis di seberang sana.
Sedangkan maksud Mikha sebagai laki-laki Radit sangat luar biasa karena telah mampu, membantu Mikha melewati semua ini tanpa harus melakukan hubungan yang terlarang.
"Kamu juga luar biasa Mikha," ucap Radit terkekeh.
"Luar biasa karena bisa membuatku menegang sampai detik ini," ucap Radit dalam hati dan masih terbayang kulit putih yang mulus milik Mikha.
"Apa-apa an sih mereka ngobrol tanpa mematikan telponnya, apa mereka sengaja supaya aku mendengarnya? ternyata ulah klien itu kalian sangat menikmatinya. So' so'an mau memberikan pelajaran tetapi nyatanya kalian mengharapkan." gerutu Fabian.
"Ya udah aku keluar ya, siapin kamu makan. kamu pasti lapar kan? kamu mau dimasakin apa?" tanya Radit memberikan perhatian kepada Mikha.
"Iya ... apa saja, aku pasti menyukainya," jawab Mikha tersenyum.
Radit keluar dan membiarkan Mikha ganti baju sendirian.
"Lagian tidak akan mungkin orang dewasa yang berada dalam satu ruangan dan dalam pengaruh obat, tidak melakukan apa-apa," ucap Fabian dalam hatinya terlihat sangat kesal di seberang sana kemudian menutup telponnya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1