
"Ada apa sayang? Kok melihatnya gitu?" tanya Alena dengan nada yang dibuat lembut.
Radit dan Mikha saling menatap, membayangkan apa yang akan terjadi pada Alena dan Fabian.
"Itu leher kamu kenapa?" tanya Fabian dengan sorot mata yang tajam.
"Leherku? Ada apa dengan leherku?" tanya Alena dan segera mengambil cermin kecil dari dalam tasnya.
"Habislah aku, ini ulahnya Reza. Bego, kenapa aku melupakan hal ini. Malam panas bersama Reza meninggalkan jejak sebanyak ini. Apa yang harus aku katakan?" bathinnya seraya menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa Alena?" tanya Fabian dengan nada lebih tinggi.
Tiba-tiba Alena terisak membuat Fabian khawatir.
"Dari kemarin aku mengurung diri di kamar tamu, tidak keluar sama sekali. Makanan pun aku bawa ke kamar, aku menangis semalaman sampai aku tertidur. Saat aku bangun di atas kasur banyak serangga. Mungkin ini bekas gigitan serangga, saking capenya aku menangis digigit serangga pun aku tidak sadar. Tapi ini gatal banget sayang, habis dari sini aku mau beli obatnya." Alena mengelak seraya terus menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal.
"Digigit serangga?" tanya Fabian tidak percaya.
"Iya," ucap Alena menunduk.
"Kok bisa ada serangga di kamarmu?"
"Serangganya pintar ya? Bisa masuk kamar, tau aja dia tempat yang paling nyaman," ucap Radit seraya menyuapkan satu sendok terakhirnya. Ucapan Radit membuat Alena menatap tajam padanya.
"Mungkin karena banyak makanan yang aku bawa ke sana atau mungkin kamar tamunya gak pernah dibersihin jadi banyak serangga di sana," ucap Alena dengan sorot mata yang sedih berharap Fabian iba padanya.
"Kenapa sebelum tidur gak dibersihin dulu?" tanya Mikha.
"Aku gak berniat tidur, di sana aku menangis sampai ketiduran," Alena mempertahankan kebohongannya.
__ADS_1
"O." Mikha membulatkan mulutnya pertanda mengerti, meski dalam hati sebenarnya tidak percaya.
"Kenapa nangis?" tanya Fabian terlihat sedikit khawatir.
"Aku ngebayangin kamu menikah sama sekretaris kamu, aku gak kuat sampai kapan aku harus menunggu kamu. Apa salahku? Aku kurang apa? Kenapa aku seperti dipermainkan aku malu," ucap Alena dengan isak tangisnya berharap Fabian melupakan tanda merah di lehernya itu.
Fabian merangkul kepala alena dengan lembut dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kalau begitu, kalian menikah saja!" celetuk Mikha dan membuat Radit menyunggingkan senyumnya tetapi seketika membuat Fabian dan Alena menatap Mikha.
"Jangan, tetap lanjutkan pernikahannya sayang! Aku akan sabar menanti kamu," ucap Alena semakin mempererat pelukannya.
"Maafkan aku sayang telah membuatmu menangis semalaman, maafkan aku selalu membuatmu menderita dan selalu membuatmu menunggu," ucap Fabian merasa iba melihat Alena.
"Fabian termasuk bego apa polos ya?" tanya Radit dalam hati setelah melihat perlakuan Fabian ke Alena.
"Kamu jangan meminta maaf, kamu tidak salah. Keadaan yang memaksamu untuk melakukan semua ini, aku tau kamu sangat mencintai aku Bian. Kalau bukan karena keadaan, kamu gak akan mungkin menikah dengan perempuan lain," balas Alena.
"Alena kalau ada lomba berbohong tingkat dunia, kamu pasti pemenangnya dan Fabian kalau di dunia ada event mengumpulkan orang yang mudah dikibulin pasti kamu termasuk ke dalam orang-orang itu," ucap Radit dalam hati seraya menggelengkan kepalanya.
"O-iya Mikha, kita pulang yuk!" ajak Radit, dia sudah jengah melihat sandiwara Alena.
"Yuk!"
"Mikha pulang bareng saya!" ucap Fabian.
"Bukannya Bapak mau mengantarkan kekasih Bapak pulang? Biar saya diantar Radit," tanya Mikha.
"Kita antar dulu Alena lalu kita kembali ke kantor,"
__ADS_1
"Ya," ucap Mikha menatap Radit dan Radit malah tersenyum seraya mengedipkan matanya.
Ketika Radit mau membayar makanan, Fabian mencegahnya.
"Radit, biar saya yang bayar!"
"Terima kasih pak Bian,"
Fabian membayar semua makanannya dan segera keluar dari restoran, menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.
"Ayo!" ajak Fabian membukakan pintu mobilnya untuk Alena dan Alena merasa tersanjung dengan perlakuan Fabian karena dia selalu mendapatkan perhatian dari Fabian meski statusnya sebentar lagi mau menikah.
Radit membuka pintu mobil bagian belakang mempersilakan Mikha masuk.
"Seperti biasa, kabarin aku kalau sudah sampai! jangan buat aku khawatir," pesan Radit untuk Mikha, sengaja menekankan suara sedikit keras berharap Fabian mendengar dan tahu bahwa Mikha selalu mendapatkan perhatian darinya dan berharap supaya Fabian juga memperhatikan Mikha untuk kedepannya seperti apa yang dilakukan olehnya.
"Iya," jawab Mikha tersenyum.
"Hati-hati!" Radit melambaikan tangannya dan menyunggingkan senyumnya karena apa yang dilakukannya terlihat membuat Fabian merasa sedikit kesal.
*****.....*****
"Sayang, apa aku harus datang ke pernikahanmu?" tanya Alena.
Tidak ada jawaban dari Fabian membuat Alena melemparkan pertanyaannya kepada Mikha.
"Bu Mikha, apa saya harus datang?"
"Datang saja! Lagian pernikahan ini bukannya saran dari Bu Alena ya?"
__ADS_1
Seketika suasana di dalam mobil hening tidak ada jawaban lagi dari Alena.
ππππππ