
*********
Radit hanya menatapnya datar dengan ujung mata terus mengekori Mika sampai tak terlihat, terlihat dari sorot mata Radit akan kekagumannya pada Mika, siapa yang tak kagum pada sosok Mikhayla yang selalu jadi topik utama pembicaraan para petinggi perusahaan karena kemampuan yang dimilikinya, banyak perusahaan menginginkan dia bekerja dengan mereka dan tak sedikit mereka menawarkan gaji yang fantastis buat Mikha, tetapi Mikha menolaknya karena Mikha merasa yang paling membutuhkan dia adalah perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
"Pantas saja tante Rena dengan santainya mempercayakan bisnis besar ini ke sekretarisnya, ternyata sekretarisnya jauh dari yang gue bayangkan Dit, cantik, muda, berkompeten, lesung pipi nya saat senyum dit, gilaaa bikin gue gagap, dit kayanya gue tertarik sama dia." ucap Rangga tersungging senyuman di bibirnya dengan pandangan mata berbinar penuh harapan dan bayangan jauh menerawang ke sosok Mikha.
"Udahlah mau dikemanain tuh Alena siluman ular peliharaan lo?" Radit memperingatkan.
"Apaan sih, orang dia bukan siapa-siapa gue." Rangga ngeles.
"Bukan siapa-siapa tapi di apa-apa." ucap Radit datar dan meneguk secangkir kopi.
"Di apa-apa nya juga bukan hanya sama gue, kan lo juga tau Dit, banyak kok petinggi perusahaan yang apa-apain dia, mungkin hanya lo yang belum apa-apain, dia pengen tuh di apa-apain sama lo! ha-ha-ha " ucap Rangga menertawakan sambil menepuk bahu Radit karena Radit tersedak saat mendengar ocehan Rangga.
"Amit-amit." ucap Radit sambil bergidik ngeri.
"Ya pantas lah ya bilang amit-amit kan belum ngerasain apa-apain dia, lo gak penasaran Dit?" balas Rangga setengah tertawa dan mengejek.
"Hidup itu perlu dinikmati, selayaknya lo menikmati kopi,"
"Tapi kopi mengajarkan kita bahwa kehidupan tak selamanya manis." balas Radit
"Sepahit-pahitnya kopi, lebih pahit lagi kalau tak ada wanita di samping gue," Rangga tertawa
"Nikahin aja sana tuh siluman ular peliharaan lo!" suruh Radit
"Eh Dit, akhir-akhir ini dia nanyain lo terus, katanya dia penasaran sama lo." ucap Rangga dengan wajah seriusnya.
"NAJIS." bantah Radit
"Ha-ha-ha serius gue." Rangga meyakinkan.
"Sekalipun di dunia ini gak ada lagi wanita, lebih baik gue jomblo seumur hidup daripada gue harus kawin sama peliharaan bekas lo." balas Radit menegaskan.
"Tapi kayanya di punya pacar Dit, waktu gue lagi bersama dia, dia terima telpon dan gue yakin itu pacarnya," sambil mengingat-ngingat saat dulu setelah bergulat di ranjang bersama Alena, Alena menerima telepon dengan mesranya dan menyuruh Rangga diam tak boleh bersuara.
"Gue juga sama dia cuma buat seneng-seneng aja, mutualisme gitu, gak ada rasa apa-apa sama dia, tapi kalau ke Mikhayla kayanya gue ada feel deh, ada perasaan aneh yang gue rasakan pertama kali lihat dia." Rangga dengan kejujurannya.
"Semua orang pertama kali melihat dia pasti merasakannya.'' celetuk Radit
"Termasuk lo?" Rangga penasaran.
Radit terdiam..
"Kalau lo merasakannya, gue mundur Dit, gue dukung lo!"
__ADS_1
"Thanks bro." sambil mengadukan kepalan tangan mereka sebagai bentuk persahabatan yang saling mendukung.
Rangga dan Radit bersahabat tapi perilakunya bertolak belakang, Radit yang dingin dan jaim belum pernah punya pacar, bukan karna gak ada yang mau tapi dia tive pria pemilih.
Rangga mengeluarkan segala pesonanya demi mendekati para perempuan dan karena hal itu pula lah terjadi perceraian dalam rumah tangganya.
"Balik yu, udah sore!" ajak Rangga.
"Lo balik kemana?"
"Ke rumah lah."
"Gue kira ke apartemen siiiiii Luman." Radit terkekeh.
"Gue udah tobat." ucap Rangga tersenyum tipis.
Alena adalah cinta pertama Fabian, awalnya dia berasal dari keluarga kaya namun seakan dunia menjungkir balikan kehidupannya setelah kasus korupsi yang dilakukan Ayahnya, Ibunya meninggal karena serangan jantung syok dengan apa yang terjadi, dia hidup dengan belas kasihan dari orang lain.
Tak lama Ayahnya pun meninggal babak belur dipukuli orang-orang di balik jeruji besi, untuk mempertahankan hidupnya Alena menjual tubuhnya pertama kali dengan Anak dari pemimpin perusahaan batu bara bukan hanya itu dia melakukan semua itu karena rasa kesepian yang selalu menyelimuti hidupnya. Hingga entah sudah berapa puluh pria yang menja***h tubuhnya.
Fabian sangat mencintainya sejak SMA hingga sekarang, selama di Amerika dia setia untuk Alena, bahkan dia jauh-jauh melaksanakan study dan bekerja demi mewujudkan impiannya bersatu dalam ikatan pernikahan yang bahagia bersama Alena, di tengah kesibukannya bekerja dan kuliah, dia tak pernah sehari pun lupa untuk kabarin Alena bahkan memenuhi segala kebutuhan Alena, meski banyak gadis cantik dan pintar yang mendekatinya, dia tak menghiraukannya karena dia hanya ingin bersama Alena.
*****
Di hari yang sama..
tap..tap..tap..
Suara langkah kaki seseorang semakin mendekatinya
"Bu Mika belum pulang?" tanya Rinda
"Aku kerjain laporan hasil tadi meeting dulu Rin, karena setelah CEO baru datang mungkin pekerjaanku menjadi lebih ringan, lagian besok kan libur aku mau bersantai di rumah" ucapnya sambil terus melihat layar monitornya.
"Kirain bu Mika belum tau CEO mau datang, aku kesini mau ngasih tau bu Mika, katanya dia masih muda loh bu, tampan pula." ucap nya dengan penuh semangat.
"Terus kalau tampan aku harus gimana Rin?" kekehnya..
"Bu.." panggilnya.
"Iyaaaa Rindaaaa apaaa?". ucapnya santai.
"Banyak sekali orang yang menyukai Ibu, mengagumi Ibu, bukan hanya mengagumi skill yang Ibu miliki tapi mereka juga mengagumi kecantikan Ibu, banyak sekali orang yang berharap bisa menikah sama Ibu, kenapa Ibu tidak merespon? apakah Ibu tidak suka laki-laki ataukah Ibu sudah punya kekasih?" tanya Rinda dengan hati-hati dan penasaran.
Mikha terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Rinda dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, menghentikan jari jemari lentiknya yang sedang bermain dengan keyboardnya dan membalikan badannya ke arah rinda tersenyum
__ADS_1
"Rinda, aku tidak merespon laki-laki yang mendekatiku bukan berarti aku tidak suka laki-laki, aku hanya berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, aku gak mau luka hati yang telah kering bekas dulu basah kembali, bukannya aku gak mau move on tapi jujur sampai saat ini belum ada laki-laki yang membuat aku jatuh cinta kembali, bukannya aku pun pemilih tapi kamu tau kan kesibukan aku setiap harinya? aku masih punya tanggung jawab yang berat untuk perusahaan ini, aku gak mau suami aku kecewa karena sibuknya aku bekerja dan aku gak mau anak-anakku kurang mendapatkan kasih sayang dari aku sebagai mama nya, kamu tenang saja aku akan memikirkan hal ini." ucap Mika tersenyum sambil memegang bahu Rinda.
"Maaf ya Bu, sekali lagi aku mohon maaf sudah lancang bertanya hal itu ke Ibu." ucap Rinda menyatukan kedua tangannya di depan dada merasa sangat bersalah.
"Iyaa...iya biasa aja lah, aku gak apa-apa" balas Mika tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan ya bu." pamit Rinda
"Iya hati-hati Rinda."
"Ya buu.. cepat pulang jangan sampai kemalaman!"
"Ini sudah mau selesai kok, aku pulang habis ini."
"Ya udah.. daah bu Mika"
"Daaah" melambaikan tangan.
Pacar?.... Suami?...... haruskah?.... pikir Mika dalam hati sambil mengetuk-ngetukan telunjuknya kemeja.
Semenjak kepergian orang tuanya Mika tak terpikirkan untuk punya pacar, dia hanya fokus sama hidup dan karirnya, terakhir dia punya pacar waktu kelas 3 SMA dan itu pun meninggalkan bekas yang sampai saat ini rasanya dia belum siap untuk kembali merajut asa.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku pulang." Mika bergegas membuka aplikasi yang ada di ponselnya untuk memesan taksi.
Taksi online yang dia pesan sudah menunggunya, Mika bergegas masuk dan taksi pun segera berlalu meninggalkan perusahaan menuju ke kediaman Mika di komplek elit yang dia beli dari hasil dia bekerja selama ini, meski Mika bisa mengemudi tetapi dia masih nyaman menggunakan jasa taksi untuk kepentingannya, belum terpikirkan untuk membeli kendaraan, menurutnya naik taksi lebih nyaman dan bisa beristirahat ketika dia terlalu lelah dalam bekerja.
*****
Sesampainya dirumah dia langsung menuju kamarnya, bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Mika merasakan cacing-cacing dalam perutnya meronta kelaparan, dia bergegas ke dapur untuk memasak, hidup sendiri menjadikan dia gadis yang mandiri, bukan hanya urusan perusahaan urusan dapur pun dia tidak diragukan, memasak dan membuat segala jenis makanan apapun dia bisa diandalkan, dengan cekatan tangannya memegang alat tempur di dapur, memasak adalah sebagian dari hobinya.
Kling.. Kling... (tanda pesan masuk)
Bu Rena
* Mika besok kamu ke rumah ya! saya mau tau hasil meeting kemarin, sekaligus saya mau kenalkan pemimpin perusahaan yang baru.
hehhh..... Mika menghembuskan nafas kasar
* Baik bu.
Mika bergegas memakan hasil masakannya sampai kenyang, tak lupa memakan cemilan berupa kue coklat favoritnya, doyan makan tapi tubuh tetap ideal, itulah kelebihan Mika tidak perlu susah-susah diet dan menahan lapar demi punya bentuk tubuh yang ideal. "Aaaaah kenyangnya." sambil mengusap perutnya yang tetap rata.
"Sebaiknya aku harus segera tidur."
__ADS_1
*****